Ini adalah sebuah cerita yang khusus dipersembahkan kepada para penulis di akun author Icha-Chan Ren.

.

.

.


20/Desember/2022


Shinobi with Magic—

By: Abidin Ren

Summary: Ramalan itu sudah lama disebutkan dan hanya tinggal menunggu waktu … sampai ramalan itu terjadi. Tidak peduli dengan dirinya yang selalu dianggap aib oleh warga desanya sendiri, dia tetap terus melangkah ke depan. Dengan seiring bertambah rasa tidak sukanya kepada gelar pemimpin, dia bersumpah suatu saat nanti akan membuktikan kekuatannya. Naruto, jalan seperti apa yang akan kau pilih?

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto

Sedikit tambahan elemen dari [Fate Series] © Type-Moon

Saya tidak memiliki kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.

This Story Created by Me!

Genre: Adventure, Fantasy, Friendship, Romance(?), Comedy(?)

Pair: NaruShion, MenmaHina, dan SasuSaku.

Rated: T+

Warning: Alternate-Reality! Mini Slight Crossover! MAGIC-POWER! OOC(s)(?), MAIN WARN FOR SEMI-CANON & OUT OF CANON, And Many More.

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.

.

.


[Prologue]

[Chapter 9]: Demi Meningkatkan Kekuatan, Mari Curi Gulungan Ninja!

.

"Hee~ jadi kau sudah akan pergi sekarang, Shizu?"

Naruto berdiri di depan gerbang desa Konoha bersama Shizukesa dan pria tua berambut putih panjang layaknya duri landak.

"Ya, seperti yang sudah pernah kukatakan padamu. Aku ingin cepat-cepat menjadi kuat, seperti kedua orang tuaku, Naruto." Cowok berwajah cantik itu menjawab dengan lugas. Angin pagi hari meniup-niup surai coklat-keemasan miliknya.

"Tapi … kau kan bisa berlatih di desa ini."

"Tidak mau."

"Ehh?! Kenapa?" balas Naruto tidak kalah cepat.

Dengan mata tertutup, tangan kiri di belakang tubuh, dan jari telunjuk kanan yang digoyang-goyangkan, Shizu mengeluarkan kata-kata (sok) bijaknya , "Ck, ck, ck. Jika aku berlatih di Konoha, fasilitas serta semua yang ada di sini akan terasa memanjakanku, dan membuat latihanku menjadi kurang maksimal, Naruto. Karena itulah aku meminta Jiraiya-sama melatihku ke luar desa!"

Nadanya menjadi bersemangat ketika di akhir perkataannya.

Naruto sweatdrop mendengar itu. Ia membatin, 'Kau melakukan perjalanan juga akan melawati desa lain dan singgah disana, bukannya hidup di hutan belantara terus-terusan, Shizu.'

Naruto melirik pria tua yang berdiri di samping Shizukesa. Orang yang bersangkutan pun mengendikkan bahunya.

"Jangan lihat aku. Kau tahu, aku baru sampai di desa malam tadi, dan aku juga butuh istirahat. Tapi bocah ini mendesakku untuk segera kembali keluar desa. Haah~" Begitulah yang dikatakan orang bernama Jiraiya.

Matanya memiliki kantung hitam, menunjukkan kalau dia kurang mendapat waktu tidur selama beberapa hari ini. Mau bagaimana lagi, setelah mendapat surat, sekitar dua minggu yang lalu dari Sandaime, yang menyuruhnya untuk segera kembali ke desa, jadi beginilah ia akhirnya. Padahal saat itu, Jiraiya sedang berada sangat jauh dari Konoha.

"Paling enggak, biarkan aku berendam di Onsen!" lanjut Jiraiya berkeluh-kesah. Wajahnya memerah dan kedua hidungnya mengembuskan udara dengan keras layaknya matador.

Naruto bahkan tidak merasa kasihan melihat orang tua itu berteriak-teriak gaje. Dia yakin kalau Jiraiya hanya ingin mengintip wanita di pemandian air panas. Memang bagus Shizu segera membawanya pergi dari desa ini.

"Oh iya, tolong berikan salamku pada kedua orang tuamu."

Naruto mengalihkan pandangannya tatkala Shizukesa bersuara. Dia mengangkat ibu jarinya ke arah atas. "Tentu saja!"

Sudah dua hari ini Minato dan Kushina menjalankan misi ke luar desa, jadi mereka tak bisa mengantar kepergian Shizu untuk berlatih bersama Jiraiya.

Naruto memandang laki-laki cantik di depannya. "Yah, meski ini singkat, tapi aku senang bisa mengenalmu, Shizukesa."

"Aku juga senang bisa berteman denganmu, Naruto." Shizukesa menyunggingkan senyum simpul.

Meski belum genap sebulan mereka kadang bermain bersama, tetapi Naruto cukup menyukai sifat Shizu. Bahkan setelah mengetahui fakta bahwa Naruto tak memiliki chakra, Shizukesa tetap mau berteman dengannya dan menerimanya apa adanya. Ia tak seperti warga desa ini yang menganggap Naruto sebagai aib, ia juga tidak menertawakan impian Naruto yang bisa menjadi ninja tanpa chakra.

Ada setitik kesedihan di kedua mata safir itu ketika ia mengingat segala perkataan tulus Shizukesa. Namun Naruto harus tetap merelakan temannya itu pergi demi meningkatkan kekuatannya, karena itu memang sudah jadi tujuan hidup Shizu.

"Tidak perlu dengarkan orang-orang yang mengejek cita-citamu, Naruto. Kau pasti akan menjadi kuat, aku yakin itu!"

Naruto terbangun dari lamunannya ketika mendengar suara Shizu. Bocah bermarga Midoru di depannya mengulurkan kepalan tangan kirinya pada si bocah berambut merah jabrik.

Shizukesa melanjutkan, "Jika suatu hari aku kembali ke desa ini, mari bertarung dan lihat siapa yang terkuat di antara kita, Namikaze Naruto!"

Seulas senyuman terukir di wajah Naruto. Itu artinya, ia memiliki satu orang lagi yang mengakui keberadaannya, dan Naruto sungguh bahagia. Ia mengangkat tangan kanannya, dan memajukan kepalan tangannya untuk membalas "salam" dari Shizu.

"Ya! Aku juga tidak sabar untuk bertarung melawanmu, Midoru Shizukesa!"

Jiraiya ikut tersenyum melihat bagaimana pertemanan keduanya terjalin. Ia yakin, keduanya akan menjadi teman sekaligus rival terhebat di masa depan kelak. Sang Pertapa Sennin itu jadi tidak sabar melihat perkembangan kedua bocah ini.

—Setelah mengucapkan perpisahan kepada masing-masing, Jiraiya dan Shizukesa akhirnya pergi meninggalkan desa Konoha demi menjalankan latihan sang Midoru muda atas perintah Hiruzen.

Naruto melambaikan tangannya berulang kali kepada mereka berdua. Shizu membalasnya dengan berjalan mundur.

Tatkala jarak mereka semakin jauh, punggung keduanya akhirnya menghilang dari pandangan Naruto.

"Baiklah, sepertinya sudah saatnya aku pergi ke Akademi sebelum terlambat. Aku tidak mau mendengar Iruka-sensei marah-marah sepagi ini."

.

.

.

.

.

"AAARRGH! Bagaimana ini …?! Aku tidak bisa menghilangkan kata-kata Iruka-sensei dari kepalaku!"

Naruto melirik Menma yang baru saja berteriak frustrasi. "Tenanglah, Menma, kau masih punya banyak waktu. Jangan terlalu dipikirkan." Begitulah yang dikatakan sang kakak.

"Hn."

Satu orang lagi menyahuti pembicaraan dua saudara kembar tersebut. Dia adalah Sasuke.

Ya, ketiganya baru saja keluar dari gedung akademi setelah waktu pembelajaran disana berakhir.

Menma memelototi Sasuke. "Kau bisa setenang itu karena sudah memiliki jutsu yang kau kuasai, Teme!" Sayang sekali Sasuke mengabaikan teriakan kekesalan Menma.

Tadi, di salah satu jam pembelajaran akademi, Iruka meminta mereka untuk memraktikkan jutsu Bunshin. Alih-alih membuat Bunshin yang sempurna, Menma malah menciptakan Bunshin yang terlihat aneh, seperti kurang sehat dan bertenaga.

Iruka pun memarahinya, dan mengatakan sesuatu seperti:

"Sudah kukatakan berulang kali, seriuslah dalam belajar, Menma! Di ujian kelulusan Genin nanti, selain mendapat nilai bagus dalam praktek melempar senjata, kau paling tidak harus memiliki satu jutsu yang kau kuasai agar bisa lulus! Jika gagal, maka kau harus mengulang akademi di tahun berikutnya! Ingat baik-baik itu!"

Tubuh Menma merinding disko saat kata-kata Iruka kembali muncul di kepala kuningnya.

"Ayolah, Sasuke, ajari aku jurus apimu waktu itu. Kumohon!"

Sasuke melirik Menma, dan ia langsung merasa mual karena temannya itu memasang ekspresi yang menjijikkan. "Hentikan itu, Dobe. Sudah kubilang, aku tidak bisa mengajarimu."

Menma menghela napas. Sudah ia duga kalau Sasuke kembali menolak permintaannya.

"Lagipula, kau kan bisa meminta Minato-san untuk mengajarimu. Kudengar, Ayahmu pernah menciptakan jurus original yang hebat," lanjut Sasuke berbicara panjang lebar.

Mendengar hal itu, Naruto akhirnya tertawa gugup. "Yah, Menma sudah pernah meminta Ayah untuk mengajarinya, tapi ditolak."

"Hn? Kenapa begitu?" Fakta itu mengejutkan Sasuke.

Menma berubah murung, kemudian berujar, "Tou-chan bilang, dia akan mengajariku Ramengan setelah lulus dari akademi."

"Yang benar Rasengan," koreksi Naruto.

"Nah, itu." Menma menyahuti perkataan kakaknya. "Kaa-chan juga menyetujuinya. Kata mereka, aku yang sekarang tidak mungkin memelajarinya karena latihannya cukup berat. Selain itu, kalau pun aku berhasil menguasainya, jurus itu terlalu berbahaya jika digunakan oleh anak berusia 8 tahun."

Menma mengacak-acak rambutnya. "Kalau begini aku tidak mungkin lulus dari Akademi!"

Sasuke mengangguk berulang kali seolah mengerti kefrustrasian Menma. "Ambil sisi baiknya …"

Menma tak mengerti kata-kata ambigu Sasuke.

Si Uchiha muda melanjutkan, "… itu artinya, kedua orang tuamu sangat memikirkan keadaanmu dan tak ingin melihatmu terluka karena kecerobohan dan kebodohanmu."

Kedua mata violet Menma bergetar mendengar kata-kata penuh makna tersirat dari Sasuke.

"Kau benar. Tapi …"

Menma tiba-tiba saja menarik kerah Sasuke. "… berhentilah menghinaku seolah kau yang terbaik di antara kita, Sialan!"

"Hn. Begitulah faktanya." Ia mengatakannya dengan datar, seperti biasa.

"T-Te-Temeeeee!"

Buagh! Drak! Duagh!

Dan kejadian selanjutnya bisa kalian tebak sendiri.

Naruto memutar kedua matanya bosan melihat bocah-bocah itu yang saling berkelahi.

.

.

.

"Hah, ha … hah!"

Menma dan Sasuke sama-sama menarik napas sangat banyak seolah mereka ingin menghabiskan udara untuk diri mereka sendiri.

"Sudah puas?" tanya Naruto. Ia melihat Menma yang tiduran dan tanah, kemudian beralih ke Sasuke yang berdiri sambil memegangi lututnya.

Menma dan Sasuke saling berpandangan, kemudian memalingkan wajah ke arah yang berlawanan sambil bersuara, "Hmph!"

Naruto membuang napas kasar melihat sifat keduanya yang tak berubah sedikitpun. "Daripada membuang waktu begitu, lebih baik kau segera memperbaiki jurus shuriken-mu, Menma."

"Iya, iya, aku tahu itu." Menma mengerucutkan bibirnya sok imut kala berbicara, tapi hal itu malah membuat Naruto dan Sasuke ingin muntah.

"Kau juga, Sasuke. Bukankah kau ingin cepat-cepat menguasai Hosenka no Jutsu milikmu?" lanjut Naruto.

Sasuke mengangguk. "Hn. Aku sudah memikirkan ini selama tiga malam. Aku harus bisa memasukkan chakra ke dalam bola api agar bisa kukendalikan pergerakannya."

Naruto tersenyum mendengarnya. Ia senang temannya itu sudah mendapat cara mengatasi jalan buntu yang mengganggunya selama beberapa hari ini.

Sasuke pun beranjak, ia berniat kembali berlatih di bukit Hyouko yang ada di belakang akademi, seperti hari-hari yang biasa.

Naruto juga berniat untuk kembali menemui Shirou di rumahnya untuk belajar dari pria itu. Akhirnya, ia kemarin sudah berhasil melukai gurunya dalam latih tanding, itu berarti … sekarang Naruto bisa memintanya untuk mengajarinya menggunakan senjata selain pedang. Setelah semalaman memikirkan tawaran Shirou, kali ini ia berniat belajar menyerang dari jarak jauh, jadi busur dan anak panah adalah pilihan Naruto.

Menma melihat kedua punggung bocah di depannya. Ia merasa kalau perkembangan dirinya seperti tertinggal jauh dari kakaknya maupun si Uchiha itu.

"Kalau kau ingin memiliki jutsu yang hebat, kenapa kau tidak coba saja mencuri gulungan rahasia di kantor Hokage?"

Muncul sebuah suara di dalam kepala Menma. Itu pasti Bijuu yang bersemayam di tubuhnya, Kyuubi. Dia sering berbincang-bincang dengan Menma lewat telepati.

"Kurama, ya. Kau yakin dengan itu?" balas Menma.

"Ya. Ada sebuah gudang kecil di sebelah kiri kantor Hokage. Disana kau akan menemukan berbagai macam gulungan jutsu. Cari saja satu gulungan paling besar, di situ berisi banyak jurus yang termasuk ke dalam Kinjutsu. Kau akan menjadi yang terkuat kalau bisa menguasainya, hehehe!" pungkas Kyuubi. Suara tawa monster itu terus bergema di kepala Menma selama beberapa saat.

"Kau punya rencana mengenai ini?" tanya Menma pada sang Bijuu terkuat.

"Heh, tentu saja. Tapi, kau akan butuh bantuan mereka berdua untuk melakukannya."

Menma menatap punggung Naruto dan Sasuke yang semakin menjauh. Memikirkan berbagai pertimbangan, akhirnya Menma setuju atas usulan dari Kurama.

Dia berlari menyusul bocah si rambut merah dan si rambut raven. "Hei, kalian berdua, tunggu sebentar! Ada yang ingin kubicarakan!"

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Malam hari di desa Konoha. Naruto, Menma, dan Sasuke bersembunyi di balik semak tidak jauh dari kantor Hokage.

"Hn. Sebaiknya kau tidak bohong soal ini, Dobe."

"Benar. Kita akan dapat masalah kalau ketahuan mencuri sesuatu milik Kakek Hokage."

Sasuke dan Naruto sama-sama menatap bocah berambut kuning jabrik di sebelah mereka. Sementara orang yang bersangkutan tersenyum sombong. "Heh, tenang saja. Semua akan baik-baik saja kalau kita mengikuti sesuai rencana."

—Tepat siang tadi, setelah Kyuubi mengatakan pada sang wadahnya mengenai jutsu rahasia di kantor Hokage, Menma akhirnya meminta bantuan Kakak kembarnya dan Sasuke untuk mencuri gulungan ninja tersebut demi bisa lulus di ujian Genin yang dilaksanakan.

Mereka berdua awalnya menolak, tetapi Menma tidak menyerah untuk menghasut. Dengan iming-iming bahwa ketiganya akan membagi sama rata jutsu yang berhasil dicuri, akhirnya Naruto dan Sasuke setuju.

Bagaimana pun, Sasuke punya tujuan untuk melampai kakaknya, Uchiha Itachi, jadi ia berpikir kalau ini akan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan variasi jutsu yang dikuasainya kelak.

"Selain itu, kita akan memakai ini, jadi tidak akan ada seorangpun yang tahu kalau-kalau kita ketahuan masuk ke sana."

Menma mengeluarkan tiga topeng; Topeng pertama berwarna putih polos dan memiliki motif kitsune, topeng kedua bermotif tengu dengan seluruhnya berwarna merah dan hidung panjang khasnya, lalu topeng terakhir bermotifkan layaknya shinigami dengan tanduk dan taring yang menyeramkan.

"..."

"..."

"Ada apa?" Menma jelas kebingungan karena dua orang di sampingnya itu malah diam setelah menerima topeng pemberiannya.

"Kenapa aku kebagian ini?!" teriak Naruto tidak ikhlas karena mendapat topeng shinigami.

"Tentu saja karena aku Jinchuuriki no Kyuubi, jadi aku harus memakai yang ini, dong!"

Menma bahkan bisa mendengar dengusan Kyuubi di kepalanya setelah ia selesai mengatakan kalimat barusan.

"Gak nyambung, Dobe," ledek Sasuke dengan wajah datar seperti tembok. Sepasang onyx miliknya menatap topeng tengu di tangannya. "Lagipula, dari mana kau dapat semua ini?"

Sasuke tak begitu yakin Menma punya banyak uang. Dia bahkan masih sering menghutang ke Paman Teuchi demi semangkuk ramen.

Bocah itu nyengir gaje. "Aku memungutnya tadi sore di jalanan desa, hehe."

'Jadi ini sampah, toh,' batin Naruto dan Sasuke bersamaan, tak lupa alis mereka berkedut-kedut kesal. Pantas saja mereka mencium bau aneh setelah topeng itu menempel di wajah masing-masing.

"Sudahlah, mari fokus ke rencana utama. Bagaimana, Sasuke …?" Naruto melongokkan kepalanya ke sela-sela semak.

"Apa Ayahmu curiga?" lanjutnya bertanya.

"Hn. Aku sudah bertanya pada Tou-san, dia bilang kalau penjagaan di kantor Hokage akan berganti setiap 3 jam sekali. Kita punya waktu 15 menit untuk masuk dan keluar tanpa ketahuan dalam jeda pergantian ini," jelas Sasuke panjang lebar. "Dan … tidak, Ayahku tidak bertanya lebih lanjut mengapa aku ingin tahu hal ini."

"Baguslah."

Menma mengangguk. Ia pun ikut angkat berbicara, "Harusnya sebentar lagi waktunya, sih."

Dan benar saja, kurang dari 5 menit sejak pembicaraan itu, mereka melihat 2 Jounin yang menjaga gerbang pos Hokage pergi meninggalkan area mereka. Ketiganya tak mau membuang-buang waktu dan segera berlari masuk ke halaman kantor Hokage setelah melompati tembok setinggi 1,5 meter. Tentu saja, topeng mereka sudah dikenakan dengan benar.

"Sekarang kita kemana?" tanya Naruto. Dia bersama dua temannya bersembunyi di balik pohon.

"Sebentar …." Menma sepertinya sedang berbicara dengan Kurama lewat telepati.

Yah, Monster Rubah itulah yang tahu letak ruangan dari gulungan-gulungan ninja disimpan. Bagaimana pun, dia sudah lama hidup di sini sejak dikalahkan sang Shodaime Hokage, Hashirama Senju. Kyuubi tahu betul semua tempat penting di desa Konoha dikarenakan dua wadahnya sebelumnya, yaitu Uzumaki Mito dan Uzumaki Kushina, memiliki suami yang sama-sama hebatnya. Apapun yang dikatakan, dilihat, dan bahkan didengar oleh wadahnya, Kurama akan bisa mengetahuinya.

"Kita kesana!" tunjuk Menma pada pintu di bagian kiri kantor Hokage. Ketiganya segera berlari ke tempat yang dimaksud si Jinchuuriki muda.

Setelah melewati pintu, yang mereka lihat hanyalah koridor kosong panjang dengan lampu terpasang di langit-langitnya. Ketiganya kembali bergerak dengan Menma yang memimpin jalan.

"Ke kanan, Gaki," kata Kyuubi yang menggema di kepala Menma, dan langsung diangguki oleh yang diajak bicara. Tepat ketika sampai di perempatan lorong, bocah-bocah itu berbelok ke kanan.

"Nah, pintu di sebelah kiri, ruangan itulah yang kita cari."

"Oke, Kurama!" balas Menma. Ia pun mengatakan pada Naruto dan Sasuke, sesuai dengan apa yang ia dengar dari omongan Bijuu di tubuhnya.

Cklek! Klek, klek!

"Gawat, terkunci."

Mendengar perkataan Naruto, Sasuke kini maju satu langkah ke depan. Di tangan si Uchiha itu ada sebuah kawat kecil yang sedikit melengkung. "Biar kucoba."

Memerlukan waktu hampir dua menit, tetapi akhirnya Sasuke berhasil membuka kunci pintu itu.

Cklek. Krieeeeet~

"Bagus. Kau memang hebat, Teme!"

"Hn. Tentu saja."

Entah mengapa melihat ekspresi sombong di wajah Sasuke, Menma jadi menyesal karena telah memujinya.

Mengabaikan keduanya yang kembali berdebat, Naruto memilih untuk masuk duluan ke dalam ruangan di depannya. Ia kesusahan mencari saklar lampu karena tempatnya begitu gelap. Tangannya meraba-raba tembok di dekatnya, dan kemudian—

Ctek!

Tempat itu pun kini tersinari oleh lampu yang menyala, menggantung di langit-langit ruangan yang berukuran 3×5 meter luasnya. Naruto bisa melihat banyaknya gulungan-gulungan ninja yang tersusun di rak-rak tiga tingkat.

"Woah! Ini catatan jutsu klan Nara," kata Naruto setelah mengambil dan membaca sebuah scroll di sampingnya.

Mendengar kehebohan Naruto, akhirnya Menma dan Sasuke memutuskan untuk masuk. Keduanya pun ikut melihat-lihat.

"Ini kumpulan jurus Katon." Kedua mata onyx Sasuke berkilat penuh semangat. Ada berbagai nama jutsu yang baru pertama kali ini ia lihat.

Menma mendengus keras kala menyaksikan dua bocah itu malah asyik sendiri. Ia mengambil secara asal scroll di situ, dan membacanya. Terlalu banyak kalimat serta urutan handseal yang tidak ia mengerti, dan pada akhirnya Menma mengembalikan gulungan tadi ke tempatnya semula. Helaan napas berat bocah Namikaze itu keluarkan.

"Kalian tidak punya banyak waktu, Gaki. Cepat ambil gulungan yang sudah kukatakan padamu sebelumnya."

Kata-kata Kurama membangunkan Menma dari dunia frustrasinya. Ia segera mencari gulungan besar, yang katanya berisi kumpulan jutsu hebat dan ada juga yang merupakan Kinjutsu (Jurus Terlarang).

"Itu dia!" Menma menemukan apa yang ia dan Kurama cari. Gulungan itu terletak di bagian ujung ruangan, ditaruh menempel ke tembok dengan cukup tinggi.

"Aku tidak bisa meraihnya!" Meski sudah menjinjit pun, tubuh Menma tidak cukup tinggi hingga bisa mencapai setengah dari letak scroll besar tersebut.

Ia menoleh ke belakang. "Naruto-Nii! Teme! Bantu aku cepat."

"Hm?"

Kedua bocah itu menghampiri Menma. Mereka membiarkan Menma untuk naik ke atas pundak masing-masing.

"Astaga, tubuhmu berat banget, Dobe. Ini pasti karena dosamu," kata Sasuke dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Enak aja!" sahut Menma gak terima diejek Sasuke.

"Sudahlah, kalian berdua." Naruto mencoba menengahi perkelahian agar tidak semakin berlanjut. Jika terlalu berisik, mereka akan ketahuan.

"Sedikit lagi!" Menma sedikit menjinjit, jari-jarinya hampir menyentuh bagian bawah gulungan ninja besar di atasnya.

"Aha! Dapat!"

Akibat terlalu senang, Menma tidak sadar malah berjingkrak-jingkrak pelan, mengakibatkan Naruto serta Sasuke tidak sanggup lagi menahan beban Menma beserta gulungan yang dibawanya.

"Eh, eh, eh—aaaa!"

Bruk!

Dan akhirnya ketiganya jatuh.

"Ck, cepat minggir, Menma!"

"Eh, ah! Maaf, Naruto-Nii!"

Pantas sana Menma tidak merasa kesakitan ketika jatuh. Dia bahkan tidak sadar sedang menduduki wajah Naruto.

Sasuke sendiri menyingkirkan scroll besar yang jatuh di dadanya. Ternyata gulungan itu lebih berat dari yang ia pikirkan.

Menma mengambil gulungan ninja itu, dan mengikatkan tali ke punggungnya. Akan susah bergerak jika dia menenteng scroll sebesar itu di depan tubuhnya. "Baiklah. Ayo kembali!"

"Hn. Aku juga sudah dapat yang bagus." Sasuke menunjukkan gulungan ninja yang ia ambil pertama kali. Ya, scroll yang berisi kumpulan jurus Katon.

Namun, baru keduanya selangkah beranjak, Naruto menginterupsi mereka. "Tunggu dulu! Aku belum dapat yang kucari!"

"Eh …?" Menma menoleh kebingungan. "Ah, benar juga. Kau bilang ingin mencari gulungan yang berisi Kenjutsu, 'kan, Naruto-Nii?"

Yang ditanya mengangguk. "Kalau kalian sudah selesai, bantu aku mencarinya."

Menma tersenyum lebar, ibu jarinya teracung ke atas. "Tentu sa—"

"Ehem!"

Suara dehemen yang cukup keras itu menghentikan perbincangan ketiga bocah disana. Mereka sama-sama menoleh ke pintu masuk ruang penyimpanan gulungan ninja ini.

Disana, ada sesosok kakek tua yang berpakaian didominasi oleh warna merah dan putih. Kedua tangannya tertekuk di belakang tubuhnya. Meski sudah lanjut usia, tak sedikitpun tubuhnya yang kelihatan membungkuk.

"Apa yang kalian bertiga lakukan di sini, Naruto, Menma, dan … Sasuke?" tanya orang itu yang merupakan sang Hokage Ketiga.

Di balik topeng kitsune-nya, Menma tertawa gugup. "Oh, Kakek Hokage, kau tahu ya ini kami."

Hiruzen membentuk huruf "O" di mulutnya kala mendengar balasan bocah yang berdiri paling depan. "Ternyata benar kalian. Soalnya kalian memakai topeng, jadi aku hanya menebak-nebak."

"Ehhhh?!"

Menma baru menyadari ditipu Sandaime. Hiruzen pun tertawa khas kakek-kakek ketika melihat cucunya sedang bermain.

Sasuke mendelik ke arah bocah Namikaze itu. "Memang pantas aku memanggilmu 'Dobe', Menma."

Ia cukup kesal dengan kecerobohan temannya itu. Jika begini, meskipun mereka bisa kabur, besoknya pasti mereka akan dimarahi ketika masuk akademi.

Naruto hanya menghela napas melihat tingkah adiknya.

Hiruzen menyipitkan matanya kala menyadari ada sesuatu di punggung bocah yang memakai topeng kitsune. "Bisa kalian kembalikan ke tempat semula, semua gulungan yang kalian ambil itu? Terutama scroll yang paling besar. Kalian tahu, keadaan akan menjadi berbahaya jika gulungan itu sampai jatuh ke tangan yang salah."

Memang benar, setelah mendengar kata-kata Naruto beberapa hari sebelumnya, Hiruzen selalu khawatir kalau di masa depan nantinya bocah itu akan menggunakan kekuatannya di jalan yang salah. Tapi mengingat kembali Naruto yang tidak memiliki chakra, jadi itu bukan inti kekhawatiran Hiruzen sekarang ini terhadap scroll yang mereka ambil.

Yah, belakangan ini ia mendapat laporan tentang adanya gerakan misterius di sekitar desa Konoha, jadi sang Sandaime khawatir kalau gulungan Jutsu Rahasia yang dibawa Menma akan direbut oleh orang-orang aneh yang kebetulan sedang mengintai desa mereka.

Melihat Hiruzen mulai berjalan masuk, Naruto pun mendekati kedua temannya. "Saatnya menggunakan 'Rencana B yang Dikembangkan'!"

Sasuke mengangguk. Namun, Menma tidak mengerti apa maksudnya itu. Mau tidak mau, Naruto harus menjelaskan lebih lanjut ke adiknya yang pendek akal itu.

Hiruzen memandang bingung ke tiga bocah yang masing-masing mengenakan topeng. Ia tak tahu apa yang sedang direncanakan mereka.

"Okey!" kata Menma tiba-tiba. Senyuman jahat pun menghiasi wajahnya. "Kita lakukan dalam hitungan ke-3!"

Naruto dan Sasuke mengangguk. Wajah mereka cukup serius.

Menma pun melompat ke depan sambil menyiapkan segel tangan tunggal. "3 …! Oiroke no Jutsu!"

Terdengar suara "poof" yang cukup keras, kemudian asap-asap tebal mengelilingi tubuh Menma.

Splasssh!

Hiruzen pun terlempar dengan darah yang menyembur keluar dari lubang hidungnya. Ia terkapar dengan wajah memerah dan senyum bahagia.

Ya, mau bagaimana lagi, ia melihat gadis seksi muncul di depannya. Meski beberapa privasi tubuhnya ketutupan asap-asap dari hasil jutsu Menma, tetap saja Hiruzen tidak bisa menahan desiran aneh di tubuhnya.

"Yuhuuuu! Ayo kabur!" teriak Menma.

Ctak!

Naruto menjitak kepala Menma, membuatnya menghentikan tawa senangnya. "Apa sih? Kau kan tadi bilang untuk mengalihkan perhatian Kakek Hokage, Naruto-Nii!"

"Tapi bukan berarti harus gunain jutsu itu, Aho!"

"Yang penting kita berhasil dapat ini, 'kan?" balas Menma tak mau kalah sambil menunjuk scroll besar di punggungnya. Naruto hanya bisa mendesah pasrah.

Sasuke menyamakan larinya dengan Naruto dan Menma. "Hn. Kau bahkan tidak menghitung dengan benar," protesnya.

Menma kembali tertawa keras, bangga atas apa yang sudah ia lakukan. "Itulah yang dinamakan serangan dadakan! Kalau aku menghitung sampai selesai, bisa-bisa lawan akan mempersiapkan diri."

Apa yang dikatakan Menma ada benarnya.

"Terkadang kau bisa berpikir juga, heh?" ledek Sasuke.

"JANGAN MULAI, TEME!"

.

.

Shinobi with Magic—

.

.

Ngomong-ngomong, beberapa Jounin penjaga sudah kembali ke pos mereka. Yang berarti ketiga bocah itu memakan waktu terlalu lama di dalam sana, dan pada akhirnya mereka pergi lewat bagian belakang area kantor Hokage. Saat ini, mereka bertiga sedang berada di hutan yang berada tepat di atas tebing patung Hokage.

Rencana B akan mereka pakai ketika bertemu kondisi dimana mereka sudah ketahuan menyelinap ke dalam kantor Hokage. Selain itu, mereka harus segera kabur dan membuang scroll yang mereka ambil sebagai bentuk pengalih perhatian.

Namun, dikarenakan identitas mereka terbongkar, maka mereka tidak punya pilihan untuk tetap membawa scroll tadi dan paling tidak bisa memelajari satu jutsu di gulungan itu sebelum mereka kembalikan ke tempat semula; itulah maksud dari Rencana B yang Dikembangkan oleh Naruto.

"Aku tidak dapat apa-apa."

Begitulah yang dikeluhkan Naruto sejak tadi. Ia melirik Sasuke dan Menma yang sibuk dengan scroll di tangan mereka.

"Tenanglah, Naruto-Nii, gulungan ninja ini cukup besar untuk menyimpan berbagai jutsu. Aku yakin di sini pasti tertulis setidaknya 2 atau 3 mengenai Kenjutsu (Jurus Berpedang)," kata Menma.

"Hn." Entah apa maksud gumaman absurd Sasuke itu, terkadang Naruto tidak bisa memahaminya.

Si bocah rambut merah jabrik melipat kedua tangannya di depan dada. "Semoga saja itu benar, atau yang kulakukan ini jadi sia-sia."

Srek. Srek.

Sepasang telinga Naruto mendengar sesuatu dari atas pohon tidak jauh dari mereka bertiga.

"Aku tidak tahu siapa kalian, tapi keluarlah!"

Sasuke mengikuti arah pandangan Naruto. Sebenarnya, ia juga menyadari ada beberapa kehadiran disana, tetapi si Uchiha berpikir positif kalau itu hanyalah binatang tupai atau semacamnya.

Tap. Tap. Tap.

Tiga orang melompat turun dari atas dahan pohon. Satu orang terdepan memasang ekspresi congkak. "Hei, sepertinya kalian memiliki barang yang bagus. Bagaimana kalau izinkan aku melihatnya sebentar?" ujarnya, kemudian tertawa aneh.

"Seolah kami mau saja," balas Naruto tajam. "Apa tujuan kalian ke sini, hah?!"

"Kami hanya bandit yang kebetulan lewat, itu saja." Pria berbadan tinggi yang seolah bos mereka kembali bersuara.

"Bandit mana yang memakai ikat kepala ninja?" Sasuke menunjuk seorang perempuan yang berdiri di belakang kiri pria itu. Ia tersenyum meremehkan, menganggap ketiga orang itu cukup bodoh dalam berbohong.

Pria itu menatap marah bawahannya, dan menarik ikat kepala yang menggantung di leher si perempuan. "Sudah kubilang lepaskan itu!"

"Ma-Maaf! Aku lupa menyimpannya!"

Mendengar keributan itu, Menma akhirnya menggulung lagi scroll besar di tangannya dan menyenderkannya pada batang pohon yang sebelumnya ia gunakan. Ia kebingungan karena tiba-tiba ada banyak orang di sini. "Siapa mereka?"

"Ninja dari desa lain," jawab Naruto cepat.

Sasuke menyimpan scroll jurus Katon miliknya. Ia menghampiri Naruto, dan berbisik, "Lambang itu … aku yakin mereka dari Otogakure."

Desa Bunyi … wilayah itu terletak

Ya, Naruto tidak begitu mengenalnya, tetapi ia pernah membaca sekilas dan melihat lambang desa mereka yang bermotif not lagu atau semacamnya.

Melihat tiga bocah berumur 8 tahun itu saling berbisik-bisik, pria itu pun berujar keras, "Tidak ada pilihan lain. Bunuh mereka, jangan biarkan misi kita terbongkar!"

Pemuda dan gadis yang merupakan bawahannya mengangguk. Keduanya melesat cepat dengan kunai teracung di masing-masing tangan mereka.

"Mereka orang jahat?!"

Sasuke kesal mendengar pertanyaan Menma. "Mereka ingin membunuh kita. Apa hal ini masih kau pertanyakan juga, Dobe?!"

Sedikit seringaian tercipta di wajah Menma. "Bukan begitu, aku hanya tidak ingin salah menyerang orang."

Kyuubi di dalam tubuh Menma mendengus ketika mendengar permintaan Menma untuk meminjamkan kekuatannya. "Beri tahu mereka siapa yang lebih kuat, Gaki!"

"Yosh!" Menma maju lebih dulu untuk memberi pelajaran bagi siapapun yang meremehkannya.

Sasuke juga sudah siap dengan sharingan satu tomoe miliknya. Sementara Naruto? Ia tanpa diketahui lawannya, dengan cepat menciptakan pedang kembar ganda layaknya simbol Yin-Yang menggunakan sihir, yaitu Kanshou dan Bakuya.

Setelahnya, dua kubu itu pun melakukan konfrontasi tanpa diketahui ninja Konoha yang ada di bawah sana.

"Raaaah!"

"Hyaaah!"

.

.

.

"Gini doang kekuatan kalian?"

Menma tersenyum sombong pada ketiga ninja Oto. Saat ini mereka terikat di pohon setelah beberapa menit yang lalu dikalahkan oleh Naruto, Menma, dan Sasuke.

'Apa-apaan para bocah ini?! Mereka tidak selemah seperti penampilan konyol mereka!' batin si ketua. Kedua matanya fokus pada Naruto. 'Terutama dia, aku bahkan belum pernah melihat gaya berpedang seperti itu!'

"Kupikir ini akan lebih menantang." Naruto menguap bosan. Menma menyetujui perkataan kakak kembarnya.

Secara tiba-tiba, area di sekitar Menma berubah. Tak ada lagi hutan, yang ada di depannya hanyalah kurungan raksasa dengan kertas segel. Ini adalah dunia bawah sadarnya. Pasti Kyuubi yang menariknya secara paksa ke sini.

"Jangan banyak berharap, Gaki. Kurasa, mereka hanya di tingkatan Chuunin dan Genin." Setelah mengatakan itu, terdengar suara dengkuran Kurama.

"Apa?! Kenapa kau tidak bilang dari awal?! Semangatku kan jadi terbuang sia-sia!"

Tapi Kyuubi tidak membalas protesan Menma. Bocah itu kembali ke dunia nyata.

"Kenapa?" Melihat wajah adiknya merengut, tentu saja Naruto penasaran.

Menma menunjuk ninja Oto yang tengah. "Kurama bilang, dia cuma Chuunin sementara dua sisanya adalah Genin. Huft!"

"Hn. Pantas saja."

Sasuke muncul di samping Naruto dan Menma. Dia baru saja selesai mengencangkan ikatan benang kawat pada ketiga ninja itu agar tidak bisa kabur.

Swussh! Tap, tap, tap!

"Naruto! Menma! Sasuke! Akhirnya kalian ketemu juga."

Ketiga bocah yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. Disana bisa mereka lihat, berdiri sang Sandaime dan tiga Jounin yang lain. Perhatian Hiruzen teralihkan ketika menyadari seorang pria dewasa dan dua remaja yang terikat di pohon tidak jauh dari mereka.

"Siapa ketiga orang itu?" tanyanya.

Naruto pun maju selangkah. "Ninja dari Otogakure. Aku rasa mereka memata-matai desa kita, Kakek Hokage."

Hiruzen mengelus janggutnya yang berwarna putih. Sepertinya, laporan yang belakangan ini ia dapat adalah berkaitan dengan pergerakan orang-orang ini. Ia pun menyuruh dua Jounin untuk membawa ketiga Ninja Oto itu ke ruang interogasi.

"Lalu, di mana gulungan ninja yang kalian ambil?" tanyanya lagi.

Menma menunjuk ke arah pohon disana, tempat ia meletakkan gulungan besar yang belum lama ini ia baca. Sementara Sasuke memberikan secara tidak ikhlas gulungan yang di bawanya. Hiruzen pun menyuruh Jounin terakhir untuk membawa kedua gulungan itu kembali ke ruang penyimpanan.

"Sudah kubilang, rencanamu buruk, Dobe."

"Berisik, Teme."

Setelah itu, Hiruzen mengajak ketiga bocah berbeda rambut itu untuk turun dari atas tebing patung wajah Hokage. Mereka berempat pun berjalan di jalan setapak Konoha yang diterangi lampu.

"Kalian beruntung tidak terluka, dan kumpulan Jurus Rahasia milik Konoha tidak jatuh ke tangan mereka." Hiruzen mengembuskan asap rokok dari cerutunya. "Lagipula, untuk apa kalian tadi mencuri?"

—Dan pada akhirnya, Menma lah yang harus menjelaskan semuanya ke Hiruzen karena dia yang punya ide melakukan hal gila ini. Ia juga menceritakan masalahnya dengan kedua orang tuanya yang tidak mau mengajarinya satu jutsu pun.

"Hahaha! Iruka terlalu keras pada kalian."

Tak ada yang berinisiatif membalas kata-kata Hiruzen. Ketiganya hanya diam.

"Kalian tidak perlu khawatir dengan kelulusan akademi. Jika guru akademi kalian sudah mengakui bahwa kalian layak dan siap menjalankan misi, maka kalian akan diluluskan," lanjut Hiruzen.

"Heee~ jadi kami tidak perlu menguasai Ninjutsu agar bisa lulus dari akademi?" Menma baru tahu itu.

Hiruzen menggeleng. "Ada beberapa ninja yang sanggup sampai ke tingkat Jounin walau hanya mengandalkan Taijutsu mereka. Karena itulah …"

Naruto menoleh ketika merasa sedang dilirik Sandaime.

"… bahkan seseorang tanpa chakra sekalipun, harusnya bisa menjadi ninja kalau berusaha dengan baik."

Kedua safir Naruto sedikit bergetar setelah ia mendengar kalimat itu.

Hiruzen tersenyum kecil kala menyadari reaksi Naruto. Ia kembali menyedot asap rokok di cerutunya, kemudian ia embuskan. Hal itu terkadang bisa membuatnya merasa tenang. "Kelayakan setiap orang agar bisa menjadi ninja pastilah berbeda-beda, tergantung bagaimana penilaian guru kalian. Jadi, jangan pernah menyerah, kalian paham?"

Naruto, Sasuke, dan Menma mengangguk bersamaan.

"Sebagai ucapan terima kasih karena kalian sudah menangkap ketiga Ninja Otogakure tadi, aku akan menyembunyikan perkara ini dari orang tua kalian."

Mendengar hal itu, ketiganya pun akhirnya bisa bernapas lega. Naruto dan Menma bahkan terus kepikiran bagaimana mereka akan dihukum oleh Kushina saat orang tua mereka pulang dari menjalankan misi. Sasuke juga, membayangkan Fugaku terus memelototinya menggunakan sharingan-nya saja sudah membuat Sasuke bergidik ngeri.

Tawa keras kembali pecah dari mulut kakek tua di sebelah mereka, dan tentu saja ketiganya menoleh secara bersamaan.

"Dan sebagai tambahan hadiah, aku akan meminjamkan kalian masing-masing gulungan jutsu untuk kalian pelajari."

Kedua mata mereka melebar tidak percaya. "Benarkah itu, Kakek Hokage?!" tanya Naruto, menganggap bahwa ia sedang bermimpi.

Hiruzen mengangguk sekali sebagai balasan.

"Wohooooo! Lihat, Sasuke, rencanaku membuahkan hasil!" teriak Menma sambil menunjuk-nunjuk wajah Sasuke dengan kurang ajar.

Alih-alih menanggapi perkataan itu, Sasuke lebih memilih sibuk dengan isi pikirannya sendiri. 'Ini adalah satu langkah … untuk menjadi Uchiha yang terkuat!' Mata onyx-nya bersinar senang.

Hiruzen mengelus kepala mereka bertiga secara bergantian. "Besok setelah pulang dari akademi, datanglah ke ruanganku di kantor Hokage. Akan kuberikan gulungannya pada kalian."

"Baik!"

Ketiganya menjawab serempak.

Setelahnya, Hiruzen pun menyuruh ketiga bocah itu untuk pulang ke rumah masing-masing. Sasuke berbelok ketika di persimpangan, berpisah dari Naruto dan Menma. Ya, kompleks perumahan clan Uchiha memang agak jauh, ada di sisi bagian lain dari Konohagakure.

Bersambung


[A/N]:

Aaaaaaaaa! Setahun lebih gak update Fic ini, entah masih ada yang nungguin atau enggak, aku juga kurang yakin.

Oh iya, chap depan akan langsung ku-skip 6 tahun. Lalu, sepertinya Chapter 12 akan mulai masuk Arc I [Misi Genin]. Yah, itu aja sih yang pengin kusampaiin ke kalian. Entah bakal ada chapter baru yang bisa ku-update di sisa tahun ini atau enggak, kita lihat aja nanti.

Mumpung sebentar lagi menjelang akhir tahun, aku pengin minta maaf ke kalian jikalau di tahun 2022 ini ada kata-kataku yang sudah menyinggung kalian, baik itu disengaja ataupun tidak. Aku juga minta maaf karena tidak bisa membuat cerita hebat seperti yang kalian bayangkan. Bagaimana pun, aku juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Terima kasih bagi kalian yang sudah mau meluangkan waktu sejenak kalian demi membaca semua Karya Tulisku, aku sangat menghargainya.

See you in the next chapter, Brother and Sister!

.

.

.

Selanjutnya, Chapter 10: Ujian KelulusanMasa Penentuan, Gagal Menjadi Genin?

Tertanda, [Abidin Ren]. (20/Desember/2022).