Two Broken Hearts

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Story by PhiruFi

Pairing: Naruto U. & Ino Y.

Genre: Drama, Hurt/ Comfort & little bit Romance… maybe

A/N: Timeline two years after Fourth Shinobi World War (Blank Period) and The Last, ada beberapa Original Character sebagai penunjang cerita dan kalimat dalam "..." font italic adalah bagian dari flashback.

WARNING: Semi-Canon, Crack Pair, DLDR, TYPO.

Summary:

Mereka dipertemukan oleh alasan yang serupa, yaitu patah hati. Kehilangan cinta pertama dan terlambat menyadari perasaan hingga berujung ditinggalkan. Sama-sama menyakitkan, bukan? Ketika hati terasa kosong, satu-satu cara yang dapat memperbaikinya adalah menemukan cinta yang lain. Mencoba mencari seseorang yang mampu mengobati dan saling mengisi satu sama lain. Namun, bagaimana jika keputusan nekat itu hanya akan menghancurkan keduanya?

Chapter 1: Will You Marry Me?

Enjoy read this story~

"Aku tidak berhak untuk marah. Aku saja yang bodoh dan tidak menyadarinya. Ini semua keputusanku, kau tidak andil di dalamnya. Kau malah membantuku… banyak."

Bibir berpoles lipgloss peach itu melengkung ke atas, membentuk senyuman yang cantik. Matanya hampir menyipit sepenuhnya hingga tulang pipi wanita itu sedikit terangkat. Itu senyuman yang lebar, tetapi si pria menyadari jika senyum yang dipamerkan itu tidak sama seperti yang biasa diperlihatkan wanitanya.

"Kejar kebahagianmu, karena aku akan baik-baik saja, sama seperti sebelumnya." Wanita itu melanjutkan ucapannya sesaat setelah netra aquamarine-nya kembali terlihat.

Mata wanita itu berkaca-kaca, seolah menahan lautan air mata yang siap tumpah kapan saja. Suaranya bergetar saat ia berbicara, berusaha terdengar kuat meskipun jelas ada kesedihan yang mendalam di balik setiap kata yang terucap. Dan yang paling dibenci adalah ketika senyuman itu tidak pernah menghilang di wajah lelahnya. Jika memang ia terluka? Mengapa tidak memperlihatkannya? Selalu seperti itu, begitulah sifat istrinya itu.

Wanita itu mencoba mengalihkan pandangan, menghindari tatapan mata lawan bicaranya yang mungkin bisa saja membaca rasa sakit yang ia coba sembunyikan –mungkin, tapi ia sendiri tak yakin karena suaminya bukan orang yang peka. Setiap kali ia menghela napas, ada beban tak terlihat yang terasa semakin berat.

"Ini waktu yang tepat untuk kita berpisah. Terima kasih, Naruto-kun," lanjut wanita yang kini telah menyandang nama belakang Uzumaki sebelum ia melangkah pergi meninggalkan suaminya yang mematung tanpa kata.

.

.

.

Beberapa bulan yang lalu….

"Naruto, pikirkan taruhan itu, Dasar Pecundang!"

Teriakan itu terabaikan oleh si pemilik nama. Ia terus berlari dan melompat dari rumah ke rumah menuju tempat yang biasa ia datangi saat suasana hatinya sedang tak baik. Ke mana lagi kalau bukan ke Hokage-iwa atau Monumen Hokage yang menjadi landmark paling penting bagi Desa Daun Tersembunyi itu.

"Ino-chan?" Langkah pria berambut jabrik itu terhenti seketika saat ia melihat siluet seorang wanita yang sangat ia kenali.

Wanita itu memiliki rambut panjang yang kini telah menyentuh tanah akibat posisinya sekarang yang sedang duduk di atas kepala patung Godaime Hokage. Siapa lagi jika bukan Ino? Tidak ada orang lain di desanya yang memiliki rambut sepanjang gadis Yamanaka itu.

"Oh?"

Sang pemilik nama langsung menoleh dan ia mendapati teman satu angkatannya sedang berdiri dengan kedua alis yang mengernyit.

"Naruto? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ino seraya bangun dari posisi duduknya dan melihat ke arah Naruto yang baru saja memanggilnya.

"Bukankah seharusnya aku yang bertanya?" Naruto melangkah mendekat masih dengan wajah yang menunjukkan ekspresi bingungnya.

Bagaimana tidak? Seumur-umur, baru kali ini ia menjumpai Ino di tempat favoritnya itu. Menurutnya, ini tempat aneh yang tidak mungkin didatangi oleh wanita itu. Meskipun tidak sedekat Sakura, ia dan Ino cukup sering bersama karena misi. Kebetulan juga kedua sahabat masa kecilnya –Shikamaru dan Chouji– adalah sahabat Ino, jadi Naruto tahu jika wanita itu tidak mungkin ke tempat seperti ini. Sangat bukan Ino.

"Konoha… terlihat indah jika dilihat dari sini." Kalimat itu bukan jawaban atas pertanyaan Naruto, tetapi Ino memilih untuk mengatakannya sambil menolehkan kepala ke belakang, tepat ke arah desa yang terbentang indah jika dilihat dari atas Monumen Hokage itu.

"Ya, Konoha memang indah." Langkah kaki Naruto membawanya sejajar dengan Ino.

Hening. Setelah perkataan itu, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan. Kini keduanya sama-sama larut dalam pesona tanah kelahiran mereka yang tampak indah di bawah sinar rembulan malam itu. Ino juga sepenuhnya sudah membalikkan badannya ke arah yang sama dengan Naruto. Kini keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

"Kau datang ke sini karena ingin menghindari Hinata, 'kan? Sejak kapan pahlawan sepertimu jadi pengecut seperti ini?"

Pertanyaan itu berhasil membuyarkan lamunan si pria yang mendapatkan julukan Pahlawan dari Daun Tersembunyi itu. Pria itu memilih diam dan tidak membantah cibiran Ino. Ucapan Ino memang benar sepenuhnya. Kenyataannya ia memang sengaja menghindar dan tak mungkin berada di dekat Hinata terus di saat wanita itu datang ke Konoha bersama dengan suami barunya –Toneri.

"Dan kau ke sini karena ingin lari dari kenyataan bahwa Sasuke telah menikahi Sakura, 'kan? Bukankah kau juga sama pengecutnya denganku?" Seolah tak mau kalah dari Ino, Naruto mulai menyuarakan pemikirannya. Ia bahkan tak sadar telah membalas cibiran Ino sebelumnya.

Hari ini adalah hari paling bahagia bagi Sakura karena kini wanita itu menyandang clan Uchiha setelah Sang Kekasih akhirnya menikahinya. Tak disangka, pria yang terkenal dingin bisa melamar wanita pilihannya dan kini semua orang berbahagia atas mereka –kecuali Ino. Dan pernikahan membahagiakan itu tentunya dihadiri oleh Hinata dan Toneri yang telah menikah sekitar 2 minggu lalu.

Ino memilih untuk mengelak. Ia mengedikkan kedua bahunya, berlagak seolah pernikahan Sasuke dan Sakura tidak pernah menggoyahkan hatinya. Nyatanya Ino begitu hancur sampai ia hanya kuat untuk datang tak lebih dari 5 menit demi memberikan kado pernikahan sebelum akhirnya memilih untuk menyendiri di tempat lain. Hingga akhirnya pilihan Ino jatuh ke Monemen Hokage itu. Ia rasa hanya tempat inilah yang sepi. Ia bahkan tak tahu jika Naruto sering ke tempat itu.

"Setidaknya pengecut yang satu ini berhasil bertahan hingga acara hampir selesai," canda Naruto sebelum tawa rencahnya terdengar.

Seolah ingin menghindari Naruto, Ino memilih untuk kembali ke posisi yang sempat ia tinggalkan. Ia kembali duduk di atas kepala patung Godaime Hokage sambil melihat ke arah desa kelahirannya yang terbentang dengan indah. Jika Ino pikir Naruto akan mengabaikannya, ia salah besar. Pria itu menyusul Ino dan kini ia tengah duduk di samping kirinya. Keduanya sama-sama memandang lurus ke depan dan kembali larut dalam pikirannya masing-masing.

"Kau tidak bisa membohongi perasaanmu," ucap Naruto memecah keheningan yang telah lama memeluk keduanya.

Ucapan yang terkesan bodoh, karena ia sendiri pun sedang membohongi perasaannya. Alasannya lari dari acara pernikahan Sasuke dan Sakura karena ia tidak bisa terus-menerus melihat Hinata dan Toneri. Mana betah ia melihat Hinata bersama dengan pria lain setelah apa yang terjadi? Setelah ia terlambat menyadari perasaan cintanya terhadap Hinata, ia tak mungkin bisa bertemu lagi dengan wanita itu. Ia terlalu malu karena ia telah menjadi pengecut hingga membuat pria lain berhasil merebut cinta pertamanya itu.

Diam-diam Naruto melihat Ino. Awalnya hanya lirikan biasa, tetapi kini pria itu telah sepenuhnya menolehkan kepalanya ke arah Ino. Naruto mulai menyadari bahwa di balik ketenangan wanita itu, ada kesedihan yang perlahan mengalir dalam bentuk air mata yang jatuh satu per satu dari sudut matanya. Ino sedang menangis. Entah mengapa Naruto ingin sekali menghapus air mata itu dan sedikit menghiburnya. Akan tetapi, ia memilih untuk tetap diam, tidak ingin mengganggu momen rapuh itu. Kegelapan malam dan angin yang berbisik seakan menjadi saksi bisu dari perasaan yang tak terucap antara mereka.

Detik demi detik berlalu, perlahan Naruto membuka mulutnya dan ia hampir ingin berbicara. Namun, niatan itu ia urungkan ketika suara Ino lebih dulu melantun indah di telinganya.

"Bukankah kita sama-sama patah hati, Naruto?" tanya Ino tiba-tiba.

"Ya, kurasa ini memang tidak bisa ditutupi lagi," jawab Naruto jujur.

"Menyedihkan, ya. Sepertinya Kami-sama berpikir aku tidak membutuhkan cinta. Oh, kau juga. Kita seperti tak terlalu penting hingga Dia melupakannya. Aku… tak pernah menginginkan rasa sakit ini." Perlahan ketenangan Ino berubah menjadi isak tangis.

Ini bukan isakan pertama yang Naruto dengar karena ia selalu menyaksikan sahabat pink-nya menangis. Akan tetapi, suara tangisan Ino adalah yang paling menyakitkan. Bahu wanita itu berguncang seiring dengan suara napas dan isakan yang terdengar terputus-putus. Kedua tangan yang sengaja Ino letakkan di atas paha mengepal dengan kuat, seolah hanya cara itu yang bisa wanita itu lakukan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.

Naruto terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia tak terlalu paham caranya menghadapi wanita, apalagi saat seperti ini. Sepasang mata sapphire-nya hanya mampu memandangi wanita di sampingnya. Wanita itu masih setia tenggelam dalam tangisan. Meskipun tidak terucap melalui untaian kata, tangisan itu seolah hendak memberitahu jika ia telah lama menahan beban yang terlalu berat dan tak lagi mampu menanggungnya sendiri.

Naruto merasa bimbang antara ingin memberi ruang bagi wanita itu untuk meluapkan perasaannya atau ingin meringankan beban yang ada. Namun, lama-lama Naruto merasa tak tahan membiarkan Ino menangis seperti itu. Akhirnya pria itu mulai bergerak, melakukan inisiatif yang sangat jauh dari sifat Naruto yang biasanya. Dengan hati-hati, perlahan Naruto mengulurkan tangannya ke samping kanannya. Dengan penuh kelembutan, ia menyentuh bahu wanita itu –melingkarkannya di sana– lalu menariknya perlahan ke dalam pelukan. Lewat pelukan itu, Naruto seolah ingin menyampaikan bahwa Ino tak sendirian. Setidaknya ada ia di sana saat ini.

Ino tidak menolak pelukan itu, malah ia menenggelamkan kepalanya di dada Naruto dan meluapkan rasa sakit yang selama ini ia pendam di dalam topeng keceriaan. Pada akhirnya Naruto sadar, jika orang yang paling ceria adalah orang yang sedang berjuang untuk mengatasi kesedihannya. Naruto tak masalah jika saat ia jaket hitamnya basah karena air mata wanita itu. Yang jelas ia hanya ingin Ino menyudahi tangisannya.

Setelah cukup lama menangis, perlahan isakan Ino berhenti. Kedua bahu Ino sudah tidak gemetar naik-turun lagi, tetapi Naruto tidak segera melepaskan pelukannya. Bahkan rangkulan pria itu tak melonggar sedikit pun dari tempatnya.

"Maaf," ucap Ino sesaat setelah wanita itu mulai bergeser menjauh dari pelukan Naruto.

Mau tak mau Naruto menyingkirkan tangan kanannya, padahal tanpa sadar ia mulai nyaman merangkul wanita itu. Meskipun keduanya tidak sedekat sebelumnya, pandangan Naruto tak beralih sedikit pun dari Ino.

Di mata Naruto, wajah Ino terlihat lucu hingga membuat pria itu tanpa sadar tersenyum ketika melihatnya. Riasan tipis di sekitar mata Ino sedikit luntur hingga ke area pipi dan rambut panjang yang indah itu tak serapi sebelumnya. Ino amat berantakan, tetapi wanita itu tetap… cantik.

"Kenapa kau malah tersenyum?" Tak terduga, ternyata Ino menyadari senyuman tipis itu.

"A—!" Naruto mati gaya. Ia hanya bisa menggaruk kepala bagian belakangnya dan lebih memilih untuk diam daripada ia harus mengatakan jika saat ini wajah Ino terlihat lucu karena riasan yang berantakan.

"Kau menyebalkan," gumam Ino sambil mengusap sisa air mata di kedua pipinya dengan punggung tangan.

"… Tapi maaf, bajumu jadi kotor karenaku," lanjut Ino dengan suara pelan dan kepala yang sedikit tertunduk.

Meskipun suara itu cukup lirih, Naruto masih bisa mendengarnya. Ia merespon dengan kedikan bahu sebelum menjawab, "Tidak masalah. Asal kau berhenti menangis seperi tadi. Yakinlah jika Kami-sama akan mendatangkan seseorang di hidupmu dan kalian akan menikah, lalu berakhir bahagia."

Ino yang tadinya sempat menunduk, kini perlahan menegakkan kembali kepalanya. Meskipun pria di sampingnya sedang mengajaknya bicara, ia tidak sedikit pun menatapnya. Pemandangan desa di depannya terlihat lebih menarik atau ia memang tidak ingin bertemu pandang dengan pria itu karena ada hal gila yang ingin ia sampaikan.

"Kalau begitu… maukah kau menikah denganku, Naruto?" tanya Ino.

-to be continued -

Fiuh! Akhirnya bisa mengeksekusi ide yang tiba-tiba muncul saat aku sedang mengejakan ujian semester kemarin hari Jumat. Tiba-tiba pengin banget nulis NaruIno –kapal keduaku setelah SasuIno. Ini juga aku gabungkan idenya sama plot yang beberapa tahun lalu sempat menghantuiku /jiah! Semoga shipper NaruIno terhibur, ya~ Tenang, aku bakal melanjutkan cerita yang lain, kok. Apa, sih, yang enggak buat Ino-centric? Love banyak-banyak /sekebon, deh!

See you next chapter~

Chapter 2: Wedding Day!