Sepasang mata yang sedari tadi terpejam, kini mulai terbuka secara perlahan, memperlihatkan iris safir yang indah. Yang bisa orang itu lihat pertama kali adalah nuansa atap yang begitu asing.

Ia bingung karena merasa sudah melupakan sesuatu yang penting. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing ketika dirinya mencoba mengingat suatu kejadian.

"Benar juga! Bagaimana hasil perang—AAKH!"

Karena secara tiba-tiba ia bangun untuk duduk dari tidurannya, ia merasakan sekujur tubuhnya berdenyut-denyut kesakitan. Menyibak selimut yang menutupinya, kini terpampanglah banyak sekali perban yang melilit luka di sekujur badannya.

"Ara? Kamu sudah sadar?"

Kepala jabrik kuning lelaki itu menoleh ke arah pintu. Ada seseorang disana, tapi dia tak bisa menebak siapa orang itu dikarenakan ruangan tempatnya saat ini hanya diterangi oleh sebuah lilin. Orang tadi berjalan mendekati tempatnya.

"Lukamu belum sembuh sepenuhnya, jadi kamu harus istirahat lagi."

Jika dari suaranya, bisa ia tebak kalau orang itu adalah perempuan. Tangannya bergerak untuk menuntun punggung serta kepalanya untuk kembali berbaring di kasur. Lelaki itu tak bisa menebak perawakan wanita ini karena tak ada cahaya yang cukup menerangi wajahnya, namun ia bisa tahu warna rambut panjang yang dimilikinya. Merah muda … itu warna yang sama dengan rambut milik teman setimnya.

"Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, tapi kurasa aku harus menunggu sampai kamu sehat terlebih dahulu. Pokoknya, kamu harus banyak-banyak istirahat saja."

Grep!

Sebelum wanita itu bisa beranjak pergi, ia merasakan pergelangan tangannya digenggam kuat oleh seseorang. Ia pun menoleh.

"Aku … saat ini se-sedang berada … di mana? Hah, hah!" Meski dadanya terasa sakit, pemuda itu tetap memaksakan dirinya untuk bertanya demi meredam rasa keingintahuannya.

Wanita itu terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawabnya, "Kamu berada di tempatku. Ini adalah Kuil Narukami."

.

.

.

Memulai Kehidupan Baru

Summary: Ini bukan lagi Dunia Ninja, melainkan dunia yang benar-benar berbeda. Teyvat? Archon …? Vision …?! Naruto tak paham satupun dari semua pengetahuan di dunia ini. Dan satu-satunya hal yang dia lakukan setiap hari, hanyalah menuruti perintah dari Wanita Rubah menjengkelkan itu!

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto & Genshin Impact © MihoYo

.

Pair:

Rated: M

Genre: Slice of Life, Comedy(?)

Warning: Isekai, Mengandung unsur dewasa, Out of Character(?), Oneshoot, etc.

.

.

.

.

START STORY

Kuil Agung Narukami, Inazuma.

Di atas bangunan kuil, seseorang sedang duduk dengan wajah serius. Ia mengambil sebuah paku dari wadah kecil, dan mulai memukulnya ke kayu di depannya menggunakan sebuah palu. Ia sepertinya sedang memperbaiki genting yang bocor.

Di kuil ini tidak banyak ada lelaki yang tinggal, jadi itulah kenapa jarang ada yang melakukan perawatan pada benda serta bangunan sekitar.

"Heeeei! Uzumaki- saaaan! Jika yang disana sudah rampung, bisakah kamu memperbaiki kotak uang yang di sini?"

Pemuda itu melongokkan kepalanya ke bawah. Ternyata ada seseorang yang berdiri menunggunya di samping tangga. Gadis itu memakai pakaian berwarna merah putih seluruhnya, ciri khas seorang pengurus kuil.

"Ya, baiklah!"

"Maaf sudah merepotkan!"

"Tenang saja, Inagi- chan! Semua ini mudah bagiku, kok!"

Setelah perbincangan singkat tersebut, orang yang bernama lengkap Uzumaki Naruto kembali melanjutkan kerjaannya. Tak ada stamina berlebihan yang ia gunakan ketika memukul paku-paku itu, maupun saat dirinya menyusun ulang genting-genting.

Dirinya tahu, kemungkinan masih ada hal lain yang akan ia kerjakan setelah memperbaiki kotak uang. Ia selalu melakukan pekerjaannya seefisien mungkin. Setelah hidup menumpang di sini lebih dari tiga bulan, Naruto sudah sangat memahami kesehariannya sendiri. Yah, dia bahkan jarang mendapat waktu untuk bersantai.

"Fyuuuh! Akhirnya selesai juga!" Pemuda itu menyeka keringat di dahinya. Ketika ia menuruni tangga, angin sepoi-sepoi mengibarkan rambut kuning jabrik miliknya.

Ia beranjak menuju kotak uang yang dimaksud Inagi. Ia memeriksanya dengan teliti ke seluruh bagian. Setelah menemukan permasalahannya, Naruto segera mengerjakan tugasnya.

Tak butuh waktu lama untuk Naruto memperbaikinya. Ia berdiri, dan mulai memutar-mutar bahu serta lehernya. Suara "kretek" yang tercipta sungguh membuatnya merasa enak.

"Jadi, kamu sudah mulai nyaman hidup di sini, Bocah?"

Naruto menoleh ke belakang. Disana berdiri seorang wanita dewasa dengan postur tubuh tinggi, dan punya aset perempuan yang berukuran lumayan besar. Ia memiliki rambut merah muda sepanjang pinggulnya dan diikat bagian ujung rambut di bawah sana. Sementara telinga miliknya … itu lebih mirip seperti telinga hewan ketimbang manusia.

Wanita itu mengenakan variasi pakaian unik dan bergaya yang terinspirasi dari warna pakaian tradisional pendeta kuil. Anting sebelah kanan yang ia pakai merupakan Vision Electro , yang terbungkus oleh aksesoris unik layaknya tetesan air dan kipas kecil di bawahnya.

Namanya adalah Yae Miko, seorang pengurus tertinggi di Kuil Agung Narukami. Beberapa orang memanggilnya dengan sebutan Lady Guuji dan masih banyak lagi panggilan serupa miliknya.

"Oh, Ne—maksudku, Yae- sama ternyata …."

Naruto hampir saja memanggilnya dengan sebutan Nenek. Itu adalah suatu larangan tak tertulis baginya. Dirinya masih ngeri jika mengingat bagaimana ekspresi Yae Miko saat pertama kali Naruto memanggilnya dengan sebutan itu. Yah, sejujurnya ia spontan mengatakan itu, sih.

Mau bagaimana lagi? Naruto juga awalnya terkejut ketika mendengar bahwa Yae Miko sudah hidup lama, meski penampilannya terlihat masih begitu muda. Yae Miko memberikan kesan serupa dengan seorang wanita awet muda yang dekat dengan Naruto di dunianya sebelumnya. Ya, seseorang yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri meski mereka tak punya hubungan darah secara langsung.

"Apa ada yang harus kukerjakan lagi?" lanjut Naruto bertanya.

Yae Miko berjalan mendekati Naruto. Senyumannya penuh aura kemisteriusan. "Hee~ jadi begitu caramu melihatku? Aku hanya tukang suruh-suruh, begitukan maksudmu, Bocah?"

'Memang itu kenyataannya, dasar Nenek.' Itulah yang diteriakkan Naruto di dalam batinnya. Tapi tentu, ia tak 'kan berani mengatakannya secara langsung. Jadi, pemuda itu pun cuma membalas—

"Tentu saja tidak, Nona Yae Miko yang Terhormat!"

—dan sambil tersenyum lebar.

Dia berdiri di depan Naruto. Sebelah tangan Yae Miko memegang bahu laki-laki tersebut. "Fufufu~ aku tahu kalau kamu tidak serius mengatakan itu, Bocah."

'Wakh …! Ketahuan!' Naruto jadi keringat dingin sekarang.

" Maa, maa, jangan tegang begitu." Setelah tertawa geli sebentar, Yae Miko melepaskan tangannya dari pundak Naruto. Ia berjalan sedikit menjauhinya. "Kenapa kamu tidak mencoba untuk mengganti suasana saja? Aku yakin kamu sudah bosan hanya berdiam diri di sini."

Yae Miko melihat sekitarnya; rumput-rumput yang terpotong rapi, beberapa gerbang Torii yang rusak kini selesai diperbaiki, bahkan perabot kuil seperti tempat menggantung permohonan pun sudah terlihat seperti baru lagi. Dan masih banyak hal lain hasil dari pekerjaan Naruto.

"Anggap saja semacam hadiah karena kamu telah membantu di sini."

Naruto mengernyitkan dahinya. "Apa artinya … aku sekarang bebas?"

"Hei, aku membolehkanmu jalan-jalan, bukannya lebih dari itu," ujar Yae Miko. Mata ungunya melirik tajam ke belakang, tempat Naruto berdiri. "Mengawasimu tetaplah tugasku yang dipercayakan oleh Archon Electro."

Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya. Rasa antusiasnya sebelumnya langsung hilang dalam sekejap. "Aku mengerti. Haaah~"

Setelah berpamitan pada Yae Miko, ia berjalan menuju gerbang keluar kuil. Naruto untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, akan turun dari Gunung Yougou—wilayah dari Kuil Agung Narukami, sekaligus tempat tertinggi di Inazuma.

"Sepertinya jalan-jalan di kota yang ada di bawah sana tidak buruk," gumam Naruto.

"Dan ingat! Pulanglah sebelum gelap ya, Naru- chan~"

Sebuah perempatan tercipta di kening Naruto karena kata-kata Yae Miko barusan. "Aku bukan anak kecil lagi, jadi berhentilah mengatakan itu!" teriaknya kesal. Ia kemudian melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan keras.

"Fufufu~"

Yae Miko kembali tertawa khas dirinya. Saat punggung Naruto tak terlihat lagi di depannya, wajah wanita itu berubah serius. "Aku tahu ini cuma percobaan, tapi … semoga saja anak itu tak membuat kekacauan."

Membiarkan Naruto pergi jalan-jalan sebagai dalih hadiah, itu sebenarnya tak sepenuhnya bohong. Namun, alasan sebenarnya Yae Miko adalah, dia ingin melihat apakah saat tak ada yang mengawasinya dari dekat … Naruto mempunyai niat buruk sampai-sampai membahayakan Inazuma, atau tidak? Itulah rencana yang dikatakan kepadanya dari Archon Electro saat ini, yaitu Raiden Ei.

Yae Miko memandang ke atas langit. Ingatannya kembali melayang … ke kejadian sekitar tiga bulan yang lalu.

Saat itu masih pagi, dan Yae Miko yang sedang berdo'a … tiba-tiba merasakan adanya pancaran energi kuat dari arah Barat Laut. Ia tanpa pikir panjang langsung turun dari Gunung Yougou untuk mengeceknya. Saat dirinya tiba di dekat pohon Sacred Sakura, ia melihat ada seorang pemuda dengan pakaian lusuh serta compang-camping yang tergeletak pingsan di situ.

Bukan karena luka-luka yang dideritanya lah yang membuat Yae Miko terkejut, melainkan karena aura yang dipancarkannya. Benar, Yae Miko sangat mengenali aura milik pemuda itu, tanda bahwa dia juga adalah seorang Kitsune (Rubah). Aura tersebut sama dengan miliknya tetapi … pancaran energi yang dikeluarkannya lebih kuat ketimbang milik Yae Miko.

Wanita itu memutuskan untuk membiarkan pemuda tadi tinggal di kuil tempatnya. Yae Miko tak pernah mengizinkannya pergi jauh-jauh dari kuil dengan alasan yang sama, yaitu Naruto harus selalu berada dalam jangkauan pengawasannya. Anehnya, ternyata pemuda tersebut mau menurut, dan itulah yang membuat Yae Miko heran.

"Kurasa, kamu terlalu skeptis pada Naruto, Ei …."

Yae Miko menoleh ke belakang. Ia tahu ada seseorang yang berjalan mendekatinya.

Itu adalah postur tubuh seorang wanita dewasa, dengan rambut ungu panjang yang dikepang di belakang punggungnya. Di sisi kanan kepalanya terpasang jepit rambut dengan bunga ungu pucat, serta aksesoris kecil lain berbentuk kipas.

Matanya berwarna ungu dan ada tanda lahir unik di bawah mata kanannya. Dia mengenakan sebuah kimono dengan pita merah kecil di lehernya sebagai kalung. Kimononya memiliki bermacam-macam pola dalam nuansa ungu dan merah yang berbeda, lalu ada juga lambang yang lebih rumit pada plat besi pelindung di bahu kirinya. Dia mengenakan stoking setinggi paha berwarna ungu tua dan sandal hak tinggi.

Namanya adalah Raiden Ei. Ia adalah Archon pelindung Inazuma saat ini, sekaligus teman dekat dari Yae Miko.

"Berjaga-jaga juga termasuk antisipasi yang penting, Miko," balas Ei dengan wajah lelah. Ia sudah capek karena Yae Miko terus membicarakan soal Naruto belakangan ini.

Yae Miko tertawa pelan. Dia pun mendorong punggung Ei, mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam kuil dan meneruskan acara minum teh mereka.

.

.

~o0o~

.

.

Uzumaki Naruto bukanlah penduduk asli dunia ini. Ia berasal dari dunia lain, yang mana dunia itu dipenuhi oleh sejarah shinobi. Pemuda itu merupakan seorang ninja dari desa yang bernama Konohagakure. Naruto sendiri awalnya kebingungan bagaimana dirinya bisa sampai muncul di dunia bernama Teyvat ini.

Ia masih ingat dengan jelas kejadian itu, Perang Dunia Shinobi Keempat, seolah itu baru saja terjadi kemarin; tentang bagaimana dirinya bersama teman satu timnya berhasil menyegel sosok Nenek Moyang dari chakra, Ootsutsuki Kaguya.

Itu pertempuran yang gila—kalimat itulah yang selalu terlintas di kepala kuning Naruto tatkala dirinya mengingat setiap kejadian pada Perang Shinobi tersebut.

Teman-teman seperjuangannya banyak yang gugur, bahkan salah satunya meninggal tepat di depan matanya. Namun sebenarnya, tidak hanya kenangan buruk yang ia dapat dari Perang Shinobi yang ia jalani; ia akhirnya berhasil menghilangkan kebencian dari para Monster Berekor, bahkan ia bisa berteman dengan Kurama ….

Benar juga. Sekarang ia tak lagi bersama dengan Rubah Oranye itu. Sejujurnya, Naruto terkadang merasa sedikit kesepian karena terdampar di dunia ini sendirian. Meski begitu, ia masih samar-samar merasakan kekuatan Kurama di dalam tubuhnya—begitu juga yang selalu dirasakan Yae Miko. Tapi, Naruto tak pernah menjawabnya ketika ditanya oleh wanita itu mengenai kekuatan di dalam dirinya.

Saat ia sibuk mengenang segala ingatan kehidupan ninjanya, Naruto tak sadar bahwa dia sudah sampai di bagian terluar dari kota utama Inazuma. Ia melihat sekeliling. Tempat ini tak beda jauh dengan dunianya sebelumnya, baik itu bangunan rumah, tradisi penduduk, bahkan gaya berpakaian mereka; semua ini hampir sama seperti di Konoha.

Ia melanjutkan berkeliling. Sebuah aroma harum tak sengaja mengusik indra penciumnya. Naruto langsung saja beranjak mengikuti arah aroma tadi berasal, hingga ia berhenti tepat di depan kedai gerobak. Dia cukup kenal dengan berbagai jajanan yang ada di depannya. "Bukankah ini …?"

"Mari, mari! Mendekatlah dan hangatkan tubuhmu dengan jajanan ini, Anak Muda!" Sang penjual berseru ketika melihat Naruto hanya berdiri diam tak jauh dari gerobak miliknya. Meski umurnya sudah lumayan tua, namun ia tak kurang semangat sedikitpun untuk menjual dagangannya.

"Eeeh maaf, tapi aku tidak punya uang, Kek …."

Si penjual tersenyum ramah. "Sudahlah, duduk saja dulu."

Naruto pun menurut. Ia menarik kursi terdekatnya, menyamankan duduknya di depan gerobak yang juga merangkap sekaligus sebagai kedai.

"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau ini seorang petualang?"

Naruto menatap bingung kakek di depannya yang seolah sibuk melakukan sesuatu di balik meja kaca ini. Ia tak begitu bisa melihatnya karena tempat duduknya sedikit lebih rendah. "Mhm, sesuatu semacam itulah, ahaha!"

Kakek itu mengangguk-angguk beberapa kali. "Jadi, bagaimana menurutmu kota Inazuma ini?" tanyanya lagi.

"Sebenarnya, aku belum mengelilingi seluruh tempat ini. Yang bisa kukatakan hanyalah … kota ini tidak begitu buruk. Tempat ini mengingatkanku pada kampung halamanku loh, Kakek!"

Si penjual ikut tersenyum senang mendengarnya. Ia kemudian menyodorkan sebuah piring yang berisi 2 tusuk Dango, dan 2 tusuk Takoyaki. Ia juga memberikan segelas teh hangat sebagai pelengkapnya untuk Naruto.

"Nah, makanlah! Aku mentraktirmu, Nak."

"Eeeh! Serius?!"

Melihat sebuah anggukan mantap dari si Kakek Penjual, Naruto pun semakin tersenyum sumringah. "Terima kasih, Kek!"

Naruto menyantap jajanan itu dengan lahap. Perpaduan antara rasa manis Dango dan teh itu membuatnya ketagiham. Takoyaki-nya pun tak kalah enak. Dia merasa puas bisa merasakan kedua makanan ini lagi setelah sekian lama.

Naruto dan kakek penjual itu kembali memperbincangkan banyak hal mengenai sejarah kota ini. Ada beberapa kata asing di telinganya, jadi Naruto pun menanyakan apa maksudnya. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk meski tidak seluruh penjelasan si Kakek dapat dirinya pahami.

Setelah merasa tak ada lagi yang ingin ditanyakan, Naruto pun izin pamit pergi. Ia ingin melanjutkan berkeliling. "Makasih untuk jajanannya, Kek!"

"Lain kali mampirlah lagi, Naruto."

"Ya, pasti!"

Kedua mata safir itu melihat bangunan sekelilingnya dengan cermat. Ada dua anak kecil yang bermain kejar-kejaran, senyuman mereka menunjukkan tak adanya beban yang berarti. Naruto senang saat mengetahui bahwa kota ini sangatlah damai tanpa terjadi peperangan.

Langkah kaki Naruto terhenti kala dirinya tak sengaja melihat satu bangunan kecil yang menarik minatnya. Di situ terdapat tulisan yang dibaca "Yae Publishing House".

'Yae …? Yae Miko, maksudnya?' batin Naruto. Ia tak yakin, mungkin saja ini orang yang berbeda.

Dia pun mendekat untuk bisa melihat lebih jelas apa saja yang tersedia disana. Itu semacam toko buku, kalau Naruto boleh tebak. Ada banyak buku dengan judul bermacam-macam di sampulnya.

Orang yang menjaga tempat itupun menyapa Naruto. Dia mengatakan kalau dirinya boleh melihat ataupun membaca bukunya kalau memang tertarik. Setelah mendengar hal itu, Naruto kini menjadi bersemangat.

Ia terus membaca berbagai macam genre serta judul buku yang berbeda. Naruto terlena dengan cerita-cerita yang disajikan, bahkan tak menyangka akan menghabiskan banyak waktu di tempat itu.

"Bukankah semua cerita ini membosankan?"

Suara yang tiba-tiba muncul itu mengagetkan Naruto. Dia menoleh ke samping, menyadari sesosok perempuan yang tak dikenal. Ia tak bisa menebaknya karena perempuan itu memakai topi serta masker. Satu-satunya hal yang diketahui Naruto adalah ia memiliki rambut hitam sebahu.

"Benarkah? Menurutku cerita yang disajikan sangat bagus, terlebih lagi buku [The Chronicles of Four Kitsune] ini," balas Naruto, menunjukkan buku di tangannya.

Perempuan itu mendesah panjang. "Aku tahu. Maksudku adalah buku yang terbit setelah kemunculan buku yang kau sebutkan barusan, buku-buku sekarang seolah imitasi payah dari buku tadi. Para penulis itu hanyalah para pemalas, mereka bahkan tak berniat mencoba untuk membuat cerita dengan nuansa yang berbeda."

Ia jelas sangat kecewa, dan Naruto bisa menyadari itu dari perkataan panjangnya. Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan. Saling bertukar isi pikiran masing-masing pun tak lepas dari waktu yang mereka habiskan.

Pada intinya, Naruto paham jika orang di depannya ini ingin adanya gebrakan baru pada novel mendatang.

—Setelahnya, perempuan tadi pun pamit. Naruto sendiri pergi dari toko itu karena ingin berkeliling lebih jauh sebelum kembali ke Kuil Agung Narukami.

.

.

—Memulai Kehidupan Baru—

.

.

Naruto membawa beberapa kertas dengan penjepit di bagian atasnya. Ia sudah menatanya dengan rapi agar susunan halamannya tak berantakan ketika dibaca.

"Yae- sama!" Dia memanggil Yae Miko ketika melihat punggung wanita itu. Naruto menyerahkan benda di tangannya. "Bagaimana menurutmu cerita ini?"

Yae Miko menoleh ke samping, tempat pemuda itu berdiri. "Saat kemarin kau bilang ingin menulis novel, kukira kau hanya bercanda, Naruto."

Beberapa hari yang lalu ketika membicarakan tentang novel bersama wanita itu, akhirnya Naruto tahu jika Yae Miko mendirikan sebuah tempat penerbitan novel. Dan siapa sangka kalau tempat yang ia kunjungi kala itu memang Yae Miko-lah yang mengelolanya.

"Aku punya banyak alasan sih, tapi aku serius ingin menjadi Novelis, kok!"

Salah satunya adalah dia ingin punya uang pegangan sendiri. Alasan lainnya, Naruto ingin membalas budi Yae Miko yang sudah memberinya makan dan memperbolehkannya menumpang di kuil ini. Ia pun sadar kalau bantuan fisik tidaklah seberapa dibanding bantuan Yae Miko kepadanya selama ini.

Setelah beberapa menit membaca tulisan Naruto, Yae Miko pun mengembalikan kertas-kertas itu pada pemiliknya. Secara garis besar ia paham, itu adalah sebuah cerita fiktif yang berpusat pada seorang pemuda dengan keahlian khusus ninja. Sejujurnya itu sedikit menarik minatnya untuk segera menerbitkan karya Naruto dan menjualnya, ia yakin bisa meraup untung yang banyak.

"Masih ada kekurangan yang menurutku perlu ada di novel buatanmu ini, Naruto. Jika kau mau menambahkan adegan dewasa di sela-sela petualangan dari Protagonis novelmu, aku baru akan setuju untuk membantumu menerbitkan novelmu ini," ujar Yae Miko dengan senyum licik.

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin itu dibutuhkan? Bagaimana jika novelku nanti malah dilarang beredar?"

"Kau tidak perlu khawatir, Bocah. Aku sering mendengar keluhan para penikmat novel, jadi aku tahu kriteria novel apa saja yang mereka inginkan."

Yang dikatakannya tidaklah bohong. Yae Miko sering berbicara pada penulis yang dirinya kenal, namun tak ada satupun di antara mereka berani mengambil usul darinya. Sejujurnya Yae Miko menjadi frustasi karenanya. Lalu sekarang, jika saja Naruto mau mendengarkan sarannya, wanita itu yakin bisa melakukan gebrakan besar-besaran di pasar novel.

Naruto mengangguk-angguk. "Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan mencoba menulisnya lagi." Pemuda itu pikir tak akan jadi masalah mengambil sedikit referensi dari buku buatan gurunya yang berjudul [Icha-Icha Paradise].

—Dan dalam seminggu itu, Naruto sering berkonsultasi dengan Yae Miko mengenai novel buatannya. Beberapa adegan dewasa yang ia tulis, ia ambil berdasarkan pengalaman yang ia miliki ketika dulu pergi berlatih bersama gurunya, yaitu Jiraiya.

"Hoo~ ini melebihi ekspektasiku, Naruto. Kau ternyata bisa kalau memang niat mengerjakannya, 'kan?" Wajah Yae Miko sedikit merona saat sampai membaca bagian mesum dari novel di tangannya.

Sekarang, itu tidak hanya mengenai perjuangan seorang ninja dengan cerita yang monoton. Bumbu adegan dewasa yang ditambahkan telah memberikan cita rasa romansa, bahkan pergulatan intim yang dilakukan si Protagonis dengan wanita itu bukan lagi mengenai nafsu belaka. Walau hanya sekedar membaca, Yae Miko merasa emosi miliknya ikut dipermainkan.

"Ahaha, begitulah," balas Naruto seadanya.

"Tapi, kurasa masih ada beberapa yang perlu diperbaiki, misal namanya akan kuganti agar lebih mudah dibaca. Apa kau tidak keberatan?"

"Eh? Yah, jika itu tidak merepotkanmu, aku oke-oke saja."

Yae Miko menyeringai usil. "Kalau begitu kita sepakat!"

Tak disangka Naruto kalau Yae Miko akan menyukai hasilnya sehingga buru-buru menerbitkan bukunya ke pasaran. Tidak butuh waktu lama hingga novel buatan Naruto menjadi terkenal di khalayak umum. Bukan hanya pencinta novel, bahkan orang awam pun mulai ikut tertarik membelinya dikarenakan banyaknya orang membicarakan novel tersebut sampai di seluruh pelosok Kota Inazuma.

.

.

.

"Hei, bukankah kemarin kau mengejekku karena membaca novel ini? Kenapa sekarang kau ikut membacanya?"

"Eh, biarin dong! Suka-suka aku mau baca apa aja!"

Saat itu bertempat di depan kediaman sang Archon Electro. Orang-orang yang baru saja bertengkar adalah anggota dari pasukan Keshogunan. Jika kalian penasaran, novel yang mereka debatkan itu adalah buatan Naruto yang baru-baru ini menjadi novel Best-Seller di penjuru Inazuma.

Keduanya terus-menerus saling ejek, tanpa menyadari bahwa atasan mereka baru saja keluar dari kediaman Shogun dan menghampiri mereka. "Berisik sekali. Apa yang kalian ributkan sejak tadi?"

Meski dirinya seorang perempuan, nyatanya aura kepemimpinan yang dimilikinya cukup membuat takut siapa saja. Namanya adalah Kujou Sara.

"Ah, Kujou- sama!"

Mereka berdua berteriak kaget, kemudian berusaha menyembunyikan novel yang mereka bawa. Jika ketahuan bersantai saat masih di jam kerja, bisa-bisa mereka akan kena potongan gaji.

Sayangnya, Sara sempat melihat hal itu saat masih di kejauhan. Ia segera merebutnya dengan paksa dari tangan mereka. Setelah membaca sedikit, Sara tanpa pikir panjang langsung merobek buku itu menjadi dua bagian.

"Ya ampun! Bagaimana bisa kalian membaca novel tidak senonoh ini di tempat ramai? Kalian sebagai anggota prajurit Keshogunan harusnya membanggakan kehormatan kalian dengan menjauhi benda kotor ini, paham?!" ujarnya setelah menginjak novel itu di tanah.

"Mo-Mohon maafkan kami, Kujou- sama!"

"Cih. Kalian sebaiknya jangan mengulanginya lagi." Sara pun segera pergi meninggalkan keduanya.

Dalam perjalanan pulang menuju kediamannya, ia bisa melihat berbagai macam orang yang membicarakan novel yang baru-baru ini hangat di pasaran. Banyak yang menyanjung penulis ini sebagai jenius karena dapat menciptakan karya yang luar biasa. Tapi tidak sedikit juga yang mengkritik novel ini bahwa terlalu vulgar dan tidak layak diedarkan. Pada akhirnya, orang yang mengkritik itu hanya sebatas di ucapan saja, karena tidak ada satupun di antara mereka yang berani mengambil tindakan pasti.

"Pekerjaan hari ini sungguh melelahkan."

Setelah sampai di rumahnya, Sara segera masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya, bahkan sampai menggunakan gembok. Setelah memastikan tak ada siapapun yang mengawasinya, perempuan itu langsung menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa sisa benang di tubuh, lalu mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.

"Akhirnya aku punya waktu untuk melanjutkan membaca novel ini!" Wajahnya berubah memerah kala membaca adegan intim di dalam novel tersebut. Tidak hanya itu, air liurnya ikut sedikit keluar dari ujung bibirnya karena saking tak tahannya dirinya.

Benar, itu buku yang sama dengan buku yang Sara robek tadi. Ternyata perempuan itu diam-diam membeli serta membacanya ketika tak ada yang melihatnya.

Sejak perbincangannya dengan pemuda asing di Yae Publishing House malam itu, Sara tak menyangka kalau keluhannya itu akan menjadi kenyataan. Buku seperti inilah yang ia cari-cari selama ini!

Novel dengan judul [Petualangan Sang Ninja Jenius] itu ditulis oleh orang dengan Penname Minato The Red Fox, jadi Sara tak bisa mencari tahu lebih banyak mengenai informasi penulisnya. Itu nama baru yang tak pernah dirinya lihat di jajaran novel-novel lama.

"Mungkinkah pemuda itu penulisnya—?" Namun Sara segera menepis pemikiran sekilas tersebut. Bagaimanapun, ia ingat jelas kalau tangan milik pemuda kuning itu sungguh kasar, jadi pasti itu bukanlah tangan milik seseorang yang menghabiskan waktunya bersama dengan pena dan kertas.

Tanpa berpikir banyak hal, Sara kembali melanjutkan acara membacanya.

Sementara itu di kediaman Kamisato.

Seorang gadis berambut biru dengan model ekor kuda tampak gelisah di dalam kamarnya. Wajahnya memerah sementara tangannya bergetar hebat kala memegang buku di tangannya.

"Ba-Ba-Bagaimana bisa orang-orang menyukai buku tidak senonoh seperti ini?!" teriaknya frustasi.

"Hee~ jadi kau membacanya juga, Ayaka? Aku baru tahu kau menyukai hal-hal begini."

"HIIIEE!"

Gadis itu berjengit kaget kala uap panas menerpa telinganya. Ayaka menatap marah kakaknya yang berdiri di belakangnya. " Onii-sama! Kenapa masuk kamarku tanpa izin?!"

"Aku sudah memanggilmu berulang kali, tapi kau tak menjawabnya. Ternyata kau lagi asyik membaca novel yang sedang ramai belakangan ini," ujar Ayato dengan senyum aneh.

"Tidak, kok! Aku hanya penasaran saja." Ayaka dengan keras menampik pemikiran salah kakaknya tentang dirinya. "Justru sebaliknya, buku yang bertentangan dengan norma, moral, dan etika seperti itu … tidak seharusnya pernah diterbitkan."

"Terserah kau saja, deh." Ayato mengangguk enteng saja karena tak ingin melanjutkan perdebatan tidak penting. "Aku ingin membicarakan tentang acara besok, apa kau ada waktu, Ayaka?"

Gadis itu mengangguk. Dia meletakkan buku tadi ke meja, lalu berjalan keluar kamar mengikuti kakaknya yang sudah beranjak lebih dulu.

—Nyatanya tidak hanya di Inazuma, siapa sangka kalau kepopuleran novel ciptaan Naruto sudah sampai ke luar wilayah lain. Penjual buku di kota-kota besar pun banyak yang merekomendasikan novel ini ke pembeli. Dengan banyaknya informasi yang tersebar lewat mulut ke mulut, novel tersebut pun makin terkenal.

Liyue

"Bisa-bisanya buku seperti ini populer di kalangan masyarakat kita? Aku tidak paham bagian menariknya ada dimana." Ningguang melemparnya hingga jatuh tepat di tempat sampah.

"Ah, itu aku yang membelinya, tolong jangan lakukan itu! Aku belum selesai membacanya, tahu!" Ganyu dengan sigap segera mengambilnya. Ia meniup debu yang menempel di sampul novel.

Ningguang menoleh ke belakang. "Aku tidak masalah kalau kamu membacanya, tapi ingat juga dengan pekerjaanmu, oke?"

"Ak-Aku mengerti!"

Mondstad

Di dalam sebuah gereja, tampak seorang gadis muda dengan rambut twinstail pucat yang sepertinya sedang berdo'a. Di belakangnya tergeletak sebuah buku novel yang baru saja ia lemparkan, dengan keadaan terbuka menampilkan halaman dengan banyaknya kalimat yang mesum. Dapat kita lihat bahwa ia memiliki raut wajah yang penuh akan penyesalan dan sedikit menangis.

"Bisa-bisanya aku membaca buku penuh dosa itu dan terbawa suasana! Oh, Barbatos- sama, hambamu ini telah melakukan perbuatan yang tercela di rumah ibadah ini. Kumohon ampunilah hambamu yang berdosa ini!"

—Pada akhirnya, Barbara berdo'a selama 7 hari dan 7 malam, berharap dosanya akan diampuni oleh sang Archon Anemo. Padahal, tak jauh dari luar benteng kota Mondstadt. Sang Archon sendiri yang dimaksud sedang duduk di atas pohon besar besar sambil membaca buku yang dianggap berdosa oleh Barbara dengan sangat antusias. bahkan dia tak sadar bahwa darah mulai keluar dari hidungnya.

Barbatos atau yang saat ini dikenal dengan nama Venti menenggak botol anggurnya dengan perasaan puas seraya membalik satu lagi halaman buku. Ia bersiul mengapresiasi.

"Nah, itu yang baru aku sebut sebagai 'kebebasan sejati'"

.

.

.

Sementara itu di Kuil Agung Narukami.

Naruto dan Yae Miko sepertinya sedang merayakan kesuksesan mereka karena penjualan novel terbaru mereka yang laku keras di pasaran.

Namun, kesenangan mereka harus terhenti sebentar karena kedatangan Ei. Wanita itu tampak menahan marah. "Miko, katakan padaku … siapa yang menulis buku ini?! Kamu penerbitnya, 'kan?" Ia menunjuk novel yang ada di tangannya.

Dengan wajah tanpa dosa, Yae Miko langsung menunjuk Naruto yang duduk di depannya. Orang yang menjadi tersangka pun tampak kebingungan.

Raiden Ei menoleh secara patah-patah ke arahnya, dan jujur itu sungguh menakutkan bagi Naruto. "Begitu, ya. Berarti kamu sudah siap menerima hukumannya, 'kan~?"

Entah bagaimana caranya, Ei mengeluarkan sebuah pedang dari belahan dadanya. Ada kesan sedikit erotis dan perasaan ngeri yang dialami oleh satu-satunya lelaki di dalam ruangan itu.

Naruto dengan panik mencoba membalas perkataan sang Archon Electro. "Eeeeehh?! Aku ti-tidak paham, kita membicarakan tentang apa? Dan kenapa aku harus dihukum?"

Meski dirinya tak sabar untuk segera menebas kepala Naruto, namun Ei tetap menahan dirinya. Ia memperlihatkan buku novel itu, sang wanita dewasa menunjuk pada salah satu halaman, tepatnya pada sebuah nama. "Kenapa namaku ada di sini?!"

Naruto melotot tak percaya. Ia buru-buru membalik ke halaman lain, dan ternyata benar kalau nama heroine di novel buatannya telah diganti. Wajahnya pucat pasi karena melihat mata Ei menyala berwarna merah.

Ia kemudian teringat kata-kata Yae Miko sebelum menerbitkan novelnya ini. "Ah, benar! Ini perbuatan Yae- sama, pasti dia yang mengubah namanya!"

Ei segera menoleh ke arah wanita rubah itu. "Miko! Jelaskan hal ini padaku sekarang juga!"

Sementara sang empunya hanya menjulurkan lidahnya. "Ehe~"

"Apa maksudmu dengan 'Ehe~'?!" teriak Ei murka.

Naruto mengelus dadanya karena merasa sudah terbebas dari hukuman penggal. Sejujurnya, ia sendiri belum mengecek sama sekali cetakan buku novelnya karena Yae Miko selalu melarang dirinya. Mungkin lain kali saat mau menerbitkan novel lagi, Naruto harus memastikan terlebih dahulu apakah hal itu bisa membahayakan nyawanya … atau tidak.

Selesai

A/N:

FOLLOW DAN KOMEN JIKA SUKA