Rapsodi Imajinasi
Cahaya matahari sore menembus jendela apartemen kecil yang ditempati Boboiboy dan Fang, mengukir bayangan panjang di lantai yang dipenuhi sampah. Wadah-wadah kosong bekas mie instan berserakan di sana-sini, beberapa manga yang tak terbaca tertumpuk di sudut, dan televisi di ruangan itu berkerlap-kerlip tanpa ada yang benar-benar menontonnya. Boboiboy sedang bersandar di sofa, menatap layar dengan pandangan kosong, jemarinya malas mengganti saluran tanpa tujuan.
Di pojok ruangan, Fang duduk dengan postur yang sedikit membungkuk, fokus sepenuhnya pada layar ponselnya. Sosial media telah menjadi mainan barunya, dengan segala kekacauan dan hiburan yang ditawarkannya. Fang terhanyut dalam dunia maya, sampai sesuatu yang tak terduga menarik perhatiannya.
"Oboi!" teriak Fang, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi sambil melompat berdiri. Matanya berbinar penuh antusiasme. "Lihat ini!"
Boboiboy mendesah panjang, seolah mengumpulkan energi untuk sekadar menoleh. "Apa lagi, Fang? Meme konyol lagi?"
"Bukan! Ini serius!" Fang mendekat, duduk di samping Boboiboy dan menyodorkan ponselnya. "Ini semacam penghargaan… untuk fanfiksi!"
"Fan-apa?" Boboiboy mengernyitkan dahi, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya. "Apa sih fanfiksi itu?"
Fang mendecakkan lidah, kesal karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya sederhana. "Fan-fiksi, Oboi! Cerita yang ditulis penggemar, tentang karakter atau dunia yang mereka suka. Dan ini…" Dia menggulir layar ponselnya lagi, menampilkan sebuah poster digital dengan tulisan besar: Indonesian Fanfiction Awards 2024. "Mereka bikin acara penghargaan buat fanfiksi berbahasa Indonesia yang ditulis tahun ini! Kita bisa menominasikan fanfiksi keren yang sudah para penggemar buat tentang kita! Kalau mereka menang, kita bakal ikut terkenal!"
Boboiboy melongo, bingung antara mengerti dan tidak. "Tunggu, jadi… kita yang harus nulis cerita?"
Fang menggelengkan kepala dengan penuh semangat. "Bukan, bodoh! Ini bukan kontes menulis. Ini penghargaan untuk cerita yang sudah ditulis orang lain, dan kita bisa ikut terlibat menjadi orang yang ikut mempromosikan acara ini!"
Boboiboy masih terlihat ragu. "Jadi kita nggak perlu nulis apa-apa?"
"Ya!" Fang semakin bersemangat. "Kita bisa bantu mempromosikan acara ini, kasih tahu semua orang tentang betapa kerennya fanfiksi-fanfiksi yang ada, dan pastinya kita akan dikenal lebih luas lagi! Lagipula, ada banyak cerita tentang kita di luar sana. Kita bisa jadi lebih terkenal dari ini!"
Boboiboy akhirnya menangkap maksud Fang, meskipun tidak sepenuhnya yakin. "Tapi… kenapa kita harus peduli? Apa untungnya buat kita?"
Fang menyeringai lebar, matanya berkilat penuh semangat. "Karena ini seru, Oboi! Bayangkan, kita bisa lihat bagaimana orang-orang menggambarkan kita dalam cerita-cerita mereka, dan kita juga bisa kasih mereka penghargaan karena sudah membuat kita terlihat keren!"
Boboiboy tertawa kecil, membayangkan betapa anehnya melihat versi dirinya di cerita orang lain. "Oke, kedengarannya menarik. Jadi gimana caranya kita bisa ikut?"
Fang dengan cepat menggulir layar ponselnya lagi, menemukan laman resmi Indonesian Fanfiction Awards 2024. "Mudah, kita tinggal kunjungi laman ini, lalu kita bisa mulai mempromosikan acara ini di media sosial atau komunitas fanfiksi. Dan mungkin kita bisa mulai dengan membaca beberapa cerita tentang kita sendiri, biar kita tahu mana yang paling keren untuk dinominasikan!"
Boboiboy mengangguk setuju, dan bersama-sama mereka mulai menjelajahi dunia fanfiksi yang tak pernah mereka kenal sebelumnya.
Indonesian Fanfiction Awards 2024 sudah dimulai!
IFA adalah sebuah ajang penghargaan bagi karya dan penulis fanfiksi berbahasa Indonesia dalam berbagai kategori. Ayo kita majukan dunia fanfiksi berbahasa Indonesia!
