[Author Note]: Hmm, mungkin … aku akan ngasih sedikit note disini.
Oke, pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk para reader yang masih menunggu fic ini update—itu pun jika ada yang nungguin, sih—.
Kedua, seperti yang aku bilang kemarin sebelum hiatus selama dua bulan, aku akan kembali dengan tujuan me-remake semua fic milikku. Karena jujur aja, aku merasa sudah ngelakuin banyak kesalahan dalam pembuatan semua ceritaku. Entah itu dalam konteks world building, development characters, konflik, dan masih banyak lagi. Yah, semoga aja hasil remake ini gak bakal terulang lagi, karena jujur aja, aku sebenernya males untuk melakukan remake ini. Kalau boleh milih, aku lebih baik lanjutin aja, sih. Tapi ya gitu, gak memungkinkan kalau aku lanjutin. Yah, lebih baik aku remake mumpung masih sedikit chapter-nya, daripada nanti jika sudah puluhan, kan repot! Ahaha ….
Ketiga, karena kagiatan di sekolahku sudah mulai aktif, aku gak tahu apa bakal bisa update cepet seperti dulu lagi apa enggak. Yah, gak seperti dulu yang masih punya banyak waktu luang karena masa liburan Covid 19, sekarang ini mungkin aku bakal susah buat bagi waktu ngetik dan segala lainnya. Tapi, nanti coba aku usahakan untuk punya waktu ngetik cerita milikku.
Oke, mungkin cuma tiga poin itu yang ingin aku sampaikan di awal kembalinya aku menjadi author setelah hiatus hampir dua bulan. Oh iya, sebelum aku akhiri, aku membuat fic baru dengan tema "Isekai" yang berjudul Hero Without Weapon. Silakan untuk yang berminat dengan genre seperti itu bisa mampir. Kalian tinggal klik saja akun milikku.
Sekian dariku, [FI. Abidin Ren].
.
.
.
Kehancuran. Mungkin satu kata itulah yang cocok untuk menggambarkan keadaan, akan apa yang terjadi pada saat ini.
Kehancuran, suatu hal yang tidak akan pernah terlintas di setiap pikiran orang-orang, yang hidup di dunia shinobi pada masa ini. Tidak, hanya saja …, Perang Dunia Shinobi Ketiga sudah lama berakhir, dan mereka pikir …, mungkin itulah perang terakhir yang akan mereka lihat. Jadi, mereka pasti mengira, bahwa keadaan seperti ini tidak akan pernah muncul kembali, 'kan? Tapi apa daya, kehendak Tuhan telah berkata lain ….
Kehancuran, kekacauan, dan kematian. Kata-kata itu kembali muncul ke permukaan di pikiran setiap ninja dari Kelima Desa Besar. Ya, hal itulah yang terjadi saat ini. Kelima Desa Besar telah … hancur!
Suatu hal yang tidak pernah terlintas di setiap pemikiran orang-orang. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Suatu hal yang sangat tidak masuk akal!
Kelima desa besar yang digadang-gadang terkuat di DuniaShinobi, berhasil dikalahkan oleh satu orang. Dialah yang punya pikiran jenius. Satu orang yang memiliki rencana luar biasa; rencana yang sangat spectacular!
Julukan prodigy yang tersemat dalam dirinya menunjukkan, bahwa itu bukanlah hanya sebuah hiasan, bukanlah sebuah omong kosong. Bersama dengan orang-orang yang memercayainya, mengakui keberadaannya, "dia" berhasil merebut kembali apa yang dimilikinya, apa yang menjadi haknya!
Dengan kekuatan dan kejeniusannya, "dia" berhasil membungkam kelima desa besar. Dia telah menunjukkan kebenaran dari "ramalan"tersebut. "Ramalan kuno" yang ditulis langsung oleh Sang Rikudou Sannin. Ramalan yang ditulis dalam kitab tertuanya … kini menjadi kenyataan!
Dia hanya menunjukkan kepada Lima Desa Besar, bahwa apa yang terjadi saat ini … tidak lebih dari sekedar hubungan sebab-akibat. Mereka semua hanya memetik dari apa yang mereka tanam.Mereka yang memulai, maka mereka juga yang akan mendapatkan balasannya!
Kalau saja mereka tidak pernah ber-"main-main" dalam dunia politik ninja ini, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi ….
Seorang lelaki yang kira-kira berumur 24 tahun sedang berdiri di atas tebing Monumen Patung Hokage. Surai berwarna merah itu terus bergerak pelan akibat tertiup oleh angin yang tak kunjung berhenti berembus. Matanya menatap pada banyaknya asap hitam yang membumbung tinggi ke langit. Banyak rumah warga Desa Konoha yang telah hancur. Ada yang terbakar, bahkan ada juga yang hanya tinggal puing-puing reruntuhan saja.
Mata laki-laki itu kembali bergerak, menatap pada banyaknya ninja yang memakai pakaian berbeda satu sama lain, menunjukkan kalau mereka semua berasal dari desa yang berbeda pula. Banyak yang tumbang; terbunuh, dengan darah yang menggenang di bawah tubuh mereka yang sudah tak bernyawa.
Mata dari pria "berambut merah"tersebut, menatap seseorang "berambut merah"lain di bawah sana yang sedang dalam keadaan tidur telentang dengan kedua mata yang menatap ke atas. Raut wajah seseorang di bawah sanaitu menunjukkan kalau dirinya sudah benar-benar lemah. Tidak punya tenaga lagi.
Pria tersebut mendongak. Mulut dari pria dewasa berambut merah itu terbuka, mengucapkan satu baris kalimat tersebut;
"Inilah balasan … yang kalian dapatkan dariku …."
.
.
.
Pik!
Kelopak mata itu terbuka, menunjukkan bola mata dengan pupil persegi panjang horizontal berwarna kuning. Tubuh besar yang memiliki fisik binatang itu bergerak, menyamankan badannya yang sedang duduk di dalam sebuah wadah mangkuk besar. Tangan lebarnya mengusap wajah tuanya yang memiliki bentuk katak. Ya, dialah Sang Tetua Katak dari Gunung Myouboku.
Raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang sangat besar, akan mimpi yang baru saja dia dapatkan. Mimpi yang biasanya selalu merujuk pada ramalannya. Dan ramalannya selalu … menjadi kenyataan!
Dengan mata yang menerawang jauh ke depan, Sang Tetua Katak bergumam, "Apa maksud dari mimpi tadi, ya?"
Meskipun dia enggan untuk mengakuinya, dia tetap tidak bisa mengerti akan mimpi yang baru saja dia dapatkan. Mimpi yang menunjukkan bagaimana nasib dari dunia ninja di masa depan. Nasib akan kehancuran dari Kelima Desa Besar!
Menghela napas sesaat, dia kembali mengusap wajahnya dengan frustasi. Mencoba berpikir beberapa kalipun, Sang Tetua Katak tetap tidak bisa menemukan arti dari mimpi tadi.
"Apa ini memang sebuah ramalan untuk masa depan?"
23/Juli/2020
Ini adalah sebuah Fic yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren.
—Shinobi with Magic—
By: Abidin Ren
Summary: Ramalan itu telah lama disebutkan. Hanya tinggal menunggu waktu ... sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap "aib" oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa "tidak suka"-nya kepada gelar "pemimpin", dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kau pilih?
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.
Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.
This Story Created by Me
Genre: Advanture — Fantasy — Friendship.
Pair: Naruto x Shion, Menma x Hinata, Sasuke x Sakura, dan yang lain akan menyusul.
Rated: T+
Warning: MAGIC-POWER! OOC(s)(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON. [Mengambil Elemen Kekuatan Dari Fate Series].
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy it~
Please Like, Favorite, and Comment!
.
[Prologue]
[Chapter 1]: Dia Hanyalah Seorang Bocah yang Tidak Mengetahui Apa-apa
Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night UBW Season 2)
.
.
.
"Eh, kenapa anak itu datang ke sini?!"
"Hei! Minggir! Jangan dekat-dekat dengan anak itu!"
"Hoi, cepat pergi dari sini, Sampah!"
"PERGI SANA! Kau mengganggu pagi indahku, Sialan!"
"NATSUMI! Sudah kubilang untuk jangan dekat-dekat dengannya, 'kan?!"
"Dasar aib! Kalau kau tidak ada … desa ini akan menjadi lebih baik, kau tahu tidak, heh?!"
Naruto kecil hanya menghela napas lelah saat mendengar kata-kata yang dilemparkan warga desa kepadanya. Dia yang saat ini sedang ada di jalan pasar desa, hanya bisa berjalan dengan menunduk. Kedua matanya tertutupi oleh helaian poni rambut merah jabriknya, sehingga membuat kedua mata safir itu tidak terlihat.
Yah, dia sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini setiap hari dari warga desa, jadi dia tidak terlalu memusingkannya. Dia memang tidak menyukai perlakuan warga desa terhadapnya …, tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan meraka atas semua perlakuan yang telah terjadi. Ya, ini karena dirinya saja yang tidak memiliki chakra. Karena itulah, dia akan mencoba untuk menerima semua ucapan dan perlakuan mereka terhadapnya, meskipun ini akan sangat menyakiti hatinya ….
Karena terlalu terlarut dalam pikirannya, bocah itu tersandung batu yang tidak dia lihat hingga membuatnya jatuh tersungkur di tanah.
"Eh? Apa dia mati?"
"Wah, kalau begitu baguslah! Desa kita ini jadi lebih bersih karena berkurangnya sampah yang bertebaran."
"Wahaha! Kau benar juga. Kalau begitu, kita apakan mayatnya?!"
"Tentu saja kubur!"
"Buang saja ke luar desa! Untuk apa mengubur sampah? Tidak ada gunanya juga, 'kan?!"
Naruto yang mendengar itu pun mencengkeram tanah di bawahnya. Dengan cepat, dia bangkit berdiri sambil menatap tajam para warga desa. "AKU AKAN MENJADI NINJA!" teriaknya.
Semua terdiam.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara gelak tawa dari orang-orang yang ada di pasar tersebut.
"WAHAHAHA …! Kau itu sedang bermimpi, ya, Bocah?!"
"Benar sekali. Kau itu tidak punya chakra, jadi jangan berharap bisa menjadi ninja! Wahahaha ...!"
Naruto memberengut sebal. Mereka pikir dirinya bercanda?! Dia akan membuktikan apa yang telah dia ucapkan, tidak peduli bagaimana tanggapan orang lain terhadap dirinya nanti. Apapun rintangannya …, tidak peduli siapa lawannya …, dia akan menunjukkan kepada mereka semua …, bagaimana langkah yang dia tempuh agar bisa menjadi ninja yang hebat!
Dengan gigi yang saling bergemeletuk, dia pun berlari meninggalkan tempat itu sambil berteriak ….
"AKAN AKU TUNJUKKAN PADA KALIAN, BAHWA AKU AKAN MENJADI NINJA YANG HEBAT …! DAN AKAN KUBUAT SEMUA ORANG MENGAKUI KEKUATANKU …!"
.
.
.
Naruto kecil saat ini sudah berdiri di depan rumahnya. Dengan tangan kecilnya yang memegang knop pintu, dia pun membuka pintu berwarna oranye di depannya. "Tadaima~"
"Okaeri—eh?! Naruto?! Kenapa kau pulang? Apa ada yang tertinggal?"
Muncul seorang wanita berambut merah sepinggul dari arah dapur yang langsung memasang wajah heran tatkala ia melihat salah satu anaknya berdiri di depan pintu rumah mereka. Padahal tadi kedua anaknya sudah pamit untuk pergi ke Akademi, tapi kenapa yang satu ini malah kembali pulang? Apa ada acara sesuatu di Akademi? Yah, seperti itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh wanita, yang memiliki nama asli Uzumaki Kushina tersebut.
Naruto menatap ibunya sesaat, kemudian menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Kaa-chan. Karena di Akademi sedang ada latihan praktek menggunakan chakra, jadi aku pulang saja," jawabnya spontan, tidak memikirkan akibat apa yang akan dia dapatkan nantinya karena ucapannya barusan.
Kushina terdiam beberapa saat, lalu wajahnya tiba-tiba menggelap saat mengerti maksud ucapan dari anak pertamanya tersebut. Dia pun berjalan mendekati Naruto, dan tanpa permisi sama sekali, langsung menjewer telinga anaknya tersebut dengan penuh"kasih sayang".
"Aaaaadu-du-du-duuuhhh ...! Aduh, sakit sekali! Apa yang Kaa-chan lakukan, sih?! Cepat lepaskan!"
"Jadi, kau berniat membolos dari Akademi, ya?" ucap wanita itu dengan nada malaikat pencabut nyawanya. Bibirnya tersenyum sangat manis, berbanding terbalik dengan hawa mencekam yang saat ini sedang dia keluarkan. Rambut merahnya bahkan sudah melayang-layang mengerikan di belakang tubuh wanita tersebut. Juga, ada semacam efek-efek aura hitam yang keluar dari punggungnya.
Glek.
Entah kenapa, Naruto seperti merasa kalau rasa sakit di telinganya tiba-tiba menghilang, dan segera digantikan dengan keluarnya keringat dingin di seluruh tubuhnya. Dengan cepat, dia menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. "B-Bukan! M-Maksudku … ak-ku ingin mengambil pe-pedangku agar bisa … emm, ikut berlatih. Ya! Ikut berlatih! Seperti itulah …," ucapnya yang langsung diakhiri dengan tawa garingnya.
Kushina menatap Naruto dengan wajah yang masih menggelap. Tapi tak lama setelah itu, wajahnya tiba-tiba menjadi cerah. "Baguslah, kalau begitu," ucapnya.
Dia pun berbalik menuju dapur kembali. "Cepat ambil pedangmu, dan segera kembali ke Akademi. Kalau tidak, kau akan ketinggalan materi pelajaran nantinya."
Naruto hanya menatap dalam diam pada tubuh ibunya yang berjalan menjauh. Dia mengelus beberapa kali telinga kirinya yang sudah berubah warna menjadi merah akibat jeweran ibunya.
"Aku kira telingaku akan putus tadi," katanya pelan. Karena kesalahannya dalam bicara, hampir saja tadi hidupnya berakhir. Err, ya …sepertinya itu penggambaran yang terlalu berlebihan, sih.
Dia pun berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalam. Mengedarkan pandangannya sesaat, Naruto pun melihat sebuah pedang berwarna hitam yang bersandar pada kasur miliknya. Mengambil pedang itu, dia pun kembali berjalan keluar kamar.
Naruto mengembuskan napas pelan. Padahal tadi dia berniat tidur di rumah, tetapi karena sudah bilang ke ibunya bahwa dia akan kembali berlatih … jadi, ya … terpaksa dia akan melakukannya. Yah, dia akan berlatih, tetapi tidak di Akademi … melainkan memilih di luar desa saja. Seperti yang bocah itu bilang tadi, di Akademi sedang ada latihan praktek menggunakan chakra, jadi dia pasti tidak akan melakukan apa-apa. Karena itu juga, dia tadi sudah berencana untuk bolos satu hari ini dari Akademi. Tapi, karena ibunya … ya, seperti inilah akhirnya. Naruto hanya menggeleng pelan, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal yang baru saja berputar-putar di kepalanya.
Naruto melihat ibunya sedang sibuk mencuci piring di dapur. Sesekali juga bisa dia dengar suara senandung kecil dari wanita itu. "Aku pergi, Kaa-chan!"
"Ya, hati-hati di jalan, Naruto!"
"Baik!"
Setelah menutup pintu rumahnya, Naruto pun berdiri sambil memanggul pedangnya di atas pundak kanannya. Dia beberapa kali juga memukul-mukulkan pelan pedang itu pada pundaknya. "Jadi, ke mana sebaiknya aku pergi berlatih, ya?"
Bocah itu nampak berpikir sesaat. Setelah menemukan tempat yang bagus, dia pun mengangguk singkat, "Yup, kurasa aku ke sana saja." Naruto pun mulai melangkah meninggalkan kediamannya.
Tanpa bocah itu sadari, ada satu sosok yang sudah mengawasinya sedari tadi. Dia berdiri di atas tiang listrik. Siluetnya tidak terlihat karena sedang membelakangi sinar matahari. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, sosok itu tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan bekas sama sekali ….
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Namikaze Naruto, itulah nama dari bocah yang saat ini sedang tiduran; merebahkan dirinya di atas tanah berumput hijau. Dia adalah anak dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Ia selalu dibenci oleh warga desanya sendiri, karena mereka pikir … bocah berambut merah jabrik itu tidak memiliki chakra, dan tentu saja … itu membuat Naruto sendiri seolah-olah "aib" bagi Konohagakure. Tapi, walaupun tidak memiliki chakra, dia beruntung … karena masih tetap dicintai keluarganya, begitupula dengan orang-orang terdekatnya.
Naruto sekarang sedang beristirahat setelah berlatih Kenjutsu dan Taijutsu di tempat latihannya seperti biasa. Bicara soal tempat latihan, ia selalu berlatih di hutan luar desa dekat dengan danau yang sangat luas. Karena menurutnya, tempat itu sangat cocok digunakan untuk berlatih. Apalagi, tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah, khususnya di pagi hari dan sore hari.
Dia tampak melamun, memikirkan sesuatu. Ya, Naruto sedang memikirkan tentang perlakuan warga desa setiap hari pada dirinya. Kenapa warga desa selalu membencinya? Kenapa meraka memperlakukannya berbeda dengan anak-anak yang lain? Apa hanya karena dirinya yang tidak memiliki chakra, sehingga semua inilah yang dia dapatkan?
Naruto menggeleng keras. "Hmm, aku tak akan peduli bagaimana warga desa memandangku," gumamnya. Dia menerawang jauh ke atas langit. "Asalkan masih ada keluargaku, teman-teman, dan orang lain yang masih menganggap keberadaanku, aku tetap bersyukur atas hal itu." Bocah bermarga Namikaze itu tersenyum singkat.
Tangan kecilnya memegang pedang katana yang ada di sampingnya, kemudian mengangkatnya. Mata sewarna safir itu menatap penuh keyakinan besar pada senjata yang setiap hari selalu dia gunakan untuk berlatih tersebut. "Akan aku tunjukkan, bahwa aku juga bisa menjadi ninja!" Pegangan tangan kanannya pada pedang tersebut semakin menguat.
"Dan setelah aku menjadi kuat, aku berjanji akan melindungi orang-orang yang berharga bagiku!"
Swwuuussh ….
Hanya embusan angin yang menyambut tekad bulat Naruto. Mata bocah itu berkilat tajam. Ya, dia berjanji …, bahwa apa yang sudah dia ucapkan … akan dia lakukan!
"Sudah siang." Naruto bangkit dari tidurannya sambil melihat matahari yang sudah berada di tengah-tengah langit. "Sebaiknya aku pulang saja, kalau tidak, nanti Kaa-chan pasti akan berisik lagi."
Srekk ... srekk ….
Terdengar suara gemerisik semak-semak di kedua telinga Naruto. Dengan cepat, dia pun langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari asal suara tersebut.
Srekk ... srek ... swuush …. Stap! Stap! Stap!
Naruto melompat ke belakang sambil membawa pedang katana-nya di tangan kanannya, ketika melihat tiga shuriken yang terbang melesat menuju dirinya.
Tap. Dia mendarat di tanah dengan sempurna. Dapat bocah itu lihat tidak jauh di depannya, tiga shuriken yang tadi mengarah kepadanya sudah menancap di tanah, tempat si Rambut Merah itu tadi berdiri.
Swussh ... tap tap tap.
Tiba-tiba di depan Naruto muncul tiga Anbu Ne. Yah, dia yakin, pasti mereka bertiga-lah yang melempar tiga shuriken tadi. Memang itulah kenyataannya, Naruto. Ya ampun~
Naruto memandang dengan santai pada tiga Anbu yang ada di depannya. "Coba aku tebak, hmm ..., kalian pasti ingin membunuhku, 'kan?" tanyanya santai sambil memukul-mukulkan pelan katana yang masih tersarung itu pada pundaknya.
"Jangan terlalu percaya diri, Bocah. Kami pastikan hari ini kau akan mati ..." salah satu Anbu disana sepertinya sengaja menjeda ucapannya, "... karena Itachi dan Shisui sedang menjalankan misi bersama, dan sekarang … tidak ada yang menjagamu." Masing-masing Anbu memasang wajah datar di balik topeng polos mereka.
Wajah Naruto mengeras. Tunggu-tunggu-tunggu! Kenapa tidak ada yang memberi tahunya kalau Itachi dan Shisui sedang bertugas?! Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat saat memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Dia tidak memedulikan ucapan Anbu itu. Bocah Namikaze tersebut lebih memikirkan keadaannya sendiri. Bagaimana jika yang dikatakan Anbu tadi benar? Tidak, tidak, tidak! Naruto tidak ingin mati muda! Dapat ia rasakan kalau kakinya mulai sedikit bergetar. Ah, sial. 'Tenangkan dirimu sendiri, Naruto …. Ingat yang selalu dikatakan Tou-chan,' batinnya berusaha menguatkan mentalnya.
.
"—Kau harus tetap tenang di setiap keadaan …."
.
Ya, tenang. Tapi, tetap saja dia tidak bisa tenang di saat seperti ini! Gehh ..., sial. Dia pasti akan jadi bulan-bulanan tiga Anbu Ne tersebut. 'Meskipun begitu, aku harus mencoba untuk tetap tenang,' batin Naruto untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Kenapa kau diam saja, Bocah?"
Naruto menatap Anbu lainnya yang berkata tadi. Dia mendengus pelan.
"Cih, kau pikir aku takut, walaupun harus melawan kalian bertiga sendirian?" Dia mengucapkan itu dengan lancar, menyembunyikan rasa gugup dalam hatinya. Yah ..., jujur saja, ia memang merasa takut. Bahkan, jika dirinya selamat, Naruto tidak yakin, apa dia cuma akan mendapat luka yang ringan.
Yah, siapa peduli. Dengan cepat, ditariknya katana itu dari sarung pedangnya, lalu memasang kuda-kuda bertarungnya. Tangan kanannya lurus ke depan memegang katana dengan ujung pedang mengarah ke arah atas, sementara tangan kiri bocah itu memegang sarung pedang dan ia tempelkan pada lengan kirinya bagian luar.
Ketiga Anbu itu menatap datar Naruto. Lagipula, mereka semua juga sudah tahu siapa yang akan menang, jadi ketiga Anbu itu tidak ingin terlalu menanggapi lebih atas semangat yang diperlihatkan Naruto. Bagaimanapun juga, pengalaman Naruto masih jauh dari ketiga Anbu di depannya. Jadi, sudah dapat dipastikan, siapa yang akan unggul dalam pertarungan ini. Apalagi, perbedaan jumlah setiap kubu juga sangat memengaruhi nantinya.
Tak lama setelahnya, ketiga Anbu itu pun melesat ke arah si kecil Namikaze yang berjarak kira-kira sepuluh meter lebih.
Naruto mengeratkan cengkeraman kedua tangannya, bersiap bertarung dengan Anbu di depan dirinya. Ketika jarak mereka hanya tersisa tiga meter lebih, dapat Naruto lihat kalau ketiga Anbu itu mencabut pedang kecil di punggung mereka, yang kalau tidak salah bocah itu ingat bernamatanto. Mata Naruto melebar saat melihat ketiganya mulai berpencar.
"Sial," rutuknya kesal.
Traannk …!
Bunyi besi yang saling bertemu terdengar sangat jelas oleh indra pendengaran mereka semua, saat Anbu pertama yang mengayunkan tanto-nya secara vertikal, berhasil ditahan dengankatana milik Naruto yang dihadapkan secara horizontal.
Naruto menghela napas lega setelah dirinya kembali melompat ke belakang, berhasil menghindari satu serangan yang menuju padanya, tatkala Anbu kedua hampir saja berhasil menusuk tubuhnya dari samping.
Tubuh bocah itu menegang saat merasakan bahaya dari arah belakangnya. Dengan cepat, dia putar sarung pedang di tangan kirinya, sehingga ujungnya menghadap ke atas, lalu mengayunkannya ke arah belakang secara vertikal sambil membalikkan tubuh kecilnya ... tapi, serangannya gagal. Belum selesai sampai di situ, dia kembali mengayunkan katana di tangan kanannya secara diagonal ….
Trrank …!
Ternyata Anbu terakhir itu berhasil memblok serangan Naruto menggunakan tanto-nya. Lagi, bocah berambut merah itu ingin menyarangkan serangan dengan memukulkan sarung pedangnya pada pinggang musuhnya. Tapi, belum sempat Naruto menggerakkan tangan kirinya, dia lebih dulu terlempar diikuti rasa sakit yang muncul pada rusuk kanannya. Si Namikaze itu bahkan tidak sadar jika ada serangan yang mengarah padanya!
Tubuh kecilnya terlempar cukup jauh, sebelum akhirnya berhenti setelah punggungnya mencium batang pohon dengan keras.
"Arrgh!"
Sial, itu pasti benar-benar sakit!
Swuushh ... Tak! Tak! Tak!
Naruto menghindar ke samping kanan ketika melihat beberapa shuriken terbang padanya, dan hanya membuat shuriken tadi menancap di batang pohon, tempatnya tadi berada.
'Gawat, aku harus kabur. Aku tidak mungkin menang melawan mereka,' batin Naruto panik. Dia pun bangkit berdiri, tidak lupa untuk membawakatana miliknya setelah dia masukkan ke dalam sarung pedangnya. Kemudian tanpa berbasa-basi, langsung saja ia berlari ke arah desa secepat yang bisa kaki kecil miliknya lakukan.
"Dia kabur, cepat kejar dia!"
Naruto terus berlari, tidak menggubris ketiga Anbu itu yang sepertinya mengejar dirinya, bahkan sambil melempari bocah itu dengan kunai dan shuriken yang mereka bawa ….
Sraat ... jleb! Srat ... sratt ... jleb!
Terus berlari, melewati semak-semak dan batang pepohonan, tidak memedulikan luka goresan di setiap tubuhnya, bahkan sepertinya ada kunai dan shuriken yang menancap di punggung kecil itu. Gehh ..., itu pasti benar-benar sakit.
Buuggh!
Naruto jatuh karena tersandung sesuatu—sepertinya akar pohon. Dapat dia rasakan kalau lutut kanannya sakit sekali …, sepertinya berdarah, karena Naruto akui, jatuhnya tadi memang cukup keras. Dia kembali ingin berlari, tetapi belum sempat dirinya bangun, dapat ia lihat satu Anbu muncul di sebelah kirinya, dan menendang tepat di ulu hati bocah tersebut.
"Uaagh!"
Naruto mengeluarkan sedikit air liur ke udara karena tidak kuasa menahan rasa sakit yang bersarang di salah satu bagian tubuhnya. Dan sedetik kemudian, dapat dia rasakan kalau tubuhnya berguling-guling di tanah, sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak batang pohon sedikit keras. Dia merasakan kalau setiap lekuk tubuhnya benar-benar terasa sakit semua.
"Uhukk!" Naruto mengusap sudut bibirnya yang baru saja mengeluarkan sedikit darah.
Tap … tap … tap ….
"Sekarang ..., kau tidak bisa lari lagi, Bocah."
"Dan kau akan mati hari ini."
"Tenang saja, kami akan membunuhmu dalam sekejap, sehingga kau tidak akan merasakan sakit."
Ketiga Anbu itu berbicara bergantian dengan raut wajah datar.
Naruto mendudukkan dirinya, kemudian bersandar pada batang pohon di belakangnya. Kepalanya menunduk, sehingga membuat raut wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh helaian poni rambut merah miliknya. Dia mendecih pelan. "Memangnya, siapa juga yang ingin mati muda ..." cengkeraman tangannya pada katana itu kian mengerat, "... apalagi di tempat seperti ini."
"Kami tidak peduli apapun perkataanmu, Bocah."
"Prioritas kami adalah menyelesaikan tugas dari Tuan Danzo, tidak peduli apapun itu."
"Maaf saja, kami tidak bisa berlama-lama menyelesaikan tugas mudah yang diberikan Tuan Danzo. Jadi, kami harus segera membunuhmu."
Naruto menggertakkan giginya saat mendengar nama itu.
Danzo …. Danzo! Danzo! Danzo! Nama itu terus muncul berulang kali dalam pikiran Naruto. Bocah itu menggeram rendah.
Ya, Naruto tahu siapa laki-laki tua itu. Shimura Danzo, dia adalah salah satu petinggi di dalam Desa Konoha, juga pemimpin dari Anbu Ne, yaitu sebuah kelompok Anbu rahasia yang bekerja di bawah bimbingan Danzo. Kelompok itu jugalah yang saat ini ada di depan Naruto, berusaha membunuh bocah tanpa chakra tersebut. Si Namikaze muda itu sudah pernah mendengar nama tersebut dari kedua orang tuanya.
Dia adalah orang yang melindungi Konoha dari balik layar. Menghabisi siapa saja yang berkemungkinan mengancam keselamatan Konoha, ataupun … membersihkan segala sesuatu yang terlihat buruk bagi desanya ini. Intinya, dia adalah orang yang selalu berjalan di dalam kubangan lumpur hitam. Jika Hiruzen yang merupakan Hokage melindungi desa melalui terangnya cahaya, maka Danzo melindungi desa melalui gelapnya bayangan. Sama-sama memiliki tujuan untuk melindungi, tetapi keduanya menggunakan cara yang berbeda. Sangat bertolak belakang!
Benar-benar pemimpin yang buruk! Menggunakan metode yang keji dalam memimpin, bahkan selalu menggunakan taktik licik dalam semua pergerakannya. Orang tua itu, Danzo, telah mengotori gelar pemimpin!
Naruto muak! Inilah kenapa dia membenci para pemimpin! Selalu menggunakan wewenangnya dengan asal-asalan, tanpa memikirkan akibat apa yang akan terjadi di masa yang akan datang! Dia membenci pemimpin yang seperti ini dan … seluruh orang yang memiliki "gelar pemimpin".
Dia mengangkat wajahnya, menampakkan raut wajah dingin yang belum pernah dia perlihatkan pada siapapun. Mata safir itu berkilat tajam, menatap tiga orang di depannya yang mulai berjalan mendekati dirinya. Safir itu terlihat menakutkan. Mata yang biasanya terlihat cerah dan hangat, kini berubah menjadi dingin, seperti lautan es yang sudah membeku sempurna.
Dia mengeratkan pegangannya pada katana-nya, kemudian berusaha berdiri dengan cara menopang tubuhnya menggunakan pedang itu. Kepalanya kembali menunduk. "Apanya yang pemimpin?! Kalian hanyalah sekumpulan orang idiot, yang hanya ingin melakukan apa saja yang kalian mau!"
Ketiga orang itu terdiam, berhenti berjalan, saat mendengar gumaman dengan nada rendah dari bocah yang ada di depan mereka. Ya, suaranya terdengar sangat serak, dan jujur saja … itu memang terdengar menakutkan bagi seorang anak kecil yang bisa mengeluarkan suara seperti itu. Tidak, mereka bukannya takut dengan nada bicara Naruto yang terkesan aneh untuk ukuran anak seusianya, tetapi justru, mereka malah berubah semakin waspada, saat merasakan tekanan udara di sekitar Naruto terus meningkat.
Salah satu Anbu itu memicingkan matanya di balik topeng polos yang dikenakannya. "Ada apa dengan bocah itu?"
Gumaman itu seperti angin lalu saja, karena kedua temannya pun hanya diam tidak menanggapi. Ya, mereka semua tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Tak lama setelah itu, mata ketiganya langsung membulat sempurna di balik topeng, tatkala melihat pancaran listrik statis yang mengelilingi tubuh Naruto. Pancaran energi itu semakin ganas keluar dari tubuh bocah Namikaze tersebut!
Sedangkan Naruto sendiri tetap menunduk, tidak menghiraukan adanya listrik yang muncul di sekitar tubuhnya. Entah dia sendiri secara sadar atau tidak saat mengeluarkan pancaran energi tersebut dari dalam tubuhnya. Dengan tangan kiri yang memegang pedang sebagai penopang tubuhnya, dia mulai menjulurkan tangan kanannya ke depan.
Insting ketiga Anbu itu pun berteriak nyaring. Merasakan adanya bahaya, Anbu paling depan pun berteriak dengan panik; menyuruh temannya untuk segera mundur. Tapi—
Jrraassh …!
—terlambat.
Karena keterlambatan dalam merespon situasi, kedua temannya pun hanya bisa terdiam di tempat dengan tubuh yang "terpaku" dengan banyaknya pedang di tubuh mereka. Darah merembes keluar dari setiap luka yang ada di kedua tubuh tak bernyawa itu.
Mata Anbu itu membulat sempurna. Apa-apaan ini?! Darimana datangnya pedang-pedang itu?! Bagaimana hal ini bisa terjadi?! Kalimat tanya terus terngiang dalam pikiran si Anbu Ne terakhir. Dia menatap Naruto yang masih diam dengan tangan kanan terjulur ke depan.
'Apa mungkin bocah itu yang melakukannya?!'batinnya tidak percaya. Pikirannya kembali sadar saat dia merasakan adanya bahaya yang datang lagi. Insting yang sudah dilatih bertahun-tahun tersebut berteriak dengan keras!
Syuut … Jraash …!
Kali ini dia harus merelakan tangan kirinya menjadi buntung. Ya, itu masih lebih baik, daripada jantungnya yang terkena hujaman pedang barusan. Tangan kanannya memegang bahu kirinya, mencoba menutupi luka yang kian terus mengeluarkan cairan merah kental di setiap detiknya.
Syuut … Whuus!
Dia kali ini berhasil menghindar ke samping kanan.
Syuut … Srat!
Satu goresan dia dapatkan di lengan kanannya.
Syuut … Sraat … Syuut … Syuut … Jraash!
Sudah tak terhitung berapa banyak jumlah pedang yang berhasil dia hindari, ataupun yang berhasil menggores tubuhnya. Anbu itu mengatur napasnya yang tidak beraturan. 'Ini benar-benar gila! Darimana datangnya pedang-pedang ini berasal?!' teriak batinnya frustasi.
Jleb!
"Aargh!"
Dia mengumpat dalam hati saat melihat kaki kanannya berhasil tertancap satu pedang. Ini benar-benar buruk! Dia sudah tidak akan bisa pergi ke mana-mana! Anbu itu menatap Naruto penuh rasa ketakutan. Ia tidak menyangka kalau bocah itu punya kemampuan seperti ini.
Setelah menunggu beberapa detik, Anbu itu pun merasa kalau sudah tidak ada lagi "hujan" pedang yang mengincar nyawanya. Terdiam beberapa saat, dia pun menghela napas, bersyukur karena dia masih bisa hidup.
Brukh!
Dia menatap tubuh Naruto yang jatuh ke tanah. "Aku tak menyangka, kalau bocah itu punya kemampuan yang sangat aneh," ucapnya, kemudian terkekeh pelan. "Ini pasti akan menjadi informasi yang bagus untuk Danzo-sama."
"Tapi maaf saja, aku tak akan membiarkanmu pergi dari sini."
Mata Anbu tadi membulat sesaat, sebelum akhirnya dia merasakan rasa sakit yang amat sangat pada punggungnya. Tubuh itupun terjatuh; tersungkur di atas tanah. Sebelum dirinya benar-benar mati karena kehabisan darah, yang bisa dia lihat dari orang tadi hanyalah sorot mata dinginnya.
Setelah melihat kalau orang bertopeng polos tadi sudah merenggang nyawa, orang berambut putih yang diarahkan ke belakang itu pun berjalan menuju Naruto yang sedang pingsan. Sebuah pedang tipe short sword yang kebanyakannya berwarna putih di tangan kanannya itu pun menghilang, meninggalkan jejak bintik-bintik cahaya berwarna biru-keputihan. Dia menatap wajah damai milik bocah berambut merah jabrik di bawahnya.
"Ternyata memang benar kalau dia memiliki'itu'," ucapnya pelan. Bibirnya pun menyunggingkan senyum tipis. "Meskipun secara tidak sadar dia melakukannya, tapi itu tadi sudah cukup hebat …, karena ini adalah pertama kalinya dia menggunakannya."
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Kantor Hokage.
Di dalam ruang Hokage, ada satu orang tua paruh baya yang sedang duduk di atas kursi Hokage. Dia berbicara dengan dua orang Anbu yang menggunakan topeng kucing dan anjing.
"Baiklah, aku mengerti. Tolong, panggil dia sekarang!" perintah orang tua tersebut kepada dua Anbu di depannya yang sedang berlutut hormat.
"Hai', Hokage-sama!" jawab keduanya bersamaan, sebelum pergi menggunakan shunsin-nya masing-masing.
Setelah kepergian dua Anbu tadi, orang tua yang diketahui menjabat sebagai Hokage itu memutar kursinya, melihat pemandangan desa yang dilindunginya tersebut. Setelah memandang keluar jendela cukup lama, dia kemudian menghela napas lelah karena memikirkan apa yang baru saja dilaporkan kedua Anbu tadi.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria manggunakan shunsin-nya. Dia memiliki penampilan rambut jabrik berwarna kuning cerah cukup panjang dan memiliki jambang di kedua telinganya. Memakai pakaian kaos biru gelap yang ditutupi oleh rompi jounin dan juga kain berwarna biru yang diikat pada kedua lengannya. Dia menggunakan celana panjang yang berwarna senada dengan kaosnya, lalu tidak ketiggalan sepatu standar shinobi berwarna biru juga.
"Anda memanggil saya, Sandaime-sama?" tanya laki-laki tadi tengah berlutut hormat.
Pria tua tersebut memutar kembali kursinya, kemudian memandang lelaki yang berusia lebih muda darinya itu. "Ya, Minato. Ini tentang Naruto."
Pria yang dipanggil Minato itu segera mengangkat wajahnya dan memasang wajah yang seolah-olah untuk meminta penjelasan.
Melihat raut wajah Minato, Sandaime Hokage yang bernama lengkap Sarutobi Hiruzen, atau ninja yang mendapatkan gelar Professor itu hanya mengembuskan napas lelah, sebelum kemudian mengambil sesuatu dan menyodorkannya kepada Minato.
Melihat itu, Minato kemudian mengambil apa yang diberikan Hiruzen kepadanya. Sesaat kemudian, matanya terbelalak kaget saat mengetahui apa itu. "I-Ini …?!"
"Benar. Kemungkinan besar itu milik Naruto, karena hanya dia dan adiknya yang menggunakan kaos dengan lambang klan Uzumaki di desa ini," lirih Hiruzen.
"Darimana Anda menemukan ini, Sandaime-sama?" tanya Minato dengan nada sedikit khawatir. Bagaimana tidak khawatir? Putra yang dia dan Kushina miliki kemungkinan sedang dalam bahaya, apalagi … Naruto tidak memiliki chakra. Walaupun Kenjutsu dan Taijutsu-nya cukup hebat di usia mudanya saat ini, tetapi tetap saja ... lawannya kemungkinan adalah Anbu Ne suruhan Danzo.
Kenapa Minato bisa yakin kalau yang menyerang Naruto adalah Anbu suruhan Danzo? Yah ..., karena peristiwa ini sudah terjadi berkali-kali, bahkan Naruto bisa selamat karena selalu dilindungi oleh Duo Uchiha—Itchi dan Shisui—. Dan sekarang, Itachi serta Shisui sedang menjalankan misi bersama ... tentu saja, sekarang tidak ada yang menjaga Naruto, jika dia sedang berada dalam masalah.
"Dua Anbu tadi yang melapor kepadaku mengatakan, kalau mereka menemukannya di luar desa. Sobekan kaos ini tersangkut di ranting pohon, dekat dengan danau yang sangat luas."
"Baiklah, saya mengerti. Sandaime-sama, saya juga minta izin untuk mencari Naruto. Saya takut kalau dia sedang terluka parah," ucap Minato dengan tenang. Walaupun terlihat tenang, sebenarnya di hati Minato saat ini …, dia sangat merasa gelisah karena memikirkan keadaan Naruto. Siapa orang tua yang tidak khawatir tentang keadaan anaknya? Walaupun Naruto tidak memiliki chakra, dia tetaplah anak Minato dan Kushina. Bocah itu memunyai darah serta daging dari mereka berdua. Karena itulah, apapun yang terjadi … Minato akan melindungi anak-anaknya. Karena hal itu jugalah, yang merupakan tugasnya sebagai ayah dari keluarga yang dia miliki.
Mendengar permintaan Minato, Hiruzen hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat itu, ninja yang masih berada pada tingkat Jounin itupun segera pergi menggunakan shunsin-nya untuk mencari Naruto ke tempat yang diberitahukan kepadanya.
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Gelap ….
Semuanya gelap ….
Dimana ini ...?
Apa aku sudah ... mati?!
Uhh ..., dapat kurasakan sakit di sekujur tubuhku. Aneh. Padahal aku sudah mati, tetapi kenapa aku masih bisa merasakan sakit, ya?
Kubuka mataku dan kukerjapkan beberapa kali. Yang pertama terlihat adalah cahaya remang-remang. Kukerjapkan kembali beberapa kali untuk menyasuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku ini.
"Kau sudah sadar?"
Aku dapat mendengar sebuah suara yang entah ditujukan kepada siapa. Kuedarkan pandanganku untuk mencari asal suara tadi, dan pandanganku kini terkunci kepada seorang lelaki yang sedang duduk di kursi kayu tidak jauh dari posisiku.
Kuperhatikan penampilan lelaki itu dengan seksama. Rambut berwarna putih yang diarahkan ke belakang, lalu pakaiannya … baju dan celana panjang berwarna hitam dan … jubah berwarna merah? Hmm ..., entahlah. Aku belum pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya. Lalu, sepatu berwarna hitam yang entah apapun itu—juga belum pernah kutemui sebelumnya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah merasa lebih baik?"
Apa dia bertanya padaku? Kualihkan pandanganku ke sekitar … dan tidak ada orang lain selain kami berdua. Yah ..., sepertinya dia bertanya padaku. "Ya, kurasa begitu. Oh, iya, apa Paman yang menolongku?"
Paman itu mengangguk. Kurasa maksudnya … benar. Setelah itu, aku mengucapkan terima kasih, kemudian kuperkenalkan diriku, "Oh, iya, namaku Namikaze Naruto, Paman bisa memanggilku Naruto. Lalu ..., siapa nama Paman?"
"Kau bisa memanggilku Archer."
Hmm, nama apa itu?
"Nama yang aneh."
—Eh?! Dengan cepat aku meminta maaf setelah menyadari apa yang baru saja kukatakan, karena ucapanku tadi yang keluar begitu saja. Tentu saja, begini-begini … aku diajari oleh kedua orang tuaku tentang tata krama yang baik. Tapi, entahlah … aku tidak tahu apa yang selama ini kulakukan sudah termasuk baik atau tidak. Ehehe ….
"Tidak apa-apa. Lagipula, itu bukan nama asliku. Bisa dibilang, itu adalah Kode Kelasku," ujarnya. Senyuman ramah menghiasi wajah berwarna coklat tersebut. Hal itu pun hanya kubalas dengan ber-"oh" saja.
Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru tempat ini, yang bisa kuasumsikan sebagai sebuah rumah. Banyak terdapat perabotan di dalam sini. Pandanganku kembali jatuh kepada Paman Archer. "Kalau begitu ... siapa nama asli Paman?"
"Hmm, begini saja. Besok kau datang lagi saja ke sini. Tenang saja …, rumahku ini tidak jauh kok, dari desamu. Aku juga ingin mendengar ceritamu, kenapa kau bisa di hutan sendirian. Lagipula, ini sudah sore, apa kau tidak dicari oleh orang tuamu?"
Dengan gerakan yang sangat cepat, aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela di sampingku, dan kulihat langit yang sudah berubah warna menjadi oranye. Kurasakan keringat dingin keluar dari tubuhku, dan aku yakin wajahku pasti terlihat pucat sekarang.
"Kau tidak apa-apa, Naruto? Wajahmu terlihat pucat." Paman Archer sepertinya khawatir dengan keadaanku, terlihat jelas dari ekspresinya itu.
Uhh ..., apa benar terlihat jelas, kalau wajahku saat ini sedang pucat? Aku menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Paman. Aku akan segera pulang saja, mungkin saat ini orang tuaku sedang mencariku karena belum kembali."
Aku bangun dari ranjang, tempatku tidur tadi. Kuambil kaosku yang ada di atas meja dekat ranjang, yang telah terkotori oleh noda darah. Lalu kupakai, untuk menutupi tubuhku ini yang sudah dibalut oleh banyak perban.
Kuambil katana-ku yang bersandar di meja dekat ranjang, sebelum berjalan keluar rumah ditemani oleh Paman Archer. Saat sudah di depan rumah, aku memandangnya kembali sambil tersenyum. "Sekali lagi, terima kasih sudah menolongku dan merawatku, Paman Archer!"
"Hmm ..., ya sama-sama. Lagipula, itu bukanlah masalah besar, kau tahu."
"Kalau begitu, sampai bertemu besok, Paman! Jaa ne!"
"Jaa ne!"
Aku mulai berlari menuju Desa Konoha. Kulihat langit di atasku sudah mulai menggelap. 'Gawat, kalau aku tidak segera sampai di rumah mungkin Kaa-chan akan memarahiku habis-habisan, bahkan yang lebih parah, mungkin akan memukuliku …!'
Aku terus saja bersedih dalam hati selama menuju Desa Konoha.
Tentu saja aku bersedih! Aku tidak peduli jika kalian menganggapku cengeng atau apa, ya! Asal kalian tahu, ibuku tidak seperti kebanyakan ibu lainnya, bahkan dia tak akan segan-segan memarahi dan juga menghajar anaknya sendiri, jika mendengar anaknya—yaitu aku—membuat masalah dan tidak mau mendengarkan ucapannya. Membayangkan apa yang akan Kaa-chan lakukan kepadaku saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Hiiyy~
Tap tap tap ….
Tak lama kemudian, aku sudah dapat melihat gerbang Desa Konoha. Tapi, pandanganku terhenti saat melihat siluet seorang lelaki yang sangat aku kenali tengah memandangku dengan ekspresi terkejut sekaligus khawatir di saat yang bersamaan.
Dengan cepat, kulangkahkan kakiku untuk mendekati orang yang telah kuanggap sebagai ayahku itu. Saat sudah ada di depannya aku pun berniat menyapany—
"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terasa sakit? Ap—"
—tapi tidak jadi, karena aku sudah lebih dulu disemprot pertanyaan oleh ayahku dengan sangat cepat …!
"Weehk …! Cukup, Tou-chan, cukup …!" Aku berteriak dengan keras untuk menghentikan pertanyaannya yang kelewat normal tersebut. "Tidak bisakah kau bertanya dengan pelan?"
Ayah yang mendengar protesanku hanya tertawa garing sambil menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin "tidak gatal"!
"Haaahh~ …."
Aku menghela napas dengan keras, membuat ayahku menaikkan sebelah alisnya. "Tidak apa-apa," ucapku ketika melihat wajah ayahku yang terlihat bingung.
"Kalau begitu, aku akan membawamu ke Rumah Sakit. Karena kulihat, lukamu cukup parah."
"Tidak usah, Tou-chan. Lagipula, lukaku sudah diobati, lihat!" Aku menunjuk perban yang melilit di tubuhku.
"Tapi, apa kau yakin, itu sudah tidak terasa sakit lagi?" Ia berkata dengan nada yang masih terdengar khawatir. Saat melihat ekspresinya itu, entah secara sadar atau tidak, bibirku menyungging sebuah senyuman kecil. Aku senang saat tahu kalau ayah masih peduli pada anak yang tidak memiliki chakra sepertiku ini.
"Sudahlah, Tou-chan. Tidak perlu khawatir sampai seperti itu. Aku juga sudah merasa jauh lebih baik. Dan aku ingin segera pulang ke rumah, mungkinKaa-chan sudah menunggu kita terlalu lama." Aku berkata dengan semangat, tentu saja untuk meyakinkannya.
Aku tak bersuara sedikitpun sambil menatap ayah yang diam saja—sepertinya sedang berpikir. Setelah beberapa saat, ayahku mengangguk singkat, menandakan kalau dia meyetujuinya. Kemudian, kami berdua pun berjalan memasuki gerbang desa untuk menuju rumah kami.
Saat di perjalanan, aku bertanya pada Ayah, bagaimana dia tahu kalau aku sedang dalam masalah. Kemudian, ayah pun menjawab, kalau ia diberi tahu Sandaime-Jiji kalau ada Anbu bawahannya yang menemukan sobekan kaos dengan lambang Klan Uzumaki. Jadi, mereka pikir … aku sedang dalam masalah, karena mereka yakin sobekan baju itu adalah milikku.
Mereka yakin bukan karena suatu alasan belaka, karena memang hanya aku dan adikku saja yang meggunakan pakaian dengan lambang klan Uzumaki di desa ini, tentu saja, selain rompi yang dipakai oleh para jounin Konoha. Setelah perbincangan singkat dengan Sandaime-Jiji, ayahku pun meminta izin untuk mencariku ke tempat yang mereka duga, yaitu danau besar di luar desa.
Tapi, karena sudah sore dan belum menemukanku, ayah memutuskan mencariku di daerah lain yang dekat dengan Desa Konoha. Dan ketika ayah lewat di depan gerbang desa, dia tanpa sengaja melihatku akan memasuki gerbang desa disertai banyak sekali perban di tubuhku.
Hmm ..., aku benar-benar tidak menyangka, kalau Tou-chan sangat begitu peduli padaku.
Kami-sama ..., aku sangat berterima kasih, karena Engkau telah memberikan kepadaku keluarga yang masih paduli terhadapku ..., meskipun mereka tahu bahwa aku memiliki kekurangan. Yah, inilah yang benar-benar sangat aku butuhkan.
Walaupun aku dibenci oleh warga desaku sendiri, aku tetap bersyukur karena masih ada keluargaku dan juga orang-orang terdekatku yang sayang serta peduli terhadapku, juga masih menganggap keberadaanku di desa ini ….
Jadi …, inikah arti dari sebuah ikatan …? Benar-benar perasaan yang sangat menghangatkan jiwa. Pikiranku serasa jauh lebih tenang saat memikirkan hal ini. Aku sangat suka dengan perasaan hangat yang jarang sekali aku dapatkan seperti saat ini.
Berkat hal itu juga, aku seperti melupakan akan apa saja yang terjadi pada hari ini. Dan selama perjalanan menuju rumah kami, aku tidak bisa untuk tidak menghilangkan senyum kecil yang terus bertengger di wajahku. Wah, perasaan yang sangat menyenangkan ….
Bersambung
[Author Note]:
Hmm, kembali dengan hasil remake. Banyak banget yang aku ubah dan aku tambahin sebenarnya di chapter awal ini dibandingkan chap pertama dulu.
Yah, mungkin itu aja note dariku saat ini.
Tertanda. [FI. Abidin Ren]. (23/Juli/2020).
