Give me, Harry Potter. And none shall be harmed.
Give me, Harry Potter. And I shall leave the school untouched.
Give me, Harry Potter. And you will be rewarded.
Kalimat bernada berat dan gelap itu berulang-ulang selama tiga kali, membuat beberapa siswi ketakutan dan menangis dan beberapa siswa menegang cemas.
Ditengah keheningan, sosok Hermione dan Ron berlari panik kesana kemari. Membalik setiap anak laki-laki yang membelakangi mereka.
"Dimana Harry? Dimana dia?" Pekik Hermione cemas. Peluh membasahi wajahnya yang pucat karena lelah.
Para auror maupun siswa yang berada didekatnya menggeleng, saling melihat sekitar untuk menemukan sosok berkacamata bulat itu.
"Ada apa, dear?"
Hermione berbalik, menatap cemas sosok Molly Weasley yang berlari mendekat bersama si kembar.
"Mrs. Weasley, Harry tidak ada. Sudah kucari disetiap sudut kastil. Ron sedang mencarinya kepondok Hagrid." Jawab Hermione cepat, wajahnya kalut dan putus asa.
"Apa? Cepat.. Cepat anak-anak, kalian bantu cari Harry. Jangan biarkan Harry pergi dari kastil!" Tegas Molly yang diangguki si kembar. Mereka akhirnya berpisah untuk menemukan Harry.
Setengah jam berlalu, Arbeforth memimpin seluruh pihak light untuk tidak menyerahkan Harry. Mereka semua mengangkat tongkat mereka dan memilih perang!
.
.
"Aku tidak menemukannya dimana pun, my lord."
Sepasang mata merah melirik dingin.
"Sudah kau cari disetiap sudut?"
"Ya tuanku, tapi aku tidak menemukan sama sekali sosok Harry Potter."
Mata merah kembali memandang kekedalaman hutan. Bawahan yang baru melapor segera mundur, merasa tercekik karena aura gelap tuannya yang semakin berat.
"Harry Potter.." Desis lelaki bermata merah tersebut.
Ia melambaikan tangan, menempelkan kembali glamor berwajah ular tanpa hidung diwajahnya, sosok Voldemort.
"Pergilah wahai pengikutku. Serang Hogwarts dan bawa Harry Potter padaku!"
Sorak semangat bawahannya segera terdengar mengguncang hutan terlarang. Para werewolf, raksasa, dan berbagai makhluk lainnya segera berlari, mengepung kastil Hogwarts dari berbagai arah.
Sementara Voldemort sendiri berjalan santai menuju halaman utama Hogwarts.
Bayangan hitam mengelilingi Hogwarts, geraman-geraman makhluk gelap membuat suasana semakin mencengkam.
Para auror, professor, anggota Orde, anggota DA, dan relawan meningkatkan kewaspadaan mereka. Selalu siap jika pihak lain tiba-tiba memyerang.
Kedua pihak saling bertemu di halaman.
Arberforth, Minerva, Molly, Kingsley, dan Arthur dari pihak light dan Lucius, Rodolphus, Rabastan, dan Bellatrix saling menodong tongkat. Mencapai jalan buntu.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba seberkas cahaya mantra menembak pelindung Hogwarts. Membuat pelindung robek sedikit yang langsung diikuti oleh banyak mantra.
Pihak dark merobek pelindung dan pihak light segera memperbaikinya.
Kembali, kedua pihak mencapai jalan buntu.
Voldemort sakit kepala.
Saia ngakak ngetik ini. XD
Bawahan yang tidak berguna dan musuh yang menjengkelkan. Ia ingin segera kembali dan menghukum orang dicarinya dengan kejam.
Memikirkan orang itu, Voldemort langsung menyeruak diantara kerumunan. Pihak dark yang tau tuan mereka berjalan kedepan segera menyingkir memberi jalan.
"Arberforth.." Desis Voldemort saat mata merahnya menangkap sosok yang mirip dengan Albus Dumbledore.
"Tom.." Sapa balik Arberforth sambil sedikit menganggukkan kepala.
Semua, "..."
Tunggu, sepertinya salah scene?
"Dimana Harry Potter?" Tanya Voldemort dengan nada berat dan sedikit mendesis.
Anggota DA dibelakang para professor menjadi pucat.
"Aku belum melihatnya sejak tadi." Jawab Arberforth santai.
Raut Voldemort mengeras, mata merahnya berkilat jengkel. Ia memelototi Arberforth yang mengedikkan bahu, tidak tau.
"Tsk." Voldemort berdecih dan mengangkat tongkat. Menembakkan mantra yang langsung merusak seluruh pelindung Hogwarts.
Pihak light segera gugup, genggaman mereka pada tongkat langsung mengencang.
Arberforth mendesah, ia sedikit menurunkan tongkatnya.
"Tom.."
"Diam!" Desis Voldemort tajam.
Ia maju selangkah memasuki halaman Hogwarts dan berjalan perlahan. Semua berfokus padanya dengan gugup.
Voldemort dengan acuh memandang kastil, dari atas kebawah. Mengendus udara lalu mendengus.
Jubahnya berkibar, ia kembali berdiri berhadapan dengan Arberforth.
.:Harry Potter!!:. Raung Voldemort ke udara dengan bahasa Parseltounge.
Hening.
Voldemort semakin jengkel. Bellatrix saling memandang gugup dengan Lucius, tau apa yang membuat tuan mereka begitu kesal.
Pihak light bingung namun juga gugup. Minerva memandang Arberforth yang menghela nafas panjang.
"Tom! Marvolo! Riddle!" Teriakan jengkel dan menekan itu membuat semua fokus berubah.
Bellatrix dan Lucius segera menghela nafas lega.
Dan pihak light mendadak cemas juga panik. Takut dengan cara sapaan sosok berkacamata itu.
Dari arah jembatan Hogwarts, Harry Potter berjalan cepat. Sepasang mata emerald berkilat jengkel, dengan terang-terangan memelototi sepasang mata merah yang balik menatapnya lembut.
"Harry! Darimana kamu?"
"Harry jangan kesana!"
Panggilan dan teriakan teman-temannya membuat Harry menoleh dan membuatnya tersenyum tipis. Ia mengabaikan perkataan mereka dan langsung mendekati sosok tinggi yang berhadapan dengan saudara Albus itu.
Arberforth mundur dua langkah dan menggelengkan kepala, memberi ruang kedua orang itu untuk berbicara.
Meskipun bingung, Minerva dan yang lainnya mengikuti untuk mundur. Bahkan tanpa sadar fokus menonton kedua orang tersebut.
"Kau!" Tuding Harry setelah sampai didepan Voldemort.
Voldemort tersenyum tipis, ia mengusap wajahnya pelan. Glamor terlepas, sosok tampan Tom dengan mata merah terlihat. Membuat seluruh pihak light cengok.
Itu.. Voldemort?
"Bukankah kau berjanji tidak akan membunuh?!" Tanya Harry keras, tangannya belum turun dari depan wajah Tom.
"Aku memang belum membunuh siapapun." Balas Tom datar.
"Kau membunuh Albus!"
"Itu Severus."
"Severus mati karenamu!"
"Nagini yang menggigitnya."
"Bagaimana dengan Sirius?!"
"Ada dirumahku. Sedang terapi dengan Remus karena encok." Celetuk Bellatrix.
"HAHAHAHA, aku suka sekali melihat penderitaannya." Lanjut perempuan itu sambil tertawa histeris.
Harry melotot ganas, membuat Bellatrix menyusut dibalik punggung Narcissa.
"Dia galak sekali." Adu Bellatrix kepada Narcissa yang hanya bisa menghela nafas, nyonya Malfoy itu mendadak lelah.
Pihak light cengok. Sedangkan pihak dark rileks, mereka tidak harus lagi menahan aura berat tuan mereka yang sedang marah.
Bahkan Avery langsung duduk mendelosor ditanah sambil menghitung waktu liburannya. Selama tekanan tuannya itu, ia harus menghandle semua urusan death eaters, ia lelah sampai mati!
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Harry sambil memijat dahinya.
"Mencarimu." Jawab Tom datar.
"Kena--"
"Harry Potter.." Desis Tom berbahaya.
"Kau menghilang dari hadapanku, membuatku marah, berlarian kesana kemari tanpa peduli keselamatanmu. Jika aku tidak datang, kau masih akan membahayakan dirimu?!"
Tom menatap Harry tajam, kedua mata merahnya berkilat.
Harry terdiam, raut wajahnya menjadi bersalah.
"Kau hamil Harry, didalam perutmu ada telurku. Dan kau masih bertarung sana sini. Kau pikir aku tidak marah? Sebentar lagi telur-telur itu akan keluar."
"HAAHH??"
Apa yang mereka dengar? Telur? Hamil?! Harry Potter hamil anak Voldemort?!!
Harry menunduk, semakin bersalah. Ia memainkan jemarinya gugup.
"Tom..." Panggil Harry pelan, ia berdiri dengan gelisah.
"Hm?" Tom mengacuhkan semua orang dan menunduk, melihat melihat Harry.
Kemarahannya selama beberapa hari ini akhirnya lenyap, tapi hukuman untuk bocah yang sedang mengandung telurnya ini akan tetap dilaksanakan.
Memikirkan hukuman, wajah Tom semakin terlihat baik. Bahkan senyum tipis terukir diwajahnya.
"Ayo.. Ayo pulang?" Ucap Harry dengan suara halus, tidak menyadari bahaya yang mendekat.
Senyum Tom berubah menjadi seringai. Ia menunduk untuk berbisik ditelinga makhluk kecil itu.
"Tentu. Aku ingin segera menghukummu."
Harry merona parah, secepat kilat ia berbalik. Namun pinggangnya segera dipeluk erat oleh tangan kuat.
"Tolong aku!!" Teriak Harry putus asa.
Pihak light belum bisa kembali sadar dari pergantian kejadian didepan mereka, jadi tidak ada yang bereaksi dengan teriakan Harry.
Tom mengangkat Harry kedalam pelukannya dengan acuh, ia mengangguk sedikit pada Arberforth dan berbalik.
"Kita pergi." Ucapnya lantang.
Satu persatu death eaters menghilang dalam asap hitam. Begitu pula Tom yang langsung berapparatte pergi dengan Harry yang memberontak dipelukannya.
Suasana hening sampai pertanyaan ragu Neville terdengar.
"Itu saja? Kita tidak jadi perang?"
Seluruh pihak light saling memandang sebelum kemudian memandang Arberforth.
Merasa dipandang, Arberforth menghela nafas tak berdaya. Tunggu, berapa kali ia sudah menghela nafas? Umurnya semakin berkurang dengan cepat karena ini.
"Mereka sepasang kekasih. Jika kalian tidak tau, Tom memiliki darah Creature ular hitam. Sesuai lambang langsung keturunan Salazar. Ia ular hitam dominant, wajar jika Harry mengandung telurnya sebagai pasangannya." Jelas Arberforth dengan enggan.
"Dia datang padaku kemarin, bertanya apakah aku tau Harry atau tidak. Aku menyuruhnya datang hari ini karena kata kalian, kalian semua akan berperang. Ia berjanji akan membatalkan perang selama Harry ditemukan." Lanjutnya sambil menepuk punggungnya yang mulai terasa pegal.
"Kita lanjutkan didalam. Udara dingin ini tidak lagi cocok untuk kakek seusiaku." Keluh adik dari Albus itu sambil berjalan masuk kedalam kastil, meninggalkan para penonton yang masih cengok diluar.
.
.
.
.
.
.
Meanwhile in another world
"Lepaskan aku Lily! Aku tidak menerima kematian ini! Bagaimana aku bisa mati karena alasan menjijikkan seperti itu?!" Raung Severus kesal.
"Baiklah, hentikan itu Severus. Kita sudah mati, bagaimana kau akan hidup lagi? Kehidupan Harry terjamin." Hibur Lily yang masih menahan tubuh Severus.
"Benar Snivellus, aku yang melihat anakku di grepe-grepe saja biasa saja. Mereka bahkan akan membuatku menjadi kakek! Hahahahaha..." Tawa James dibelakang mereka, membuat emosi Severus semakin memuncak.
"Biarkan aku bangkit dari kematian! Akan kuhajar wajah bocah Riddle itu!! Lepaskan aku Lily!"
Lily mendengus jengkel pada James yang masih tertawa senang sambil terus menahan tubuh Severus yang murka.
Albus Dumbledore terkekeh ringan sambil menatap kejadian yang mereka lihat dari dunia arwah ini dengan tenang.
"Akhir yang indah." Desah Regulus puas dan tenang.
Yah, siapa yang tau berapa lama sang Dark Lord tiba-tiba jatuh cinta pada sang anak bertahan hidup itu.
"The f*ck! Aku tidak menerima ini!"
"Sudahlah Severus.."
.
.
.
End
