Sorry guys, ketika WB menyerang itu... Wa hanya bisa mandang kosong lembar putih di laptop dan ngetuk ngetuk pena di kertas :")
*
I hope we can meet. Even in dreams. I would be very grateful for that, my love.
*
MACUSA office,
Magic Departement
"Yah, aku tidak peduli jika kalian kemari, dengan berani membuat keributan di kantor MACUSA terlebih dikantorku, selama kalian mau bicara baik-baik padaku. Namun, BERHENTI MEMPERHATIKAN ISTRIKU!"
Syung~
Bletak!
Auukh!
Papan nama kaca melayang mengenai salah satu kepala death eaters.
Theseus menggulung lengan kemejanya berapi-api. Matanya membara kepada salah satu death eaters yang terang-terangan memperhatikan istri manisnya.
Presiden MACUSA dan para auror lain menghembuskan nafas lelah, Tina menepuk dahinya, dan Queeny terkikik geli. Diam-diam mengeluarkan kamera pemberian Jacob untuk merekam kecemburuan Theseus. Dimana bahkan para death eaters lain memilih mundur dan menempel dinding kantor dibanding melerai naga jantan yang sedang mengamuk itu.
Mari kita kembali satu jam yang lalu.
--
Brak!
"Bu Presiden. Death eaters mengepung kantor!"
Suara terkesiap dan bisikan tak percaya segera datang dari berbagai arah didalam kantor.
"Apa yang terjadi? Kenapa death eaters datang kemari?" Tanya Presiden MACUSA serius kepada auror kecil didepannya.
Presiden MACUSA dan para auror segera berjalan cepat menuruni tangga menuju pintu utama. Dapat dilihat dari jendela perpecahan adu mantra antara death eaters dan para auror.
"Saya tidak tau. Tiba-tiba saja mereka datang entah darimana dan tiba-tiba adu mantra pecah."
"Berapa banyak korban?"
Auror kecil itu menggaruk kepalanya bingung, "Sesungguhnya Mrs. Tidak ada korban terluka. Paling banyak hanya memar dan lecet karena terbentur aspal ataupun tembok."
Presiden MACUSA dan rombongan berhenti, ia menatap auror kecil dengan bingung, "Apa?"
"Ya. Mereka terkesan hanya bermain dan menghentikan kami tanpa niatan lain."
Para auror saling berpandangan heran. Presiden MACUSA juga mengerutkan alisnya.
"Siapa yang menyerang lebih dulu?" Tanya salah seorang auror.
"Um, sepertinya.. Pihak kita?" Jawab auror kecil itu tak yakin.
"Ayo kita lihat dulu."
Mereka kembali berjalan cepat. Kantor terlihat sepi karena hampir semua saling bertarung diluar. Hanya tersisa para elf dan beberapa wanita.
"Ada apa ini? Hentikan serangan!"
Kedua belah pihak saling menghentikan serangan, mereka dengan diam mundur dibelakang pemimpin mereka masing-masing.
"Ah? Sudah selesai, Dray? Kupikir akan makan waktu lama."
"Mencari seperti ini hanya sekedar jentikan jari, Blaise."
"Tunggu Daph, lipstikku belum selesai. Pegang cerminnya dengan benar."
"Kau menyebalkan Pans!"
"Um, guys. Presiden MACUSA keluar."
Empat kepala menoleh, menatap sosok presiden MACUSA beserta para auror yang specchless.
Draco dkk segera merapikan diri dengan santai. Mereka berdiri dan menghampiri sosok Presiden MACUSA yang menatap dengan waspada.
"Santai sedikit, kami hanya ingin berbicara." Ucap Blaise jengah melihat sikap waspada para auror.
"Bu Presiden, kami tidak tau kenapa. Tapi belum juga kami mengutarakan niat, kami sudah diserang. Ini etiket kementrian sihir disini?" Tanya Pansy sarkastik dengan nada mencemooh, tangannya ia lipat angkuh didepan dada. Memandang dingin sosok para auror yang mendadak canggung.
Theo menggeleng, lalu maju selangkah. Dengan senyum dan nada gugup ia bicara, "Bu Presiden, halo. Kami ingin menemui Theseus Scamanders, bisakah kami?"
Presiden MACUSA menatap dengan pandangan rumit, kelima anak didepannya memang sepertinya tidak ada niatan lain.
Setelah bimbang sejenak, Presiden MACUSA membuka mulutnya, "Biarkan mereka masuk."
...
"Kalian mencari Arlo?"
Sebuah pertanyaan memecah suasana tegang, suara ringan dan lembut membuat Draco dkk menoleh kearah Newt yang berdiri disebelah meja Theseus.
"Mr. Scamander. Lebih tepatnya mencari Ivory. Tapi Arlo juga tidak apa-apa." Jawab Draco acuh, Newt menganggukkan kepala.
Lelaki manis itu lalu menatap Presiden MACUSA.
"Maaf bu pres, bisakah Anda dan para auror keluar? Kami akan berbicara sebentar, yakinlah tidak apa-apa." Ucap Newt dengan tangan terangkat diakhir kalimat, menenangkan protesan Presiden MACUSA.
Presiden MACUSA menimbang sejenak lalu mengangguk. Ia segera berbalik dan berjalan keluar, diikuti oleh seluruh auror yang enggan.
"Anak buahnu juga, Malfoy."
Draco melambaikan tangannya saat tatapan lelaki manis itu beralih padanya. Menyuruh para death eaters untuk menunggu diluar.
Theseus mendesah. Lelaki itu nenyenderkan tubuhnya disandaran kursi empuk, dengan lembut Newt menghidangkan teh kepada suami dan tamunya.
"Arlo maupun Ivory belum kembali. Aku tidak tau dimana keberadaan mereka berdua, bahkan Kirke. Tidak pasti kapan mereka akan kembali, tapi.."
Draco mengikuti gerakan Theseus yang membungkuk dimeja kerjanya, membongkar seakan mencari sesuatu.
"Dua minggu lalu melalui owl, Arlo memberikan ini padaku. Dia sepertinya tau kalian akan kemari, ini untukmu." Theseus melemparkan sebuah map coklat kearah Draco yang ditangkap dengan baik.
Draco membuka map diiringi tatapan penasaran Pansy dan Theo. Ia menarik sebuah kertas foto dan melihatnya.
Pekik terkejut Pansy menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan. Draco membalik kertas ditangannya.
Scorpie and Al,
3rd birthday's party.
Kembali, Draco memandangi foto bergerak. Dimana Harry tengah mencium sayang dahi kedua anak kembarnya yang terbalut krim putih dan coklat diwajah.
Hati Draco seakan meledak, berkembang penuh. Rasa asam dan perih dimata membuat pewaris Malfoy dan Dark Lord itu menghela nafas berat. Ia mencium foto tersebut pelan.
Melihat suasana berat disekeliling sahabatnya, Daphne mengambil alih.
"Kudengar Mr. Scamander maksudku Mr. Newt tengah hamil?" Tanya Daphne ramah.
Newt mengelus perutnya lalu mengangguk malu. Theseus tersenyum bahagia dan memeluk pinggang istrinya itu.
"Ya, ini anak pertama kami. Setelah menunggu lima tahun, merlin memberikan anugrahnya." Jawab Theseus bahagia dan tertawa senang.
"Apakah Luna Lovegood dan Neville Longbottom memasuki Ilvermorny?" Tanya Daphne lagi.
Dengan suasana hati yang baik, Theseus tentu saja menjawab pertanyaan itu.
"Ya. Mereka akan masuk tahun akhir setelah musim dingin ini berakhir. Anak-anak yang baik, untuk tugas akhir mereka harus berkeliling hutan sihir demi mempelajari research herbology untuk Neville dan dark arts untuk Luna. Terkadang aku berpikir gadis itu mempunyai bakat Shaman alami." Jelas Theseus sambil menganggukkan kepala.
Daphne mendengarkan dengan baik, tidak melewatkan sekecil apapun informasi. Dengan tawa kecil ia kembali bertanya santai, "Begitukah? Yah, sejak kami di Hogwarts ia memang memiliki aura Shaman. Ngomong-ngomong Mr. Scamander, apakah Luna dan Neville ada dikediaman Anda? Atau diasrama?"
Daphne melirik ketiga sahabatnya, -lupakan Blaise yang telah tertidur sambil menyender didinding- yang tengah berebut foto Harry.
"Tidak Ms. Grenggrass. Untuk mengejar research, mereka berdua memilih tidur dipenginapan atau di hutan. Mereka ingin tahun akhir mereka hanya berisi persiapan N.E.W.T dan ujian pekerjaan mereka di Soviet."
"Soviet? Maksudmu kementrian sihir Italy?" Kali ini Theo bertanya ragu.
Theseus mengangguk, ia mengelus dagunya sambil mengingat.
"Neville ingin masuk dalam master Herbology dan tanaman gelap, sedangkan Luna masuk dalam departemen Ramalan dan Artefak Sihir Hitam. Dan mereka berbakat, karena itu sesekali auror dari Soviet akan datang untuk mengamati."
"Seperti itu.." Guman Theo menganggukkan kepala.
"Fufu, aku penasaran dimana mereka sekarang." Guman Daphne dengan tawa kecil.
"Kalian bisa menemukan mereka di hutan Elune, Ms. Grenggrass. Kudengar ada artefak sihir yang membuat Luna berlari kesana." Balas Newt lembut. Ia mengintip sedikit dari poninya sebelum kembali menunduk.
Daphne mengangguk, ia menghabiskan tehnya dan menepuk tangan. Draco dkk pun berdiri, "Terima kasih Mr. Scamander. Aku akan membayar kebaikanmu."
Theseus ikut berdiri sambil memeluk pinggang Newt.
"Tidak perlu formal, Arlo sudah menjelaskannya padaku. Seseorang di foto itu.. Kekasihmu bukan? Aku tidak tau apa masalah kalian berdua, tetapi saranku. Lebih baik kau segera membawanya kembali, atau kau akan menyesal." Ucap Theseus sembari memandang wajah kecil Newt yang bersemu merah. Ia mengecup sekilas pelipis istrinya itu.
Draco mengangguk kecil. Mereka saling berjabat tangan. Theseus secara pribadi -meninggalkan NEWT dikantornya dengan segala jenis mantra pelindung- mengantar rombongan Draco dkk kedepan pintu kantor MACUSA setelah sebelumnya memberikan senyum -akan kujelaskan nanti- kepada Presiden MACUSA.
"Bagaimana?"
"Awasi mereka untuk saat ini."
Blaise mengangguk, setengah hati ia menyeret Pansy untuk mengawasi Luna dan Neville.
"Apa rencanamu, Dray?" Tanya Daphne acuh. Gadis itu mengiris daging ham nya anggun.
Draco memandang pemandangan malam kota Amerika dingin, ia memandang tajam kesalah satu toko sepatu ternama dimana sesosok siluet yang ia kenal masuk kedalamnya.
"Daph darling~ Aku ingin kau mengawasi kelakuan Pansy. Kurasa ia akan kehilangan kontrol diri sebentar lagi." Balas Draco pelan. Masih memandangi sosok yang tengah menyeringai disebrang jalan.
Draco berbalik perlahan, ia melambaikan tangannya. Jubah hijau gelap menyelimuti bahu tegapnya, diikuti sebuah kacamata hitam dan sepasang sarung tangan.
"Kau mau kemana, Dray?" Tanya Theo yang baru kembali dari dapur.
"Menemui seseorang."
Kling!
"Selamat datang, tuan."
Pemuda blonde berjalan acuh, mengabaikan tatapan kagum maupun sapaan para pelayan. Ia berjalan lurus menuju seseorang yang sibuk membandingkan kedua sepatu kulit mengkilat ditangannya.
Ia mengangkat tangannya, "Tidak usah terburu-buru. Bagaimana hadiah yang kuberikan padamu?"
Sang blonde berdecih, kembali menurunkan tangan. Sosok yang ia cari membalikkan tubuh dengan kedua tangan membawa dua sepatu.
"Merindukanku? Atau.. Merindukannya?"
"Artefak yang bagus, sayang bernoda darah kental."
"Luna... Bagaimana kabarmu dibawah sana?"
Luna mendongak, tersenyum sendu pada raut khawatir temannya.
"Aku baik- baik saja Neville. Apa makan malam sudah siap?" Tanya Luna ceria. Gadis itu menepuk pakaiannya demi menghilangkan debu. Ia melambaikan tongkat, membuat dirinya terangkat dari lubang yang menuntunnya kepada artefak sihir.
Neville mundur selangkah, membiarkan Luna membersihkan debu dan kotoran yang tersisa di pakaiannya.
"Ayo, aku menemukan jamur enak hari ini. Dan beberapa daun yang bisa dibuat salad untukmu." Ajak Neville antusias.
Mereka berdua masuk kedalam tenda kecil biru yang telah diperluas. Memperlihatkan aula luas berlantai dua dan bergaya Inggris. Berbelok menuju ruang makan, terdapat hidangan jamur dan steak serta salad sayuran dimeja.
"Thanks Neville."
Dua pasang mata menatap penuh perhatian. Salah satu dari mereka menjilat bibirnya senang.
"I found you, babe.."
Bletak!
"Kau makhluk hitam menjengkelkan! Beraninya mengganggu kesenanganku!!" Raung Pansy kesal.
Blaise mendelik sebelum mengucapkan silencio diantara napas nya. Membuat Pansy melotot dan menggila.
"Diamlah Pans! Kau akan membuat kita ketahuann!" Geram Blaise sembari menghindari lemparan batu dari gadis berambut pendek itu.
Dua mata biru memandang lelah kelakuan dua sahabatnya. Disuruh mengawasi malah bertengkar. Mereka akan membongkar penyamaran mereka tak lama kemudian.
.
.
.
.
.
.
Illusión
By : Racquel
Drarry Fanfiction
Harry Potter J.K Rowling
Illusión Racquel
BL, Yaoi, Typo(s), Gaje, M-Preg, dll.
DON'T LIKE, DON'T READ!!
.
.
.
.
.
.
.
Ah, aku sistem vote ah baru update :")
