"Kalau begitu… maukah kau menikah denganku, Naruto?" tanya Ino.

Chapter 2: Wedding Day!

Enjoy read this story~

Hingga beberapa detik berlalu, tak ada jawaban dari Naruto. Bukan karena ia tak mendengar, tetapi perlu waktu bagi dirinya untuk mencerna pertanyaan itu. Bagaimana ia tidak terkejut? Seorang wanita baru saja… melamarnya. Ini tak pernah ada di bayangannya, terlebih lagi seorang Ino yang mengatakan itu. Ino… teman masa kecilnya, seorang kunoichi berbakat yang pernah mendapatkan peringkat atas di kelas, salah satu ahli hiden ninjutsu di angkatannya, seorang wanita yang memiliki julukan Konoha's Beauty, dan juga wanita yang sering kali berdebat dengannya saat misi. Mereka bahkan jarang akur karena Ino selalu mengomentari tingkahnya yang dianggap konyol itu. Lalu, bagaimana mereka akan menikah?

Pria itu tertegun, tak bergeming sedikit pun dari posisinya. Namun, tak seperti Ino yang memandang lurus ke depan, Naruto betah memandangi wajah Ino dari samping –sesaat setelah wanita itu melontarkan pertanyaan gilanya. Naruto dapat melihat jika wajah Ino masih setengah basah karena air mata. Matanya terlihat sembab, tetapi bibir ranumnya itu samar-samar menunjukkan senyuman. Senyuman yang mungkin tidak Naruto sadari sebagai senyuman miris seorang Ino Yamanaka yang sedang patah hati.

Mungkin akan terdengar berlebihan jika saat ini Ino mengatakan jika dirinya benar-benar hancur. Pernikahan Sasuke menjadi kabar yang paling mengejutkan baginya. Bahkan jika Sasuke menunda pernikahannya, tak akan pernah ada kata siap dari Ino. Itulah kenapa ia mencari pelampiasan melalui keputusan nekat itu. Mungkin, jika Naruto menyadari niatan ini, pria itu akan membencinya. Bukan apa-apa, Ino hanya malu karena kalah telak dari Sakura. Yang ia lakukan sekarang hanyalah mencoba untuk terlihat menang, bagaimana pun caranya meskipun ia harus menganggap pernikahan sebagai permintaan.

"Aku tak pernah semalu ini sebelumnya. Kau tahu, 'kan, aku adalah gadis yang percaya diri…," ucap Ino memecah keheningan.

Dari nada bicaranya, Ino terlihat sedang menggantungkan ucapannya. Suara lirih yang sedikit serak itu berhasil menyadarkan Naruto dari lamunannya. Pria itu sedikit terperanjat, tetapi sepasang mata sapphire-nya masih betah memandangi objek menarik di sampingnya itu.

"… Kau harus melupakan Sasuke-kun jika tak ingin berakhir menjadi perawan tua." Ino mengatakan candaan yang sempat dikatakan oleh Sakura beberapa hari yang lalu. Saat berbicara, Ino sengaja mengubah nada bicaranya agar ia terlihat seolah seperti sahabat pink-nya itu.

"Sakura mengatakan itu kepadaku, saat kami mengadakan bridal shower untuk dirinya," sambung Ino.

Ino terus saja mencurahkan isi hatinya tanpa bertanya apakah Naruto bersedia mendengarkan keluh kesahnya itu.

"Ino-pig! Carilah pria tampan di luaran saja! Dan yang jelas, kau harus melupakan Sasuke-kun jika tak ingin berakhir menjadi perawan tua!" canda Sakura lalu ia tertawa lepas begitu saja.

Tanpa Sakura sadari, candaan itu telah menyakiti perasaan Ino. Tak seperti biasanya, saat ada orang lain yang meledeknya, Ino akan marah. Namun, kali ini ia hanya merespons dengan tawa getir sambil mengawasi sekitar dengan hati-hati. Teman-teman wanitanya ikut tertawa setelah mendengarkan candaan dari calon pengantin yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan itu.

Mungkin Sakura sangat bahagia sampai-sampai ia tak sengaja melontarkan candaan menyakitkan itu –pikir Ino mencoba maklum.

Karena tak ada tanggapan dari Naruto, Ino memutuskan untuk bangun dari posisinya. Ia memang sudah berdiri, tetapi posisinya masih sama –tepat di samping kanan Naruto, tanpa menjauh sejengkal pun dari pria itu.

"Kau tak perlu menanggap serius kata-kataku tadi. Itu semacam ajakan menikah untuk mengobati hati yang sama-sama terluka, anggap saja begitu. Atau… jika kau mau menanggapinya dengan serius, aku tidak keberatan. Lagipula aku juga tidak seburuk itu jika menjadi istri," ucap Ino sebelum ia membalikkan badan dan berlalu pergi meninggalkan Naruto sebelum pria itu sempat membuka mulutnya.

.

.

.

"Mau sampai kapan kau di sini, Naruto? Tidak biasanya kau betah melakukan hal yang sama seperti Shikamaru," tanya Chouji yang kebingungan melihat sikap Naruto.

Sudah lebih dari 30 menit Naruto ikut bergabung bersama dengan Shikamaru dan Chouji bersantai di rooftop bangunan dekat gedung Hokage. Tempat itu adalah spot favorit Shikamaru dan Chouji untuk bersantai saat tidak ada misi. Memandang langit seharian penuh sudah menjadi kebiasaan Shikamaru. Saat Shikamaru menikmati tidurnya itu, Chouji akan betah menemani sahabat rusanya sambil memakan keripik kentang kesukaannya. Namun, dua hal itu bukanlah kebiasaan Naruto. Pria berambut jabrik itu malah betah berbaring di samping Shikamaru sambil ikut memejamkan kedua matanya.

"Seperti apa Ino itu?" tanya Naruto tanpa membuka kedua matanya. Pria itu masih setia dengan posisinya, berbaring dengan lengan kanan yang menutupi matanya.

Terhitung sejak 4 hari setelah Ino melamarnya, Naruto tidak bisa berhenti memikirkan wanita itu. Ia terus memikirkan jawaban dan waktu yang tepat untuk menemui Ino lagi. Bagaimana jika ia mengatakan tidak? Mungkinkah Naruto akan menjadi salah satu dari sekian banyaknya penyebab yang melukai perasaan wanita itu? Lalu, bagaimana jika iya? Rasa-rasanya tidak mungkin. Ino bahkan tidak pernah ada di kandidat wanita yang ingin dinikahi Naruto. Ia hanya mencintai Hinata dan menyukai Sakura saat kecil dulu. Ino? Wanita bermata aquamarine itu tidak ada di daftar apapun di hatinya. Ia mempertimbangkan Ino hanya karena ia memikirkan ucapan Toneri beberapa hari yang lalu –saat pernikahan Sakura dan Sasuke– tentang taruhan itu.

Selama 4 hari ini, Naruto berusaha menghindari Ino. Kalau pun ada momen ketika mereka berpapasan di jalan, Naruto akan bersikap seolah ia tak melihat Ino atau yang paling parah ia belagak tidak pernah mengenal Ino sebelumnya. Padahal Ino sama sekali tidak menghindari Naruto karena sehari setelah keputusan nekatnya itu, Ino masih menyempatkan diri untuk menyapa Naruto dan berujung diabaikan sebab pria itu malah memalingkan wajahnya. Setelah Ino menyadari perubahan sikap itu, Ino memilih melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Naruto. Setiap kali mereka bertemu, Ino dan Naruto bagaikan dua orang asing yang tak pernah mengenal satu sama lain.

"Ino?" ulang Shikamaru memastikan.

Mendengar nama sahabatnya disebut, Shikamaru membuka matanya perlahan. Pria berambut nanas itu terkejut, tetapi ia cukup ahli menyembunyikannya.

"… Dia merepotkan dan sangat cerewet." Topik Ino selalu menjadi yang paling menarik, jadi Shikamaru yang biasanya malas menanggapi omongan orang malah dengan suka rela menyuarakan pendapatnya.

"Tapi dialah yang menjaga kami setelah Asuma-sensei tewas dan sekarang saat Shikaku-ojisan tiada, dia selalu mengingatkan Shikamaru untuk tetap hidup. Begitu katanya," timpal Chouji.

Shikamaru memutuskan untuk mengubah posisinya. Kini ia duduk sambil memandangi langit biru di atas mereka. Benar yang dikatakan Chouji. Di antara mereka bertiga –di Tim 10– hanya Ino-lah yang dapat diandalkan. Seperti yang sudah diamanatkan oleh Asuma, Ino benar-benar menjaga Shikamaru dan Chouji selepas kepergiannya. Dua pria itu hanya tak tahu jika Ino sama menderitanya, tetapi ia cukup ahli menyembunyikan kesedihan di balik topeng senyumannya itu. Itukah kemampuan Ino yang tak banyak diketahui orang.

"Mengapa kau menanyakan itu?" tanya Shikamaru yang sedikit penasaran.

Naruto sempat tersenyum samar sebelum pria itu menyusul Shikamaru untuk bangun, tetapi bukan duduk melainkan berdiri membelakangi kedua sahabat masa kecilnya itu.

"Aku rasa, aku ingin melamarnya," jawab Naruto.

Jawaban itu membuat mata Shikamaru dan Chouji terbelalak. Mulut mereka sama-sama terbuka, hendak menimpali jawaban itu. Namun, Naruto lebih dulu berbicara.

"A—! Terima kasih, Teman-teman. Aku harus segera pergi! Ada hal yang harus aku lakukan." Setelah mengatakannya, Naruto langsung berlari dan melompat turun dari gedung itu.

"S-Shikamaru, aku tidak salah dengar, 'kan?" tanya Chouji memastikan sebab ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Tidak, Chouji," jawab Shikamaru dengan mata yang masih memandangi arah hilangnya Naruto tadi.

Kedua pria itu hanya diam karena mereka sama sekali tak memiliki petunjuk soal kehidupan Ino dan Naruto ke depannya. Kedua orang itu… sulit ditebak.

"Apa dia serius? Atau itu hanya karena dia sedang patah hati?" batin Shikamaru.

Sementara itu, Ino baru saja selesai mencari beberapa bunga dari hutan. Di keranjang kuning yang ia bawa, ada beberapa tangkai bunga Sweet William, Hollyhock, Coreopsis Berdaun Tombak, dan Aster Kayu Biru yang akan menjadi koleksi baru di toko bunga milik keluarganya. Sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk menikmati puding ceri kesukaannya di gerai puding dekat Ichiraku Ramen. Ia cukup lama bersantai di sana sampai tak terasa bulan telah menggantikan tugas matahari. Setelah membayar makanannya, Ino bergegas pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ibunya pasti khawatir, jadi ia berlari agar tiba di rumah sesegera mungkin. Saat di perjalanan, ia teringat beberapa kenangan bersama mendiang ayahnya. Setiap kali Ino pulang terlambat, Inoichi akan berkomunikasi dengannya melalui telepati. Ino tak pernah absen dari omelan ayahnya ketika ia pulang terlambat setiap kali memetik bunga di hutan.

"Tadaima, Kaa—! Oh! Iruka-sensei? Dan… Naruto?" Langkah kaki Ino terhenti saat ia melihat tamu yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan datang ke rumah.

Kini Ino sedang berdiri di ambang pintu yang langsung menghubungkan toko bunga dengan ruang makan di rumahnya. Pegangan tangan pada keranjang bunganya sempat mengerat, karena tiba-tiba saja ia merasa gugup dan hampir mati gaya.

"Konbanwa, Iruka-sensei," ucap Ino seraya membungkukkan badannya sebentar sebagai bentuk hormat kepada mantan gurunya saat ia masih di Akademi dulu.

"Ino-hime, kemarilah. Tamu kita sudah menunggu cukup lama," ucap Misaki –Ibu Ino– sambil melambaikan tangan kanannya sebagai isyarat agak putrinya mendekat.

"Apa yang dia lakukan di sini? Apa ada misi? Tapi… kenapa mereka harus repot datang ke sini?" batin Ino seraya meletakkan keranjang bunganya ke kitchen counter dekat pintu.

Jelas terlihat ekspresi bingung di wajah Ino, ia bahkan menghindari kontak mata dengan Naruto yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya. Meskipun ragu, Ino tetap menghampiri ibunya dan bergabung dengan kedua tamunya itu. Sebelum Ino duduk, Misaki sempat bangun dari kursinya dan sedikit bergeser agar putri semata wayangnya itu bisa duduk di sebelah kanannya yang berarti Ino harus duduk berhadapan dengan Naruto. Tentu saja Ino tak bisa menolak dan kini ia berakhir duduk di depan Naruto.

"Karena Ino sudah datang, kita bisa membahas masalah ini lagi." Kini giliran Iruka yang berbicara.

"Ino, peranku di sini sebagai wali dari Naruto. Dan sesuai dengan permintaannya, alasan Naruto datang ke sini karena ia ingin melamarmu," lanjut Iruka.

Lanjutan perkataan dari mantan gurunya itu membuat Ino seketika menegakkan kepalanya. Kedua bahunya terasa menegang, sepasang matanya melebar, dan bibirnya terngangga. Naruto benar-benar menanggapi lamarannya waktu itu? Harusnya ia senang? Itu artinya ia tidak terlalu terlihat menyedihkan di mata rivalnya –Sakura.

"A—Apa?" Ino terkejut bukan main.

Meskipun awalnya Ino yang melamar Naruto, wanita itu tidak pernah membayangkan respons Naruto akan seserius ini. Ia bahkan tidak menyangka jika Naruto akan meminta Iruka sebagai walinya dan datang secepat ini.

"Tak banyak yang bisa aku bawakan sebagai hadiah lamaran," ucap Naruto sambil mengarahkan pandangannya ke belakang Ino.

Sikap Naruto membuat Ino ikut melihat ke arah yang sama. Wanita itu menoleh ke belakang dan ia melihat sebuah kotak kecil yang terbuat dari karton tebal berwarna coklat muda. Kotak itu memiliki sudut-sudut yang sedikit aus, menandakan kesederhanaannya. Tidak ada hiasan mewah, karena yang ada hanya seutas pita merah tipis yang melingkar dan diikat dengan simpul sederhana di atasnya. Beda itu terlihat biasa-biasa aja, tidak menarik atau pun berkesan.

"Tapi Ino, apa kau bersedia menerima lamaranku?" lanjut Naruto.

Pertanyaan itu memaksa Ino untuk kembali melihat ke depan, tepat di mana pria itu berada. Kini giliran wanita itu yang memberikan respons yang sama seperti yang ditunjukkan Naruto saat malam itu. Kedua mata wanita itu mengerjap beberapa kali dengan mulut yang sedikit terbuka.

"Yamanaka Ino, maukah kau menikah denganku?" ulang Naruto.

Entah sejak kapan Naruto berubah menjadi sosok pria dewasa yang memikat. Seingat Ino, Naruto tak lebih dari seorang laki-laki ceroboh, nekat, dan konyol. Namun, ada sisi positif darinya, yaitu pekerja keras dan pantang menyerah. Sifat itulah yang membuat Ino sempat tertarik dengan Naruto. Tepatnya perasaan suka itu tumbuh setelah Pain menginvasi Konoha beberapa tahun lalu. Bahkan sebelum itu, Ino dengan bangganya menceritakan kehebatan Naruto saat pria itu melancarkan jurus Rasenshuriken di depan Neji dan Hinata setelah misi balas dendam yang dilakukan oleh timnya.

Tampaknya pria di hadapannya itu telah banyak berubah. Pahitnya hidup mampu mengubah Naruto menjadi pria dewasa yang diidolakan banyak orang. Pria itu bukan lagi monster yang dibenci dan dijauhi penduduk desa.

"Keputusan ada padamu, Nak," ucap Misaki sambil meraih tangan Ino yang bersembunyi di bawah meja dan memberikan remasan pelan agar putrinya bisa tenang memikirkan jawaban atas lamaran dari pria Uzumaki itu.

Bukankah ini yang diharapkan Ino? Lalu, kenapa ia diam?

Jujur saja, Ino diam bukan karena kecewa atau apa yang di depannya itu tidak sesuai harapan. Akan tetapi, ia tidak cukup siap dengan kejutan ini. Semua hanya berawal dari kenekatan karena sakit hati, tetapi sang target malah benar-benar ikut masuk ke dalam permainannya.

"Sebagai walinya, akan kupastikan jika Naruto tidak akan membuatmu malu atau pun menyesal," ujar Iruka yang terlihat gugup saat menunggu respons Ino.

Ino terlihat menghela napasnya sejenak sebelum ia memamerkan seulas senyum dengan sorot mata penuh keyakinan.

"Aku menerima lamaranmu, Naruto," ucap Ino tanpa menghilangkan senyuman dari wajahnya.

Tadi Naruto seperti menahan napasnya saat ia menunggu Ino menanggapi lamaran itu. Begitu Ino mengatakan 'iya', pria itu langsung menghela napasnya dengan lega. Sama seperti Naruto, Iruka pun terlihat lega mendengar respons Ino. Sebagai wali atau bisa disebut sebagai ayah angkat Naruto, ia ikut bahagia dengan momen itu.

"Jadi, mari tetapkan tanggal pernikahannya. Kita—." Sebelum Iruka sempat menyelesaikan kalimatnya, Ino lebih dulu menyelanya.

"Lebih cepat lebih baik, 'kan? Aku tak masalah jika pernikahan dilangsungkan dalam waktu dekat. Tidak perlu pesta mewah. Yang sederhana saja," sela Ino.

Berbeda dari sebelumnya, kini wanita itu terlihat lebih bersemangat daripada Naruto. Ketiga orang lainnya terlihat terkejut, tetapi mereka kembali melanjutkan obrolan untuk membahas tanggal pernikahan.

Setelah cukup lama membahas topik yang sama, akhirnya tanggal pernikahan ditetapkan. Naruto dan Ino sepakat untuk melangsungkan pernikahan 7 hari lagi –terhitung sejak hari lamaran ini. Dengan mempertimbangkan uang tabungan yang dimiliki Naruto, keduanya memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana di satu-satunya kuil suci di Konoha. Itu juga atas permintaan Ino, katanya ia tidak mau memberatkan calon suaminya dengan permintaan yang macam-macam.

Keesokan harinya, Naruto dan Ino pergi ke gedung Hokage untuk menyampaikan kabar itu kepada Rokudaime. Tentu saja, Kakashi sangat terkejut dengan kabar pernikahan itu.

"Kau pahlawan shinobi, tak mungkin pernikahan ini dilangsungkan secara sederhana. Pastinya semua orang akan merasa senang dengan kabar ini. Kami akan mengurusnya," tolak Kakashi.

Kakashi menolak permintaan Naruto dan Ino yang ingin melangsungkan pernikahan secara sederhana di kuil Konoha. Menurut Kakashi, pernikahan ini akan menjadi kabar paling dinantikan di seluruh negeri mengingat Naruto adalah pahlawan yang berhasil menyelamatkan dunia. Akhirnya pernikahan Naruto dan Ino akan dilangsungkan secara meriah dengan mengundang para kage di seluruh negeri. Bisa dibilang, pernikahan itu disponsori langsung oleh Konoha. Mimpi apa Ino? Pernikahan 'main-mainnya' mendadak seperti pernikahan bak negeri dongeng.

.

.

.

Tak terasa… akhirnya hari pernikahan tiba. Para tamu penting telah berdatangan. Acara itu diadakan secara terbuka di Taman Konoha. Meskipun siapa saja diperbolehkan untuk datang, tak banyak penduduk desa yang menghadiri acara itu. Sepertinya pernikahan itu tidak terlalu disukai oleh warga Konoha karena mereka mengharapkan Sang Pahlawan Shinobi menikah dengan kalangan bangsawan, seperti seorang wanita keturunan Hyuga misalnya. Saat mendengar kabar Naruto ingin menikah, mereka sangat bahagia. Namun, ketika bukan nama Hinata yang disebut, mereka menjadi kecewa. Bahkan, rasa kecewa itu sudah ada sejak Hinata memutuskan untuk menikah dengan Toneri dan menolak Naruto yang pernah menjadi cinta pertamanya. Parahnya beberapa penduduk desa mendoakan hal buruk terjadi di pernikahan Hinata dan Toneri agar wanita itu kembali ke pelukan Naruto. Mau bagai lagi? Mereka terlanjur mencintai pasangan itu.

"Kau sangat cantik, Hime. Tou-san pasti bangga melihatmu dari sana," ucap Misaki sambil memandangi penampilan putrinya.

Kini Ino dan ibunya sedang berada di gedung yang terletak tak jauh dari Taman Konoha. Saat ini Ino sedang berdiri di depan cermin besar sambil mengamati penampilannya. Wanita itu mengenakan kimono mahal yang ditenun dari benang sutra berwarna ungu yang mempesona. Di bagian atas kimono itu dihiasi dengan bordiran emas dan perak yang lumayan rumit membentuk pola bunga krisan ungu yang indah. Sedangkan, bagian bawah kimono menjuntai lembut hingga lantai dan menutupi kakinya dengan anggun. Sementara obi –ikat pinggang lebar yang dihiasi dengan simpul besar di belakang– melingkari pinggangnya dengan tegas, menambah kesan kemewahan pada penampilannya.

Penampilan itu semakin ditunjang dengan tatanan rambut yang mempesona. Rambut panjang berwarna platinum itu diangkat tinggi dan disanggul dengan cantik. Tak hanya itu, rambutnya kini dihiasi dengan beberapa bunga Baby's Breath berwarna putih. Beberapa helai rambut sengaja dibiarkan jatuh dengan lembut di sisi wajahnya untuk memberikan sentuhan feminim dan alami.

"Terima kasih, Kaa-san."

Setelah memastikan penampilannya sudah beres. Iruka segera menjemput Ino karena pria itu yang akan menggantikan tugas mending Inoichi. Ia akan mengantarkan mempelai wanita menemui calon suaminya.

Melihat ayah angkatnya mengantarkan Ino ke padanya, Naruto seketika merasa gugup. Ia berulang kali terlihat menghela napas untuk mengurangi ketegangan yang tiba-tiba datang.

Pria itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Ino dan menariknya perlahan hingga keduanya kini sama-sama menghadap ke arah Pendeta Shinto. Pendeta Shinto melakukan ritual membaca doa dengan menghadap ke Dewa, kemudian disusul oleh Naruto dan Ino yang mengucapkan sumpah secara bergantian.

"Kami bersumpah untuk saling mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain seumur hidup kami. Kami berjanji untuk membangun keluarga yang harmonis dan bahagia, serta selalu menjaga tradisi dan nilai-nilai yang kami anut."

Pengucapan sumpah telah dilakukan, itu artinya Naruto dan Ino telah resmi menjadi suami-istri.

"Cium istrimu, Naruto-niichan!" teriak Konohamaru sambil melompat kegirangan.

Cium? Naruto dan Ino melupakan hal itu.

-to be continued-

Masih disela-sela UAS, aku menyempatkan diri untuk mencuri kesempatan melanjutkan cerita ini~ Kebiasaan, awalnya enggak pengin panjang-panjang, tapi pas nulis kebablasan *peace.

Aku harap tulisanku ini bisa sedikit menghibur. Hidup NaruIno~ Hidup Ino-centric!

~Sesi Ngobrol~

Hana Natsuki: Terima kasih, ya. Selain itu, menurutku design karakter waktu blank period adalah yang tercantik, jadi pas nulis sambil bayangin gimana cantiknya Ino dan gantengnya Naruto ehehehe~ Jadi semakin seru deh~

Untuk hubungan Naruto dan Hinata memang belum disinggung banyak di sini. Mungkin masih beberapa chapter ke depan. Sekalian meluruskan, jadi paragraf awal di chapter satu itu adalah bagian dari masa depan atau potongan chapter depan karena ini alurnya bisa dibilang campuran, ya. Aku salah karena tidak menuliskan nama, hanya 'mata aquamarine' sebagai penanda kalau itu dialog Ino yang diambil dari chapter depan. Semoga Kakak tidak bingung lagi, ya. Maafkan aku dan terima kasih banyak atas dukungannya~

Azzura yamanaka: Sabar, ya. Truth dipending dulu bentar, tapi bakalan tetep dilanjut cuma emang karena panjang per chapter jadi butuh waktu lama. Gomen ne~ Aku yang makasih banyak karena udah mau baca tulisan gajeku ini. Makasih!

See you next chapter~

Chapter 3: Married Couple.