Bab 2: Ketua OSIS Paling Populer
"Sekali ini saja Sasuke, Ibu mohon. Setidaknya bertahanlah di sekolah yang ini sampai lulus SMA."
Itu adalah permintaan dari Mikoto Uchiha sebelum mereka pindah dari Kyoto ke Tokyo. SMA yang terakhir sudah sepenuhnya angkat tangan saat Sasuke menghajar adik kelasnya sampai babak belur. Demi tidak memperpanjang masalah, selain mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan dan rehabilitasi si korban, akhirnya Fugaku memutuskan mereka lebih baik pindah ke Tokyo untuk memulai awal yang baru.
Lagipula, sudah saatnya membiarkan Itachi yang mengelola Perusahaan Farmasi secara mandiri. Meskipun dia telah menjadi CEO, tapi terkadang Fugaku masih suka membantu dan kali ini dia akan benar-benar menikmati masa pensiunnya. Akhirnya, setelah pendapat Sasuke tidak ditanya sama sekali, mereka memutuskan untuk pindah ke Tokyo. Mikoto memiliki seorang kenalan yang tinggal di sebuah kompleks Perumahan Elite di Tokyo, sehingga tidak begitu sulit mencari tempat tinggal.
Mikoto juga berkonsultasi pada temannya dan direkomendasikan memasukkan Sasuke ke sebuah SMA Internasional di Tokyo Barat. Sasuke hanya mendengus dalam hati. Toh dia juga hanya akan bertahan selama 1 minggu di sekolah mahal itu sebelum Kepala Sekolah memutuskan untuk mendepaknya. Sasuke tidak merasa antusias sama sekali dengan hal ini. Sejujurnya, dia juga sudah menyerah soal SMA. Dia tetap akan dapat uang dan dapat hidup bahkan tanpa bekerja sekalipun. Jadi, kenapa dia harus bersusah payah seperti anak-anak lain?
Rumah yang mereka tempati di Tokyo sedikit lebih kecil dari rumah di Kyoto, tetapi arsitekturnya bergaya sangat modern dan sangat kekinian. Membutuhkan 2 truk jasa pindahan untuk membawa barang-barang penting dari Kyoto. Tidak semuanya dibawa, karena rumah di Kyoto akan ditempati oleh Itachi seorang diri. Benar, kakaknya akan menguasai seluruh properti di Kyoto hanya karena dia lebih tua, lebih hebat dan seorang CEO serta kebanggan orangtua. Sasuke tidak ada apa-apanya. Dia hanya tukang bikin onar dan hobi menghabiskan uang orangtuanya.
SMA Internasional Konohagakure, itulah nama sekolah tempat Sasuke akan bersekolah, untuk beberapa hari sampai dia di keluarkan dari sekolah. Sasuke sempat melihatnya sekilas ketika sedang dalam perjalanan ke rumah barunya. Tampilannya sangat mewah dan megah. Gerbangnya berwarna hitam yang tampaknya baru selesai dicat. Pepohonan yang tumbuh di sekitar jalannya begitu cantik dengan daun-daun kuning dan merah yang mulai berguguran di akhir bulan September.
"Ibu dengar SMA ini sedang mengadakan Festival Budaya," kata Mikoto sambil menatap putranya. Sasuke sama sekali tidak menampilkan eskpresi tertarik ataupun merespon ucapan Mikoto. "Festivalnya diadakan selama 3 hari. Mungkin besok kita bisa coba lihat-lihat Festival," ajaknya.
Sasuke mengeluh. Hal-hal merepotkan seperti itu hanya membuang waktu. Dia sama sekali tidak tertarik untuk pergi ke sekolah, apalagi ini adalah sekolah Internasional. Sasuke sudah bisa menebak tipe-tipe murid yang bersekolah di sini.
"Tidak perlu, aku tidak tertarik," jawabnya singkat.
"Jangan membantah Ibumu, Sasuke," ujar Fugaku. Dia melirik putranya dengan tajam. Iris mata mereka serupa, tapi kilatan di matanya berbahaya. "Kau ke sini untuk bersekolah. Apa salahnya melihat-lihat kondisi sekolah barumu?" tanyanya dingin.
Sasuke tidak mau membantah Ayahnya. Semua yang keluar dari mulutnya akan dicap salah oleh Sang Ayah, jadi untuk apa bicara.
"Kita akan memulai awal baru di sini, oke? Besok pagi kita akan berangkat untuk melihat Festival Budaya," kata Mikoto final. Sasuke kalah telak. Sisa perjalanan di mobil dihabiskan oleh kesunyian yang pekat dan Sasuke memutuskan untuk memasang earphone dan menyetel lagu di Blackberry-nya.
.
Jika Festival Budaya di SMA Konohagakure ini bisa mendapat nominasi, Sasuke bisa memastikan bahwa itu adalah Festival termewah dan terheboh yang pernah ada. Booth-booth didirikan di sepanjang jalan masuk. Berbagai ornament dan atribut di pasang dengan meriah. Para warga datang sambil membawa keluarga mereka.
Ini sudah level Festival di Kuil saat Tahun Baru, batin Sasuke.
Siang itu Sasuke berhasil diseret oleh Mikoto untuk pergi melihat SMA Konohagakure. Persis seperti kemarin saat Sasuke lewat, SMA itu mewah. Gedungnya besar-besar dan luas. Terdapat berbagai lapangan untuk jenis kegiatan eskul dan olahraga yang berbeda. Siswa-siswi yang bersekolah juga banyak ras campuran, sehingga keberagaman sangat terasa di sini.
"Ayo," ajak Mikoto antusias. Sasuke berjalan di sebelah Ibunya. Para penjual di booth berusaha menarik para pelanggan dengan jenis jualan yang berbeda-beda. Ada yang menjual makanan, minuman, kerajinan tangan, sampai brosur pertukaran pelajar ke Cambridge selama 2 bulan. Festival ini tidak main-main. Levelnya sudah setara dengan nasional.
Seumur-umur Sasuke berpindah-pindah sekolah, baru kali ini dia mendapati Festival Budaya seramai ini dengan target pasar yang melampaui ekspektasi. Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk persiapan Festival ini? Berapa banyak biaya yang habis? Bagaimana tebalnya proposal yang harus diajukan? Siapapun otak di balik penyelenggara Festival ini adalah orang yang penuh perhitungan. Sasuke yakin bahwa Festival sebesar ini tidak hanya direncanakan sebatal satu atau dua bulan. Pasti makan waktu yang lama dan rapat yang berlarut-larut.
Untuk kegigihannya, layak diberikan tepuk tangan.
"Katanya hari ini adalah hari terakhir," ujar Mikoto. Saat 2 detik tidak memandang Ibunya, Mikoto sudah memegang sebuah minuman dingin dan makanan ringan. "Mau?" tanya Mikoto. Sasuke menggeleng. Ibunya malah tampak lebih menikmsti Festival ini daripada Sasuke. Dia bahkan sudah mau pulang.
"Coba kita lihat jadwal hari ini," kata Mikoto sambil membuka brosur yang tadi diberikan di gerbang depan oleh salah satu panitia. "Wah, mereka mementaskan drama Les Miresables di sini. Sasuke, ayo kita lihat."
"Bu, itu masih jam 4 sore nanti. Ini masih jam 2 siang," kata Sasuke.
"Ya sudah, coba kita lihat-lihat booth yang lain," ajak Mikoto. Sasuke mengikutinya lagi. Mereka terus berjalan sampai semua booth makanan dan minuman telah dicoba. Perut Sasuke sampai nyeri karena dia menghabiskan semua sisa-sisa makanan dan minuman yang tidak habis dimakan oleh Mikoto.
Mereka sekarang sudah berada di belakang gedung sekolah. Di belakang, banyak para orang-orang dengan berbagai macam kostum sedang hilir mudik. Dari bentukan kostumnya, mungkin mereka yang akan mementaskan drama Les Miresables.
"Kau juga, Ketua OSIS."
Sasuke beralih ke sebuah suara yang sayup-sayup dia dengar. Seorang perempuan blasteran dengan rambut pirang panjang sedang bicara dengan lelaki yang juga tampaknya blasteran. Perempuan itu memakai gaun abad ke-18 dan wajahnya elok dan dihiasi make up tipis yang natural. Mereka saling melambai sebelum lelaki itu berbalik.
Lelaki itu memakai pakaian seragam seperti biasanya. Kemeja putih dan celana hitam dengan ikat pinggang dan sepatu kets hitam. Rambutnya berwarna pirang acak-acakan dan kulitnya berwarna sawo matang, entah itu benar warna kulitnya atau hanya karena terlalu sering terkena sinar matahari. Dia tersenyum cerah ketika bicara dengan perempuan blasteran itu, tapi yang membuat Sasuke tidak bisa berhenti menatapnya adalah tatapannya.
Tatapannya ketika dia bicara dengan perempuan blasteran itu begitu bersinar dan bersemangat. Ada sinar ramah yang terpancar dari kedua matanya dan gestur tubuhnya. Namun, setelah dia berbalik, tatapan mata itu berubah. Mata itu menjadi lebih dingin dan tajam. Senyum masih terpatri di wajahnya karena banyak orang yang berusaha menyapanya, tapi sinar di matanya untuk sejekab saja, sedingin es. Apakah Sasuke bermimpi?
"Sasuke, ayo kita lihat pertandingan tennis dulu," kata Ibunya, memecah lamunan Sasuke. Ketika dia berpaling lagi, lelaki itu telah menghilang. Sasuke mengikuti Ibunya.
Ketua OSIS ya, batinnya. Mungkin sekolah ini bisa menarik perhatian Sasuke sedikit.
Setelah menonton pertandingan tennis sekitar 15 menit, Mikoto menyerah. "Apa kau sudah bosan? Mau pulang?" tanyanya.
Kalau tadi Mikoto bertanya sebelum Sasuke bertemu dengan pemuda misterius dengan tatapan sedingin es, dia akan langsung mengiyakan. Namun, dia menjadi penasaran dengan orang yang dipanggil Ketua OSIS ini. Dia menatap kembali jadwal dari brosur yang tadi dipegang Mikoto. Jam 4 sore adalah pertunjukan Les Miserables selama 1 jam yang dibagi menjadi 6 babak. Setelah itu jam 6 sore akan ada penutupan Festival Budaya secara resmi. Yang memberi pidato adalah Kepala Sekolah dan Ketua OSIS.
Entah mengapa, Sasuke mau melihat pemuda itu lebih lama lagi.
"Aku masih mau di sini," kata Sasuke. Mikoto menatapnya tidak percaya, lalu tatapan itu beralih menjadi senyuman yang sumringah.
"Begitu ya. Kau sudah mulai tidak sabar untuk sekolah di sini. Bagus, bagus." Mikoto mengusap punggung Sasuke sayang.
Sasuke ingin menyangkal bahwa itu bukan alasan dia tetap tinggal. Namun, dia tidak mengatakan apapun. Jika itu bisa membuat Ibunya berhenti mengganggunya, maka Sasuke diam saja. Mikoto memeluk Sasuke singkat sebelum akhirnya dia pergi duluan. Sasuke melihat jam, sudah jam 3.40 sore, dan artinya pertunjukan drama sebentar lagi.
Sasuke berpikir bahwa pemuda itu pasti akan menonton drama. Itu adalah pertunjukan bergengsi, akhirnya Sasuke berjalan lagi ke gedung tempat pertunjukan itu dimulai. Namanya, Aula Pertemuan. Sudah banyak orang yang mengantre untuk masuk dan membeli tiket. Para siswa, guru bahkan warga biasa. Sasuke mengeluarkan sejumlah uang dan dia diberikan tiket. Lalu, dia masuk ke Aula Pertemuan.
Gedung itu besar dengan tempat duduk berundak-undak. Mungkin bisa menampung sekitar 500 orang dengan panggung besar di depan. AC dinyalakan dan udara dingin menerpa Sasuke. Sasuke duduk di kursi yang sedikit tinggi. Kursi yang dekat panggung diberikan khusus untuk staff sekolah, seperti para guru dan kepala sekolah. Satu per satu orang mulai berdatangan dan duduk di tempat mereka.
Rupanya, Klub Drama yang akan melakukan pementasan sangat terkenal. Ketua Klub Drama, Ino Yamanaka, sudah menang beberapa kali penghargaan untuk Kategori Penulis Naskah Pemula. Klub Drama ini juga sudah sering pentas di acara-acara besar. Itu semua Sasuke dengar dari bisik-bisik dan cekikikan para siswa. Mereka sangat ingin melihat acting dan hasil naskah dari seorang Ino Yamanaka.
"Haruno, Uzumaki, di sini!"
Seseorang di depan Sasuke melambai kepada dua orang yang baru datang.
"Terima kasih!" ujar yang laki-laki. Sadarlah Sasuke bahwa itu adalah pemuda yang dilihatnya tadi, secara sekilas. Dia menggenggam tangan seorang gadis kecil berambut merah muda atau merah, Sasuke tidak bisa membedakannya di bawah lampu yang remang-remang. Namun, rambut pirang itu dapat Sasuke kenali begitu saja.
"Maaf merepotkan," kata yang perempuan. Yang lucu, mereka benar-benar duduk di depan Sasuke. Tak lama, tirai panggung mulai terbuka dan pementasan dimulai.
Les Miserables adalah drama Perancis paling terkenal tentang Revolusi Prancis. Drama itu telah di-remake berkali-kali dari berbagai negara. Dari mulai drama hingga drama musical, dari berbagai macam artis dari berbagai negara pernah terlibat dalam drama tersebut.
Sebenarnya drama tersebut sangat indah dan menggugah hati. Acting dari Ino Yamanaka, si gadis blasteran, sangat memukau. Begitu pula pemilihan kalimat-kalimat dari setiap pemeran. Suara mereka jernih dan bergema. Tidak akan ada yang menyadari bahwa naskah ini ditulis oleh seorang gadis 18 tahun, bukannya penulis naskah.
Namun, Sasuke lebih tertarik dengan pemuda yang duduk di depannya. Pemuda itu berekspresi ramah. Dia berbicara dengan semangat dengan gadis yang disampingnya, yang Sasuke yakini adalah kekasihnya. Mereka berbicara dengan nada rendah sepanjang pementasan dan Sasuke memperhatikan ekspresi pemuda itu baik-baik. Tidak ada tatapan sedingin es, tidak ada eskpresi kaku seperti mayat atau senyum yang dipaksakan. Hanya ada eskpresi super ramah dan riang. Pipinya berkerut saat tersenyum.
Apakah eskpresi yang Sasuke lihat tadi hanya imajinasinya?
Pementasan telah berakhir dan tepuk tangan memecah belah kesunyian. Banyak juga yang memberikan standing ovation. Setelah 10 menit kebisingan tepuk tangan mulai mereda. Satu per satu orang mulai keluar dari Aula Pertemuan. Sasuke masih bergeming. Begitu pula pemuda berambut pirang itu, masih bergeming. Teman-temannya mulai keluar satu per satu, termasuk gadis manis yang merupakan pacarnya.
Mereka melambai padanya sebelum keluar. Sampai… tersisa beberapa orang di dalam Aula tersebut. Pemuda itu jelas tidak melihat Sasuke atau pun mengetahui keberadaannya. Sasuke diam di tempatnya. Awalnya tidak terjadi apapun, tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan. Tidak ada tatapan sedingin es atau pun tanda-tanda bahwa dia adalah orang yang berbeda. Sasuke hampir merasa bosan sebelum pemuda itu menghela napas kasar.
"Masih ada Pidato Penutupan dan After-party. Merepotkan. Kenapa dulu aku bersemangat membuat Festival ini ya?"
Nada suaranya kasar dan beraksen. Sasuke tidak berani bergerak dari tempatnya, takut si pemuda itu menyadari kehadiran Sasuke. Lalu, dia mengacak-acak rambutnya dan bangkit berdiri. Sasuke kira dia akan berbalik, tapi dia malah berjalan ke depan, menuju panggung dan menghilang di baliknya.
Sasuke kini sendirian. Ternyata itu bukan mimpi atau imajinasinya. Pemuda itu menjadi orang yang berubah ketika dia mengira tidak ada yang melihatnya. Nada bicaranya berubah, ekspresinya berubah, gerak tubuhnya juga berubah. Seolah dia melepas sejenak topengnya untuk menarik napas lalu kembali memasangnya untuk menghadapi dunia.
Jika Sasuke ada di sekolah ini, pasti dia akan mengetahui tentang Ketua OSIS ini. Tentang pemuda yang memiliki dua sifat yang sangat berbeda. Tentang pemuda yang menyembunyikan dirinya di sebuah topeng sempurna.
Mungkin sekolah ini tidak begitu buruk.
.
"Sasuke, ayo bangun! Ini hari pertama sekolah!" ujar Mikoto sambil mengguncangkan tubuh Sasuke. "Ibu sudah menyiapkan sarapan dan Ibu akan mengantarmu ke sekolah hari ini. Kita harus bertemu Kepala Sekolah."
Sasuke mengerang sambil bangun. Dia mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Satu hal yang tidak dia sukai dari sekolah adalah keharusan bangun pagi. Tapi tidak apa, setelah ini Sasuke bisa bolos dan pergi ke Game Center sampai sore. Jadi, beberapa jam mengantuk bisa ditahannya.
Mikoto sudah menyiapkan seragam baru Sasuke sebelum dia turun ke bawah. Sasuke ke kamar mandi, mencuci wajah dan menggosok gigi sebelum dia mengambil seragam itu dan memakainya dengan malas.
"Sarapanmu," kata Mikoto sambil menyodorkan beberapa potong roti dan segelas susu. Sasuke mendengus. Dia bukan anak kecil lagi yang harus minum susu setiap pagi. Jadi, dia mengambil roti, memakannya, dan beralih ke mesin pembuat kopi untuk meminum kopi.
"Sasuke, susunya," kata Mikoto.
"Kapan terakhir aku minum susu?" Mikoto terdiam. "Benar sekali."
Mereka menaiki mobil yang disetir oleh sopir dan menuju SMA Konohagakure. Sisa-sisa kemewahan dari Festival Budaya 1 minggu yang lalu sudah tidak ada. SMA ini sekarang selayaknya SMA Intenasional seperti biasa.
"Ayo," kata Mikoto. Sasuke mengikutinya.
Mereka ke gedung yang bangunannya tampak seperti perkantoran. Kantor Kepala Sekolah berada di lantai 4. Kantornya terlalu mewah untuk seorang Kepala Sekolah. Sasuke bersumpah bahwa interiornya lebih bagus daripada kantor Itachi di Kyoto.
"Selamat datang Nyonya Uchiha dan Uchiha Sasuke-kun," sambut Kepala Sekolah yang bernama Tsunade Senju. Dia seorang wanita cantik berambut pirang, wajah blasteran dan dada yang besar. Aksen Jepangnya lucu dan dia bicara dengan campuran bahasa inggris.
"Terima kasih telah menerima kami, Senju-sensei," ujar Mikoto.
Mereka duduk di sofa tamu.
"Uchiha-kun, sudah siap bersekolah? Aku meminta tolong kepada seorang siswa untuk membantumu melewati minggu-minggu pertama di sekolah ini. Semoga kalian bisa berteman baik," ujar Tsunade.
Tak lama, pintu diketuk dan dibuka perlahan-lahan. Dari balik pintu, munculah seorang pemuda yang tampak begitu bercaya diri. Bahunya tegap dan padangannya tajam. Dia sudah 3 kali bertemu dengan pemuda itu. Di belakang Aula Pertemuan saat Festival Budaya, di dalam Aula Pertemuan selesai pementasan drama dan ketika di Rumah Keluarga Uzumaki ketika Keluarga Sasuke diundang untuk makan malam bersama.
Naruto Uzumaki memasuki Kantor Kepala Sekolah. Dia memakai blazer hitam, dengan pita merah di kerahnya. Bajunya rapi serta dia memakai dasi. Celana hitamnya diseterika dengan begitu kencang. Sepatu ruangannya berwarna putih bersih tanpa noda. Apakah Naruto yang menyikatnya setiap hari, Sasuke tidak tahu.
"Selamat pagi sensei dan Uchiha-san," sapanya sopan, tutur katanya bagus. Dia tersenyum cerah melihat Sasuke, yang Sasuke yakini adalah kepura-puraan. Karena jelas bukan itu kesan yang ditunjukkan Naruto saat Sasuke bertamu ke rumahnya. Bukan sebuah senyum cerah nan hangat. Dia menatap Sasuke penuh perhitungan, itulah yang dirasakan oleh Sasuke.
"Naruto-kun," sapa Mikoto cerah. Dia berdiri dan memeluk Naruto ramah. Naruto membalas pelukannya ragu-ragu.
"Kalian telah saling kenal?" tanya Tsunade.
Naruto mengangguk. "Uchiha-san dan Ibu saya berteman. Kebetulan mereka baru saja pindah ke Perumahan saya. Benar-benar sebuah kebetulan," kata Naruto ringan.
Tsunade mengangguk paham. "Bagus, kalau begitu kau bisa mengantarkan Sasuke ke kelas kalian berdua. Mungkin kau bisa mengajak Sasuke berkeliling istirahat nanti."
"Mohon bantuannya, Naruto-kun," kata Mikoto.
"Baik sensei." Naruto membungkuk hormat kepada dua orang dewasa di ruangan itu. Lalu, dia keluar dari Kantor diikuti oleh Sasuke.
"Ketua OSIS ya," kata Sasuke memulai percakapan. Naruto meliriknya sekilas dan senyuman lenyap dari wajahnya. Mata biru itu tidak lagi sehangat musim panas, tetapi sedingin air laut dikala badai.
"Tahu darimana?" tanya Naruto.
"Tidak ada yang memakai pita merah di sekolah ini selain kau. Lagipula, Senju-sensei memerintahkanmu untuk menjemputku di Kantor Kepala Sekolah, artinya kau mungkin telah diberitahu mengenaiku dan sekolahku dulu," jelas Sasuke. Dan aku bertemu denganmu di Festival Budaya, melihat ekspresimu berubah dan mendengarmu mengeluh, tambahnya dalam hati.
"Kau banyak bicara," kata Naruto. Sasuke menyamai langkahnya. Dia tidak mau berjalan di belakang Naruto. Rupanya, tinggi mereka tidak jauh berbeda jika mereka jalan bersisian seperti ini.
Sasuke mengerjap. Dia tidak pernah banyak bicara sebelumnya. Orang-orang selalu mengatakan bahwa dia sangat pelit kata. Benarkah dia bicara panjang lebar?
Rupanya kelas mereka berada di gedung yang berbeda. Naruto mengganti sandalnya dengan sepatu kets hitam dan berjalan ke gedung yang lain. Lalu, setelah sampai, dia memakai sepatu ruangannya dan menaruh sepatunya di loker sepatu.
"Lokermu di sini," kata Naruto menunjuk ke pintu loker yang tidak berbeda jauh dari milik Naruto. Sudah ada tulisan Uchiha di depan lokernya. Sasuke mengganti sepatunya.
"Kelas kita di lantai 3." Lalu, berjalan tanpa mengatakan apapun. Sasuke mengikutinya. Sasuke ingin sekali mendengarnya bicara. Dia melihat Naruto bisa bicara dengan yang lain dengan mudah, tapi dia masih tampak perhitungan dengan Sasuke. Apa yang sedang dipikirkannya? Mereka berdiri di depan kelas 3-1. Sebelum membuka pintu, Naruto tampak menarik napas sejenak dan… senyum muncul di wajahnya.
Topengnya sudah terpasang, batin Sasuke. Tanpa sadar, dia mengangkat sudut bibirnya.
"Maaf kami telat sensei, aku habis mengantarkan paket dari Senju-sensei," katanya.
Satu kelas tertawa. Sasuke masuk mengikuti Naruto.
"Yaah, tugasku salah satunya menjadi kurir paket," katanya. Bahkan guru yang mengajar pun tertawa mendengarnya.
"Duduklah Uzumaki," katanya. Naruto terkekeh dan duduk di tempatnya. Lalu, sang guru beralih ke Sasuke. "Dan kau murid baru, silahkan memperkenalkan dirimu."
Sasuke melangkah ke tengah kelas. Dia menatap satu per satu orang di dalam kelas. Ada si Ketua OSIS, lalu pacarnya yang berambut merah muda juga ada di kelas yang sama. Naruto menampilkan wajah ramah, sama sekali tidak terlihat bahwa orang seperti itu bisa menggerutu.
"Sasuke Uchiha, baru saja pindah dari Kyoto. Mohon mantuannya," katanya singkat dan membungkuk. Satu kelas tepuk tangan.
"Oke, Uchiha-kun, terima kasih untuk perkenalannya. Silahkan duduk di bangku belakang yang kosong. Saya Asuma Sarutobi-sensei yang mengajar Bahasa Perancis."
Sasuke duduk di kursinya.
"Kau bisa meminjam buku dulu dari teman yang lain sampai kau dapat buku paket," ujar Asuma.
Pelajaran pun berlanjut.
.
"Makan siang?" tanya Sakura ketika istirahat tiba.
Naruto menggeleng. "Maaf, aku masih punya utang pada Senju-sensei. Menjadi tour guide bagi si anak baru."
"Ah, Uchiha ya."
"Makanlah dengan yang lain. Nanti aku menyusul setelah selesai menjadi tour guide," kata Naruto.
Sakura melambai padanya dan ikut makan bersama yang lain. Naruto menarik napas sejenak sebelum dia melangkah menuju Uchiha.
"Halo Uchiha, ayo kita jalan-jalan sebentar," katanya dengan senyuman.
Benar, Naruto akan memainkan perannya sebagai Ketua OSIS baik hati yang membantu anak baru beradaptasi. Dia akan melakukannya dalam jarak yang aman sehingga hidupnya tidak terganggu.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya tanpa alasan sebelum mengikuti Naruto.
Jadi, Naruto mulai menjelaskan setiap gedung. Setiap Gedung, apa saja isinya, dimana harus menemukan lapangan-lapangan untuk tiap olahraga, hingga eskul apa saja yang ada di SMA ini.
"Jadi… Apa kau mendengarkan, Uchiha?" tanya Naruto saat Sasuke sudah menguap dan tampak bosan.
"Jangan terlalu bersemangat dulu Ketua OSIS, aku tidak akan bertahan lama di sekolah ini," jawab Sasuke. "Dan melihat dari ekspresimu sedari tadi kita bertemu, kurasa kau sudah tahu itu. Kepala Sekolah memberitahumu."
Naruto masih diam. Dia masih berusaha menerima fakta bahwa Sasuke adalah murid bermasalah di setiap sekolah. "Memang. Senju-sensei memberitahuku 1 minggu sebelum kau datang ke sekolah. Sensei memberitahuku untuk membantumu."
Sasuke berjalan mendekat, "Dan apakah sekarang kau sedang membantuku, Uzumaki?" tanyanya.
Naruto memiringkan kepalanya. "Menurutmu jika aku tidak berniat membantumu, apa aku akan capek-capek berceloteh sedari tadi?" tanyanya.
"Karena kau adalah kurir barang milik Senju-sensei. Kau sendiri yang bilang begitu," kata Sasuke.
Naruto terkekeh mendengarnya. "Senang rasanya kau sudah bisa masuk ke dalam leluconku. Selamat datang di SMA ini, Uchiha."
"Terima kasih atas sambutannya yang hangat, Ketua OSIS. Pasti tidak banyak murid baru yang bisa menghabiskan waktu bersamamu."
Naruto mengernyit. "Apa maksudmu?"
Sasuke tidak menjawab. "Sekarang aku mendengarkan penjelasanmu, Uzumaki. Silahkan lanjutkan."
Naruto menghela napas sebelum berbicara.
2 detik. Jeda 2 detik sebelum bicara. Begitulah caranya supaya terlihat lebih percaya diri.
"Dengarkan baik-baik, Uchiha. Aku tidak mau kau tersesat selama di sekolah ini karena tidak mendengarkanku."
Sasuke mendengus. "Percaya diri sekali! Apa itu salah satu bakatmu, Ketua OSIS?"
Naruto melangkah lebih dekat. "Mau taruhan?" tanyanya penuh percaya diri.
Ada sebuah serangan listrik yang menjalar di sekujur tubuh Sasuke.
Ini dia! Ini sisi Naruto yang sedari tadi ditunggunya!
"Kau yakin dengan kata-katamu, Ketua OSIS? Aku tidak punya cukup kantong untuk menaruh wajahmu yang malu karena kalah."
"Tidak perlu, karena aku tidak pernah kalah."
Sasuke menyeringai semakin lebar. "Apa yang harus kita pertaruhkan? Mungkin jika ada yang dipertaruhkan, akan lebih mengasyikkan."
Naruto tampak berpikir. Dia membuat semuanya dengan penuh perhitungan. Sasuke adalah anak berandal yang bermasalah dan Naruto bukanlah tipe orang yang menyerah ketika diberi tugas. Memang, ini adalah tahun ketiganya dan dia harus fokus untuk mencapai tujuannya. Bermain-main sedikit tidak ada salah kan?
"Aku bertaruh bahwa kau akan bertahan di sekolah ini sampai lulus. Apa taruhanmu?" tanya Naruto.
"Aku bertaruh kalau bulan depan aku sudah di depak dari sekolah ini."
"Apa hadiah untuk pemenang?" tanya Naruto.
Sasuke berpikir. Jika dia menang, dia akan keluar dari sekolah satu minggu lagi. Apa sekiranya yang bisa membuat Sasuke terus mengingat sekolah ini? Mungkin menghancurkan harga diri Uzumaki lebih menarik.
"Kalau kau menang, kau bebas meminta apapun dariku. Aku tidak akan protes. Tapi," katanya. Kini wajah mereka berdekatan. Untungnya koridor di gedung lab sedang sepi. "Kalau aku menang, aku akan menghancurkan semua kepura-puraanmu sampai kau tidak sanggup berdiri lagi."
Lalu, Sasuke berjalan meninggalkan Naruto sendirian yang masih terpaku. "Tidak perlu mengantarku, Ketua OSIS. Aku masih ingat caranya kembali ke kelas."
Naruto masih berdiri terpaku bahkan setelah punggung Sasuke tidak lagi terlihat di koridor. Dia masih tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Sasuke Uchiha.
Menghancurkan semua kepura-puraan?
Apa maksudnya itu? Apa dia pikir selama ini Naruto berpura-pura? Memangnya Uchiha itu tahu apa tentang Naruto? Dia hanyalah anak malas, nakal, manja yang hobi berbuat onar. Dia adalah black list di setiap sekolah, jadi dia tidak tahu apa-apa tentang Naruto. Masalahnya, perkataannya begitu menyakitkan.
Apa dia ingin menghancurkan harga diri Naruto? Memangnya apa yang sudah dibuat Naruto sampai bisa-bisanya ada orang berkata seperti itu padanya? Naruto hanya tahu caranya berusaha keras. Berusaha keras untuk mencapai posisi tertinggi, berusaha keras untuk menjadi nomor satu di sekolah, berusaha keras untuk bisa berteman. Dia hanya tahu caranya berusaha keras. Jadi, Sasuke tidak punya hak untuk mengatakan macam-macam kepadanya.
Naruto meninju sebuah tembok sampai tangannya memerah. Dia jarang sekali lepas kendali di dalam sekolah. Dia jarang melampiaskan amarahnya. Namun, baru satu hari dia bertemu Sasuke, Naruto sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Bajingan!" bisiknya.
Setelah itu, dia mengatur napasnya lagi. Perlahan-lahan detak jantungnya kembali normal. Emosinya mereda dan buku-buku jarinya terasa sakit setelah menunju tembok.
"Tenanglah, Naruto Uzumaki," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau pernah menghadapi yang lebih menyebalkan. Ini bukan apa-apa bagimu."
Dia menarik napas dua kali lagi sebelum berjalan tenang keluar dari koridor laboratorium.
Taruhan konyol di antara mereka berdua, Naruto tidak akan kalah! Dia akan membuat Sasuke tinggal di sekolah sampai kelulusan.
Naruto tidak pernah kalah.
.
BERSAMBUNG
