8/September/2020
Ini adalah sebuah cerita yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren
—Shinobi with Magic—
By: Abidin Ren
Summary: Ramalan itu telah lama disebutkan. Hanya tinggal menunggu waktu … sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap "aib" oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa "tidak suka"-nya kepada gelar "pemimpin", dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kaupilih?
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.
Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak manapun.
This Story Created by Me
Genre: Advanture — Fantasy — Friendship — Romance(?).
Pair: Naruto x Shion, Menma x Hinata, Sasuke x Sakura, dan yang lain akan menyusul.
Rated: T+
Warning: Alternate-Reality! (AR!), All-Human! (AH!), MAGIC-POWER! OOC(s)(?), OC, MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More. [Mengambil Elemen Kekuatan Dari Fate Series].
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Like, Favorite, and Review!
.
[Prologue]
[Chapter 4]: Dengan Awal Pertemuan dari Keduanya, Mereka pun Menjalin Persahabatan
Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night: UBW Season 2)
Di Akademi dari Konohagakure.
Di dalam kelas Akademi, seorang bocah yang memiliki rambut model pantat ayam berwarna biru-kehitaman, sedang duduk sambil memakan sebuah tomat yang dia ambil dari kotak bekalnya.
Tiba-tiba, datang seorang bocah dengan rambut berwarna kuning jabrik yang langsung duduk di sebelah bocah pertama tadi.
"Hei, Teme, kau bawa bekal apa? Boleh aku minta?" kata bocah yang baru saja datang kepada bocah yang selalu dipanggilnya dengan sebutan "Teme" itu.
"Tomat," kata bocah yang dipangil Teme tadi, yang memiliki nama lengkap Uchiha Sasuke. Dia menyodorkan sebuah tomat kepada bocah yang sudah dia anggap sebagai temannya sejak mereka kecil itu.
Mata safir milik si Jabrik Kuning melirik sebentar ke arah tomat itu. "Terima kasih, tetapi tidak usah." Dia berujar pelan, kemudian ia menghela napas, "Aku tidak suka tomat—ttebayo."
Sasuke melahap habis tomat ketiganya. "Apa kau tidak bawa bekal, Dobe?" tanya Sasuke datar kepada bocah yang dipanggilnya "Dobe" itu, atau yang memiliki nama lengkap Namikaze Menma.
"Tidak. Ini gara-gara hal sepele tadi …."
Yah, tadi pagi saat di kediamannya, Menma berniat meminta ibunya untuk dibuatkan ramen sebagai bekalnya ke Akademi. Tapi, ibunya ternyata malah sudah menyiapkan onigiri untuk bekalnya dan juga milik kakaknya. Menma sendiri tetap bersikeras untuk dibuatkan ramen. Yah, mau bagaimana lagi? Bocah itu memang terkenal sebagai maniak ramen, sih. Yup, dia seperti tidak bisa hidup sehari pun tanpa makan ramen! Err …, memang terlalu berlebihan sih, tetapi memang seperti itulah Namikaze Menma.
Sementara Kushina sendiri tetap tidak mau membuatkannya ramen dengan alasan, karena tidak baik memakan ramen setiap hari. Dan setelah itu, terjadi sedikit perdebatan di antara kedua anak-ibu tersebut, sampai akhirnya Kushina kehabisan kesabarannya. Tentu saja, Menma yang sadar tentang bagaimana "berbahaya"-nya ibunya ketika marah pun langsung takut, lalu berlari meninggalkan ibunya yang mulai berteriak dan meraung-raung dengan kencang. Tapi sialnya, dia malah lupa membawa bekal onigiri-nya sebelum berangkat menuju ke Akademi!
Sasuke yang mendengar cerita dari Menma hanya diam tidak menanggapinya. Dia melahap habis tomat terakhirnya, sehingga membuat kotak bekal yang ada di depannya menjadi kosong. Makanannya sudah habis tak tersisa.
Menma memandang bingung bocah berambut raven itu, kemudian ia berucap, "Kenapa kau hanya diam saja, Teme?"
"Hn," jawab Sasuke dengan kata ambigu andalannya.
"Hah~ …, setidaknya, berikan tanggapanmu—ttebayo!" kata Menma dengan kesal.
"Memangnya, apa yang dapat aku katakan …?" Sasuke melirik Menma sebentar, lalu kembali menatap kotak bekalnya yang sudah kosong, "Ceritamu bahkan tidak menarik sama sekali," ucapnya datar, tanpa ekspresi, ataupun merasa bersalah sedikit pun.
Menma menggertakkan gigi-giginya, merasa kesal dengan salah satu sifat milik teman baiknya ini. "Apa katamu, Teme?!" Dia sedikit menggeram.
"Hn. Seperti yang kau dengar tadi."
Sementara itu di belakang keduanya, tampak seorang bocah dengan rambut merah jabrik yang diketahui bernama Namikaze Naruto. Dia hanya diam sambil mengamati perbincangan dua bocah di depannya itu sedari tadi. Setelah melahap habis sisa onigiri terakhirnya, si Jabrik Merah pun berjalan menghampiri dua bocah tadi yang sedang melakukan perdebatan kecil.
"Sudahlah, Teme, aku sudah capek berdebat denganmu! Kau beruntung saja karena aku sedang lapar saat ini." Setelah mengatakan itu dengan lemas, Menma mulai menidurkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya yang dilipat sebagai bantalan kepala miliknya.
"Bukannya kau yang selalu memulainya, Dobe?" tanya si bocah Uchiha itu seperti biasa. Ya, datar tanpa ekspresi.
"Jangan mulai lagi, Teme."
"Hn."
Naruto yang sudah berdiri di samping Menma hanya mengangkat sebelah alisnya, ketika dia melihat adiknya seperti orang yang tidak punya tenaga sama sekali. Dia menatap Sasuke dengan pandangan bertanya, sementara yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya.
Setelah menghirup napas, Naruto pun mulai mengeluarkan suaranya untuk bertanya, "Ada apa denganmu, Menma?"
Bocah berambut kuning cerah itu yang mendengar suara yang sangat dikenalinya, langsung saja mendongak, dan dapat dia lihat, kalau kakaknya sedang menatap dirinya dengan raut wajah yang menunjukkan kebingungan.
Menma memandang Naruto dengan ekspresi lemas. "Apa kau tidak lihat, kalau aku sedang kelaparan saat ini, Naruto-Nii?" ucapnya dengan lesu. Sementara Naruto hanya ber-"oh" saja.
"!"
Menma tiba-tiba teringat sesuatu. "Benar juga. Kenapa aku bisa lupa …," gumamnya pelan. Dia tiba-tiba bangkit dari tidurnya dengan cepat, "Nii-chan, boleh aku minta bekalmu sedikit—ttebayo?!"
Entah mengapa, bocah itu tiba-tiba menjadi bersemangat.
"Err …, maksudmu onigiri?" tanya Naruto ragu. Menma langsung mengangguk dengan cepat, sebagai balasan pertanyaan kakaknya.
Naruto tertawa garing, sementara sebelah tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Emm …, maaf, Menma. Ettoo …, karena kupikir kau tidak menyukai onigiri, jadi sudah kuhabiskan semuanya tadi." Naruto berkata seperti itu sambil memasang wajah tanpa dosanya.
Menma menatap tidak percaya kepada kakaknya. Setelah itu, tubuhnya langsung kembali lesu seperti tadi, meringkuk di atas mejanya. "Kau tega sekali, Naruto-Nii, membiarkanku dalam keadaan kelaparan—dattebayo …," ujarnya dengan sangat lebay. Dia memegangi perutnya, juga muncul semacam efek-efek air mata konyol menngalir keluar dari kedua matanya itu.
Naruto hanya bisa tertawa tidak enak setelah mendengar perkataan adiknya barusan. Sementara Sasuke yang melihat serta mendengarkan semua perbincangan dari kedua adik-kakak di dekatnya itu hanya bisa tersenyum tipis, sangat tipis malahan.
'Benar-benar hubungan keluarga yang sangat akrab,' batin Uchiha itu masih dengan senyuman tipisnya, bahkan mungkin tak 'kan ada orang lain yang sadar, jika Sasuke tengah tersenyum saat ini.
Sementara di pintu kelas, nampak Sakura yang sedang memperhatikan kejadian tadi sambil membawa sekotak bekal. Dia sebenarnya berencana untuk memberikan bekal itu kepada Sasuke, tetapi sepertinya bocah Uchiha itu sudah kenyang karena telah menghabiskan bekalnya sendiri.
"Hah~, sepertinya aku percuma membawa dua kotak bekal ke Akademi …." Ekspresinya berubah murung.
Dia kembali memandang ketiga bocah disana. Tapi, saat pandangannya tiba-tiba bertemu dengan onyx milik Sasuke, dia pun menegakkan punggungnya terkejut, sebelum berakhir menyembunyikan tubuhnya di balik pintu kelas. 'Ah! Ap-Apa Sa-Sasuke-kun melihatku tadi?!' batinnya mulai gugup.
Sedangkan Sasuke sendiri langsung mengangkat sebelah alisnya saat melihat kelakuan aneh Sakura. Naruto yang menyadari keadaan Sasuke langsung saja menatap ke arah yang sama dengan tempat pandangan mata milik bocah Uchiha itu.
Naruto mengangkat sebelah alisnya, saat menyadari ada siluet seseorang yang berdiri di belakang pintu kelas. Dengan sedikit penasaran, dia melangkah mendekati pintu itu, hingga mendapati seorang bocah berambut panjang warna merah muda berdiri disana. Gadis kecil itu sedang ngedumel sesuatu yang tidak jelas.
"Sakura-chan? Kenapa kau berdiri di sini?"
"Kyaa!"
Bocah Haruno itu berjengit terkejut, sebelum akhirnya bernapas lega saat mengetahui kalau yang ada di sampingnya itu ternyata hanya Naruto, "Jangan mengagetkanku, Naruto!"
Naruto mengangkat kedua bahunya, lalu pandangannya terfokus ke kotak bekal yang ada di genggaman kedua tangan Sakura. "Apa itu?"
"Bukan urusanmu!" Dia berkata ketus, sambil memalingkan wajahnya ke samping.
Naruto berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia mulai mengerti apa yang terjadi. Dia tersenyum jahil, lalu merebut bekal itu dari tangan Sakura.
"Hei! Jangan ambil!"
"Ini untuk Sasuke, 'kan? Biar kuberikan untuknya kalau kau malu untuk memberikannya."
Pipi bocah perempuan itu sedikit memerah. "B-Bukan! Si-Siapa juga yang ingin memberinya bekal!"
"Ya, ya …." Naruto hanya mengibaskan sebelah tangannya untuk menanggapinya.
Tanpa berniat membalas lebih lanjut, Naruto mulai berbalik, lalu berjalan menuju tempat duduk milik Menma serta Sasuke, dan tentu saja dia mengabaikan teriakan protes Sakura.
Tap. Naruto berhenti berjalan, kemudian meletakkan bekal milik Sakura di meja Sasuke. Sakura sendiri memperhatikan itu dari kejauhan dengan wajah yang sudah sangat memerah malu, serta kegugupan tingkat tinggi. Dia menggigiti kuku tangannya, mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Apa ini?" tanya si Uchiha bungsu.
"Bekal."
Menma yang mendengar kata "bekal" pun langsung bangkit dari "kematian"-nya sesaat. Matanya berkilat tajam saat melihat kotak bekal milik Sakura, dan tanpa babibu lagi, bocah itu langsung saja mengambil bekal tadi serta memakannya dengan beringas.
"Oi, oi, Menma! Apa yang kaulakukan?!" Wajah Naruto berubah pucat saat melihat bekal yang seharusnya dimakan oleh Sasuke, malah sudah disikat lebih dulu oleh Menma.
"Tentu saja makan, memangnya apa lagi?" ujarnya sembari terus fokus pada makanan di depannya. Dan tak berapa lama kemudian, tiga onigiri yang ada di dalam bekal itu pun habis tak bersisa.
Naruto menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat itu. 'Waduh, alamat buruk, nih, pasti.'
"Terima kasih, Naruto-Nii!"
"Err …, Menma, sebenarnya itu kan untuk—"
"Apa yang kau lakukan, Menma?!"
Naruto menepuk jidatnya saat mendengar teriakan dari Sakura. Dia melirik ke samping, tepat kepada bocah Haruno itu yang ternyata sudah bediri di sisi kirinya.
"Ah, Sakura-chan! Aku tadi—"
"Dasar Bodoh! Bekal itu tadi untuk Sasuke-kun, Dasar Idiot!"
"Wakh …! Aduh! Aduh! Sakura-chan ...! Itttaaaaiii …! Gwaaakkhhh ...!"
Naruto memandang ngeri pada keadaan Menma yang sedang dicekik Sakura sambil mengguncangkannya menggunakan tenaga penuh. Sementara Sasuke yang sepertinya belum paham dengan keadaan yang terjadi, cuma diam saja, hanya menonton, tanpa berniat menyelamatkan temannya itu dari rencana pembunuhan Sakura.
"Kau Idiot! Bodoh! Tidak Berguna! Kau memang—Eh?"
Setelah beberapa saat melakulan tindak aniaya kepada Menma, Sakura pun langsung melepaskan cengkramannya dari leher bocah itu ketika perempuan itu baru saja menyadari kelakuannya. Sakura melirik kepada Sasuke yang menatap bingung dirinya, lalu wajah si Haruno itu pun memerah padam!
"Kyaaa~"
Sakura berlari meninggalkan kelas, mengabaikan Menma yang sudah pingsan dengan mulut berbusa, dan Naruto serta Sasuke yang sedang dalam keadaan sweatdrop.
"Apa itu tadi?" tanya Naruto.
"Hn. Entahlah."
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Gerbang Desa Konoha, Pagi Hari.
Sementara itu di gerbang desa, terlihat dua orang dengan umur yang sangat beda jauh.
Orang pertama memiliki perawakan yang terlihat sudah tua dengan rambut pendek berwarna coklat keemasan, yang di beberapa bagiannya sudah memutih, juga janggut kecil yang berwarna sama dengan rambutnya. Orang tadi memakai jubah berwarna putih dengan garis melingkar berwarna emas pada bagian dada. Juga, celana panjang berwarna coklat dan sepatu berwarna senada.
Sedangkan orang kedua terlihat seperti bocah dengan umur sekitar tujuh tahun. Dia memiliki rambut yang pada bagian atas sedikit mencuat ke belakang dan rambut belakang yang sedikit memanjang sampai sebahu. Dia juga memiliki jambang yang panjang sehingga menutupi kedua telinganya, dan poni rambut yang menutupi sebelah mata kirinya yang lentik itu. Dia memakai kaos pendek berwarna coklat serta celana pendek warna hitam, juga sepatu berwarna sama. Bocah itu terlihat sedang memegang tangan orang tua tadi dengan erat.
Dua orang penjaga gerbang yang melihat dua orang tadi mendekat, langsung saja menghadang jalan keduanya.
"Tunggu dulu, siapa kalian?!" tanya salah seorang penjaga gerbang itu.
Orang tua tadi menatap dengan tenang kedua orang di depannya. "Kami ada keperluan dengan Hokage!" ucapnya dengan aura bijaksana yang sangat kental terasa menguar dari dalam tubuhnya.
Kedua penjaga tadi pun saling berpandangan satu sama lainnya setelah mendengar itu.
..
.
..
Kantor Hokage.
Sekarang, kedua orang tadi dan Hokage itu sendiri sedang berada di ruang santai milik Hokage.
"Tak kusangka, ternyata kau masih mengingatku, Hiruzen!" kata orang tua yang duduk di seberang tempat duduk dari Sandaime Hokage.
"Tentu saja aku masih mengingatmu! Midoru Haji, salah satu pahlawan dalam Perang Dunia Ninja Kedua …," kata Sandaime sambil memasang senyuman, "Jadi, apa tujuanmu ke sini?"
"Tujuanku ke sini adalah karena bocah ini." Orang tua tadi yang diketahui bernama Midoru Haji, berkata sambil melirik ke arah bocah yang duduk di sampingnya.
"Maksudmu, dia …."
"Ya. Dia adalah cucuku, namanya Midoru Shizukesa," ujar Haji, lalu dia tertawa pelan, "Shizukesa yang berarti ketenangan, tetapi tidak sesuai dengan sifatnya." Sedangkan bocah tadi langsung menggembungkan pipinya karena kesal. Terlihat imut.
"Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Hiruzen yang terlihat kebingungan.
Haji yang ingin menjawab pertanyaan Hiruzen tidak jadi, karena dihentikan Shizukesa yang merentangkan tangan kanannya ke samping.
"Gezz …, percuma saja gelarmu sebagai Professor dan juga Hokage, kalau kau tidak bisa menentukan jenis kelamin seseorang!" Shizu menatap Hiruzen tajam, "Aku laki-laki!"
'Memang benar, sifatnya tidak sesuai dengan namanya,' batin Hiruzen sweatdrop.
"Jadi, apa hubungannya antara tujuanmu ke sini, dengan bocah ini?" tanya Hiruzen.
"Aku ingin Shizu menjadi murid dari Jiraiya!" kata Haji tajam.
"Jiraiya? Tapi …, kenapa?"
Tiba-tiba ekspresi Haji langsung berubah menjadi sedih. Hiruzen yang melihat perubahan ekspresi Haji pun tersentak kaget. "Tunggu dulu, jangan-jangan …," gumam Sandaime Hokage. Pikirannya mulai melayang ke arah sesuatu yang sangat tidak dia inginkan.
"Ayah dan ibuku tewas saat memata-matai Kumogakure …," kata Shizukesa tajam, "Kau tidak bisa membohongiku, Kakek Hokage! Mereka adalah mata-mata Konoha yang digunakan untuk memantau kegiatan Desa Kumo …."
Hiruzen menghela napasnya, lalu menatap Haji, sementara yang ditatap hanya mengangguk membenarkan ….
"Ya, aku yang memberitahunya saat kedua orang tuanya meniggal …." Ekspresinya kembali sedih, "Sebelum kematian kedua orang tua Shizu …, mereka mengirim pesan lewat Gorudodoragon, Naga Emas kuchiyose milik ibunya Shizukesa untuk meninggalkan Kumogakure. Kami pun langsung pergi dari sana, dan kemudian bersembunyi sekaligus menetap sampai sekarang di Desa Beras."
"Desa Beras?" tanya Hiruzen, "Maksudmu, tempat persembunyian kita saat di Perang Dunia Ninja Kedua dulu?!"
"Yah, begitulah, sekalian mengingat masa lampau …." Haji berujar seperti itu sambil tersenyum. Hiruzen juga ikut tersenyum mendengarnya.
GREP!
Tiba-tiba Shizukesa menggenggam kedua bahu Sandaime Hokage. Mata sayu nan lentik itu menjadi tajam. "Hokage-sama …, tolong datangkan Jiraiya-sama, tolong … agar dia mau melatihku …, agar aku bisa menjadi shinobi yang kuat seperti Tou-san dan Kaa-san!"
Mata itu semakin tajam, menunjukkan tekad yang bulat ….
"Aku tahu dari Kakek Haji …, kalau Tou-san, Kaa-san, dan Namikaze Minato dulu adalah satu tim, lalu Jiraiya-sama adalah guru mereka, dan mereka semua berhasil menjadi orang-orang hebat …." Genggaman di bahu Hokage melemah, mata lentik itu kembali meredup, "—Ya, walaupun kedua orang tuaku telah gugur, dan sekarang hanya tersisa Namikaze Minato saja dari tim yang dipimpin oleh Jiraiya-sama." Matanya memandang ke arah lantai.
Setelah beberapa detik, Shizu pun kembali memandang ke arah Sandaime Hokage ….
"JADI, HOKAGE-SAMA, TOLONG BANTU AKU!"
Hiruzen terdiam. Dia menatap lekat-lekat wajah manis milik bocah laki-laki itu. Sang Hokage kemudian tersenyum …
"Heh, dasar tsundere …."
"GEZZ …, KAKEK HOKAGE!" teriak Shizukesa kesal. Ingin rasanya dia mencabut kutil yang ada di hidung Hiruzen.
PLUK ….
Sandaime menepuk pucuk kepala coklat keemasan itu. "Baiklah, Shizu, Jiraiya akan menjadi gurumu." Mata Shizukesa tiba-tiba terbuka dengan lebar. Dia tidak menyangka kalau dia benar-benar akan menjadi murid dari Jiraiya.
"Terima kasih, Hokage-sama …."
—Mungkin hanya itu kata-kata yang dapat diucapkan oleh Shizukesa karena rasa kegembiraannya saat ini.
Haji yang sedari tadi diam, langsung mengulas senyum saat melihat kejadian di depannya. Dia pun berucap, "Kalau begitu, aku pergi dulu, Hiruzen!"
Hiruzen yang mendengar suara Haji langsung mengalihkan pandangannya ke arah teman masa lalunya itu, begitupula dengan Shizu.
"Memangnya, kau mau ke mana? Dan, Kenapa terburu-buru sekali?" kata Hiruzen masih tetap memandang ke arah Haji. Raut bingung terpampang jelas di wajah tuanya.
"Aku ingin kembali ke Desa Beras, karena masih banyak keperluan lain yang aku tinggalkan saat ini," ucap Haji yang sudah berdiri dan langsung melangkah menuju pintu.
"Ooh, tapi … bagaimana dengan Shizu?" tanya Hiruzen lagi, sambil melirik bocah itu.
Saat sudah berada di depan pintu, Haji menoleh sedikit ke belakang untuk melihat Hiruzen serta Shizukesa. "Aku titipkan Shizukesa kepadamu dan juga Jiraiya …," ujarnya sambil tersenyum. Setelah itu, dia membuka pintu yang ada di depannya, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Terjadi keheningan yang cukup lama di ruangan tersebut setelah kepergian Haji. "Hei, Shizu, kau mau ikut aku berkeliling desa ini?" tanya Hiruzen untuk memecah keheningan. Matanya memandang ke arah luar jendela. Melihat daun-daun pohon yang ditiup oleh angin pagi.
"Untuk apa?" Shizukesa bertanya dengan polos. Kepalanya dimiringkan ke samping, sehingga menambah kesan imutnya.
"Anggap saja agar kau lebih mengenal desa ini …, dan juga, mungkin saja kau akan mendapat teman pertamamu nanti …," ujar Hiruzen. Dia sudah tidak memandang ke arah jendela lagi, tetapi ke arah bocah yang ada di depannya, "Jadi, bagaimana?"
Shizukesa hanya terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan dari orang tua di depannya itu yang memiliki gelar Professor. Setelah berpikir cukup lama, Shizukesa akhirnya mengangguk, menerima ajakan Hiruzen.
Hiruzen yang melihat itu tersenyum kecil, kemudian dengan segera ia bangun dari acara duduknya, dan diikuti oleh Shizukesa. Setelahnya, keduanya pun pergi meninggalkan ruangan itu.
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Saat ini, ada seorang bocah berambut merah jabrik di pinggir sungai Desa Konoha.
"ARRRGHH ...! GAGAL LAGI!" teriak Naruto—nama bocah tadi—dengan keras.
Terlihat di sekitar tangan Naruto ada bekas butiran-butiran cahaya seperti debu berwarna biru sangat banyak, yang langsung melayang ke atas sebelum akhirnya menghilang tanpa ada yang tersisa.
Naruto saat ini sedang berlatih tentang menggunakan sihir proyeksi, tetapi sepertinya dia belum bisa menguasainya. Yah, sudah terlihat jelas dari ekspresinya yang sangat kesal itu, sih.
"Kenapa menggunakan sihir itu susah sekali?!" Naruto mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Sekali lagi …, kali ini pasti bisa! Ya, pasti berhasil! Fokus …," ujar Naruto pelan, setelah itu dia menutup matanya. Naruto pun mulai mencoba untuk berkonsentrasi dan mulai membayangkan sesuatu di dalam pikirannya.
Tik. Naruto dengan cepat membuka matanya. "Trace ... On!"
Sssssttt … crreestt …!
Seketika muncul semacam aliran listrik kecil berwarna biru yang berasal dari gejolak mana milik Naruto. Listrik statis itu merambat di sekitar tubuhnya. Lalu, tiba-tiba dari kedua tangan Naruto yang disatukan, muncul garis-garis tak beraturan yang membentuk sebuah pedang panjang. Setelah beberapa saat, garis-garis tadi mulai memadat, dan menampilkan bentuk dari sebuah katana sederhana. Gagangnya berwarna hitam dengan motif belah ketupat berwarna putih, sementara bagian tajamnya yang digunakan untuk memotong berwarna perak mengkilat.
Naruto memandang sekilas katana di depannya, yang kemudian kedua tangannya ia arahkan ke belakang sedikit. Mata safir miliknya memandang tajam pohon di depannya. Setelah mengambil posisi kuda-kuda yang bagus, dengan cepat dia ayunkan katana itu pada pohon yang ada di depannya dan—
Pyaaarrr …!
Tik …. Tik …. Tik ….
"GAGAL LAGI!"
Ya, katana yang Naruto ciptakan hancur menjadi butiran-butiran debu cahaya, saat dia menghantamkannya ke pohon itu.
"Sial ...!" Naruto meninju pohon di depanya. Dia menggertakkan giginya beberapa kali, sebelum akhirnya tubuhnya menjadi lemas. Dia langsung berjalan pelan ke arah pinggir sungai dan duduk disana.
"Hah~ …, susah sekali."
Naruto menunduk. Dia tersenyum kecut ketika memikirkan latihannya yang sepertinya belum berhasil, "Mungkin, aku harus lebih giat berlatih mulai dari sekarang."
Setelah itu dia mendongak, dan dapat bocah berambut merah itu lihat akan matahari sore yang sedang memancarkan cahaya indahnya. Untuk sesaat, dia tersenyum. "Yah …, tidak apa-apa, lah. Lagipula, pelatihanku baru saja dimulai."
Sementara itu di jalan setapak, Sandaime Hokage dan Shizukesa sedang berjalan berdampingan.
"Hei, Kakek Hokage, siapa dia? Itu, yang sedang duduk sendirian disana!" tanya Shizukesa sambil menunjuk Naruto.
"Ooh, dia itu Naruto," jawab Hiruzen setelah melihat ke arah yang ditunjuk Shizu, "Ayo ke sana!"
Shizukesa hanya mengangguk, dan setelahnya dia mengikuti sang Hokage yang sudah lebih dulu berjalan pergi.
Tap. Tap. Tap.
Naruto yang seperti mendengar suara langkah kaki mendekatinya, langsung menoleh ke belakang, hingga dapat dia lihat Sandaime Hokage dan juga seorang bocah yang seumuran dengannya. Naruto belum pernah melihat bocah itu sebelumnya.
"Sandaime-Jiji, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto heran kepada orang tua yang ada di depannya.
"Tidak ada. Aku hanya berkeliling saja …," balas Hiruzen seraya memasang senyuman yang menempel di wajah tuanya. Kemudian, dia melanjutkan, "Kau sendiri sedang apa?"
Naaruto sudah berdiri sedari tadi saat melihat orang tua itu mendekatinya. Mengalihkan tatapannya kepada Hiruzen, kemudian ia menjawab, "Aku baru saja selesai berlatih."
Si Hokage Generasi Ketiga yang mendengar itu pun menanggapinya dengan mengangguk singkat.
Tiba-tiba perhatian Naruto teralihkan kepada seorang bocah yang ada di samping Hiruzen. "Emm …, Jiji, siapa yang ada di sampingmu itu?" tanya Naruto. Mata milik bocah berambut merah itu tetap memandang Shizu dengan ekspresi keheranan.
Hiruzen tiba-tiba tersentak, dia lupa kalau dia tidak sendirian ke sini. Biasa, lah, orang tua memang kadang sering melupakan sesuatu menurutnya yang tidak penting bagi diri mereka. Dia mendorong pelan punggung dari bocah laki-laki berwajah manis itu, membuatnya sedikit lebih dekat dengan Naruto.
"Kalau begitu perkenalkan, dia adalah Shizukesa!" ucap Hiruzen sambil tersenyum kecil.
Shizukesa yang diperlakukan seperti itu sebenarnya kesal. Seperti dirinya barang saja, sampai harus didorong-dorong. Tapi meskipun begitu, dia tetap memperkenalkan dirinya, "Namaku Midoru Shizukesa, salam kenal …," ucapnya sambil membungkuk sedikit.
Naruto yang melihat itu tersenyum lebar. "Namaku Namikaze Naruto, salam kenal!" katanya penuh dengan semangat.
Mata lentik milik bocah Midoru itu terbuka dengan lebar. Shizu sedikit terkejut ketika mendengar marga dari bocah yang ada di depannya itu.
'Namikaze …?' batin Shizukesa heran. Entah mengapa, dia malah teringat dengan seseorang yang pernah menjadi satu tim dengan kedua orang tuanya dulu. Ya, pikiran Shizukesa sedang tertuju kepada Namikaze Minato.
"Ehem!"
Hiruzen berdehem pelan, ketika melihat Shizu hanya melamun, dan tentu saja itu sukses mengembalikan kesadaran milik bocah klan Midoru tersebut.
"Sepertinya, kau orang yang baik. Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman?" ucap Naruto masih dengan senyuman lebarnya. Kepalan tangan kanannya ia majukan ke arah bocah yang ada di depannya.
Shizukesa hanya diam. Dia agak ragu-ragu untuk menerima ajakan pertemanan Naruto. Jujur saja, dia pernah memiliki pengalaman buruk dengan yang namanya "teman". Dia mengalihkan pandangannya ke arah Sandaime yang berdiri sedikit di belakangnya. Dan dapat Shizu lihat, kalau Hiruzen sedang mengangguk kepadanya, seperti memberikan dorongan kepada bocah berwajah cantik itu untuk memercayai Naruto.
Mata lentik milik Shizu memandang Naruto, lebih tepatnya sedang memandang ke arah kepalan tangan yang masih menunggu untuk disambut itu.
Hiruzen menatap kejadian itu dengan pandangan tertarik. 'Hubungan pertemanan, ya? Hm, takdir apa yang akan menanti kedua bocah ini di masa depan, ya?' Pria tua itu mulai terkekeh pelan saat memikirkan itu semua.
Shizu masih diam. Tapi tidak lama kemudian, dia mengangkat tangan kirinya yang terkepal ke arah tangan Naruto, lalu menyejajarkan kepalan tangannya itu.
Setelah itu, Shizukesa memajukan kepalan tangannya sedikit dan …
Duk!
… dua kepalan tangan itu bertemu!
Matahari sore menjadi saksi, bahwa telah terbentuk suatu ikatan persahabatan yang baru di Konohagakure!
Bersambung
[Abidin's Note]:
Wooohoooo *Berputar seperti orang gila* SAYA KEMBALI MENG-UPDATE FIC PERTAMA SAYA! *Teriak gila-gilaan*.
*DUAAARH!*
Hah, hah …. *Tepar di lantai* Maaf atas kejadian gaje tadi. Mari kita kembali mengulas fic ini.
Di sini aku memunculkan salah satu klan OC yang akan memiliki peran penting di Project fic jangka panjang ini. Ya, mereka adalah Klan Midoru. Kalau kalian ada yang pernah baca fic The Best Team atau The Uzukage karya Doni-san di akun Author Icha-chan Ren, kalian pasti tahu seberapa hebatnya klan ini, karena aku memang ambil dari situ.
Siapa itu klan Midoru? Nanti akan aku bahas secara pelan-pelan, tetapi tidak akan aku perjelas secara mendalam seperti yang dijelaskan oleh Doni-san. Hm, memang keknya keperluan klan Midoru di fic The Best Team dan di fic Shinobi with Magic juga bakal beda, sih. Yah, entahlah, kita lihat saja nanti. Tapi, kalau para reader ingin tahu ya baca aja fic buatan Doni-san *wkwkwkwk XD*.
Di sini kujelaskan seperti Doni-san, bahwa Midoru Haji merupakan salah satu pahlawan pada Perang Dunia Ninja Kedua. Dan bersama dengan Sarutobi Hiruzen, mereka adalah ninja satu tim di bawah bimbingan Nidaime Hokage atau Senju Tobirama.
Lalu tentang kedua orang tua Shizukesa. Mereka berdua juga satu tim yang sama dengan Namikaze Minato di bawah naungan sang Gama Sannin, Jiraiya. Dan untuk Shizu, aku buat dia sudah bertemu Naruto serta menjalin hubungan pertemanan dengan si Rambut Merah ini. Lalu, nanti Shizu juga bakal belajar bersama Jiraiya, untuk kapan dia bertemu Jiraiya … sepertinya di antara chap 8 sampe chap 10. Entahlah, lupa aku, wkwkwk.
Juga tentang Shizukesa yang suka bilang "gezz", itu hampir sama seperti kebiasaan dari Menma di fic ini ataupun Naruto di Canon yang suka menambahkan dattebayo/—ttebayo di akhir ucapannya.
Lalu, aku ingin berterima kasih kepada penname YaoYao-kun. Sungguh, aku sangat suka sama review-mu, Bro! Aku sendiri pas baca review-mu jadi gregetan, karena analisismu yang bisa aku bilang sedikit nyerempet-nyerempet kebenaran, jika dipikir secara logis gitu lah pokoknya, wkwkwk. Yah, kita lihat aja nanti gimana Naruto bisa punya mana, karena ini nanti akan aku sedikit singgung di arc Ujian Chunnin, sebelum akhirnya aku buka-bukaan semua masalah ini di bagian Epilog dari season 1 fic Shinobi with Magic ini. Mari kita tunggu aja, lah, wkwkwk.
Pokoknya, jujur, aku lebih suka sama jenis review nyeleneh, tetapi masih sedikit membahas isi cerita ini, ya … kayak review kemarin dari YaoYao-kun, lah, wkwkwk. Moga aja ada lagi kek gini. *Readers: Ngarep aja lu, Thor!*. Yah, mari kita membaca cerita ini, sekaligus bercanda bersama lewat kolom review, ahaha.
Terima kasih kepada author maupun reader, yang sudah berkenan memberi review, dan juga yang sudah berminat untuk membaca cerita kecil ini. Sekian.
See you next time, Brother and Sister!
Special Thanks to Allah SWT.
Tertanda. [Abidin Ren]. (8/ September/2020).
