7/September/2020


Ini adalah sebuah cerita fiksi yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren.


Shinobi with Magic—

By: Abidin Ren

Summary: Ramalan itu telah lama disebutkan. Hanya tinggal menunggu waktu ... sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap "aib" oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa "tidak suka"-nya kepada gelar "pemimpin", dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kaupilih?

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.

Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Advanture — Fantasy — Friendship — Romance(?).

Pair: Naruto x Shion, Menma x Hinata, Sasuke x Sakura, dan yang lain akan menyusul.

Rated: T+

Warning: Alternate-Reality! (AR!), All-Human! (AH!), MAGIC-POWER! OOC(s)(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More. [Mengambil Elemen Kekuatan Dari Fate Series].

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Prologue]


[Chapter 3]: Bocah Itu Ternyata Memiliki Energi Sihir


Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night: UBW Season 2)


Pagi hari di Akademi.

Tap! Tap! Tap!

Terdengar suara gaduh di lorong kelas Akademi. Suara tersebut terdengar mirip seperti suara dari orang yang sedang berlari. Karena suara tersebut yang terdengar cukup keras, tentu saja hal itu membuat para penghuni kelas lain mengalihkan perhatian mereka ke arah jendela yang menuju lorong kelas.

Tap! Tap! Tap! Sreet ... braakk!

Setelah munculnya suara pintu kelas yang didobrak dari luar, terlihatlah dua bocah Namikaze—Naruto dan Menma—yang sedang mengatur napas mereka yang tersenggal-senggal. Keringat mengalir turun dari wajah mereka, bahkan baju mereka terlihat basah di beberapa bagian. Hal tersebut pun tak luput membuat beberapa teman sekelas mereka memandang bingung keduanya. Ada juga bocah yang menggerutu sebal, karena kejadian tadi mengganggu tidurnya.

Menma mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas untuk mencari seseorang. Saat dirinya tidak menemukan orang yang dia cari, ia menghela napas lega. "Syukurlah …, ternyata Iruka-Sensei belum datang," ucap si bocah berambut kuning jabrik itu sambil mengelap keringat yang mengalir di dagunya menggunakan punggung tangan kanannya.

Naruto yang berada di samping Menma pun mendelik kesal kepada adiknya itu, sebelum kemudian memukul pelan kepala kuning jabrik itu dengan tangan kirinya menggunakan pukulan chop karate, sehingga membuat bocah itu mengeluarkan bunyi "Guh~".

"Dasar. Gara-gara kau bangun kesiangan, kita hampir terlambat! Jika tahu akan begini jadinya, lebih baik kau kutinggal saja tadi," ujar Naruto dengan kesal.

Menma menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa garing. "Gomen, gomen, Naruto-Nii. Lagipula, Iruka-Sensei juga belum datang—dattebayo. Jadi, kita bisa tenang, 'kan? Ehehe …."

Bocah berambut merah jabrik itu menghela napas lelah untuk menanggapi sikap dari Menma. Lalu dia menggeleng pelan, berusaha memaklumi kelakuan dari bocah yang menjadi adiknya itu. "Yah …, mung—"

"Ehem!"

Naruto dan Menma menegakkan tubuhnya terkejut saat mendengar suara deheman dari belakang mereka. Keduanya menoleh, dan dapat mereka lihat, bahwa Iruka sudah berdiri di belakang mereka sambil membawa beberapa buku di dalam dekapan tangannya.

"Jangan berdiri di depan pintu, karena itu bisa menghalangi orang yang ingin masuk. Cepat, segera ke tempat duduk kalian!" ucap Iruka tegas kepada kedua adik-kakak itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu pun mulai berjalan ke depan kelas.

"Hai', Sensei!"

Setelah itu, Menma menuju tempat duduknya yang ada di bagian depan, bersama bocah laki-laki yang memiliki rambut raven dan bocah perempuan yang memiliki rambut berwarna merah muda. Sedangkan Naruto sendiri naik ke atas menuju tempat duduknya yang berada di bagian tengah. Yah, itu karena tempat duduk kelas ini disusun dengan bagian belakang lebih tinggi daripada bagian depan. Naruto duduk bersama bocah laki-laki yang memiliki rambut model daun nanas dan bocah perempuan yang memiliki rambut pendek indigo.

"Masih pagi, dan kau sudah menggangu tidurku saja, Naruto," ucap bocah laki-laki yang ada di samping kiri Naruto. Dia nampak menguap pelan, dengan sebelah matanya yang mengeluarkan sedikit air. Sepertinya bocah itu baru saja bangun dari tidurnya.

Naruto menatap bocah seumurannya yang memiliki rambut model daun nanas itu. "Kau saja yang terlalu pemalas, Shikamaru," ucap si bocah Namikaze kepada bocah yang diketahui bernama Shikamaru itu, "Masih pagi sudah tidur. Itu tidak baik bagi kesehatan, tahu. Benar, 'kan, Hinata-chan?" omel Naruto pada Shikamaru, sekaligus meminta persetujuan pada bocah perempuan di sampingnya yang diketahui bernama Hinata.

Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Shikamaru yang melihat kekompakan keduanya hanya menguap bosan, lalu menyangga kepalanya menggunakan tangan kirinya. Matanya memandang Naruto dan Hinata secara bergantian, "Sejak kapan kau menjadi akrab dengan Hinata, Naruto?"

"Eh? Hmm ..., entahlah. Tapi, tak apa, 'kan, kalau aku mencoba akrab dengan calon adik iparku? Ya, 'kan, Hinata-chan?" tanya si kecil Naruto kepada bocah perempuan yang saat ini duduk di sebelah kanannya.

Hinata kembali mengangguk, tetapi sesaat kemudian, pipinya mulai menghangat saat menyadari arti perkataan dari orang yang berbicara dengannya tadi.

"E-Eh? A-Apa m-ma-maksudmu, N-Naruto-kun?" tanya Hinata tergagap. Wajahnya benar-benar memerah malu, juga muncul semacam uap-uap panas yang mengepul di atas kepalanya.

Naruto memandang Hinata polos. "Bukankah kau menyukai Menma? Aku beberapa kali melihatmu sedang mengintip Menma dari kejauhan, loh …."

Hinata yang mendengar itu, entah mengapa wajahnya malah semakin memerah. Dia tidak menyangka kalau kegiatannya itu diketahui oleh orang lain, terlebih lagi orang itu adalah kakak dari orang yang dia sukai. Tentu saja dia sangat malu sekarang! Bahkan rasanya, Hinata ingin segera keluar dari kelas ini, kalau bisa saat ini juga!

"I-Itu …," gumam Hinata yang tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk diucapkan. Dia memainkan kedua jari telunjuknya di depan dadanya dengan gugup. Bocah Hyuuga itu merutuki dirinya sendiri yang malah tidak bisa berkata-kata di saat seperti ini.

Naruto menutup matanya sambil menepuk pelan bahu Hinata, kemudian dia berucap ….

"Tenang saja, Hinata-chan. Aku, sebagai kakaknya Menma, mendukungmu seratus persen, jika kau memang berniat menikah dangan Menma."

BLUSH …!

Hinata pun pingsan di atas meja dengan wajah yang memerah sempurna, matanya tampak berkunang-kunang dan mulutnya sedikit terbuka. Juga, muncul semacam efek-efek arwah kecil yang keluar dari dalam mulutnya yang terbuka itu. Tunggu dulu, apa itu nyawanya? Ya ampun ….

Naruto yang tidak mendapat sahutan dari orang yang diajaknya bicara pun langsung membuka kembali kedua matanya, lalu menoleh kepada orang tersebut. Dan seketika, ekspresi bingung pun memenuhi wajahnya. "Eh?! Oi, oi, Hinata-chan! Kenapa kau malah tidur?! Aku dari tadi bicara denganmu, kau tahu?!" ucap si pemilik rambut merah jabrik itu sambil mengguncang pelan bahu Hinata. Bocah Namikaze itu benar-benar tidak paham akan situasi yang terjadi ternyata ….

Shikamaru yang melihat kejadian barusan pun sweatdrop seketika. 'Dia itu sedang pingsan, dan bukannya sedang tidur, dasar Naruto Bodoh! Ya ampun~,' batin Shikamaru sambil menepuk jidatnya pelan.

.

.

.

Saat jam pelajaran di Akademi telah selesai, Naruto dengan segera pergi menuju rumah yang ada di dalam hutan, tempat orang yang telah menyelamatkannya dua hari yang lalu.

"Sial, padahal aku sudah berjanji kalau akan bertemu lagi dengannya kemarin, tetapi aku malah lupa. Gara-gara terlalu sibuk …, aku jadi tidak bisa bertemu dengan Paman Archer," gumam si bocah Namikaze masih setia berlari. Sesekali dia menunduk untuk menghindari ranting pohon yang ada di depannya.

Tap. Naruto berhenti berlari saat sudah berada di depan rumah dari orang yang ia ketahui bernama Archer. "Paman~ …. Haloo~! Apa Paman ada di rumah?!" teriaknya untuk memanggil orang yang sedang dia cari.

"Aneh. Sepertinya tidak ada siapa-siapa di dalam rumah ini," gumam Naruto kebingungan karena tidak ada yang menjawab "salam" yang tadi dia lakukan. Saat bocah itu ingin menginjak tangga untuk naik menuju teras rumah, tiba-tiba telinganya mendengar suara seperti orang yang sedang menebas sesuatu menggunakan benda tajam. Karena penasaran, dia pun dengan segera pergi menuju asal suara tersebut.

Semakin Naruto mendekat, semakin jelas pula suara yang dapat dia dengar. Saat sudah sampai di tempat itu, dapat bocah itu lihat, kalau orang yang telah menyelamatkannya dua hari kemarin, kini sedang mengayunkan pedang dengan sangat hebat.

"Paman Archer!" panggil bocah berambut merah jabrik itu kepada orang yang ada di depannya. Sedangkan orang tadi yang mendengar kalau namanya dipanggil, langsung saja menghentikan kegiatannya serta membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang telah memanggilnya.

"Ooh ..., ternyata kau, Naruto," ujar orang tadi yang diketahui bernama Archer.

Naruto berjalan mendekati Archer sambil memasang raut bersalah. "Maaf, Paman, karena kemarin aku tidak bisa menemuimu."

Archer tersenyum simpul, kemudian berucap, "Tak apa. Aku tahu, kau pasti punya kesibukan tersendiri. Lagipula, kau sekarang sudah di sini juga, 'kan?"

Naruto menanggapi itu dengan senyuman lebarnya, kemudian mengangguk dengan cepat beberapa kali. "Terima kasih karena sudah mau mengerti, Paman!" ucapnya dengan semangat. Archer sendiri hanya menanggapi itu dengan senyum simpul.

Naruto memandang tempat sekitarnya. Terdapat banyak pohon yang memiliki bekas sayatan benda tajam. Ada yang berlubang, bahkan ada juga yang sudah roboh. Naruto kembali menatap pria di depannya. "Ngomong-ngomong …, tadi Paman hebat juga saat menggunakan pedang. Apa Paman bisa mengajariku?" tanya Naruto penuh harap.

Archer mengangkat sebelah alisnya, lalu kembali tersenyum, "Tentu saja, Naruto," jawab Archer sambil mengusap pelan rambut merah jabrik milik bocah itu.

Naruto yang tidak bisa menahan kebahagiaannya ketika mendengar itu pun langsung saja melompat-lompat kegirangan. Mulutnya terus mengeluarkan suara "Yey! Yey!" ataupun sesuatu yang seperti itu selama beberapa menit.

"Tapi sebelum itu, ayo kembali ke rumahku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu …."

"Hai', Paman!"

Setelah itu, keduanya pun segera menuju rumah tadi.

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Saat ini, Archer dan Naruto sedang duduk di kursi yang ada di teras rumah milik Archer.

"Naruto, aku ingin bertanya kepadamu." Archer langsung memasang wajah serius, "Kenapa kau kemarin berada di hutan sendirian dan diserang oleh orang-orang bertopeng?"

Naruto yang mendengar pertanyaan itu mulai berpikir sejenak, 'Apa aku harus menceritakan masalahku kepada Paman Archer, ya? Jika kuperkirakan ..., sepertinya dia orang yang baik, sih.' Si Kecil Namikaze tampak bimbang. Dia bingung, apa tidak apa menceritakan masalah pribadi kepada orang lain, terlebih lagi kepada orang yang baru saja dikenal?

Archer yang sepertinya menyadari gelagat aneh Naruto, hanya tersenyum singkat. Tangannya ia gunakan untuk mengelus lembut kepala bocah itu. "Kalau kau tidak ingin menceritakannya juga tak apa-apa, Naruto."

Naruto tersentak pelan saat mendapati perbuatan pria di depannya. Bocah itu berpikir sejenak, sebelum menggeleng pelan. 'Bukan waktunya untuk berpikir seperti, Naruto. Lagipula, Paman Archer sudah mau menolongmu kemarin! Meskipun, aku baru mengenalnya selama sebentar ini, aku tetap percaya dia adalah orang yang baik!'

Dia mengatakan itu pada dirinya sendiri.

Setelah memantapkan hatinya, Naruto pun mulai menjelaskan semuanya kepada Archer. Dimulai dari dirinya yang tidak memiliki chakra, selalu diincar untuk dibunuh oleh Anbu Ne suruhan Danzo, lalu tentang dirinya dan adiknya yang selalu dihina oleh warga desa dan masalah-masalah yang lain.

"Aku mengerti," kata Archer sambil mengangguk beberapa kali dengan pelan, "Lalu, kenapa kau tadi memintaku untuk mengajarimu ilmu berpedang?"

Naruto memandang serius Archer. Kedua safir itu penuh akan tekad kuat. "Tentu saja untuk melindungi adikku dan orang-orang yang penting bagiku." Kepalan tangan kanan milik bocah Namikaze itu mengerat. Tatapan mata itu semakin menajam, menunjukkan tekad yang bulat!

"Sekaligus akan aku buktikan kepada orang-orang, bahwa aku juga bisa menjadi ninja, walaupun hanya menggunakan Kenjutsu dan Taijutsu! Ya, akan kutunjukkan pada mereka, jika aku bisa menjadi ninja tanpa memerlukan chakra!" ucap Naruto dengan mantap. Archer yang mendengar jawaban Naruto langsung tersenyum bangga.

"Jawaban yang bagus! Aku suka dengan tekadmu itu! Pertahankan itu terus, sampai tujuanmu tercapai!" Archer menepuk beberapa kali pundak Naruto.

"Hai', Paman!"

Setelah itu, untuk beberapa saat keduanya pun terdiam. Naruto yang merasa kalau orang di depannya tidak akan bertanya lagi, mulai mengeluarkan suaranya untuk bersuara,

"Sekarang gantian. Paman bilang akan menjelaskan tentang diri Paman, benar, 'kan?" tanya Naruto menuntut.

Archer tertawa pelan. "Benar juga …," gumamnya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Dia kemudian menggosok pelan janggutnya yang tidak berbulu, "Kalau begitu, aku mulai dari mana, ya …?" gumamnya, lagi. Dia nampak berpikir sejenak.

"Bagaimana kalau dimulai dari nama asli milik Paman?" Naruto mengusulkan itu sambil mengangkat jari telunjuknya.

"Benar juga. Baiklah …."

Archer menjeda ucapannya beberapa saat, untuk mengambil napas, "Nama asliku adalah Emiya Shirou dan diriku sebenarnya bukan dari dimensi ini, melainkan dari dimensi lain," jeda Archer atau orang yang diketahui bernama Shirou itu untuk mengambil napas, lagi, "Dan di dimensiku, kekuatan yang ada dalam diri manusia disebut energi sihir atau mana …."

Ia memandang Naruto sejenak dengan pandangan bertanya, "Lalu, apa nama kekuatan yang ada di duniamu ini, Naruto?"

Naruto memasang pose berpikir dengan kepala yang menengadah ke arah langit biru di atasnya. "Emm ..., kalau tidak salah, namanya adalah ... chakra! Iya, chakra," jawab bocah berambut merah itu mantap.

"Ohh ..., pantas saja saat kali pertama aku datang ke sini, aku tidak merasakan energi sihir," kata Shirou pelan. Matanya menerawang ke atas, mencoba mengingat-ingat kembali kejadian saat dia datang pertama kali di dunia ini.

"Tadi Paman bilang, kalau Paman bukan berasal dari dimensi ini, 'kan? Sudah berapa lama Paman di sini? Dan, bagaimana Paman bisa sampai ke sini?" tanya Naruto bertubi-tubi kepada pria berambut putih yang ada di depannya itu.

Sedangkan orang yang dipanggil pun langsung tersadar dari acara melamunnya, kemudian menatap bocah itu. "Tujuh tahun. Sudah tujuh tahun aku ada di duniamu ini. Dan untuk bisa sampai ke sini, aku menggunakan sihir teleportasiku dengan mengumpulkan mana-ku hingga sangat banyak. Aku berpindah dimensi karena aku sudah tidak menyukai kehidupanku di dimensiku yang dulu itu …," jelas Archer panjang lebar kepada bocah Namikaze di hadapannya.

"Memangnya, kehidupan Paman yang dulu itu seperti apa?" tanya Naruto lagi dengan sebelah alis yang terangkat. Archer atau orang yang bernama Shirou itu mendongak ke atas, melihat langit yang sangat biru tanpa ditutupi satu pun awan sama sekali. Benar-benar hari yang cerah.

"Hidupku yang dulu …, adalah sebagai Pahlawan Pelindung Dunia, Counter Guardian," kata Shirou masih tetap memandang langit, "Tugasku adalah menyelamatkan dunia dengan cara menyingkirkan bibit-bibit berbahaya yang berpotensi akan memusnahkan umat manusia, ketika dunia sedang dalam keadaan yang sangat berbahaya."

Mata Naruto berbinar-binar. "Waah! Bukankah menjadi pahlawan itu keren, Paman?! Kenapa Paman malah meninggalkannya?!" ucapnya semangat dengan senyum lebar yang menempel pada wajah berkulit putihnya. Benar-benar polos sekali.

Shirou mengalihkan pandangannya kepada Naruto, dan menatap lembut bocah itu. "Kau benar, Naruto. Sebenarnya …, menjadi pahlawan adalah cita-citaku saat aku masih kecil dulu. Saat itu, aku memiliki idealisme yaitu, 'Menyelamatkan semua manusia, tanpa ada manusia lain yang tersakiti'. Kurang-lebih, hampir seperti itulah."

Mulut bocah Namikaze itu terbuka lebar karena kagum dengan orang yang ada di depannya ini. "Menyelamatkan semua manusia …, tanpa ada manusia lain yang tersakiti …," gumam Naruto mengulangi perkataan Shirou. Dia nampak memikirkan kembali kata-kata tadi, "Tapi, Paman, bukankah itu hampir mustahil untuk dilakukan?" Naruto mencoba mengutarakan sesuatu yang menurutnya janggal.

Shirou mengangguk sekali. "Benar. Karena itulah …" tiba-tiba, mata berwarna abu-abu itu berubah tajam, "... setelah aku menjadi pahlawan ..., aku malah dipaksa untuk melakukan perbuatan yang berbeda dari idealismeku yaitu, 'Membunuh sedikit nyawa, untuk menyelamatkan nyawa yang lebih banyak'. Benar-benar memuakkan …!"

Pria itu mangatupkan rahangnya rapat-rapat.

"Aku tahu, kalau idealismeku ini hanyalah pinjaman dari seseorang yang aku kagumi. Tapi …, kenapa aku tidak boleh memiliki seutuhnya idealisme itu? Apa salah, jika aku menggunakan idealisme milik orang lain?"

—Dia hanya mengutarakan apa yang ada di pikirannya saja. Shirou sebenarnya bahkan tidak bermaksud untuk memperdengarkan keluhannya ini kepada Naruto. Naruto sendiri tetap diam mendengarkan dengan seksama, tanpa berniat menyela sedikit pun.

Shirou mengurut pelipisnya pelan sembari mengembuskan napas beratnya. Matanya kembali beralih, kali ini memandang pepohonan yang ada di depan rumahnya. Tatapan matanya masih tajam, "Setelah kejadian itu …, aku merasa seperti ditampar oleh kenyataan dengan sangat keras. Aku sadar, bahwa idealismeku yang dulu itu ... hanyalah kebohongan belaka, impian seorang bocah yang belum mengerti akan arti kerasnya kehidupan."

'Tapi meskipun begitu, aku tetap membawa idealisme ini sampai akhir.' Dia terkekeh pelan sesaat karena memikirkan itu, sebelum melanjutkan batinnya, 'Apakah aku terlalu naif, ya?'

Pria berumur sekitar 30 tahun itu menggeleng pelan. "Yah, karena itulah, aku meninggalkan dimensiku untuk memulai kehidupan baruku." Shirou menghela napas sesaat. Matanya terlihat sedikit melembut dibandingkan sebelumnya, kemudian ia melirik ke arah Naruto. Bocah berambut merah jabrik itu sedari tadi hanya diam mendengarkan dengan tenang.

"Dan … di sinilah sekarang aku berada. Apa kau mengerti, Naruto?"

Naruto mengangguk pelan. Yah, Naruto sebenarnya cukup kagum sekaligus terkejut saat mendengar penjelasan tadi. Dia kagum karena orang yang akan menjadi Sensei-nya kemungkinan—tidak, tapi … pasti sangat kuat! Sedangkan dia terkejut, karena Archer yang meninggalkan dimensinya serta meninggalkan tugas beratnya sebagai Counter Guardian hanya karena alasan sudah "tidak menyukai" kehidupannya saja.

Meskipun begitu, Naruto juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena Naruto pikir, setiap orang pasti memiliki masalah yang berbeda-beda. Ya, seperti halnya Naruto dan Menma yang dibenci oleh warga desa, meskipun dengan alasan yang berbeda.

"Naruto!"

"Eh? I-Iya, Paman?"

Naruto keget karena tadi sedang melamun, lalu ia langsung memandang Archer, orang yang memanggilnya tadi. Naruto yang melihat orang bernama asli Emiya Shirou itu hanya diam saja, hanya bisa mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa?"

"Kau tadi bilang, kalau kau sedang belajar di Akademi dan setelah lulus, kau akan menjadi ninja. Nah, sampai kapan kelulusanmu itu?" tanya Shirou dengan nada serius.

"Kira-kira enam tahun lagi, Paman."

"Enam tahun, ya …," gumam Shirou yang menutup matanya. Pria itu sedang berpikir.

Naruto hanya diam melihat pria pemilik rambut putih yang diarahkan ke belakang itu. Setelah beberapa menit, Shirou pun membuka kembali matanya.

"Sudah aku putuskan pelatihanmu untuk selama enam tahun ke depan, Naruto. Jadi, dengarkan baik-baik," kata Shirou sambil menatap Naruto.

"Hai'!" jawab Naruto yang langsung mamasang wajah serius.

Shirou yang melihat ekspresi Naruto saat ini langsung tertawa pelan. "Hei, Naruto, tidak perlu seserius itu. Aku hanya menyuruhmu untuk mendengarkan saja." Naruto yang mendengar itu pun hanya cengengesan tidak jelas sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Shirou hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya geli.

"Hmm, baiklah …." Shirou pun mulai menjelaskan proses pelatihan Naruto selama enam tahun, "Begini, Naruto, selama enam tahun ini ..., kau akan kulatih melakukan sihir proyeksi. Serta, aku akan melatihmu menggunakan padang, panah, dan senjata-senjata lainnya. Setelah itu …" Shirou pun menjelaskannya secara pelan-pelan kepada Naruto, agar bocah bermarga Namikaze itu memahami perkataannya, "… aku juga akan melatih kekuatan fisik beserta mentalmu. Lalu …."

Archer atau lelaki bernama asli Emiya Shirou itu terus berbicara sambil tetap memandang ke arah Naruto. Naruto sendiri, hanya mendengarkan penjelasan tadi sampai selesai tanpa menyela sedikitpun.

"—Kau mengerti, Naruto?" tanya Shirou setelah selesai menjelaskan.

"Ya. Tapi …, apa aku boleh bertanya sesuatu, Paman?" Shirou yang mendengar perkataan Naruto langsung memberikan isyarat memperbolehkannya.

"Tadi Paman bilang kalau aku akan belajar sihir proyeksi. Tapi, aku kan tidak memiliki energi sihir seperti Paman," kata Naruto dengan raut wajah kebingungan.

Shirou menggaruk belakang kepalanya. Dia bingung, merasa kesusahan menjelaskan masalah yang bagian ini. "Soal itu, ya? Bagaimana aku menjelaskannya, ya …?"

Orang berambut putih itu melirik ke segala arah, berusaha menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu kepada bocah berambut merah di depannya. Setelah menemukannya, dia kembali memandang Naruto. "Begini, Naruto, sebenarnya … aku juga tidak tahu bagaimana kau bisa memiliki 'itu', sedangkan orang-orang yang ada di desamu tidak ada yang memilikinya …," kata Shirou sedikit menggantung, memberikan waktu bagi Naruto untuk memikirkannya terlebih dahulu.

Naruto menautkan kedua alisnya. "Maksud Paman dengan 'itu' …?" kata Naruto yang mencoba untuk menerka-nerka. Pikirannya menuju pada satu hal yang bisa dibilang sangat mustahil untuk terjadi.

Shirou tersenyum kecil ketika merasa, jika Naruto sepertinya mengerti apa yang dimaksudkannya. Lalu, pria itu mengangguk dengan serius. "Ya, kau memiliki energi yang sama sepertiku, yaitu Energi Sihir atau Mana!" Kedua mata kelabu itu berkilat tajam.

Dan setelahnya, kedua mata safir Naruto membulat sempurna. Dia tidak menyangka, kalau pemikirannya barusan ternyata benar. Setelah menguasai dirinya dari keterkejutan, dia kembali bersuara ….

"Tapi, bagaimana bisa, Paman?!"

—Naruto bertanya dengan sangat cepat. Dia benar-benar bingung sekarang. Bagaimana bisa dia memiliki suatu energi asing di dalam tubuhnya …, yang secara … energi itu sendiri berasal dari dimensi yang berbeda, dari dimensi tempat dirinya berasal. Entah mengapa, Naruto merasa kepalanya sangat pusing saat memikirkan hal tersebut. Bocah berambut merah itu pun menggeleng lemah, berusaha untuk mengenyahkan pemikiran tadi.

Shirou hanya menghela napas saat mendengar pertanyaan Naruto tadi. "Aku kan tadi sudah bilang, kalau aku juga tidak tahu, Naruto. Karena hal itu juga, aku mau menerimamu menjadi muridku." Sedangkan Naruto yang mendengar itu hanya ber-"oh" ria saja.

'Dasar. Padahal sudah kujelaskan panjang lebar, tetapi dia cuma menanggapinya seperti itu!' batin Shirou. Kedua alisnya tampak berkedut kesal.

"Hah~ Yah, kau sudah paham dengan apa yang aku katakan tadi, 'kan, Naruto?" tanya pria yang memiliki Kode Nama Archer itu.

Naruto terlihat berpikir, sebelum berucap, "Hm …, kalau untuk aku yang punya energi sihir, aku sebenarnya masih bingung, sih …." Naruto memandang Shirou, lalu tersenyum sambil mengacungkan jempolnya, "Tapi, jika selain itu, tenang saja, Paman, aku sudah paham, kok!"

Shirou ikut tersenyum mendengarnya. Dia kemudian berdiri. "Kalau begitu …, ayo kita mulai latihannya!" kata Shirou semangat sambil dirinya melangkah menuju halaman rumahnya yang telah ditumbuhi oleh pepohonan yang besar.

Naruto jawsdroped seketika. "Eh? Kita langsung latihan?!" tanya Naruto tidak percaya.

Shirou menoleh ke belakang, menatap Naruto dengan sebelah matanya yang tertutup. "Tentu saja! Bukankah kau ingin menjadi lebih kuat?!"

"I-Itu memang benar, sih …," jawab Naruto sambil menggaruk pipinya menggunakan jari telunjuknya.

"Kalau begitu, segera ke sini! Semakin cepat kau berlatih, maka semakin cepat pula kekuatanmu akan bertambah!"

Naruto yang mendengar itu hanya bisa menghela napas pasrah. Setelahnya, ia kemudian berjalan ke arah Sensei barunya itu tanpa adanya semangat sedikit pun.

Dan saat itu …, dimulailah latihan Naruto bersama Emiya Shirou, seorang pria yang berasal dari dimensi yang berbeda dari dimensi milik para ninja!

Yah …, ini adalah awal dari sebagian kecil perubahan total di kehidupan Naruto, yang nantinya akan menuntun Naruto pada takdir besar yang tidak pernah dapat dibayangkan, bahkan oleh dirinya sendiri!

Bersambung


[Abidin's Note]:

Yo! I am come back! Selamat pagi, siang, sore, malam, dan kapan pun waktu kalian saat sedang membaca cerita ini!

Yah, aku kembali up fic ini, karena ya untuk cerita ini mungkin cuma revisi kesalahan di beberapa penjelasan doang sih, jadinya lebih cepet up daripada yang lain. Kalau cerita yang lain kan remake, makanya rada lama. Oke, kita bahas sedikit chap ini.

Yang pertama. Di chap ini masih sama seperti kemarin-kemarin, yaitu ada di seputar Prolog. Yah, maaf kalo membosankan. Karena di prolog ini nanti akan aku perlihatkan kepada para reader-san tentang bagaimana perkembangan dari Naruto dkk. Entah itu dari sifatnya, kekuatannya, jurus-jurusnya, siapa aja temannya, dan masih banyak lagi! Jadi, menurutku, sebenarnya prolog ini bakal penting untuk Arc ke depannya. Mungkin prolog ini bakal menghabiskan sekitar belasan chapter, tapi gak sampai lebih 15 chapter, kok. Jadi, tenang saja.

Yang kedua. Di chap ini aku juga memperlihatkan kembali orang yang ditemui Naruto pada saat chap satu. Dia adalah Archer/Emiya Shirou, orang yang akan menjadi guru Naruto untuk ke depannya. Dan pelatihan ini juga yang akan menjadi awal dari perubaham takdir Naruto di masa depan. Lalu untuk mana/energi sihir di dalam tubuh Naruto, ini masih aku rahasiakan darimana asalnya itu muncul. Nanti bakal aku jelaskan, tetapi masih lama, deh. Kayaknya, mungkin ini nanti akan aku singgung sedikit pas Arc Ujian Chunnin. Jadi tetap pantau fic ini ya, teman-teman!

Mungkin itu aja. Terima kasih atas segala review-nya, juga atas semua yang berminat membaca cerita kecilku ini. See you in the next chapter, Brother and Sister!

Special Thanks to Allah SWT.

Tertanda. [Abidin Ren]. (7/September/2020).