Tittle : Hello Again

Rated : T

Genre : Family/Hurt/Comfort

Disclaimer : Kim Jaejoong masih milik dirinya sendiri! Tapi cerita ini milik author, di larang keras meng-copy dan memuat ulang tanpa ijin. Di buat untuk kesenangan belaka, dan di sarankan untuk membaca oneshot sebelumnya yang berjudul "Keep The Faith". Karena cerita ini bisa di bilang lanjutan dari cerita itu. Terima kasih. Please enjoy!

Playlist : Rising Sun! TVXQ!

Present by (si) MusangAlbino

-HELLO AGAIN-

TVXQ adalah lentera. Saat Jaejoong dipaksa mengambil keputusan untuk pergi satu tahun yang lalu, dia tak pernah mengira jika jalanan di depannya akan menjadi sekelam itu.

Agensi melayangkan gugatan pada alasan dirinya melakukan pengunduran diri. Tentang pembayaran-pembayaran yang tak pernah beres.

Agensi merasa itu melukai harga diri mereka, nama baik mereka. Meski dalam hati Jaejoong memaki dan berkata itu sama sekali tidak ada apa-apanya ketimbang beban perpecahan yang harus di terima oleh grup yang telah membesarkan namanya.

Hari-hari pasca keluar dari asrama, Jaejoong, Junsu dan Yoochun harus menghadapi bulan penuh tekanan, berkali-kali sidang, urusan dengan kantor pengacara dan lengan hukum lainnya. Cukupan untuk menyita perhatian mereka sementara dari lara yang di akibatkan oleh perpisahan tak terduga.

Ancaman itu rupanya terbukti. Kekuatan mereka tak sebanding sama sekali. Kutukan-kutukan melayang di antara jepretan suara kamera. Ketiganya masuk daftar hitam sebagai artis yang tidak bisa keluar baik dalam acara televisi maupun penghargaan.

Penggemarnya menyerapah pada pilihannya mengakhiri kebahagiaan mereka. Meski jika mau meladeni Jaejoong akan berkata jika hal itu bahkan sama sekali telah membunuhnya. Keputusan itu, adalah tali yang menggantung leher seorang Jaejoong di sebuah dahan tinggi tanpa alat penopang kaki.

Dia sekarat pada pilihannya, lalu kemudian mencicipi neraka pada hari pertama dia keluar dari asrama tanpa ada kemungkinan untuk menginjakkan kaki lagi di sana. Pintu itu tertutup untuk Kim Jaejoong dan dua anggota lain selamanya. Hero TVXQ sudah tiada begitu juga dengan Xiah TVXQ, dan Micky.

"Makan yang baik dan banyak, jangan pedulikan ancaman Yunho soal kau menjadi gendut atau apa. Shim Changmin, lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Kau harus hidup bahagia!"

Pesan Jaejoong tak pernah tersampaikan pada si empunya nama. Pihak agensi yang terluka pada keputusan Jaejoong menyeret nama mereka pada topik sensitif mengenai pembayaran, memilih untuk ikut menghukum dua yang tersisa.

Yunho dan Changmin kehilangan peluang untuk memiliki kehidupan pribadi yang mereka inginkan. Agensi selain merampas ketenangan si duo, pada kekhawatiran terhadap tiga anggota di luar juga merampas ponsel keduanya.

Memberikan mereka ponsel baru dengan sim baru juga sebagai gantinya. Dan tak lupa mengenai ancaman-ancaman. Seolah itu akan bekerja saja pada dua hati yang tengah menanggung luka pada kondisi sedang parah-parahnya.

Sekeras mungkin berusaha menutup akses untuk saling berhubungan dengan tiga nama yang kini resmi menjadi musuh agensi.

Yunho marah tentu saja, berpendapat agensi tak seharusnya mengatur kehidupan pribadinya hingga sedemikian rupa. Namun kemudian mendapat akal bahwa sebenarnya mereka bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Kali pertama tidak berhasil, karena saat manajer memergoki mereka tengah bertukar nomor dengan anggota grup lain. Dia malah berujung memblokir semuanya, rupanya melihat potensi untuk melanggar ancaman di sana. Dan memilih untuk mencari jalan aman.

Menghubungkan kartu ponsel si duo pada basis yang akan melacak semua kegiatan yang di lakukan ponsel baik percakapan maupun sekedar pendaftaran-pendaftaran akun.

Kali selanjutnya mereka berusaha, Jaejoong tengah sekarat benaran pada pemikiran-pemikiran gila untuk mengakhiri hidup karena merasa dirinya tak berguna.

Impiannya selesai, namanya masuk daftar hitam, mahkotanya sudah terbelah. Terlebih dua anggota tersisa, nama-nama yang di sayanginya, tak pernah sekalipun membalas pesan-pesannya. Seolah mereka membuang Jaejoong begitu saja.

Dan karena pemikiran itu dia terluka sekali lagi, pada kemungkinan dirinya di lupakan, di abaikan, padahal hanya pada mereka lah dia menaruh segala harapan. Kekuatan lima yang membuatnya tetap berdiri hingga sekarang. Kekuatan lima yang terus menguatkan.

Meski waktu bergulir tanpa pernah mengenal lelah, seorang Kim Jaejoong harus menelan pil pahit, fakta bahwa dirinya tak bisa berhenti merindukan, mengharapkan, mempertanyakan, dan memunguti kenangan-kenangan.

"Hyung, kapan terakhir kali kau membuka kotak pos surat milikmu?" Tanya Junsu pada suatu malam menjelang pagi. Ketika dirinya memilih untuk mampir ke apartemen milik Jaejoong.

Waktu yang tidak lazim untuk bertamu sebenarnya, tapi bagi Jaejoong, Junsu bukanlah tamu. Dia adiknya, dan anggota keluarga tak memiliki batasan waktu untuk berkunjung.

"Kenapa memangnya?" Dia menguap lebar, menampilkan deretan gigi seputih mutiara yang di balut oleh tatanan rambut berantakan.

"Kau tahu, aku mulai berlangganan sebuah majalah gosip setengah tahun terakhir ini, hanya untuk berjaga-jaga mengenai situasi di luar..."

Jaejoong nyengir, jika dirinya parah dalam mengelola identitas barunya beserta ketiadaan kegiatan dalam jadwal yang biasanya membludak, maka Junsu lebih dari sekedar itu. Dia kronis sekali.

"...Tapi tiga bulan terakhir aku menemukan kejanggalan. Ada surat dari penggemar yang menurutku sangat aneh. Dia seolah tahu siapa aku, maksudku kebiasaan-kebiasaanku yang media sama sekali tak pernah melacaknya."

Jujur saja, Jaejoong hampir trauma pada kotak pos atau kiriman-kiriman dalam bentuk apa pun. Terakhir dia mendapatkan kardus berisikan bangkai tikus beserta foto-foto TVXQ saat masih berlima yang terkoyak.

Kali sebelumnya dia mendapati (maaf) pembalut wanita meski hampir bersih namun ada beberapa tetes merah dan nama Hero serta tulisan pengkhianat dalam bahasa inggris di atasnya.

Semenjak hari itu dia berhenti menilik kotak pos, untuk apa memangnya, toh penggemarnya terus menyusut, dan tak ada yang mau repot-repot menghubungi simbol pemantik amarah seperti dirinya rasa-rasanya.

"Seperti apa sih," Jaejoong terpancing untuk mengetahui juga akhirnya.

Di atas kasur berseprai motif pohon bambu, Junsu menggelar beberapa kertas dengan corak seragam. Ke semuanya menunjukkan tanggal berbeda. Namun jenis tulisan itu satu. Jaejoong mengambil dari tanggal yang paling lama.

"Awan datang dan pergi, tapi selebrasi ini tidak pernah seramai saat si pemilik tangan ajaib masih ada di sini. Dan juga si tukang tuduh berbokser penguin. Dan si kaki pembuat jari kelingking kananku remuk. Jangan biarkan tivimu berdebu, sialan!"

Dahi Jaejoong berkerut, orang-orang yang mengetahui fakta bahwa keseluruhan koleksi bokser Junsu bergambar penguin hanyalah anggota grup mereka, orang luar tidak akan mungkin mengetahui itu, bahkan manajer juga. Tapi tulisan jelek di tangannya jelas bukan milik Changmin atau Yunho.

"Kau punya televisi memangnya?" Tanya Jaejoong dengan nada tak pasti.

Junsu mengangguk, menggaruk bagian belakang kepalanya sambil di barengi dengan senyum kikuk.

"Tapi sudah kupecahkan, secara tidak sengaja saat kulihat ada banyak grup baru naik panggung..sementara aku harus terkubur di rawa-rawa." Balas Junsu dengan pandangan merana.

Jaejoong beralih pada surat berikutnya. Tertanggal selang satu minggu dari surat sebelumnya. Dan hanya berisi kalimat makian singkat.

"Induk ayam sialan! Tanganku sekarang buntung!"

"Mungkinkah ini dari Yunho atau Changmin? Kau ingat jari kelingking Changmin pernah terluka saat berkelahi dengan Yoochun?"

Jaejoong berkelana melewati waktu, mengingat-ingat hari lampau saat mereka masih bersama.

"Aku ingat, saat itu kita sedang ada di Vietnam dan Changmin menangis semalaman 'kan?"

"Huum..Yunho Hyung sampai membuat kita jaga bergantian sampai pagi takut si tiang listrik itu kabur..."

"Atau mengadu ke manajer. Padahal 'kan konyol sekali, dia tidak tahu negara itu, kita bahkan tidak di bekali uang saat itu, mau kabur kemana coba."

Keduanya tertawa, sepakat pada pemikiran bahwa mereka telah saling menjaga satu sama lain selama itu. Dan sekarang membekaskan kenangan hangat.

Saat surat ketiga mulai di buka, Jaejoong tercengang pada temuan gambar perpaduan huruf T dan H yang meliuk dengan pola tertentu di pojokan kertas. Dia hafal dengan bentuk itu.

Dulu saat dirinya masih 'berandalan' yang menyukai kekacauan di asrama, dia membentuk semacam kode rahasia dengan si anggota termuda.

Membuat pesan-pesan kecil di tembok saat keduanya tengah rehat latihan, atau sedang berada di lorong-lorong kamar mandi. Mengatakan sesuatu yang sangat narsistik berupa ungkapan seolah tulisan tersebut datang dari pengagum rahasia mereka.

"Max Changmin kau sangat tampan, seperti pangeran dari negeri dongeng.."

"Hero badanmu sangat bagus. Kakimu mulus sekali. Aku iri!"

"TVXQ terbaik se Korea Selatan! (coret) se dunia!"

"Visual SM peringkat teratas tentu saja Hero!"

Sesuatu semacam itu, hal-hal yang seharusnya hanya akan di lakukan oleh anak sekolah dasar, tapi mereka melakukannya. Changmin akan menambahkan inisial T pada setiap pesannya, dan Jaejoong akan menambahkan inisial H.

T untuk tall dan H untuk handsome. Saat itu keduanya tengah keranjingan mempelajari bahasa inggris. Tekanan dan tuntutan yang semakin besar terhadap kebutuhan bahasa tersebut membuat semuanya bekerja terlalu keras.

Saat pihak agensi mulai mengeluhkan tentang coretan-coretan di tembok, tanpa bisa mengetahui siapa dalangnya, mereka akhirnya memasang cctv hingga ke depan pintu kamar mandi, maka Changmin dan Jaejoong keluar mencari target baru.

Di tembok-tembok antara gang sempit saat keduanya pulang selesai jalan-jalan malam, di atas bak konter tempat sampah di ujung jalan. Yang terparah saat keduanya menulis di tembok yang di peruntukkan bagi fans untuk menulis pesan bagi TVXQ saat momen peluncuran album.

Namun karena tempat umum mendatangkan risiko lebih besar untuk ketahuan, seringnya mereka berinisiatif menggabungkan pesan dalam satu kalimat singkat dan berparaf dua inisial T .

"Album TVXQ akan terjual satu milyar keping! Hero dan Changmin seperti malaikat di photo card mereka!"

Masa-masa itu seolah baru saja terjadi kemarin. Dan Jaejoong merasakan pukulan akan kerinduan yang teramat kuat terhadap anggota termuda mereka, dia bahkan merindukan suasana asrama itu sekarang.

"Ini pasti surat dari Changmin. Kenapa mereka harus melakukan ini dan bukannya menelepon saja yang lebih mudah." Mata Jaejoong mulai berkaca-kaca.

"Ini yang keempat, dan menurutku ini petunjuk paling nyata, Hyung!" Junsu menyodorkan kertas tersebut. Bertanggal tepat dua bulan yang lalu.

"Seperti bumi yang menanti jatuhnya air hujan di musim kemarau. Kami adalah dua yang menunggu tiga datang menggenapi lima. Mulut kami di sumpal, jari kami di patahkan. Ambil pena dan mulailah tulis sesuatu. Ayo bertemu di bawah tanah dimana tidak ada kepala ayam yang sanggup masuk ke dalam sana."

Junsu mengaktifkan nada superior pada komentarnya.

"Aku yakin sekali mereka juga terkena hukuman dari agensi seperti kita! Mereka kehabisan cara untuk menghubungi kita, lihat kan katanya ' mulut kami di sumpal, jari kami di patahkan' bukankah ini jelas-jelas petunjuk, Hyung!"

Jika saja ada yang melakukan penelitian dengan hasil bahwa kinerja otak manusia memiliki tingkat kecemerlangan berbeda tergantung pada tinggi rendahnya letak matahari. Maka Jaejoong pasti akan percaya.

Karena Junsu di hadapannya sama sekali berbeda dari Junsu yang menemuinya dengan raut kacau dan racauan mengenai perhitungan jumlah jam yang telah mereka lewatkan tanpa mendengar suara kilat kamera saat keduanya bertemu siang kemarin dulu.

Junsu jelas menaruh harapan dalam nada suaranya. Mereka sudah melewati fase menangis bersama-sama, lalu tertawa, lalu melamun, dan melakukan hal-hal yang sangat tak terduga seperti memancing, membuat kekacauan di jalan, menghabiskan berminggu-minggu memugar ulang rumah peninggalan orang tua Yoochun. Dan memindahkan barang-barang Junsu ke sana.

Rupanya si suara melengking lebih memilih untuk tinggal bersama Yoochun saat keluar dari asrama. Sementara Jaejoong menempati apartemen milik kakaknya yang kini tengah di alih tugaskan ke luar negeri.

Saat surat terakhir di buka, angka di sana menunjukkan tanggal seminggu yang lalu. Jeda waktu yang cukup lama dari surat sebelumnya.

"Ayam melewatkan celah untuk mengorek bangku cassie. Ayo ke sana dan bawa sebuah tanda!"

"Kapan jadwal TVXQ di adakan selanjutnya?" Tanya Jaejoong kemudian.

Junsu segera mengeluarkan memo kecil dari dalam saku baju. Di sana terpampang jadwal panjang dari grup yang pernah menjadi nama belakangnya. Jaejoong sempat ingin bertanya dari mana dia mendapatkan semua itu, tapi kemudian mengurungkan.

Ini kan Junsu! Manusia hampir gila yang melakukan segala cara demi tetap terhubung dengan berbagai macam portal berita yang membahas keseharian grup mereka.

"Selanjutnya TVXQ akan ikut mengisi Super Show di Macau."

"Jangan itu deh, yang lokal saja kalau bisa. Kasihan dompet kita belum lagi soal beli tiketnya."

Junsu mengamati daftar di dalam memonya lagi.

"Seminggu lagi kalau begitu. Mereka akan ke Lotte untuk promosi Brand make up."

Jaejoong setuju. Semakin umun tempatnya, akan semakin bagus menurutnya.

Yoochun menyambut bahagia pada rencana menemui Yunho dan Changmin secara sembunyi-sembunyi beberapa hari kemudian. Saat dirinya akhirnya kembali dari pelatihan-pelatihan panjang nan melelahkan untuk kebutuhan wajib militer. Dan hampir menangis saat Junsu menunjukkan surat-surat dan juga kemungkinan-kemungkinan.

Saat momen itu akhirnya datang, Jaejoong tak bisa menahan diri untuk tidak mengantisipasi. Dia bangun lebih awal hari itu. TVXQ di jadwalkan akan datang pada pukul 10 pagi, dan dia berencana akan meninjau lokasi pada satu atau dua jam kosong sebelumnya.

Meski dia hafal benar dengan ketatnya penjagaan idola dari bekas agensinya, namun dia menyimpan keyakinan jika celah itu tetap saja ada.

Dengan mendandani diri seminim mungkin, menghilangkan riasan dan pakaian mahal. Berangkatlah Jaejoong dan kedua teman grupnya itu ke Lotte. Sebuah tempat perbelanjaan bergengsi yang tengah sangat digandrungi oleh muda-mudi milenial.

Usai meneliti beberapa sudut, bertingkah seolah ketiganya adalah pengunjung mall yang sedang bosan dan menghibur diri dengan berjalan bebas kesana kemari. Merencanakan beberapa tindakan kemudian. Hingga akhirnya Yunho dan Changmin pun terlihat batang hidungnya.

Junsu hampir meledak pada tangis saat melihat mata media mengerubuti duo TVXQ. Sementara Yoochun segera mengambil tempat di antara penggemar yang mayoritas adalah gadis-gadis.

Menjejalkan diri di sana, dan terus merangsek hingga barisan terdepan, saat Yunho mendekat pada gadis pembawa buket yang di lambai-lambaikan, Yoochun menangkap momen tersebut. Dalam kecepatan tak terduga menyabet pergelangan tangan Yunho yang hendak berlalu dan menjejalkan secarik kertas ke genggamannya.

Untuk sesaat Yunho hampir mengenali siapa Yoochun. Sedetik lebih lama berdiri di sana dan memandanginya. Namun segera melambai pergi. Seolah gestur itu sudah sangat di kenalinya. Tapi rambut panjang bermasker dan dress dengan motif bunga-bunga yang di pasangkan Jaejoong di tubuh Yoochun benar-benar menyamarkan keberadaannya dengan sempurna.

Jaejoong dan Junsu mengamati sekitar. Memilah yang mana orang agensi dan menghindar. Yoochun tinggal dan memastikan sampai pesannya tersampaikan. Dan kembali bergabung bersama dua rekannya saat Yunho dan Changmin mulai menyapa para penggemar.

"Bagaimana?" Tanya Jaejoong, dia hampir tidak bisa menahan tawa pada dandanan Yoochun yang rautnya tidak bisa di bilang bahagia.

"Aman, Yunho Hyung sudah memasukkan ke dalam saku kemeja. Dia pasti akan membacanya."

Yoochun merepet sebentar soal pemakaian gaun perempuan pada dirinya. Namun Jaejoong bersikeras jika itu rencana paling sempurna untuk menutupi identitas si pembawa pesan, dalam hal ini Yoochun karena dirinya kalah suit dari yang lain saat momen pemilihan peran kemarin.

Menikmati duo TVXQ dari sudut terjauh tidak mengurangi perasaan haru yang menyelimuti hati ketiganya. Junsu secara terang-terangan memperlihatkan wajahnya yang berurai air mata. Yoochun beberapa kali mengalihkan pandangannya pada tembok kosong dan jari-jari tangan. Sementara Jaejoong tak berhenti menggigiti kulit pada bibir bawahnya.

"Aku rindu sekali berada di panggung, Hyung, kita seharusnya juga ada di sana kan." ratap Junsu sambil terisak. Jaejoong dengan sigap menepuk pundaknya, ingin memberikan kata-kata penghiburan terbaiknya, namun mengetahui bahwa suara miliknya hilang oleh desakan air mata.

"Aku merindukan mereka, bahkan pada kenakalan Changmin kita." bisik Yoochun melanjutkan.

Maka Jaejoong sekali lagi membagikan penguatan pada yang satunya. Mengatakan dengan mata berapi-api jika keadilan tak pernah lupa tempatnya pulang.

Saat duo TVXQ selesai dan berpamitan. Hari sudah beranjak sore. Ketiga anggota grup yang keluar segera bergegas menuju tempat yang sudah di rencanakan.

Junsu yang mengusulkan, bahwa celah sempit itu hanya berati satu hal, yakni tempat pemakaman.

Dulu Changmin pernah memiliki anjing lucu yang menjadi kesayangan semua orang. Namanya Mang Doong. Saat anjing itu mati karena secara tak sengaja memakan sosis yang telah di lumuri racun tikus oleh Jaejoong, asrama gempar oleh berita duka yang tersebar secara di lebih-lebihkan, oleh si tiang listrik tentu saja.

Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu Changmin menolak berbicara pada visual grup mereka, Yunho frustasi pada usahanya mendamaikan. Sampai akhirnya manajer membuat kesepakatan, bahwa mereka memiliki waktu pribadi untuk berkunjung ke rumah abadi Mang Doong kapan pun Changmin menginginkannya.

" Ini 3. Selesaikan. Mang Doong merindukan kalian."

Untuk sesaat yang terasa seperti selamanya. Jaejoong, Junsu dan Yoochun hanya menunggu dalam sunyi di bawah keremangan pohon besar. Jaejoong berkali-kali mengecek arlojinya dan melongok jalanan yang minim sekali kendaraan.

Junsu tidak berani berbicara, sementara Yoochun membuat suara dari kertuk kerikil yang beradu dengan bagian bawah sepatunya.

Changmin memilih mengubur Mang Doong di tempat anjing itu berasal. Yakni bekas halaman rumah neneknya. Dan kompleks di sana kebanyakan di huni oleh para lanjut usia. Alasan lebih bagi ketiganya untuk meminimalisir mata siapa pun termasuk media.

Rembulan pucat sudah mulai menampakkan diri di langit kelabu yang petang itu bersih dari awan-awan. Beberapa bintang menampakkan kerlip samarnya sesekali. Seolah memberi pertanda jika saatnya telah tiba bagi semesta untuk menampilkan pertunjukan megah mereka.

Saat Jaejoong mulai mendengungkan lagu-lagu dengan nada bosan, saat itulah sebuah mobil ceper hitam berhenti di badan jalan tak jauh dari tempat dirinya berdiri secara tersembunyi.

Junsu melompat pada posisi duduknya dengan teriakan yang membahana. Yoochun berlari, menghambur pada Changmin dan Yunho yang baru saja membanting pintu di belakangnya. Namun Jaejoong memilih untuk berhati-hati.

Dengan mata awas menilik ke dalam mobil yang gelap, berusaha menangkap wajah-wajah atau sosok diam, dan nihil dia tidak menemukan siapa pun.

Mereka benar-benar hanya datang berdua, dan fakta itu membuatnya menghangat seketika. Seolah rembulan pucat di atas sana baru saja menarik jangkar es yang setahun belakangan ini mencengkeram hati seorang Kim Jaejoong.

Dia bahagia pada fakta bahwa TVXQ sebenarnya masih ada, mahkotanya kembali, keluarganya utuh meski tersembunyi dari mata siapa pun dan mata apapun. Kelimanya ada, hidup, dan masih seirama. Ikatan itu benar-benar tidak bisa luntur begitu saja, meski setelah pertarungan hebat di ruangan sidang dan hari-hari panjang melelahkan mereka.

Jaejoong bahkan menyesali keinginannya untuk mengakhiri hidup pada menit-menit pekat di belakang sana.

"Kau sehat?" Tanya Yunho akhirnya. Menghampiri si laki-laki cantik yang tetap bergeming di tempatnya sementara yang lain merangsek dan saling menubrukkan diri. Memangkas jarak yang sengaja di perpanjang oleh Jaejoong.

Sementara si visual hanya mengguman pelan sebagai jawaban. Terus mengalihkan matanya pada objek apa pun selain sosok menjulang bersuara dalam di depannya. Seolah daun-daunan kering yang tergeletak di antara kakinya lebih menarik untuk di teliti ketimbang hal lain.

"Hei, kau tidak merindukan kami? Merindukanku?" Yunho masih berusaha meraih Jaejoong yang tetap membentengi diri.

"Kalau kau diam saja lebih baik kami pulang, karena TVXQ yang terkenal ini sedang sibuk sekali mempersiapkan tur dunia dan..."

Belum selesai Yunho menyombongkan diri, Jaejoong datang menghambur pada sosok tegap yang terhuyung seketika oleh beban yang mendarat tiba-tiba.

Air mata Jaejoong menari di atas bahu si leader. Membasahi kemeja warna tulangnya dengan lelehan rindu yang mengalir pekat bercampur dengan rasa lelah yang mulai tergusur.

Dia benar-benar menangis di sana, menumpahkan semua yang selama ini di pendamnya. Membaginya dengan satu-satunya sosok tepat yang memikul beban sama.

Rasa bersalahnya yang membuncah terhadap suramnya masa depan Yoochun dan Junsu yang dengan dalih kesetiakawanan rela meninggalkan grup, mengikutinya, meraup kegelapan dunia di tangan mereka.

Rasa bersalahnya pada semua anggota karena keputusannya menggoreskan pena di atas surat perjanjian. Tidak peduli seberapa keras Yunho meyakinkan jika kekuatan yang tengah mereka lawan memang sangat besar adanya.

Rasa bersalahnya pada segelintir penggemar yang dengan keras kepalanya tetap bertahan.

Lalu rasa rindunya untuk bersinar, menjadi Hero Jaejoong yang menyala di atas kemilau lantai panggung. Terbang bersama pujian dan riuhnya suara tepuk tangan. Dia merindukan mimpi-mimpinya yang terbengkalai, menjadi idola dengan sejuta penggemar.

Jika saja dia bisa mengemas semua emosi itu dalam kata-kata, sayangnya tidak ada apa pun yang keluar dari mulutnya kecuali isakan dan isakan.

Ketika akhirnya dia menyadari, bukan saja kemeja Yunho yang membasah, tapi miliknya juga.

"Aku tidak pernah berhenti memikirkan kalian, bagaimana kalian bertahan di luar sana, apa kalian makan dengan baik, di mana kalian tinggal, aku bahkan mencari-cari wajah kalian di antara ribuan penggemar..."

Jaejoong tersentuh pada pengakuan Yunho, dia masih menjalankan tugas leader nya meski jarak tak terukur di antara mereka.

"...Aku tak pernah melewatkan berita sidang kalian, dan tak pernah melihat wajahmu sekuyu itu sebelumnya. Pasti berat ada di sana, menjadi wajah yang menamengi dua lain agar tidak semakin tercoreng namanya..kenapa kau melakukan itu?..."

Jaejoong ingat saat proses pra pengadilan dulu, berpikir meski jika mereka bertiga tak akan memiliki celah untuk kembali kepada TVXQ, tapi dia masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Yoochun dan Junsu.

Berkata pada Hakim pengadilan bahwa keduanya hanya terinsipirasi pada pemikirannya. Pengikut akan mendapat lebih mudah jalan untuk kembali meroket ketimbang pencetus, meski faktanya bukan hanya Jaejoong saja, tapi mereka semua tetap masuk daftar hitam dunia musik Korea Selatan.

Dan itu sangat membuat Jaejoong kecewa. Kesempatan terakhirnya untuk menyelamatkan masa depan keduanya gagal sudah.

"...Agensi memutus semua akses menuju kalian, Changmin berkali-kali mengancam akan melakukan pemberontakan, dia bahkan sempat ingin mendaftar kelas menembak dan itu benar-benar membuatku frustasi..."

Seolah beban di pundak Jaejoong melebur begitu saja seiring jatuhnya sinar keperakan yang memayungi langit berlatar kelabu. Awan-awan menyingkir malam itu, dan ribuan bintang mendadak hadir di sana, menarikan simfoni indah dalam paduan kerlip samar.

"...TVXQ sudah hancur, aku hanya menjaga kepingannya yang tersisa. Ada lubang besar yang kalian tinggalkan dan tidak bisa di isi olehku atau Changmin tidak peduli sebesar apa pun kami berusaha..."

"...hiduplah dengan baik, jaga Yoochun dan Junsu untukku, kau yang tertua di antara mereka, jadilah pemimpin dan kita akan memiliki tugas sama..."

Jaejoong menggeleng, mengumpulkan lagi kekuatannya untuk berbicara.

"Kau tetap leader kami, tidak peduli seberapa hancur kita sekarang, tempat itu milikmu dan tidak ada yang akan menggantikan." Bisik Jaejoong akhirnya.

Yunho tersenyum pada perkataan Jaejoong. Dan mengacak surai pendek si visual.

Selalu seperti itu, meski normalnya leader dalam sebuah grup di pilih berdasarkan angka tertua, tapi ada sesuatu dalam diri Yunho yang selalu Jaejoong sadari sebagai syarat menjadi pemimpin yang sebenarnya.

Selain suaranya yang dalam, ada kewibawaan di sana, Yunho selalu bisa mengayomi tidak seperti dirinya. Tatapannya yang tegas sanggup memangkas semua keraguan yang hadir dalam benak anggotanya. Sementara Jaejoong selalu di penuhi pertimbangan.

"Kau terlihat berbeda dengan rambut pendek seperti ini." Suara Yunho hampir terdengar seperti bisikan.

"Aku selalu terlihat tampan dalam potongan apapun." Kelakar Jaejoong mau tidak mau di hadiahi tabokan di bagian lengan. Yunho mendelik pada kenarsisan visual mereka yang seperti tak pernah padam.

"Ya! Kau! Kau memonopoli Hyungku!" Teriakan si tiang listrik di barengi oleh langkahnya yang besar-besar. Dalam sekejap pelukan Jaejoong sudah berpindah badan.

Saat Changmin selesai menumpahkan semua yang menjadi bebannya selama menjadi duo, yang mana kebanyakan dari isinya hampir berupa protes mengenai makanan. Yoochun juga selesai dengan pesta mendadak di sekitar kuburan Mang Doong.

Ada kursi lipat yang terangkut dalam mobil lawas milik Yunho. Jumlahnya pas untuk mereka semua, mengingat dengan mobil itulah dulu kelimanya sering mengisi waktu libur bersama-sama.

Yoochun mengeluarkan botol-botol alkohol dari ransel yang di bawanya. Sementara Junsu membagikan gelas plastik untuk masing-masing.

Api kecil menyala di tengah-tengah mereka. Mendatangkan banyak serangga terbang yang menari-nari bahagia di antara semburan api berwarna oranye.

Seolah bukan hawa dingin dan kesunyian malam yang tengah kelimanya bakar, tapi darah-darah yang membeku dan semangat-semangat patah seperti potongan dahan yang perlahan menjadi abu setelah merelakan diri memberi mereka kehangatan.

"Aku masih punya kontak untuk pembelian senapan asli kau tahu!"

"Junsu!!"

Changmin merengut sementara Junsu tertawa, mengabaikan teriakan Jaejoong yang di gemakan oleh kesunyian.

"Kau tidak melihat saja saat tadi Yoochun memaki dress bunga-bunga! Benar-benar sangat cantik!" Dasar Junsu si mulut ember, tidak puas rupanya dia hanya menertawakan kesialan Yoochun di belakang sampai harus membukanya di depan anggota lain.

Yoochun melempar dua tutup botol sekaligus pada wajah Junsu, satunya terpental dan menghilang di bawah kursi Changmin, sementara satunya tepat mengenai jidat si suara melengking.

"Aku tadi hampir membuang kertas yang kau berikan tahu! Soalnya bentuknya sudah seperti sampah begitu, harusnya kau kasih buket saja.."

"Dan rencana kita akan gagal karena kalau buket pasti akan menumpuk di tangan manajer lalu baru di berikan lagi pada kalian saat sudah sampai di asrama." Jaejoong mendadak mengapresiasi pada tingkat keefektifan idenya sendiri.

"Punya siapa sih dress itu, kok bisa pas sekali di badanku." Si korban akhirnya membuka suara.

"Punya kakakku yang nomor lima. Beruntung masih ada yang tersisa di lemari, kalau aku yang kalah suit sih' mau milih dress lain yang lebih kasual, bukan motif bunga-bunga setidaknya."

"Brengsek! Kau menjebakku!"

Tawa Jaejoong pecah dengan begitu renyah, seolah beban yang di tanggung karena perpisahan itu tak pernah ada. Seolah jarak di antara mereka telah sirna.

Dia berbahagia pada tawa yang terlepas di wajah Yoochun dan Junsu akibat dari pertemuan itu. Dan berjanji di dalam hati, akan melakukan itu lagi kedepannya. Jika hanya itu yang tersisa dari TVXQ, celah-celah sempit penuh rahasia, walau harus mengambil langkah sebagai penggemar yang menyamar dengan dress motif apa pun dia rela.

"Apa rencana kalian ke depannya?" Tanya Yunho saat nyala api hanya tinggal berupa bara.

"Entahlah, mungkin akan bangun sebagai solo atau grup yang lain. Aku tidak memiliki ide lain untuk hidupku selain dalam dunia musik soalnya."

"Nyawa TVXQ kan' ada pada suara kalian Hyung! Jika kalian membentuk trio pasti akan sangat keren!" Ucapan Changmin meledak-ledak, dan secara ajaib Jaejoong merasakan percikan yang membakar lewat kata-katanya.

"Tapi kan' soal daftar hitam itu.."

"Kau pikir media sekarang cuma televisi Hyung! Kuno sekali! Dunia sudah sangat modern sekarang! Cobalah pakai jalur lain! Sementara kalian mencari jalan untuk kembali bersinar, kami di asrama akan berusaha keras membunuh..." Yunho melemparkan pandangan tajam pada perkataan Changmin.

"...eh, maksudku mencari jalan supaya bisa keluar dari monitoring agensi dan bebas menghubungi kalian!"

"Ngomong-ngomong soal surat penggemar itu ide siapa sih?" Tanya Junsu akhirnya.

"Ide Kyuhyun! Rupanya selama ini SuJu melakukan itu pada Hanggeng dan Kibum! Keren sekali kan!"

"Aku sebenarnya menghawatirkan persahabatan mereka berdua yang kian mengental, tapi mau bagaimana lagi, Changmin bahagia saat bersama Kyuhyun." Ekspresi dalam wajah Yunho menyiratkan banyak hal, namun yang dominan dan pasti adalah rasa lelahnya saat menyebut kedua nama anggota termuda dalam masing-masing grup tersebut.

"Pantas saja tulisannya jelek, dan bahasanya aneh."

"Itu memang di sengaja Hyung! Siapa tahu agensi juga mengecek surat-surat juga!"

"Tapi kalian mengumpat banyak! Kurang ajar sekali!"

"Kalau itu anggap saja bonus Hyung, bayaran untuk kecerdikan kami dalam menghubungi kalian."

Percakapan terus berlanjut hingga menjelang pagi. Yunho mengirim kabar pada manajer dan mengatakan Changmin mampir sekalian ke rumah, dan berjanji sudah ada di asrama saat manajernya itu bangun keesokan harinya.

Mereka menertawakan banyak hal, dan menyerapah banyak-banyak juga. Tangisan dan beban menguap begitu saja, seolah mereka sanggup selamanya seperti itu, terawetkan oleh waktu.

Changmin membuat Yoochun dengan wajah hampir menangis mengenakan dress haramnya sekali lagi. Setelah ancaman mengenai foto-foto pribadi yang di abadikan Jaejoong melalui kameranya dan di berikan kepada Changmin sebagai kenang-kenangan akan tergelincir ke tangan media.

Junsu tertawa hingga keluar air mata, beradu jotos dengan Changmin sebagai ungkapan suka citanya. Yunho hampir ikut menangis, sementara Jaejoong mendadak mendapati diri bahwa rerumputan yang sedari tadi terabaikan di sekitar mereka berubah menjadi objek yang sangat menarik untuk di teliti dan di pandangi lekat-lekat.

"Untuk kedamaian Mang Doong!"

"Untuk TVXQ!"

"Untuk dress motif bunga-bunga milik Yoochun!"

"Untuk persaudaraan kita!"

"Untuk penggemar yang tetap bertahan pada lima!"

Gelas terakhir telah di tandaskan. Semburat kemerahan hadir pada pipi masing-masing. Itu bukan rona pertanda mabuk, tapi kebahagiaan yang menyebar.

Kehangatan mengalir begitu deras dalam nadi mereka. Seperti bara yang terus berkedip dalam perapian. Potongan kayu terakhir sudah di lemparkan. Membiarkan lidah api menyambarnya tanpa sia-sia.

Mereka terus tertawa, tawa yang bercampur dengan air mata. Dan berbahagia. Seolah beberapa waktu ke depan tujuan pulang mereka tidaklah berbeda. Seolah tawa itu akan mengekal selamanya. Seperti bintang jatuh yang mencuri momen tarian dengan mengisi ruang kosong mana pun di angkasa. Tidak peduli apa pun nama mereka, atau sebutannya. Bintang tetaplah bintang tidak peduli di mana pun dia bersinar.

Selesai.