Bab 13: Pesta Rumah Yamanaka
Sasuke Uchiha menatap papan tripleks yang masih belum menjadi apapun. Dia harus menyelesaikan sketsa dari peta dunia sebelum mereka melanjutkannya dengan menempelkan bubuk koran agar menjadi peta timbul. Karena Sasuke tidak memiliki kegiatan apapun dan dia juga sudah berjanji pada Naruto, akhirnya dia mengerjakan tugasnya.
Hal yang sangat mengejutkan, karena Sasuke biasanya lebih memilih menghabiskan waktu hingga diusir dari Game Centre. Dia tidak pernah peduli pada tugas-tugas merepotkan, apalagi mengerjakannya. Dalam mimpi buruk sekalipun, dia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan dengan secara sukarela mengerjakan tugas sekolah. Namun, di sinilah dia sekarang. Di dalam kamarnya, mengerjakan sesuatu yang mustahil.
Naruto Uzumaki memang mengerikan, bahkan tanpa sosok fisiknya. Sasuke merasa sepasang mata sebiru langit itu tidak pernah lepas mengawasinya.
Melukis membuat pikirannya kosong. Sasuke bisa menggambar benua Amerika dan Afrika dengan cepat, lalu setelah itu melengkapi detail-detail penting seperti Australia (hampir saja lupa digambar), lalu kepulauan-kepulauan di Samudra Pasifik, serta Kutub Utara dan Selatan. Sasuke mengamati sekali lagi sketsa peta tersebut sebelum dia memutuskan untuk menebalkannya dengan spidol.
Dia menyimpan satu set alat lukis yang selalu dijaganya dengan baik. Mungkin, hanya itu satu-satunya hal yang dijaga oleh Sasuke, karena separah apapun dan seburuk apapun tingkah lakunya, dia tetap tidak bisa membenci dan meninggalkan dunia seni. Namun, sedari dulu Fugaku selalu memandang rendah seni, karena profit yang dihasilkan tidaklah sebesar Perusahaan.
Diambilnya satu set alat lukis yang berisikan berbagai jenis pensil, pen, dan spidol. Sasuke mengambil spidol yang tebal untuk menebalkan peta yang digambar di atas papan tripleks tersebut. Bau kimia khas spidol segera memasuki indra penghidunya begitu dia mulai menebalkan garis-garis sketsa dari pensil. Menebalkan apa yang sudah digambarnya tidak begitu sulit dan tidak butuh waktu lama bagi Sasuke untuk menebalkan seluruh peta dunia tersebut. Bahkan, Sasuke juga menulis nama-nama Samudra yang mengelilingi dunia.
Ketika Sasuke menyelesaikannya, matahari sudah terbenam sempurna. Kamar Sasuke gelap dan hanya ada cahaya dari luar jendelanya yang meneranginya. Dia bahkan tidak sadar karena sedari tadi fokusnya hanya untuk melukis. Perasaan penuh sekaligus ringan setelah melukis adalah hal yang sudah dilupakannya. Melukis hingga lupa waktu, semua itu tidak akan dilakukannya lagi jika bukan karena Naruto.
Pemuda itu menyalakan lampu kamarnya dan menutup gorden di jendela kamarnya. Papan tripleks tersebut ditaruh di sudut ruangan sambil menunggu tinta spidol supaya kering dengan sempurna. Salah satu sensasi yang dia sukai dari melukis adalah ketika Sasuke melihat lagi hasil karyanya. Hasil karya yang dilihat banyak orang, mereka bisa memaknai hal yang sama dengan apa yang dicurahkan oleh Sasuke. Melukis tidak ubahnya menyatakan perasaan kepada dunia, tetapi dalam bentuk terselubung. Tidak semua bisa menangkap artinya, tetapi tetap berharga dan bernilai jual.
Bosan, Sasuke mengambil buku sketsa A3-nya. Belakangan ini, dia mulai rutin lagi melukis atau hanya sekedar membuat sketsa di sana. Semuanya karena sketsa wajah Naruto yang dibuatnya sebagai hadiah ulangtahun. Dia mulai mengambil pensil dan mengarsir.
Sampai mana ingatannya tentang Naruto? Tanpa contoh foto ataupun gambar, semua itu mudah saja dilukiskan ke atas kertas. Naruto itu seperti sebuah icon yang sangat unik sehingga mudah diingat bahkan hanya dalam satu pandangan. Senyumnya, kerut-kerutan di sekitar matanya ketika tersenyum, tawanya, serta rambutnya yang lembut tapi kuat. Naruto benci rambutnya, tapi di dalam lukisan Sasuke, rambut itu diarsir dengan indah.
Dia berhenti melukis ketika matanya sudah terasa perih dan berat. Diliriknya jam dinding di kamarnya dan waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Melukis memang membutuhkan waktu yang lama dan panjang untuk hasil yang maksimal. Dia menaruh lagi buku sketsa itu dan Sasuke mematikan lampu kamarnya.
.
Keesokan harinya, Hari Jumat, berjalan seperti biasa. Dia menunggu Naruto di tiang listrik di pertigaan kompleks, lalu berjalan bersama menuju sekolah. Naruto memakai lagi sweater pemberian Sakura dan mata Sasuke masih sakit melihatnya. Meskipun sejujurnya, Sasuke harus mengakui bahwa Naruto dengan balutan sweater tampak sangat cocok. Kesan yang dikeluarkannya tidak terlalu formal dan kaku seperti biasanya. Penampilan yang menyegarkan. Namun, dia tidak mau mengakui hal itu karena sweater tersebut diberikan oleh Sakura.
Naruto bercerita tentang Nintendo yang didapatkannya dari kakaknya dan Ibunya yang membatasi jam mainnya. "Tapi akhirnya aku berhasil tetap menyimpannya di kamarku," katanya mengakhiri ceritanya.
Sasuke mengingat-ingat, apakah Itachi pernah memberi kado untuk ulang tahunnya? Apakah di keluarganya ada tradisi tiup lilin seperti itu? Sejujurnya, Sasuke lupa. Sepertinya tidak pernah, atau mungkin dia terlalu sibuk kabur dari sekolah serta berkelahi sehingga dia melupakan hal-hal penting seperti itu.
Terkadang, mendengar cerita Naruto mengenai keluarganya membuatnya marah dengan kondisinya sendiri. Keluarganya tidak sesempurna Naruto, tapi dia juga sadar bahwa dia tidak sesempurna Naruto. Dia bukan Ketua OSIS, bukan siswa teladan, bukan favorit semua orang. Jadi, wajar saja jika dia tidak bisa memiliki kesempurnaan milik Naruto.
"Kau sedang meditasi atau sedang mengikuti kompetisi melotot?" tanya Naruto. Dia melambaikan tangannya di depan Sasuke. Sasuke mengangkat kepalanya dan melihat Naruto berjalan mundur di depannya. Kedua alisnya berkerut tipis karena bingung.
"Energiku tidak sebanyak kau di pagi hari, dobe."
Naruto mengerutkan wajahnya lebih dalam. "Kau ini pemarah sekali di pagi hari," keluhnya. Dia berbalik badan dan kembali berjalan di samping Sasuke. "Lalu, hari ini juga akan ada pemaparan visi misi dari calon Ketua OSIS," Naruto kembali bercerita.
Sasuke tidak peduli pada hal-hal seperti itu. Dia hanya suka mendengarkan Naruto terus bicara. Sosok Naruto yang sedang bercerita seperti ini jauh lebih menyenangkan untuk dilihat dari pada Naruto dengan senyum profesionalnya. Jika Sasuke dikurung dalam satu sel bersama Naruto hanya untuk mendengarkan pemuda itu bercerita, Sasuke akan menyambar kesempatan itu tanpa pikir panjang.
"Apa kau sedih karena akhirnya kau akan lengser?" tanya Sasuke.
Naruto mendengus. "Biasa saja. Malah, aku sedikit senang karena aku sudah tidak punya tanggung jawab lagi setelah Serah Terima Jabatan. Aku bisa memfokuskan diri untuk belajar Tes Masuk Universitas," katanya sambil menghela napas panjang.
"Kau ini selalu terpaku pada Universitas ya," ujar Sasuke.
Naruto menatapnya. Tatapannya tidak marah, hanya menusuk dan penuh ambisi. "Yah, soalnya hidupku ditentukan oleh itu. Kurasa semua orang di sini juga berpikir seperti itu."
Mereka sampai di sekolah dan menuju kelas mereka.
"Oh iya," kata Naruto sebelum mereka masuk ke dalam kelas. "Malam Minggu ini jangan lupa datang ke Pesta Rumah Yamanaka."
"Kau Ketua Panitianya?" tanya Sasuke.
"Supaya aku bisa mengambil biaya iuran dari semua orang yang datang untuk tambahan uang jajan," jawab Naruto.
Mendengar jawaban seperti itu, mau tidak mau Sasuke mendengus geli.
"Kalau kau tidak datang, aku akan menagih iuran 3 kali lipat."
"Jangan korupsi, dobe. Nanti kau tidak lulus tes wawancara di Universitas."
Naruto hanya tertawa singkat sebelum masuk ke dalam kelas.
Sesuai kata-kata Naruto, menjelang 10 menit pelajaran terakhir, semua siswa dikumpulkan di Aula Pertemuan untuk Pemaparan Visi Misi Calon Ketua OSIS. Kandidat tahun ini ada 3 orang, seorang perempuan dan dua orang laki-laki. Naruto tidak terlihat sejak pengumuman itu diumumkan. Sasuke menebak bahwa lelaki itu pastilah bergabung dengan OSIS untuk mengurus acara tersebut. Anehnya lagi, Shikamaru tidak terlihat. Mengingat tabiat Shikamaru, tidak heran jika dia kabur seperti bayangan tanpa ada yang menyadari.
Setelah seluruh siswa dikumpulkan, salah satu perwakilan OSIS (bukan Naruto) maju berdiri di panggung dan mulai bicara tentang pertemuan sore hari ini. Secara singkat, masing-masing kandidat akan diberi waktu 10 menit untuk memaparkan visi misi dan waktu 10 menit untuk tanya jawab. Setelah itu, selesai sudah kegiatan di sekolah.
Naruto sendiri tidak terlihat ataupun bicara di panggung. Si perwakilan OSIS yang juga menjadi moderator dan memanggil satu per satu kandidat. Sasuke dengan segera melupakan nama ketiga orang tersebut begitu mereka selesai menyebutkan nama. Apalagi ketika mereka mulai memaparkan visi misi yang membosankan.
Melihat ketiga kandidat tersebut membuat Sasuke bertanya-tanya sendiri, apakah ketika Naruto mencalonkan diri dulu, visi misi yang dipaparkan begitu menarik sehingga membuatnya menjabat 2 periode? Jika 2 tahun lalu Sasuke telah bersekolah di sini, apakah dia juga akan merasa bosan ketika mendengar Naruto memaparkan visi misinya? Seperti apa lawan Naruto ketika dia menjadi kandidat?
Sasuke lebih suka memikirkan hal tersebut dibandingkan mendengar visi misi yang membosankan ini. Menurut Sasuke, meskipun mereka berusaha menyamai visi misi dengan milik Naruto, tidak akan pernah ada orang seperti Naruto. Hanya Naruto sendiri. Tidak ada kopian yang lainnya.
Sesi tanya jawab berjalan lebih lambat lagi, sehingga Sasuke sudah ingin sekali pergi dari Aula Pertemuan tanpa diketahui. Hanya saja, beberapa guru menjaga pintu-pintu keluar sehingga tidak mungkin ada siswa yang bisa menyelinap keluar, kecuali siswa yang mengalami serangan jantung. Sasuke hampir saja tertidur ketika tepuk tangan bergemuruh dan Pemaparan Visi Misi telah selesai. Dia keluar bersama dengan orang-orang lainnya yang juga sudah tidak sabar untuk pulang.
Awalnya, dia ingin menunggu Naruto supaya mereka bisa berjalan pulang bersama. Namun, lelaki itu tidak terlihat dimanapun, sampai akhirnya ponsel Sasuke berbunyi. Sebuah pesan dari Naruto masuk.
Uzumaki: Pulanglah duluan Uchiha. Kami masih rapat. Kecuali kau membawa buku sketsamu dan kau bisa melukisku lagi untuk menungguku.
Uzumaki: mengirimkan sticker
Sasuke tersenyum membaca pesan tersebut.
Sasuke: Jangan terlalu percaya diri, Ketua OSIS. Jangan sampai kau diculik di jalan.
Uzumaki: Kau memang teme!
Sasuke tidak menunggu Naruto hari itu. Dia pulang seorang diri ke rumahnya, tapi hatinya terasa ringan.
.
Sasuke Uchiha berdiri di sebuah rumah super mewah di perumahan yang lebih elite dari yang ditinggalinya saat ini. Halamannya luas, pagarnya terbuka dan sayup-sayup dari jalan, Sasuke bisa mendengar suara dentuman musik dan lampu yang berkelap-kelip. Beberapa mobil terparkir di sekitar jalan dan halaman rumah yang luas tersebut. Di pagarnya tertulis Keluarga Yamanaka. Setidaknya, Sasuke tahu bahwa dia sudah berada di tempat yang tepat.
Sasuke masuk melalui pagar yang terbuka dan halaman luas yang cantik dan rapi terpampang di depannya. Rumah Yamanaka bergaya Barat, tanpa ada unsur Jepang sedikitpun. Di sudut-sudut taman terdapat lampu taman berwarna orange yang memancarkan cahaya lembut dan mempercantik desain taman. Beberapa jenis bunga dan tanaman terlihat indah dan rapi. Beberapa orang masuk ke dalam rumah utama dan semakin Sasuke mendekat, semakin kencang suara orang yang tertawa, berbincang, dan suara musik yang disetel.
Tidak ada yang membuka sepatu di sini. Semuanya memakai sepatu mereka, sehingga Sasuke tidak membuka sepatunya juga. Rasanya Sasuke seperti memasuki pesta-pesta di film barat yang sering ditontonnya. Ino benar-benar meniadakan budaya Jepang di dalam pestanya. Banyak wajah-wajah yang sering dilihatnya, bahkan ada wajah dari teman-teman sekelasnya. Tampaknya Ino memang mengundang satu angkatan, tapi beberapa wajah yang Sasuke lihat terlalu kaku dan takut untuk anak kelas 3 SMA. Tampaknya ada beberapa adik kelas yang ikut memeriahkan pesta.
Sofa-sofa di ruang tamu penuh diduduki oleh orang-orang. Suara tawa mereka mengudara bercampur dengan aroma alkohol. Banyak orang yang memegang botol plastik merah yang Sasuke duga adalah alkohol. Di Ruang Keluarga Yamanaka, seluruh ruangan disulap menjadi area dansa dan beberapa orang menari mengikuti irama lagu. Banyak juga yang sedang mabuk di pinggir ruangan dan bicara dengan teman-temannya.
Sasuke mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencari satu wajah yang sedari tadi belum ditemukannya. Jika dia tidak menemukan Naruto di pesta ini, Sasuke sudah akan pulang. Namun, bahunya ditepuk dari belakang dan berdirilah Naruto sambil membawa dua gelas plastik merah. Wajahnya cerah dan di bawah penerangan lampu, kedua pipinya memerah. Sasuke merasa itu karena pengaruh alkohol.
"Hai," sapanya singkat. Dia menyerahkan satu gelas plastik kepada Sasuke.
"Sungguh ramah. Apa kau berkeliling rumah untuk menyambut orang baru?" tanya Sasuke. Dia meneguk alkohol di dalamnya. Seluruh tenggorokannya terasa hangat dialiri alkohol yang cukup mahal.
"Karena aku menagih iuran," jawab Naruto. "Jadi kuharap kau membawa uangnya."
Sasuke mendengus. "Masuk akal. Minuman ini pasti diseludupkan."
Naruto menggeleng. "Kau tidak tahu betapa susahnya membayar para pekerja bea cukai untuk meloloskan minuman ini."
"Rupanya kau Ketua Mafia. Pantas saja semua orang tunduk padamu."
Naruto terbahak. Belakangan ini, Sasuke merasa tawa Naruto begitu lepas dan dia merasa bisa meleleh sambil mendengarkan tawa itu setiap hari. "Ayo ke sini," ajaknya. Sasuke mengikuti Naruto. Mereka berjalan melintasi lantai dansa, melintasi lorong-lorong gemerlap di Rumah Yamanaka hingga sampai ke halaman belakang rumah. Terdapat sebuah kolam renang dan meja-meja taman di sekitarnya. Lebih banyak lagi para siswa yang menghabiskan waktu di halaman belakang ini. Beberapa dari mereka bahkan berenang.
Sasuke tidak merasa sedang berada di Jepang, saat ini.
Ada beberapa orang yang sedang mengelilingi meja pingpong dan sedang memainkan sesuatu. Yang jelas, mereka sedang tidak bermain tenis meja. Dari dalam, terdengar lagu Iggy Azalea ft. Charli XCX yang berjudul Fancy. Gelas plastik merah yang berisi alkohol dapat ditemukan dimana saja. Sasuke harus mengakui bahwa melihat pemandangan ini, Ino pasti sudah sering sekali mengadakan pesta seperti ini dan para murid SMA Konohagakure sudah sering mendatangi pesta ini.
"Apa pekerjaan orang tua Yamanaka?" tanya Sasuke. Dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya lebih jauh. Sasuke kira, hidupnya sudah penuh dengan pengalaman yang berkaitan dengan alkohol serta perkelahian dan orang tua kaya. Namun, lingkungan pertemanan Naruto selalu membuatnya terkejut dan menemukan satu sisi baru lagi. Siswa teladan yang bahkan tidak pernah lupa memakai atribut sekolah rupanya tahu caranya bersenang-senang dengan pesta dan alkohol.
"Ayahnya CEO di Perusahaan Mobil di New York dan Ibunya adalah artis."
"Artis?" tanya Sasuke. Dia tidak ingat ada artis bermarga Yamanaka.
"Anzu Suzuki," jawab Naruto. "Ino memakai nama keluarga gadis Ibunya, tapi Ibunya mengganti marganya setelah menikah lagi dengan seorang produser musik. Ayah kandungnya di New York bersama dengan keluarga barunya."
"Ayahnya orang Amerika Serikat?" tanya Sasuke. Karena setahu Sasuke, Anzu Suzuki adalah artis dengan darah Jepang tulen.
Naruto mengangguk. "Ino pernah tinggal bersama Ayahnya di Los Angeles selama 3 tahun. Di sana dia mengadaptasi budaya pesta seperti ini."
Dengan latar belakang keluarga seperti itu, semuanya tampak masuk akal bagi Sasuke. Rumah yang terlalu besar, orang tua yang sibuk dengan keluarga baru masing-masing, pantas Ino sering mengadakan pesta-pesta seperti ini.
Mereka mendatangi sebuah meja taman yang bundar. Di sana ada beberapa orang yang sedang duduk sambil menyesap alkohol. Dua di antaranya adalah Sakura dan tuan rumah, Ino. Kedua gadis itu memukau dalam cara masing-masing, dan Sasuke bisa melihat sedekat apa persahabatan mereka. Seorang lelaki sedang bercerita sesuatu dengan sangat seru dan sisanya tertawa. Tawa yang terlalu berlebihan karena pengaruh alkohol.
"Hai Sayang!" sapa Sakura dengan terlalu bersemangat. Kepalanya terangkat dari pundak Ino. Naruto menghampiri pacarnya dan mencium bibirnya singkat. Sasuke mengamatinya dan merasakan matanya mendadak sakit, seperti ada yang menyiram asam kuat. Namun, dia mempertahankan ekspresi wajahnya. "Kau membawa Uchiha!" serunya sambil menunjuk Sasuke.
"Tunggu, apa yang terjadi lagi? Apa kau benar-benar menjilat kulitnya?" tanya Ino penasaran.
"Kulit paling mulus! Seperti katun."
"Jangan percaya. Delusinya melebihi orang skizofrenia. Kurasa meminum obat anti psikotik tidak boleh dengan alkohol," ujar Naruto.
Mereka tertawa-tawa lagi.
Si pemuda yang tadi memaparkan cerita melempar beberapa butir chips ke arah Naruto. Chips itu jatuh berserakan di tanah taman.
"Uchiha, jangan berdiri seperti patung! Sini duduk di sebelah Naruto!" seru Sakura sambil melambaikan kursi kosong di sebelah Naruto. Berusaha tidak canggung, Sasuke duduk di samping Naruto. Baru duduk, Sakura telah menambah alkohol ke dalam gelas plastiknya.
Kini, Sakura memindahkan kepalanya ke bahu Naruto. "Jadi Uchiha, sebelum ke Tokyo, kau dari Kyoto, benar?" tanyanya. "Dari sekolah mana?"
"Amegakure," jawab Sasuke sambil menyesap alkoholnya lagi.
"Ah! Itu juga sekolah persiapan. Kenapa kau pindah ke Tokyo?" tanya seorang lagi.
"Ikut orangtuaku," jawab Sasuke singkat.
"Apa kau pernah menyewa Geisha? Apakah mereka secantik itu?" tanya yang lain lagi.
"Tidak pernah."
"Berapa harganya untuk menyewa Geisha? Apa mereka benar-benar tidur dengan sanggul dan kimono?"
"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Naruto sambil mendengus.
"Aku ingin tahu! Aku ingin sekali berfoto dengan Geisha."
"Kau tidak akan bisa menyewa mereka," jawab Ino sambil melempar chips ke arah temannya. Mereka tertawa.
"Ada Internet di dunia ini. Kau bisa melihat fotonya di Internet," tambah Sakura.
"Apa kau punya saudara, Uchiha?" tanya Ino.
"Satu kakak laki-laki," jawab Sasuke singkat.
"Ini sudah seperti pertanyaan sensus penduduk," dengus yang lain.
Lalu, percakapan mereka semakin melantur. Mereka membicarakan guru-guru mereka, Kakashi Hatake yang sering tidak masuk kelas, lalu membicarakan kekasih-kekasih mereka. Sasuke tidak mengikuti begitu banyak apa isi percakapan mereka, tapi dia kerap memperhatikan gestur tubuh Naruto. Sakura yang sudah setengah mabuk menempel erat seperti kembar siam ke Naruto. Pemuda itu merangkul pundaknya. Naruto sendiri tidak banyak menyumbang cerita, tapi dia mendengarkan dan sesekali menimpali jika diperlukan.
Entah berapa juta tahun lamanya, mata mereka bertemu. Sakura sedang semangat bercerita sambil saling meledek dengan Ino. Lengan Naruto masih merangkul pundak kekasihnya, tetapi seluruh perhatiannya tertuju pada Sasuke. Sepasang iris biru langit itu menatapnya dan berusaha membacanya. Hingga akhirnya Naruto berbicara.
"Aku akan mengajak Uchiha melakukan House Tour," katanya.
"Eh? Kau mau pergi?" tanya Sakura. Dia menegakkan tubuhnya. Naruto melepaskan rangkulannya.
"Sejauh ingatanku, ini masih rumahku, Uzumaki," kata Ino.
Naruto menyengir lebar. "Aku kan fans Anzu Suzuki nomor satu!" deklarasinya.
Kali ini, giliran Naruto yang kena lemparan chips dari Ino. Namun, tidak ada yang menghalangi kepergian mereka. Dengan senang hati, Sasuke mengikuti langkah Naruto menjauhi halaman belakang yang super luas. Mereka kembali masuk ke dalam rumah dan menuju dapur.
Di dalam dapur, ada berbagai jenis snack tersaji di kitchen island. Dari mulai keripik kentang, berbagai jenis permen, hingga tortilla. Naruto mengambil satu mangkuk berisi keripik kentang dan membawanya ketika mereka ke ruang tamu.
"Mengejutkan melihat caramu seperti berada di rumah sendiri," komentar Sasuke saat Naruto mengusir sepasang kekasih yang sedang berusaha memakan wajah satu sama lain. Tempat di sofa itu ditempati oleh Naruto dan Sasuke. Mereka duduk bersebelahan. Musik remix terdengar jelas ketika berada di dalam rumah.
"Yah, peraturan nomor satu di pesta seperti ini, kau harus percaya diri."
Naruto mulai memakan keripik kentang yang tadi diambilnya di dapur. Sasuke menyenderkan punggungnya dan berusaha rileks. Tubuhnya sudah menghangat karena alkohol, tapi sebenarnya toleransi alkohol Sasuke cukup tinggi. Naruto meneguk lagi alkohol di gelasnya. Dia tidak terlihat terbebani ketika menegaknya.
"Ternyata kau kuat minum alkohol," ujar Sasuke.
"Kaget, Uchiha?" tanya Naruto sambil menyeringai. Dia memasukkan beberapa keping keripik kentang ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Sasuke mengangguk tanpa pikir panjang. "Aku pikir kau hanya siswa teladan kutu buku yang hanya tahu belajar dan berpenampilan rapi," katanya jujur. Alkohol membuat lidahnya lebih lemas daripada biasanya.
"Berubah pikiran sekarang?" tanya Naruto lagi. Dia mengambil satu keping keripik kentang dan menyodorkannya ke depan mulut Sasuke. Tanpa berpikir apapun, Sasuke membuka mulutnya dan memasukkan keripik kentang itu. Bumbunya berjatuhan di sofa yang mereka duduki.
"Rupanya hanya butuh alkohol untuk membuatmu jujur dan menurut ya," kata Naruto.
"Jangan senang dulu, Ketua OSIS," balas Sasuke.
Naruto menyenderkan kepalanya ke punggung sofa dan matanya terfokus menatap satu titik imajinari. "Tiga minggu lalu aku juga menganggapmu sebagai siswa bermasalah yang brengsek, tapi di sini kita sekarang, di sudut ruangan di pesta rumah." Dia melirik Sasuke. "Penampilan jelas menipu."
Sasuke mengambil keripik kentang di pangkuan Naruto dan memakannya dalam diam. Untuk mengurangi efek alkohol, camilan sangat membantu. Keheningan di antara mereka berdua terasa menyenangkan, seolah di sekitar mereka terdapat pelindung transparan yang memisahkan mereka dengan carut marut di pesta rumah.
Lalu, lagu milik 5 SOS berjudul She Looks so Perfect mulai diputar dan Naruto mendadak bangkit. "Ayo kita ke lantai dansa!" ajaknya sambil menggandeng tangan Sasuke. Sebelum mangkuk berisi keripik kentang itu jatuh berserakan di lantai, Sasuke menangkapnya dan menaruhnya di sofa mereka. Lagi-lagi, dia mengikuti Naruto yang tiba-tiba ingin menari di lantai dansa.
Di sana, sudah banyak orang menari secara asal-asalan sambil mengkuti lagu. Naruto mulai menari dengan luwes dan tawanya lepas ketika Sasuke bergerak secara kaku. Dia tidak pernah menari seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah menari di depan orang banyak, meskipun tidak ada satu orang pun yang memperhatikan mereka.
"Apa kau itu robot?" tanya Naruto sambil tertawa lagi. Efek alkohol, meskipun Naruto kuat minum, rupanya tetap membuatnya lebih santai dan rileks serta banyak tertawa. Jadi, demi mengurangi rasa malu serta membuat tubuhnya lebih rileks lagi, Sasuke meneguk habis alkoholnya dan dia mulai menari mengikuti gerakan Naruto.
Suara musik dan lagu terdengar sayup-sayup di telinga Sasuke. Seluruh tubuhnya terasa panas karena begitu banyak euphoria di lantai dansa dan Naruto menari dengan sangat dekat. Hembusan napasnya yang berbau alkohol bercampur dengan cologne yang terasa menyegarkan, seperti citrus di tengah hutan. Entah itu betulan atau Sasuke hanya sekedar berhalusinasi karena alkohol memudarkan logikanya.
Sasuke tidak menyangka bahwa menari asal-asalan sambil mengikuti irama lagu bisa begitu menyenangkan. Atau, itu mungkin karena Naruto berada di depannya, menari di depannya, tertawa lepas dan kedua iris biru itu terus menatap Sasuke, memastikan Sasuke memerangkap semuanya di dalam ingatannya. Sosok yang sempurna untuk dilukis.
Ketika mereka lelah, mereka kembali duduk di sofa dan mengatur napas. Efek alkohol membuat pesta semakin meriah ketika malam mulai merayap perlahan-lahan. Mungkin, karena jarak antar rumah begitu jauh di kompleks elite, belum ada tetangga yang melaporkan kepada polisi atas kebisingan di tengah malam.
"Kau harus coba audisi untuk Boy Band," kata Sasuke.
"Jadi kau mengakui tarianku bagus?" godanya. Naruto mengubah posisinya sehingga dia menghadap Sasuke. "Untuk ukuran anak rumahan sepertimu, kau tahu caranya menggerakan tubuhmu," kata Naruto.
"Anak rumahan? Sangat menghina!" dengus Sasuke.
"Seingatku tadi kau bertingkah seperti anak rumahan atau aku salah mengira itu anjing milik Yamanaka karena aku mabuk."
"Sepertinya kau memang mabuk."
Naruto menyeringai. Kerut-kerut halus muncul di sekitar kedua matanya dan Sasuke mengangkat tangannya untuk menyentuh kerut-kerutan tersebut. Rupanya, persis seperti yang Sasuke pikirkan, bahwa kulit Naruto yang berkerut sangat mulus dan menghilang dengan cepat begitu Naruto mengerjap. Naruto tidak menepis tangan Sasuke, dia tidak pernah melakukannya.
"Apa tidak masalah meninggalkan Haruno untuk duduk di sini bersamaku?" tanya Sasuke tanpa sempat menghentikan lidahnya. Otot di sekitar matanya berkedut ketika Naruto mengerjap. Sasuke bisa merasakan itu semua dari ujung jemarinya.
"Terima kasih untuk perhatianmu, Uchiha. Kau sangat peduli pada hubunganku," jawab Naruto.
Sasuke menggeleng. "Aku tidak peduli," ujarnya.
"Di telingaku terdengar seperti kau peduli. Atau, ada yang menarik perhatianmu dari hubunganku?" tanya Naruto. Dia mendekatkan dirinya, nyaris menyentuh pundak Sasuke. Dari jarak seperti ini, Sasuke jadi paham mengapa Naruto itu magnet bagi orang di sekitarnya. Iris mata yang berkilat, memantulkan sinar yang sulit diabaikan oleh orang yang menatapnya, senyuman ramah dan cengiran secerah mentari pagi, serta aura percaya dirinya membuat nilai jualnya tinggi. Semua daya tarik itu menyeret Sasuke masuk ke dalam birunya lautan tanpa persiapan apapun.
"Apa kau sengaja?" tanya Sasuke.
"Apanya?" Naruto mengerjap.
"Kau seperti–"
"AH! Kau di sini rupanya!"
Naruto menarik diri dengan cepat dan duduk tegak. Sakura mendatangi mereka dan tanpa butuh izin dari Naruto, gadis itu duduk di pangkuannya.
"Hai Manis," goda Naruto sambil menyeringai. "Sudah puas bergossip dengan Yamanaka?" tanya Naruto.
"Ino sibuk bertengkar dengan Nara," dengus Sakura. "Mereka terlalu bertele-tele. Seharusnya aku mengunci mereka berdua di dalam kamar mandi."
Naruto menghela napas. "Begitulah cara mereka berdua menyampaikan cinta. Kita tidak bisa melakukan intervensi apapun."
"Sekarang kau terdengar seperti komentator National Geographic."
Gadis itu bangun dan menyeret Naruto. "Aku mau menari. Ayo!" katanya sambil menarik tangan Naruto hingga pemuda itu bangkit berdiri. Sakura menatap Sasuke. "Aku pinjam sahabat barumu dulu ya, Uchiha!" ujarnya riang.
Naruto mengikuti kekasihnya. Namun, sebelum mereka belum berjalan jauh, pemuda Uzumaki itu masih menatap Sasuke. Barulah dia berpaling dan tidak menatap ke belakang.
Setelah ditinggal begitu saja, Sasuke tidak memiliki minat apapun. Sedari tadi dia hanya mengikuti kemana pun Naruto melangkah. Ketika Naruto membimbingnya, semua terasa mudah dan menyenangkan. Sasuke tidak harus berpikir apakah dia menyukai hal itu atau tidak. Selama Naruto menikmatinya, Sasuke juga menikmatinya. Namun, ketika dia telah sendirian, dia menyadari semua itu tidak menyenangkan. Naruto-lah yang menyenangkan.
Terlanjur gusar, Sasuke memutuskan untuk mengisi ulang alkoholnya. Setidaknya, alkohol di Kediaman Yamanaka ini mahal dan enak, sehingga Sasuke bisa menikmati hal itu. Dia berusaha tidak melihat ke lantai dansa dimana mereka menari dengan begitu dekat, seperti sedang mencumbu satu sama lain. Pemandangan yang menyakitkan mata. Bagaimana mungkin orang-orang di sekeliling mereka belum protes karena PDA yang begitu cringe tersebut?
Di dapur, botol-botol alkohol sudah banyak yang kosong dan terguling di lantai. Sasuke mengambil satu botol yang isinya tinggal setengah dan menuangkannya ke gelas plastik merah. Lalu, satu gelas plastik disodorkan ke depannya.
"Tuangkan untukku juga."
Dia berbalik dan menatap Shikamaru dengan tatapan mata ikan matinya. Ekspresinya selalu tidak menyenangkan, antara dia dibangkitkan dari dalam kubur atau seseorang mengambil makanan kesukaannya.
"Kudengar tadi kau sedang bercinta dengan Yamanaka," kata Sasuke sambil menuangkan alkohol ke dalam gelas milik Shikamaru.
Shikamaru mendengus. "Memang. Begitu hebatnya sesi seks kami sampai aku harus mabuk untuk melupakannya," ujar Shikamaru sarkasme. Dia menatap Sasuke. "Kau sendiri, sedang apa di sini?" Dia meneguk alkohol di gelasnya.
"Mau merampok," jawab Sasuke datar.
"Aku ikut. Setidaknya, polisi bisa membubarkan pesta ini dan aku bisa tidur seharian di dalam penjara."
Mereka bersandar di kitchen island sambil memandang ke hiruk piruk pesta. Mau berapa kali pun Sasuke memalingkan wajahnya, sosok Naruto selalu terlihat ke dalam jarak pandangnya. Dia bisa menghabiskan seluruh malam ini hanya untuk melihat Naruto menari, melihat cara pemuda itu menggerakkan pinggangnya, menatap hingga tenggelam ke dalam iris biru yang memikat itu. Namun, sekeras apapun yang dibayangkan, sosok Sakura selalu hadir di sampingnya. Mereka satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
"Mereka itu curang sekali ya," kata Shikamaru memecahkan keheningan.
"Siapa?"
"Naruto dan Yamanaka. Mereka boleh menyimpan semua hal yang mereka inginkan, tapi kita tidak bisa melakukan hal serupa."
Telinga Sasuke tergelitik ketika Shikamaru menyebut nama Naruto. Selama ini, dia selalu memanggil ataupun menyebut namanya secara formal. Begitu pula dengan Naruto. Yang lebih menggelitik lagi, Shikamaru memakai kata 'kita' untuk mendeskripsikan kalimatnya.
"Jangan membuat haiku di sini, Nara."
"Jangan brengsek, Uchiha."
"Kalau begitu jangan bersikap aneh. Baru satu teguk kau sudah mabuk? Kau anak usia 5 tahun?" ejek Sasuke.
Shikamaru meneguk lagi isi gelasnya. "Aku hanya memberitahu, bahwa kita tidak bisa memiliki semuanya. Kita bukan Naruto atau pun Yamanaka."
Kalimat yang terdengar sangat ambigu, tapi Shikamaru terlalu mabuk untuk berbohong. Sasuke baru mengenalnya selama 3 minggu, tapi Shikamaru adalah tipe jenius yang tidak menyukai hal-hal merepotkan. Dia lebih memilih diam dan berbaur bersama bayangan. Namun, kadang bayangan Shikamaru terlalu pekat sehingga tampak mencolok. Pemuda Nara itu tidak pernah bicara omong kosong dan apapun itu, dia seperti mampu melihat dan menembus pertahanan Sasuke yang paling dalam. Dia mengakui sesuatu hal yang sampai sekarang tidak mau diakui oleh Sasuke.
"Menurutmu apa yang akan terjadi jika aku masih ingin memilikinya?" tanya Sasuke.
"Naruto akan membuangmu."
.
BERSAMBUNG
