30/Agustus/2020


Ini adalah sebuah Fic yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren.


Shinobi with Magic—

By: Abidin Ren

Summary: Ramalan itu telah lama disebutkan. Hanya tinggal menunggu waktu ... sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap "aib" oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa "tidak suka"-nya kepada gelar "pemimpin", dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kau pilih?

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.

Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Advanture — Fantasy — Friendship — Romance(?).

Pair: Naruto x Shion, Menma x Hinata, Sasuke x Sakura, dan yang lain akan menyusul.

Rated: T+

Warning: Alternative Universe! (AU!), Alternative Reality! (AR!), MAGIC-POWER! OOC(s)(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More. [Mengambil Elemen Kekuatan Dari Fate Series].

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Prologue]


[Chapter 2]: Mereka Berdua Memiliki Satu Kesamaan


Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night UBW Season 2)


Keesokan harinya di kediaman Namikaze.

Di dalam sebuah kamar, seorang bocah yang berumur sekitar 7 tahun sedang tidur dengan nyenyak di atas kasur miliknya yang memiliki ukuran sedang. Dengan kedua tangan yang masih setia memeluk gulingnya, mulut dari bocah itu yang sedikit terbuka pun mengeluarkan suara, mendengkur kecil. Benar-benar menikmati tidurnya.

Tok … tok … tok ….

"Naruto, cepat bangun!" ucap sebuah suara dari balik pintu si pemilik kamar—Naruto. Dari suaranya saja, bisa ditebak kalau itu adalah seorang perempuan. Ketika sudah cukup lama tidak mendapat jawaban dari pemilik kamar tersebut, orang yang berada di balik pintu pun dengan segera membuka pintu kamar itu.

Cklekk ... krieett ….

Pintu itu terbuka dengan suara decitan yang khas, lalu menampilkan seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut berwarna merah sepinggul, serta pakaian berwarna putih dan hijau.

Seketika, alis wanita itu berkedut pelan, menandakan kalau dia sedang kesal karena melihat sang pemilik kamar—yaitu Naruto—masih tidur dengan nyenyak sambil memeluk gulingnya.

Dengan pelan, wanita itu berjalan ke arah Naruto dengan rambut yang sudah melayang-layang mengerikan, dan mata yang sudah berubah menjadi merah seperti layaknya iblis. Ketika sudah sampai di samping kasur, si wanita pun menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan setelah merasa cukup, ia itu pun langsung berteriak dengan keras ….

"BANGUN NARUTO …!"

"WAAA …!"

Naruto yang mendengar teriakan tepat di atas telinganya pun merasa kaget dan karena refleks, ia pun berguling ke samping hingga berakhir dengan dirinya yang jatuh dari atas kasur dengan cukup keras.

Bugh!

"Aduh-duh-duh~" Naruto menatap kesal kepada orang yang telah mengganggu acara tidurnya.

"Tidak bisakah Kaa-chan membangunkanku dengan sedikit lebih lembut?" kata Naruto sedikit meringis kesakitan. Sebelah tangannya mengelus punggungnya yang baru saja berciuman dengan lantai.

"Sudahlah, cepat mandi dan setelah itu sarapan. Kalau tidak, kau akan terlambat ke Akademi," ujar wanita tadi yang ternyata adalah ibu Naruto—yang tak lain dan tak bukan adalah Uzumaki Kushina—, setelah wanita itu kembali ke mode normalnya.

Hm, kenapa Naruto pergi ke Akademi? Jika kalian bertanya seperti itu, tentu saja jawabannya adalah untuk belajar. Yah, meskipun tidak memiliki chakra, Naruto tetap belajar di Akademi karena disuruh oleh kedua orang tuanya. Mereka bilang, agar Naruto tahu dasar-dasar ninja dan dapat melindungi diri jika bertarung dengan seorang ninja. Yah, walaupun begitu, Naruto juga tidak terlalu memper-masalahkan-nya kalau dia harus belajar di Akademi karena Naruto pikir, mengetahui dasar-dasar dari seorang ninja itu juga sangat penting.

Dan jika kalian bertanya kenapa Naruto kemarin tidak berada di Akademi, tetapi malah berada di hutan yang berakhir bertarung dengan para Anbu? Ya, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kemarin di Akademi sedang diadakan latihan praktek menggunakan chakra. Karena itulah, Naruto pikir, dia tidak akan melakukan apa-apa, jadi dia lebih memilih pergi ke hutan untuk melatih Kenjutsu dan Taijutsu-nya agar semakin hebat. Meskipun pada awalnya dia sendiri berpikir untuk bolos dan tidur seharian di rumah, sih. Yah, karena tidak beruntung saja, dia disuruh ibunya untuk kembali ke Akademi, tetapi dia malah pergi ke hutan yang ada di luar desa.

"Baiklah …," jawab Naruto sekenanya. Setelah itu Naruto pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

.

.

.

Setelah beberapa menit mandi, akhirnya Naruto keluar dengan memakai kaos lengan pendek warna biru gelap dengan dibaluti jaket oranye tanpa lengan, dan pada bagian punggung jaketnya terdapat lambang klan Uzumaki, yaitu sebuah pusaran air berwarna merah. Tidak lupa, celana panjang warna oranye yang memiliki saku di kedua sisinya juga ia kenakan. Setelah merapikan pakaiannya dan menata rambutnya yang berwarna merah dengan model jabrik, dia pun mulai melangkah menuju ruang makan ….

Tidak butuh waktu lama untuk Naruto bisa sampai di ruang makan. Dia dapat lihat, bahwa semua anggota keluarganya ternyata sudah duduk di kursi meja makan, yang sepertinya sedang menunggu sesuatu.

"Pagi, Naruto," sapa Minato yang pertama kali melihat kedatangan anak pertamanya tersebut. Kemudian, dia kembali membaca koran pagi yang ada di tangannya.

"Hm, pagi, Tou-chan," balasnya. Naruto kemudian memandang bingung kepada semua anggota keluarganya setelah dia duduk di kursinya. "Apa yang kalian tunggu? Kenapa tidak segera makan?"

"Tentu saja kami menunggumu, Baka Nii-chan!" teriak seorang bocah yang seumuran Naruto dengan kesal, karena sudah dibuat menunggu sedari tadi oleh orang yang dipanggilnya kakak tersebut.

Apa? Kakak? Jika kalian bertanya seperti itu, maka jawabannya …, ya! Bocah tadi merupakan adik Naruto, namanya adalah Namikaze Menma. Bisa dibilang … mereka berdua adalah kembar, karena mereka lahir hanya berselang beberapa menit saja. Mungkin yang membedakan mereka hanya warna rambut, warna kulit dan tanda lahir unik di pipi. Jika Naruto memunyai rambut merah jabrik, kulit putih, tanpa kumis kucing di pipi, maka itu berbeda dengan Menma yang memunyai rambut kuning cerah jabrik, kulit tan eksotis, tetapi memiliki tiga garis kumis kucing di masing-masing pipinya.

Naruto yang mendengar teriakan dari Menma hanya memandang adiknya itu sebentar tanpa berkata apa-apa, kemudian mengalihkan pandangannya pada makanan di depannya, lalu memulai memakan sarapannya. Dan Menma yang melihat Naruto hanya diam saja dan tidak menanggapi ucapannya, langsung mengerucutkan bibirnya. Naruto yang menyadari adiknya sedang kesal, langsung tertawa dengan puas di dalam hati. Menurut Naruto, mengerjai Menma adalah sesuatu yang sangat menghibur bagi dirinya sendiri.

"Ngomong-ngomong ...," kata Minato yang sudah memulai sarapannya, "… tidak seperti biasannya kau bangun terlambat, hm, Naruto?" Pria itu menatap Naruto dengan pandangan heran.

Naruto yang mendengar suara ayahnya langsung kembali sadar, dan sukses membuatnya menghela napas lelah. "Entahlah, Tou-chan. Mungkin gara-gara kejadian kemarin." Bocah itu mengangkat kedua bahunya. Minato yang mendengar itupun hanya mengangguk singkat.

"Lalu, bagaimana dengan lukamu? Apa masih ada yang sakit?" tanya Khusina khawatir sambil memandang luka di tubuh Naruto yang kelihatan masih baru.

"Sudah tidak apa-apa, kok, Kaa-chan. Tubuhku hanya terasa pegal-pegal saja," jawab Naruto sambil memijat leher belakangnya. Dia juga beberapa kali merenggangkan badannya dengan memutar tubuhnya, dan merentangkan kedua tangannya ke samping.

Kushina menyipitkan matanya, kemudian berucap, "Hmph! Kemarin sudah kubilang, 'kan, agar kau langsung kembali ke Akademi?!"

Naruto hanya bisa tertawa canggung saat mendengar itu. Dia melirik ke arah lain sambil menggaruk pipinya dengan gugup menggunakan jari telunjuk kanannya, ketika mendapat ceramah dari ibunya. "Yah …, kau tahu, 'kan, Kaa-chan, kalau kemarin di Akademi itu sedang diadakan latihan praktek menggunakan chakra. Jadi, karena itulah …."

Perkataannya tiba-tiba berhenti. Naruto sendiri hanya bisa menelan ludah dengan kasar saat tidak sengaja melirik ibunya yang matanya sudah bersinar merah, juga rambut merah panjang miliknya yang sudah berkibar-kibar manakutkan di belakang wanita Uzumaki itu.

"Awas saja kalau kau membohongi Kaa-chan lagi, maka …." Wanita itu menggerakkan jari telunjuknya dengan gerakan menebas lehernya

"—Kau mengerti, Naruto?" lanjutnya dengan suara berat, sangat tidak cocok dengan penampilannya sebagai perempuan. Yah, meskipun begitu … itu memang terlihat menakutkan, sih.

Naruto menatap horor akan apa yang dimaksudkan oleh ibunya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh bocah berambut merah jabrik tersebut. Dia meneguk kasar ludahnya sendiri sebanyak yang dia bisa. Setelah itu, Naruto pun mengangguk dengan sangat cepat.

Minato dan Menma hanya tertawa garing saat melihat interaksi kedua anak-ibu tersebut.

Sang adik pun menatap kakaknya. "Makanya, Naruto-Nii, jika tidak ada Itachi-Nii dan Shisui-Nii, jangan pergi keluar desa. Berbahaya, kau tahu-ttebayo?!"

Tidak mau ketinggalan, Menma langsung ikut menasehati kakaknya itu sambil menunjuk-nunjuk Naruto menggunakan sumpit makannya. Tidak sopan memang kelakuannya, tetapi begitulah Menma.

Sedangkan Naruto hanya mengangkat kedua bahunya, lalu dengan santai berkata, "Mana kutahu kalau Itachi-Nii dan Shisui-Nii sedang menjalankan misi bersama. Lagipula ..." Naruto kemudian tersenyum bangga, sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan sebelah tangannya, "... kau tidak perlu khawatir, Otouto, Kakakmu ini sudah kuat, tahu!"

Menma sendiri hanya mengibas-ibaskan sebelah tangannya, tidak peduli dengan ucapan kakaknya. "Ya, ya …."

"Tapi memang begitu kenyataanya, 'kan, Menma?"

"Terserah apa katamu-ttebayo."

"Menmaaaa!"

Sementara itu, Minato dan Kushina hanya tersenyum melihat interaksi dari kedua anak mereka tersebut.

Sungguh …, keluarga yang sangat harmonis ….

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Setelah menghabiskan sarapan mereka masing-masing, Naruto dan Menma pun berangkat ke Akademi.

"Kami berangkat dulu, Kaa-chan, Tou-chan!" kata keduanya secara bersamaan.

"Ya. Hati-hati di jalan, Naruto, Menma!"

Saat di jalan menuju Akademi, Naruto dan Menma selalu melakukan perbincangan kecil untuk menghilangkan kebosanan mereka. Bahkan, sesekali Naruto juga menjahili Menma, dan itupun sukses membuat Menma kesal, tetapi kekesalannya itu hanyalah sementara, karena dia tahu …, bahwa Naruto melakukan itu hanyalah sebatas candaan saja.

Saat mereka berdua sudah sampai di jalanan pasar Konoha, tiba-tiba suasana di tempat itu langsung berubah. Tempat yang biasanya setiap hari selalu ramai itu tiba-tiba berubah menjadi sepi, tatkala orang-orang melihat dua bocah yang mereka anggap aib bagi desa; Naruto, dan juga Monster; Menma.

Jika kalian bertanya, kenapa Menma dianggap monster? Yah, karena Menma sebenarnya adalah seorang Jinchuriki dari Kyuubi no Kitsune. Di dalam tubuh Menma terdapat setengah chakra dari Kyuubi, yang disebut-sebut sebagai yang terkuat di antara para Bijuu. Para penduduk mulai takut dan menganggap Menma sebagai monster. Mereka mengira, kalau Menma tidak akan bisa mengendalikan chakra Bijuu yang ada di dalam tubuhnya, sehingga dia bisa saja akan lepas kendali dan menghancurkan desa ... sama seperti tragedi yang terjadi 7 tahun lalu ….

.

..

Ya, 7 tahun yang lalu ada sebuah tragedi; sebuah bencana besar bagi Desa Konoha. Di mana pada saat itu, sang Bijuu terkuat—Kyuubi—lepas kendali. Tidak ada warga yang tahu bagaimana hal tersebut bisa terjadi, hanya para petinggi dan beberapa ninja hebat yang mengetahui pasti tentang awal dari masalah tersebut. Yang diketahui oleh warga desa hanyalah, Kyuubi lepas di saat Kushina sedang melahirkan anaknya.

Banyak ninja hebat yang gugur pada saat itu ketika mereka berusaha menghentikan amukan Sang Ekor Sembilan. Banyak juga rumah yang hancur. Intinya, Konoha benar-benar dalam masalah besar pada saat itu; sedang berada dalam keadaan yang sangat kritis.

Tak berselang lama, [Sang Kilat Kuning dari Konohagakure] Namikaze Minato, datang dan berusaha menghentikan Kyuubi yang mengamuk. Karena dia tidak ingin terdapat banyak lagi korban yang berjatuhan, maka dia pun memindahkan sang Bijuukeluar dari desa menggunakan jutsu Hiraishin miliknya.

Karena Minato yang saat itu juga sudah hampir kehabisan tenaga—tidak diketahui alasannya kenapa—, maka dia pun berencana untuk segera menyegel kembali Kyuubi. Tapi, dia mendapatkan sedikit masalah. Pria ber-marga Namikaze itu bingung harus menyegel Kyuubi ke dalam tubuh siapa. Kushina—istrinya, saat itu dalam keadaan yang sangat lemah, karena itu, dia tidak mungkin menyegel seluruh chakra Kyuubi ke tubuh wanita Uzumaki tersebut. Tapi, bagaimana pun juga, seorang Jinchuriki akan meninggal, jika Bijuu yang ada di dalam tubuh mereka sudah keluar. Pria itu bimbang, menyegel seluruh kekuatan Kyuubi ke dalam tubuh Kushina bisa membuatnya meninggal, tetapi di sisi yang lain, tidak segera mengembalikan Kyuubi ke tubuh wanita itu juga bisa membunuhnya.

Setelah memantapkan hatinya, dia pun memilih untuk menyegel setengah kekuatan Kyuubi ke tubuh Kushina, dan setengahnya lagi yang lain disegel ke dalam tubuh anak keduanya, Menma. Minato tidak bisa membiarkan Kushina mati begitu saja, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tapi di sisi yang lain, dia juga menyesal karena harus membuat salah satu anaknya nanti akan mendapat beban yang sangat berat.

Ya, Minato sadar akan hal itu. Dia tahu seperti apa kehidupan seorang Jinchuriki.

—Hinaan, cacian, pandangan yang berbeda, tidak memiliki teman, dan segala hal buruk lainnya adalah apa yang akan mereka temui. Tidak ada hal baik yang didapat jika kau menjadi Jinchuriki, bahkan meskipun kau adalah anak dari seorang Kage sekalipun. Dan pria Namikaze yang hanya memiliki tingkat Jounin itu mengerti akan hal tersebut.

Minato paham hal itu, karena dia tahu seperti apa kehidupan istrinya dulu, saat perempuan Uzumaki berambut merah itu masihlah seorang gadis. Kehidupan yang sangat keras selalu dilalui Kushina sejak dia mulai menjadi Jinchuriki.

Lalu sekarang, Minato akan membuat Menma merasakan hal yang sama seperti dengan apa yang dulu pernah ibunya rasakan. Pria berambut kuning panjang itu merasa, dia telah gagal sebagai ayah; gagal dalam melindungi keluarganya.

Setelah pengambilan keputusan yang berat itu, Minato pun melakukan jutsu[Hakke no Fuin Shikki], untuk menyegel setengah chakra Kyuubi kembali kepada Kushina, dan setengahnya yang lain ke dalam tubuh anak keduanya, yaitu Menma.

Setelah kejadian itu, seperti apa yang Minato khawatirkan, Menma mendapat perlakuan buruk setiap harinya dari warga desa. Ya, itu semua dikarenakan Menma yang telah menjadiJinchuriki dari setengah chakra Kyuubi.

Walaupun begitu, Menma dan Naruto sebenarnya tidak tahu akan masalah hal ini. Ya, Minato dan Kushina menyembunyikan fakta kepada kedua kakak-adik itu, bahwa Menma adalah seorang Jinchuriki. Kedua pasangan suami-istri itu belum bisa menceritakannya. Tapi, mereka berdua berjanji akan menceritakan kebenaran yang telah terjadi di masa lalu kepada semua anak mereka. Yah, kedua ninja hebat itu hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk menceritakannya. Dan sebelum saatnya tiba, keduanya akan tetap terus menyembunyikan "alasan" mengapa mereka memilih Menma untuk menjadi Jinchuriki ….

..

.

Menma yang merasa adanya perubahan pada sekitarnya, langsung melirik ke sekelilingnya … dan benar saja, semua orang yang ada disana sedang memandangi mereka dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang memandang marah, jijik, takut dan lain-lain.

"Hei, Nii-chan. Kau tidak merasa kalau kita sedang menjadi pusat perhatian di sini-ttebayo?" kata Menma kepada Naruto dengan pelan.

Naruto yang mendengar bisikan Menma langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah sebentar, kemudian kembali memandang lurus ke depan.

"Sudahlah, Menma, abaikan saja. Bukankah setiap hari kita memang selalu dipandang seperti itu?"

Masih dengan berjalan, Naruto hanya menanggapi hal tersebut dengan santai, seolah-olah … hal itu bukanlah sesuatu yang penting bagi dirinya.

"Aku sudah mencoba untuk mengabaikannya seperti apa yang kau lakukan, Nii-chan. Tapi, tetap saja tidak bisa," keluh Menma. Kepalanya menunduk dalam, sehingga membuat poni rambutnya menutupi kedua safir itu yang tampak sedang sedih.

Naruto yang mendengar keluhan Menma hanya bisa tersenyum kecil. Dia menatap adiknya dengan sorot mata maklum. Yah, bagaimana pun juga, dirinya adalah kakak, jadi sudah seharusnya dia menyemangati adiknya agar tidak perlu untuk terlalu bersedih.

"Tenang saja, Menma, aku selalu di sampingmu, menjagamu sebagai seorang Kakak tentunya." Naruto melemparkan senyuman pada Menma, dan sang adik pun ikut tersenyum setelahnya.

Bruuk!

"Aaww …," rintih Menma pelan saat tiba-tiba ada seorang wanita yang—sepertinya sengaja—menabrak Menma hingga membuatnya jatuh.

"Apa yang kau lakukan, Monster?! Lihatlah! Barang belanjaanku jadi berantakan!" bentak wanita tadi yang ditujukan kepada Menma. Sedangkan Menma yang mendengar bentakan itu hanya bisa duduk dan menunduk dalam diam, tidak berani menatap raut wajah marah dari wanita di depannya.

"Maaf, Bibi. Sepertinya yang menabrak duluan adalah Bibi." Naruto mencoba mengutarakan pendapatnya sesopan mungkin, agar tidak menambah kemarahan dari wanita di depannya ini. Tapi, sepertinya Naruto harus membuang pikiran itu jauh-jauh karena wanita tersebut terlihat semakin marah setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Naruto barusan.

"Diam kau, Aib Desa! Kalian berdua sama saja! Sampah bagi Desa Konoha!" Wanita tadi memandang Naruto dan Menma secara bergantian dengan sorot mata marah.

"Cepat kalian pergi dari sini! Aku sudah muak melihat orang seperti kalian!" lanjut wanita tadi dengan nada sinis.

Naruto yang memang tidak berniat untuk membalasnya, langsung saja menarik sebelah lengan Menma untuk bangun, dan mengajak adiknya tersebut untuk pergi dari tempat itu. Keduanya pun terus berjalan, tidak memedulikan hinaan dan cacian dari warga desa yang saat itu sedang ada di pasar.

"Dasar. Apa, sih, yang bisa kalian lakukan di desa ini, heh?!"

"Benar. Kalian itu tak ada gunanya bagi desa ini, tahu tidak, hah?!"

"Aib dan Monster, kalian sama saja! Sampah! Dan sampah sama sekali tak ada gunanya, kalian paham?!"

"Cepat pergi! Kalau bisa mati saja, itu juga lebih bagus! Desa Konoha bisa sedikit lebih mengurangi jumlah sampahnya. Hahaha …!"

Mulai terdengar teriakan dari para warga dengan maksud mencemooh Naruto dan Menma, bersamaan saat kedua adik-kakak itu mulai meninggalkan tempat tersebut. Adik-kakak itu terus berjalan dengan kepala menunduk. Meskipun telinga mereka benar-benar panas saat mendengar berbagai ucapan pedas dari warga desa, mereka tetap mencoba untuk terus berjalan tanpa membalas sama sekali. Keduanya tahu, bagaimana pun mereka bicara, seperti apapun mereka membantah; ucapan mereka hanya seperti angin lalu bagi orang-orang di Desa Konoha. Benar, tidak ada yang mau mendengarkan keduanya, jadi karena itulah, Naruto dan Menma memang tidak pernah berniat untuk membalasnya, bahkan meski jika hanya sekalipun saja!

"Jika saja kedua orang tua kalian bukanlah Pahlawan Desa Konoha, aku yakin … kalian berdua pasti sudah diusir oleh Sandaime-sama!"

Deg!

Tiba-tiba hati Naruto entah mengapa terasa sakit sekali saat mendengar perkataan terakhir yang diucapkan oleh salah seorang warga. Mengalihkan pandangannya pada adiknya, dapat bocah berambut merah jabrik itu lihat, bahwa Menma sudah mengeluarkan air mata dari kedua bola mata safirnya dengan sangat deras. Raut wajah Menma terlihat menyedihkan. Wajahnya tertekuk sedih, bersamaan dengan tetes demi tetes air mata yang terus keluar melewati pelupuk matanya tersebut. Hanya melihat itu saja, entah mengapa … Naruto seperti bisa merasakan juga, tentang apapun rasa sakit yang kini sedang menyelimuti hati adiknya.

Seketika itu juga, emosi Naruto langsung naik. Kepalanya tertunduk dengan gigi-giginya yang bergemeletuk dengan keras. Matanya memerah, dan satu tetes butiran air pun menggantung di pelupuk mata kanannya. 'Kenapa ...? Padahal sudah kucoba untuk mengabaikan semua ucapan dan hinaan dari warga desa ...!'

Jari-jari tangan kanannya terkepal dengan kuat, hingga kuku-kuku jarinya tampak memutih. Dia menutup erat kedua matanya, membuat satu air mata jatuh mengalir dengan mulus melewati pipi putihnya.

'—Tapi, kenapa?! Kenapa saat aku melihat mereka menghina dan membuat Menma menangis, aku tidak bisa menahan amarahku?!' batin dari bocah Namikaze berambut merah jabrik itu. Entah mengapa, dia merasakan rasa nyeri di bagian dada kirinya tatkala mengingat semua raut sedih Menma.

Naruto menggigit bibir bawahnya untuk mencoba meredam emosinya. Dia juga menghirup udara dan mengembuskannya secara teratur, sehingga dapat terlihat bahwa amarahnya mulai menurun. Dia kembali membuka kedua matanya, hingga menampakkan dua safir yang sangat indah, meskipun di saat yang bersamaan, cahaya mata itu juga tampak sedikit redup daripada yang biasanya.

Setelah itu, Naruto pun menarik lengan Menma kembali dan berlari dengan cepat menuju arah tujuan awal mereka, yaitu Akademi.

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Di dalam salah satu kelas Akademi, terlihat seorang pria dewasa yang mamiliki luka sayatan horizontal pada hidungnya sedang berdiri di depan kelas. Namanya adalah Umino Iruka. Dia sedang menuliskan sesuatu di papan tulis, dan sesekali juga menjelaskan materi di buku yang saat ini pria itu pegang.

Iruka membalikkan tubuhnya, sehingga menghadap pada semua anak didiknya. "Nah, jadi begini, Anak-anak. Dulu—"

Penjelasan Iruka tiba-tiba terhenti ketika pandangan kedua matanya jatuh pada "seonggok" tubuh yang sedang menidurkan kepalanya di atas kedua tangannya yang tertekuk di atas meja.

Sebelah alis Iruka berkedut dengan pelan, menandakan kalau dia saat ini tengah kesal. Dengan pelan, dia berjalan ke arah tempat tubuh bocah tadi yang memiliki rambut kuning jabrik. Sementara murid-murid disana hanya memandang bingung kearah Sensei mereka itu.

Saat sudah sampai di depan meja bocah tadi, Iruka pun mengangkat tangan kanannya cukup tinggi, kemudian …

Braakk!

"WAAA ...!"

"Kyaaa!"

… menggebrak meja bocah tadi dengan sangat keras, hingga membuat bocah berambut kuning jabrik—yang ternyata adalah Menma—bangun dari tidurnya dan berteriak karena ada yang mengagetkannya.

Sebenarnya tidak hanya Menma sih, karena bocah perempuan di samping kanan Menma, yang memiliki rambut berwarna merah muda sepunggung, juga kaget "berkat" kelakuan gurunya tersebut. Yah, karena dia saat itu sedang berbicara dengan teman perempuannya berambut pirang sambil menghadap ke belakang, karena posisi temannya itu duduk di belakangnya, jadi otomatis bocah perempuan berambut pink itu tidak tahu kalau Sensei-nya sedang menghampiri mejanya.

Sementara bocah laki-laki di samping kiri Menma, yang memiliki rambut raven dengan model pantat ayam, hanya melirik sebentar bocah yang sudah dia anggap sebagai teman sedari dirinya kecil itu. Lalu, bocah itu pun kembali memandang ke depan dengan gaya yang masih sama seperti tadi, menutupi mulutnya dengan kesepuluh jari yang dirapatkan di sela-sela jarinya.

Kembali pada Menma.

Dia saat ini hanya memandang ke arah Sensei-nya dengan pandangan bingung. Kepalanya dimiringkan sedikit ke samping, juga satu alis yang diangkat sebelah. "Ada apa, Iruka-Sensei?"

"Ha ha ha …," tawa Iruka datar, "… 'ada apa?', katamu?! Cepat keluar dan berdiri di samping pintu kelas!" perintah Iruka dengan tegas. Sebelah tangannya menunjuk pada pintu kelasnya yang memiliki warna oranye.

"Hah?! Kenapa aku harus melakukan itu?!" teriak Menma tidak terima. Lalu, bocah Namikaze itu menatap Iruka dengan kesal. Dia yang tadi enak-enak sedang tidur tiba-tiba langsung dibangunkan, dan sekarang … dia malah disuruh untuk berdiri?! Bukankah itu tidak masuk akal?! Kurang lebih, seperti itulah arti dari raut wajah Menma. Err, ya … sepertinya, itu memang salahmu sendiri, Menma -_-.

Bocah berambut kuning jabrik itu bersidekap dada. Matanya melirik ke samping dengan raut wajah sebal. Menma pun melanjutkan, "Aku tidak mau!"

Iruka mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat. Muncul sebuah perempatan pada pelipis pria itu, menandakan kalau dia benar-benar sangat marah saat mendengar balasan dari bocah di depannya itu.

"Cepat lakukan!" teriak Iruka, "Itu hukumanmu karena berani tidur saat aku mengajar di kelas!"

Bagaimana pun juga, dirinya adalah wali kelas dari Menma, tetapi … bocah itu malah berani tidur saat dirinya mengajar? Yah, Iruka berpikir, mungkin dia harus sering-sering memberi hukuman kepada anak didiknya yang satu ini.

Menma yang sudah siap mengangkat jari telunjuk tangan kanannya dan berniat untuk protes kepada Iruka, langsung berhenti begitu saja karena kehilangan kata-kata ketika mendengar lanjutan perkataan gurunya. "Ta-Tapi, kan …."

"Sudahlah, atau kau mau kuberikan hukuman yang lebih berat, hm?!" Muncul sebuah seringai kejam di wajah Iruka.

Glek!

Menma hanya bisa menelan ludahnya saat mendengar "penawaran" yang diberikan oleh Sensei-nya itu. Bocah itu terdiam seribu bahasa; tidak bisa menemukan kalimat yang bagus untuk membantah apa yang Iruka katakan padanya barusan.

"Sudahlah, Sensei, tak usah terlalu keras pada Menma …."

Iruka mengalihkan pandangan matanya ke arah asal suara tadi yang berasal dari bagian belakang. Dapat dia lihat, seorang bocah berambut merah jabrik yang bersuara tadi sedang duduk di bagian tengah dari jejeran tempat duduk, bersama seorang bocah laki-laki berambut hitam model daun nanas yang raut wajahnya selalu terlihat mengantuk. Dia ada disamping kiri Naruto—nama bocah berambut merah jabrik tadi—, dan namanya adalah Nara Shikamaru. Juga, ada perempuan berambut pendek dengan warna indigo yang ada di samping kanannya. Mata amesthist milik bocah bernama Hyuuga Hinata tersebut masih setia menatap ke arah Menma, dan jangan lupakan wajahnya yang sedikit memerah pula.

"Mungkin saja Menma sedang lelah sehingga dia tertidur di kelas. Benar, 'kan, Menma?" tanya Naruto kepada adiknya. Sang kakak sendiri hanya tersenyum ke arah Iruka.

Pria itu kembali memandang sesaat pada Menma yang mengangguk cepat berulang kali, lalu Iruka pun menghela napas lelah. Dia pun berucap, "Dengar, ya, Naruto. Aku tidak peduli, meskipun ia ini adalah adikmu. Jika ada salah satu muridku yang melakukan kesalahan, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghukumnya."

Iruka memandang satu persatu kepada semua anak didiknya itu, kemudian sorot matanya jatuh dan berhenti kepada Naruto, "Jika kau masih mau membela adikmu, maka kau juga akan aku hukum, mengerti?!" tegas pria bercodet tersebut.

'Kenapa aku malah jadi kena getahnya? Aku kan cuma ingin membantu Menma,' batin Narutober-sweatdropria.

"Eerr, kurasa tidak perlu, Iruka-Sensei. Hehehe," lanjutnya sambil cengengesan. Dia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil membungkukkan badannya sedikit ke depan secara berulang kali. Setelah itu, dia pun menyadarkan kepalanya ke kursi kayu di belakangnya dengan tangannya yang dia gunakan sebagai bantalan. Matanya melirik ke segala arah gugup, sedangkan mulutnya bergerak-gerak seperti bersiul-siul, meskipun sebenarnya tidak ada suara yang keluar sekalipun.

Menma yang melihat kelakuan kakaknya pun sweatdrop seketika. 'Dasar plin-plan,' batinnya kesal. Padahal tadi dia ingin membantu, tetapi nyatanya sekarang …?! Si Rambut Kuning itu pun menghela napas ringan. Dia heran akan sifat kakaknya ini.

"Hm, hm, baguslah kalau kau mengerti," ujar Iruka sambil mengangguk pelan beberapa kali, dan jangan lupakan kedua matanya yang tertutup, seolah-olah dia benar-benar paham akan keadaan muridnya itu. Tapi sesaat kemudian, dia tesentak karena teringat sesuatu, "Oh, benar juga …."

Iruka kembali memandang Naruto, kali ini dengan senyum iblis.

Naruto yang melihat senyuman dari gurunya itu, entah mengapa merasakan kalau bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. 'Sepertinya … aku merasakan firasat buruk akan datang padaku, nih,'batin si Namikaze Muda tersebut.

"Naruto, karena kemarin kau membolos dari Akademi, kau juga kuhukum dengan berdiri di luar kelas. Kalian berdua, cepat lakukan! Kalau tidak ..." senyum Iruka berubah menjadi seorang psycopat, "... kalian berdua akan kulaporkan kepada 'IBU' kalian~"

GLEK!

Naruto dan Menma menelan ludah mereka sendiri sebanyak yang mereka bisa saat mendengar ancaman dari Iruka. Demi kolor ayah mereka sendiri, mereka berdua bersumpah lebih memilih melakukan hukuman apapun daripada harus dilaporkan kepada ibu mereka!

"AKAN KAMI LAKUKAN, SENSEI!" teriak mereka berdua bersamaan. Setelah itu, keduanya pun langsung berlari dengan cepat keluar kelas.

SREEET … BRAAAKK!

Iruka hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas lelah akibat melihat kelakuan dari kedua adik-kakak itu. Pria itu melirikkan matanya kepada semua anak didiknya yang cuma bisa terbengong karena melihat perbuatan dua bocah Namikaze tadi.

"Baiklah, mari lanjutkan palajarannya!"

"HAI', SENSEI!"

Setelah kejadian absurd tadi, pelajaran di salah satu kelas dari Akademi itu pun kembali berlanjut dengan tanpa adanya dua Namikaze muda tadi untuk mengikuti materi yang diajarkan oleh Umino Iruka.

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Sore hari di Desa Konoha.

Oke, mungkin ini hari terburuk bagi Menma. Sebenarnya untuk Naruto juga sih, meskipun dia hanya ikut terseret saja dikarenakan mencoba melindungi Menma.

Bagaimana tidak? Saat pagi hari mereka sudah mendapatkan masalah di pasar, lalu saat di Akademi tadi juga. Yah, ini memang hari kesialan bagi dua adik-kakak tersebut.

Saat ini Naruto dan Menma sedang duduk di jembatan kecil di pinggir sungai yang ada di dalam Desa Konoha, sambil memandang matahari sore yang hampir tenggelam. Naruto di kanan, sedangkan Menma di kiri. Kaki mereka dibiarkan bergelantungan hingga masuk ke dalam air sampai sebatas mata kaki.

"Ada apa? Kenapa kau terlihat murung?" tanya Naruto sambil memperhatikan raut wajah milik Menma. Dia mengangkat sebelah alisnya saat melihat bocah kuning jabrik itu tak kunjung bersuara juga. Naruto menghela napas sebentar, "Kau kenapa, sih, Menma?"

Menma menggeleng pelan. "Tidak ada, Nii-chan. Aku hanya memikirkan sesuatu saja," jawab Menma. Matanya memandang matahari sore di depannya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.

Naruto terdiam ketika mendengar itu, lalu tak berselang lama, dia pun tersenyum jahil sambil mengerling ke arah adiknya. "Hee~, apa kau sedang memikirkan hutangmu pada Paman Teuchi?"

Menma melirik Naruto sambil berdecak sebal. "Tentu saja bukan itu! Cih, dasar, kau memang menybalkan, Toping Ramen!" teriak Menma kesal disertai mengejek nama milik kakaknya.

"Oi, oi, namamu juga toping ramen, apa kau lupa, hah?!" protes Naruto tidak terima. Dan hal itu pun hanya ditanggapi Menma dengan tertawa gaje. Si bocah berambut merah menepuk dahinya pelan, heran akan adiknya ini, "Ya ampun~"

"Hah …, sudahlah, tak usah membahas itu. Aku sebenarnya sedang memikirkan perkataan dari warga desa tadi pagi," kata si kuning jabrik, lalu dia memandang air sungai di bawahnya.

Kilasan ingatan miliknya tentang segala hinaan dari warga desa kembali muncul. Naruto yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti. Menma pun melanjutkan, "Apa benar rupaku sangat buruk, sampai warga desa memanggilku monster?" Menma memandang pantulan dirinya di air sungai yang ada dibawahnya.

Rambut kuning, wajah bulat, tanda lahir kumis kucing, warna kulit tan dan semua ciri manusia normal lainnya. Tidak ada yang aneh, dan semua juga tampak normal. Tapi, kenapa warga desa menganggap dirinya sebagai monster?

—Yah, kurang lebih, hampir seperti itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh Menma.

Wajah Naruto menggelap saat mendengar apa yang adiknya ucapkan barusan. Tanpa berkata permisi sama sekali, dia pun memukul kepala kuning jabrik yang ada di sebelah kirinya itu.

Duaagh!

"Ittaaaaiii!"

"Dasar, Baka-Otouto, jangan pernah mengatakan itu lagi. Apa kau lupa kalau kita ini kembar? Itu sama saja kau menghinaku jelek, kau tahu?!" teriak Naruto marah, sesaat setelah dia berhasil memukul kepala adiknya.

Masih dengan meringis kesakitan, raut wajah bocah kuning itu pun tiba-tiba tampak sadar akan sesuatu. "Eh? Benar juga. Kalau begitu, apa alasan mereka menyebutku monster?"

Naruto memandang langit sambil memegang dagunya. "Hmm ..., entahlah. Saat kita tanya pada Tou-chan dan Kaa-chan, mereka juga selalu mengalihkan pembicaraan seperti ada sesuatu yang sengaja mereka tutupi."

Naruto mencoba mengingat kembali semua kejadian yang telah berlalu di dalam hidupnya, "Kalau para warga desa memanggilku aib, sih, aku paham karena aku tidak memiliki chakra. Tapi, kalau mereka memanggilmu monster …." Bocah berambut merah itu langsung terdiam ketika menemui jalan buntu. Dia bingung.

Menma hanya menatap dalam diam pada kakaknya yang sedang berpikir.

Setelah beberapa saat berpikir, Naruto tiba-tiba tersentak seperti menyadari sesuatu. Dia menepuk telapak tangan kirinya menggunakan kepalan tangan kanannya. "Oh! Apa mungkin mereka memanggilmu seperti itu karena kau dekat denganku, yang merupakan aib desa ini? Kalau memang itu alasannnya, kau sebaiknya jangan dekat denganku lagi, Menma," ujarnya dengan penuh percaya diri. Dia mengangguk beberapa kali dengan mata yang tertutup, sedangkan kedua tangannya bersedekap di depan dada.

'Keren juga poseku saat ini, ya,' lanjutnya dalam pikiran secara nista.

Buaagh!

"Itte-tte. Apa yang kau lakukan, Otouto?!"

"Sekarang kita impas-dattebayou," gumam Menma setelah memukul kepala kakaknya. Dia meniup kepalan tangan kanannya yang mengeluarkan sedikit asap, menandakan betapa kerasnya dia tadi memukul.

Naruto memandang Menma sengit. "Jadi maksudmu, kau balas dendam karena aku memukul kepalamu tadi, hah?!"

Menma memandang Naruto sambil menghela napas. "Tidak, bukan itu. Maksudku, jangan pernah mengatakan itu lagi. Kita ini saudara …, mana mungkin aku menjauhimu hanya karena alasan tidak masuk akal seperti itu. Lagipula …" Menma tersenyum, kemudian memukul pelan bahu kiri Naruto dengan kepalan tangan kanannya,

"… jika aku dipanggil monster hanya karena dekat denganmu, bagaimana dengan Sasuke, Sakura, Shikamaru dan teman-teman lainnya yang juga dekat denganmu. Kenapa warga desa tidak menyebut mereka monster? Dan kenapa hanya aku saja yang dipanggil begitu, hm?"

Naruto terdiam sesaat, memikirkan perkataan dari adiknya. Lalu, tidak lama setelah itu, dia pun menyunggingkan senyum kecil untuk menanggapi perkataan Menma barusan. "Heeh~?! Aku tak menyangka, kalau adikku bisa berkata seperti itu juga, ya …."

"Tentu sa—tunggu dulu. Jadi kau pikir, selama ini aku bodoh hingga tidak bisa berkata keren seperti tadi, hah!?"

"Hmm, begitulah~"

"Awas kau, Naruto-Nii!"

"Hahahaha ...! Oke, oke, aku minta maaf. Ahaha …!"

Naruto berhenti tertawa, kemudian memandang serius matahari yang hampir tenggelam. "Tapi yang jelas, Menma, mungkin karena kita masih kecil, Tou-chan dan Kaa-chan menyembunyikan sebuah rahasia dari kita. Dan aku yakin, suatu saat nanti, kita pasti akan mengetahui sendiri rahasia itu."

Menma menggangguk pelan, yang kemudian ia juga memandang matahari di depannya secara serius. "Ya, aku juga percaya, kalau kedua orang tua kita pasti punya alasan tersendiri untuk menyembunyikan sesuatu dari kita berdua. Dan mungkin …, jika masa-nya telah tiba, Tou-chan dan Kaa-chan pasti akan memberitahu sendiri kepada kita atas semua kebenaran ini."

Keduanya pun saling terdiam cukup lama. Menma masih memandang matahari sore di depannya, tetapi pandangannya kink mulai melembut dan sudut bibirnya pun sedikit terangkat. Dia mulai berkata pelan, "Naruto-Nii, terima kasih …."

Naruto melirikkan matanya pada adiknya yang duduk di sebelah kirinya itu. "Untuk apa?"

"—Terima kasih, karena telah menjadi kakak yang hebat bagiku."

Naruto sedikit tersentak setelah dirinya mendengar perkataan tulus dari Menma, dan tak berselang lama, dia mulai terkekeh pelan. Kemudian, Naruto menarik leher Menma dengan menggunakan lengan kirinya, lalu mengacak-acak rambut kuning jabrik milik adiknya itu dengan sedikit keras menggunakan tangan kanannya,

"Ya. Dan … terima kasih juga untukmu, karena telah menjadi adik yang mau mendengarkan semua ucapan dari kakak yang payah sepertiku ini …."

Keduanya pun tertawa bersama sambil menikmati momen yang belum tentu dapat mereka berdua rasakan lagi.

Sungguh, hubungan adik-kakak yang saling melengkapi ….

Bersambung


[Abidin's Note]:

Yo! Aku kembali! Sekarang aku update untuk cerita yang ini dulu. Yah, aku update-nya itu giliran, jadi tergantung pas dapet bagian cerita apa aja yang bakal aku ketik. Meskipun, mungkin untuk cerita ini yang akan lebih sering aku update, sih, karena ya … cerita ini yang sudah jelas alurnya mau kubawa ke mana aja. Oke, untuk selanjutnya, aku mau update cerita The Genius Magic Student. Entah kenapa banyak banget yang nungguin cerita itu. Padahal, aku sendiri gak terlalu yakin, kalau cerita yang itu bagus atau enggak daripada ceritaku yang lain. Mungkin cuma itu yang dapat aku sampaikan. Oke, sekian.

Terima kasih kepada para author dan reader yang sudah mau menyempatkan waktu sebentar untuk memberi review di ceritaku ini. Entah itu yang memberi dukungan ataupun cuma ninggalin jejak aja. Gak papa, terima kasih pokoknya. Lalu, terima kasih juga kepada silent reader yang sudah mau menyempatkan waktu untuk membaca cerita kecilku ini. Akhir kata, see you in the next chapter, Brother and Sister!

Special Thanks to Allah SWT.

Tertanda. [Abidin Ren]. (30/Agustus/2020).