26/September/2020
Ini adalah sebuah cerita yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren.
—Shinobi with Magic—
By: Abidin Ren
Summary: Ramalan itu sudah lama disebutkan. Dan hanya tinggal menunggu waktu … sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap aib oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa tidak sukanya kepada gelar pemimpin, dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kaupilih?
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.
Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak manapun.
This Story Created by Me
Genre: Advanture — Fantasy — Friendship — Romance(?).
Pair: NaruShion, MenmaHina, SasuSaku, dan yang lain akan menyusul.
Rated: T+
Warning: Alternate-Reality! (AR!), All-Human! (AH!), Mini Slight Crossover! MAGIC-POWER! OOC(s)(?), OC(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More. [Mengambil Elemen Kekuatan dari Fate Series].
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Like, Favorite, and Review!
.
[Prologue]
[Chapter 5]: Dengan Begini, Kekuatan Kedua Bocah Itu pun Semakin Bertambah
Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night: UBW Season 2)
Siang hari, Taman Desa Konoha.
Di bangku taman, duduk dua orang bocah berumur 7 tahun dengan gaya rambut yang sama, tetapi memiliki warna rambut yang berbeda.
"Apa-apaan tadi Iruka-Sensei?! Marahnya berlebihan banget! Aku tadi kan tidak sengaja …," kata bocah pertama yang memiliki rambut kuning cerah itu, setelahnya dia menghela napas, "Lagipula, kejadian tadi bisa dibilang kesalahan teknis—dattebayo," lanjut bocah tadi yang kita ketahui bernama Menma.
Sedangkan bocah kedua yang duduk di samping bocah pertama tadi, hanya bisa sweatdrop saat mendengar ucapan dari bocah yang merupakan adiknya itu.
'Kesalahan teknis dia bilang? Padahal tadi dia hampir saja membunuh Iruka-Sensei menggunakan lemparan shuriken-nya,' batin Naruto, nama dari bocah kedua.
Ya, tadi pagi di Akademi memang diadakan ujian praktek untuk para murid. Ujian itu sendiri terdapat beberapa macam, seperti melempar shuriken, kunai, membuatBunshin dan masih banyak lagi. Tapi tentu saja, Naruto tidak mengikuti praktek yang berhubungan dengan chakra.
Dan seperti yang dibatinkan oleh Naruto, tadi Menma memang hampir saja membuat Iruka terbunuh karena lemparan shuriken-nya yang asal-asalan. Tapi, entah beruntung atau apa, shuriken yang dilempar Menma hanya melewati kepala bagian atas dari Sensei mereka itu. Naruto tidak tahu apa yang akan terjadi, jika lemparan shuriken tadi benar-benar mengenai kepala gurunya, lalu membuatnya meninggal. Membayangkan Iruka yang akan menggentayangi mereka berdua saja sudah membuat Naruto bergidik ketakutan.
"Makanya, kalau berlatih itu sungguh-sungguh!" Naruto memandang pada seekor burung yang memberikan sesuatu kepada anak-anaknya di dalam sarangnya, yang ada di salah satu pohon di sekitar situ.
Menma dengan cepat menatap ke arah kakaknya setelah mendengar perkataannya barusan. Sesaat kemudian, dia memandang langit yang sangat cerah tanpa awan sedikitpun, secerah mata safirnya. "Kau tahu, 'kan, kalau aku sudah berlatih sunggu-sungguh …? Tapi, hasilnya sama saja."
"Itu karena kau bocah yang payah!"
Muncul sebuah suara yang berasal dari dalam kepala Menma.
"!"
Menma tiba-tiba tersentak kaget saat mendengar suara tadi. Suara itu entah mengapa terdengar sangat berat.
"Hei! Siapa kau?!" Bocah Namikaze itu berdiri, lalu menoleh ke sana-ke mari, seperti mencari sesuatu.
Naruto mengalihkan pandangannya ke samping, memandang bingung pada Menma dengan sebelah alis miliknya yang terangkat. "Ada apa?"
"Apa kau tadi tidak mendengar sebuah suara yang sangat berat, Naruto-Nii?!" Bukannya menjawab pertanyaan dari kakaknya, si Adik malah balik bertanya.
"Suara berat …?" Masih dengan sebelah alis yang terangkat, Naruto berbicara dengan heran, "Aku tidak mendengar apa-apa. Mungkin kau saja yang salah dengar, Menma."
"Tapi, aku tidak salah dengar—dattebayo!" teriak Menma jengkel. Padahal suara tadi benar-benar sangat jelas terdengar olehnya. Lalu, bagaimana bisa Naruto tidak mendengarnya?
"Haah~" Naruto hanya bisa menghela napas lelah setelah mendengar teriakan adiknya, kemudian dia mendongak, "Mungkin … daripada banyak berlatih, kau harus lebih banyak istirahat saja, Menma."
"Memangnya kenapa, Naruto-Nii?" Menma memiringkan sedikit kepalanya ke samping. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang sangat jelas. Setelah itu, Naruto langsung bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan adiknya. Tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, dia berujar kepada Menma,
"Karena mungkin saja …, kau sudah gila …."
Menma yang mendengar itu hanya ber-"oh" ria saja. Dia mengangguk beberapa kali dengan mata yang tertutup dan tangan yang terlipat di depan dada.
Setelah Naruto tidak terlihat lagi di sekitar taman itu, Menma tiba-tiba tersentak karena baru mengerti maksud dari perkataan kakaknya tadi.
"GAAAHH! Sialan kau, Naruto-Nii! Dia mengataiku kalau aku sudah gila?!" teriaknya yang langsung berdiri sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Setelah beberapa saat, dia mengembuskan napasnya dan kembali duduk dengan tenang.
"Heh, kau memang bocah yang payah …."
—Kembali terdengar suara seperti tadi. Suara yang berat, tetapi yang ini lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya.
"Kau …! Siapa kau sebenarnya, hah?! Tunjukkan dirimu—ttebayo!" teriak Menma sedikit menggeram.
"Hehehe …." Terdengar kekehan dari suara yang sangat berat, "Namaku adalah Kurama, Sang Kyuubi, Bijuu Ekor Sembilan yang ada di dalam tubuhmu!" kata suara tadi.
"Di dalam tubuhku?" Menma langsung menatap perutnya dengan ekspresi tidak percaya. Seolah-olah, raut wajahnya itu tengah berkata, "Gila! Bagaimana bisa?!", kira-kira seperti itulah artinya.
Masih dengan ekspresi seperti tadi, Menma kembali bersuara, "Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu denganmu?"
"Pergilah ke alam bawah sadarmu!" perintah suara tadi yang ternyata adalah Kyuubi.
"Bagaimana caranya?"
"Tutup matamu …, dan berkonsentrasilah …."
Tanpa menunggu perintah lagi, Menma pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Kyuubi.
..
.
..
Beberapa menit kemudian ...
"NGOOOOKK ...!"
"BOCAH SIALAN ...! BERANI-BERANINYA KAU TIDUR!" teriak Kyuubi dengan penuh kekesalan yang sempurna, "AKU TADI TIDAK MENYURUHMU UNTUK TIDUR, GAKI!"
—Dia benar-benar marah pada bocah yang merupakan wadahnya ini. Yang benar saja! Dia, Sang Bijuu Terkuat, dibuat menunggu sedari tadi hanya karena bocah ini yang ternyata malah tertidur?!
Seketika itu juga, Menma pun langsung bangun dari mimipinya. "Eh? Ehehe …, gomen, gomen, aku tidak bisa melakukannya soalnya," katanya sambil cengengesan. Dia juga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal saat ini.
"Heh …, melakukan hal mudah seperti itu saja kau tidak bisa. Memang pantas, kalau kautidak bisa melakukan satu jutsu pun," kata Si Ekor Sembilan sinis.
"Apa kau bilang—dattebayo?! Akan aku tunjukkan, kalau aku bisa menggunakan jutsu!" Menma berteriak penuh kekesalan. Dia tidak terima karena Kyuubi telah menghinanya.
"…."
"Hei, kenapa kau diam saja, Kyuubi?"
"…."
"Cih. Dasar Bijuu menyebalkan!"
"…."
"Hn. Kenapa kau bicara sendirian, Dobe?"
Menma yang mendengar suara yang sangat dikenalinya, langsung menoleh ke samping kanan dan dapat dia lihat, bahwa seorang Uchiha Sasuke sedang berdiri sambil menatap dirinya dengan pandangan aneh. Entah sejak kapan bocah Uchiha itu sudah ada di situ. Menma bahkan tidak merasakan hawa dari kedatangannya tadi. 'Benar-benar tipis sekali aura milik Sasuke ini.'
Menma tentu saja cuma berani membatinkan hal ini, kalau dia tidak ingin membuat Sasuke memarahinya sebab dikira sedang mengejeknya. Dan tentu saja, perdebatan gaje mereka pun akan terjadi lagi setelahnya.
Menma mencoba mengenyahkan pikirannya tadi, dan memilih bertanya secara langsung pada temannya itu. "Eh? Memangnya, kau tidak mendengar suara yang bicara denganku tadi?" Setelah itu, dia pun berdiri dari duduknya.
"Tidak. Memangnya …, seperti apa rupa orang itu?" tanya Sasuke datar seperti biasanya. Ya, tanpa ekspresi yang berarti, datar.
Menma mengangkat kedua bahunya, kemudian berucap, "Emm, entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana rupannya."
"Hn." Sasuke berjalan lurus ke depan, pergi meninggalkan bocah Namikaze itu, "Sudah kuduga ..., kau memang gila."
Menma tersentak pelan. "Teme …! Apa katamu?! Cepat kembali ke sini dan ulangi lagi kalau kau memang berani!" teriak bocah jabrik itu. Dia tidak terima karena sudah dikatai gila oleh dua orang dalam sehari ini.
Sementara Sasuke sendiri terus berjalan, tidak berniat menanggapi ocehan dari Menma.
"Cih! Sudahlah. Lebih baik aku pergi dari sini!"
Menma pun berjalan ke arah kanan, berlawanan dari Sasuke yang berjalan pergi ke arah kiri.
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Sore hari, Sungai Desa Konoha.
Ada seorang bocah yang duduk di jembatan kecil, yang berada di pinggir sungai. Bocah pemilik rambut hitam-kebiruan seperti model pantat ayam itu, sedang menatap ke arah matahari sore yang sebentar lagi akan tenggelam.
Meskipun wajah bocah itu terlihat tenang seperti menikmati pemandangan di depannya, tetapi sebenarnya pikiran bocah itu sedang berkecamuk. Ya, dia teringat kembali akan kejadian yang terjadi siang tadi sebelum dia datang ke tempat ini.
Kilasbalik
Sasuke saat ini sedang berjalan memasuki komplek perumahan Uchiha dengan tenang. Beberapa kali dia juga membalas sapaan dari orang-orang yang dikenalinya. Yah, meskipun dia selalu terlihat datar di mana pun dia berada, itu tidak bisa mengubah fakta, bahwa dia tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada banyak orang di sekitarnya, jadi karena itulah, dia tidak bisa mengabaikan sapaan dari orang yang berniat baik kepadanya.
Sasuke terus berjalan, hingga langkahnya membawa dirinya ke sebuah rumah besar dengan banyak simbol kipas angin berwarna merah dan putih yang menghiasinya. Rumah ini adalah tempat tinggalnya. Setelah memberikan salam, bocah Uchiha itu pun langsung masuk ke dalam rumah. Tujuannya saat ini hanya satu orang, yaitu ayahnya.
Setelah mencari ke mana-mana, akhirnya Sasuke menemukan ayahnya yang ternyata sedang berada di halaman belakang rumah. Uchiha Fugaku, itulah nama dari orang yang saat ini ada di depan Sasuke. Seorang pria dewasa dengan rambut hitam panjang dan tatapan mata onyx yang sangat tajam. Pria itu merupakan ketua klan Uchiha saat ini, dia juga merupakan ayah dari Sasuke dan Itachi.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Fugaku, saat tahu yang menghampirinya adalah putra keduanya. Setelah itu, dia pun membalikkan badannya, menghadap ke arah putranya.
"Ini, Tou-san …," kata si bocah Uchiha dengan sedikit tersenyum. Dia menyerahkan kertas hasil ujian praktek hari ini pada ayahnya. Dia yakin, kalau dia akan mendapat pujian dari pria di depannya ini, karena memang nilai yang dia dapat bisa dikatakan sangat tinggi.
Fugaku mengambil kertas yang diberikan Sasuke. "Apa ini?"
"Itu hasil ujian tadi pagi, dan nilaiku adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan teman seangkatanku lainnya …," ujar Sasuke dengan sedikit membanggakan dirinya.
Fugaku memeriksa dengan teliti pada setiap bagian di kertas itu. "Apa hanya segini saja nilaimu?" tanya sang Kepala Keluarga dengan heran. Pria itu terlihat seperti kurang puas dengan nilai yang didapat oleh anaknya, ketika dirinya selesai membaca isi dari kertas tersebut.
Senyum itu luntur seketika. Sasuke sendiri entah mengapa merasakan kalau rasa percaya dirinya tiba-tiba menghilang begitu saja, saat mendengar perkataan ayahnya barusan. Bocah itu menunduk, tidak berani melakukan kontak mata dengan pria di depannya.
"Iya," jawabnya pelan.
"Hm, begitukah?"
Setelah itu, Fugaku mengembalikan kertas tadi kepada Sasuke, dan hal itu diterima dengan baik oleh si Uchiha muda. Kemudian, pria itu membalikkan tubuhnya, membelakangi anaknya ….
"Kakakmu saja bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi daripada milikmu tadi, Sasuke …."
Sasuke hanya bisa diam mendengarkan, sambil masih dengan kepala yang menunduk.
"Kenapa kau tidak bisa seperti kakakmu?" Dia berkata dengan nada yang terdengar kecewa.
"…" Sasuke terdiam.
Fugaku masih terus berbicara dengan keadaan membelakangi Sasuke. "Bahkan, Kakakmu saja dapat membangkitkan Sharingan-nya sebelum dia masuk ke Akademi …," ucapnya. Dia melirik sekilas kepada Sasuke melalui ekor matanya, "Kau tahu, 'kan, apa kebanggaan dari klan Uchiha?"
"Ya, Tou-san …."
"Sharingan …, itulah kebanggaan kita, Sasuke!"
Fugaku kembali memandang ke depan. "Itachi berhasil lulus dari Akademi jauh lebih cepat dibandingkan teman seangkatannya, dan dia juga berhasil masuk ke Kesatuan Anbu saat dia berada di umur yang masih muda. Suatu pencapaian yang luar biasa, 'kan, Sasuke?"
"…."
Fugaku membalikkan badannya lagi, menghadap ke arah Sasuke. "Itulah mengapa, dia disebut-sebut sebagai Jenius dari klan kita, klan Uchiha!"
Setelah mengatakan itu, Sang Ayah mulai berjalan menuju ke dalam rumah, meninggalkan anaknya yang masih diam di tempatnya sedari tadi.
"Mungkin …, aku terlalu berharap banyak padamu. Sampai kapan pun, kau tetap tidak akan pernah bisa sekuat Kakakmu." kata Fugaku datar, sambil masih dengan berjalan dan pandangan yang tetap lurus ke depan. Pria itu terus berjalan, sampai sosok itu menghilang di balik pintu rumah.
Sampai beberapa menit setelah Fugaku masuk ke dalam rumah, si bocah Uchiha itu masih saja berdiri di situ dengan kepala yang menunduk.
Tiba-tiba Sasuke meremas kertas di tangan kanannya hingga tak berbentuk lagi. Dia menggeleng pelan seraya bergumam, "Kenapa, Tou-san? Aku tidak minta terlalu banyak darimu …. Yang kuinginkan darimu hanyalah …, hanyalah bangga pada diriku ini yang apa adanya …!"
Cengkeraman tangan itu semakin erat meremas kertas di tangannya, "Dan aku paling tidak suka, jika dibanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi dengan Aniki!"
Sasuke mendongak, menatap langit yang entah kenapa tiba-tiba menjadi mendung. Kedua mata onyx itu mengeluarkan sedikit air matanya, sehingga membuat sebuah bekas anak sungai kecil yang mengalir ke bawah di wajah tampan sang bungsu Uchiha.
Tak berselang lama, hujan pun turun secara rintik-rintik, membasahi sedikit kaos biru dongker milik Sasuke, juga membuat basah rambutnya. Air matanya yang mengalir di pipinya, tampak bercampur dengan air hujan yang semakin deras berguyur. Matanya tampak memerah akibat dirinya yang menangis, dan juga karena terkena beberapa rintik hujan.
Setelah mengusap bekas lelehan air mata itu, Sasuke pun mulai berjalan menuju ke dalam rumahnya, lalu pergi menuju pintu keluar rumah bagian depan. Dia terus berjalan sampai keluar dari komplek Perumahan Uchiha tanpa membawa sebuah payung untuk menutupi tubuhnya dari guyuran air hujan yang deras. Dia juga berjalan tanpa menghiraukan sapaan dari orang-orang di sekitarnya. Hatinya benar-benar sedang gelap, segelap awan di atasnya.
Dengan kaki yang terus berjelan tanpa tentu arah, Sasuke terus menggemeletukkan gigi-giginya di sepanjang perjalanannya. Sementara itu, jari-jarinya kembali meremas kertas yang ada di genggamannya dengan tangan yang bergetar.
Kilasbalik Selesai
.
.
—Shinobi with Magic—
.
.
Sore hari, di Kediaman Namikaze.
Di saat yang bersamaan dengan Sasuke yang sedang mengingat kejadian di rumahnya, Menma saat ini malah baru saja sampai di tempat tinggalnya.
"Tadaima …," katanya pelan.
"Okaeri!"
Terdengar sebuah suara yang berasal dari arah ruang makan.
"Kau tidak makan dulu, Menma?" tanya seorang wanita berambut merah panjang sepinggul, saat melihat Menma yang malah terus berjalan menuju kamarnya.
"Tidak, Kaa-chan, mungkin nanti saja. Aku sedang malas untuk makan saat ini." Dia terus berjalan dengan lesu, mengabaikan raut wajah bingung dari wanita yang merupakan ibunya itu.
Sedangkan Kushina—nama wanita tadi—hanya mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar itu. "Aneh. Tidak seperti biasanya dia seperti itu." Perempuan itu menatap bocah yang sedang duduk di sampingnya, kemudian bertanya, "Apa kau tahu tentang apa yang sedang terjadi pada adikmu, Naru?"
Naruto menelan makanan yang ada dalam mulutnya, kemudian menjawab pelan, "Entahlah, Kaa-chan …. Aku juga tidak tahu."
Kushina yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti.
..
.
..
Setelah sampai di kamarnya, Menma pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya, kemudian mulai menutup matanya. Dia benar-benar lelah hari ini. Ingin rasanya dia segera tidur agar bisa mengembalikan staminanya yang telah terkuras banyak karena kegiatan yang telah dia lakukan seharian ini.
Pik!
Setelah membuka matanya, bocah itu hanya bisa berekspresi bingung saat mendapati dirinya tidak lagi berada di dalam kamarnya. "Di mana ini …?" gumamnya heran.
Dia menoleh ke segala arah, melihat tempat dirinya berada saat ini. Tempat itu sangat gelap dan banyak air yang menggenang sampai semata kakinya. Dia berada di dalam lorong dengan setiap dindingnya yang dipenuhi oleh banyak sekali pipa dengan berbagai ukuran. "Ini di mana, sih?!"
Setelah bergumam kesal, Menma berniat untuk pergi dari situ. Percuma saja kalau hanya berdiam diri, makanya lebih baik mencari sesuatu agar dirinya bisa keluar dari tempat aneh ini, 'kan?
Dia terus berjalan, yang anehnya lorong pipa-pipa itu semakin melebar. Hingga akhirnya, dia mendapati kalau di depannya seperti ada sebuah area luas. "Apa itu jalan keluarnya?"
—Setelah bergumam bingung, dia berlari menuju jalan di depannya yang sedikit memunyai cahaya.
Mata safirnya sedikit melebar ketika ia melihat sebuah kurungan besar yang ada di depannya. Juga, ada semacam kertas segel yang berada di tengah-tengah antara pintu penjara itu.
"Selamat datang di tempatku, Bocah …," kata sebuah suara berat yang berasal dari dalam jeruji raksasa itu.
Mata Menma membulat. Ya, dia kenal suara ini. Ini adalah suara yang sama, dengan suara yang berbicara dengannya tadi siang saat berada di taman!
"S-Suara ini …, bukankah suara yang kudengar tadi?!"
Setelah itu, muncul sepasang mata besar berwarna merah dengan pupil mata hitam berbentuk vertikal di dalam kegelapan kurungan raksasa itu.
"Heh, tak kusangka, kalau kau berhasil sampai ke tempat ini, Bocah!" kata suara berat itu dengan nada sinis. Tak berselang lama, dari kegelapan itu muncul seekor rubah yang sangat besar. Oranye adalah warna dari seluruh bulu yang dimilikinya. Rubah itu memiliki telinga yang sangat panjang dengan warna hitam yang sampai menyebar di sekitar matanya. Dia juga memiliki sembilan ekor yang melambai-lambai berbahaya di belakang tubuhnya.
Menma memicingkan matanya ke arah penjara di depannya, kemudian berkata, "Apa kau itu adalah Kyuubi?" Menma sedikit mengubah postur tubuhnya menjadi santai, "Ternyata, kau tidak terlihat begitu menakutkan, ya."
"Hehehe. Ya, akulah Kyuubi!"
Rubah itu menyeringai lebar ke arah manusia di depannya, menampilkan gigi runcingnya, "Jadi, kau tidak takut padaku, heh?"
Menma mendengus keras. "Tentu saja tidak—dattebayo!" katanya dengan percaya diri.
'Asal kaubukan hantu saja, sih ….' Dia melanjutkan dalam pikirannya sambil bergidik ketakutan.
"Oh, iya. Kyuubi, sebenarnya … kau itu apa, sih? Dan, kenapa kau bisa ada di dalam tubuhku?" Menma bertanya dengan heran.
"Hm, sepertinya, kalau kau memang belum diberi tahu apa-apa oleh kedua orang tuamu, ya?" Si Rubah berkata seperti itu dengan malas. Dia menidurkan kembali tubuhnya di dalam kurungannya. Mata merah besar itu pun mulai tertutup.
Menma memiringkan kepalanya, bingung. "Apa maksudmu? Apa orang tuaku sedang merahasiakan sesuatu dariku?"
"Sudah kubilang, 'kan, kalau aku adalah Kyuubi?" Ia membuka sebelah matanya, menatap Menma menggunakan sebelah matanya itu, "Kau tahu …, apa itu Bijuu?"
Bijuu adalah seekor monster raksasa yang memiliki pasokan chakra yang sangat banyak. Bijuu sendiri terdapat sembilan ekor monster, yang masing-masing julukannya didasarkan pada jumlah ekor mereka masing-masing. Mereka adalah Ichibi, Nibi, Sanbi, Yonbi, Gobi, Rokubi, Nanabi, Hachibi, dan Kyuubi.
Dulu, pada masa Perang Dunia Shinobi, banyak desa yang berusaha menangkap para Bijuu agar bisa dijadikan kekuatan militer setiap desa. Tapi, karena kekuatan mereka yang sangat besar itulah, tidak banyak desa yang berhasil menangkap Bijuu. Malahan, hal itu membuat banyak ninja mereka yang terbunuh sia-sia ketika berusaha menangkap Sang Monster Berekor.
Menma menggeleng, dia tidak tahu. "Memangnya …, apa itu?"
Kyuubi menghela napasnya. Dia merasa, kalau wadahnya ini memang pantas disebut bodoh. "Gampangnya, Bijuu adalah monster berekor, kami ini hanyalah sekumpulan chakra."
Menma hanya ber-"oh" ria saja. "Lalu, apa hubungannya dengan kedua orang tuaku?"
"Dulu, akulah yang menyerang Desa Konoha, membuatnya hancur dan membunuh banyak ninja hebat di desa ini, hingga akhirnya, aku dihentikan oleh kedua orang tuamu; Ayahmu yang merupakan Pahlawan Desa Konoha, dan Ibumu yang merupakan Jinchuriki-ku sebelumnya. Lalu, kekuatanku pun dibagi menjadi dua dengan cara menyegel setengah chakra-ku di dalam tubuh ibumu kembali, dan yang setengahnya lagi …."
"—Di dalam tubuhku."
Kyuubi mengangguk senang saat Menma menyambungi itu menyeringai ….
'Sepertinya, dia ini tidaklah sebodoh yang aku kira.'
Dia membuka sebelah matanya yang lain, kemudian menatap Menma menggunakan mata merahnya yang menyala. "Kau selalu dibenci, dijauhi, dicaci maki, dan dikucilkan oleh warga desa ini …."
Menma menatap dalam pada mata merah besar di depannya. Seringaian monster itu semakin lebar, "Dan itu semua karena aku …, sebab keberadaanku yang ada di dalam tubuhmu! Juga … karena kau yang telah menjadi Jinchuriki!"
Safir itu bergetar mendengar perkataan Kyuubi.
Kyuubi melanjutkan, "Karena itulah, lepaskan aku, keluarkan aku dari dalam tubuhmu …, sehingga kau dapat merasakan hidup dengan normal, Gaki!"
Menma tampak berpikir sesaat. Dia merasa, kalau dirinya sedang dihasut saat ini, dan melepaskan Kyuubi dari dalam tubuhnya, sepertinya bukanlah pilihan yang bagus, jadi ….
"Tidak, aku tak akan melepaskanmu!"
"Grrr …!" Mata merah itu menyala terang, penuh akan kemarahan, "Kau sudah membuang kesempatanmu, Bocah!" Kyuubi menutup kembali kedua matanya.
Setelah itu, keduanya terdiam, membuat tempat yang gelap itu menjadi sunyi.
Merasa tidak nyaman, Menma pun berniat mencairkan suasana. Dia mengelus leher belakangnya, kemudian berkata ….
"Hei, Kyuubi—"
"Namaku Kurama! Itulah namaku, Manusia!"
"Gak nanya …."
"…"
"…"
"KAU MEMANG MENYEBALKAN, GAKI!" Kurama mendecih pelan. Bisa-bisanya dia jadi seperti ini hanya karena bocah bodoh yang merupakan wadahnya ini, "Cih! Kenapa juga harus kau yang menjadi Jinchuriki-ku, sih?! Kalau bisa, aku lebih memilih kakakmu saja yang jadi wadahku! Sial."
"Memangnya bisa, ya?"
"Apa maksudmu?"
"Apa kakakku bisa menjadi Jinchuriki?"
"Tentu saja bisa!"
"Tapi, Kakakku kan tidak memiliki chakra, jadi tidak mungkin dia menjadi wadahmu, 'kan?"
"…"
"Kurama? Kenapa kau malah diam?"
"Cih, lupakan saja apa yang kukatakan tadi!"
Menma hanya menggaruk kepala belakangnya saat melihat gerutuan aneh dari Bijuu itu. Sesaat kemudian, dia tertawa pelan. Dia merasa senang saja, saat berbicara dengan Kurama. Seperti ... ada semacam perasaan hangat ketika Menma berbicara dengan Bijuu itu, perasaan yang sama seperti saat dia bersama keluarga dan teman-temannya.
Diam-diam, Kurama melirik Menma. Ia bernapas lega, karena bocah itu tidak bertanya lebih lanjut. Hampir saja dia keceplosan. Tadi itu bukanlah haknya untuk mengatakan kebenarannya pada Menma, biarkan saja mereka mengetahui masa lalu mereka di saat yang tepat saja. Ya, itu adalah rahasia milik Minato dan Kushina, dan Kurama tak berhak berbicara lebih banyak dari ini mengenai hal tadi.
Menma kembali bersuara saat Kurama diam saja. "Ettoo, Kurama …, apa kau itu kuat?"
Kurama mengalihkan pandangannya, lalu menatap rendah Menma. "Tentu saja …! Akulah yang terkuat di antara para Bijuu lainnya!" kata Rubah itu dengan penuh kesombongan yang sangat amat jelas kentara.
Menma yang mendengar itu langsung menatap Bijuu berekor sembilan di depannya dengan mata berbinar. "Wah …! Kalau begitu, maukah kau menjadi temanku?!"
BLAAAR!
Bocah Namikaze itu hanya bisa menutupi matanya menggunakan sebelah lengannya, saat mendengar suara keras di depannya karena Kyuubi yang dengan sengaja menghantamkan salah satu ekornya ke lantai di bawahnya. Air di sekitar situ terciprat serta terbang berhamburan ke segala arah. Juga, muncul riak air disana yang bergerak tak beraturan.
Kyuubi merendahkan kepalanya, berusaha melihat lebih dekat pada tubuh Menma. Dia menatap nyalang pada bocah yang merupakan wadahnya itu. "Jangan bercanda, Manusia! Jangan coba-coba kau berani memerintahku! Aku tahu, kalau kau pasti hanya ingin memanfaatkan kekuatanku! Dan asal kau tahu, bahwa ..." suaranya terdengar sedikit menggeram, "... tidak ada manusia yang pernah berteman dengan Bijuu sebelumnya!"
Menma yang ditatap seperti itu bukannya takut, malah dia menatap balik Kyuubi dengan mata yang menajam pula. "Justru karena itu …, karena itulah aku ingin menjadi manusia pertama yang berteman dengan Bijuu!"
DRAAAKH!
Kurama menghantamkan cakarnya pada besi penjara raksasa di depannya, dirinya seperti ingin sekali mencabik-cabik Menma saat ini. "JANGAN BERCANDA! Apa kau lupa, kalau karena akulah … kau mendapat semua perlakuan buruk itu dari para penduduk desa, HAH?!"
"Terus? Apa aku harus peduli dengan semua itu? Aku masih punya teman dan keluarga! Bagiku, itu sudah cukup, MESKIPUN SELURUH WARGA DESA MENJAUHIKU SEKALIPUN!"
Dua mata itu bertemu, saling melemparkan tatapan tajam pada lawan bicara masing-masing. Terus saling menatap, dengan tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing ingin menunjukkan tekad kuat yang dimiliki oleh diri mereka.
Menma berjalan mendekat ke arah penjara besi raksasa di depannya dengan mata safir yang semakin tajam. Dia akan membuktikan tekad yang dia miliki pada Kyuubi, bahwa dia memang bersungguh-sungguh!
"Lalu, akan aku tunjukkan pada Dunia Shinobi ini …" tangan kanan berwarna tan itu terangkat, menuju kepada Kyuubi,
"… kalau kita berdua akan menjadi partner yang hebat!"
..
.
..
Kembali pada Sasuke.
Setelah dia selesai mengingat kejadian tadi, dia masih saja duduk di pinggir jembatan itu. Mata onyx kelam miliknya masih setia memandang matahari sore. Setelah beberapa menit berlalu, Sasuke pun menutup kedua kelopak matanya ….
"Akan aku tunjukkan padamu, Tou-san …." Bocah itu menggeleng pelan, "—Tidak, tidak hanya kau saja …, tetapi kepada seluruh klan Uchiha! Akan kutunjukkan, ahwa aku, Uchiha Sasuke, akan menjadi Uchiha terkuat yang pernah ada!" Uchiha Sasuke benar-benar penuh dengan tekad membara saat ini.
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke pun kembali membuka kedua kelopak matanya yang tadinya tertutup. Tapi anehnya, yang terlihat sekarang bukanlah mata onyx kelam khas milik Sasuke. Mata itu berwarna merah dengan satu tomoe berwarna hitam di masing-masing matanya!
Ya …, mata itu adalah mata yang hanya dimiliki oleh klan Uchiha! Doujutsu yang selalu mereka bangga-banggakan, kini telah Sasuke dapatkan!
Ya. Untuk pertama kalinya, Uchiha Sasuke telah membangkitkan Sharingan-nya!
Bocah itu mengangkat kertas hasil ujian prakteknya tadi pagi yang sudah tak berbentuk karena telah dia remas berkali-kali. Mata Sharingan miliknya yang baru saja bangkit, menatap kertas di tangan kanannya dengan tajam. Sasuke tersenyum tipis,
"Kalian lihat saja nanti—" Masih dengan senyuman yang menempel pada wajah tampannya, Sasuke menjatuhkan kertas yang sudah lecek itu ke sungai yang ada di bawahnya. Kertas itu jatuh, lalu terbawa arus sungai yang saat itu tidak terlalu deras.
"—Aku pasti akan menjadi semakin kuat. Dan …"
..
.
..
Kembali pada Menma.
Setelah mendengar perkataan Menma barusan, mata buas milik Kyuubi terbuka dengan lebar. Ya, dapat Kurama lihat, tekad kuat yang berasal dari bocah Namikaze yang ada di depannya ini. Setelah itu, Bijuu dengan jumlah ekor sembilan tersebut pun langsung menyeringai senang. 'Bocah yang menarik ….'
Kyuubi menatap senang pada Menma yang masih mengangkat tangan kanannya, ke arah dirinya. Tangan bocah itu terkepal dengan erat. Mata safirnya masih tajam, menunjukkan kalau dia benar-benar punya tekad yang sudah bulat saat ini.
"Baiklah. Mari kita lihat, sampai mana tekad yang kau miliki ini, Bocah!"
Menma yang mendengar perkataan Kyuubi langsung tersenyum lebar. Bocah itu mengangguk dengan semangat berberapa kali. "Kalau begitu, kau mau menjadi temanku, 'kan, Kyuu—Kurama?!" ucap bocah itu masih sempat-sempatnya meralat perkataannya. Si Ekor Sembilan yang mendengar itu hanya mendengus sambil menyeringai kecil.
Ikatan sebuah partner telah terbentuk! Mereka akan menunjukkan kekuatan mereka di masa depan!
Menma yang sepertinya paham kalau itu berarti "Iya!", langsung saja dia berteriak dengan keras di dalam alam bawah sadar miliknya.
"YOSSHAAAA! Kalau begitu …"
.
.
.
Dan pada waktu yang bersamaan itulah, entah mengapa, perkataan Menma dan Sasuke bisa terjadi secara bersama-sama ….
"… mulai sekarang, kita akan menjadi partner, Kurama!" / "… suatu saat nanti, aku pasti bisa melampauimu, Aniki …!"
Dua bocah ini telah mendapatkan kekuatan baru!
Bersambung
[A/N]:
Halo~ halo~. Saya kembali meng-update cerita GaJe ini.
Masih ingat dengan chapter 2? Di situ kan aku kasih tahu, kalau Naruto dan Menma enggak tahu kenapa Menma dipanggil Monster oleh warga desa. Nah, di chapter ini aku buat si Menma tahu alesannya, yaitu karena keberadaan Kyuubi yang ada di dalam tubuhnya. Juga, di sini dia bertemu sama Kurama untuk yang pertama kalinya, serta menjalin sebuah ikatan pertner dengan Si Ekor Sembilan ini!
Lalu di sini juga aku tunjukin kalau Sasuke baru saja membangkitkan Sharingan-nya untuk pertama kali, karena tekadnya yang ingin menjadi lebih kuat dari sang Kakak, yaitu Itachi. Dan bisa disimpulkan juga, kalau Sasuke entar kekuatannya bukan karena kebencian. Makanya, karena ini juga, fic ini kemungkinan bakal melenceng cukup jauh dari Canon. Ya, sepertinya begitu. [Mungkin aja lho, ya!] wkwkwk …. ^_^.
Lalu, untuk yang bertanya, apa Shirou tahu, kalau Naruto itu punya sihir yang sama dengannya? Kok Shirou langsung ngajarin Naruto tentang Sihir Proyeksi? Yah, sebenarnya sih, enggak tahu si Shirou ini. Dia cuma ngajarin Naruto begitu saja, karena memang Naruto yang tidak punya sihir bawaan. Sebenarnya, ini sama kek Kiritsugu yang ngajarin Shirou tentang Reinforcement Magic atau Sihir Penguatan kepada Shirou, karena setahuku, Shirou ini bukan dari keluarga Magus, jadinya dia juga gak punya sihir bawaannya. Setahuku sih, Sihir Origin-nya si Shirou itu adalah pedang, karena setelah Kiritsugu yang nanemin Avalon ke tubuh Shirou (Mohon koreksi kalau aku salah, wkwk).
Kira-kira, seperti itulah. Lalu, untuk akun Guest yang nge-review di chapter 1 kemarin—aku lupa mau bales ini di chapter 4—, terima kasih atas kritiknya soal masalah Anbu itu. Yah, udah aku sedikit revisi dialog dan narasinya, maaf kalau malah jadi gaje. Maklum, Author-nya yang nulis cerita ini masih newbie, dan cerita inilah yang pertama aku publish di fanfiction. Jadi, maaf kalau semua ceritaku masih terdapat banyak kekurangannya.
Oh, iya, bagi yang berminat untuk gabung grup WhatsApp Fanfiction Indonesia (FI), ataupun FanficCommunityIndonesia (FCI), kalian bisa lempar nomer WA kalian masing-masing di kotak review, maupun PM aku secara langsung. Dan di grup FCI ada beberapa author terkenal seperti Phantom no Emperor, Al-Kun666, dan masih banyak lagi.
Mungkin ini aja, silakan kalau ada yang mau bertanya, akan aku jawab semampuku. Terima kasih atas yang sudah membaca dan meninggalkan review. Akhir kata, see you!
Special Thanks to Allah SWT.
Tertanda. [Abidin Ren]. (26/September/2020).
