Feline

Kenmochi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kopi diatas meja yang sudah di pesan menjadi dingin. Biasanya dia sangat suka minum kopi yang masih sangat panas, tetapi kali ini kopi itu terasa sangat panas di bibirnya.

Ia melirik Kindaichi dengan panik dan anehnya anak itu sama paniknya dengan dirinya, namun kehebohan yang Kindaichi bagikan membuat semua orang di kafe menoleh dengan tatapan terganggu, heran, bahkan beberapa ada yang mengutuk mereka.

Keringat dingin meluncur dari pelipis Kenmochi. Ada perasaan aneh menusuk jantungnya. Tidak sakit. Hanya saja itu meninggalkan kesan kurang nyaman.

Kenmochi duduk di kursi kafe, beberapa menit kemudian ia berdiri, kemudian mundar-mandir, melakukan gerakan yang sama selama beberapa kali. Diliriknya lagi Kindaichi, tahu-tahu bocah itu sudah gemetaran.

Lutut celana Kindaichi agak kotor mungkin dia terjatuh atau semacamnya, Kenmochi malas bertanya. Baju polonya penuh keringat, topinya terbalik dan banyak daun kering di sekelilingnya.

Dengan gugup Kindaichi bertanya. "Paman, bagaimana ini?" Namun ia lebih terdengar seperti menuntut.

"Apanya yang bagaimana?"

Disodorkan keranjang buah pada Kenmochi. Keranjang buah itu lumayan kecil dan terlihat ringan kemudian ditutupi kain bermotif garis-garis merah seperti taplak piknik. Kenmochi bergidik ngeri kala melihatnya. Namun, diam-diam ia mengintip isian keranjang itu.

"Begitu aku bangun, si Akechi sudah begini."

Kenmochi menyilangkan tangan di dada, lalu berkomentar sinis. "Aduh, itu aku juga bingung. Kok, bisa-bisanya dia jadi begini?"

Kindaichi mengangguk. "Iya, 'kan? Aku juga tidak tahu, tuh! Tapi kita harus bagaimana? Aku sudah punya anjing di rumah. Aduh... kenapa Akechi-san harus jadi kucing?!"

Kenmochi mendecakkan lidah, kesal. "Kucing apa'an? Itu bukan kucing!?"

Jujur saja, kalimat Aku sudah punya anjing di rumah, membuat kepala Kenmochi menjadi lebih sakit dari sebelumnya. Stress akibat pekerjaan sudah sangat menganggunya. Lalu sekarang ini? Apa lagi? Ucapan Kindaichi yang sembrono membuat dirinya seolah bertanggung jawab atas keadaan aneh ini.

Setengah jam yang lalu ia melihat Kindaichi dari jendela kafe—berlari sembari menenteng keranjang buah di atas kepala. Bocah itu tampak panik dan ketakutan—bisa dilihat dari ekspresi wajahnya sesuatu yang tidak wajar bagi seorang Kindaichi Hajime.

Sebenarnya inspektur itu tidak berniat memanggil Kindaichi. Menyapanya saja tidak. Dia ingin santai di hari liburnya dan dia butuh itu. Namun, entah bagaimana keranjang buah di atas kepala Kindaichi membuat rasa penasarannya memuncak. Ada sesuatu di kepalanya yang menyuruh untuk menghentikan bocah itu.

Tapi jika mau ditelaah lebih lanjut itu bukan rasa penasaran tetapi lebih ke perasaan kasihan.

Sesaat setelah Kenmochi memanggil Kindaichi dari pintu masuk kafe, barulah bocah itu terlihat tenang. Entah sudah berapa lama ia berlari, Kenmochi tidak tahu sama sekali tapi yang jelas, itu sudah lumayan lama dan itu terlihat dari wajahnya yang penuh keringat dan bau kurang sedap yang menguar dari tubuh si bocah.

Kemudian tiba-tiba saja Kindaichi berkata dengan nada marah. "Gara-gara orang itu—kita menabrak—kita pingsan lalu Akechi-san jadi kucing, sialan!"

Mau dilihat dari sudut manapun makhluk di dalam keranjang buah itu bukanlah seekor kucing dan tidak bisa disebut sebagai kucing.

Telinganya, bulu-bulu putih halus yang menyelimuti tubuh mungil, ekor yang menjuntai menutupi tubuh, manik mata serupa madu yang menatap Kenmochi. Semua itu tidak ada dalam diri seekor kucing. Intinya makhluk itu bukan kucing dan tidak mungkin seekor kucing!

"Itu bukan kucing." Kenmochi berbisik, suaranya tertahan di tenggorokan. Kepalanya sudah tidak gatal tapi napasnya tercekat dan sesak.

"Terus?"

"Itu siluman! Itu Kitsune!"

Kindaichi melongo, rahangnya terasa kaku. Manik matanya membulat tak percaya. Ekspresi itu biasa ia tunjukan jika dia ia terkejut atau terpesona. Tapi kali ini kombinasi dari kedua perasaan itu membuat Kenmochi sulit menggambarkan suasana hati yang Kindaichi rasakan.

Rasanya Kindaichi pernah mendengar istilah itu tapi entah kapan dan dimana, mungkin dari buku pelajaran atau tahayul tahayul yang sering dibicarakan neneknya.

Siluman!

Aneh sekali. Tidak mungkin Akechi berubah menjadi siluman! Dan untuk apa juga ia berubah menjadi siluman? Itu tidak elit dan keren sama sekali. Kindaichi selalu percaya bahwa Akechi itu bukan tipe orang yang dengan mudahnya percaya hal mistis, tahayul, sesuatu yang klenik.

Makhluk dalam keranjang buah itu kecil dan seluruh tubuhnya putih hampir seperti kapas bulat yang utuh, ia tidak mengeluarkan suara dan terus tertidur selama Kindaichi membawanya berlari.

Sampai ketika Kenmochi mengintip ke dalam keranjang buah barulah makhluk itu membuka matanya, menatap Kindaichi dan juga Kenmochi dengan bingung, berkedip beberapa kali dengan mata mengantuk.

Sampai ketika Kindaichi menyebutkan nama "Akechi" barulah manik mata makhluk itu membulat. Menilik-nilik ingin tahu dan penasaran.

"Bagaimana ceritanya dia sampai begini, heh?" Kenmochi terdengar mengancam dan tegang. Kindaichi bisa merasakan ada aura ketakutan dalam suara si inspektur.

"Begini, paman. Aku... maksudnya Akechi-san meminta bantuanku dan kami janjian, begitulah. Kami mengendarai mobil, kemudian tiba-tiba saja ada kakek-kakek muncul di tengah jalan lalu—"

Kenmochi memotong. "Kalian menabrak orang?!"

"Aku tidak tahu, si kakek tidak tampak seperti manusia. Rasanya dia tiba-tiba saja ada di tengah jalan seperti teleportasi, paman. Kepalaku membentur dashboard mobil kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi! Begitu aku membuka mata di kursi supir sudah ada makhluk ini! Aku langsung berpikir kalau makhluk ini Akechi-san yang kena kutuk!"

Kenmochi menggelengkan kepala, nyaris menyangka kalau Kindaichi sudah hilang akal sehat. Tapi disisi lain, makhluk putih ini memang tampak seperti kitsune tidak mungkin ada kucing memiliki ekor banyak dan itu ekor sungguhan ketika Kenmochi berusaha menyentuhnya.

Namun yang membingungkan adalah soal Akechi yang menghilang setelah menabrak kakek-kakek misterius memberikan kesan horor yang membuktikan ucapan Kindaichi benar adanya.

"Hey, tenanglah," Kenmochi merayu. "Bagaimana kalau kita pergi dari sini lalu diskusikan ini di luar kafe?"

"Ide bagus." Kindaichi melihat sekeliling. "Kita terlalu menarik perhatian para pengunjung."

Mereka lalu melipir meninggalkan kafe setelah membuat kekacauan kecil disana. Sang owner bersyukur ketika ia melihat mereka berdua pergi. Hampir saja mereka berdua diguyur air karena saking berisiknya.

"Jadi," Kindaichi memulai. "Mau kita apakan Akechi-san ini? Paman mau memelihara dia?"

Kenmochi membentak. "Ucapanmu itu aneh! Itu tidak enak di dengar tahu! Kalau ada orang yang dengar mereka akan mikir macam-macam! Memelihara? Apa-apa'an!"

Kindaichi tersipu. "Eh, maaf deh kalau itu menyinggung paman."

Mereka sekarang berjalan di komplek perumahan. Langit sudah menguning, udara menjadi agak dingin dari sebelumnya.

Kenmochi berbicara lagi. "Kita harus yakin dulu kalo itu memang Akechi. Siapa tahu dia hanya iseng..."

Kindaichi mendelik, agak tersinggung. "Aku tidak berbohong! Aku juga berusaha mencari Akechi-san setelah tabrakan itu. Tapi, cuma ada kucing ini saja!"

"Kucing lagi. Kucing lagi!" Batin Kenmochi, "Sudah jelas kalau itu bukan kucing. Dasar anak bodoh!"

"Kalau begitu mungkin itu cuma hayalanmu saja—"

Ucapan Kenmochi terpotong ketika Miyuki menyerbu mereka. Gadis itu datang sembari berteriak, tidak terlalu keras tapi cukup membuat Kenmochi sedikit jengkel. Gadis itu muncul dari pintu rumah Kindaichi, masih memakai seragam sekolah dan menenteng tas. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, tapi dia terlihat baru saja menangis.

"Hajime-chan! Hajime-chan sudah kembali!" Katanya tersedu-sedu. Dia hendak memeluk tubuh lelaki muda itu namun Kindaichi langsung mundur.

Dengan tersipu Kindaichi mengomel. "Aduh, apa'an sih, Miyuki! Malu tahu! Kau kenapa?"

"Akechi-san..." Miyuki terus menahan tangisan. Suaranya agak bergetar. Kenmochi langsung tegang ketika Miyuki menyebutkan nama itu. Tapi ketika ia hendak berbicara Miyuki langsung menyela.

"Akechi-san bilang dia habis menabrak kakek-kakek lalu Hajime-chan hilang dari kursi penumpang. Akechi-san langsung mencarimu tapi dia tidak menemukanmu dimana-mana!"

Miyuki menyebutkan kakek-kakek dengan nada suara yang aneh. Seperti orang yang ditabrak Akechi bukan kakek-kakek sungguhan.

Kindaichi langsung menyambar. "Hilang? Hilang bagaimana?"

"Ya, hilang. Menghilang! Akechi-san langsung panik takut kau terjatuh dan tertinggal di belakang."

Kindaichi menundukkan kepala, hendak memeriksa sesuatu, harus memeriksa sesuatu. Ia melirik keranjang di dalam dekapan namun...

"Eh, keranjangnya," ia menoleh ke kanan dan kiri. "Paman, mana keranjangnya!"

…keranjang buah itu hilang.

"Keranjang apa sih, Hajime-chan? Kau tadi kesini tidak bawa apa-apa. Terus, paman itu maksudnya Inspektur Kenmochi? Aduh, kau bilang apa, sih? Tadi kau cuma sendirian tahu!"

Miyuki tersenyum maklum. Ditangkupnya wajah si detektif muda dengan telapak tangan. Menatap si pria muda dengan kasih. "Sepertinya kau kena gegar otak. Aduh, ayo kita ke rumah sakit! Aku akan bilang pada Akechi-san kalau kau sudah ditemukan. Kasihan dia, panik sekali."

Rasanya Kindaichi ingin bertanya soal Kenmochi yang menghilang secara tiba-tiba. Semua ini membuatnya bingung bukan main. Dia masih ingat dan yakin kalau dirinya bertemu Kenmochi di kafe dan membawa keranjang buah berisi Akechi. Ataukah itu hanya hayalannya saja?

Namun Kindaichi mengurunkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Terlalu aneh. Jadi ia menanyakan hal lain. "Lalu, bagaimana dengan kakek-kakek itu?"

"Ah, aku belum tahu. Sepertinya itu prank anak remaja. Menganggu orang yang melintas. Pura-pura tertabrak."

Apa betul Kindaichi kena gegar otak? Rasanya aneh sekali...