Disclaimer:

Gundam Seed/Destiny © Masatsugu Iwase, Yoshiyui Tomino, Hajime Yatate Sunrise

(saya hanya meminjam karakter di dalamnya)

*.*

Diam-diam Suka

Story by Viselle

*.*

"Aku bisa pulang sendiri." Cagalli berusaha menjajari langkah pria di depannya. Pria itu adalah Athrun Zala, atasan barunya di bagian pemasaran perusahaan Akatsuki, yang berkeras mengantarkannya pulang. Padahal Cagalli sudah berkata bahwa ia bisa pulang sendiri dan tidak perlu diantar.

"Aku tahu, tapi aku ingin mengantarkanmu. Sekarang sudah pukul sebelas malam, tidak aman bagi seorang gadis untuk pulang sendirian." Pria yang baru dua bulan menjadi atasan Cagalli itu tidak mau mendengarkan dan tetap berkeras mengantar Cagalli pulang.

"Aku sudah terbiasa, lagi pula di stasiun jam segini masih banyak orang." Cagalli pun tidak mau mengalah. Ia tidak ingin merepotkan atasannya, terutama karena rumah mereka berbeda arah.

"Kau ini, bisa tidak terima saja bila atasanmu ingin mengantarmu pulang."

Mereka berdua sudah sampai di bagian depan gedung kantor. Seorang sekuriti mendekat dan menyerahkan kunci pada Athrun. Setelah berterima kasih, Athrun menghampiri mobilnya.

"Ayolah, Cagalli. Tidak usah begini, kau seperti baru mengenalku saja."

Cagalli menghela napas, meskipun Athrun baru menjadi atasannya selama 2 bulan, tapi pria itu memang sudah dikenal Cagalli sejak lama. Athrun adalah sahabat saudara kembar yang baru ditemukan Cagalli saat berusia 20 tahun, Kira Yamato.

Cagalli dan Kira anak kembar yang tidak identik, akibat perceraian orangtua mereka terpisah. Cagalli diasuh oleh ibunya, kemudian setelah ibunya meninggal diasuh oleh pamannya, dan Kira yang semula diasuk ayah mereka, kemudian diasuh dititipkan ke sepasang suami istri Yamato karena ayah mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Oleh sebab itu, Cagalli dan Kira memiliki nama keluarga berbeda dan tidak pernah bertemu selama 18 tahun. Cagalli baru tahu mengenai saudara kembarnya, saat sang ayah, Uzumi Nara Athha, memberitahunya. Kemudian Cagalli mencari Kira dan saat bertemu Kira dia juga mengenal Athrun.

Sudah lebih dari lima tahun Cagalli mengenal Athrun, tapi mereka memang tidak terlalu dekat. Hanya sesekali bertemu saat Cagalli menemui Kira yang sekarang tinggal di Plant.

Cagalli cukup kaget menemukan Athrun menjadi atasannya. Sebab ia mengira pria itu akan mewarisi kerajaan bisnis sang ayah, Patrick Zala. Siapa yang tidak mengenal nama besar Patrick Zala dalam dunia bisnis. Zala Industries merupakan perusahaan manufaktur yang sangat ternama, memproduksi berbagai produk elektronik yang digunakan di bumi maupun koloni.

Cukup mengherankan menemukan putra satu-satunya Patrick Zala malah bekerja di bumi, tepatnya di negara Orb sebagai manajer bagian penjualan. Namun, Cagalli tidak pernah bertanya langsung pada Athrun mengenai alasan pria itu berada di Orb. Ia merasa dirinya tidak begitu dekat hingga bisa bertanya mengenai hal itu.

"Kenapa melamun? Ayo masuk!" Athrun menarik tangan Cagalli dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang bagian depan. "Kau mau mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang?"

Cagalli menggeleng. Meski sebenarnya ingin mampir ke supermarket untuk belanja, tapi ia memilih menundanya, sebab tidak ingin merepotkan Athrun. Walau bagaimana pun pria itu adalah atasannya.

"Berarti langsung pulang?"

Cagalli mengangguk.

Kemudian mobil sport berwarna merah yang dikemudikan Athrun melaju. Lalu lintas cukup lengang sehingga mereka bisa melaju cepat menuju gedung apartemen yang Cagalli tinggali.

Mereka berkendara dalam diam, hingga akhirnya Athrun bersuara, "Apa kau memang biasanya begini?"

"Eh?" Tatapan Cagalli yang semula mengarah ke jalanan, beralih ke pria di sebelahnya. "Maksudmu?"

"Seingatku kau itu cerewet. Kenapa sekarang jadi pendiam?" Athrun berkata sambil memerhatikan jalan. Mereka mulai memasuki area padat sehingga Athrun perlu lebih memerhatikan jalanan.

"Ah, memangnya kau ingin mengobrol?"

Athrun menghela napas. "Setidaknya, ajaklah sopirmu ini mengobrol, Nona."

"Kau bukan sopirku, tapi atasanku," sahut Cagalli.

Athrun menatap Cagalli sesaat, sebelum kembali menatap jalan. Pria itu lagi-lagi menghela napas. "Ah, aku mengerti sekarang, kau segan tidak mengajakku bicara karena menganggapku atasanmu," ujar Athrun.

Sebenarnya, bukan itu. Cagalli hanya tidak bisa menemukan bahan obrolan yang cocok. Tidak mungkin kan mereka mengobrol tentang cuaca?

"Memangnya apa lagi?" ujar Cagalli, ia benar-benar tidak bisa berkata jujur di depan Athrun. Ada rasa segan terhadap Athrun, juga ada debar aneh setiap Cagalli bersama pria itu.

Tidak seperti awal mengenal pria itu. Dulu mudah saja bagi Cagalli menganggap Athrun sebagai teman. Namun, saat melihat pria itu dua bulan lalu, ada hal yang berbeda. Terutama setelah Athrun memberikan perhatian lebih kepadanya. Bukan hanya mengantarnya pulang, Athrun juga sering mengajak makan siang bersama. Terkadang membelikan kopi dan roti kesukaan Cagalli.

Kehadiran Athrun dan semua perhatian kecil itu membuat Cagalli senang sekaligus waswas. Sebab Athrun juga memberikan perhatian yang kurang lebih sama kepada karyawan lainnya. Cagalli teringat ketika Athrun membelikannya kopi dan dilihat oleh karyawan lain, lalu Athrun juga membelikan semua orang kopi.

Cagalli merasa dirinya istimewa, tapi juga tidak istimewa. Agar tidak mengembangkan perasaan lebih atas perhatian itu, Cagalli memilih membatasi diri. Oleh sebab itu, ia seringkali menolak saat Athrun ingin mengantarnya pulang. Namun, Athrun lebih keras kepala darinya soal ini sehingga seringkali Cagalli yang mengalah.

"Kupikir, kita berteman," jawab Athrun, Cagalli mendengar nada kecewa dalam suara bariton itu. "Atau hanya aku yang berpikir demikian?"

"Kita berteman, tapi kau juga atasanku. Jadi …" Cagalli tidak bisa memilih kata yang tepat.

"Jadi?"

"Begitulah, karena kau adalah atasanku maka harus ada jarak," jawab Cagalli.

Athrun tiba-tiba menginjak rem, membuat mobil berhenti seketika dan langsung terdengar klakson dari mobil di belakang.

"Ada ap-"

"Kenapa harus ada jarak?" tanya Athrun, tatapan mata itu menghujam Cagalli. Untuk sesaat Cagalli tidak bisa bersuara, terkunci dalam tatapan mata emerald itu.

"Statusku sebagai atasanmu tidak seharusnya membuat kita berjarak," ujar Athrun. "Malah kupikir, kita bisa dekat."

Lagi terdengar klakson dari mobil belakang sehingga Athrun segera melajukan mobil, Cagalli tidak sempat memberikan jawaban. Lagi pula, ia tak tahu jawaban apa yang bisa diberikan. Otaknya tengah menelaah kata-kata Athrun. Cagalli memandangi Athrun, apa yang sebenarnya yang kau inginkan?

Athrun membelokkan mobil memasuki jalan masuk ke area gedung apartemen tempat Cagalli tinggal. Gedung berlantai 20 itu memiliki setidaknya 40 apartemen, di setiap lantai ada dua apartemen, dan Cagalli tinggal di lantai 17.

"Apa sebaiknya aku beli apartemen di sini?" gumam Athrun setelah menghentikan mobilnya. Mata pria itu memerhatikan pintu masuk apartemen dengan saksama.

"Eh? Kenapa? Apa rumahmu bermasalah?" tanya Cagalli yang mendengar gumaman itu.

"Supaya kita searah, jadi kau tidak bisa beralasan ketika akan kuantar pulang," jawab Athrun yang membuat Cagalli tidak bisa berkata-kata. "Kita juga bisa berangkat kerja bersama." Athrun terlihat semringah saat mengatakannya. "Kau mau, kan?" tanya pria itu.

Namun, tatapan Athrun meredup karena Cagalli tidak kunjung memberikan jawaban. "Maaf, sepertinya kau tidak mau. Aku saja yang terlalu bersemangat," ucap pria itu pelan.

"Bukan begitu," Cagalli segera menyanggah. "Bukannya aku tidak mau, tapi kurasa tidak pantas."

"Kenapa tidak pantas? Bukankah hal wajar jika ingin mendekat dengan orang yang disukai?"

Cagalli membeku sesaat. Ia hanya menangkap bagian kalimat, orang yang disukai. Seketika jantungnya berdegup kencang. Mungkinkah orang yang Athrun sukai itu aku?

"Aku akan mengatakannya dengan jelas, Cagalli," ujar Athrun. Pria itu menarik napas dalam, kemudian berkata, "aku menyukaimu, bukan sebagai atasan yang suka pada bawahannya karena kinerja yang bagus atau sebagai teman yang sudah mengenalmu lama. Tapi rasa suka pria kepada wanita."

"Ka-kau menyukaiku?" Cagalli masih belum bisa percaya.

"Apa masih kurang jelas aku mengatakannya?" Athrun tampak frustrasi.

"Ta-tapi …."

"Aku bahkan memperlihatkan perhatianku dengan sangat jelas. Aku selalu mengantarmu pulang, memberikan kopi, mengajakmu makan bersama, apa itu kurang jelas untukmu?"

"Tapi kau juga baik pada semua orang," sahut Cagalli, tidak mau disalahkan karena ketidakpekaannya. "Kau juga pernah mengantar Meyrin pulang dan makan siang bersamanya?"

"Kapan?" Athrun coba mengingat, tapi tidak menemukan memori pernah mengantar Meyrin pulang dengan sengaja maupun makan bersama perempuan yang bekerja di bagian IT itu.

"Minggu lalu," jawab Cagalli, "Meyrin menceritakannya dengan riang di ruang rekreasi karyawan. Dia berkata kau mengantarnya pulang saat dia harus bekerja lembur memperbaiki komputer di ruanganmu. Keesokan harinya juga kalian makan bersama."

Jika ingat bagaimana Meyrin bercerita dengan gembira mengenai hal itu, Cagalli kesal sendiri. Cemburu, itu yang dirasakannya. Dan sejak itu, Cagalli berkeras tidak ingin diantar Athrun pulang. Meski akhirnya tidak kuasa menolak saat Athrun sedikit memaksanya.

Athrun berusaha menggali memori dan menemukan fakta bahwa minggu lalu memang mengantar Meyrin pulang. Namun, karyawan bagian IT lainnya, Sai, juga bersama mereka. Lalu soal makan siang itu, Meyrin yang tiba-tiba duduk di meja Athrun, saat makan siang di kantin kantor. Padahal saat itu, Athrun sengaja makan di kantin kantor agar bisa bersama Cagalli. Hanya saja, Cagalli datang terlambat dan langsung berlalu saat melihat Athrun makan satu meja dengan Meyrin.

Alih-alih memberi penjelasan, senyum malah terbit di wajah Athrun. "Kau cemburu?"

Wajah Cagalli seketika memerah karena malu. "I-itu … bu-bukan, kita tidak sedang membahas hal itu."

"Baiklah, Cagalli, aku sudah tahu," ujar Athrun terdengar riang.

"Apa yang kau tahu?"

"Aku mengerti kau meragukanku, kau menganggap perlakuanku kepadamu tidak istimewa karena berpikir aku juga melakukan hal sama pada orang lain?"

Cagalli membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. "Kau memang begitu, kan?"

Athrun menangkup wajah Cagalli, memaksa agar tatapan mata mereka bertemu. "Kau menganggapku sebagai pria yang bisa baik pada setiap wanita? Memangnya siapa saja selain kau yang kuantar pulang dan kuajak makan bersama?"

Cagalli terdiam, selain kisah dari Meyrin, ia memang tidak mendengar ada yang diantarkan pulang atau diajak makan siang bersama Athrun.

"Untuk kasus Meyrin hanya kebetulan, aku mengantarnya karena memang sudah malam dan tidak berdua saja, ada Sai juga. Aku tidak tahu cerita apa yang kau dengar, tapi yang kuceritakan adalah kebenarannya," Athrun menjelaskan, "soal makan siang itu juga cuma kebetulan. Sebenarnya, aku menunggumu untuk makan bersama, tapi Meyrin malah duduk di mejaku."

Cagalli terdiam. Ia tidak tahu kalau kejadiannya seperti itu.

"Kau tahu, setelah kau pergi dari kantin, aku juga pergi. Aku mencarimu, tapi kau malah pergi dan makan di luar bersama temanmu."

"A-aku … maaf," ucap Cagalli.

"Jadi, kukatakan sekali lagi, Cagalli, aku menyukaimu," ucap Athrun dengan sungguh-sungguh. "Mulanya, aku suka melihatmu berinteraksi dengan Kira. Cara kau mengomelinya, cara kau mencerewetinya. Kau sangat menarik, kau begitu terus terang dan itu membuatmu terlihat manis."

Cagalli menutup mulutnya dengan tangan. Tidak menyangka kalau Athrun sudah tertarik dengannya sejak lama,

"Tapi kau terlihat lebih manis saat tersenyum, dan itu seperti candu bagiku. Aku ingin melihatnya lagi dan lagi. Makanya, aku selalu ada saat kau datang mengunjungi Kira, karena aku ingin selalu melihatmu. Lalu, kau mulai jarang datang, kata Kira kau sibuk dengan pekerjaan. Jadi, …" Athrun menggantung kalimatnya, membuat Cagalli penasaran dengan lanjutannya.

"Jadi, di sinilah aku, bekerja di perusahaan yang sama denganmu agar bisa bertemu denganmu."

"Kau bekerja di Akatsuki karena aku?" Cagalli benar-benar tidak bisa memercayai apa yang didengarnya.

Athrun tersenyum. "Apa boleh buat, sudah terlalu suka," ucap pria itu. "Ah, salah," Athrun meralat, "sudah terlalu cinta."

Cagalli benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Semua penuturan Athrun, pernyataan cinta dari pria itu membuatnya senang hingga tidak mampu berkata-kata.

"Sebenarnya, aku ingin menyatakan perasaan dengan lebih elegan. Mengajakmu makan malam romantis, tapi apa boleh buat, kalau tidak kukatakan sekarang kau bisa berpikiran macam-macam."

"Aku tidak begitu." Akhirnya Cagalli bisa mengeluarkan suara.

"Ya, kau seperti itu, tapi aku suka. Benar-benar suka padamu, Cagalli."

"Aku juga menyukaimu … Athrun."

.

.

.

Fin

Jadi, ini apa? Entahlah, mungkin satu lagi tulisan gaje saya tentang AsuCaga. Mau bagaimana lagi, kepikiran terus mau bikin cerita tentang mereka. Makanya, jadilah fanfik ini.

Terima kasih buat kalian yang sudah mampir, semoga terhibur.

Salam

.

Viselle~

Omake:

"Pekerjaanmu sudah selesai, Cagalli?"

Cagalli yang baru mematikan komputer di meja kerjanya kaget dengan kemunculan Athrun. "Bukannya kau dinas luar?" tanyanya sambil masih mencoba meredakan debar jantung yang memacu akibat kehadiran pria yang dikasihinya itu.

"Aku sengaja kembali ke kantor agar bisa mengantarmu pulang," sahut Athrun sambil membantu Cagalli merapikan meja.

"Seharusnya kau langsung pulang saja, kau pasti lelah setelah dinas luar."

Athrun menggeleng. "Lelahku hilang saat melihatmu."

Sejak malam itu, Athrun jadi terang-terangan memperlihatkan perasaan pada Cagalli. Malah sengaja memproklamirkan hubungan mereka. Untung saja di kantor mereka tidak ada larangan hubungan romantis sesama rekan kerja. Lagi pula, kalau ada aturan itu, Athrun pasti menghapusnya sebab ternyata pria itu adalah CEO Akatsuki. Akatsuki sudah resmi jadi anak perusahaan Zala Corp dan dipimpin oleh Athrun.

Keanehan Athrun yang tiba-tiba bisa jadi atasan Cagalli terjawab sudah. Itu terjadi karena saham Akatsuki sudah dibeli oleh Athrun. Jadi, sebagai pemilik Athrun bisa melakukan apa saja, termasuk meminta jabatan sebagai kepala bagian pemasaran. Namun, sekarang Athrun sudah mengambil tanggung jawabnya dengan menduduki posisi pemimpin perusahaan.

"Jadi, mau kuantar pulang, Cagalli."

"Sebenarnya, aku bisa pul-"

"Eits, tidak boleh menolak permintaan pacarmu, apalagi kita juga searah."

"Searah?"

"Apartemen nomor 17B, itu rumahku sekarang."

"Kau-" Cagalli menahan diri agar tidak mengomeli Athrun. Kekasihnya itu terlalu sembrono dalam membelanjakan uang. Membeli saham Akatsuki, lalu beli rumah di sebelahnya. Namun, jujur saja ia tersanjung Athru mau melakukan semua itu untuknya.

"Apa boleh buat, sudah terlalu cinta," ucap Athrun, dan Cagalli tidak lagi bisa berkata-kata. Jika Athrun melakukan semua itu untuknya, Cagalli tidak akan menolaknya.

.

.

.

The End

*.*

Thanks for reading~