"Gaara-kun? Kau mendengarku, 'kan?" panggil Ino karena Gaara tidak kunjung menanggapinya.
Gaara masih belum merespons perkataan Ino, tetapi kedua tangannya kembali bergerak untuk merapikan rambut panjang Ino hingga mirip seperti ekor kuda yang sedikit awut-awutan.
"Jangan seperti Shikamaru. Saat aku berbicara dengannya, aku harus mengulangi perkataanku karena dia terlalu malas untuk sekedar mengucapkan satu kata," ujar Ino saat ia merasa jari jemari Gaara kembali menari di kepalanya.
Hening karena bibir Gaara masih mengatup dengan rapat, sementara kedua matanya terfokus pada tiap helai rambut wanita di depannya itu yang terasa begitu lembut layaknya kumpulan sutra.
"Maaf, Ino," ucap Gaara setelah hening sempat memeluk mereka cukup lama.
"Hah?"
Ino mengernyit heran setelah mendengar apa yang dikatakan Gaara. Respons itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan ucapan Ino beberapa waktu lalu. Meskipun keheranan, kenyataannya Ino tak bergeming sedikit pun. Ia sengaja diam, berharap Gaara kembali melanjutkan perkataannya agar ia tidak lagi salah paham.
Tinggal langkah terakhir, Gaara selesai mengikat rambut panjang Ino. Setelah beberapa kali memutar karet yang tadi ia genggam, akhirnya Gaara berhasil mengikat rambut Ino meskipun tidak secantik yang biasanya wanita itu lakukan.
"Terima kasih," ucap Ino setelah Gaara selesai mengikat rambutnya.
Meskipun tidak ada cermin di sana, tetapi Ino bisa menebak jika ikatan rambut hasil karya Gaara cukup berantakan. Karet yang diikatkan di rambutnya tidak begitu kencang, jadi ikatan rambutnya sedikit turun dan banyak yang mencuat. Bahkan beberapa rambut bagian depannya tidak terikat.
"Next time kau bisa mencobanya menggunakan sisir. Itu akan lebih mudah," ucap Ino sebelum wanita itu memutar tubuhnya agar ia bisa menghadap ke arah Gaara.
Ternyata Gaara masih dengan posisi yang sama. Pria itu berdiri dengan tatapan rendah yang diarahkan ke Ino. Sebab tinggi mereka tak sejajar, Ino memutuskan untuk berdiri dan menghadap Sang Kazekage sambil memandanginya.
"Sepertinya ada banyak hal yang mengganggumu. Asal kau tahu, aku ini pendengar yang baik, kau bisa mengatakan apa saja kepadaku." Ucapan barusan tampak seperti kode untuk Gaara, barangkali pria itu butuh teman cerita.
Gaara menatap Ino dalam diam dengan mulut sedikit terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia mengurungkan niatannya itu. 'Objek' di hadapannya itu terlalu menarik, seolah ia seketika mengabaikan niatan untuk berbicara.
Bibir Gaara kembali terkatup rapat saat pria itu perlahan terpaku pada wajah wanita di depannya, seolah-olah ingin menangkap setiap detail yang ada. Seluas senyum terukir samar setelah wanita itu berbicara. Ia memperhatikan setiap lekuk senyumannya. Selain senyumannya, Gaara tertarik oleh mata yang berkilau memancarkan kehangatan, mirip seperti birunya lautan.
Wanita itu terlalu menarik di mata Gaara, bahkan saat sebagian wajahnya tertutup oleh beberapa anak rambut yang tertiup oleh angin di sekitar mereka, itu tidak cukup untuk menghentikan Gaara mengagumi kecantikannya. Wajah wanita itu seakan-akan adalah sebuah lukisan yang indah dan memikat, membuat Gaara terhanyut dalam keindahan se-persekian detik. Setiap detik yang berlalu, ia semakin terpesona dan terperangkap dalam keindahan tak terlukiskan itu. Sekarang... mulut wanita itu mulai terbuka. Tampaknya Ino sedang berbicara, tetapi telinga Gaara tak menangkap gelombang suara apa pun.
Gaara hanyut dalam pikirannya sendiri. Bagaimana jika bibir wanita itu tidak lagi mengkurva sempurna membentuk senyuman? Bagaimana jika pipi mulus Ino ternodai oleh air matanya sendiri ketika ia menghancurkan kepercayaan wanita itu? Bagaimana jika... sorot manik seindah air laut itu berubah menjadi redup? Tak ada lagi kehangatan dan keceriaan di wajah wanita itu. Dan semua itu karena ulahnya. Bisakah wanita itu memaafkan semua dosanya?
"Gaara-kun?" panggil Ino sambil mengibaskan tangan kanannya tepat di depan wajah Gaara.
Gaara sedikit kaget, tampak dari kedua matanya yang sempat mengerjap cepat selama beberapa kali. Kesadarannya kembali ketika tangan mungil itu mengibas pelan di depan matanya.
"Aku tebak, pasti kau tidak mendengarkan perkataanku. Iya, 'kan?" Kalimat itu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, melainkan seperti aksi protes dari Ino karena wanita itu merasa diabaikan.
"Kau bilang apa?" tanya Gaara.
Ino mengerucutkan bibirnya tanpa sadar sebelum akhirnya ia mengulangi perkataannya tadi, "Apa arti maafmu itu? Aku, 'kan, bilang... aku akan mempercayaimu di saat orang lain menentangmu."
"Maaf, aku sedang tidak fokus hari ini, tapi terima kasih, Ino," balas Gaara.
Balasan yang kurang memuaskan bagi Ino. Namun, apa yang diharapkan dari seorang Gaara? Pria itu sendiri yang bilang jika ia tidak ahli dalam mengekspresikan perasaan, mirip seperti Sasuke. Ya, sebelas dua belaslah.
Gaara meraih tangan kanan Ino, lalu menariknya seiring dengan tubuh pria itu yang direndahkan ketika ia duduk di bangku kayu seperti sebelumnya. Mereka kembali duduk bersebelahan. Masih dengan posisi yang sama –menggenggam tangan lawan bicaranya– Gaara menatap Ino dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Mungkin aku akan menyakitimu. Saat itu terjadi, tolong marahlah kepadaku."
Gaara mengatakannya dengan pelan seperti sedang bergumam. Namun, karena di sana hanya ada mereka berdua, Ino bisa mendengarnya meski tidak terlalu keras.
"Oh, sudah ada niatan untuk menyakitiku?" tanya Ino dengan mata yang disipitkan.
Wanita itu menarik tangannya, berlagak sok marah setelah mendengar perkataan Gaara barusan.
"Barangkali sikapku akan membuatmu terluka. Manusia bisa tanpa sengaja menyakiti orang lain," kata Gaara.
Gaara sadar, bagaimana pun sikapnya besok, Ino akan tetap terluka ketika mengetahui fakta bahwa pernikahan ini awalnya dimulai karena urusan politik, bukan cinta. Kankurou pernah berkata, Gaara hanya perlu menutupi fakta itu dan mencintai Ino seperti yang seharusnya. Meskipun demikian, Gaara tidak bisa memastikan jika Ino tidak akan kecewa. Namun, mulai detik ini, Gaara bertekad untuk sebisa mungkin tidak melukai Ino. Wanita itu terlalu... baik untuk menerima semua ini.
"Kalau begitu mari bertekad untuk tidak saling melukai. Bagaimana?" tanya Ino sambil mengulurkan tangan kanannya dengan jari kelingking yang mengacung ke langit.
"Janji?" Ino semakin menyodorkan tangan kirinya ke arah Gaara.
"Janji," ucap Gaara seraya menautkan kelingkingnya ke milik Ino.
Jari kelingking mereka saling bertautan meskipun tak lama. Satu detik kemudian, Ino menarik kembali tangannya.
Mereka telah berjalan untuk tidak saling melukai. Jelas Ino menyanggupi itu karena ini adalah idenya, sementara Gaara terus bergumam di dalam hati. Aku tidak akan menyakitinya –batin Gaara.
"Berikan gambaranmu tadi, kita bisa mulai membangunnya, sama seperti design bangunan yang kau buat itu," kata Gaara.
Seketika matanya Ino berbinar-binar. Ia terpaku, tak mampu berkata apa-apa selain tersenyum lebar saat Gaara dengan mudah mengabulkan keinginannya. Dengan antusias, wanita itu merogoh saku kecil di rok panjangnya untuk mengambil kertas yang sudah mulai kusut.
"Aku pikir, aku ingin bekerja menjadi ahli botani dan sebagai medic-nin di sini. Bagaimana menurutmu?" tanya Ino sambil menyerahkan kertas itu kepada Gaara.
"Ya. Kalau pun satu hari kau sudah merasa tidak betah, kau bisa berhenti dan tinggal seharian di rumah," balas Gaara sambil kembali mengamati gambaran Ino.
Ino menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak! Jawabannya adalah tidak! Ino tidak betah jika ia harus tinggal seharian penuh di rumah, tanpa melakukan apa pun.
"Aku ingin menjadi wanita karier, sama seperti Temari-nee yang hebat dalam segala hal, 'kan?" tanya Ino sekaligus memuji kakak perempuan Gaara.
"Sekalipun kau sudah menjadi ibu?"
Pertanyaan Gaara yang mendadak itu membuat tubuh Ino seketika menegang. Topik pembicaraan Gaara sudah mengarah pada hal yang lebih serius. Ino hampir tidak bisa mengendalikan dirinya.
"I—Iya! Aku bisa melakukannya, kok!" kata Ino tanpa sadar nada bicaranya sedikit meninggi untuk menghilangkan gagapnya.
"Seperti?" tanya Gaara.
"Eh?! Seperti..." Ino mengernyit sebentar.
"Tentu bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk kalian, baru setelah itu aku pergi bekerja. Dan saat aku pulang, aku akan membereskan semua pekerjaan rumah yang belum sempat aku lakukan," sambung Ino.
Tanpa sadar bibir Gaara membentuk lengkungan tipis ke atas. Pria itu tersenyum mendengar penuturan Ino.
"Terlihat meyakinkan bukan? Sekarang kau. Jika kau bertanya seperti itu, apa kau juga sudah siap untuk itu?" Meskipun awalnya ragu, akhirnya Ino memberanikan diri untuk balik bertanya.
Gaara tidak langsung menjawabnya, tetapi ia terlihat mengernyitkan dahi. Tampak bingung dan ekspresinya mirip seperti anak kecil yang polos.
"J-Jadi a... yah?" Ucapan Ino menyiratkan keraguan.
Wanita itu terlihat menundukkan kepalanya saat ia berbicara. Sejujurnya ia ragu dan sedikit takut ketika mengajukan pertanyaan yang tampaknya sedikit lancang.
"Aku tidak tahu..."
Jawaban Gaara memaksa Ino mendongakkan kepalanya dengan spontan. Ia langsung menoleh kembali ke arah Gaara dengan alis yang mengernyit jelas.
"... Tapi aku akan berusaha menjadi ayah yang baik, sama seperti apa yang kau lakukan sebagai seorang ibu," lanjut Gaara.
Lanjutan perkataan Gaara terdengar cukup tulus untuk takaran seorang pria dingin dengan masa lalu yang kelam. Tanpa disadari, jantung Ino mulai berdegup kencang, ritmenya seakan mengikuti alunan perasaan yang meluap di dadanya. Pipinya perlahan merona merah, mencerminkan campuran perasaan terkejut dan malu yang menggelayuti dirinya. Dia berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan menundukkan kepala, tetapi senyuman kecil tetap tersungging di bibirnya.
Gaara terlihat seperti seorang pasangan yang sempurna. Tampan, mapan, dan pengertian. Ini lebih dari cukup seperti apa yang pernah Ino inginkan jauh hari sebelum ia melupakan yang namanya cinta.
Setelah obrolan mereka di rooftop, Gaara mengajak Ino turun. Pria itu ingin mengantarkan Ino pulang. Namun, saat mereka hampir sampai ke luar gedung, beberapa jounin dan para tetua yang menjadi petinggi desa lainnya mulai menghentikan mereka.
"Kazekage-sama, Ino-sama, kami akan segera mengurus pernikahan kalian. Beberapa hal telah kami siapkan, termasuk pakaian, menu, dan dekorasi. Semua akan beres dalam waktu 4 hari, termasuk undangan untuk petinggi Konoha, Iwagakure, Mizugakure, Kumogakure, dan Tetsu no Kuni," tutur salah seorang tetua utusan Takeo.
Ino membelalakkan kedua matanya dengan spontan.
"Waktu 4 hari tidak akan cukup untuk menjemput ibuku. Gaara-kun? Kita menikah tanpa dihadiri ibuku?" tanya Ino sambil mendongak untuk menatap Gaara.
Untuk sampai ke Suna, waktu tempuh yang dibutuhkan shinobi Konoha adalah 3 hari. Itu pun tanpa istirahat yang berlebihan atau mereka benar-benar fokus untuk tiba tepat waktu. Shinobi saja membutuhkan waktu 3 hari, maka ketika penduduk biasa akan bepergian ke Suna, mereka membutuhkan transportasi berupa kereta yang ditarik menggunakan kuda. Waktu yang dibutuhkan sekitar 5 hari untuk tiba di Suna.
"Ino-sama, hal seperti itu wajar terjadi. Pernikahan antardesa memang jarang dihadiri oleh orang tua mempelai. Kita hanya mengundang para petinggi desa dan penduduk asli saja," sela tetua itu sebelum Gaara berkesempatan untuk menjawab.
Siapa pun yang melihat wajah Ino sekarang ini, pasti mereka akan tahu jika wanita itu sedang kecewa dan kesal. Bibirnya melengkung ke bawah dan sedikit mengerucut. Matanya sedikit menyipit saat alisnya mengernyit.
"Ibuku masih bisa hadir jika pernikahan diundur satu minggu lagi," bantah Ino tak setuju dengan apa yang barusan dikatakan tetua itu.
"Jauh hari memang pernikahan ini telah diundur dari tanggal seharusnya karena beberapa alasan anda, Ino-sama. Selain itu, bukan anda yang memutuskan semuanya karena ini pernikahan pemimpin desa yang sangat penting. Undangan juga telah—"
"Oh, iya. Lupakan saja," potong Ino.
"Aku pulang sendiri, Kazekage-sama. Terima kasih atas tawarannya," sambung Ino sebelum wanita itu melengos pergi meninggalkan gedung kazekage.
Setelah kepergian Ino dari gedung itu, para tetua yang baru saja menyampaikan informasi itu terlihat memasang wajah tidak sukanya.
"Lihat sikap kurang ajarnya itu. Setelah pernikahan dilaksanakan, atur istri anda, Kazekage-sama. Jangan sampai wanita itu menjadi bumerang bagi desa ini," kata salah seorang tetua.
"Aku akan menyusulnya," ucap Gaara.
"Tidak, Kazekage-sama. Banyak tugas yang harus anda selesaikan mengingat pernikahan kalian tinggal beberapa hari saja. Jangan jadikan wanita itu sebagai penghambatmu!" tahan seorang tetua.
Baru saja Gaara ingin menyusul Ino, para tetua menahan pria itu. Ketika mulut Gaara ingin membantah, para tetua seolah mengetahui aksi pembangkangan itu.
"Kazekage-sama! Ingat, dia hanya alat untuk desa kita!" berang tetua yang menjadi utusan langsung Takeo.
"Semakin kau membantah, semakin banyak penderitaan yang dialami Hakuto. Takeo-sama masih memegang janji dengan anda. Dia tidak akan mengingkarinya," tuturnya lagi.
Meskipun Gaara tidak ingin menyakiti Ino, ia tetap tidak boleh egois. Masih ada kehidupan Hakuto dan Shigezane yang harus dipikirkan. Karena tidak ingin berdebat, Gaara memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
Sementara itu...
"Bagaimana bisa orang tua mempelai tidak hadir di pernikahan putrinya? Bukankah tidak masuk akal? Bagaimana, sih, jalan pikiran mereka?" gerutu Ino.
"Kazekage itu juga tidak menyusulku? Yang benar saja." Ino tak peduli jika saat ini orang-orang di desa itu memperhatikannya dengan tatapan aneh.
Di bawah langit sore yang perlahan mulai gelap, Ino menggerutu sambil sesekali mengentakkan kakinya di tanah penuh debu itu.
Crack!
"Aw!" pekik Ino saat dua buah telur ayam berhasil mengenainya.
Telur itu dilempar oleh salah seorang penduduk desa. Ia dengan sengaja melempar dua buah telur mentah ke arah Ino yang baru saja lewat. Satu mengenai puncak kepala Ino hingga mengotori rambutnya, dan yang satu lagi mengenai dahi hingga menetes mengotori sebagian wajah cantiknya.
"A-Apa-apaan ini?" Ino mengusap wajah bagian kirinya yang terkena pecahan telur.
"Kau tidak pantas menjadi istri seorang kazekage! Kembalikan Nona Hakuto!" teriak orang itu sambil bersiap melempari telur ke arah Ino.
Orang itu mengayunkan tangan kanan ke belakang sebelum akhirnya ia lemparkan kembali sebuah telur dengan Ino sebagai sasarannya.
Ino bersiap melindungi diri dengan menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya saat orang itu mulai melemparkan telur mentah ke arahnya. Tak lupa ia menutup matanya rapat-rapat, takut jika telur itu kembali mengenai wajahnya lagi.
Tiba-tiba suara 'sching!' terdengar tajam di udara. Dengan gerakan yang cepat dan presisi, sebuah katana terayun dengan gerakan yang sempurna. Bilah bajanya memantulkan sinar senja di langit yang mulai gelap saat benda itu berhasil memotong telur mentah hingga menimbulkan bunyi 'crack!' yang cukup jelas. Telur itu berhasil terbelah menjadi dua. Pecahan cangkang dan isi telur terlempar kedua arah berlawanan tanpa menyentuh wanita yang tadi menjadi target satu-satunya dari insiden itu.
Mendengar suara dan sedikit getaran di tanah akibat pergerakan itu, Ino lantas terkejut. Matanya membesar dan mulutnya terbuka sebab ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kau..." Ino tidak melanjutkan ucapannya.
Setelah berhasil memecahkan telur, tubuh itu bagai perisai hidup yang sengaja berdiri memunggungi Ino, seolah ia siap melindungi wanita itu dari segala ancaman –sekalipun hanya karena sebuah telur.
Tanpa harus melihat wajahnya pun, Ino tahu siapa orang yang baru saja menyelamatkannya dari lemparan telur ke sekian kalinya itu. Pria itu berpenampilan gelap. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam dengan ikat pinggang serta perban putih yang dibalut hingga lutut di kedua kakinya. Tampaknya penampilan itu belum lengkap, sebab pria itu seharusnya mengenakan jubah hitam di atas kemejanya. Akan tetapi, Ino baru ingat jika jubah milik pria itu masih terlipat rapi di atas ranjangnya.
"Sasuke-kun?"
Sulit rasanya untuk menghilangkan keterkejutannya itu. Di sisi lain Ino merasa terlindungi.
"Dia bahkan tidak melakukan apa pun yang menyakitimu," ucap Sasuke.
Perkataan itu ditujukan kepada orang yang menjadi tersangka dalam insiden itu. Melihat korbannya mendapatkan pembelaan oleh orang lain dengan aura mengintimidasi, si pelaku langsung berlari ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat. Sesaat setelahnya, Sasuke berbalik ke arah Ino dan mengamati penampilan wanita itu.
Tangan Sasuke terulur ke arah Ino, tujuannya adalah ke arah wajah wanita itu yang kotor karena pecahan telur.
Slap!
Dengan sebuah tepisan ringan, Ino berhasil menjauhkan tangan Sasuke dari wajahnya.
"Gomen ne, Sasuke-kun. Aku—"
Raut keterkejutan samar terlihat di wajah Sasuke. Namun, pria itu tidak protes sedikit pun dengan perlakuan tak menyenangkan yang dilakukan oleh Ino.
"Jaga dirimu."
Kalimat itu lagi. Sasuke telah mengatakannya berulang kali. Apa sebegitu khawatirnya ia terhadap hidup Ino? Ino yang mendengarnya hanya bisa mengernyit sambil berusaha mencerna kalimat itu.
"Begitupun denganmu, Sasuke-kun. Terima kasih telah menyelamatkanku untuk kesekian kalinya. Untuk selanjutnya aku akan lebih hati-hati dan tidak ceroboh seperti ini," ucap Ino.
Kali ini Ino tak berani melihat lawan bicaranya. Ia memilih untuk melirik ke samping daripada harus bertemu pandang dengan Sasuke.
"Tinggal menambahkan tepung, aku bisa menjadi kue," canda Ino.
Untuk mengurangi kecanggungan antara keduanya, Ino tertawa pelan begitu ia selesai melontarkan candaannya. Ino tak mengharapkan Sasuke akan ikut tertawa dengannya. Dan benar saja pria itu hanya diam, tetapi tanpa Ino sadari, seulas senyum terukir di wajah tampannya.
"Sepertinya aku harus segera pulang. Sampai bertemu lagi," kata Ino.
Kali ini Ino memberanikan diri untuk menatap Sasuke sebelum ia pergi meninggalkan pria itu. Meskipun awalnya ragu, Ino tetap melambaikan tangannya sebentar sebelum berbalik dan meninggalkan Sasuke.
Tidak ada yang harus dilakukan Ino. Ia rasa keputusannya sudah tepat. Ia telah memilih Gaara dan memutuskan untuk melupakan Sasuke sebagai cinta pertamanya. Ia tak perlu memberikan kesempatan untuk Sasuke jika ia tak ingin menyesali pilihannya.
Berulang kali ino membatin sepanjang perjalanan, 'Pilihanku tak akan salah dan aku tak akan menyesalinya.' Gaara adalah masa depannya, dan Ino benar-benar akan melupakan seorang Uchiha terakhir itu.
Saat ino semakin jauh darinya, Sasuke hanya bisa menatap punggung wanita itu. Rambut panjangnya tampak menari-nari seiring dengan langkah kakinya yang begitu cepat, sepertinya wanita itu ingin segera pergi dari hadapan Sasuke. Sesekali Sasuke melihat tangan wanita itu berusaha menyingkirkan sisa-sisa telur yang menempel kuat di rambut panjangnya. Sasuke tak pernah merasa kasihan sedikit pun kepada orang lain. Namun, saat melihat Ino tidak dihargai di desa gersang itu, Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk terus mengawasi dan… melindungi wanita itu.
"I'll keep an eye on you."
Itu menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Sasuke sebelum akhirnya pria itu menghilang dalam sekejap dari tempatnya berdiri.
Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ino tak pernah melewatkan jam tidur teraturnya, tetapi malam ini ia sengaja mengabaikannya. Wanita itu sedang duduk di window seat yang ada di kamarnya. Ia memeluk lututnya erat-erat, sementara matanya yang tenang menatap ke luar untuk melihat pemandangan malam hari yang penuh misteri di Desa yang Tersembunyi di balik Pasir itu.
Langit malam ini terlihat seperti malam-malam biasanya. Bulan purnama menggantung tinggi di langit, memancarkan cahaya perak yang menutupi lautan pasir dengan kilauan mistis. Bintang-bintang bertebaran di langit malam, membentuk pola-pola yang mempesona di antara kelamnya langit di desa itu. Di kejauhan, siluet bukit pasir tampak seperti gelombang yang membeku di tengah lautan. Tidak ada suara selain desiran angin dan sesekali deru halus pasir yang tertiup.
Wajahnya yang halus dan penuh ekspresi memancarkan raut kekhawatiran yang samar, seolah-olah terdapat beban yang cukup berat untuk dipikulnya sendiri. Bibirnya yang tipis terkatup rapat, mencerminkan pemikiran yang dalam dan serius. Ia menyandarkan kepalanya pada bingkai jendela, alisnya sedikit berkerut menunjukkan keraguan yang mendalam. Matanya yang berkilau seakan menelusuri bayangan di kejauhan, mencari jawaban yang belum jelas akan masa depannya yang tampak seperti kabut tebal, samar dan tak terduga. Ia diam, tetapi pikirannya penuh dengan banyak pertanyaan.
'Bagaimana hidupku ke depannya?'
'Apa keputusanku ini benar?'
'Mengapa terasa sulit untuk mempercayainya?'
'Dia terlihat misterius dan sulit ditebak meski terkadang dia cukup membuatku nyaman.'
'Aku telah jatuh kepadanya. Bagaimana dengannya?'
'Lalu… siapa Hakuto? Pria misterius itu dan penyerangku?'
Ino semakin mengeratkan pelukan pada kedua lututnya. Pikirannya kembali melayang jauh saat ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak terucap itu. Baru beberapa saat ia menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, wanita itu dikejutkan dengan suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Ketukan itu sangat pelan dan lembut, tetapi Ino masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku pulang."
Kepala Ino kembali tegak saat ia mendengar suara yang tak pernah ia sangka akan ia dengar setelah apa yang terjadi hari ini. Suara itu lembut, tetapi jelas, dan membawa getaran emosi yang tak dapat ia artikan. Ia berdiri dengan cepat, tetapi tak berani meninggalkan tempatnya semula. Ia tak percaya… Gaara akan datang untuk menemuinya.
Pria itu… telah pulang.
"Aku tahu, kau belum tidur," ucapnya dengan suara yang rendah.
Ucapan itu memaksa Ino untuk melangkah mendekati pintu kamarnya. Sebelum ia membuka pintu itu, terlebih dulu ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dan begitu pintu itu terbuka, Ino melihat sosok Gaara sedang berdiri di hadapannya, masih dengan setelan yang sama. Pria itu terlihat sedikit gelisah jika ino boleh menerka.
Kedatangan Gaara bukan tanpa alasan. Sesaat setelah para tetua memaksanya untuk menyelesaikan tugas, pria itu benar-benar bergelut dengan setumpukan kertas berisi laporan dan surat resmi dari berbagai desa. Tujuannya hanya satu, yaitu menyelesaikan pekerjaannya lalu membicarakan perdebatan kecilnya bersama Ino sebelum wanita itu salah paham. Entah mengapa, akhir-akhir ini Ino menjadi prioritasnya. Gaara sendiri tak tahu apa yang terjadi dengannya. Namun, pikirannya tak pernah berhenti memikirkan Ino.
Beberapa saat yang lalu….
Secara mendadak pintu ruangannya terbuka. Rupanya itu ulah kedua saudara Gaara yang masuk tanpa harus meminta izin seperti yang biasa mereka lakukan. Kankurou langsung melengos meninggalkan Temari untuk duduk di satu-satunya kursi panjang di ruangan itu.
"Si Uchiha terakhir itu tidak pernah menyerah. Tekadnya terlalu kuat untuk terus mengikuti dan menemui Si Yamanaka. Perempuan itu benar-benar telah dicintai padahal posisinya sekarang adalah calon istri pemimpin Suna. Aku akui, dia cukup gentle dan bernyali tinggi," cerocos Kankurou sambil menyandarkan punggungnya di kursi panjang itu.
"Ino memang populer di desanya. Itu tak membuatku heran," timpal Temari yang tadi mengekori Kankurou.
"Apa nama julukannya? Aku dengar dia punya julukan. Tiba-tiba aku tak ingat," tanya Kankurou.
Meskipun Gaara tidak sedikit pun mengalihkan pandangan dari kertas-kertasnya, pria itu diam-diam ikut menyimak obrolan kedua saudaranya. Fokus Gaara bahkan sudah buyar sejak nama Uchiha disebut oleh Kankurou. Ia semakin ingin tahu ketika cerita Si Uchiha itu berhubungan dengan Ino.
"Konoha's Beauty," jawab Temari singkat sambil meletakkan tumpukan kertas yang lain di atas meja Gaara.
"Ya, itu dia! Apa jadinya jika dia memilih Sasuke Uchiha? Mereka tampak serasi dan aku rasa Ino masih tertarik dengannya," ujar Kankurou lagi.
Kankurou tak benar-benar tertarik dengan Ino ataupun Sasuke. Semua ia lakukan untuk mengompori Gaara karena tugasnya adalah melancarkan rencana pernikahan politik itu. diam-diam Kankurou mencuri kesempatan untuk melirik ke arah Gaara yang masih terfokus pada laporan-laporannya. Namun, dari penglihatannya, ia bisa melihat perubahan ekspresi Gaara yang datar menjadi sedikit risau.
"Entahlah," balas Temari acuh.
Berbeda dengan Kankurou, Temari sengaja memperhatikan Gaara. Seperti yang dilihat Kankurou, Temari dapat menangkap raut kecemasan yang ditandai dengan dahi Gaara yang sedikit mengernyit.
"Gaara, kau tidak khawatir?" tanya Kankurou.
Tak ada jawaban dari Gaara. Pria bertato 'Ai' itu masih merendahkan pandangannya pada tumpukan kertas di hadapannya.
"Aku memiliki saran untukmu, Gaara," timpal Temari.
Tangan Gaara yang semula menari-nari di atas kertas putih itu seketika terdiam. Ia melupakan pena bulunya dan beralih memperhatikan kakak tertuanya itu.
"Katakan," ucapnya.
Temari mengatakan sarannya kepada Gaara, dan adik bungsunya itu mendengarkannya dengan serius. Kata terakhir baru saja diucapkan Temari, seketika itu juga Gaara langsung bangun dari kursinya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu meninggalkan kedua saudaranya.
Saat melihat reaksi Gaara, Kakurou tanpa sadar membuka mulutnya hingga membentuk huruf 'O' karena saking terkejutnya.
"Serius? Dia benar-benar telah jatuh cinta dengan wanita itu?" tanya Kankurou tak percaya.
Temari sempat tersenyum sebelum Gaara meninggalkan ruangan itu.
"Tampaknya begitu, tapi dia masih menyangkalnya," balas Temari.
"Gaara orang yang lugu, tetapi tidak bisa dibilang terlalu lugu karena dia orang pertama di antara kita bertiga yang pernah tidur dengan orang lain," celetuk ahli kugutsu itu.
Temari sempat mendengus dan memilih untuk mengambaikan perkataan Kankurou. Kalau ditanggapi, obrolan mereka tak akan pernah usai.
Itulah yang terjadi beberapa saat lalu sebelum Gaara memutuskan untuk cepat pulang meskipun laporannya belum selesai sepenuhnya.
Dan disinilah Gaara sekarang, berdiri di depan pintu kamar Ino sambil memandangi wajah wanita itu dengan teliti. Gaara melihat rambut Ino masih setengah basar, sepertinya Ino baru saja keramas. Tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dari Ino, Gaara memutuskan untuk melangkah maju dan saat itulah ino mulai menggeser tubuhnya. Wanita itu memberi ruang yang cukup bagi Gaara untuk masuk ke kamar itu.
Saat melihat Gaara semakin masuk ke kamarnya, Ino memutuskan untuk mengekori pria itu. Ia berhenti sesaat setelah Gaara tak lagi melangkah. Pria itu langsung berbalik dan kini keduanya kembali berpandangan.
"Maaf aku telah membuatmu kecewa. Para tetua—"
Ino buru-buru mengibaskan kedua tangannya sebagai isyarat jika ia tidak setuju dengan ucapan Gaara. Meskipun Ino kecewa, entah kenapa wanita itu tidak bisa membiarkan Gaara meminta maaf atas kesalahan orang lain. Sebagai salah satu kunoichi yang sering berurusan dengan politik, Ino tahu bagaimana para daimyou begitu egois dengan keputusan mereka dan mengabaikan bahwa kage memiliki hak atas hidupnya. Daimyou tetaplah daimyou yang bertindak semena-mena di berbagai situasi. Tak heran jika para orang tua itu dibenci oleh segelintir orang.
"Aku sedang mencoba memahami semua ini, Kazekage-sama," sela Ino sambil memaksakan senyumannya yang kemudian terlihat kaku di mata Gaara –bukan seperti senyuman Ino yang biasanya.
Gaara mulai mengerti dengan kebiasaan baru Ino. Setiap kali Ino memanggilnya dengan sebutan kazekage, artinya wanita itu sedang kesal, marah, atau kecewa.
"Mungkin aku akan menjemput ibuku setelah acara pernikahan selesai. Aku—eh?"
Belum sempat Ino menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Gaara mencondongkan tubuh ke arahnya. Ino sedikit terperanjat. Wanita itu ingin menghindar, tetapi Gaara lebih dulu menahan tangan kirinya. Tak hanya sekedar menahan, tetapi pria itu juga berusaha menyejajarkan tangan Ino tepat di dadanya.
Meskipun Ino terkejut, wanita itu tidak menolaknya. Ia membiarkan Gaara 'mencuri' tangannya sebentar.
"G—Gaara?!" Ino hampir memekik dengan suara melengking saat ia merasakan sesuatu melingkari di jari manis tangan kirinya.
Tangan kasar Gaara yang biasanya penuh dengan pasir kini dengan lembut berhasil menyematkan cincin di jari manis Ino dengan presisi yang menunjukkan bahwa Gaara telah memikirkan hal ini dengan sangat serius.
Saat Gaara melakukannya, mata pria itu tidak beranjak sedikit pun dari wajah Ino. Bibirnya yang tegang mulai sedikit terangkat, menggambarkan senyum samar di wajahnya yang sering kali menunjukkan keseriusan. Kemudian, dengan suara yang rendah Gaara berkata, "Hadiah untukmu."
Gaara tidak pernah pandai menyampaikan perasaannya dengan kata-kata yang panjang, tetapi cincin itu seolah mewakili komitmen dan keseriusan Gaara yang Ino rasakan untuknya.
"Untuk pernikahan kita," lanjut pria bermata turquoise itu.
Kini cincin itu terpasang dengan sempurna di jari manis Ino. Ia memandang cincin itu dengan mata yang terbelalak, tidak percaya bahwa Gaara tahu ukuran cincin untuk jari manisnya.
"Gaara, b-bagaimana?" Ino terbata-bata, mencoba mencerna tindakan Gaara yang tak terduga itu.
Cincin itu terbuat dari platinum putih yang halus dan bersinar berkilauan di bawah cahaya lampu dengan sebuah batu aquamarine kecil yang berkilauan di tengahnya. Desainnya sederhana tetapi elegan, sesuai dengan selera Gaara yang tidak suka berlebihan. Meskipun sederhana, cincin itu tetap menunjukkan keindahan lewat batu aquamarine yang mampu mengingatkan akan warna mata Ino bagi siapa saja yang melihatnya. Sementara itu, sentuhan personal Gaara diyakini terlihat dari ukuran cincin yang sempurna dan pemilihan bahan yang sangat teliti. Pada bagian luar –sepanjang cincin itu melingkar– terdapat ukiran lembut berbentuk bunga primrose gurun yang membingkai. Jika cincin itu nanti dilepas, pada sisi bagian dalam terdapat dua inisial, 'G' dan 'I', yang terukir dengan gaya kaligrafi kuno, sebagai tanda ikatan abadi antara Gaara dan Ino. Inisial ini diapit oleh dua hati kecil yang saling terkait, yang diyakini sebagai tanda cinta dan penghargaan satu sama lain. Perpaduan yang menakjubkan bukan?
Mata Ino mulai berkaca-kaca. Ia tidak pernah berharap bahwa Gaara akan melakukan sesuatu seperti ini. Hal lain yang membuatnya terharu adalah Gaara bahkan tahu ukuran cincin yang pas untuknya padahal mereka tak pernah merencanakan ini semua. Itu menunjukkan bahwa Gaara telah memperhatikan hal-hal kecil tentangnya yang tidak pernah ia ungkapkan.
"Kau tidak suka?" tanya Gaara saat ia melihat Ino menangis hingga suara sesenggukannya terdengar.
-to be continued-
Happy Sweet Tuesday! Seperti biasa, aku terlalu larut saat menulis TwT. Kalau sudah mulai bosan dengan tulisanku, aku tidak keberatan jika kalian berhenti membaca. Aku terlalu gila detail, jadi tanpa sadar alurnya menjadi lambat. Janji, besok enggak lagi! Maaf, ya! Sebagai permintaan maaf, chapter kali ini lebih panjang dari biasanya. Tapi aku masih berharap kalian menyukai cerita ini. Terima kasih dan happy reading!
~Sesi ngobrol~
Evil Smirk of the Black Swan: Yup, begitulah. Suami memang harus pasang badan kalau istrinya dalam bahaya, 'kan? Tuh, sebel, 'kan? Aku juga sebel sama Takeo! Janji deh, besok nikah xD Maaf ya, mohon jangan kecewa karena chapter ini masih belum sah.
See you next chapter~
