Something about you

Malam ini Akechi merasa seperti melayang. Meski tidak tahu berada di langit nomor berapa, ia merasa seperti melayang.

Baru pertamakali ia merasa seperti ini, biasanya jika menyangkut pekerjaan dia akan melupakan rasa lelah dan penat kemudian menggantinya dengan acara membaca buku atau olahraga ringan.

Ia masih ingat bagaimana kejadian pagi tadi dimana dirinya berhasil melarikan diri dari Puri Lilin, meskipun si penjahat yang ia cari selama ini kehilangan nyawa, dirinya beruntung masih bisa selamat tanpa ada luka serius yang menggores tubuh.

Diam-diam—dalam hati sanubari Akechi berterima kasih pada Kindaichi, tanpa bocah itu mungkin nyawanya tidak akan tertolong atau bahkan akan terjadi sesuatu yang lebih berbahaya dari yang ia alami.

Meskipun terlihat bodoh dan mesum, anak itu pandai dan banyak akal. Ia selalu mempunyai segudang ide yang bahkan Akechi sendiri tidak mampu berpikir sampai sejauh itu. Kindaichi itu anak spesial, hanya saja beberapa orang meragukannya karena sifatnya yang sembrono.

Sembari tertawa kecil mengingat kejadian di Puri Lilin, Akechi bangkit dari sofa, berjalan santai ke arah jendela apartment. Diikatkan dengan benar tali jubah mandi itu. Helai peraknya masih basah namun aroma maskulin dari sampo masih melekat di rambut lembut Akechi.

Ia menatap jalanan kota Tokyo dari dalam apartment, meski sudah hampir tengah malam kota ini selalu saja ramai, tidak pernah sepi atau bahkan padam. Kilauan dari lampu sorot dan lampu gedung selalu membanjiri setiap sudut kota, terkadang jika Akechi sedang kurang enak badan ia akan merasa kesal ketika melihat kota Tokyo.

Bosan, ia menoleh ke belakang, menatap kosong meja bundar tempat dimana biasanya Akechi membaca novel. Ada dua gelas anggur merah tersaji diatas meja lengkap dengan potret seorang pria tua di belakang. Sekilas, pak tua itu agak mirip Akechi, tapi jika mau memperhatikan ada aksen-aksen perbedaan diantara mereka berdua.

Dengan lunglai Akechi berjalan mendekati meja bundar itu. Diambilnya satu gelas anggur merah dan meneguknya sedikit demi sedikit, rasa dari anggur merah mulai memanjakan lidahnya, mengisi kekosongan dengan hangatnya sajian di depan mata.

Setelah puas dengan meneguk cairan merah itu, Akechi meraih bingkai foto tersebut ditatapnya dengan cinta potret diatasnya. Ada rasa nostalgia ketika melihat potret itu, rasa rindu yang tak terbendung dan tak bisa diucapkan oleh bahasa cinta manapun.

Ia tersenyum kecil, nyaris tak terlihat sama sekali. Namun kau masih bisa melihat kesetiaan pada bola matanya.

Dengan gumam ia memulai. "Hari ini, wanita yang ayah kejar setelah sekian tahun sudah ditemukan dan ia mengakui perubuatannya."

Akechi menghela napas lalu melanjutkan. "...meskipun orang itu bunuh diri dan tidak sempat mempertanggung jawabkan perbuatannya—dalam hatiku—aku senang bisa menemukan penjahat itu. Hatiku sekarang bisa tenang, bagaimana dengan ayah sendiri?"

Gelas anggur merah itu sudah tandas, kepalanya menoleh ke arah jam dinding.

Biasanya ia sudah tertidur atau membaca beberapa laporan di buku catatan. Tapi hari ini Akechi ingin bermalas-malasan, bersantai ria, merilekskan seluruh otot dan pikirannya. Ia berpikir ingin melakukan pesta kecil-kecilan dimana hanya ada dirinya dan ayahnya yang merayakannya.

Akechi sangat yakin kalau Kindaichi melihat pemandangan ini, anak itu pasti akan mentertawakan gelagatnya. Akechi jarang sekali menunjukan emosi yang seperti ini, memperlihatkan titik lemahnya pada orang. Sendu. Menangis.

Akechi tidak mau orang lain menganggap dia itu punya titik lemah yang dengan mudahnya bisa disentil.

"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan ayah, aku kangen."

Waktu masih muda, Akechi selalu berpikir akan punya waktu yang banyak untuk bertemu dengan keluarga. Tapi ternyata itu semua kebalikannya. Hal itu sangat sulit dan mahal harganya.

Ia terkadang tidak punya waktu untuk memanjakan diri sendiri atau bahkan dekat dengan lawan jenis. Segalanya selalu berkutat dengan pekerjaan, bohong kalau ia tidak punya momen kesal tentang pekerjaannya.

Sebenarnya ia sering menelepon ibunya, menanyai kabar atau sekedar menceritakan kegusarannya selama menjadi anggota kepolisian. Tapi entah kenapa ayahnya ini agak berbeda dari sang ibu. Ia tidak terlalu suka di telepon, ia selalu ingin bertemu Akechi secara langsung, saling bertatapan wajah, memeluk satu sama lain, berbagi kehangatan dan makan malam.

Karena bagi Akechi Shogo, bertemu secara langsung lebih menyenangkan dari apapun.

Tapi ketika Akechi memandangi ponselnya. Ia baru sadar ada pesan masuk dari notifikasi, ia memang terbiasa tidak mematikan ponselnya pada malam hari sejak bekerja menjadi polisi.

Ketika ia membukanya sebuah pesan terpampang lugas dalam pandangan. Matanya yang kecoklatan terlihat teduh—manis layaknya madu. Ada senyuman di wajah, namun kali ini lebih lama dari sebelumnya.

Sebuah pesan singkat dari sang ayah.

Dari : Ayah

Subjek :

Boleh ayah telepon?

Belum sempat dibalas panggilan telepon sudah masuk. Dan benar saja sang ayah yang menelepon.

Diangkatnya telepon itu, di dengarkan dengan baik suara di seberang sana, menyeleksi dan menerka-nerka, suara seperti apa gerangan yang akan di dengar Akechi?

Apakah itu suara penuh rasa bangga? Rindu yang tiada tara ataukah ucapan selamat?

"...Kengo."

Suara di seberang sana terdengar mendayu-dayu, tenang dan kalem, meninggalkan kesan kasih sayang pada setiap lantunanya.

Akechi masih ingat bagaimana sang ayah memanggil namanya, bagaimana dengan bangga sang ayah menceritakan kehebatannya pada setiap kolega dan suara itu masihlah terdengar sama di kedua telinga seorang Akechi Kengo.

"Ya, ayah?"

"Ayah sudah dengar apa yang terjadi dari ibumu. Kau dan temanmu itu—ayah ingin mengucapkan terima kasih padamu dan juga temanmu itu."

Ada senyap lagi, Akechi mengigit bibir bawah dengan gusar. Rasanya seperti tersihir tapi ia tak tahu sihir macam apa yang mampu memantrainya.

Dengan tenang Akechi menjawab.

"Ayah, sekali lagi terima kasih. Berkatmu aku bertambah kuat."

Suaranya terdengar serak dan sepertinya ia hampir menangis.

"...selalu ada harapan baru setiap harinya."

"Ayah..."

"Sudah, tidak usah menangis. Anak ayah 'kan orang hebat sama seperti orangtuanya! Kau sendiri bagaimana, Kengo? Kapan pulang?"

"Mungkin aku akan pulang akhir tahun?"

"Oh, bagus lah! Ibumu kangen sekali. Dia ingin pergi ke Tokyo tapi ayah tentu saja melarangnya pergi sendirian. Kami sudah tua, Kengo. Meskipun bisa sendirian kesana tapi tetap saja terasa berat."

Ada jeda kemudian ayahnya melanjutkan.

"Tapi jangan khawatirkan kami. Kami akan baik-baik saja disini, asalkan kau sehat kami juga akan baik-baik saja. Jaga dirimu, ya? Jangan lupa istirahat dan sarapan pagi. Itulah yang dilakukan orang-orang pintar."

"Ya, aku paham..."

"Nah, sekarang sudah malam. Kenapa kau masih belum tidur begini?"

"…entahlah, mungkin karena aku merindukan ayah. Ayo kita pergi memancing kalau aku sudah pulang."