An Old Friend And Family Pack

Rate T

DCMK milik Aoyama Gosho. Author hanya pinjam karakternya.

WARNING! Plot SANGAT tidak jelas. Typo, OOC. KaiShin bisa sihir. Mention of Time Travel. ABO AU.

Bagian 3 dari series Ten Years In The Past, Let's Try This Again.

Happy Reading!

.

.

.

Sudah hampir empat hari sejak heist Kaitou KID berlalu.

Mereka berdua sepenuhnya mengabaikan kekacauan di internet dan berfokus untuk menemukan Akemi yang kemungkinan besar saat ini sedang mengamati beberapa bank untuk dirampok. Kaito sibuk menyamar dan Shinichi menghabiskan waktunya untuk berlatih mengubah bentuknya menjadi kucing atau burung (dia tidak sengaja mengetahui kemampuan ini ketika Kaito tidak sengaja mengagetkannya).

Keduanya sama-sama mengamati beberapa bank yang memiliki potensi untuk dirampok, karena mereka tidak lagi bisa mengandalkan masa lalu yang mereka ingat. Kaito juga menggunakan merpatinya untuk mengawasi beberapa bank sekaligus dengan kamera kecil yang terpasang pada leher mereka.

Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda adanya Akemi maupun aktifitas dari Organisasi Hitam.

Pada hari ke lima setelah heist 'terakhir' Kaitou KID, Kaito sedang memasak sarapan mereka dan berencana untuk menyamar sebagai wanita muda ketika tiba-tiba saja Shinichi memeluk Kaito dari belakang dan mendesah penuh kelegaan. Tentu saja perilakunya itu membuat Kaito mengangkat alis dan langsung berbalik untuk membawa Shinichi kedalam kedua tangannya untuk memeluknya dengan lebih baik.

"Hey, Shin-chan." Sapa Kaito sambil menempelkan dahinya pada dahi Shinichi. Dia mengerjap ketika merasakan hangat yang tidak biasa dan juga mencium feromon manis yang menguar dari Mate-nya itu. "Kau memasuki tahap Pre-Heat."

"Hm," gumam Shinichi. Dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya, fokus dengan feromon Kaito yang membuatnya lapar.

'Tunggu, lapar?'

Otak Shinichi yang terasa seperti dipenuhi kabut sejak bangun tidur tiba-tiba saja kembali jernih.

"Kai, apa kau juga Pre-Rut?"

Kaito mengerutkan kening, "kurasa? Siklus kita seharusnya bersamaan, mengingat Mating dan Bonding kita dua bulan yang lalu. Oh, Shin-chan, aku tidak sabar untuk melihatmu penuh denganku. Aromamu luar biasa dan membuatku lapar."

Shinichi membeku ketika mendengarnya, begitupun Kaito yang menyadari perkataannya sendiri.

Mereka berdua tidak pernah benar-benar merasakan keinginan siklus mereka sebelumnya karena keadaan mereka.

Haibara memberikan teori bahwa karena racun APTX 4869, tubuh Omega Shinichi menjadi sulit untuk dibuahi dan instingnya menjadi tidak lagi ingin bercinta, melainkan ingin dimanjakan oleh Alphanya. Belum lagi usia tubuhnya yang terpaut cukup jauh dari Kaito, membuat alam bawah sadar Omeganya ingin dimanjakan dan dirawat. Heatnya juga menjadi Dry Heat*, tidak penuh dengan cairan Omega dan rasa ingin kawin. Sedangkan Alpha Kaito merespon keinginan Omeganya, sehingga selama ini Rut Kaito hanya menjadi Soft Rut*.

[*Dry Heat adalah saat dimana seorang Omega mengalami gejala fisik heat, seperti suhu tubuh yang meningkat dan aroma pheromone yang kuat, namun tanpa hasrat seksual yang biasanya menyertainya.

*Soft Rut adalah saat dimana seorang Alpha mengalami rut namun tidak merasakan hasrat seksual dan hanya ingin memanjakan atau cuddle dengan Omeganya. Dalam keadaan ini, dorongan untuk berperilaku agresif atau dominan berkurang, dan fokusnya lebih pada keintiman emosional dan fisik yang lembut.]

Gadis itu juga mengatakan bahwa ada kemungkinan karena tubuh Omega Shinichi yang terpaut cukup jauh dari tubuh Alpha Kaito juga menyebabkan Alpha itu mengalami Soft Rut. Tubuh Kaito dan alam bawah sadar Alphanya merespon keinginan Omeganya. Belum lagi karena keadaan mereka yang hidup dalam pelarian, menimbulkan stress pada alam bawah sadar mereka berdua sehingga mereka tidak merasakan siklus mereka secara keseluruhan.

Ini menjadikan siklus mereka berdua penuh dengan afeksi—berpelukan, tidur, dan beristirahat bersama tanpa ada apapun yang berbau seks. Mereka berdua juga masih bisa mengendalikan tubuh dan juga akal sehat mereka—sekalipun kemampuan mereka menurun karena insting yang mendominasi. Satu-satunya saat dimana mereka menghabiskan siklus mereka dengan seks adalah saat dimana mereka melakukan Mating dan Bonding.

Lalu sekarang, ketika tubuh Omega Shinichi tidak lagi dipenuhi oleh racun APTX 4869 dan tubuh Alpha Kaito tidak lagi jauh lebih dewasa dari Omeganya, apa yang akan terjadi?

Kaito dan Shinichi tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui apa yang akan terjadi.

"Shinichi. Kamar, sekarang." Ujar Kaito sebelum memindah Shinichi dengan teleportasinya tanpa aba-aba.

Shinichi belum sempat bereaksi ketika tiba-tiba saja dia sudah berada di atas kasur. Dia mendengus sebal karena Kaito tidak mengikutinya, tapi dia mengerti bahwa Alphanya itu ingin mempersiapkan semuanya sebelum mereka berdua menggila dalam insting mereka.

Lebih baik mempersiapkan semuanya sebelum terlambat.

Jadi Shinichi memilih untuk mempersiapkan kamar mereka.

Dia membuka lemari pakaian mereka dan mengambil tumpukan pakaian dan juga selimut tambahan mereka. Setelahnya, dia mulai membuat sarang dan mengatur kain-kain itu untuk mengelilinginya. Dia juga menyiapkan sabun juga handuk di kamar mandi.

(Shinichi tidak pernah melakukan ini sebelumnya, dan demi Kami-sama, ini semua membuat kamar mereka terlihat sangat berantakan dan aneh. Dia yakin mesin cuci mereka akan bekerja keras setelah siklus mereka selesai.)

Tidak perlu waktu lama untuk Kaito kembali padanya dengan empat botol besar air mineral di tangannya. Alpha itu juga membawa baskom berisi air dingin yang kemudian diletakkan di atas nakas.

Shinichi tidak merasakan rasa pusing seperti Heatnya yang biasa, tapi dia sadar bahwa otaknya kembali penuh dengan kabut dan instingnya mulai mengambil alih. Dari tatapan lapar yang Kaito arahkan padanya, dia tahu bahwa Kaito juga merasakan hal yang sama.

"Uh, normalnya berapa lama siklus ini terjadi?" tanya Shinichi. Dia mulai merasakan tidak nyaman di bagian perutnya, seperti rasa kram tumpul. Tidak sakit, tapi cukup menganggu.

Kaito naik ke atas kasur dan masuk kedalam sarang yang dibuat Shinichi, dengkuran lembut terdengar dari tenggorokannya dan Shinichi dapat merasakan bahwa pipinya sangat panas sekarang. "Kai?"

"Oh, uhm, dari yang kudengar siklus Alpha-Omega berlangsung selama kurang lebih empat hari hingga satu minggu." Kaito mengerjap dan meringis ketika menyadari bahwa dia terlalu terlena dengan feromon manis yang Shinichi keluarkan hingga tidak dapat berpikir dengan benar.

Shinichi ikut meringis. Dia tidak ingin tahu seberapa kacaunya kamar mereka setelah siklus ini selesai. Dia juga tidak ingin tahu apa yang akan terjadi selama seminggu kedepan. (Dia tidak menyesal tidak kembali menjadi Conan, tapi dia tidak bisa tidak merindukan siklusnya dengan Kaito yang tidak melibatkan seks.)

"Kau akan memasuki Heat penuhmu besok… tapi sekarang saja feromonmu sudah membuatku tidak bisa berpikir." Ujar Kaito. Tatapannya kali ini terlihat posesif dan membuat punggung Shinichi merinding.

"… kemarilah. Aku ingin bersantai sebelum siklus penuh kita besok." Shinichi menarik tangan Kaito dan membuatnya untuk memeluknya dari samping dengan tangannya yang menangkup perut Shinichi, kemudian dia juga mengambil kompres yang Kaito siapkan untuk mengompres kepalanya yang kini panas.

Kaito menunduk dan menyembunyikan wajahnya di tengkuk Shinichi, tanpa berkata apapun mengusap perut Shinichi dan membuatnya merasa lebih baik.

Ini masih pagi dan baik Shinichi maupun Kaito berharap bahwa siklus mereka tidak membuat mereka melewatkan apapun.

.

.

.

Kaito meringis ketika menyadari keadaan apartemen mereka setelah enam hari siklus mereka dimulai.

Piring dan gelas kotor yang bertumpuk (sejak kapan mereka memiliki peralatan makan sebanyak itu?), kulkas yang kosong (tidak mengejutkan), kamar yang penuh dengan pakaian dan selimut kotor (dia menghela napas panjang ketika menyadari berapa banyak air yang harus dibayarnya untuk membersihkan semua itu dari cairan mereka), makanan dan kotoran merpati yang berceceran, juga sampah yang berserakan dimana-mana.

Membersihkan semua ini sendirian akan menjadi sangat merepotkan jika saja Kaito tidak memiliki sihir untuk membersihkan sebagian besar semua itu. (Shinichi masih kesulitan untuk bangun dari kasur setelah enam hari penuh menerima sperma dan knot Kaito tanpa berhenti.)

Beberapa kamera dengan kartu penyimpanan penuh dan baterai yang habis juga berserakan di atas meja, membuat Kaito samar-samar mengingat bahwa dia mengganti kamera kecil merpati-merpatinya dengan yang baru dan mengabaikan yang lama tanpa memeriksanya.

Dia menghela napas panjang sebelum membersihkan semua kekacauan yang terjadi. Setelahnya dia membawa semua kamera yang berserakan di atas meja masuk kedalam ruang kerja mereka untuk mengisi ulang daya kamera-kamera itu.

Kaito baru saja selesai memastikan bahwa merpati-merpatinya sehat dan baik-baik saja ketika menyadari bahwa ponselnya dan Shinichi juga mati karena kehabisan daya. Dengan segera dia mengecasnya dan menyalakannya.

Segera saja beberapa pesan masuk kedalam ponsel mereka. Ada lima belas pesan di ponsel Shinichi dan delapan panggilan tak terjawab dari Yukiko dan Yuusaku, sedangkan pada ponsel Kaito ada tujuh pesan dan tiga panggilan tak terjawab dari Chikage.

Dengan panik Kaito segera membuka pesan dari ibunya (yang untungnya baru dikirim satu jam yang lalu) dan menjawabnya sebelum berteleportasi kedalam kamar dan membawa Shinichi ke ruang kerja mereka berdua.

Untungnya, Kaito mengingat bahwa pantat Shinichi masih nyeri sehingga dia meletakkan bantal tebal di atas kursi sebelum menurunkan Shinichi di atasnya.

"Kaito? Ada apa?" tanya Shinichi dengan panik.

"Chichiue dan Hahaue mengirimimu pesan—Kaa-san juga mengirimiku pesan satu jam yang lalu, dia mengatakan akan kembali ke Jepang untuk mendengar masalahnya langsung dari kita berdua."

Shinichi membeku sebelum merampas ponselnya dan mengumpat ketika membukanya. "Kaa-san mengirimiku pesan dua hari yang lalu. Dia mengatakan akan kembali untuk memeriksaku dua jam yang lalu jika aku masih tidak menjawab pesannya." Dia menjelaskan sambil mengetik jawaban untuk Yukiko di ponselnya.

Kaito memijat pangkal hidungnya dan menghela napas lelah. "Aku sudah memberitahu Kaa-san agar tidak pulang lebih dulu karena waktunya tidak tepat—aku hanya berharap dia akan mendengarkanku kali ini."

Melihat Kaito yang stress, Shinichi menariknya turun untuk memeluknya erat tanpa mengatakan apapun. Kaito membalasnya sama eratnya sebelum mendesah panjang dan melepaskannya.

"Aku mengumpulkan kamera yang merpati-merpatiku gunakan selama siklus kita. Beberapa diantaranya masih kehabisan baterai, tapi beberapa yang lain masih tersisa sedikit." Ujar Kaito sambil melambaikan tangan pada kamera-kamera yang beberapa diantaranya masih dicas di ujung meja. "Kita harus memeriksa isinya jika tidak ingin menambah kamera lagi."

Kali ini giliran Shinichi yang memijat kepalanya ketika melihat lima belas kamera yang ada—masing-masing dengan penyimpanan penuh.

Mereka memasangkan lima kamera pada lima merpati Kaito. Masing-masing kamera memiliki penyimpanan dua puluh empat jam. Merpati Kaito hanya keluar untuk mengamati selama dua belas jam per hari dan adanya sepuluh kamera tambahan menandakan bahwa selama enam hari siklus mereka, merpati-merpati Kaito masih melakukan tugas mereka dan kini mereka harus memeriksa semua rekaman kamera yang ada.

"Ugh, aku merindukan program buatan Haibara dan Furuya-san." Shinichi mengerang. Dia meletakkan ponselnya setelah selesai memberitahu Yukiko alasan dia tidak membalas pesan mereka dan meminta agar mereka tidak kembali ke Jepang untuk saat ini. "Apa menurutmu Professor Agasa bisa membuatnya?"

"Aku sangat meragukannya. Jangan tersinggung, tapi Professor Agasa lebih pintar dalam membuat alat-alat canggih daripada program komputer." Kaito mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan, membuatnya semakin berantakan. "Sebaiknya aku mulai memeriksanya dari sekarang."

"Yeah. Aku akan memesan makanan, setelahnya aku akan membantumu." Ujar Shinichi sebelum menarik laptopnya. Kaito sendiri sudah menarik kursi lainnya dan menyalakan komputernya. "Kuharap kita berdua tidak melewatkan sesuatu…"

"Kuharap juga begitu, Shin-chan." Balas Kaito dan mulai bekerja untuk mengekstrak file dari kamera yang ada dan memeriksa isinya. Shinichi di sisi lainnya juga melakukan hal yang sama pada kamera lainnya.

.

.

.

Miyano Akemi adalah seorang wanita Omega biasa dengan sifat lembut.

Banyak orang meremehkan Omega yang memiliki sifat lembut seperti itu. Mereka semua merasa bahwa Omega yang memiliki sifat lembut hanyalah orang lemah dan tidak memiliki kemampuan.

Pemikiran seperti ini sangat menguntungkan para Omega dengan sifat lembut, karena walaupun mereka memiliki sifat lembut dan terkesan rapuh, ketika mereka memiliki sesuatu untuk dilindungi mereka bisa menjadi lebih kuat dan ganas daripada seorang Alpha.

Tapi walaupun begitu, tetap saja ada saat dimana Omega seperti ini harus tunduk pada kekuasaan yang jauh lebih kuat daripada puluhan Alpha.

Seperti yang terjadi pada Akemi sekarang.

Dia menginginkan kehidupan yang tenang untuknya dan juga adik kecilnya, Shiho. Tapi Shiho adalah anggota Organisasi yang sangat berharga, mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia tidak bisa melihat jalan keluar dari Organisasi Hitam.

Akemi tidaklah bodoh. Dia tahu bahwa keberadaannya disini adalah untuk merantai Shiho.

Dia sudah putus asa untuk waktu yang lama. Dia ingin berharap, tapi dia bahkan tidak memiliki orang yang dapat melindunginya dan Shiho dari Organisasi Hitam.

Jadi ketika Gin memberikannya misi untuk merampok uang sebesar sepuluh miliar yen dari salah satu bank terbesar di Jepang dengan imbalan kebebasannya dan Shiho, Akemi tahu bahwa itu adalah jebakan.

Tapi apa yang bisa dia lakukan selain berpura-pura putus asa untuk mencari jalan keluar dari Organisasi Hitam? Dia hanyalah anggota rendah yang bahkan tidak memiliki kode namanya sendiri. Apa yang bisa dia lakukan untuk menolak perintah dari Gin?

Akemi tahu bahwa waktu hidupnya tinggal sedikit lagi. Dia sudah berjalan diatas es tipis untuk waktu yang lama dan tidak lama lagi es itu akan hancur.

Karenanya, Akemi mulai menyembunyikan barang-barang berharga keluarga mereka. Dia ingin memastikan bahwa walaupun Organisasi Hitam membunuh Akemi, Shiho masih memiliki sesuatu untuk bertahan.

Mulai dari rekaman suara ibu mereka, jurnal ayah mereka, hingga surat-surat yang Akemi tulis dengan tangannya sendiri. Dia menyembunyikan semua itu di tempat-tempat yang hanya mereka berdua ketahui sambil berharap bahwa Shiho akan menemukannya suatu saat nanti.

"Meow."

Akemi secara otomatis berjengit dan berhenti berjalan sebelum menoleh ke arah suara. Dia kemudian bertatapan dengan seekor kucing hitam dengan mata biru yang sangat indah.

Kucing itu menatapnya dengan mata yang cerdas, seolah-olah kucing hitam itu melihat jiwanya dan mengetahui seluruh permasalahannya.

"Meow."

Akemi mengerjapkan mata dan tanpa sadar senyum kecil terbentuk di bibirnya. Dia berlutut dan dengan hati-hati mengusap kepala kucing itu. "Halo, kucing yang cantik."

Kucing itu tidak kabur, hanya menatapnya dengan mata birunya dan mengeong.

"Kau cantik sekali, dimana pemilikmu?"

"Meow." Kucing itu menoleh sekilas pada burung merpati yang bertengger di atas pohon tidak jauh dari mereka sebelum kembali menatapnya.

Akemi mendadak merasa bahwa kucing di depannya (juga seekor merpati tidak jauh dari mereka) bukanlah hewan biasa. Mereka seperti… memperhatikannya.

"Meow." Kucing di depannya berdiri dan menunjukkan sebuah amplop yang tertutupi oleh tubuhnya sebelumnya. Kucing hitam itu menatap Akemi, seolah-olah ingin Akemi mengambil amplop itu.

"Kau ingin aku membacanya?" tanya Akemi, dengan ragu mengambil amplop yang tergeletak di tanah. Amplop itu sedikit hangat setelah diduduki oleh kucing hitam yang kini menatapnya dengan… lembut?

"Meow." Kucing itu mengeong lagi sebelum mengangguk sekali dan berjalan pergi dengan langkah elegan.

Akemi menatapnya pergi dengan alis berkerut. Tangannya mengenggam erat amplop yang kucing itu tinggalkan dan secara perlahan dia kembali melanjutkan perjalanannya pulang.

Merpati yang sebelumnya memperhatikannya tetap mengikutinya dari kejauhan.

.

.

.

Shinichi mengubah bentuknya kembali menjadi manusia sebelum menghela napas panjang dan masuk kedalam pelukan Kaito yang sudah menunggunya.

Mereka menemukan Akemi.

Setelah hampir satu setengah hari penuh memeriksa rekaman kamera, akhirnya mereka melihat sosok Akemi yang sedang bersantai tidak jauh dari bank di pusat Tokyo.

Segera setelah mereka memeriksa rekaman lainnya, mereka menyadari bahwa Akemi beberapa kali juga terlihat di tempat yang sama. Wanita itu juga selalu kembali dengan arah yang sama, membuat Kaito dan Shinichi langsung menulis surat untuk diberikan pada Akemi.

Mereka membuat rencana cepat tentang bagaimana cara untuk menemui Akemi tanpa dicurigai.

Awalnya, Kaito ingin agar mereka bertemu dengan Akemi secara tidak sengaja, membuat kekacauan, kemudian meminta maaf dan memintanya untuk membantu mereka membereskan kekacauan yang terjadi. Tapi Shinichi menolaknya dengan mengatakan bahwa mereka masih dianggap 'hilang' oleh teman-teman mereka. Akan ada kemungkinan bahwa salah satu teman mereka melihat dan menggagalkan pembicaraan mereka.

Jadi mereka membuat rencana baru dimana Shinichi akan menemui Akemi sebagai kucing dan memberikan surat yang mereka buat, lalu merpati Kaito akan mengawasi Akemi hingga mereka bisa memalsukan kematian wanita itu.

Kaito tidak senang dengan ini, tapi dia mengerti pentingnya hal ini, jadi dia menutup mulutnya dan bersembunyi di balik bayangan hingga Shinichi kembali.

"Kuharap mereka baik-baik saja…" gumam Shinichi. "Snake sudah ditangkap dan KID tidak lagi melakukan heist. Tidak ada lagi 'Edogawa Conan' dan Gin tidak pernah menggunakan APTX 4869 pada seseorang, tapi aku khawatir…"

"Butterfly effect… menurutmu apakah kita masih bisa 'melihat' apa yang akan terjadi jika kita menuliskannya dan memikirkan sebab akibatnya?" tanya Kaito.

Butterfly effect adalah istilah untuk menggambarkan sebuah perubahan kecil yang memberikan dampak besar dalam jangka panjang untuk suatu peristiwa.

Mereka berdua sudah mengetahui masa depan. Mereka mengetahui apa yang terjadi. Sekarang, jika mereka mengubah beberapa hal, bisakah mereka menuliskan perkiraan kejadian yang mungkin terjadi akibat perubahan yang mereka lakukan?

Shinichi mengerjapkan mata. "Secara teori, itu tidak mungkin. Mustahil mengetahui apa yang akan orang lain lakukan dan katakan, walaupun jika kau membuatnya dalam skala kecil—seperti apa yang mungkin Organisasi Hitam dan rekan kita lakukan, kita mungkin bisa 'melihat' apa yang akan terjadi."

"Hmm… aku akan mencobanya. Apa kau keberatan jika aku memasang papan perencanaan di ruang kerja kita? Dan aku akan memberitahumu lebih dulu; papan perencanaan yang akan kupasang tidaklah kecil."

Shinichi menggeleng. "Aku akan membantumu. Pada tahap ini aku punya lebih banyak pengalaman ketika berurusan dengan mereka."

Kaito cemberut dan menjentikkan jari, membuat lemari di ruang kerja mereka berpindah dan digantikan oleh papan perencanaan yang sangat besar. Besarnya bahkan hampir memenuhi seluruh dinding itu. "Lebih baik kita membuat dua sudut pandang, Shin-chan. Antara KID dan Conan, kita berdua sama-sama diincar oleh mereka."

"Huft, kau benar. Haaah, baiklah. Ayo kita mulai sekarang. Apa kau punya Post-it Note?" tanya Shinichi dan Kaito lagi-lagi hanya menjentikkan jari, memunculkan Post-it Note dan juga alat tulis (dengan paku dan juga benang merah, biru, putih dan hitam). Shinichi mengangkat alis ketika melihat empat warna benang itu.

"Merah untukmu, biru untukku. Hitam untuk apa yang terjadi di masa lalu dan putih untuk apa yang kemungkinan akan terjadi."

Shinichi hanya mengangguk dan mengambil benang merahnya. Dia berpikir beberapa saat sebelum mulai menulis—mulai dari kelahiran Conan di masa lalu hingga kematian mereka—dan menempelkannya di papan perencanaan. Dia juga mencatat beberapa orang yang gagal diselamatkannya di kehidupannya sebagai Conan, seperti Asou Shiji, Miyano Akemi, Hattori Heiji, Hakuba Saguru, Mouri Ran, Nakamori Ginzo, Nakamori Aoko, Miyamoto Yumi, Chiba Kazunobu, Akai Shuuichi, Sera Masumi, Furuya Rei, Andre Camel, dan lainnya.

Kaito di sisi lain juga melakukan hal yang sama dengan benang birunya. Dia juga menambahkan catatan, foto (Shinichi tidak akan bertanya dari mana Mate-nya itu mendapatkan foto-foto itu) dan juga beberapa lokasi heist-nya di masa lalu.

Mereka bekerja dalam diam hingga Shinichi angkat suara. "Menurutku kita harus membawa ini semua ke kediamanku. Aku ingat Tou-san membuat tiga ruang bawah tanah untuk bersembunyi dari editornya. Salah satunya lebih luas dari ruangan ini. Kita bisa lebih leluasa. Terlebih lagi, aku yakin Tou-san punya satu lemari yang penuh tentang catatan KID."

Kaito mengerjap. "Rumahmu juga punya ruangan rahasia?"

"Uh, yeah? Kau tidak pernah melihatnya dan aku tidak pernah mengatakannya karena…" pada saat itu mansion Kudo sudah rata dengan tanah.

Kaito berjengit, "oh… oke. Kita juga harus membuatnya dalam kode—untuk berjaga-jaga."

"Yeah, kita tidak tahu kapan badai akan datang."

Dengan itu, Kaito dan Shinichi kembali bekerja—kali ini mencatat semuanya menggunakan kode yang hanya mereka berdua ketahui.

.

.

.

Secara mengejutkan, Kaito dan Shinichi berhasil menahan kepulangan orang tua mereka hingga satu bulan penuh. Mereka juga berhasil membuat berbagai rencana cadangan untuk bekerja sama dengan orang tua mereka (yang pasti akan membantu Kaito dan Shinichi) ketika mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Selama satu bulan itu, Kaito dan Shinichi menyibukkan diri untuk membuat papan perencanaan di dua lokasi sekaligus (ruang kerja di apartement mereka di Hokkaido dan ruang bawah tanah mansion Kudo), memata-matai Akemi dari jauh (dengan merpati Kaito dan perubahan Shinichi), dan mencari lokasi markas Organisasi Hitam.

Mereka berdua bahkan berhasil mencegah Asou Shiji melakukan pembunuhan dan juga mengagalkan transaksi senjata Organisasi Hitam. Mereka juga akhirnya mendapatkan kabar baik dari kepolisian Jepang (lebih tepatnya Kaito berhasil mendapatkan informasi dari dalam kepolisian)—bahwa Snake kini sudah mati secara misterius—yang ternyata sebenarnya disembunyikan PSB untuk diserahkan pada MI6.

Kaito juga akhirnya memberi informasi pada Nakamori-keibu tentang keadaan Kaito—tidak banyak, hanya pesan singkat yang mengatakan bahwa Kuroba Kaito saat ini sedang berada di luar Jepang bersama ibunya.

Akemi sendiri kini menyadari keberadaan mereka berdua. Omega itu terkadang melirik merpati Kaito yang mengikutinya dan tersenyum pada Shinichi yang berubah menjadi kucing.

Dari pergerakan dan apa yang Akemi katakan pada Shinichi si kucing hitam (yang mereka beri nama Doyle), Omega itu hampir berhasil menyelesaikan misinya dan Gin akan segera membunuhnya.

Kaito dan Shinichi sudah mempersiapkan semuanya untuk menyelamatkan Akemi. Mulai dari kulit palsu untuk leher dan pergelangan tangan hingga baju anti peluru yang bagian luarnya dapat diisi dengan darah palsu.

Shinichi bahkan melatih sihir telekinesisnya untuk menghentikan peluru dalam jarak yang sangat pendek.

Sayangnya, baik Kaito maupun Shinichi tidak dapat 'menggantikan' Akemi, karena Gin pasti akan menyadari perubahan feromon dan aroma Akemi. Jadi yang dapat mereka lakukan adalah mempersiapkan perlindungan untuk Akemi.

Mereka juga memasang dua merpati dengan kamera live untuk mengikuti Akemi, sehingga ketika Akemi dalam bahaya mereka bisa segera menolongnya.

"Shin-chan, apa menurutmu Gin masih akan menembaknya?" tanya Kaito tiba-tiba. Tatapannya tidak lepas dari layar komputer yang menampilkan rekaman live dari kedua merpatinya yang mengikuti Akemi.

Shinichi mengerjap dan melangkah mendekat, "… aku tidak tahu." Ujar Shinichi dengan ragu. "Selama aku berhadapan dengannya, aku dipenuhi ketakutan hingga tidak bisa memprediksi apa yang akan dia lakukan…"

Kaito menarik tangan Shinichi dan melepaskan feromonnya, mencoba menenangkan Mate-nya yang tertekan ketika mengingat pertemuannya dengan Gin. "Tidak apa-apa, Shin-chan. Aku disini."

Shinichi menarik napas panjang dan memejamkan mata, mencoba menghilangkan bayangan Gin yang mengarahkan pistol padanya dan orang-orang yang dicintainya. "APTX 4869 sejauh ini belum di uji coba… ada kemungkinan Miyano-san akan menjadi kelinci percobaan pertama Gin."

"Shit, berapa persen kemungkian Gin melakukannya?"

"Kurang dari 20 persen, kurasa. Gin membenci pengkhianat. Dia akan menembak siapapun yang mengkhianati Organisasi tanpa ragu. Miyano-san sudah dianggap menjadi pengkhianat sekarang—tunggu, Kaito, kita harus segera menemui Miyano-san sekarang!"

Kaito dengan cepat menoleh dan menatap layar komputernya yang menunjukkan sosok Akemi sedang berjalan sendirian di gang sempit. "Shit! Jangan bilang sekarang adalah waktunya?" umpatnya, dengan segera memeriksa koordinat Akemi dan langsung membawa Shinichi dan dirinya ke tempat Akemi berada.

Mereka muncul di balik tumpukan kargo, tersembunyi oleh bayangan hingga orang luar tidak dapat melihat mereka.

"Aku akan menariknya kesini. Apa kau membawa peralatannya?"

Shinichi mengangkat tas yang mereka siapkan untuk Akemi dan mengangguk.

Kaito balas mengangguk dan bersiap ketika mendengar suara langkah kaki mendekati tempat persembunyian mereka. Dia memperhatikan Akemi melangkah dengan perlahan, seolah-olah ingin mengulur waktu.

Ketika Akemi sudah dekat dengan tempat persembunyian mereka, Kaito dengan segera menariknya dan membekap mulut wanita itu, secara efektif meredam jeritan kagetnya.

"Shh! Miyano-san, ini kami." Bisik Shinichi ketika Kaito melepaskan bekapannya. "Kami datang membantumu."

Akemi menatap Kaito dan Shinichi bergantian dengan mata terbuka lebar. "Oh… oh…" bisik wanita itu, tatapannya penuh dengan ketidakpercayaan dan juga harapan. "Terima kasih…"

"Kita belum menyelesaikan ini, Miyano-san. Dan kami benar-benar minta maaf karena kami tidak bisa menyamar menjadi dirimu. Sejauh yang kutahu, Gin akan menyadari ada yang berbeda dengan aromamu jika salah satu dari kami menggantikanmu." Shinichi mengenggam tangan Akemi dengan erat. "Tapi kami bisa membantumu memalsukan kematianmu di tangan mereka."

Kaito menjentikkan jari dan dengan segera baju anti peluru dan juga kulit palsu terpasang di tubuh Akemi. Dia menjelaskan dengan sekilas kegunaan dan apa yang harus Akemi lakukan, lalu memeriksa ulang karyanya sebelum membiarkan Akemi kembali keluar.

Semuanya dilakukan dalam waktu kurang dari dua menit, membuat Shinichi mengigit bibir bawahnya dengan khawatir.

"Semua akan baik-baik saja, kita sudah melakukan apa yang kita bisa." Bisik Kaito di sampingnya ketika mereka melihat Akemi berjalan mendekati tempat pertemuannya dengan Gin.

Mereka berdua mengikuti wanita itu diam-diam dari jarak aman, memastikan bahwa Gin maupun Vodka tidak akan menyadari keberadaan dua orang tambahan yang membantu Akemi.

"Aku tahu, tapi aku berharap kita bisa melakukan lebih dari ini… seperti menangkap Gin dan Vodka…"

"Kau tahu bahwa kita tidak bisa melakukan itu. Kita bahkan belum mengetahui siapa sebenarnya Anokata yang mereka sebut."

Shinichi menutup matanya dan mengenggam tangan Kaito erat-erat. "Yeah. Aku harap semuanya baik-baik saja…"

Mereka melihat Akemi yang berdiri dengan gang sempit di belakang punggungnya dan Gin yang menodongkan pistol ke arah Akemi. Mereka berbicara dan secara tiba-tiba Vodka muncul dan memukul Akemi dari belakang.

Kejadian itu sama persis seperti yang pernah dialami Shinichi ketika di Tropical Land, membuatnya menarik napas tajam dengan ketakutan yang merambat di punggungnya. Dia meremas tangan Kaito erat-erat dengan khawatir dan berdoa pada siapapun yang mendengar bahwa Akemi tidak akan mengalami apa yang Shinichi lalui di masa lalu.

Tentu saja, keberuntungannya tidak sebaik itu.

Gin berjongkok di depan tubuh Akemi dan menjambak rambutnya dengan kasar, sedangkan Vodka mengambil koper dari dalam mobil Porsche 356A hitam yang diparkir tidak jauh dari sana.

Mereka berdua tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dan mereka juga tidak dapat membaca gerakan bibir Gin karena tertutup bayangan. Yang mereka berdua ketahui, Vodka membuka koper yang dibawanya dan membiarkan Gin mengambil sebuah tabung cairan dari dalamnya.

Tubuh Akemi memberontak lemah, tapi Gin menjambak rambut wanita itu hingga mendongak dan meminumkan cairan itu dengan paksa setelah mengatakan sesuatu.

Kali ini, Shinichi dan Kaito sama-sama bisa melihat seringai kejam Gin dan apa yang pria itu katakan sebelum menendang Akemi seolah-olah wanita itu adalah seonggok sampah.

'Padahal kau sudah memakai baju anti peluru, sayang sekali, kami tidak berniat menembakmu kali ini.'

Kaito membekap bibir Shinichi untuk mencegahnya mengeluarkan suara. Mereka berdua membeku dan menahan napas, menunggu Gin dan Vodka benar-benar pergi sebelum berlari mendekati Akemi.

Setelah mereka berdua yakin bahwa Gin dan Vodka sudah meninggalkan tempat itu, mereka berdua langsung berteleportasi ke sebelah Akemi dan mengenggam tangannya.

"Miyano-san! Kau bisa mendengarku?! Bertahanlah!" tubuh mulai Shinichi bergetar hebat, membuat Kaito mengepalkan giginya dan mencoba tetap tenang demi dua Omega di depannya. "Miyano-san!"

"Shinichi, kita harus membuatnya memuntahkan racunnya!"

Shinichi terlihat hampir menangis dan mengalami serangan panik, jadi Kaito mengangkat sedikit tubuh Akemi dan mulai menekan perut dan tenggorokan gadis itu.

Akemi terbatuk dan muntah, tapi tubuhnya mulai kejang-kejang dan suhu tubuhnya meningkat tinggi. Asap mulai terbentuk dan Kaito hanya memiliki sedikit waktu untuk memeluk Shinichi dan menutupi kedua telinga Omeganya ketika jeritan penuh kesakitan Akemi mulai terdengar.

Mereka berdua tahu reaksi APTX 4869 tidaklah lama, tapi mereka berdua sama-sama tidak berani menoleh ke arah Akemi berada sebelumnya karena khawatir bahwa wanita itu sudah menghilang tanpa jejak.

Shinichi gemetar di dalam pelukan Kaito dan air mata mulai menetes membasahi pipinya, sepenuhnya terkena serangan panik. Bibirnya terus menerus menggumamkan 'tidak' dan 'kenapa aku tidak bisa menyelamatkannya?' lagi dan lagi.

Kaito mengigit bibrinya dan menahan air mata yang berkumpul di pelupuknya. Shinichi lebih membutuhkannya sekarang dan dia tidak bisa ikut panik disini. Dengan perlahan dia menangkup pipi Shinichi dan mencoba membawanya untuk melihatnya. "Shinichi, Mate, lihat aku. Hey,"

Tatapan Shinichi tidak fokus dengan air mata yang terus menerus menetes dan tangan yang mencengkram baju Kaito hingga jarinya memutih, membuat hati Kaito berdenyut sakit ketika melihatnya. Ikatan mereka juga penuh dengan kesakitan dan penyesalan hingga Alpha Kaito ingin meraung dan menghancurkan apapun yang membuat Omeganya tertekan seperti ini.

Dia mendorong keinginan itu dan kembali mencoba mengambil fokus Shinichi ketika sebuah tangisan pelan terdengar dari sampingnya. Kaito membeku, tapi Shinichi langsung menoleh dengan sangat cepat hingga Kaito khawatir lehernya akan sakit.

"Mi-miyano-san?" bisik Shinichi, seolah-olah masih tidak percaya. Ini membuat Kaito ikut menoleh dan melihat tumpukan baju Akemi dengan gadis kecil didalamnya. Melihat tingginya, Kaito berasumsi bahwa Akemi menyusut menjadi anak berusia 9 tahunan.

Akemi tidak menjawab, hanya terisak pelan dengan tubuh gemetar. Gadis itu bahkan tidak membuka matanya, jatuh pingsan dengan penuh rasa sakit akibat perubahan yang tubuhnya rasakan.

Shinichi melepaskan Kaito dan langsung membawa tubuh kecil Akemi kedalam pelukannya seperti seorang ibu yang tidak ingin kehilangan anaknya. "Kaito, Alpha, dia masih hidup! Hiks, dia masih hidup!"

Kaito dengan segera menarik napas lega dan membawa Shinichi yang kini terisak dan juga Akemi kedalam pelukannya sebelum berteleportasi ke kamar tamu di mansion Kudo. Dia meletakkan Akemi dan Shinichi yang masih memeluk Akemi erat-erat ke atas kasur sebelum menarik selimut untuk menutupi mereka berdua. Setelahnya, dia turun untuk mengambil baskom dan kompres untuk mengompres Akemi.

Dia kembali tidak lama kemudian dan mencoba mendekati Akemi, tapi berhenti ketika Shinichi menggeram. "Shinichi, hey, aku tahu kau tidak ingin melepaskannya dan insting Omegamu sedang tidak terkontrol, tapi kita harus mengganti pakaiannya dan membersihkan tubuhnya. Kepalanya juga terluka, kita harus mengobatinya."

Shinichi menatapnya dengan waspada, tapi Kaito tahu bahwa Matenya itu tidak akan menyakiti Alphanya sendiri, jadi dia tetap tenang dan menunggu.

Secara perlahan, geraman Shinichi berhenti dan digantikan dengan rengekan pelan.

Kaito dengan perlahan melangkah mendekat dan mulai melepaskan pakaian Akemi (mencoba mengabaikan bahwa mereka berdua laki-laki dan Akemi adalah seorang wanita dewasa beberapa jam sebelumnya) untuk membersihkan tubuhnya. Dia juga mengobati luka di belakang kepala gadis itu sebelum memakaikan pakaian yang lebih pas di tubuhnya.

Setelahnya, dia membiarkan Shinichi kembali memeluk Akemi dan memeriksanya sendiri beberapa kali—persis seperti induk anjing. Kaito sendiri kembali berteleportasi untuk meletakkan pakaian Akemi di tempat sebelumnya. Dia mengaturnya seolah-olah Akemi sudah menguap tanpa sisa, kemudian setelah memastikan beberapa kali bahwa tidak ada kamera di sekitar sana, Kaito kembali ke mansion Kudo dan ikut masuk kedalam selimut tempat Matenya berada.

Shinichi mulai mendengkur dan mengeluarkan feromon menenangkan, membuat ketegangan yang Kaito rasakan tanpa sadar mengendur. Ikatan mereka kini juga penuh dengan afeksi dan kelegaan, membuat Kaito menghembuskan napas dan memeluk perut Shinichi dari belakang dan mendusel tengkuknya.

Insting Alpha dan Omega mereka puas dengan itu sampai tertidur dalam rasa lega.

.

.

.

Ketika mereka bangun, hari sudah beranjak malam.

"Shinichi, ayo bangun dan makan malam." Bisik Kaito sambil menepuk lengan Shinichi. Dia bangkit dan meregangkan tubuh sebelum membantu Shinichi melepaskan Akemi dari pelukannya.

"Ugh, wajahku lengket dan mataku sakit."

Kaito hanya mendengus lembut. "Kau menangis dan insting Omegamu mengambil alih. Ayo kita bersihkan matamu dan aku akan membuat makan malam. Miyano-san belum bangun, tapi kurasa kita bisa membiarkannya tidur lebih lama."

Shinichi mengangguk dan bangkit setelah meregangkan tubuhnya hingga tulang punggungnya berbunyi.

Mereka membersihkan diri dan makan malam dengan tenang hingga Shinichi mulai mengulang kembali kejadian hari ini.

"Shin-chan?" tanya Kaito, terkejut dengan emosi takut dan tertekan dari ikatan mereka. Dia segera bangkit dan menangkup kedua pipi Shinichi. "Ada apa?"

Shinichi menarik napas dalam-dalam dan balas menatap Kaito. "Aku kena serangan panik dan membiarkan insting Omegaku mengambil alih."

Kaito mengingat kejadian sebelum ini dengan sangat jelas dan dia juga mengetahui ketakutan Shinichi, jadi dia mengangguk dan mencoba menenangkan Matenya itu. "Yeah, kau gemetaran dan terus menangis."

"… rasanya menakutkan, aku tidak bisa berpikir dan kepalaku kosong." Bisik Shinichi dengan frustasi. "Aku tidak bisa begini… jika suatu saat kita bertemu dengan Gin dan aku terkena serangan panik seperti tadi…"

"Hush, Shin-chan, Omegaku, Mateku, jangan berpikir seperti itu." Kaito menempelkan dahi mereka dan mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi Shinichi. "Kau tidak bisa menahan emosimu seperti itu. Trik itu bisa menyebabkan peningkatan stres dan kecemasan. Apa kau ingat apa yang Ilmuan-san katakan padaku saat aku melakukannya?"

Shinichi ingat. Dia ingat amukan Haibara pada Kaito yang sering menahan emosinya sendiri, menyimpannya hingga menumpuk tinggi dan berujung pada kesakitan pada ikatan mereka berdua.

Sejak saat itu, mereka berdua berjanji untuk menahan emosi di saat-saat tertentu saja dan akan segera melepaskannya ketika mereka berada di tempat yang lebih aman.

"Keluarkan, Shinichi, aku disini. Jangan menahannya lagi."

Ucapan itu membuat air mata yang sejak tadi berkumpul di pelupuk Shinichi menetes. Dengan putus asa dia memeluk Kaito dan menangis terisak. Samar-samar, dia menyadari bahwa Kaito melakukan hal yang sama dan balas memeluknya erat-erat.

Makan malam yang baru dimakan separuh terlupakan. Mereka sibuk mengeluarkan emosi negatif yang memenuhi hati dan pikiran mereka selama tiga setengah bulan ke belakang. Mereka menangis hingga wajah tenggorokan mereka sakit dan mata mereka bengkak.

"Kita harus menemukan Ilmuan-san sebelum dia memutuskan untuk meminum APTX 4869." Ucap Kaito ketika mereka berpelukan di atas sofa ruang tamu mansion Kudo. Suaranya serak setelah menangis entah berapa lama.

"Di masa lalu, Haibara datang ke rumah Professor Agasa kurang lebih sebulan setelah Miyano-san meninggal." Bisik Shinichi. Suaranya lebih serak dari Kaito, membuat Alpha itu menjentikkan jari dan memberikan air minum untuk Shinichi yang langsung menerimanya dengan penuh syukur.

"Kurang lebih sebulan, kalau begitu. Kita juga bisa bertanya pada Miyano-san saat dia sadar. Jika kita beruntung, Miyano-san tahu dimana Ilmuan-san berada dan kita bisa menjemputnya layaknya Cinderella~"

Shinichi memutar mata dengan sayang. "Yeah, kita mungkin juga bisa menemukan data penting Organisasi Hitam… tapi untuk sekarang, ayo biarkan Miyano-san beristirahat."

"Dan kita juga perlu istirahat, Shin-chan! Kau mau disini atau di kamar?"

"Kamar." Jawab Shinichi, hampir mendesis ketika membayangkan mereka tidur di atas sofa yang tidak nyaman.

Kaito hanya mendengus geli dan mengangkat Matenya ke arah kamar mereka berdua.

Yang dapat mereka lakukan sekarang hanyalah menunggu.

.

.

.

Sayangnya, Akemi sama sekali tidak bangun hingga keesokan harinya.

Awalnya mereka berpikir bahwa itu adalah hal yang normal—karena tubuh Omega Akemi yang kelelahan. Gadis kecil itu mengalami demam ringan, tetapi selain itu tidak ada yang salah.

Tapi ketika Akemi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sadar pada hari berikutnya, Kaito dan Shinichi mulai khawatir. Mereka ingin membawa Akemi ke rumah sakit, tapi mereka belum membuat identitas gadis kecil itu dan mereka juga tidak bisa tiba-tiba muncul di rumah sakit dengan seorang gadis kecil—sekalipun dengan penyamaran.

"Kai, bagaimana dengan Professor Agasa?" tanya Shinichi pada Kaito. Tangannya mengusap kening Akemi yang hangat, mencoba memberinya kenyamanan. "Aku tidak tahu apa professor Agasa bisa membantu atau tidak, tapi setidaknya dia lebih berpengalaman daripada kita dalam hal medis."

Kaito dengan cepat menyetujuinya dan membawa Akemi kedalam tangannya. Mereka akan menggunakan jalan rahasia yang Yuusaku bangun beberapa tahun yang lalu dan masuk kedalam rumah Agasa.

'Semoga professor sedang ada di rumahnya.' Shinichi berdoa dalam hati. Dia benar-benar khawatir dengan Akemi dan sisi Omeganya mulai memberontak ketika menyadari ada yang salah dengan Akemi.

Untungnya, Professor Agasa memang sedang berada di rumah. Pria itu baru saja selesai membuat kopi ketika melihat Kaito dan Shinichi di dalam rumahnya.

Untuk sesaat, pria tua itu terkejut hingga hampir menjatuhkan cangkir kopinya. "Shinichi-kun! Bagaimana caramu masuk kesini?! Tidak lupakan itu—kemana saja kau? Dan siapa dia? Dia mirip sekali denganmu!"

"Professor!" Shinichi menarik napas lega. Dia memiringkan badan agar Agasa dapat melihat Akemi di dalam gendongan Kaito. "Kami butuh bantuanmu!"

Agasa mengerjapkan mata dan menatap Kaito dan Shinichi bergantian. Mata pria tua itu menyipit pada tanda mating yang terlihat di leher mereka dan dengan serius berkata "setelah ini, kalian harus menjelaskan hal ini padaku." Sebelum berbalik dan menyuruh mereka berdua masuk kedalam labnya.

.

.

.

Professor Agasa bukanlah ahli medis, tapi dia masih bisa mendeteksi gejala penyakit ringan dan membuat obatnya. Karenanya, dia langsung mengetahui bahwa tubuh Akemi mengalami dehidrasi dan kelelahan akibat stress.

"Aku yakin kalian memberinya minum yang cukup, tapi gadis kecil ini harus di infus agar air yang masuk dapat segera diolah oleh tubuhnya. Dia juga menunjukkan tanda-tanda stress. Biarkan dia beristirahat dan dia akan baik-baik saja." Pria tua itu menjelaskan sambil menginfus tangan Akemi.

Sebuah keberuntungan karena Kaito bisa menggunakan sihir. Mereka bisa memberi infus pada Akemi tanpa harus membelinya di rumah sakit.

"Sekarang, jelaskan apa yang terjadi. Dan tidak, Shinichi-kun. Kau tiba-tiba menghilang tanpa dapat dihubungi sejak tiga setengah bulan yang lalu dan kau hanya mengirimiku pesan suara dari nomor tidak dikenal! Ran-chan sangat khawatir dan aku bahkan tidak bisa menghubungimu lagi, lalu sekarang kau tiba-tiba kembali dengan seseorang yang mirip denganmu, seorang Alpha, dan sekarang kau memiliki tanda mating di lehermu!"

Shinichi berjengit di tempatnya ketika mendengar suara yang dipenuhi kekhawatiran dan amarah itu. Dia tidak pernah membayangkan Professor Agasa yang biasanya berkepala dingin bisa marah padanya. Lebih lagi, itu dilakukan atas kekhawatiran untuknya. Kedua orangtuanya bahkan tidak pernah khawatir seperti ini.

"Professor…" bisik Shinichi dengan penuh penyesalan. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap pria tua yang sudah seperti kakeknya sendiri itu.

Agasa menghela napas panjang. "Rahasia sebesar apa yang membuatmu memasang ekspresi seperti itu, Shinichi-kun? Apa aku tidak bisa mengetahuinya?" tanyanya dengan lebih lembut.

Dia tidak buta dan dia dapat melihat ekspresi stress juga ketakutan dan duka kedua pemuda didepannya ini. Shinichi-kun, anak yang sudah dianggapnya cucunya sendiri dan tidak pernah menangis sebelumnya kini memasang ekspresi hampir menangis dengan tatapan penuh kesedihan. Pemuda disampingnya—Kaito-kun, juga memasang ekspresi yang sama.

Seolah-olah mereka melihat orang yang mereka cintai pergi selamanya.

Shinichi-kun merapatkan bibir dan Kaito-kun mengenggam tangan Shinichi erat. Mereka berdua masih tetap menutup bibir dan hampir membuat Agasa menyerah untuk meminta penjelasan dari dua pemuda itu ketika Shinichi-kun mulai angkat suara.

"Professor… ini akan terdengar sangat gila dan mustahil, tapi kumohon, kumohon, dengarkan kami…"

Agasa mengerjapkan mata, terkejut dengan suara penuh dengan keputusasaan itu. Apapun yang membuat Shinichi menjadi seperti ini, itu pasti adalah sesuatu yang sangat besar. "Baiklah, Shinichi-kun."

Dengan itu, penjelasan mulai mengalir dari bibir Shinichi-kun, terkadang Kaito-kun juga ikut menambahkan dan semakin Agasa mendengarnya, semakin dia sulit mempercayainya.

Tapi jika yang mereka katakan itu benar (dan mereka pasti mengatakan yang sesungguhnya. Ekspresi muram dan tatapan penuh duka itu tidak dapat dipalsukan), maka ini menjelaskan apa yang terjadi pada Shinichi-kun tiga setengah bulan ke belakang dan keberadaan gadis kecil yang masih tertidur di labnya.

Perjalanan waktu adalah hal yang mustahil. Sihir juga tidak dapat dijelaskan dengan logika. Racun yang memiliki efek samping mengecilkan tubuh? Agasa bisa mempercayainya. Tapi bagaimana dengan perjalanan waktu dan sihir?

Agasa menyadari bahwa dirinya masih sulit untuk mempercayai keberadaan sihir dan juga perjalanan waktu, sekalipun Shinichi-kun dan Kaito-kun menunjukkannya di depan matanya.

Dia menghembuskan napas dan memijat pangkal hidungnya. "Biarkan aku meringkasnya. Jadi kalian… dikalahkan dan tanpa sengaja kembali dari masa depan, sepuluh tahun di masa depan, dimana semuanya menjadi korban dari Organisasi Hitam yang mengincar kalian, karena sebuah permata bernama Pandora yang kabarnya hanya mitos—permata yang selama ini dicari oleh Kaitou KID—lalu terbangun di waktu ini, kemudian memutuskan untuk bersembunyi sekalipun Organisasi Hitam belum pernah bertemu dengan kalian. Apa aku meringkas ini dengan benar?"

"Yeah, Professor, kau meringkasnya dengan benar." Shinichi mengangguk dengan perlahan.

"Kau melupakan bahwa alasan kami bersembunyi bukan hanya karena itu saja. Kami… di masa lalu, banyak teman-teman kami yang menjadi korban. Mengetahui bahwa mereka sekarang hidup dan bernapas… itu menyakitkan, karena terakhir kali kami melihat mereka… tidaklah indah." Kaito menambahkan dengan penuh duka.

Agasa menatap mereka bergantian, lalu dengan hati-hati berkata "tapi kalian tidak bisa terus menerus melarikan diri. Suatu saat kalian harus kembali dan menjelaskan apa yang terjadi… dan, jujur saja, aku tidak bisa memikirkan cerita seperti apa yang akan menjadi alasan kalian. Terutama mengenai tanda mating kalian berdua."

Kedua pemuda di depannya mengerjapkan mata dan menatapnya dengan bingung.

"Ran-chan mengetahui bahwa Shinichi-kun mating dan bonding dengan seorang Alpha. Sepertinya saat itu dia berniat memeriksamu karena mengingkari janji, Shinichi-kun. Sesuatu seperti pergi ke Tropical Land…?"

"…"

"…"

"…"

"Shit." Umpat Kaito-kun dan Shinichi-kun bersamaan.

Agasa lagi-lagi menghembuskan napas dan melihat jam, membuatnya menyadari bahwa hari sudah sore. "Aku akan memeriksa Miyano-san, jadi bisakah kalian memesan makanan untuk makan malam?"

"Tentu, Professor." Jawab Kaito-kun.

Agasa mengangguk dan tersenyum kecil, kemudian pergi untuk memeriksa keadaan Akemi.

.

.

.

Pada akhirnya, Akemi terbangun setelah hampir dua hari penuh terlelap.

Gadis kecil itu langsung menangis ketika menyadari keadaannya sekarang. Tangisannya itu dipenuhi kelegaan dan juga kesedihan, membuat Shinichi mengusir Kaito dan Professor Agasa keluar dari ruangan Akemi.

Omega itu menunggu Akemi hingga selesai menangis sambil mengusap-usap punggung gadis kecil itu.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku, Kudo-kun." Bisik Akemi dengan serak.

Shinichi hanya tersenyum kecil dan membantunya minum sebelum berfokus pada tujuannya. "Tidak masalah, Miyano-san. Haiba—Shiho adalah temanku, hampir seperti saudariku sendiri."

Mendengar nama itu, Akemi tersentak dan menatap Shinichi dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Whoa, tenang, Miyano-san. Kami akan menjelaskannya, janji. Tapi kita harus menyelamatkan Shiho lebih dulu. Apa kau tahu dimana dia berada sekarang? Rumahnya? Labolatoriumnya?"

Akemi menatapnya beberapa saat, kemudian secara perlahan menggeleng. "Aku tidak tahu tempat pastinya, Kudo-san."

"Tapi kau bisa mempersempit lokasi pencariannya. Kami ingin menyelamatkan Shiho, Miyano-san. Tolong, percayai kami," Shinichi menatap Akemi tepat di matanya, membuat gadis itu tertegun sebelum mengangguk.

"Aku tidak tahu lokasi pastinya, tapi Shiho-chan selalu berkata bahwa dia harus pergi ke Chūō. Terkadang ke Arakawa atau Shinjuku. Setiap kali aku mengajaknya kesana, dia hanya menatapku dengan muram dan menolak."

"Hm, yang paling sulit adalah Shinjuku. Kita butuh waktu… apa Shiho pernah mengatakan sesuatu tentang lokasinya? Seperti apakah dia bekerja disamping matahari atau dibawah kegelapan?" tanya Shinichi, secara tidak langsung bertanya apakah Haibara bekerja di atas permukaan tanah yang masih bisa tersentuh cahaya matahari, atau dia bekerja di bawah permukaan tanah yang tidak dapat tersentuh cahaya matahari?

Akemi terdiam beberapa saat sebelum berkata dengan hati-hati. "Kulit Shiho selalu lebih pucat dariku, seperti tidak pernah tersentuh kehangatan. Tapi dia tidak pernah mengatakan apapun."

Tepat setelah gadis itu mengatakannya, pintu ruangannya terbuka dan menunjukkan Professor Agasa dibaliknya dengan nampan di kedua tangannya. "Kau harus makan dan mengisi perutmu."

"Miyano-san, ini Professor Agasa, dialah yang membantuku merawatmu." Shinichi mengenalkan. "Aku tahu ini mendadak, tapi kau dan Hai—Shiho akan tinggal dengannya setelah ini."

Professor Agasa hanya tersenyum kecil mendengarnya. Dia meletakkan nampan berisi makanan yang dibawanya ke atas meja di samping tempat tidur, kemudian memeriksa Akemi. "Jangan pikirkan itu untuk sekarang, Miyano-chan. Kita bisa membicarakannya lagi setelah menyelamatkan adikmu."

Shinichi memperhatikannya bekerja dan Akemi yang mulai makan dengan perlahan. "Miyano-san, apakah aku bisa meninggalkanmu bersama Professor Agasa? Aku akan mulai mencari lokasi Shiho bersama Kaito."

Akemi hanya mengangguk. "Tolong beritahu aku jika kau memiliki petunjuk… aku akan membantu setelah Professor-san mengizinkanku turun dari tempat tidur."

Shinichi mengerjap, dia tidak menyangka Akemi akan mendengarkannya dengan mudah.

"Dengan kondisi tubuhku sekarang, aku hanya akan menghalangi kalian. Kalian berhasil menyelamatkanku, jadi aku akan mempercayai kalian untuk menyelamatkan Shiho-chan." Akemi menjelaskan ketika melihat tatapan bingung Shinichi.

"Oh… aku akan berusaha, Miyano-san." Shinichi menanggapi dengan kelegaan. Rasanya senang dan lega karena Akemi mau mempercayainya (terlepas dari apa yang terjadi padanya). Dia melempar senyum menenangkan pada Akemi sebelum keluar dari ruangan.

"Kau baik-baik saja, Miyano-chan, tapi biarkan infus itu hingga besok. Kita harus memastikan kau tidak lagi dehidrasi." Suara Professor Agasa yang mengajak Akemi berbincang adalah hal terakhir yang didengarnya sebelum menutup pintu dan kembali ke mansion Kudo untuk mencari Kaito.

.

.

.

Distrik Chūō adalah distrik yang sangat padat dan dinamis dengan banyak gedung perkantoran, toko-toko mewah, dan restoran. Berbeda dengan distrik Arakawa yang lebih banyak fasilitas umum, sekolah, dan area perumahan yang lebih tradisional. Kedua distrik ini relatif lebih kecil daripada distrik Shinjuku, namun Kaito dan Shinichi tetap membutuhkan hampir seminggu untuk mencari labolatorium Organisasi Hitam (sekalipun dengan bantuan Akemi dan alat-alat canggih Professor Agasa).

Mereka tidak menemukannya, tapi mereka menemukan bukti korupsi di distrik Chūō dan gudang senjata juga obat terlarang di distrik Arakawa. Mereka kemudian mengambilnya dan mengirimkannya pada PSB dan FBI secara anonim.

Dua distrik sebelumnya tidak dapat dibandingkan dengan distrik Shinjuku, dimana distrik ini penuh dengan pusat pemerintahan dan komersial dengan Stasiun Shinjuku, salah satu stasiun kereta tersibuk di Jepang. Shinjuku juga terkenal dengan area hiburan Kabukicho*, berbagai gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, dan taman.

[*Kabukicho adalah sebuah distrik di Shinjuku, Tokyo, yang terkenal sebagai area hiburan malam yang terbesar dan paling terkenal di Jepang. Kabukicho dikenal sebagai "Kota yang Tidak Pernah Tidur" karena berbagai hiburan yang tersedia sepanjang malam. Area ini dipenuhi oleh klub malam, bar, restoran, karaoke, dan berbagai bentuk hiburan lainnya.]

Hal ini membuat pencarian mereka tiga kali lebih sulit dan lambat, karena selain menjadi distrik yang padat, distrik ini juga tidak pernah tidur. Mereka juga harus berhati-hati agar tidak 'diserang' di malam hari dan sering kali tidak bisa berpisah karena terlalu khawatir dengan yang lainnya.

Karena Shinjuku terkenal dengan area hiburannya, tidak satu-dua kali Kaito maupun Shinichi harus berlari dan bersembunyi dari orang-orang yang menginginkan tubuh mereka. Kaito bahkan tidak berani menyamar terlalu lama dan Shinichi lebih sering mengubah tubuhnya menjadi burung.

Insting Alpha dan Omega mereka benar-benar di uji disini, karena sekalipun mereka berdua sudah Mating dan Bonding, masih ada orang yang mencoba mendekati dan merayu mereka. Terutama saat sinar matahari telah digantikan rembulan. Alpha Kaito bahkan berkali-kali hampir lepas kendali dan ingin merobek tangan kotor yang mencoba menyentuh Shinichi.

Untungnya, kerja keras mereka terbayar ketika Shinichi melihat mobil Porsche 356A hitam yang sangat dikenalnya terparkir dengan rapi di depan sebuah gedung lama yang sedang di renovasi.

Menurut pendapat beberapa orang, gedung itu adalah pusat perbelanjaan yang baru saja direnovasi satu tahun yang lalu. Biasanya, di sekitar gedung ada taman bermain untuk anak-anak dan remaja, tapi kini taman itu tidak lagi bisa digunakan karena renovasi yang dilakukan.

Kaito dan Shinichi dengan cepat menyamar dan menyembunyikan diri, secara hati-hati mulai masuk kedalam gedung itu. Mereka tidak berani memasang kamera dan menggunakan merpati Kaito karena Organisasi Hitam bisa saja melihat mereka dan menembak mereka.

Mereka tidak masuk menggunakan teleportasi, melainkan menggunakan saluran udara. Shinichi mengubah tubuhnya menjadi kucing untuk bergerak lebih leluasa dan Kaito sudah terbiasa dengan cara masuk ini—mengingat ini adalah cara menerobos kesukaan KID (sekalipun dia mengernyit jijik ketika menyadari betapa kotornya saluran udara gedung ini—Hey! Kaito selalu membersihkan saluran udara yang akan digunakannya sebelum heist, terima kasih! Dia tidak akan membiarkan kostum putih bersih KIDnya ternoda kotoran dari saluran udara karena membersihkannya akan sangat merepotkan!).

Ketika mereka keluar dari saluran udara yang berderit, dengan segera hidung mereka disambut udara yang berat dan pengap. Lampu neon yang berkedip-kedip di lorong utama hanya menambah kesan mengerikan. Debu menari-nari di udara setiap kali langkah kaki menghentak lantai keramik yang retak. Bau lembap dan apek memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma yang tak sedap dari sampah yang berserakan. Pecahan kaca dan puing-puing bertebaran di sepanjang lorong, memaksa setiap orang yang melintas untuk berhati-hati dengan setiap langkahnya.

Dengan sangat perlahan mereka berdua berkeliling, mencoba untuk mencari petunjuk dan tidak membuat debu semakin bertebaran.

Mereka tidak dapat bicara—suara sekecil apapun akan terdengar dan mereka tidak bisa membuat Organisasi Hitam menyadari keberadaan mereka, sekalipun suara samar dari hiruk-piruk distrik Shinjuku masih dapat terdengar. Karenanya, ikatan mereka sangat berguna di situasi seperti ini.

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Shinichi secara perlahan mendekati Kaito yang menunjuk pada bekas langkah kaki yang ditemukannya. Mereka mengikuti jejak itu hingga sampai pada pintu kayu yang terlihat rapuh.

Kaito yang memiliki keahlian sebagai pencuri internasional tentu saja dapat membukanya dengan mudah tanpa satupun suara.

Dibalik pintu itu hanya ada lorong panjang yang menuntun ke lantai bawah tanah. Di sinilah kegelapan semakin pekat. Lampu-lampu tua yang bergantung di langit-langit menggantung rendah, beberapa di antaranya padam sepenuhnya. Cahaya remang-remang mereka menciptakan bayangan menakutkan di dinding yang lembap dan berjamur, seolah-olah tempat ini sudah ditinggalkan lebih lama daripada yang dikatakan.

Di ujung lorong bawah tanah yang sempit, terdapat sebuah ruangan dengan pintu besi berat yang tertutup rapat. Di balik pintu ini, suasana berubah drastis. Ruangan tersebut diterangi oleh cahaya lampu neon yang terang benderang, namun tidak mengurangi kesan menyeramkan yang menyelimuti tempat ini. Dindingnya dipenuhi dengan peralatan dan perangkat elektronik yang tampaknya diatur dengan rapi, memberikan kesan tempat ini memiliki fungsi yang sangat spesifik.

Kaito hampir membuka pintu besi itu ketika sebuah suara terdengar di baliknya.

"Aniki, apa kita akan membiarkannya begitu saja?"

Mereka berdua sukses membeku dan menahan napas.

"Biarkan saja. Tidak akan ada yang bisa menemukannya disini. Biarkan dia mati sendirian. Ayo pergi, kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan."

Suara langkah kaki mereka mulai mendekat, membuat Shinichi panik hingga Kaito menariknya untuk bersembunyi di dalam saluran udara.

"Ya, Aniki!"

Pintu besi itu berderit dengan keras dan Gin muncul di baliknya dengan Vodka yang membawa sebuah koper hitam.

Kedua pria itu terus melangkah pergi hingga Gin tiba-tiba berhenti dan menatap lantai. Matanya menyipit saat ia memperhatikan jejak debu yang tampak baru terinjak. Sejenak, keheningan memenuhi udara, hanya dipecahkan oleh suara napas mereka yang berat.

Gin mengangkat tangan, memberi isyarat agar rekannya berhenti. "Tunggu," bisiknya, suaranya tajam dan penuh kewaspadaan.

"Ada apa, Aniki?"

"Ada orang lain di sini," gumam Gin dengan nada serius, matanya berkilat tajam. "Jejak ini baru saja dibuat."

Rekannya, yang sebelumnya tampak kebingungan, kini ikut tegang. Mereka berdua memindai lorong itu dengan seksama, mencari tanda-tanda keberadaan orang lain. Gin merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan pistol, menggenggamnya tapi tidak mengeluarkannya.

Kedua pria itu mulai bergerak lagi, kali ini lebih hati-hati. Setiap langkah diambil dengan perhitungan, menghindari area yang terlihat lebih berdebu agar tidak meninggalkan jejak yang bisa dipantau oleh siapapun yang mungkin sedang mengintai. Gin memperhatikan setiap sudut, setiap bayangan yang tampak mencurigakan.

Kaito dan Shinichi menahan napas dan mengumpat dalam hati.

"Tapi Aniki, tidak ada aroma apapun disini."

'Syukurlah karena aroma seseorang yang sudah Mating dan Bonding hanya bisa tercium oleh Mate mereka!' batin Shinichi dan Kaito. Tapi mereka masih sangat waspada dan mendengarkan suara langkah kaki Gin dan Vodka yang mulai menjauhi tempat persembunyian mereka.

Gin mendengus. "Yah, siapapun itu, mereka tidak—"

Sebuah teriakan penuh kesakitan mulai terdengar, membuat Kaito dan Shinichi terperanjat.

"Oh? Sepertinya Sherry meminum racun buatannya sendiri."

Gin dan Vodka segera bergerak menuju sumber suara, meninggalkan lorong yang gelap. Kaito dan Shinichi, yang sebelumnya bersembunyi di dalam saluran udara, saling bertukar pandang dengan cepat. Mereka tahu ini adalah kesempatan mereka untuk menyelamatkan Shiho.

"Kita harus cepat," bisik Kaito, mencoba meredam rasa khawatir yang mulai merayapi hatinya.

Shinichi mengangguk dan mereka berdua segera menyelinap ke arah suara teriakan tersebut menggunakan saluran udara. Langkah kaki mereka hampir tak terdengar, bergerak dengan kecepatan dan ketelitian yang terlatih. (Terimakasih pada kebiasaan Kaitou KID dan kaki kucing Shinichi yang hampir tidak memiliki suara.)

Saat mereka tiba di ruangan kecil di mana Shiho berada, mereka menemukan gadis itu tergeletak di lantai, wajahnya pucat dan tubuh kecilnya gemetar karena efek racun.

Shinichi segera mengubah wujudnya kembali menjadi manusia dan berjaga di pintu, memastikan tidak ada yang datang. Sementara Kaito berlutut di samping Shiho—tidak, Haibara, "Ilmuan-san, bertahanlah sebentar lagi," bisik Kaito sambil melepaskan pakaian kebesaran yang dipakai gadis kecil itu.

Dia memakaikan pakaian yang lebih pas untuk tubuh Shiho yang kini menjadi anak-anak berusia tujuh tahunan dan mengatur pakaian lamanya agar terlihat seolah-olah gadis itu sudah benar-benar menguap tanpa sisa.

Langkah kaki terdengar semakin mendekat. Gin dan Vodka akan segera tiba di tempat mereka.

Kaito mengangkat tubuh gemetar Haibara dan Shinichi mengubah dirinya menjadi burung, dengan segera hinggap di bahu Kaito yang langsung berteleportasi kembali ke mansion Kudo tepat sebelum Gin dan Vodka dapat membuka pintu.

"Kita berhasil," bisik Shinichi dengan penuh kelegaan meskipun rasa khawatir masih menggantung di udara. Dia melihat Haibara di dalam gendongan Kaito, pucat dan tidak sadarkan diri dengan tubuh kecil yang gemetar. Walaupun begitu, dia tidak dapat menahan kelegaan yang mekar di dalam hatinya. "Sekarang mereka tidak akan curiga padanya, hidupnya akan aman,"

Kaito mengangguk dan menurunkan Haibara di atas kasur untuk beristirahat. "Tapi ini baru permulaan. Kita masih tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."

Shinichi tidak dapat menahan air mata yang jatuh, terutama ketika Kaito bergerak memeluknya dengan erat. "Yeah, jalan masih panjang."

"… kita harus membawanya pada Professor dan Arami-chan." Ucap Kaito setelah beberapa saat. "Dan aku mungkin saja (atau mungkin tidak) sudah mencuri sesuatu dari saku Gin."

Mata Shinichi membulat ketika Kaito mengeluarkan flashdisk dan satu kotak berisi racun APTX 4869.

"Kaito!" jerit Shinichi dengan tidak percaya sebelum mulai tertawa histeris. "Oh astaga, kau jenius! Kapan kau melakukannya?"

"Seorang pesulap tidak pernah mengungkapkan trik sulapnya, Shin-chan!"

Di dalam gedung, Gin dan Vodka hanya menemukan pakaian Sherry. "Sepertinya dia meminum racunnya sendiri dan menguap," kata Gin sambil tersenyum dingin. Matanya menatap tumpukan baju yang Sherry pakai sebelumnya dengan kejam dan tidak berperasaan. "Yah, setidaknya dia tidak akan menjadi masalah lagi."

Vodka mengangguk setuju. "Kita harus melaporkan ini ke Boss."

.

.

.

Secara perlahan, kesadaran Shiho kembali dan dia hampir menangis karena bahkan dunia menolak kematiannya. Dia merasakan tubuhnya sakit seolah-olah disetrum oleh listrik bertenaga tinggi.

Matanya perlahan terbuka, pandangannya kabur dan ruangan di sekelilingnya tampak asing. Dia harus mengerjap beberapa kali sebelum pandangannya menjadi jelas.

Dinding ruangan itu berwarna lembut, berbeda dengan tempat-tempat dingin dan suram yang biasanya dia kenal. Shiho berusaha duduk, meski tubuhnya masih terasa lemah dan gemetar.

"Di mana aku?" bisiknya pada dirinya sendiri, kebingungan dan ketakutan mulai menyelimuti pikirannya. Bagaimana dia bisa sampai di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Tunggu, apa yang terjadi pada suaranya?

Saat pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benaknya, pintu kamar terbuka dengan perlahan. Seorang gadis kecil berusia 9 tahunan masuk membawa baskom berisi air. Shiho mengerjap, matanya membesar saat mengenali sosok yang kini berdiri di ambang pintu. Itu adalah Akemi, kakaknya yang Organisasi Hitam katakan sudah mati.

"Nee-san?" Suaranya bergetar, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Meskipun Akemi ini terlihat seperti anak-anak, Shiho masih bisa mengenali kakaknya.

Mata Akemi membulat dan gadis kecil itu langsung meletakkan baskom dengan hati-hati dan segera mendekati Shiho. Tanpa ragu, dia memeluk adiknya erat-erat. Shiho dapat merasakan kehangatan dan cinta dari pelukan itu, sesuatu yang dia pikir tidak akan pernah dirasakannya lagi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Shiho-chan, kau aman sekarang," kata Akemi dengan suara lembut dan penuh kelegaan. "Aku di sini. Kita akan melalui ini bersama."

Shiho menatap Akemi dengan mata yang penuh air mata dan ketidakpercayaan. "Nee-san…?" Dia terisak, air mata mengalir deras di pipinya. "Kau masih hidup?"

Akemi mengangguk sambil tersenyum, wajahnya dipenuhi rasa sayang dan kelegaan sekalipun pipinya juga dipenuhi air mata. "Iya, Shiho-chan. Aku di sini. Aku hidup."

Shiho merasa seolah-olah dunia berputar lebih cepat dari biasanya. Di satu sisi, dia merasa ini adalah mimpi, kehidupan setelah kematian, tempat di mana dia bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang dicintainya. Tapi di sisi lain, kehangatan tubuh Akemi, napasnya yang teratur, dan detak jantung menenangkan yang terdengar di dada Akemi saat mereka berpelukan, semuanya terlalu nyata.

"Ini… ini seperti mimpi," gumam Shiho, masih terisak. "Aku tidak pernah ingin terbangun dari mimpi ini."

Akemi mengusap rambut Shiho dengan penuh kasih sayang, membiarkannya menangis sepuasnya. "Ini bukan mimpi, Shiho-chan. Kita bersama sekarang. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama."

Shiho memejamkan mata, menikmati momen yang sangat berharga ini. Di tengah semua kekacauan dan penderitaan yang telah dia alami, kehadiran Akemi memberikan harapan baru.

Harapan bahwa mungkin, mungkin saja, mereka bisa hidup bebas dari cengkraman Organisasi Hitam.

.

.

.

Kaito dan Shinichi menatap pertemuan Akemi dan Shiho yang penuh air mata dan memutuskan untuk membiarkan mereka selama beberapa saat.

Mereka berdua kembali ke mansion Kudo dan mulai meng-update papan perencanaan mereka. Professor Agasa sendiri sedang sibuk dengan percobaan barunya dan sejak pagi mengurung diri di labolatorium pribadinya.

"Aku sudah selesai membuat berkas mereka." ujar Kaito dan memberikan sebuah file pada Shinichi ketika mereka berdua sudah selesai meng-update papan perencanaan. "Haibara Arami, 9 tahun dan Haibara Ai, 7 tahun. Mereka berdua adalah anak angkat sahabat Professor Agasa, Mao Hanabi, yang baru-baru ini meninggal karena kecelakaan. Karena Mao Hanabi menjadikan Professor Agasa sebagai ayah baptis, maka mereka kini tinggal bersamanya."

Shinichi membacanya dan mengangguk. Dia baru saja akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara keras yang menggema di seluruh mansion.

"Shin-chan~! Kami pulang! Dan lihat siapa yang kami bawa! Kai-chan pasti juga akan senang~!"

Mereka berdua bertukar pandangan dengan horor.

Orang tua mereka sudah kembali ke Jepang.

.

.

.

End.

"Arami" (新美): Kesempatan Baru

"Ai" (): Kesedihan / Tragedi

A/n: aku mengetik ini hampir 1 bulan… haha.

Anyway, yeah, gantung sekali endingnya. Tenang, nanti masuk ke bagian 4 dan (kuharap) bagian terakhir dari seri ini.

Fanfiksi ini hampir 9 ribu kata dan… yah, ini terlalu panjang dibandingkan dengan dua fanfiksi sebelumnya (nangis).

Oke, sampai jumpa di seri selanjutnya! (Yang tidak tahu kapan akan aku ketik)

Terima kasih sudah membaca!

Ziandra, 31 Juli 2024.