Hari ini, Naruto merasa sedikit depresi untuk datang ke sekolah. Riuh gemuruh seiring dengan lonceng bel sekolah menelusup masuk ke setiap pasang telinga anak-anak, seiring dengan gurunya yang kini hadir dan ingin mengatakan sesuatu di depan kelas dengan seorang anak di sebelahnya.
"Hari ini Bu guru ingin mengatakan sesuatu ke kalian semua, salah satu teman kita akan meninggalkan kita mulai hari ini."
Ibu guru mengatakan itu sembari memberi gestur pada gadis kecil di sampingnya untuk menyampaikan sesuatu untuk yang terakhir kalinya.
Dengan tatapan yang sedih, seiring dengan tangannya yang terlihat gemetar ia mencoba mengucapkan beberapa kata perpisahan kepada seluruh temannya di kelas ini. Melihatnya seperti itu membuat Naruto cukup terenyuh, bersamaan dengan teman-teman lainnya yang memberikan ekspresi sedih dan terkejut ketika kata-kata perpisahan terucap dari bibir mungilnya.
"—dan aku takkan melupakan momen kebersamaan kita di kelas ini, terima kasih."
Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum akhirnya pergi dari kelas dan tak pernah kembali.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
.
.
.
.
—Paradise—
.
.
.
.
"Kau tidak perlu menangis seperti itu, Shikamaru."
"Sungguh, untuk seseorang seperti Shikamaru, ini pertama kalinya aku melihat ia menangis seperti itu."
"Doakan saja Temari sehat selalu, iya 'kan, Naru?"
Naruto mengangguk saja mendengar perkataan baik yang muncul dari Sakura; gadis kecil yang dengan surai pirangnya yang indah, seiring dengan senyum optimisnya yang coba ia tunjukkan ke Shikamaru yang tengah bersedih.
Temannya yang telah pergi adalah Temari, perempuan yang semua orang tahu jika ia memang dekat dengan Shikamaru. Sesungguhnya mereka amat mirip; selain karena mereka sama-sama mempunyai potongan rambut yang runcing, Shikamaru yang tak banyak bicara namun selalu serius cukup cocok dengan Temari dengan sifatnya pemarah namun peduli.
Amat sangat disayangkan rasanya untuk gadis sepertinya yang pindah ke sekolah lain ditahun akhir sekolah dasar seperti sekarang ini.
Sejenak, Naruto paham betul dengan apa yang dirasakan oleh Shikamaru, bukan karena rumor yang beredar bahwa Shikamaru dan Temari telah dekat sejak dua tahun lalu, bukan pula teori yang mengatakan bahwa Shikamaru dan Temari berpacaran atau semacamnya, namun karena hal lain.
Mereka memang dikenal dekat, atau bahkan teman-temannya yang lain mengira bahwa mereka pacaran, Naruto takkan menyangkal anggapan tersebut jika melihat seberapa pedulinya Temari kala Shikamaru bertindak bodoh di depan matanya, atau seberapa khawatirnya Temari saat Shikamaru terluka karena ceroboh saat bermain bola di lapangan olahraga.
Namun dari semua hal itu, sebenarnya bukan itu sebabnya.
"Tenanglah Shikamaru, masih banyak cewek lain di luar sana."
"Aku tak menyangka orang seperti Chouji yang otaknya hanya berisi makanan bisa mengatakan hal seperti itu."
"Hei, itu tidak sopan!"
Tempo hari, saat sekolah telah sepi dan Naruto terpaksa pulang sore karena ketiduran di kelas saat jam pulang telah tiba dan teman-temannya tak tega untuk membangunkannya, ada kejadian yang secara tak sengaja Naruto lihat kala ia bergegas untuk pulang ke rumah.
Ia melihat Temari tengah bersama dengan Shikamaru, di belakang sekolah, di bangku taman ketika bunga-bunga hasil dari tanaman anak-anak sekolah tengah mekar dan begitu cerah saat mentari menyinarinya.
tak banyak yang bisa Naruto lihat mengingat ia hanya melihat dari jendela dan posisi mereka berdua membelakanginya, namun Naruto dapat melihatnya dengan jelas; bagaimana ekspresi gelisah dari seorang Shikamaru yang biasanya terlihat acuh tak acuh.
Ada interaksi yang tak bisa Naruto terka seperti apa, namun dari apa yang ia lihat, Naruto merasa jika itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk didengar meski senyum Temari kepada Shikamaru terlihat begitu murni di netranya.
Namun satu hal yang Naruto ingat sampai sekarang dan terus membekas di kepalanya, hal yang membuat ia berpikir mengapa Shikamaru begitu amat bersedih dengan kepergian Temari dari sekolah adalah itu.
Naruto yakin jika itu alasan terbesarnya.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang sekolah, untuk pertama kalinya Naruto dan teman-temannya yang lain melihat Shikamaru sangat tak bersemangat, sungguh berbanding terbalik dengan apa yang terjadi seperti hari-hari kemarin.
Shikamaru adalah sosok yang akan sangat semangat saat jam pulang tiba. Dibalik wajah malasnya, berbinar sebuah asa yang tak bisa Naruto jelaskan, seolah jam pulang sekolah adalah sesuatu yang istimewa untuknya. Entahlah, Naruto tak tahu apa alasannya.
"Rumahmu berdekatan dengan Temari 'kan, Shikamaru?"
Lee mencoba memecah hening dengan melempar pertanyaan pada Shikamaru, sebagai sosok yang dikenal baik dan jujur, anak yang dikenal dengan alis tebal dan rambut berbentuk mangkok sebagai ciri khasnya, Lee cukup bersimpati dengan rasa sedihnya Shikamaru.
Tak ayal jika Lee maupun yang lain memiliki pikiran yang sama, kadang kala memang saat mereka tak bisa pulang bersama karena alasan tertentu, sering kali mereka maupun Naruto melihat Shikamaru pulang bareng dengan Temari.
—Meski sering kali momen yang mereka lihat adalah momen Shikamaru tengah diomeli oleh Temari.
"Begitulah."
"Apa kau tidak tahu kabar apapun tentang Temari ingin pindah sekolah?"
"Apa yang dikatakan Lee masuk akal untukku, masa' kau tidak tahu sama sekali, Shikamaru?"
Digempur pertanyaan beruntun seperti itu membuat Shikamaru merasa malas untuk menanggapinya, namun melihat ketertarikan serta rasa simpatik dari Lee, Chouji dan Neji membuatnya mau tak mau meladeninya.
"Aku tak diberitahu banyak olehnya, namun tempo hari ia memberitahuku jika ia ingin pergi, kupikir itu hanya candaan semata ternyata tidak."
Naruto tau, Shikamaru bukan ingin mengatakan hal itu.
Ada kebohongan disana yang Naruto rasa ada hal yang tak ingin Shikamaru perlihatkan ke teman-temannya.
"Benarkah, kapan?"
"Ayolah, apa aku tidak boleh menyimpan rahasia?"
"Heeee... sepertinya itu sesuatu yang berharga buatmu."
"Kupikir begitu."
"Bisakah kalian tidak terus mengungkit Temari? aku mencoba menghapus kesedihan ini tapi kalian terus mengungkitnya, menyebalkan."
Mereka tertawa melihat Shikamaru yang seperti itu.
.
.
.
.
"Kalau begitu, aku duluan pulang yah, Shikamaru dan Naruto!"
"Hati-hati di jalan."
Chouji melambaikan tangannya lalu pergi menuju arah jalan yang berbeda, menyisakan Shikamaru dan Naruto yang memang jalan kearah rumahnya searah.
Nuansa sore yang mereka lewati seakan membawa keheningan yang menyejukkan untuk mereka berdua, terlebih Naruto bukanlah orang yang terlalu banyak bicara namun karena itu Shikamaru, ia merasa nyaman meski dalam keheningan, toh mereka berdua memang berteman sejak kecil, jauh lebih kecil dari yang sekarang.
Dari yang Naruto ingat, Shikamaru memang tidak banyak berubah dari apa yang dulu ia ingat sebelum masa-masa sekolah tiba. Wajah pemalasnya, otak cerdasnya, caranya menyelesaikan sesuatu dengan pilihan yang tak terduga, semua hal yang Naruto ketahui tentang Shikamaru membuktikan bahwa sebenarnya Shikamaru adalah anak yang pintar.
Naruto berpikir bahwa anak yang pintar adalah anak yang pintar dalam segala hal, namun dengan kejadian yang menimpa Shikamaru hari ini, Naruto mengetahui satu hal; Shikamaru tidak terlalu pintar untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Sial, aku masih tak bisa menghilangkan bayangannya dari kepalaku."
"—Bagaimana kalau kita istirahat sebentar, Naruto?"
Naruto pun mengangguk sebagai balasan.
Mereka memilih untuk beristirahat di bangku pinggir jalan, menikmati dinginnya soda kaleng yang mereka beli dari vending machine yang tersebar di penjuru kota.
Menikmati suasana sore yang suram, menilik cahaya emas mentari yang menelusup masuk dari rimbunnya pohon, seiring dengan bunyi dari suasana kota yang memberi kesan tertentu untuk siapapun yang mempunyai mood yang berbeda; khususnya Shikamaru, itu terasa sangat hampa.
"Kau tahu Naruto, sejak ia pergi seakan semangatku menghilang separuhnya."
Naruto tak menyangka jika Shikamaru bisa sepuitis ini, cukup lucu untuk mendengar dari seseorang seperti Shikamaru, memaksanya untuk mengulum senyumnya.
"Aku sebenarnya belum siap untuk menerima bahwa ia akan pergi. Aku merasa bahwa masih banyak waktu yang ingin kuhabiskan bersamanya, atau setidaknya ia boleh pergi meninggalkanku setelah kelulusan."
"—toh tahun depan kita lulus 'kan?"
Naruto setuju dengan apa yang Shikamaru katakan. Sebagai teman dari teman, Naruto menganggap bahwa hari ini bukan waktu yang tepat untuk pindah sekolah, namun jika mengingat apa yang dikatakan Temari saat ucapan perpisahan di kelas tadi, itu semua terasa masuk akal meski Shikamaru tak menerimanya.
Karena pekerjaan orang tuanya Temari, membuat Temari mau tak mau ikut kedua orang tuanya untuk pindah ke luar kota yang entah Naruto lupa apa namanya, Naruto tak terlalu pandai untuk mengingat nama.
Karena ini pengalaman pertamanya kehilangan teman, membuatnya cukup merasa depresi, Temari adalah teman yang cukup menyenangkan meskipun kadang sifat kasarnya lebih mengerikan dari Sakura. Setidaknyda dari pengalaman itu, Naruto mampu memahami perasaan yang Shikamaru rasakan.
Namun ada satu hal yang kurang Naruto pahami...
.
.
.
.
"Kau menyukainya 'kan, Shika?"
"Maafkan aku, aku tak sengaja melihat Temari menciummu, di belakang sekolah tempo hari."
"Kupikir itu adalah sesuatu yang berharga buatmu yang belum bisa kau balas padanya, mungkin itu yang membuatmu menangis."
.
.
.
.
Terakhir yang Naruto ingat kala ia menyukai lawan jenis untuk yang pertama kali, itu adalah Sakura. Mungkin itu hanyalah sekadar cinta monyet di sekolah hanya karena mereka sering menghabiskan waktu bersama di sekolah, namun harus Naruto akui, perasaannya saat hatinya berdegup kencang adalah hal yang nyata.
Namun ironi, Sakura menyukai anak yang bernama Sasuke dari kelas sebelah, membuat Naruto memaksa untuk mengubur perasaannya. Mengungkapkan perasaannya hanya akan menghancurkan hubungannya dengan Sakura, maka dari itu ia merasa menjadi temannya Sakura sudah lebih dari cukup.
Dalam hal ini; Shikamaru adalah contoh yang berbeda.
Apa yang dialami Shikamaru adalah contoh yang hampir sempurna jika dibandingkan dengan apa yang Naruto alami. Naruto tahu jika Shikamaru menyukai Temari, begitupun Temari yang menyukai Shikamaru apa adanya, melihat cara mereka menghabiskan waktu bersama saja membuat Naruto berani mengambil kesimpulan seperti itu, namun dari apa yang bisa Naruto analisa, alasan terbesar mengapa Shikamaru menangis adalah itu.
Temari menyatakan perasaannya saat ia ingin pergi meninggalkan Shikamaru, disaat Shikamaru tengah dilanda dilema dalam kenyataan bahwa ia hingga saat ini belum bisa membalas perasaannya dan tak ingin Temari pergi.
"Naruto..."
"—Kau memang serba tahu ya."
Elusan tangan yang lembut pada punggung Shikamaru menjadi tanda bahwa sore hari ini menjadi sore yang cukup suram untuk mereka berdua.
.
.
.
.
Dari Shikamaru, Naruto belajar bahwa kehilangan seseorang yang dicintai ternyata cukup menyakitkan. Siapa yang menyangka jika Shikamaru yang terkenal dengan wajah malasnya bisa menunjukkan raut muka yang suram seperti itu.
Berdasarkan pengalamannya, mungkin itu tidak terlalu menyakitkan seperti apa yang dirasakan oleh Shikamaru. Sungguh, jika ia mengingat kembali kala Sakura mengatakan padanya bahwa ia menyukai cowok yang bernama Sasuke dari kelas sebelah—di depan matanya—itu terasa cukup membuatnya terpuruk.
Ada hal yang ia tak mengerti. bagaimana bisa seseorang bisa menyukai orang lain yang bahkan ia jarang berinteraksi dengannya daripada orang yang selama ini selalu ada untuknya?
Naruto akui bahwa anak kelas sebelah yang namanya Sasuke itu lumayan cakep, sifat dingin dan cueknya yang mempunyai daya tarik tersendiri dari semua kalangan perempuan di sekolahnya, kepintarannya yang rumornya berada di urutan kedua di sekolah membuatnya menjadi idaman para gadis di sekolah.
Naruto tertawa lesu mengingatnya. Siapa yang menyangka jika cinta pertamanya berakhir dengan tragis. Membandingkan dirinya dengan cowok seperti itu hanya akan membuatnya depresi.
[Kebakaran di salah satu pemukiman kota Tokyo menelan dua rumah hingga hangus terbakar, beruntungnya tak ada korban jiwa.]
"Katakan pada Ibumu Naruto, jangan sampai kecerobohannya itu membuat kita menjadi orang yang malang seperti di berita di televisi itu."
Dahulu, Naruto pernah bermimpi untuk menjadi seorang pemadam kebakaran. Ia ingat saat ia mengatakan itu kepada teman-temannya yang lain, mereka menertawainya. Sungguh, saat itu ia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang salah dengan menjadi pemadam kebakaran?
Ia mungkin tak banyak tahu hal-hal tentang pemadam kebakaran atau hal-hal lainnya, namun berdasarkan pengalamannya saat ia melihat kejadian kebakaran di dekat rumahnya, melihat bagaimana pasukan pemadam kebakaran begitu heroik di matanya membuatnya bermimpi untuk bisa menjadi seperti mereka.
Menolong orang tanpa pamrih, memberi keselamatan pada mereka yang ditimpa musibah, lalu dilupakan seolah mereka sosok pahlawan tanpa tanda jasa.
Terdengar konyol namun Naruto cukup menyukainya.
"Bisakah kau tidak mengatakan hal bohong didepan Naruto? itu membuatku kesal, tahu!"
"Bohong? lalu siapa yang kemarin lupa mematikan kompor di dapur jika bukan kau. Api kompor yang menyala sedangkan kau tengah asik menonton televisi membuatku kesal jika mengingatnya lagi. Bagaimana jika api dari kompor itu membesar dan membakar rumah ini?!"
"BISAKAH KAU TIDAK MEMBAHAS HAL KECIL YANG DIBESAR-BESARKAN? ITU MEMBUATKU MUAK!"
"SEJAK KAPAN KAU BERANI BERTERIAK SEPERTI ITU DI DEPANKU?!"
"SEJAK KAU SELALU MENCARI MASALAH DENGANKU, ITU MEMBUATKU JENGKEL MENDENGAR OCEHAN TAK BERGUNA DARIMU!"
"KAU!"
Adalah hal yang biasa melihat kedua orang tuanya bertengkar karena hal kecil, hari ini ia bersyukur tak ada barang atau apapun yang melayang yang kadang kala hampir mengenai kepalanya.
Naruto tak mengerti permasalahan orang dewasa, namun dari apa yang ia lihat, hal kecil mampu membuat kejadian menyeramkan seperti sekarang; Ayahnya yang tengah memegang kaleng bir dengan niat untuk melemparkan benda itu kearah Ibunya.
Naruto tak mengerti, sejujurnya, ia takut melihat itu, namun ia tak bisa melakukan apa-apa selain diam dan pergi ke kamarnya di lantai dua.
Naruto kesepian di kamarnya, Ibu dan Ayahnya lebih memilih untuk bertengkar karena hal yang ia 'pun sebenarnya sama sekali tidak peduli. Entahlah, apa itu menyenangkan untuk mereka hingga berulang kali Naruto melihatnya daripada menghabiskan waktu mereka bersamanya.
Maka dari itu, Naruto memilih untuk berbaring di kasurnya, memejamkan matanya lalu mengharapkan ada sosok yang mau menemaninya.
Maka munculah sosok rubah oranye di depannya, sosok teman imajiner yang selama ini menemaninya kala orang tuanya tak punya waktu untuknya, yang ia namakan dengan Kurama.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Naruto?"
"Apa ada satu cara agar Ayah dan Ibu tidak bertengkar lagi?"
"Ayolah, ini sudah yang kesekian kalinya kau mengatakan itu dan sudah berulang kali aku memberikan jawabannya, namun tetap saja tak ada yang berubah. sebaiknya kau menanyakan hal yang lain."
"Apa menjadi dewasa itu menyenangkan? melihat kedua orang tuaku kurasa itu akan menjadi hal yang buruk."
"Pada akhirnya kau akan menjadi dewasa suatu saat nanti Naruto. Kau tinggal memilih antara pilihan yang baik atau pilihan yang buruk, pilihan yang baik akan menjadikanmu seorang Naruto yang mungkin takkan pernah kau duga sebelumnya, namun jika kau mengambil pilihan yang buruk, aku jamin kau tak ubahnya seperti orang tuamu."
Naruto tak begitu mengerti apa yang dimaksud rubah oranye itu dengan mengatakan ia akan menjadi Naruto yang tak pernah ia duga. kalimat itu terasa sulit untuk dicerna seorang anak sekolah dasar sepertinya.
"Naruto, apa aku membangunkanmu?"
Naruto terbangun saat suara Ayahnya menelusup masuk ke telinganya. Itu adalah Ayahnya yang kini masuk ke kamarnya sambil membawa melonpan di tangannya.
Ia memang tidak terlalu dekat dengan Ayahnya, sapaan dan pertanyaan seputar sekolah yang Ayahnya lempar saat ia pulang ke rumah sudah lebih dari cukup untuknya. Ia lebih sering melihat Ayahnya menonton televisi, bertengkar dengan Ibunya, atau melakukan sesuatu bersama Ibunya di kamar yang kadang kala diiringi dengan jeritan yang Naruto sama sekali tak tahu apa yang mereka lakukan.
"Kita jarang mengobrol, kau tahu. Aku membawakan ini untuk bisa kita makan bersama."
"..."
"Ngomong-ngomong, bagaimana sekolah, apa teman-teman dan pengalamanmu di sekolah begitu menyenangkan?"
"..."
"Ayah memang terlalu sibuk dengan pekerjaan, meski Ayah pulang lebih cepat namun penat di kepala Ayah memaksa Ayah untuk beristirahat sambil menonton televisi, merilekskan diri setelah dihajar oleh beban pekerjaan itu menyenangkan kau tahu?"
"..."
"Maafkan Ayah jika selama ini Ayah selalu bertengkar dengan Ibumu di depanmu. Ayah tahu jika itu bukan hal yang pantas untuk Ayah perlihatkan, namun semuanya terjadi begitu saja. Maafkan Ayah, ya?"
"..."
"Kamu memang benar-benar anak Ayah. Kita memang jarang berinteraksi tapi kamu harus tahu bahwa Ayah bangga denganmu, Naruto."
Mungkin untuk yang pertama kalinya, Ayahnya berani berbicara empat mata dengannya. Sejauh yang Naruto ingat ya hanya saat ini, ia tidak bisa mengingat lebih jauh karena ingatannya tentang rumah hanya dipenuhi dengan ocehan dan pertengkaran Ayah dan Ibunya.
.
.
.
.
.
Pagi hari 'pun tiba.
Tak biasanya Naruto terbangun dengan gorden jendela yang masih tertutup yang membuat kamarnya masih cukup gelap. ia meringis kala netranya belum siap untuk menangkap cahaya matahari saat jemarinya menarik gorden jendela dan berkas-berkas cahaya masuk melewati jendela.
Ia merasa ada hal yang berbeda hari ini.
—lalu ketika ia turun menuju lantai satu, seketika tubuhnya terdiam membisu melihat apa yang kini bisa ia tangkap dengan pandangan matanya; ruangan yang berantakan, kursi yang terbalik, kompor yang jatuh dari dapur, keran wastafel yang terus mengalir, serta perabotan rumah yang berserakan di lantai terlihat begitu acak-acakan.
Di depannya, Ayahnya tengah berdiri terdiam dan di Ibunya terlihat tak sadarkan diri di lantai rumah dengan dahi yang mengeluarkan darah.
"Naruto."
"..."
"Ibu baru saja terpeleset di tangga dari lantai dua."
"..."
"Aku mengatakan yang sejujurnya padamu."
"..."
"Kau percaya padaku 'kan, Naruto?!"
.
.
.
.
.
[To Be Continued]
