Bab 3: Mimpi dan Kenyataan
"Bagaimana harimu? Kau tidak bolos atau keluyuran kan?" tanya Mikoto ketika Sasuke sampai di rumah. Sasuke baru akan membuka sepatunya ketika Mikoto memborbardirnya dengan pertanyaan.
"Lumayanlah," ujar Sasuke. Dia masuk ke dalam rumah diikuti oleh Mikoto.
"Bagaimana Naruto-kun? Apa dia membantumu?" tanya Mikoto lagi. Sasuke membuka dasinya yang telah membuatnya merasa tercekik. Sasuke teringat mengenai Ketua OSIS ceria nan ambisius. Dia teringat tawa Naruto, senyum ramahnya dan juga bahasanya yang sempurna. Namun, dia juga mengingat kilat dingin di mata Naruto barang sedetik, dan taruhan konyol di antara mereka. Taruhan itu sebenarnya tidak ada apa-apanya bagi Sasuke, tapi sepertinya harga diri Naruto benar-benar dipertaruhkan di sana. Sasuke hanya asal sebut saja tadi mengenai taruhan di antara mereka berdua.
Namun, eskpresi Naruto benar-benar menghiburnya. Dia tampak terguncang, seolah tidak pernah ada orang yang mengatakan hal-hal kejam kepadanya. Seolah semua orang selalu baik dan membantunya. Memangnya dia itu tinggal di dunia dongeng, dimana semua orang saling tersenyum dan bergandeng tangan menyongsong matahari tenggelam? Seharusnya Naruto tahu bahwa orang-orang munafik berkeliaran di dunia ini.
"Ibu sudah buat makan siang," katanya. Sasuke ke dapur dan mencuci tangan. Entah kapan terakhir kali dia makan siang di rumah? Biasanya dia pasti keluyuran sampai tengah malam dan pulang mengendap-endap seperti maling di rumah sendiri.
Menu di meja makan bervariasi sampai Sasuke curiga bahwa Ibunya diam-diam membuat amal untuk anak yatim piatu di sini. "Ada yang datang berkunjung?" tanya Sasuke sambil mengambil tempat di meja makan.
Ibunya menggeleng. "Ibu hanya terlalu bersemangat saja hari ini. Lagipula Ibu tidak ada di telepon wali kelas atau kepala sekolah karena ulahmu. Jadi Ibu senang. Sepertinya keputusan Ibu tepat memasukkanmu ke SMA Konohagakure itu," ujar Ibunya.
Sasuke tidak mengatakan apapun. Baru satu hari, jadi sebenarnya Mikoto belum pantas menilai apapun. Namun, jika melihat track record Sasuke di sekolah-sekolah yang lain, tidak dipanggil oleh wali kelas atau bertanya kenapa Sasuke tidak datang dihari pertama sekolah, itu sudah merupakan prestasi sendiri baginya. Mungkin Sasuke juga ingin memulai awal baru di kota ini, setidaknya itulah pikiran dari Mikoto.
.
Naruto tidak bersemangat ketika dia berjalan menuju tempat bimbelnya. Dia merasa semua energinya terkuras habis karena pemuda bernama Sasuke Uchiha. Kepalanya berdenyut-denyut setelah jam istirahat. Dia berusaha mengenyahkan percakapan antara mereka berdua, tapi tatapan Sasuke seolah menusuk punggungnya selama jam pelajaran. Setelah jam istirahat, Naruto tidak lagi berusaha mendatangi Sasuke. Dia mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya, bercanda dengan mereka, sampai berdiskusi seru mengenai Film Catching Fire yang baru-baru ini sedang tayang di bioskop.
Taruhan itu jelas tidak masuk daftar kegiatan seorang Naruto Uzumaki. Bisa-bisanya dia secara impulsif mengutarakan hal sembrono seperti itu. Seharusnya Naruto berpikir dahulu sebelum bicara, karena itu yang selama ini dilakukannya. Seharusnya setiap langkah yang diambil harus menguntungkannya dan membawanya selangkah lebih dekat menuju tujuan akhirnya. Seharusnya Naruto lah yang menguasai percakapan, sebagaimana selama ini dia melakukannya seperti bernapas. Namun, Sasuke mampu membuatnya tidak berkutik. Sasuke menjadi orang yang terakhir bicara di antara mereka. Sasuke membuatnya tampak seperti orang bodoh.
Dan Naruto tidak suka diperlakukan seperti orang bodoh.
Naruto memasuki gedung bimbel dan AC langsung menerpa seluruh kulitnya. Dia sudah berada di bimbel ini selama 6 tahun, sejak dia berada di kelas 1 SMP. Naruto melangkah ke lantai 3, tempat kelasnya berada. Kelas bimbel yang dia ikuti hanya berisi 10 orang, karena kelas itu adalah Kelas Khusus Persiapan Ujian Masuk Universitas. Para siswa yang berada di kelas tersebut adalah siswa-siswa dari sekolah-sekolah persiapan terbaik di Tokyo.
"Selamat siang," kata Naruto sambil tersenyum. Mereka hanya membalas singkat dan kembali ke buku latihan soal sambil menunggu guru bimbel masuk. Materi hari itu adalah Matematika, Fisika, Kimia dan Sastra Inggris. Materi bimbel adalah semua materi yang akan keluar di Ujian Masuk Universitas.
Naruto mulai membuka buku latihannya dan mengambil earphone. Dia menyetel lagu dari Blackberry-nya dan mulai mengerjakan soal-soal di dalamnya. Naruto bukanlah orang yang terlahir jenius, dia tidak seperti kakaknya yang bisa mengingat rumus-rumus hanya dalam satu kali kedipan mata. Dia tidak punya bakat menonjol seperti Ino Yamanaka yang mampu menguasai peran apapun dalam sekali coba, atau bakat kepemimpinan bawaan seperti Temari Sabaku, kakak kelas dan mentornya dulu. Dia tidak sepandai teman satu angkatannya, Shikamaru Nara, yang bisa mendapatkan nilai 100 meskipun dia selalu tidur di kelas. Dia juga tidak bisa mengintimidasi orang hanya dengan tatapan mata, seperti si anak baru, Sasuke Uchiha.
Naruto hanya bisa berusaha. Berusaha bertahan di posisinya, berusaha agar dia tidak terdepak dari posisinya, karena dia tahu jika dia melonggarkan aturan sedikit saja, dia akan terjun bebas dari atas jurang. Dia harus mencari dan menemukan posisinya sendiri di sekolah, karena sekolah sebenarnya adalah hutan rimba. Tiruan dunia pertama yang akan dihadapi oleh para siswa. Sebuah simulasi menjalani realita. Karena itu, Naruto sangat menjaga apapun yang menjadi miliknya saat ini.
"Selamat datang," sapa Ayahnya yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton berita malam. Minato tersenyum menatap putranya yang baru saja pulang setelah selesai bimbel. "Bagaimana bimbelmu?" tanyanya.
Naruto mengangguk. "Lancar. Kami diberi latihan soal simulasi untuk try out minggu depan," jawab Naruto. Dia duduk di sebelah Minato. "Mana Ibu?" tanyanya.
"Ke rumah Uchiha, memberikan Lasagna-nya."
Naruto mengangguk.
Minato sedang menonton sebuah berita malam di salah satu stasiun TV Nasional. Pembawa beritanya adalah seorang lelaki muda yang tampak menarik sekaligus berwibawa sedang membacakan sebuah berita mengenai kemacetan yang terjadi di jalan tol akibat kecelakaan mobil. Suara si pembawa berita jernih dan tatapannya fokus ke arah kamera, seolah tatapan itu mampu menembus dimensi ruang dan waktu dan langsung menghujam batin Naruto. Dia membacakan berita dengan nada monoton tetapi dapat dimengerti dengan jelas. Pelafalannya sempurna. Bagi Naruto, para pembaca berita di televisi seperti pendongeng. Naruto suka sekali melihat para pembawa berita.
"Kau mau makan malam dulu?" tanya Minato.
Naruto menggeleng. "Tadi aku sempat membeli roti saat perjalanan ke bimbel. Sudah kenyang," jawabnya.
Minato mengernyit. "Kau sedang diet atau apa? Kenapa makanmu sedikit sekali?"
Naruto tertawa menanggapi Ayahnya. "Bagaimana hari ini di RS? Ayah bertemu dengan Aniki?" tanyanya.
Minato mendengus. "Bertemu dengan Kurama lebih sulit dibandingkan dengan Perdana Menteri. Hari ini dia tidak ada jadwal di RS Universitas."
"Aku masih tidak paham kenapa Aniki memilih tinggal sendiri. Padahal tempat kerja kalian sama," kata Naruto.
"Mungkin dia mau bawa pacarnya ke rumah. Kalau ada orangtua kan tidak enak," jawab Minato.
Jawaban Ayahnya mau tidak mau membuat Naruto tersipu dan merasa malu. Dia membayangkan kakak laki-lakinya, tinggal sendirian di sebuah mansion di Tokyo Barat dan seorang perempuan cantik mengunjunginya setiap hari. Tidur di atap yang sama. Berbagi pagi yang sama. Wajah Naruto terasa panas.
"Siapa yang membawa pacar?"
Kushina muncul dari koridor rumah. Dia baru saja kembali setelah beramah-tamah dengan Mikoto.
"Kau mau membawa Sakura-chan ke rumah? Sudah lama dia tidak main ke sini," kata Kushina.
"Kami sedang sibuk. Sakura sedang persiapan Lomba Debat Nasional di bulan Oktober nanti. Jadi sedang sering latihan," ujar Naruto.
Kushina bergabung bersama kedua laki-laki tersebut. Dia duduk di sofa tunggal di ruang keluarga. "Kau sendiri, bimbel bagaimana? Festival sudah selesai dan seharusnya kau sudah bisa fokus untuk Ujian Persiapan nanti," kata Kushina.
Naruto mengangguk. "Minggu depan kami akan try out," jawab Naruto.
"Lalu, Sasuke bagaimana? Kau sudah bertemu dengannya di sekolah? Mikoto bilang kalian satu kelas."
Naruto sedikit tersentak karena Ibunya membawa topik Sasuke, tapi dia tidak membiarkan kedua orangtuanya melihat perubahan eskpresi di wajahnya. "Aku mengantarnya sampai ke kelas, lalu saat istirahat mengajaknya berjalan-jalan di lingkungan sekolah. Senju-sensei memang menempatkan kami di kelas yang sama."
"Bagaimana dia di sekolah? Mikoto tampaknya tadi sedikit khawatir tentang Sasuke, tapi sepertinya karena dia satu kelas denganmu, seharusnya baik-baik saja. Kau kan jago berteman," puji Kushina.
Naruto tahu bahwa Ibunya tidak ada maksud tersembunyi. Dia hanya memuji putranya. Dia tahu bahwa Naruto adalah anak yang mudah akrab dengan orang lain, bisa membuat orang lain merasa nyaman di sekelilingnya, dan itu adalah bakat alami. Jadi, dia tidak tahu bahwa Naruto baru saja membuat taruhan konyol karena harga dirinya merasa dicoreng oleh sikap Sasuke, atau bagaimana Sasuke bersikap brengsek. Sepertinya Kushina juga tidak tahu bahwa alasan mengapa Sasuke pindah ke SMA itu karena dia adalah anak bermasalah yang hampir tidak bisa lulus SMA.
Naruto terkekeh lebar. "Siapa dulu dong! Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Naruto Uzumaki," katanya sambil membuat tanda peace di jarinya.
Berita di televisi sudah selesai disampaikan dan sekarang sedang dalam iklan komersial. Naruto mengambil tasnya. "Aku mau mandi dan siap-siap untuk besok," katanya.
"Oke, jangan lupa berendam ya, supaya tubuhmu hangat," kata Kushina.
"Iya Bu," jawabnya.
Naruto masuk ke kamarnya, melepas blazer, kemeja putih, dasi ikat pinggang dan celana kainnya, serta kaos kakinya. Semuanya ditaruh di keranjang baju kotor karena telah di pakai selama 3 hari berturut-turut. Setelah itu dia ke kamar mandi dan berendam. Uap hangat dari air panas membumbung tinggi sampai ke langit-langit kamar mandi dan akhirnya keluar melalui ventilasi. Naruto membasuh wajahnya dengan air hangat dan membiarkan air menetes-netes dari rambut pirangnya yang basah.
Dia memejamkan matanya dan sosok Sasuke terbayang. Sosok tinggi dengan aura serampangan begitu mencolok di mata Naruto. Sosok yang tidak peduli apakah dia bisa lulus SMA atau tidak. Sosok yang membuat Naruto kehilangan ketenangannya hanya dengan beberapa patah kata saja.
"Tidak boleh," kata Naruto pada dirinya sendiri. Dia tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh membiarkan Sasuke terus mendominasi arus di antara mereka. "Jangan biarkan dia menguasaimu, bodoh!" bisiknya pada dirinya sendiri.
Setelah selesai mandi, Naruto mengganti bajunya dengan piama dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Lalu, dia menatap tampilannya di cermin di kamarnya. Dia melihat sosok remaja laki-laki berambut pirang dengan kulit sawo matang. Lelaki itu balas menatap Naruto dengan irisnya yang berwarna sebiru langit musim semi.
Naruto tersenyum dan lelaki di dalam cermin balas tersenyum. Senyum yang selalu digunakan Naruto untuk mengawali hari-harinya. Lelaki di cermin tinggi dan tubuhnya atletis, karena Naruto rajin berolahraga lari serta melakukan beberapa work-up di kamarnya, seperti plank dan push-up. Dia tahu bahwa tampilan fisik adalah hal paling pertama yang dinilai masyarakat. Karena itu, dia menjaga fisiknya baik-baik. Dia tidak boleh diremehkan hanya karena penampilannya.
"Selamat malam Jepang," dia mulai bermonolog. Tatapannya lurus menatap balik bayangan di cerminnya. "Saya Pembawa Berita malam hari ini, Naruto Uzumaki. Malam hari ini saya akan membacakan beberapa berita yang telah kami rangkum untuk Anda simak. Berita pertama mengenai pembangunan jalan tol akses antar kota yang terhambat akibat badai salju yang terus-menerus turun selama 3 hari berturut-turut di Prefektur Hokkaido. Badai salju diperkirakan akan terus turun sampai satu minggu ke depan. Pemerintah telah mengeluarkan edaran menutup sekolah untuk sementara hingga jalanan aman untuk dilalui. Warga diharapkan tetap berada di dalam rumah sampai badai salju mereda."
Naruto masih mempertahankan senyumannya. Dadanya tegap dan pelafalannya lantang. Dia telah berlatih seperti ini sedari dulu, sejak dia mengenal berita untuk pertama kalinya. Sejak dia tahu bahwa pekerjaan Pembawa Berita adalah pekerjaan terkeren di dunia. Tugasnya bukan membedah orang, tugasnya bukan memberikan obat penghilang rasa sakit. Mereka tidak berlari sepanjang koridor rumah sakit. Mereka bertugas menyampaikan berita penting untuk diketahui masyarakat. Berdiri di depan kamera, menyampaikan berita, dan tersenyum.
"Malam hari ini kami telah mengundang Direktur Utama dari Yayasan Amal Yatim-Piatu yang baru saja berhasil mengumpulkan donasi sebesar 10 juta yen untuk membantu kelaparan yang ada di Afrika. Saya mengundang Bapak Direktur untuk hadir dan duduk bersama saya malam hari ini."
Lalu, Naruto pura-pura melihat ke arah Direktur. "Selamat malam Bapak. Terima kasih sudah bersedia hadir di studio bersama saya. Saya memiliki beberapa pertanyaan untuk Bapak. Sebelum itu, saya harus mengatakan bahwa tindakan yang Anda lakukan amatlah mulia. Semoga itu bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Jepang untuk berbuat kebaikan yang serupa."
Tidak ada yang menyahutnya, tidak ada kata sambutan dari Direktur bohong-bohongan yang diciptakan Naruto. Dia sendirian di dalam kamarnya, berpura-pura menjadi Pembawa Berita di depan cermin.
Naruto menghentikan kegiatannya. Dia menuju meja belajarnya dan realita kembali menghantamnya. Masa depannya telah berada di depan mata. Dia tidak akan menjadi seorang presenter berita, dia tidak akan masuk Fakultas Komunikasi, dia tidak akan bekerja di stasiun TV. Dia akan ikut Ujian Masuk Fakultas Kedokteran. Dia akan menjadi mahasiswa kedokteran, lalu lulus menjadi dokter. Selanjutnya dia akan mengambil residensi di luar negeri seperti kakaknya dan bekerja di RS bergengsi. Dia akan mengikuti jejak Ayah dan Kakaknya. Menjadi dokter adalah sebuah keharusan.
Jadi, demi merealisasikan tujuan itu, Naruto mulai membuka buku pelajarannya dan belajar.
.
"Kau tidak keberatan jika pergi ke sekolah bersama dengan Sasuke?" tanya Kushina di pagi hari ketika sedang sarapan. Minato sedang membaca koran pagi sambil meminum kopi dan Naruto sedang memakan roti bakar dengan selai nanas serta segelas jus jeruk. Dia berhenti mengunyah. Dia hampir menyemburkan bolus roti yang ada di dalam mulutnya. Untungnya dia berhasil menelannya tanpa salah saluran ke paru-paru.
"Kenapa?" tanya Naruto. Dia tidak mau intonasinya tampak seperti orang protes, jadi dia buru-buru menggigit potongan baru dan mengunyahnya.
"Yah, Ibu pikir itu bisa mengakrabkan kalian. Mikoto juga berpikir begitu. Karena kau sudah satu kelas dengan Sasuke, setidaknya kau bisa mengawasinya supaya dia tidak membolos. Dia benar-benar harus lulus tahun ini."
Naruto masih mengunyah dengan pelan. Dia tidak mau menjawab terburu-buru karena terakhir dia bertindak impulsif, harga dirinya terluka. Minato-lah yang menjawab istrinya. "Naruto punya kesibukannya sendiri. Lagipula, kalau sudah masalah sekolah, itu sudah urusan masing-masing anak. Hanya karena dia Ketua OSIS, bukan berarti dia harus mengurus semua orang, kan?" Minato membalikkan kertas koran.
Kushina tampak merenung. "Iya, kau benar. Naruto, kau berhak memutuskan. Ibu hanya menyampaikan permintaan dari Mikoto saja. Dia benar-benar kebingungan."
Naruto meneguk jus jeruknya. Apakah dia bisa menolak permintaan Kushina? Sebenarnya ucapan Minato ada benarnya juga. Itu sudah bukan urusan Naruto. Jika Sasuke mau masuk sekolah, mau membolos atau pun ikut pelajaran, itu semua adalah tanggung jawab pribadinya. Naruto hanyalah teman satu kelasnya dan dia juga sudah berusaha membuat Sasuke merasa nyaman di sekolah. Sisanya, bukan urusan Naruto. Namun, Naruto tidak terbiasa menolak permintaan Ibunya. Dia tidak terbiasa menolak seseorang yang membutuhkannya. Jika ada orang yang minta tolong padanya, itu artinya dia dibutuhkan. Dia masih berguna.
Jadi, dia mengangguk pelan. "Tidak apa Ayah," katanya pada Minato. "Aku akan coba pergi ke sekolah bersamanya hari ini.'
Kushina bertepuk tangan. Minato hanya menatap putranya dengan tatapan 'kau yakin? Jangan menyesal'.
Semoga aku tidak menyesal, batin Naruto.
.
Rumah Uchiha hanya berbeda satu blok dari rumah Naruto. Tidak sulit mencarinya, karena itu adalah satu-satunya rumah bergaya kekinian di antara bangunan dengan arsitektur Jepang. Naruto menghirup napas dalam-dalam sebelum menekan tombol bel. Tak lama, seorang wanita membuka pintu rumah.
"Naruto-kun," kata Mikoto ceria. Dia membuka gerbang dan mempersilahkan Naruto masuk.
"Selamat pagi Uchiha-san," katanya sopan.
"Mikoto saja tidak apa. Ayo masuk, kau akan berangkat bersama dengan Sasuke hari ini kan?" tanyanya. Naruto mengangguk. "Tunggu sebentar ya, anak itu susah bangun."
Naruto masuk ke dalam rumah tersebut dan duduk dengan kaku di sofa ruang tamunya. Desain interiornya memang sangat kekinian, berbeda dengan rumah Naruto yang masih ada unsur-unsur arsitektur Jepangnya. Mikoto masuk ke dalam rumahnya dan Naruto hanya melihat-lihat hiasan di ruang tamu. Ada sebuah foto keluarga yang lumayan besar dipajang di dinding atas ruang tamu. Itu adalah foto formal yang diambil saat kelulusan si sulung.
Fugaku memakai jas hitam yang tampak mahal, Mikoto memaki Kimono dengan motif bunga Sakura dengan rambut disanggul dan Sasuke memakai jas hitam, tetapi dia memakainya tidak serapi dan seformal Fugaku. Lalu, si sulung keluarga Uchiha, yaitu Itachi.
Itachi sendiri memiliki seluruh ketampanan di keluarga Uchiha. Garis rahangnya tegas, iris matanya persis seperti adiknya, senada dengan malam tanpa bintang, dan dia tampak berdiri gagah. Rambutnya panjang, tetapi itu tidak mengurangi ketampanannya ataupun membuatnya tampak feminis. Malahan, rambutnya itu mendukung ketampanannya.
Namun, yang menarik perhatian Naruto adalah toga yang dikenakannya.
Dia memakai toga yang memiliki bagian depan terbuka berwarna hitam. Lengan toga dihiasi pola tertentu, dan memiliki tudung. Terdapat ikat leher tudung berwarna di luar, tanpa pinggiran bahan pelapis. Terdapat sudut tippet berbentuk persegi.
Kalau tidak salah ini…
"Maaf menunggu," kata Mikoto. Naruto mengalihkan pandangannya dari foto keluarga tersebut. Mikoto datang ke ruang tamu dengan Sasuke yang berpenampilan acak-acakan meskipun memakai seragam. "Selamat jalan kalian berdua," kata Mikoto.
Naruto membungkuk hormat sebelum keluar dari ruang tamu dan memakai sepatunya. Sasuke memakai sepatunya secara asal-asalan. Dia bahkan masih menguap ketika mengikuti Naruto keluar dari rumahnya. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara sampai Sasuke yang bicara duluan.
"Apa ini salah satu tugas dari Ketua OSIS? Menjemput si anak baru di rumahnya? Kau melakukan ini pada setiap anak baru? Atau trik supaya aku tidak keluar dari sekolah yang… ngomong-ngomong waktumu 29 hari lagi."
Suara Sasuke seperti merendahkannya. Naruto sudah tersulut emosi pagi ini. Pagi ini dia datang ke rumah Uchiha dengan niat baik, membantu temannya untuk bersekolah. Namun, semua energi positif itu menguap karena ucapan Sasuke.
"Selamat pagi juga, Uchiha. Dan ini bukan tugas OSIS, dan aku jelas tidak melakukannya kepada setiap anak baru, karena tidak ada anak baru yang masuk di tengah semester akhir hanya karena dia terancam tidak lulus SMA. Dan berhentilah pesimis karena kau tidak akan dikeluarkan dari sekolah." Naruto mengatakannya dalam satu tarikan napas.
Setelah itu, napasnya menderu. Dia menatap Sasuke yang berjalan di sebelahnya. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kusut karena bangun tidur. Naruto yakin bahwa dia hanya mencuci mukanya asal-asalan dan menggosok gigi tanpa menyisir rambut atau memperbaiki penampilannya. Kemejanya tidak rapi, dia tidak memakai ikat pinggang dan celananya kusut. Kaos kakinya di bawah mata kaki dan sepatunya tidak diikat dengan baik. Blazer sekolahnya ditenteng begitu saja sepeti menenteng kantong keresek. Tas sekolahnya disandang asal-asalan di bahunya.
Naruto semakin meradang melihat penampilan Sasuke. Padahal dia sendiri bangun lebih pagi untuk menyisir rambutnya agar tidak tampak berantakan, memakai gel rambut untuk menaikkan poninya, dan meminta Kushina menyeterika ulang kemejanya agar tidak kusut. Dia selalu memakai atribut sekolahnya secara lengkap.
"Kau tidak bisa berpakaian lebih rapi? Mana dasimu?" sembur Naruto sambil melotot. Namun, si Uchiha muda hanya menguap untuk menjawab pertanyaan Naruto. "Aku bicara padamu," kata Naruto sambil menahan emosi.
"Kau Ibuku? Berhentilah cerewet. Aku pusing mendengar suara cemprengmu pagi-pagi."
"Aku tidak bisa membiarkan siswa SMA Konohagakure berpenampilan acak-acakan seperti itu!" kata Naruto. "Setidaknya masukkan kemejamu dan pakai dasimu!"
"Kau juga mengambil alih Komite Disiplin? Tidak puas dengan jabatan Ketua OSIS?" sindir Sasuke.
"Jangan mengabaikanku, TEME!" bentak Naruto.
Sasuke akhirnya menatapnya. Tatapannya lagi-lagi datar dan tidak mengandung emosi apapun. "Jangan berisik DOBE!"
Jika Naruto adalah bom waktu, dia sudah meledak dan menghancurkan seluruh Tokyo Barat. Pemicunya adalah Sasuke Uchiha yang tidak mau memakai dasi saat pergi ke sekolah dan berpenampilan serampangan. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Naruto jika suatu saat ada kabar mengenai remaja lelaki yang meledak karena menahan emosi.
"Jangan memanggilku Dobe!" kata Naruto.
Sasuke hampir terbahak mendegarnya. Dia menyeringai dengan sangat menyebalkan sampai Naruto ingin sekali merobek mulutnya. "Kau duluan yang mengataiku. Jadi, aku akan mengataimu semauku. Paham?" katanya tajam.
Kalah telak.
Naruto tidak bisa membalasnya. Namun, dia tidak akan membiarkan Sasuke menyaksikan keruntuhan sisa-sisa harga dirinya. Jadi, dia melakukan apa yang biasanya orang lakukan ketika sudah kalah.
Kabur dari medan perang.
Sial, sial, sial. Batin Naruto terus mengulang-ulang kata itu. Apa dia baru saja tanpa sadar mengumpat di depan Sasuke dan mengatainya Teme? Apa itu benar? Kemana ketenangan Naruto yang biasanya? Kenapa dia bisa selalu lepas kendali? Apa yang sebenarnya terjadi?
Masa bodoh! Dia tidak akan pernah mau berangkat sekolah bersama Sasuke Uchiha lagi!
Sementara Sasuke?
Dia sedikit kaget karena Naruto tiba-tiba berlari begitu saja dan dia tidak berhenti berlari bahkan setelah berbelok di tikungan. Ketika Sasuke menyusulnya dengan berjalan santai, dia tidak menemukan lagi tanda-tanda keberadaan Ketua OSIS tersebut. Dia benar-benar ditinggal sendirian. Sebenarnya Sasuke sudah akan bolos karena Naruto tidak ada lagi. Namun, dia teringat ekspresi dari pemuda Uzumaki tersebut.
Dia lepas kendali di depan Sasuke, mengatainya Teme, dan kabur setelah Sasuke membalas kata-katanya. Harga dirinya terluka lagi oleh Sasuke. Jika Sasuke membolos hari ini, maka dia tidak akan bisa melihat ekspresi Naruto selama di dalam kelas dan dia sangat penasaran dengan berbagai ekspresi yang akan dikeluarkan Naruto ketika melihatnya. Jika dia membolos, Naruto akan menang karena dia tidak harus melihat Sasuke, yang artinya harga diri pemuda itu terselamatkan.
Apakah Sasuke akan membuat hidup Naruto lebih mudah? Tentu saja tidak!
Dia akan datang ke sekolah, menyeringai di depan pemuda itu dan melihat sampai batas mana dia mampu menahan diri di depan orang lain. Karena Naruto di sekolah adalah role model yang sempurna, Sasuke ingin terus mendesak Naruto sampai semua topeng itu hancur berantakan. Dia tidak akan berhenti.
Ini menjadi semakin menyenangkan, batinnya.
Hari itu dia memutuskan untuk tidak membolos. Hari itu, untuk pertama kalinya sejak Sasuke menjadi anak bermasalah, dia bersenandung saat pergi ke sekolah.
.
BERSAMBUNG
