8/Oktober/2020


Ini adalah sebuah cerita yang khusus dipersembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren


Shinobi with Magic—

By: Abidin Ren

Summary: Ramalan itu sudah lama disebutkan. Dan hanya tinggal menunggu waktu … sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang dianggap aib oleh warga desanya sendiri, dia akan tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa tidak sukanya kepada gelar pemimpin, dia akan menunjukkan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kaupilih?

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto.

Sedikit Tambahan Elemen [Fate Series] © Type-Moon.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Advanture — Fantasy — Friendship — Romance(?) — Comedy(?).

Pair: NaruShion, MenmaHina, SasuSaku, dan yang lain akan menyusul.

Rated: T+

Warning: Alternate-Reality! (AR!), All-Human! (AH!), Mini Slight Crossover! MAGIC-POWER! OOC(s)(?), OC(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More. [Mengambil Elemen Kekuatan Dari Fate Series].

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Prologue]


[Chapter 6]: Akhirnya, Kekuatan Sihirnya pun Diketahui oleh Orang Lain


Opening: Aimer — Brave Shine (Opening dari Anime Fate/Stay Night: UBW Season 2)


"Lemparanmu masih saja buruk, Menma."

Naruto melihat ke arah sebuah shuriken yang baru saja dilempar Menma. Dia yang saat ini sedang duduk di tanah, hanya memandang datar hasil lemparan adiknya. Yah, bisa dibilang, kalau lemparan itu meleset cukup jauh dari targetnya yang berada di salah satu pohon disana.

Saat ini, Naruto, Menma, dan Sasuke sedang berada di Bukit Hyuoko, salah satu bukit yang ada di belakang Akademi.

Menma menatap kakaknya dengan raut tertekuk kesal. "Diam kau, Naruto-Nii! Lemparanmu juga buruk, tahu!" katanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Naruto dengan kurang ajar.

"Hn. Setidaknya, Naruto lebih baik darimu, Dobe." Sasuke memasang wajah datar sambil menyandarkan tubuhnya pada salah satu pohon, dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.

"GAAAAH! Kau selalu saja begitu, Teme! Kenapa kau tidak pernah memihakku—ttebayo?!" teriak Menma sambil memegangi kepala kuningnya. Ingin sekali dia menjedotkan kepalanya pada pohon yang ada di sampingnya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Dia benar-benar kesal karena tidak pernah menang ber-argumen melawan dua orang di depannya itu.

Sedangkan si Uchiha yang mendengar itu hanya memutar bola matanya tidak peduli. Menma yang melihat itu menggemeletuk-kan giginya sambil memelototi Sasuke, dan dibalas juga dengan melakukan hal yang sama oleh si bocah Raven.

"Hn. Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Kau sendiri, kenapa?!"

"Karena kau yang memulainya!"

"Tidak-tidak-tidak! Itu hanya perasaanmu saja—ttebayo …."

Muncul semacam percikan listrik di antara kedua mata mereka berdua. Dua bocah Namikaze-Uchiha itu sudah saling menyiapkan kepalan tangan mereka, bersiap melakukan adu pukul.

Naruto yang melihat pertengkaran kecil antara Menma dan Sasuke hanya bisa tertawa canggung. Dia pun bangkit dari duduknya, berniat melerai keduanya yang ingin melakukan adu jotos.

"Sudahlah kalian berdua ...," katanya sambil berjalan mendekati mereka berdua. Senyum kecil tertempel jelas di wajah putih Naruto. Sedangkan dua bocah yang bersangkutan sudah melayangkan pukulannya masing-masing, dan …

Buagh …!

… naas. Menma-Sasuke yang sudah saling melayangkan pukulan mereka pun tidak bisa menghentikannya. Dan entah karena kurang beruntung atau apa, Naruto saat itu berada di tengah-tengah keduanya, sehingga membuat kedua tangan mereka "membelai" dengan lembut wajah tampan Naruto. Senyuman itu masih belum luntur dari wajah si bocah jabrik merah.

"Naruto-Nii, jangan ganggu kami—ttebayo!"

"Hn. Kau diam saja, Naruto!"

Begitulah kata Menma-Sasuke. Mereka berdua sepertinya tidak terlalu peduli pada keadaan dari bocah yang baru saja kena serangan "nyasar" mereka. Dan setelah itu, keduanya pun kembali melanjutkan "kegiatan" yang sempat terganggu tadi.

Naruto yang merasa tidak dipedulikan hanya menunduk dengan sudut bibir yang berkedut-kedut kesal. 'Mereka mengabaikanku?! Bahkan setelah mereka menghajar wajah tampanku ini?!' teriak batinnya sedikit narsis.

"Kalian …."

Muncul semacam aura-aura hitam di belakang bocah jabrik merah itu. Dia berjalan dengan buku-buku jari yang berbunyi mengerikan. Bocah Namikaze-Uchiha itu pun menoleh ke arah Naruto ….

"Apa?" tanya keduanya (sok) datar.

"JANGAN BERTANYA SAMBIL MEMASANG EKSPRESI SEOLAH-OLAH TIDAK MERASA BERSALAH SETELAH KALIAN MEMUKULKU, SIALAN!"

Duagh! Brak! Cling(?)!

Ketiganya pun memulai siang itu dengan adu tonjok.

..

.

..

Ketiga bocah itu hanya diam sambil mengatur napas mereka yang sedikit ngos-ngosan karena melakukan hal gaje tadi. Bahkan Menma sudah tepar di tanah.

Naruto memandang Menma dan Sasuke, kemudian menghela napas. "Hah …, daripada aku berdiam diri tidak jelas begini, lebih baik aku berlatih," katanya. Setelah itu, dia pun bangkit dari acara duduknya, lalu pergi dari situ.

"Hn. Kau benar, Naruto. Lebih baik aku berlatih," kata Sasuke. Dia pun berjalan mengikuti Naruto yang sudah berjalan lebih dulu. Dan keduanya pun berjalan mendaki ke atas bukit, tetapi dengan arah yang berbeda ..., Sasuke ke kiri, Naruto ke kanan.

"Hei …, kalian tidak seru, ah! Masa berlatih terus! Ayo kita bermain!" teriak Menma kepada keduanya, tetapi tidak ada jawaban satupun yang terdengar di telinganya.

"Haah~ …."

Bocah jabrik kuning itu memandang sebuah shuriken yang ada di tanah, di sebelah tangannya yang saat ini dia gunakan untuk menyangga tubuhnya. Dia mengambil shuriken itu, lalu ia mulai berdiri secara pelan. Kemudian, pandangan Menma beralih pada sebuah papan target yang ada di sebuah pohon. Mata safirnya menajam, napasnya tampak beraturan. Kali ini ... dia yakin pasti bisa!

Dengan penuh perhitungan, Menma melemparkan shuriken di tangannya sekuat tenaga sambil berteriak keras, "HYAAAAH …!"

Swuush … Tak!

—Dan shuriken itu pun menancap di sebuah pohon yang berada di sebelah pohon, yang harusnya menjadi target sasaran Menma.

DO~ON ...!

"Gagal lagi ...," gumamnya merasa drop sambil berjongkok dan menggaruk-garuk tanah menggunakan ranting. Di sekelilingnya muncul semacam aura-aura suram. Padahal tadi gayamu sudah keren, Menma -_-.

Setelah beberapa saat, bocah Namikaze itu bangkit berdiri. Dia menatap shuriken yang tadi dia lempar kemudian beralih pada tangannya. "Andai saja shuriken itu bisa berbelok …, mungkin aku tidak akan gagal …."

Dia menatap jari-jari tangan kanannya yang dia gerak-gerakkan, kemudian safirnya melebar, "Benar juga! Aku akan menggunakan cara itu …! Dan kali ini, aku yakin pasti tidak akan gagal lagi!"

Si Jinchuriki Kyuubi mendapat ide yang berbahaya!

Menma menyeringai senang. Setelah itu, dia pun pergi berlari mendaki Bukit Hyouko untuk menemui kakaknya dan juga temannya.

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Di atas Bukit Hyouko, Sasuke sedang berdiri sambil memandang ke arah komplek perumahan Uchiha.

Setelah beberapa saat terdiam, bocah raven itu pun menutup kedua matanya sebentar dan kemudian membukanya kembali. Kini tampaklah mata Sharingan di kedua matanya dengan satu tomoe di masing-masing mata itu.

Set, set, set ….

Sasuke menggerakkan segel tangan dengan pelan ..., kemudian membentuk lingkaran di depan mulutnya menggunakan ketiga jarinya; jari telunjuk, tengah, dan ibu jari. Lalu menyebutkan nama jutsu-nya …

"Katon: Goukakyuu no Jutsu."

… dan hanya api kecil yang keluar dari mulut Sasuke.

"Cih. Jika hanya mengeluarkan jutsu seperti ini saja aku tidak bisa ... bagaimana aku bisa melampaui Aniki?!" kata Sasuke kesal, "Dan jika begini terus, aku tidak akan bisa menunjukkan kekuatanku pada Tou-san!"

Kemudian pandangannya beralih menuju sungai desa Konoha, tempat di mana dirinya dulu pernah diajari sebuah jutsu oleh ayahnya untuk yang pertama kalinya ….

Kilasbalik

Uchiha Fugaku dan Uchiha Sasuke kecil saat ini sedang berdiri di jembatan kecil yang berada di pinggir sungai Desa Konoha.

"Nah, Sasuke …, kali ini Tou-san akan mengajarkanmu sebuah jutsu. Jadi, perhatikan baik-baik ...," kata Fugaku yang sudah berdiri di tepi jembatan.

"Ha'i, Tou-san!"

Set, set, set ….

Kemudian, pria dewasa dari klan Uchiha itu menggerakkan beberapa segel tangan. Dan setelah selesai, dia langsung membentuk lingkaran di depan mulutnya menggunakan ketiga jarinya ..., jari telunjuk, tengah, dan ibu jari. Lalu, dia menyebutkan nama jutsu-nya ….

"Katon: Goukakyuu no Jutsu!"

BROOOOAARRR …!

Seketika muncul bola api yang sangat besar dari mulut Fugaku, dan bola api itu tepat berada di atas permukaan air sungai di depannya. Setelah beberapa saat, bola api itu menghilang, meninggalkan uap-uap air yang melayang menuju ke atas langit.

Fugaku membalikkan tubuhnya, menghadap Sasuke. "Sekarang kau coba, Sasuke!"

Setelah mengangguk—mengiyakan, dia pun mulai berjalan ke depan. Kini bocah itu sudah berdiri di tepi jembatan.

Set, set, set ….

Sasuke menggerakkan segel tangan dengan pelan tanpa mengalami kesulitan sedikitpun. Setelah itu, dia langsung membentuk lingkaran di depan mulutnya menggunakan ketiga jarinya. Si bocah Uchiha menyebutkan nama jutsu-nya …

"Katon: Goukakyuu no Jutsu."

… dan hanya api kecil yang keluar dari mulut itu. Sasuke pun mendecih tidak suka ketika tahu jutsu-nya gagal. Sementara Fugaku hanya diam memperhatikan Sasuke dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.

Set, set, set ….

Sasuke menggerakkan segel tangan lagi. Kini dia mencoba keberuntungannya di percobaan keduanya …

"Katon: Goukakyuu no Jutsu!"

… tapi hanya api kecil yang dapat bocah berambut pantat ayam itu buat. 'Cih, gagal lagi. Kali ini pasti bisa!'

Sasuke yang baru saja melakukan beberapa segel tangan langsung menghentikannya saat mendengar perkataan ayahnya ….

"Ternyata masih belum bisa, ya?" kata Fugaku dengan nada kecewa. Kedua matanya tertutup, dan kedua tangannya masih terlipat di depan dada. Fugaku membuka matanya secara perlahan,

"Kukira, tadi kau akan berhasil dalam sekali percobaan. Tapi nyatanya …." Dia menggeleng kecewa.

"—Ternyata kau dengan Kakakmu memang berbeda …, dia bahkan bisa langsung berhasil menguasai jutsu ini." Setelah mengatakan hal itu, Fugaku membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah menjauh dari situ. Sedangkan Sasuke hanya bisa diam dengan kepala menunduk, sehingga tidak memperlihatkan wajahnya karena tertutupi oleh helaian poni rambutnya. Fugaku terus berjalan dan mendaki tangga yang terbuat dari beton.

Tap. Saat sudah berada di jalan setapak, ayah Sasuke itu menghentikan langkahnya, kemudian berkata, "Mungkin ini masih terlalu cepat untukmu. Yah …, tidak mengherankan, kalau kau tidak akan pernah bisa sekuat Kakakmu." Pria itu menoleh sedikit ke belakang. Dia memandang sendu ke arah anaknya yang hanya diam sambil menunduk.

'Maafkan Tou-san karena harus mengatakan hal seperti ini kepadamu, Sasuke,' batin Fugaku. Dia sebenarnya tidak tega mengatakan hal ini pada anaknya, apalagi Sasuke masihlah terlalu kecil sekarang ini. Untuk ukuran anak sepertinya, Sasuke seharusnya belum boleh mendengar hal yang bisa saja mengganggu mentalnya di kemudian hari.

Setelah beberapa saat, Fugaku kembali memandag ke depan dan melanjutkan perjalanannya menuju komplek perumahan Uchiha. Ia kembali membatin, 'Tapi, aku melakukan ini agar kau bisa menjadi Uchiha yang kuat, Sasuke, sehingga kau dapat mengembalikan kehormatan Klan Uchiha yang telah lama hilang …'

Fugaku menatap langit dengan pandangan menerawang jauh. Untuk sesaat, matanya tampak menajam, kemudian kembali sendu, '… dan hilangnya kehormatan itu adalah karena 'DIA' !'

Yah, itulah tujuan dari Fugaku yang selalu mendidik Sasuke dengan keras. Dia ingin mengembalikan kembali kehormatan dari Klan Uchiha, klan yang merupakan keturunan langsung dari Sang Pertapa Enam Jalur, Rikudou Sannin.

Setelah beberapa menit kepergian ayahnya, bocah Uchiha itu masih saja menundukkan kepalanya.

Kilasbalik Selesai

…. Mata Sharingan Sasuke yang memiliki satu tomoe di masing-masing matanya, memandang dengan tajam pada sungai yang ada jauh di bawah sana.

"Ya, kau memang benar, Tou-san, aku memang berbeda dengan Aniki …, karena dia adalah sang Jenius dari Uchiha. Tapi, suatu hari nanti …" kedua tangan Sasuke menyatu, bersiap melakukan handseal, "… bocah inilah yang akan melampaui sang Jenius Uchiha! Dan setelah itu, akan aku buktikan padamu …, BAHWA AKULAH YANG AKAN DISEBUT-SEBUT SEBAGAI UCHIHA TERKUAT YANG PERNAH ADA!" Sharingan itu berputar dengan cepat!

SET! SET! SET! Sasuke menggerakkan segel tangan dengan gerakan yang sangat cepat, dan ….

"KATON: GOUKAKYUU NO JUTSU!"

Brooooaarrr ...!

Saat itu, Menma sedang berjalan menuju puncak bukit dengan keadaan tubuh yang lesu. Dia tidak menyangka kalau si Sasuke itu akan pergi ke puncak bukit, yang jaraknya sendiri sangatlah jauh. Dan parahnya, si bocah jabrik kuning itu belum makan sama sekali sejak pulang dari Akademi, sehingga dia saat ini benar-benar merasa kelaparan! Bahkan dia merasa, kalau kelaparannya ini bisa membuatnya mati seketika—Err ..., ya, kurasa terlalu berlebihan memang. Tapi, seperti itulah Menma. Hm, seperti deja vu saja kata-kata tadi.

Saat sudah berada di puncak Bukit Hyouko, mata safir miliknya membulat sempurna, iris birunya bergetar penuh keterkejutan ….

Sasuke ... berdiri di puncak bukit dengan latar di depannya terlihat api besar berbentuk bola yang melayang di langit biru ..., dan juga terlihat cahaya kemerah-merahan menerpa badan Sasuke.

"Sa ... suke ...," panggil Menma pelan, namun masih dapat didengar oleh si bocah Uchiha. Sasuke menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Dan mata safir itu semakin bergetar ... menandakan keterkejutannya!

Mata Sasuke, dengan iris merah bagai darah ... memancarkan kekuatan yang sangat besar! Perlahan-lahan, matanya kembali menjadi hitam kelam, khas milik si bocah raven itu.

"Wow! Itu tadi keren sekali, Sasuke! Dan kenapa tadi matamu memerah?!" tanya Menma semangat sambil berjalan menghampiri Sasuke.

"Hn. Mataku tadi adalah kekuatan dari klan kami, Klan Uchiha …." Dia menatap Menma, "Lagipula, jutsu-ku tadi masih belum kuat, jadi kau tidak perlu terlalu kagum. Aku masihlah harus lebih bayak berlatih."

"Apa maksudmu, Teme?! Kau itu harusnya berterima kasih kepada Kami-sama, berkat-Nya kau dapat melakukan hal hebat seperti tadi, tahu!" ujar Menma dengan sedikit berteriak.

"Hn. Sudah kubilang, Dobe …, tadi itu baru langkah awalku untuk mencapai tujuanku," kata Sasuke, "Yaitu, untuk menjadi Uchiha Terkuat!" Kedua mata onyx itu berkilat tajam.

Menma memandang malas bocah Uchiha di depannya. "Terserah kau sajalah—dattebayo. Tapi, apa kau bisa mengajariku jutsu-mu yang tadi, Teme?!" Dia tersenyum penuh harap.

Sasuke tersenyum tipis. Menma yang melihat itu semakin memperlebar senyumannya. Dia yakin, kalau Sasuke pasti—

"Hn. Hanya orang pintar saja yang dapat melakukannya …." Dia berjalan melewati Menma.

"HAH?! Benarka—tunggu dulu! Jadi maksudmu aku bodoh?!" teriaknya tidak terima.

"Hn. Kau sendiri yang bilang …," kata Sasuke tanpa menoleh sedikitpun.

"SIALAN KAU, TEME!"

Sasuke menoleh ke belakang sambil berkata, "Ayo, ke tempat Naruto." Kemudian, dia kembali menghadap ke depan dan berjalan. Ia sepertinya tidak peduli akan protesan Menma sebab ia hanya menghiraukan perkataan Menma barusan.

"Matte! Tunggu aku, Teme! Oi ...!" ucapnya sambil berlari menyusul Sasuke.

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Di tempat Naruto.

Saat ini, bocah berambut merah jabrik itu sedang menunduk dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lututnya. Dadanya bergerak naik turun dengan napas yang tidak beraturan. Dia saat ini benar-benar kecapekan.

"Yah, lumayan untuk hari ini …." Naruto menatap telapak tangan kanannya yang terbuka, "Aku sudah bisa melakukan Sihir Proyeksi dengan cepat. Meskipun begitu, aku masih belum bisa langsung, secara banyak menciptakan senjata dalam satu kali pengaktifan Sihir Proyeksi, sih …." Dia tersenyum kecil.

Ya, sudah hampir tiga minggu sejak Naruto berlatih dengan Shirou. Dan selama itu pula, peningkatan kemampuan Naruto sudah cukup baik. Seperti yang dikatakannya tadi, dia sudah bisa menciptakan sihir proyeksi dengan cepat. Walaupun begitu, tetap saja ketahanan senjata yang dia buat masih lemah karena terbukti baru dia gunakan beberapa kali, senjata yang dia ciptakan sudah hancur.

Naruto menegakkan tubuhnya. "Trace … On!"

Naruto menengadahkan telapak tangannya. Dia kembali menciptakan sebuah pedang panjang berwarna perak dengan mata pisau ganda. Dia menatap pedang itu, lalu menyalurkan mana-nya ke pedang di tangan kanannya. Muncul semacam garis-garis berwarna hijau terang di setiap bagian badan pedang.

Dia membawa pedangnya ke samping tubuhnya, lalu menebas beberapa kali ranting pohon di depannya. Ranting itu terpotong beberapa bagian. Tebasannya beralih ke batang pohon. Beberapa sayatan tercipta disana, dan pada saat tebasan yang kesebelas …

Pyaaarr!

… pedang itu hancur menjadi banyak sekali partikel cahaya berwarna biru. Butiran-butiran cahaya biru itu melayang ke langit, sebelum akhirnya menghilang.

"Padahal sudah aku tambah dengan Reinforcement Magic, tapi sepertinya ini masih belum cukup." Dia mengepalkan tangan kanannya. Seperti yang dikatakan Naruto, untuk mengakali Projection Magic-nya yang masih lemah, Naruto menambahkan Reinforcement Magic pada senjata yang dia buat agar bisa membuatnya bertahan lebih lama.

Reinforcement Magic atau Sihir Penguatan, seperti namanya, sihir ini sebenarnya adalah sihir yang digunakan untuk memperkuat sesuatu, entah itu pada benda, ataupun tubuh penggunanya sendiri. Kata Shirou, sihir ini adalah sihir rendah yang sangat berguna sekali.

"Tapi meskipun begitu, aku sepertinya harus memelajarinya lagi, karena Reinforcement Magic-ku masih terlalu lemah."

Naruto mengelap keringat yang mengalir menuju dagunya. "Aku sudah lapar …" dia mengusap perutnya yang berbunyi, "… mungkin ini sudah masuk waktunya makan siang."

Sreek … sreekk ….

Tiba-tiba Naruto mendengar sebuah suara dari arah semak di belakangnya. Dengan cepat dia mengalirkan mana miliknya ke tangan kanan. Muncul semacam listrik statis di sekitar tubuhnya, dan tak lama kemudian, tercipta sebuah shuriken yang langsung dia lempar ke arah suara tadi berasal, yaitu semak-semak tersebut.

Swuush … Tak!

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Hmm, mungkin hanya ang—"

"—GYAAAAA ...!"

Bocah jabrik merah itu hanpir saja terjungkal ke belakang ketika mendengar teriakan kencang tadi. Dia sangat kenal akan suara barusan. Dengan cepat, Naruto berlari menuju semak tadi, lalu memasukkan kepalanya ke dalam dedaunan semak itu untuk melihat orang yang baru saja berteriak tadi.

Dapat Naruto lihat, Menma yang duduk bersandar pada pohon dengan wajah pucat. Di samping kepalanya, terdapat sebuah shuriken yang menancap di batang pohon. Sementara itu, tidak jauh dari si bocah berkumis kucing, ada Sasuke yang sedang menutup kedua telinganya dengan posisi tidak elit—menungging. Ya, bocah Uchiha itu juga kaget karena mendengar teriakan nyaring dari Menma.

Grep. Tiba-tiba Menma mencengkeram kerah jaket oranye yang Naruto kenakan.

"Apa kau gilattebayo?!" teriak Menma, "Kau ingin membunuhku atau bagaimana, hah, Naruto-Nii?!"

Grep. Naruto yang tidak terima diperlakukan seperti itu pun membalas mencengkeram kerah baju Menma. "Memangnya kau pikir, aku tahu kalau yang ada di sini adalah kalian berdua, hah?!"

Setelah beberapa menit adu mulut dan bahkan hampir saling pukul sehingga membuat Sasuke harus melerai kedua kakak-adik itu, ketiganya pun mulai duduk dengan tenang.

"Jadi …, apa yang kau lakukan tadi?" tanya Sasuke kepada Naruto, memulai pembicaraan.

'Apa mungkin mereka berdua melihatnya?' batin Naruto. Dia melirik ke samping, menghindari tatapan mata onyx milik bocah Uchiha itu, "Apa maksudmu?" tanyanya, berpura-pura tidak mengerti tentang ucapan Sasuke. Satu-satunya Uchiha dari ketiga bocah di situ menghela napas pelan.

"Sudahlah, tak usah mengelak ...," kata Sasuke tajam, "Aku dan Menma tadi melihatmu." Sementara bocah berambut kuning di situ hanya mengiyakan perkataan dari Sasuke.

"Sejak kapan kalian sudah ada di sini?"

"Sekitar 10 menit yang lalu."

Naruto menepuk jidatnya, dan karena terlalu keras dia melakukan hal itu, dia pun mengaduh kesakitan. 'Itu sudah terlalu lama. Mereka pasti sudah tahu, sialan!' batinnya sambil mengelus jidatnya yang memerah.

Naruto memandang Menma dan Sasuke secara bergantian. "Haah …, baiklah, akan kuceritakan, tapi …" mata safirnya menajam, "… kalian harus berjanji, untuk tidak mengatakannya kepada siapapun!"

Kedua bocah Namikaze-Uchiha itu saling berpandangan, kemudian saling mengangguk.

"Baiklah, aku berjanji!"

"Hn."

Naruto memandang datar Sasuke. Dan hal itu ditanggapi oleh si Uchiha dengan mengangkat sebelah alisnya, "Hn?" gumamnya menggunakan kata absurd dengan nada bertanya(?). Sangat gaje sekali -_-.

"Kau belum mengatakannya."

Sasuke memutar bola matanya malas. "Hn. Aku janji." Kata andalannya memang tidak pernah terlewat ^_^.

Setelah itu, Naruto pun mulai menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Shirou, dan juga akan fakta bahwa di dalam tubuhnya terdapat Energi Sihir atau Mana. Naruto terus menjelaskan, dan kadang-kadang juga menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Menma maupun Sasuke.

"Jadi begitu …," kata Sasuke pelan sambil memegang dagunya.

"Waah! Aku tak menyangka kalau kau punya kekuatan seperti itu, Naruto-Nii!" Menma memandang Naruto dengan raut wajah tidak percaya sekaligus takjub di saat yang bersamaan.

"Lalu …, siapa saja yang sudah mengetahui ini?" tanya Sasuke.

"Hanya kalian berdua."

"Hanya … kami berdua? Lalu bagaimana dengan Tou-chan dan Kaa-chan?" tanya Menma.

"Mereka belum tahu. Dan kuharap, kau tidak akan memberi tahu mereka."

"Tapi, kenapa? Bukankah bagus kalau mereka tahu?!" tanya Menma. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran dari kakaknya itu.

"Menma, kau ingat apa yang kukatakan saat kau memberi tahuku tentang kekuatan tersembunyimu?"

Menma mencoba menerka-nerka apa maksud dari Kakaknya. "Apa ini tentang Kyuubi?" tanyanya, dan dibalas anggukan oleh Naruto. Sasuke hanya mendengarkan percakapan kedua kakak-adik itu tanpa berniat menyela.

Ya, sebenarnya … setelah pertemuannya dengan Kyuubi beberapa hari kemarin, Menma akhirnya menceritakan tentang pembicaraannya bersama Kyuubi kepada Naruto serta Sasuke.

Menma mengangguk pelan. "Ya, aku masih mengingatnya, Naruto-Nii …."

Naruto tersenyum singkat saat mendengar itu. Dia memandang ke arah langit, kemudian berkata, "Benar. Seperti yang kukatakan padamu, 'Suatu hari nanti, pasti ada waktu yang tepat untuk setiap orang, bisa mengetahui suatu rahasia di sekitar mereka', seperti itulah …."

"Haah …, baiklah, Nii-chan."

Bocah berambut merah jabrik itu tersenyum kecil saat mendengar balasan dari adiknya. Dia kemudian memandang Menma dan Sasuke. "Ayo kembali! Perutku sudah mulai demo minta untuk diisi." Naruto memegang perutnya.

"Hn."

"Baiklah!"

Ketiganya pun mulai pergi dari tempat itu dan menuruni Bukit Hyouko. Sorot view pun mulai beralih pada langit yang tampak begitu cerah.

..

.

..

"Hei, hei, bagaimana kalau kita makan di Ichiraku Ramen, Naruto-Nii, Teme?"

Terlihat Naruto, Menma, dan Sasuke yang sedang berjalan di kaki bukit Hyouko.

"Gak mau. Ramen gak sehat," kata Sasuke datar.

"Benar. Lagipula, jika terlalu sering makan ramen …, Kaa-chan akan marah padamu, Menma," kata Naruto menimpali perkataan Sasuke.

"Kalau begitu, Kaa-chan jangan sampai tahu. Gampang, 'kan? Tenang saja ... aku yang traktir, bagaimana?"

"Gak percaya," kata Sasuke, masih dengan wajah datarnya.

"Benar. Kau kan gak punya uang," kata Naruto menimpali, lagi -_-.

"GAAAAH! Kenapa sih, kalian selalu kompak?!" teriak Menma frustasi. Muncul semacam aura suram berwarna hitam di sekitarnya.

Sedangkan Naruto dan Sasuke saling melirik satu sama lain sambil tersenyum puas. Mereka berhasil mengerjai Menma.

Yah …, tadi memang adalah perbincangan yang tidak jelas dan tidak berguna. Tapi, ada satu hal yang pasti. Ya, berkat perbincangan seperti itulah … ikatan mereka bisa saling terbentuk!

Bersambung


[A/N]:

Yo! Saya kembali dengan meng-update fic ini!

Oke, di chapter ini aku memperlihatkan Sasuke yang berhasil menguasai jutsu khas dari klan Uchiha. Lalu ada juga Menma yang punya rencana untuk melakukan sesuatu terhadap shuriken, apa itu? Bakal dijelasin di chapter depan.

Lalu, di chapter ini aku buat agar Menma dan Sasuke tahu tentang kekuatan sihir milik Naruto. Begitupula dengan Menma yang ternyata sudah menceritakan keberadaan Kyuubi di dalam tubuhnya kepada Naruto serta Sasuke. Lalu bagaimana dengan yang lain? Tenang, semua akan bertahap.

Aku juga sudah menjelaskan sedikit perkembangan kekuatan Naruto di chap ini, tentang Projection Magic dan Reinforcement Magic-nya.

Mungkin cuma ini yang bisa aku sampaikan. Sampai jumpa di chapter depan, Kawan-kawan!

Special Thanks to Allah SWT.

Tertanda. [Abidin Ren]. (8/Oktober/2020).