"Salam kenal, Gremory!"

"Namamu unik tahu."

"Apakah kamu anak blasteran? aku tak pernah sebelumnya mendengar nama Gremory di Jepang."

Netranya tertuju pada sosok perempuan yang tengah duduk di bangkunya, dikelilingi dan diserbu dengan pertanyaan membuat senyum tipis terbingkai di wajah Naruto, setidaknya apa yang kini ia lihat membuat hatinya sedikit senang.

Siapa yang menyangka jika anak seumurannya yang kemarin ia temui di kantor polisi kini bersekolah di satu kelas yang sama dengannya?

Mendengar perkenalan Rias di depan kelas membuat segudang pertanyaan muncul di kepala Naruto, semacam; sebelumnya Rias bersekolah dimana? kenapa ia pindah sekolah? apa semua itu ada hubungannya dengan alasan mengapa ia ke kantor polisi kemarin?

Naruto memendam semua pertanyaan itu di kepalanya, mengungkapkannya sekarang adalah hal yang sama sekali tidak tepat jika melihat apa yang kini Rias tengah hadapi.

Ia ingin tahu lebih banyak tentang Rias, melihat Rias yang kemarin adalah hal yang baru untuknya. Rasanya ia belum pernah melihat anak seumurannya yang punya trauma yang kurang lebih mirip dengannya.

"Apa kau berpikir hal yang sama denganku, Naru?"

"...?"

"pertanyaan tadi membuatku penasaran, mungkin saja teman baru kita punya darah orang eropa."

"Kau lebih baik mendatanginya dan tanyakan langsung padanya daripada kau berpikir seperti itu, Chouji."

"Aku ingin berkenalan dengannya tapi melihat yang lain begitu antusias seperti itu, membuatku malas, Shikamaru."

Pertanyaan yang kian muncul memang terasa biasa untuk Naruto, hanya pertanyaan tentang data diri Rias saja yang tidak terlalu menarik untuk Naruto, mengingat apa yang terjadi kemarin membuat Naruto merasa ia lebih tahu daripada yang lain.

Mengerikan rasanya saat anak-anak yang lain hanya tahu Rias tentangnya sedangkan Naruto tahu tentang masalah dan traumanya seperti apa.

"Aku harap dia tidak seperti cewek yang lainnya yang hanya menyukai Sasuke si pangeran kelas sebelah itu. bagaimana menurutmu, Shikamaru?"

"Dengarkan aku, Chouji, bagaimana kau bisa masuk ke hatinya jika fisik dan penampilanmu saja tidak masuk akal baginya."

"Itu menyakitkan tahu, Shikamaru."

—lalu mereka semua tertawa mendengarnya.


.

.

.

.

.


Chapter Three


.

.

.

.

.


Jam istirahat sekolah 'pun tiba, seketika para murid di kelas berhamburan keluar, melakukan apa Naruto tak tahu, ia hanya akan melakukan rutinitasnya seperti biasanya.

Naruto bukan tipe orang yang akan berinisiatif untuk memberi ide tentang hal apa yang menarik untuk dilakukan di jam istirahat sekolah. Biasanya, ia hanya akan mengikuti apa yang Shikamaru, Chouji, dan Lee lakukan, entah itu berteduh di bawah pohon pinggir lapangan sekolah, mengantri untuk membeli makan di kantin atau apapun ia hanya akan mengikuti mereka.

Setidaknya, ia tidak ingin pilihannya menjadi pilihan yang salah di mata mereka, meski Naruto tahu sebenarnya pilihan apapun akan mereka setujui.

Di tahun terakhir ini, Naruto merasa jika waktu yang mereka lakukan bersama seakan menjadi waktu yang membuatnya tak ingin cepat usai. Bagaimana tidak, setelah libur musim panas nanti, mereka hanya akan fokus dengan ujian lalu tak lama kemudian kelulusan pun tiba.

Seketika Naruto berpikir, apa boleh murid seperti Rias bisa bergabung di sekolah di tahun akhir seperti ini?

"Anu, apa aku boleh bergabung dengan kalian?"

"Eh?"

Ungkapan itu seketika membuat mereka memalingkan wajah menuju sumber suara, mendapati Rias dengan senyum sapanya yang terlihat begitu ramah untuk siapapun yang melihat, terlebih bagi Chouji, seakan itu menjadi hari yang indah untuknya; siapa yang menyangka jika perempuan yang ia tertarik untuk mengenalnya malah melakukan hal yang sebaliknya.

Jam istirahat kali ini mereka hanya menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah, berterima kasihlah pada Chouji sehingga stok makanan semacam roti yakisoba, melonpan, minuman kaleng dan berbagai makanan lainnya membuat mereka semakin betah berlama-lama di sana.

Kehadiran Rias membuat mereka semua cukup terkejut, apalagi Chouji, pasalnya mereka merasa aneh melihat seorang perempuan lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya bersama mereka yang notabene merupakan sekumpulan anak laki-laki.

"Gremory, apa kau sakit?"

"Maksudmu?"

"Untuk pertama kalinya aku melihat seorang cewek lebih memilih bersama sekumpulan cowok seperti kami ketimbang menghabiskan waktu bersama cewek-cewek lain."

Apa yang dikatakan Shikamaru memang masuk akal untuk Naruto, dirinya berpikir memang lebih masuk akal jika Rias menghabiskan waktunya dengan perempuan yang lain, akan lebih menyenangkan untuk menghabiskan waktumu dengan anak-anak yang penasaran denganmu ketimbang menghabiskan waktu dengan sekumpulan anak laki-laki pemalas seperti Shikamaru dan yang lainnya.

Entahlah, Naruto tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Rias.

"Kenapa kau seperti itu, jika itu yang dia mau ya tidak masalah buatku. Gremory, jika kau mau kau boleh mengambilnya."

Chouji mengatakan itu sambil mencoba memberi melonpan hangat yang masih dibungkus plastik, namun Rias menolaknya dengan halus.

"Kau boleh saja menyukainya, Chouji, tapi aku tak ingin dia di-cap aneh-aneh hanya karena ia menghabiskan waktu bersama kita, bahkan di hari pertama sekolahnya."

"Tapi—"

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, Nara. Aku hanya lelah terus mendapati pertanyaan, aku ingin istirahat sebentar disini, kebetulan disini ada kalian, maka kupikir tak masalah jika aku ikut bergabung."

"Kalau begitu terserah."

"Menyenangkan rasanya melihat Shikamaru mengatakan terserah seperti yang biasa ia lakukan dan kali ini bahkan kepada perempuan seperti Gremory, padahal kemarin-kemarin dia menangis setelah ditinggal Temari."

"Kau lebih baik diam, Lee."

Mereka tertawa sesudahnya.

Pada akhirnya Rias bergabung dengan mereka, menikmati waktu istirahat di atap sekolah yang sunyi sepi. Naruto sesekali memandanginya, melihat bagaimana Rias pada akhirnya menyerah untuk menerima melonpan dari Chouji membuatnya tersenyum.

Hadirnya Rias membuat yang lain ingin menanyakan hal-hal tentang Rias, seperti Chouji yang bertanya tentang namanya. keadaan di kelas membuat Chouji sungkan untuk bertanya langsung padanya.

"Namaku? Agak malu mengatakannya, Ayahku adalah orang luar negeri sedangkan Ibuku adalah orang Jepang asli. Kurasa Gremory diambil dari bahasa tempat Ayahku berasal."

"Tapi kau bisa berbicara dengan lancar, itu menakjubkan."

"Terima kasih, Akimichi. Itu karena aku kelahiran Jepang dan Ayahku bisa berbicara bahasa jepang, jarang mendengarnya menggunakan bahasa daerahnya meski aksennya masih terasa."

"Apa Ayahmu bekerja di sini?"

"..."

Sejenak, Rias terdiam saat Lee memberi pertanyaan seperti itu.

Naruto yang mengerti apa yang dimaksud dengan Rias membuatnya terdiam. Mendengar cerita Rias kemarin membuatnya cukup terkejut dengan cara Rias memperkenalkan Ayahnya dengan baik di depan Shikamaru, Chouji dan Lee seakan berbanding terbalik dengan bagaimana cara Rias membenci Ayahnya di depan Naruto.

Sedikit banyak Naruto bisa melihat Rias melirik ke arahnya, lalu tak lama kemudian memejamkan matanya. Entah apa yang dimaksud Rias, ia sama sekali tak mengerti.

"Ayahku telah meninggal dunia setahun yang lalu, aku hanya tinggal dengan Ibuku sekarang."

"Ah, maafkan aku."

Di depan mata Naruto, untuk pertama kalinya Rias berbohong padanya, dengan senyum palsu yang hanya Naruto yang menyadarinya.


.

.

.

.

.


Naruto sedikit mengerti mengapa Rias berbohong di depan matanya. Bagaimana bibir tipis itu melengkung saat mengatakan bahwa Ayahnya telah tiada membuat Naruto bergidik ngeri kala ia mengingat bagaimana cara Rias memberitahu Ayahnya dengan nada dingin kemarin hari.

Naruto menduga, mungkin saja ia ingin menjaga namanya, atau ia tidak ingin menjadi bahan bully-an anak-anak lain hanya karena mendapat fakta tentang Ayah Rias yang seorang kriminal dan kini tengah di penjara, mungkin saja, atau setidaknya itulah dugaan Naruto untuk saat ini.

Karena menurutnya, terasa berlebihan untuk mengatakan seseorang telah mati meski nyatanya orangnya masih hidup. Mendengar apa yang dikatakan Rias di jam istirahat tadi, Naruto bertanya seberapa besar kebenciannya terhadap Ayahnya, apa memang sebesar itu hingga ia menganggap Ayahnya telah mati?

Trauma macam apa yang Rias pernah alami membuat Naruto semakin ingin tahu tentangnya.

"Anu..."

"Ada apa, Gremory?"

"Ada yang ingin kusampaikan pada Naru, berdua saja."

Naruto, Chouji, Shikamaru dan Lee seketika berhenti saat tengah meninggalkan kelas yang telah sepi saat tiba-tiba Rias mengatakan sesuatu pada mereka, khususnya Naruto. Mereka tak sadar jika Rias masih berada di kelas saat mereka yakin bahwa hanya mereka yang tersisa di kelas dan yang lainnya telah pergi meninggalkan kelas di jam pulang sekolah.

Khususnya Chouji, dia merasa sedikit cemburu saat Rias memanggil Naruto dengan nama 'Naru' disaat ia mengingat Rias lebih memilih memanggilnya dengan nama marganya.

"Apa aku boleh ikut?"

"Aku hanya ingin berdua saja dengan Naru, maafkan aku Akimichi, dan satu lagi—"

"—tolong jangan mengintip."

Seketika Naruto menggaruk kepala belakangnya dengan senyum grogi saat Chouji menatapnya dengan iri, diikuti dengan Shikamaru dan Lee yang menyetujui apa yang dikatakan Rias lalu pergi sembari menarik Chouji yang seakan tak suka melihat Naruto bersama Rias.

Ada rasa tidak enak di hatinya, Naruto tahu jika Chouji memang memiliki rasa ketertarikan terhadap Rias, itu terlihat jelas bagaimana Chouji bersikap baik pada Rias, atau ketika Chouji menatap Rias dengan seksama, Naruto yakin jika apa yang dikatakan Rias barusan cukup membuat hati Chouji patah hati dan berpikir tentang hal yang tidak-tidak.

"Kau harus menjelaskannya kepadaku besok, Naruto!"

Naruto bergidik ngeri melihat Chouji berteriak kepadanya saat pada akhirnya ia pergi bersama yang lainnya.


.

.

.


Sudah satu jam berlalu, mentari kian tenggelam ke arah barat saat cahayanya sesekali menelusup masuk ke celah-celah gorden jendela yang menari, bersamaan dengan hembusan angin yang kian terasa mendingin.

Naruto masih tak mengerti apa yang diinginkan Rias. Ini sudah satu jam terlewati dan Rias hanya berdiri terdiam di hadapan jendela kelas menatap pemandangan dalam diam, sedangkan dirinya hanya bisa berdiri mempertanyakan urusannya dengan Rias dalam hati.

Naruto bukan tipe orang yang pandai untuk membuka sebuah obrolan, apalagi disaat momen seperti ini yang hanya berdua dengan orang lain, khususnya adalah Rias, perempuan yang kemarin ada di dalam doanya. Naruto biasanya hanya mengikuti arus, atau sesekali mencoba masuk disaat yang tepat, karena itulah ia berteman dengan Shikamaru, Chouji dan Lee.

Di saat yang sama, ia tak mengerti mengapa Rias mampu bertahan di situasi yang seperti ini. Mereka hanya berdua di kelas ini, suara anak-anak lain yang masih mempunyai urusan dengan sekolah terdengar semakin nyaris memudar, bahkan ia yakin jika guru-gurunya sudah pulang ke rumah masing-masing.

Hanya mereka berdua di kelas ini tanpa ada siapapun.

"Kamu pendiam ya, Naru. Apa kamu menjaga sikapmu di hadapan teman-temanmu karena telah kenal denganku sebelumnya?"

Rias mengatakan itu saat jemarinya perlahan menutup gorden jendela, memaksa cahaya mentari tak lagi menelusup masuk melalui celah-celahnya.

Rias membalikkan badannya, menemukan Naruto yang tengah berdiri tepat di depan pintu kelas yang tertutup. Sejenak, Naruto menangkap cara Rias menatap, Naruto merasa deja vu, pandangannya persis seperti saat di kantor polisi kemarin; terasa begitu kosong tanpa isi.

Ada apa dengan Rias?

"Rasanya kebetulan sekali aku akhirnya bisa bertemu denganmu di sini. Kupikir kantor polisi adalah terakhir kali aku melihatmu."

"...?"

"Tidak, aku tidak membencimu. Malah aku bersyukur akhirnya bisa bertemu denganmu lagi—"

"—karena aku tak pernah punya teman yang memiliki trauma yang hampir sama denganku sebelumnya."

Naruto bergeming ketika Rias mendekatinya, terasa hangat saat jemari Rias mengapit di lengannya, mengajaknya untuk duduk di kursi dan saling berhadapan seolah mereka ingin memulai sebuah obrolan penting, Naruto 'pun tak bisa berbuat banyak dan menuruti saja apa yang diinginkan Rias.

Seketika Naruto mematung saat kedua tangan Rias menyentuh pipinya, didapatinya senyum tipis menampilkan gigi putih Rias yang seolah membuat dunianya terdiam. Sungguh, Naruto tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Rias terlalu dekat!

"Aku akan menceritakan sesuatu padamu, Naru."

"...?"

"Iya, aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan sebenarnya."

"..."

"Kamu tahu, kamu berharga untukku, aku awalnya sedih ketika aku kemungkinan tak bisa bertemu denganmu lagi, tapi aku senang sekali melihatmu ada di sekolah yang sama denganku sekarang."

"...?"

"Tanyakan semua yang kamu mau, aku akan menjawabnya sekarang."

"...?"

"Kenapa aku pindah sekolah? mungkin karena Ayahku yang biadab itu—"

"—kau tahu, di sekolahku yang sebelumnya, rumor tentang aku yang dilecehkan olehnya tersebar luas di sekolah, hingga membuatku di-bully dan mendapat banyak hinaan. Sungguh, mengingatnya sekali lagi benar-benar membuatku muak."

"..."

"Tak apa, meskipun aku harus mengingatnya lagi, aku rela karena kamu yangg bertanya."

"Satu sekolahan bahkan tahu tentang kejadian itu, entah siapa yang menyebarkannya pertama kali hingga membuatku di-cap sebagai anak kriminal atau apapun itu, kejadian itu membuatku semakin dendam pada Ayahku."

"Bahkan salah satu teman akrabku kini berpaling dariku, aku paham alasannya karena dia tidak ingin di-bully sepertiku hanya karena dia dekat denganku, tapi sungguh, rasanya sakit sekali melihat temanmu mengacuhkanmu."

"—kamu tidak akan mengacuhkanku 'kan, Naru?"

Naruto menggelengkan kepalanya, membingkai senyum hangat di wajah Rias.

"Awalnya aku mampu bertahan dengan semua itu, hingga suatu hari aku sadar jika aku sudah tidak punya tempat lagi disana—"

"—bangku milikku di kelas dirusak dan dicoret, sepatuku di loker sering kali hilang sebelah, buku catatanku yang bahkan sering kutemukan telah disobek dan berada di dalam tasku, dan para cowok yang sering kali memaksa untuk menyentuhku, dan yang lebih parah lagi guru-guru tidak ada yang bisa membantuku."

"...?"

"Iya, aku menyerah dengan semua itu, memaksaku untuk berdebat dengan Ibuku agar aku bisa pindah ke sekolah lain apapun alasannya, meski awalnya ia tak menyetujuinya namun pada akhirnya dia setuju aku pindah sekolah, kamu mau tahu alasannya kenapa?"

"...?"

Sejenak Rias terdiam tak menjawab pertanyaan Naruto. Perlahan jemari Rias menarik kerah bajunya mencoba menunjukkan apa yang ingin ia perlihatkan kepada Naruto, lalu kemudian tersenyum sinis.

"Aku mencoba bunuh diri."

Naruto membelalakkan matanya saat netranya tertuju pada apa yang ada di tubuh Rias; ada bekas luka tipis yang mengering di leher Rias, tidak begitu dalam namun bekas lukanya dapat Naruto lihat dengan jelas.

Seketika Naruto mengerti apa yang dikatakan Rias kemarin di kantor polisi tentang bunuh diri, ia sama sekali tak menyangka jika Rias memang hampir pernah melakukannya karena satu alasan yang begitu kuat; ia ingin meninggalkan penderitaanya.

Tak bisa Naruto bayangkan jika Naruto berada di posisi Rias, melihat orang tuanya sering bertengkar saja hingga berujung tragedi membuatnya cukup merasa trauma, dan itu sama sekali tak sebanding dengan apa yang dialami oleh Rias.

Dirinya merasa penderitaannya tidak sebanding dengan Rias, seketika Naruto bergidik merinding membayangkan latar belakang mengapa bekas luka di leher itu bisa terjadi.

"Lalu tiga bulan kemudian, akhirnya aku bisa bersekolah disini dan bertemu kamu, Naru."

"..."

"Aku percaya padamu, karena itulah aku menceritakannya padamu."

"Oh iya, ada satu hal lagi—"

Seketika Naruto terkejut saat Rias mendorongnya hingga terjatuh, merasa sedikit meringis saat tubuhnya terbaring di lantai karena Rias melakukannya dengan begitu cepat.

Tak lama kemudian, Naruto kembali dibuat terkejut dengan apa yang kini Rias lakukan terhadapnya; Rias menindihnya, mendudukinya tepat di bagian perut seakan mengisyaratkan bahwa Rias yang memegang kendali terhadapnya.

"Karena kamu memegang rahasiaku, maka aku takkan melepaskanmu begitu saja."

Naruto merasa seakan pikirannya ingin meledak saat Rias memperlakukannya diluar yang ia duga. Sungguh, ia tak pernah berpikir jika Rias punya sisi lain yang seperti ini, ia tak pernah menduga sama sekali.

Senyum misteriusnya membuat Naruto tak berkutik, yang ia lakukan hanya pasrah pada apa yang ingin Rias lakukan terhadapnya, kedua lengannya yang mencoba mendorong Rias untuk menjauh seakan melemas begitu saja tanpa ada perlawanan saat Rias menatapnya; Naruto tak bisa melakukan apapun.

Seiring dengan hari yang mulai gelap, disaat pintu kelas tertutup rapat dengan keadaan yang sunyi sepi, hanya diiringi dengan hembus angin yang sesekali memaksa masuk ke celah jendela bersamaan dengan berkas cahaya yang samar-samar melaluinya, Naruto membelalakkan matanya pada apa yang terjadi.

Naruto belum siap untuk menerimanya saat Rias secara tiba-tiba mencium bibirnya, melakukannya dengan begitu erotis saat ia merasakan liurnya saling bertukar satu sama lain kala mulutnya merasakan dominasi dari lidahnya Rias. Naruto tak bisa berkutik, ia sama sekali tak siap untuk menerima ini.

Hatinya berdetak dengan sangat kencang saat tangannya diraih Rias, diarahkannya untuk menyentuh dada Rias yang mungil yang Naruto sama sekali tak mengerti apa maksudnya ia melakukan itu. Naruto tak pernah melakukan ini sebelumnya, sensasi empuk di tangannya adalah pengalaman yang barunya, membuat pikirannya bertengkar hebat antara logika baiknya melawan nafsunya yang dipaksa Rias untuk terus membara.

Ketika Naruto mulai terbawa dengan suasana dan akal sehatnya mulai termakan oleh hawa nafsunya, Rias segera melepas ciumannya, memberi tatapan serius dengan senyum yang terlihat begitu misterius di matanya.

"Naru, kamu tahu—"

"—beginilah apa yang dilakukan Ayah kepadaku hingga membuatnya berakhir di penjara."

"...?!"

"Kamu tidak akan mengkhianatiku 'kan Naru? Rahasiaku bersamamu."

"—karena aku bisa melakukan apapun yang berdampak kepadamu setelah kamu melecehkanku seperti ini."

"...?!"

"Sekali saja kamu mengkhianatiku, dan membuatku kembali seperti neraka itu—"

"—akan kubuat kamu sengsara, Naru."

"...?!"


.

.

.

.

.

.

.

.


[ To Be Continued ]


.

.

.


Author Note : Rating cerita ini mulai naik setelah chapter yang ketiga ini dirilis. Sesuai dengan genre cerita, saya harap pembaca bisa menyesuaikan dan memaklumi adegan yang berbau dengan seksualitas dan hal-hal dewasa lainnya karena saya menjamin chapter yang akan datang mungkin akan ada lagi yang tentu tujuannya untuk kepentingan cerita dan tidak sekedar Plot What Plot?

Sekian dari saya, terima kasih telah membaca!