"Apakah kalian sudah mendengar kabar bahwa Rokudaime dan Mizukage--Terumi Mei akan menikah?"
"Wah, benarkah?"
"Kurasa itu keputusan yang tepat untuk membangun kerja sama antara Konoha dan Kirigakure."
--
Mendengar ocehan para warga yang sedang membicarakan soal kebenaran Rokudaime kesayangan yang akan menikah begitu terngiang dalam kepala Sakura.
Tidak Sakura sangka mantannya itu akan menikah dengan orang lain, tepat sebulan setelah laki-laki itu memutuskan hubungan sepihak mereka.
"Sakura, kumohon kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini,"
"Kakashi, aku tidak akan melepaskanmu. Jika aku ada salah maafkan aku, jangan tinggalkan aku kumohon." Ucap Sakura sembari mengelap air mata yang sudah jatuh.
"Ini pilihan yang terbaik untuk saat ini Sakura, mengertilah!"
"Mana bukti perjuanganmu Kakashi, kamu membuatku mencintaimu, dan setelah aku mencintaimu malah kamu campakkan begitu saja,"
"Kau hanya tak lebih dari seorang Hokage yang keparat!" Teriak Sakura, ia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya. Tubuh Sakura merosot ke bawah sambil menahan isak tangis.
"Maafkan aku." Ucap Kakashi seraya membawa tubuh Sakura ke tubuhnya.
Kejadian kejam sebulan lalu kembali teringat dalam pikiran Sakura. Ia sungguh tidak habis pikir dengan Kakashi, hubungan mereka yang baik-baik saja langsung rusak setelah itu.
"Sakura-san, Sakura-san." Panggil Yuuki seraya menggoyangkan badan Sakura.
Sakura yang tersadar dari lamunan yang panjang segera menanggapi panggilan Yuuki kepadanya.
"Kamu sedang melamunkan apa?" Tanya Yuuki--gadis berambut coklat dihadapan Sakura.
"Hanya hal tidak penting Yuuki-chan," ucap Sakura tersenyum.
--
"Kakashi-sama, bagaimana persiapanmu untuk menikah?" Tanya Shizune.
"Entahlah Shizune, memikirkannya saja sudah membuat kepalaku ingin pecah." Kakashi bersandar di bangku miliknya.
"Kurasa daimyo terlalu bodoh karna hanya untuk membuat hubungan kerja sama antara Konoha dan Kirigakure, mereka mengorbankan dirimu untuk menikahi wanita yang anda tidak cintai." Ucap Shizune kesal.
"Maa, biarkan saja Shizune. Selama para warga baik-baik saja, aku tidak masalah dengan perjodohan ini."
Shizune hanya menggelengkan kepala, melihat Kakashi yang begitu tegar pada masalah yang menerpa, jika bukan Kakashi yang menjadi Hokage, mungkin dia tidak akan pernah mengorbankan dirinya untuk menikahi seorang wanita demi negara.
Setelah Shizune keluar dari ruangannya, Kakashi kembali termenung. Dadanya menahan begitu banyak sesak yang tidak dapat ia luapkan. Kakashi tau ia sungguh manusia paling munafik di dunia ini.
Kakashi sangat merasa bersalah terhadap Sakura. Kakashi pernah mendapati Sakura yang sedang menangis di taman, Kakashi ingin segera membawa tubuh Sakura yang kecil itu ke dalam pelukannya. Tetapi, apa daya yang dia bisa lakukan hanyalah melihat dari kejauhan.
Kakashi tidak lebih dari seorang pria tua bodoh yang melepaskan cintanya demi negara yang selalu ada sejak ia lahir.
--
"Kakashi!" Teriak Gai dengan semangat mengebu-gebu.
"Kukira Rokudaime-sama tidak akan berkumpul lagi dengan kita." Ucap Genma.
"Rokudaime dan kau berbeda level Genma," celetuk Raido yang membuat yang lain tertawa.
"Sialan kau!" Desis Genma.
"Marilah kita berpesta untuk melepas kelajangan dari Hokage dan juga Sahabat kita Hatake Kakashi!" Teriak Gai.
"Horee!" Teriak yang lain seraya mengangkat botol sake tinggi.
"Kau tidak minum Kakashi?" Sontak suara feminim itu mengejutkan dirinya.
Kakashi menatap tidak percaya dengan penglihatannya itu Terumi Mei adalah orang yang tidak ingin dilihatnya, tetapi dengan santainya Mizukage itu mengikuti pesta yang dibuat untuk dirinya itu.
"Gomen, aku kurang mentolerir sake." Tolak Kakashi lembut.
"Kapan kamu sampai ke Konoha?" Tanya Kakashi penasaran sambil mengajak Terumi duduk di bangku paling belakang jauh dari kerumunan.
"Kemarin, aku sengaja tidak memberi tahu karna aku membuat sedikit kejutan untukmu." Senyum Terumi.
"Ayolah minum sedikit, ini kan perayaanmu juga Kakashi-sama." Ajak Terumi sembari mengambil gelas dan menuangkan sake kepada Kakashi.
Kakashi hanya bisa tersenyum hambar dan meminum sake dengan perasaan yang tidak nyaman ketika Terumi menatap dirinya lekat.
30 menit berlalu, belum ada satu botol sake habis. Kakashi sudah mabuk dipikirannya sekarang hanya ada Sakura, ah dia sangat tidak siap melihat Sakura kembali menangis begitu melihatnya menikah dengan orang lain.
"Kakashi, kau sudah terlalu mabuk." Ucap Terumi seraya mengambil gelas di genggaman Kakashi.
Saat Terumi ingin menjauh dari hadapan Kakashi, Kakashi menarik tubuh Terumi sampai jatuh ke pelukannya, perlahan tapi pasti Kakashi melepas maskernya lalu mencium bibir Terumi lembut.
"Aku mencintaimu, kumohon jadilah milikku untuk malam ini, Saku--" Kakashi dengan cepat kembali mencium bibir milik Terumi, dan membawanya pergi keluar dari kedai.
--
Kakashi mengacak rambutnya kasar, melihat hasil testpack yang diberikan Terumi kepadanya.
"Kapan aku menyentuhmu?" Tanya Kakashi dingin.
"Kamu seriusan tidak mengingatnya? Tepat 1 bulan yang lalu kamu menyentuhku." Balas Terumi sedikit ketakutan melihat raut wajah yang diberikan Kakashi.
"Kalau kamu tidak percaya, segera ikut aku ke rumah sakit untuk meriksanya." Ajak Terumi.
"Ba-bagaimana hasilnya?" Tanya Rokudaime gugup.
"Selamat Rokudaime-sama anda akan menjadi seorang ayah, usia kandungannya sudah memasukki 3 minggu." Ucap seorang dokter berbinar-binar membuat Terumi tersenyum manis ke arah Kakashi.
Omong kosong macam apa ini, kepala Kakashi benar-benar sakit tidak tau apa yang harus ia lakukan. Kakashi yang bodoh ini melakukan kesalahan, padahal setelah pesta melepaskan kelajangannya itu Kakashi akan melamar Sakura dan menolak perjodohannya ke para daimyo.
Tok tok
"Mai-san, aku ingin mengantarkan dokumen ini," ucap gadis berambut pink.
Kakashi dan Sakura saling bertatapan. Sakura bertanya di dalam hati apa yang dilakukan Kakashi dan Terumi di dokter kandungan?
"Wah, Saku-chan kamu datang di waktu yang tepat. Kamu tau kalau Rokudaime-sama akan menjadi seorang ayah!" Ucap Mai semangat.
Ucapan yang dikatakan Mai seakan menjadi sebuah bongkahan batu yang menabrak dinding hati Sakura. Hatinya seperti diporak-poranda kan. Air mata Sakura terjatuh, sangat susah ia menahan air matanya untuk jatuh karna perasaan sakit ini.
"Sakura-chan?"
"Gomen, aku hanya begitu terharu mendengar kabarnya. Selamat Rokudaime-sama dan Terumi-san." Tepat setelah ucapan selamatnya kepada calon orang tua itu, Sakura segera keluar dari ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.
"Mantan seito kamu lucu ya Kakashi-kun, aku jadi tidak sabar untuk melihat anak kita nanti." Ucap Terumi seraya menggandeng tangan Kakashi untuk keluar.
Kakashi mematung, lidahnya seakan tidak mau bergerak untuk berbicara, ia tau karna pilihan ini pasti membuat perasaan Sakura hancur.
"Mei, kamu kembali duluan saja ke hotel, aku akan menyusulmu nanti."
Belum Terumi menjawab Kakashi, Kakashi segera melesat menuju arah berlawanan.
--
Kakashi mencari Sakura di segala penjuru rumah sakit, sampai ia menanyakan keberadaan Sakura pada siapa pun yang ia temui. Kakashi tau keputusan sepihaknya akan hubungannya dengan Sakura pasti sangat menyakitinya, ia tidak membayangkan kenapa semua rencana yang ia susun dengan matang akan hancur, ini diluar kendalinya.
"Sakura!" Panggil Kakashi seraya menahan pergelangan tangan milik Sakura.
Kakashi dapat melihat mata dan hidung Sakura yang memerah karna habis menangis.
Kakashi lalu membawa Sakura pergi ke sungai indah yang tersembunyi dekat perbatasan Konoha dan Iwa.
"Sakura kumohon dengarkan aku dulu," ucap Kakashi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kakashi, aku sudah tau semuanya. Walaupun kamu bilang bahwa ini memang perjodohan yang dibuat daimyo untuk kamu, tapi Terumi-sama mengandung anakmu." Ucap Sakura sembari menahan isak tangis.
"Kamu tidak bisa meninggalkannya begitu saja, bagaimanapun anak itu akan butuh sosok ayah. Kamu juga tidak ingin warga menderita karna peperangan yang terjadi jika kamu meninggalkan Terumi-sama kan?"
"Sakura, aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku. Lalu apa yang dipermasalahkan lagi, aku sedang berusaha untuk memperjuangkan kembali dirimu. Kumohon beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini."
"Kakashi, cinta itu bukan soal perjuangan dan pergorbanan saja. Tetapi juga, keikhlasan dan ketulusan untuk mencintai seseorang." Tepat setelah mengatakan itu Sakura segera pergi dari hadapan Kakashi yang terus berteriak agar Sakura kembali ke dalam pelukannya, Sakura ingin sekali berlari ke arah Kakashi dan memeluknya. Sakura sangat mencintai Kakashi sampai tidak ada ruang lagi di dalam hatinya, ia hanya bisa menangis merelakan orang yang dicintainya untuk menikahi orang lain.
--
3 bulan kemudian...
"Kekkon omedetou, Kakashi-sensei dan Terumi-san!" Teriak Naruto.
"Kau tidak sopan sekali pada Rokudaime-sama, Naruto." Tegur Shikamaru.
Naruto hanya cengegesan mendengarkan teguran dari teman rambut nanasnya itu.
Kakashi dan Terumi banjir ucapan selamat, dari para warga yang turut hadir menyambut pernikahan Rokudaime kesayangan mereka. Kakashi menanggapi berbagai ucapan selamat dengan senyuman yang terkesan dipaksakan, berbeda dengan Kakashi justru Terumi menampilkan senyum bahagia seraya memeluk lengan Kakashi.
--
"Kakashi-kun? Kamu tidak kedinginan diluar?" Ucap Terumi seraya memegang perutnya yang kian membesar.
"Tunggu lah di kamar, kamu bisa sakit jika terkena udara malam."
"Wakatta, jangan terlalu larut ya."
"Senpai."
"Tenzou? Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Kakashi terkejut.
"Aku hanya ingin memberikan ini, surat dari mantan muridmu." Ucap Yamato dengan penekanan.
"Kalau begitu aku pergi dulu, jaa."
Setelah Yamato menghilang, Kakashi segera saja membuka surat yang bertulis tangan, tulisan yang begitu ia kenal.
Kekkon omedetou, maaf tidak bisa datang di hari pernikahanmu. Kuharap kamu berbahagia dengan Terumi-san. Mulai besok aku akan berkelana bersama Tsunade-shisou. Hanya ini yang dapat kuberikan.
Sayonara Hatake Kakashi.
Kakashi menitikkan air mata, apa yang dikatakan Sakura waktu itu benar ternyata cinta tidak hanya tentang perjuangan dan pergorbanan, tetapi juga tentang keikhlasan dan ketulusan kepada seseorang yang dicintai.
Kakashi merobek-robek kecil surat Sakura dan menerbangkannya pada udara malam hari. Mungkin saat ini ia memang harus mengikhlaskan Sakura.
THE END
