Disclaimer:

Gundam Seed/Destiny © Masatsugu Iwase, Yoshiyui Tomino, Hajime Yatate Sunrise

(saya hanya meminjam karakter di dalamnya)

*.*

My Bride

Story by Viselle

*.*

"Kau yakin ingin melakukan ini?"

Cagalli memutar tubuh ke arah saudara kembarnya, Kira. "Jangan bilang, kalau sekarang kau kehilangan keberanian dan ingin membatalkan rencana kita?" ujarnya sambil bertolak pinggang.

"Tentu saja, tidak," sahut Kira. "Hanya saja, kita perlu melakukan perubahan rencana."

"Perubahan apa lagi? Kita sudah tidak sempat melakukannya," kata Cagalli, "sebenarnya, apa sih yang membuatmu ragu?"

"Kau."

"Hah?!"

"Kau seharusnya tidak ada dalam rencana ini," Kira menjelaskan, "setidaknya, kontribusimu bukan seperti ini."

"Memangnya kau punya orang lain yang bisa menggantikanku?" Cagalli bersidekap sambil menatap Kira. Karena tidak ada jawaban dari Kira, ia kembali berkata, "Hanya aku yang bisa melakukan ini, Kira."

"Tidak." Kira menggeleng. "Aku bisa saja membawa Lacus tanpa perlu meninggalkanmu untuk menggantikannya."

"Dengan risiko kau akan ketahuan?" Cagalli berdecak. "Setidaknya, dengan aku menggantikan posisi Lacus sementara, kau bisa membawanya pergi jauh dan Keluarga Zala tidak akan sempat mengejar kalian."

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?" Cagalli balik bertanya.

Kira menarik tubuh Cagalli ke depan cermin dan menunjuk tampilan Cagalli di depan cermin. Bayangan seorang gadis berambut pirang mengenakan pakaian pengantin berwarna putih berbentuk A-line panjang berlengan pendek tampak cantik di dalam cermin.

"Kau memakai pakaian pengantin persis seperti yang dipakai Lacus dan akan duduk menggantikannya di ruang duduk sementara aku membawa pergi Lacus. Jika kau ketahuan, memangnya tidak ada risikonya? Bagaimana kalau mereka menangkapmu? Aku tidak mau kau berkorban sebesar itu."

"Aku akan berakting dengan baik agar tidak ketahuan," sahut Cagalli.

"Kau pasti akan ketahuan!" Kira berkeras. "Meskipun memakai gaun yang hampir sama, tapi kau dan Lacus punya wajah jauh berbeda. Rambut dan suara kalian juga tidak sama."

"Aku akan memakai kerudung dan cadar, tidak akan ada yang bisa membedakan kami. Aku juga sudah menyiapkan rambut palsu dan ini," Cagalli mengeluarkan sebuah alat. "Ini akan membantuku terdengar seperti Lacus."

Cagalli memang sudah menyiapkan segalanya, mengantisipasi berbagai kondisi agar penyamarannya tidak mudah terbongkar. Karena penculikan Lacus harus berhasil, jika tidak saudara kembarnya akan patah hati.

Cagalli ingat bagaimana Kira patah hati untuk pertama kali. Saat itu, Kira jatuh hati pada seorang gadis bernama Flay, tapi Flay lebih memilih bersama orang lain sehingga selama berhari-hari Kira mengurung diri di kamar. Setidaknya, selama beberapa bulan kemudian Kira kelihatan tidak bersemangat.

Cagalli tidak ingin lagi melihat Kira seperti itu. Jadi, Cagalli akan melakukan sebisanya agar Kira dan Lacus bisa bersatu, termasuk menjadi pengantin pengganti sementara Kira dan Lacus melarikan diri kemudian melangsungkan pernikahan.

Kira bertemu Lacus tiga tahun lalu saat Kira menyelesaikan tahun terakhir pendidikan di Plant. Kebaikan hati dan kecantikan Lacus memikat Kira. Begitupula ketulusan dan perhatian Kira membuat Lacus jatuh cinta.

Keduanya mulai dekat dan menjadi tidak terpisahkan. Bahkan Kira memutuskan bekerja di Plant agar tetap bisa bersama Lacus. Namun, siapa sangka takdir memisahkan keduanya. Perjanjian pernikahan antara Keluarga Clyne dan Zala membuat Lacus dan Kira terpaksa berpisah.

Perpisahan tidak memupuskan cinta keduanya. Meskipun sudah kembali ke Orb, Kira tetap tidak bisa melupakan Lacus. Saat mendengar berita pernikahan Lacus, Kira bergegas kembali ke Plant dan merencanakan penculikan Lacus.

Rencana yang Kira dan Cagalli susun cukup sederhana; mereka bersama dengan Shinn akan pergi ke lokasi upacara pernikahan Lacus Clyne dan Athrun Zala.

Shinn merupakan adik kelas Kira saat di kampus dan sekarang bekerja bersama Kira. Mulanya Shinn tidak terlibat, tapi secara tidak sengaja pemuda itu mendengar rencana Kira dan Cagalli. Shinn memang sangat loyal pada Kira, makanya pemuda itu memaksa ikut terlibat.

Mereka akan masuk melalui pintu belakang, Luna Maria, kekasih Shinn akan membantu membukakan pintu. Luna merupakan teman Lacus dan akan menjadi bridesmaid. Gadis itu akan membantu mereka bertiga masuk dan menukar pengantin.

Sementara Kira dan Shinn membawa Lacus pergi, Cagalli akan duduk di kamar rias menggantikan Lacus. Luna akan menemani. Setelah mendapatkan kabar dari Kira, bahwa mereka sudah berada dalam pesawat menuju Orb, Cagalli akan berganti pakaian dan menyamar sebagai tamu undangan.

Jika mereka melakukannya dengan cepat, maka Cagalli bisa melarikan diri tanpa harus benar-benar menggantikan Lacus menjadi pengantin Athrun Zala. Cagalli dan Luna akan coba menunda waktu sehingga Cagalli tidak perlu sampai ke depan altar pernikahan. Meskipun sebenarnya, Cagalli ingin berada di sana, di depan altar pernikahan bersama Athrun.

Sebenarnya, niat Cagalli melakukan semua ini tidak murni untuk membantu Kira saja. Namun, sebagian untuk dirinya sendiri. Jujur saja, Cagalli tidak rela apabila Athrun menikah dengan Lacus. Cagalli menginginkan Athrun untuk dirinya, karena ia sudah jatuh hati pada Athrun, begitupula sebaliknya. Setidaknya, menurut Cagalli begitu.

Cagalli meraba dadanya, di balik gaun pengantin yang dikenakannya ada sebuah cincin tergantung aman dalam sebuah rantai kalung emas. Cincin pemberian Athrun, sebelum pria itu kembali ke Plant.

"Aku akan menjemputmu, tunggu aku."

Satu kalimat itu merupakan janji bagi Cagalli. Janji yang diingat dan dijaga dengan baik olehnya. Namun, sepertinya orang yang mengucapkannya melupakan janji itu. Buktinya, pria itu malah ingin menikah dengan Lacus.

Bila mengingat itu, hati Cagalli seperti diremas. Bagaimana bisa Athrun melupakan janjinya? Setelah kembali ke Plant, pria yang pertama kali ditemuinya di dua tahun lalu saat festival musim panas itu, masih memberi kabar. Bahkan sebelum Cagalli mendengar kabar pernikahan Athrun, satu bulan lalu, pria itu baru saja menghubunginya. Namun, setelah itu Athrun tidak bisa dihubungi. Pesan terakhir yang Athrun kirimkan, "Semua baik-baik saja, aku akan menyelesaikannya. Tunggu aku."

Menunggu? Cagalli tidak bisa melakukan hal itu. Ia akan pergi menemui Athrun dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang pria itu ingin meninggalkannya, Cagalli akan menerimanya. Hatinya pasti akan sakit, tapi itu lebih baik daripada menanti tanpa kepastian.

"Kau mendengarku, Cagalli?" Suara Kira diikuti tepukan di bahu menarik Cagalli dari lamunan.

"Eh, i-iya, tentu saja," sahut Cagalli.

"Apa yang kukatakan?"

"Ah, i-itu … a-aku … maaf, tadi aku tidak mendengarkan," ujar Cagalli, "Bisa kau ulangi?"

"Cagalli, aku tidak yakin meninggalkanmu di sana," kata Kira, "aku mengkhawatirkanmu. Sebaiknya, kita lakukan seperti rencana awal saja."

Cagalli menggeleng. "Aku bisa melakukannya." Ia harus melakukannya, setelah memastikan Kira dan Lacus aman, Cagalli akan menemui Athrun dan bertanya pada pria itu. Hari ini, ia harus mendapatkan kepastian.

Terdengar suara ketukan pintu, kemudian pintu terbuka dan Shinn muncul. "Kalian sudah siap?"

"Ya," jawab Cagalli seraya memakai jubah untuk menutupi gaunnyas.

"Cagalli." Kira menahan lengan Cagalli.

"Tenanglah, ini akan berhasil," kata Cagalli, "bawa pergi Lacus, sisanya serahkan padaku." Ia menepuk bahu Kira kemudian melangkah ke pintu.

.*.

"Apa kita membutuhkan ini?" Kira mengangkat pistol di tangannya.

"Isinya peluru bius, kata Luna ada petugas keamanan yang ditugaskan menjaga Lacus. Kita akan melumpuhkan mereka dengan ini," jawab Shinn yang berada di balik kemudi.

"Aku akan memarkir mobil di depan sana, lalu kita akan berjalan melalui jalan setapak yang terhubung ke taman bagian belakang vila keluarga Clyne." Shinn mulai menjelaskan rencana mereka. "Luna dan Lacus sudah menunggu di sana bersama dua penjaga yang ditugaskan mengawasi Lacus. Kita lumpuhkan penjaganya dulu sebelum masuk ke taman untuk menukar pengantin. Setelah itu, Kira akan membawa Lacus pergi dan langsung menuju Orb."

"Hanya Kira?" tanya Cagalli.

"Aku akan tinggal untuk memastikan kau dan Luna bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat," jawab Shinn. "Kau bisa membawa Lacus sendiri kan, senpai?"

"Tentu saja," jawab Kira. "Terima kasih sudah membantuku."

"Ya, akhirnya aku bisa membuatmu berhutang budi padaku," sahut Shinn.

Cagalli tersenyum. Hubungan senior juniar, Kira dan Shinn membuat orang iri, terutama bagaimana Shinn mengagumi Kira. Padahal sebelumnya Shinn pernah sangat tidak menyukai Kira.

"Di sini."

Shinn turun lebih dulu, kemudian diikuti Kira dan Cagalli. Mereka berjalan melalui jalanan setapak dan bersembunyi sesaat di belakang sesemakan. Di tengah taman, Lacus duduk bersama Luna di gazebo dengan dua penjaga berdiri tidak jauh dari gazebo.

Cagalli mengamati Lacus yang terlihat sangat cantik dalam balutan pakaian pengantin. "Lacus sangat cantik. Wajar saja jika banyak laki-laki yang ingin menikahi Lacus, Athrun salah satunya." Cagalli menggeleng pelan. "Fokus, Cagalli. Jangan banyak berpikir."

Kira dan Shinn memegang pistol dan siap menembak, tapi sebelum keduanya menarik pelatuk, kedua penjaga itu roboh.

Mereka bertiga saling tatap.

"Mungkin Luna," ujar Shinn. Kemudian mereka keluar dari persembunyian setelah melihat tanda dari Luna.

"Kita tidak punya banyak waktu, para penjaga itu akan segera bangun," kata Luna.

Kemudian semua bergerak dengan cepat. Shinn bergerak ke arah penjaga dan mencabut jarum bius yang menempel di leher penjaga tersebut. Cagalli melepas jubahnya dan Luna langsung memakaikannya pada Lacus.

"Terima kasih telah membantu kami. Kalian berhati-hatilah," ujar Lacus.

"Shinn, tolong pastikan kalian keluar dari sini dengan selamat," ucap Kira. Lalu beralih pada Luna, "terima kasih atas bantuanmu," ujar Kira. Terakhi Kira memeluk Cagalli, "Berhati-hatilah, aku menyayangimu."

Cagalli cukup kaget mendengar ucapan Kira, kemudian membalas pelukan saudara kembarnya itu. "Pergilah, aku akan baik-baik saja. Aku juga menyayangimu."

Setelah itu, Kira dan Lacus pergi, sementara Shinn pergi ke ruang depan untuk berbaur dengan tamu undangan yang mulai berdatangan.

"Pernikahan akan dimulai satu jam lagi," kata Luna sambil merapikan gaun Cagalli. "Gaun ini sangat mirip dengan yang Lacus pakai, memang ada sedikit perbedaan di bagian kerudungnya, tapi tidak akan ketahuan."

"Kuharap tidak akan ketahuan," sahut Cagalli.

"Tidak akan ketahuan, karena kau akan berganti pakaian sebelum upacara dilakukan. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu," ujar Luna, "seperti yang direncanakan, kau akan menyuruhku dan penjaga keluar sepuluh menit sebelum upacara. Lalu berganti pakaian dan keluar lewat jendela. Ikuti saja jalan yang mengarah ke kiri, kau akan bisa bergabung dengan para tamu. Kau bisa langsung pergi tanpa ketahuan. Sisanya akan kuurus bersama Shinn."

"Kurasa, kita harus mengubah rencana," kata Cagalli.

"Maksudmu?!"

"Aku akan tinggal sampai upacara pernikahan selesai."

"Hah? Ta-tapi-"

"Kita perlu memastikan Kira dan Lacus sampai di Orb tanpa kendala. Jadi, harus mengulur waktu sebanyak mungkin," Cagalli menjelaskan.

"Ta-tapi kau akan melakukan upacaranya. Kau akan menikah." Luna tidak setuju.

"Bukan aku yang menikah, tapi Lacus. Namun, juga bukan Lacus, karena aku yang mengucap janji pernikahannya. Jadi, yang menikah bukan aku ataupun Lacus. Pernikahannya tidak sah."

"Tapi tetap saja-"

Luna masih ingin protes, tapi dua penjaga mulai tersadar. Jadi, mereka berdua diam.

"Apa yang terjadi?" penjaga-penjaga itu bertanya dengan bingung.

"Kalian berdua tiba-tiba jatuh, saat kuperiksa ternyata kalian tertidur dan tidak bisa dibangunkan," jawab Luna. "Bisa-bisanya kalian tertidur saat bekerja," omel Luna.

Kedua penjaga itu meminta maaf dengan malu.

"Sudahlah, Luna. Mungkin mereka kelelahan," ujar Cagalli, "kita rahasiakan saja hal ini. Toh, tidak terjadi apa pun. Aku tetap aman di sini." Ia berbicara menggunakan alat perubah suara sehingga terdengar mirip dengan suara Lacus. "Sudah waktunya kita kembali ke dalam."

Luna membantu Cagalli berdiri, kemudian keduanya melangkah kembali ke ruang rias, diikuti dua penjaga di belakang mereka.

.*.

Cagalli baru duduk di depan meja rias saat seorang wanita masuk ke dalam ruangan.

"Maaf, aku mengganggu calon pengantin yang sedang bersiap. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk melihat menantuku." Wanita itu langsung menghampiri Cagalli dan menariknya hingga berdiri.

"Kalian berdua," wanita itu menunjuk para penjaga, "tunggu di luar, aku ingin bicara dengan calon menantuku."

Kedua penjaga menurut tanpa protes. Siapa pula yang ingin melawan Lenore Zala, istri orang yang mempekerjakan mereka. Luna melangkah menjauh, tapi tidak keluar dari ruangan.

"Kau terlihat sangat cantik." Lenore ingin membuka kerudung Cagalli yang dipakai hingga menutupi wajah. Namun, Cagalli menahannya. "Aku tidak boleh melihat wajah pengantin?" tanya Lenore.

Cagalli panik. Penyamarannya akan langsung ketahuan jika ibunya Athrun membuka kerudungnya. Lenore pasti pernah melihat wajah calon menantunya dan tidak mungkin salah mengenali Cagalli sebagai Lacus.

"Bu-bukan begitu, a-aku …" Cagalli tidak bisa menemukan alasan.

"Kau gugup, Sayangku?" tanya Lenore. "Ah, tentu saja, semua calon pengantin pasti akan merasa gugup di hari pernikahannya." Lenore membimbing Cagalli untuk duduk.

"Aku juga begitu, meskipun aku tidak ingat persis bagaimana rasanya, tapi aku ingat benar-benar gugup saat itu," Lenore mulai bercerita sambil tetap memegang tangan Cagalli. "Namun, saat berpikir akan menikah dengan pria yang kucintai, kegugupan itu hilang. Karena memang itulah yang kuinginkan, menikah dengan orang yang kucintai. Kau juga sama, bukan?"

Ya, Cagalli juga menginginkan hal yang sama. Namun, mungkin pria yang dicintainya tidak menginginkan hal itu. Buktinya, Athrun memilih menikah dengan Lacus padahal sudah membuat janji dengannya. Apakah itu berarti Athrun tidak mencintainya? Tanpa terasa air mata Cagalli jatuh, menetes tepat di atas jemari Lenore.

"Sayangku, jangan menangis. Semua akan baik-baik saja," ujar Lenore, "putraku adalah pemuda yang baik, dia akan menyayangi dan mencintaimu sebagaimana kau mencintainya. Dia tidak akan menjanjikan sesuai, kecuali benar-benar akan menepatinya."

Cagalli menatap Lenore melalui helai-helai kerudung. Tidak terlihat jelas bagaimana ekspresi Lenore, tapi suara wanita itu menenangkan dan terdengar begitu jujur sehingga Cagalli merasa Lenore sedang berbicara dengan dirinya bukan dengan Lacus.

"Karena kau sudah jauh-jauh datang kemari, maka lakukan sampai selesai. Kau datang karena memercayainya, bukan? Maka percayai dia sampai akhir."

Apakah aku bisa memercayaimu, Athrun?

.*.

Luna langsung menghampiri Cagalli setelah Lenore pergi.

"Kau masih sempat pergi, sesuai rencana sebelumnya," bisik Luna.

Cagalli menggeleng. Niatnya sudah bulat, ia akan menemui Athrun dan bertanya langsung pada pria itu. "Kita lakukan seperti rencanaku."

"Ta-tapi …."

"Aku perlu bertemu dan berbicara dengan Athrun," kata Cagalli.

"Hah?"

"Tenang saja, aku mengenal Athrun. Dia tidak akan mencelakaiku. Kau dan Shinn bisa pergi setelah upacara, aku akan baik-baik saja."

.*.

"Ayah pikir kau akan pergi," ujar Siegel Clyne yang sudah menanti di depan pintu.

Di dalam ruangan tamu undangan sudah berkumpul dan menempati tempat duduk masing-masing, dengan tenang menanti mempelai wanita masuk. Begitupula sang mempelai pria, berdiri dengan gagah menanti kedatangan calon pengantinnya.

Calon pengantin memang akan datang, melangkah anggun bersama alunan piano sebagai pengiring. Namun, bukan calon pengantin sebenarnya, tapi pengantin yang menyamar. Tidak akan ada tamu yang tahu, bahkan sang mempelai pria pun tidak akan tahu.

"Semalam kau mengutarakan niatmu untuk pergi, Ayah kira kau benar-benar melakukannya," kata Siegel. "Apa yang membuatmu mengubah pikiran? Kau mengkhawatirkan Ayah? Bukankah Ayah sudah bilang akan mengurus semuanya di sini. Kau tidak perlu mengorbankan kebahagiaanmu."

"Dia sudah pergi," sahut Cagalli.

"Kau bukan-"

"Ya, aku bukan," Cagalli menjawab dengan suara pelan. Meskipun di sana hanya ada mereka dan Luna, tetap saja ada risiko orang mendengarnya. Cagalli tidak mau rencananya hancur di saat-saat krusial.

Akan tetapi, setidaknya ayah sang mempelai wanita harus tahu bahwa sang putri sudah dalam perjalanan melarikan diri dari pernikahan yang dipaksakan. Luna sempat mengatakan permintaan Lacus untuk memberitahu Siegel bahwa Lacus telah pergi. Meskipun sebenarnya Luna yang hendak mengatakannya setelah Cagalli pergi, tapi karena Cagalli meminta perubahan rencana, maka ia yang mengatakannya sekarang.

"Si-siapa?"

"Paman akan mengenalku nanti, untuk sekarang aku hanya bisa bilang, mereka sudah pergi dan mereka akan bahagia. Jadi, tolong bantu aku menyelesaikan peranku di sini."

"Harusnya aku menyadari Lacus tidak bahagia dan membatalkan pertunangan dengan Keluarga Zala sejak awal," ujar Siegel tampak menyesal.

"Jika hal itu terjadi, hari ini semua ini tidak akan terjadi," sahut Cagalli. "Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, saat ini yang dibutuhkan adalah bantuan Paman. Kami sudah merencanakannya, aku harap Paman mau bekerjasama."

"Hanya saja, kau akan menikah dengan Athrun," Siegel kelihatan keberatan.

"Ini tidak bisa dikatakan sebagai pernikahan yang sah, benar kan?" Cagalli berkata dengan tenang padahal jantungnya berdebar cepat di rongga dada. Ini memang bukan pernikahan yang sah, tapi Cagalli mengharapkan sebaliknya.

"Ayo, jangan membuat orang-orang menunggu." Cagalli menyusupkan tangannya ke lengan Siegel.

"Jika itu yang kau inginkan, tapi jika kau membutuhkan bantuan lain kau tinggal memintanya."

.*.

Suara piano mulai terdengar, Luna membukakan pintu. Cagalli masuk bersama Siegel Clyne. Semua mata mengarah kepada mereka. Cagalli tidak memerhatikan tamu undangan, matanya terpaku pada pria yang menunggunya di ujung sana.

Tuksedo hitam membalut tubuh tinggi dan gagah milik Athrun Zala. Pria itu tampak begitu menawan, jauh lebih menawan daripada yang Cagalli ingat. Senyum pria itu terlihat sangat bahagia, membuat hati Cagalli teriris. Pastinya, Athrun menantikan sang mempelai wanita, tapi itu bukan Cagalli melainkan ….

Langkah Cagalli terhenti. Sepertinya, ia tidak perlu bertanya lagi. Sudah jelas, Athrun memang meninggalkannya, melupakan janji yang pernah dibuat sebelumnya.

"Ada apa?" Siegel berbisik. "Kalau kau tidak yakin, kita bisa-"

"Aku akan melakukannya," ucap Cagalli. Meskipun hatinya terasa seperti diremas. Sakit, tapi ia akan meneruskannya. Setidaknya, hanya hatinya yang tersakiti, Kira tetap bisa berbahagia bersama Lacus.

Jangan menangis sekarang, Cagalli.

Saat berada di depan Athrun, Cagalli hanya diam. Bahkan saat pria itu mengulurkan tangan, Cagalli tidak menyambutnya. Ia hanya menatap Athrun melalui kain kerudungnya, melihat senyuman yang menyakitkan hatinya.

"Lacus." Panggilan Siegel membuat Cagalli tersadar akan perannya. Sungguh aneh jika mempelai wanita yang berbahagia tidak menyambut uluran tangan mempelai pria. Jadi, meski berat hati Cagalli menyambut uluran tangan tersebut. Ia menunduk sambil sekuat tenaga menahan air mata yang hampir jatuh.

"Kau benar-benar tidak bisa diatur ya."

Kepala Cagalli terangkat, matanya kembali menatap Athrun.

"Padahal sudah kubilang, tunggu aku, tapi kau malah datang ke sini."

Perkataan Athrun membuat Cagalli bingung.

"Tapi tidak masalah, kau datang artinya kau peduli padaku dan masih percaya padaku. Benar, kan?"

"A-aku …"

Athrun mendekat hingga mulutnya berada di dekat telinga Cagalli. "Menikahlah denganku, Cagalli. Jadilah mempelaiku hari ini."

"Athrun!" Cagalli terkejut. "Ba-bagaimana kau tahu?"

"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu, kau satu-satunya wanita yang ingin kunikahi. Dan aku ingin tahu, apakah aku pria yang kau inginkan, Cagalli?"

"Tapi, La-cus, bukankah kau ingin menikah dengannya?"

Athrun menggeleng. "Tidak. Kau satu-satunya wanita yang ingin kunikahi sejak dua tahun lalu. Gadis yang pertama kali meninjuku karena mengira aku pencopet."

"Ta-tapi …"

Semua ini benar-benar mengejutkan bagi Cagalli. Bagaimana bisa Athrun mengenalinya dan sekarang malah melamarnya.

"Apa semua baik-baik saja?"

Patrick Zala mendekat. Saat memandang sekeliling, Cagalli mendapati orang-orang menatap penuh minat, beberapa orang bahkan berbisik-bisik, berspekulasi mengenai apa yang sedang terjadi.

Siegel yang sempat mundur dan duduk juga kembali mendekat. "Apa ada masalah?"

"Semua baik-baik saja," jawab Athrun. "Benar kan, Cagalli?"

"Cagalli? Siapa Cagalli?" tanya Patrick.

Athrun menjawab, "Mempelai wanitaku, Ayah. Wanita yang ingin kunikahi."

"Apa maksudmu? Mempelaimu adalah Lacus Clyne!"

"Lacus sudah pergi, Ayah. Dia pergi bersama dengan orang yang dicintainya. Jadi, aku pun akan melakukan hal yang sama. Menikah dengan wanita yang kucintai."

"Athrun, kau-"

Patrick hampir mengamuk, tapi Lenore bergegas menariknya mundur dan menenangkan pria itu. Cagalli tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Lenore, tapi perkataan Lenore cukup untuk membuat Patrick mundur, meskipun masih terlihat marah.

"Bersediakah kau menikah denganku, Cagalli?" Perhatian Cagalli kembali terfokus pada Athrun.

Masih banyak tanya di benak Cagalli dan semua masih terasa membingungkan. Namun, ketika pertanyaan itu diajukan oleh orang yang begitu dicintainya, kenapa harus menolak?

"Ya, aku bersedia."

"Kita mulai upacaranya sekarang?"

"Ya." Cagalli dan Athrun menjawab bersamaan.

Aku akan bertanya pada Athrun tentang semua yang terjadi, tapi tidak sekarang. Sekarang aku harus fokus pada peranku, sebagai mempelai wanita yang berbahagia.

.

.

.

Fin

Jadi, ini fanfik apa? Saya juga tidak bisa menjelaskannya. Idenya muncul setelah nonton Gundam Seed Freedom (saya baru nonton di bulan Juni). Setelah melihat scene AsuCaga yang begitu sedikit di di GSF, jadinya pengen bikin fanfik tentang mereka lagi.

Mungkin ini gaje, aneh, dan ada berbagai kekurangan lainnya, tapi I try my best. Semoga kalian suka dengan ceritanya dan silakan tinggalkan jejak jika berkenan.

Semoga setelah ini saya masih bisa nulis di fandom ini.

See ya,

Viselle~

*.*

Athrun side:

"Kau memang sudah gila?" Yzak tidak bisa menahan emosi saat Athrun mengajukan permintaan aneh.

Athrun meminta kedua temannya datang sehari lebih awal dengan dalih ingin melakukan pesta bujang. Namun, bukannya bersenang-senang, Nicole, Yzak, dan Dearka yang datang justru diberi permintaan mengejutkan oleh putra Patrick Zala itu.

"Aku juga tidak menyangka kau akan mengajukan permintaan seperti itu," sahut Dearka tapi tidak terlihat marah, justru terlihat geli. "Ternyata kau bisa gila juga."

"Apa kau sudah memikirkannya dengan matang?" tanya Nicole.

Athrun hanya mengangkat bahu. "Apa boleh buat, aku sudah meminta baik-baik pada ayahku tapi dia tidak mau mendengarkan,"

"Bisa saja kau yang kabur," ujar Dearka.

"Aku juga berpikir begitu, dan sudah mencoba melakukannya, tapi ayahku berhasil menggagalkan rencanaku. Sekarang aku malah jadi tahanan rumah, kalian orang luar pertama yang bisa kutemui sebulan terakhir, aku bahkan tidak bisa menelepon." Athrun menjelaskan situasinya.

"Jadi, karena kau tidak bisa kabur, kau ingin membuat tunanganmu yang kabur?" Dearka mencoba memperjelas situasi.

"Ya, aku tahu Lacus juga tidak menginginkan pernikahan ini. Kalian hanya perlu membawanya pergi dan antarkan dia ke alamat ini," Athrun menyodorkan sebuah kertas, "jika mempelai wanitanya tidak ada, ayahku tidak akan bisa memaksa."

"Ayahmu bisa saja mencari Lacus," ujar Nicole.

"Aku berencana kabur setelah kalian menculik Lacus," Athrun menjelaskan rencananya. "Aku akan menemui kalian di alamat itu, kemudian kalian bisa mengantar Lacus pulang, dan aku akan menghilang."

"Jadi, kau menculik Lacus hanya agar punya kesempatan untuk kabur?" tanya Nicole.

"Kau membuat kami melakukan tindak kriminal," kata Yzak, tapi dengan nada yang lebih tenang. Athrun merasa Yzak sudah bersedia membantunya.

"Bagaimana dengan Lacus? Apa dia tidak akan kecewa?" Dearka bertanya lagi. "Aku tidak akan mau membantumu jika itu akan menyakiti Lacus. Aku bukan tipe pria yang suka menyakiti hati wanita."

Athrun menghela napas. "Lacus juga tidak menginginkan pernikahan ini. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya, sama seperti aku. Pernikahan politik ini penting bagi Clyne, sama pentingnya bagi keluarga Zala. Hanya saja, tidak membuat kami bahagia."

"Lalu ke mana kau akan pergi?" tanya Nicole.

"Orb," Athrun menyandarkan tubuhnya di sofa, "ada seseorang yang menungguku di sana."

"Ah, aku mengerti," Dearka menanggapi dengan santai.

"Jadi, kau ingin kami melakukan apa?" tanya Nicole sementara Yzak masih terlihat cuek, tapi tetap mendengarkan rencana Athrun.

.*.

Dearka dan Yzak bersembunyi di balik semak-semak. Sudah diputuskan bahwa tugas membawa pergi Lacus akan dilakukan oleh mereka, sementara Nicole akan membantu Athrun. Karena akan mencurigakan jika Nicole tidak muncul di sisi Athrun saat persiapan upacara pernikahan.

"Aku benar-benar gila, karena mau melakukan ini," Yzak bersungut.

"Kau sudah mengatakannya berkali-kali, tapi tetap melakukannya," sahut Dearka.

"Lebih cepat dilakukan lebih baik," kata Yzak.

"Ayo!"

Keduanya mengarahkan pistol berisi peluru bius ke target masing-masing, lalu menarik pelatuk bersamaan. Keahlian menembak keduanya memang tidak perlu diragukan lagi, sebab mereka memang punya hobi menembak.

Kedua target roboh setelah obat bius masuk melalui jarum kecil yang ditembakkan Dearka dan Yzak. Mereka bersiap menghampiri Lacus, tapi segera mundur kembali saat ada yang mendahului.

"Siapa mereka?" tanya Yzak. "Apa yang mereka lakukan?"

"Sepertinya, bukan hanya Athrun yang ingin pernikahan ini gagal." Dearka mengeluarkan ponsel dan merekam apa yang terjadi.

"Mereka menukar pengantin?" Yzak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ya, dan kurasa aku kenal pengantin pengganti itu," ujar Dearka.

"Bukankah dia pacar Athrun."

"Ya, kurasa ini akan seru."

.*.

"Jadi?" tanya Nicole pada Athrun setelah melihat video yang dikirimkan Dearka.

"Perubahan rencana," jawab Athrun dengan senyum bahagia.

"Tidak jadi kabur, eh?" Nicole ikut senang melihat kebahagiaan Athrun.

"Tentu saja, kenapa harus menolak kalau dia pengantin yang kuinginkan," sahut Athrun. "Kurasa, sekarang aku perlu bantuan ibuku."

.

.

.

The End

*.*

Thanks for reading~