Like Yesterday
"Wah, beruntung sekali kau bertemu denganku, ya?"
"Ya... aku bisa menganggapnya begitu, terima kasih, Itsuki-san."
Akechi mungkin menanggap ini sebagai salah satu keuntungan kecil dalam hidupnya. Meski dirinya tidak terbiasa naik motor tapi ia berterima kasih pada sang penolong. Jika saja ia tak bertemu dengan Itsuki, mungkin ia akan sendirian di sudut desa ini. Kedinginan. Mati kelaparan.
Akechi baru pertamakali ke tempat ini, bahkan baru mengetahui namanya dari sang anak buah. Akses jalannya susah dan tidak terlalu banyak orang yang melintas untuk dimintai tolong. Ia hendak menghubungi mobil derek, namun sinyal ponsel di desa ini jelek sekali. Dia juga tak yakin sampai kapan menunggu seorang diri di tempat terpencil.
Mobil mogok! Sialan. Akechi akan minta kompensasi ke kantor polisi.
"Akechi-san sendiri sedang apa disini?"
Si penyelamat itu adalah Itsuki Yosuke. Kenalan dari Kindaichi, mereka lumayan dekat.
"Apa? Maaf, aku tak bisa dengar, Itsuki-san."
Itsuki tertawa lalu mengulangi ucapannya dengan suara yang sengaja di buat keras. Tapi suaranya agak aneh karena angin dan helm yang ia pakai. "Aku bilang, Akechi-san sedang apa disini?"
"Oh, itu... aku sedang menyelidiki suatu kasus. Aku juga heran mengapa di Tokyo ada tempat terpencil seperti ini."
Itsuki melambatkan laju motor dan sekarang mereka bisa mendengar suara masing-masing. Sebenarnya kepala Akechi agak sedikit pusing, ia juga kedinginan bukan main. Mantel coklat kesayangannya tertinggal di dalam mobil. Saking kelelahannya ia jadi melupakan banyak hal.
Pikirannya melayang entah kemana, rasa dingin ini membuatnya lemah dan cepat bingung. Ia sangat mendambakan minum kopi atau coklat panas. Pasti enak!
"Yah," Itsuki mengangguk. "Tempat ini memang agak terpencil. Aku juga baru tahu akhir-akhir ini dari temanku. Spot yang bagus untuk uji nyali." Katanya dengan sedikit nada menggoda. Berharap Akechi yang ada di belakang punggungnya akan ketakutan.
"Oh, uji nyali..." Akechi bergumam tapi suaranya lumayan keras. Ia menyibakkan helai kelabu yang menutupi penglihatan, lalu ia melanjutkan ucapannya dengan nada suara datar. "Memang menyeramkan."
"Eh, apanya? Tempatnya?"
Akechi menjawab lagi, kali ini suaranya menjadi lebih hangat. "Ya, apalagi di sebelah sana bekas pembunuhan. Mayatnya di lempar ke sumur."
"Wah, seram juga, ya? Aku habis lewat sana tadi."
Kemudian mereka tidak berbicara lagi. Itsuki merasakan kecanggungan memeluk diantara mereka. Akechi tidak pernah sependiam ini, AKBP muda itu senang berbicara dan mendongeng apalagi menceritakan trivia mengenai hidupnya atau soal pengetahuan—yang mana hal itu lebih sering membuat Kindaichi dan Kenmochi kesal.
Itsuki sendiri tidak terlalu memikirkan itu, merasa kesal pada Akechi—mungkin tidak. Orang dengan tipe seperti Akechi itu banyak sekali dan dia tahu persis bagaimana meladeni pemuda elit semacam Akechi.
Didengarkan dan dipuji. Begitulah.
Desa yang mereka lewati minim sekali pencahayaan hanya motor milik Itsuki saja yang menjadi penerang perjalanan mereka. Meski ada bulan diatas langit tetap saja daerah ini gelap, terlalu banyak pohon tinggi dan jauh dari keramaian.
Akechi agak khawatir kalau mereka disateroni sekawanan perampok atau yang lebih berbahaya jatuh ke dalam lubang. Dia bisa saja menembak para perampok tapi kalau masuk ke dalam lubang ceritanya bakalan lain.
Tapi sepertinya Itsuki sudah lihai berkendara di medan seperti ini. Buktinya saja mereka masih terus berkendara tanpa hambatan sedikit pun. Agak aneh memang, seingat Akechi tempat ini tidak seram ketika ia melewatinya siang tadi.
Itsuki menunjuk udara kosong. "Sebentar lagi kita akan keluar dari desa aneh ini dan kita akan melihat Tokyo. Apa kau mau sesuatu untuk di makan, Akechi-san?"
"Eh..." Akechi berpikir, kepalanya masih pusing. Mungkin dia masuk angin atau perutnya kembung. Rasanya ingin muntah saja. "Aku ingin minum kopi atau makan makanan yang hangat..."
"Baguslah, aku punya rekomendasi! Apa Akechi-san punya alergi—atau tidak apa-apa kuajak makan di tempat yang... bagaimana menjelaskannya, ya? Isinya para pekerja kasar?"
Akechi langsung mengerti maksud dari ucapan Itsuki. Mungkin lelaki yang hobi motoran ini mengajaknya makan malam di tempat biasa, kedai kecil yang berisi nelayan atau pekerja pabrik. Tempat yang seperti itu selalu menghidangkan makanan murah yang porsinya banyak bahkan para penjual jarang memberikan buku menu.
"Aku tidak masalah, Itsuki-san..."
Itsuki tersenyum suaranya ceria sekali. "Bagus, dong! Aku punya tempat bagus untuk makan. Makanannya enak terus murah!"
Akechi tidak menjawab apa-apa lagi, ia hanya diam sepanjang perjalanan. Itsuki agak sedikit khawatir kalau Akechi bakalan pingsan atau terjatuh dari atas motor, selain itu Itsuki langsung paham kalau lelaki ini tidak terbiasa naik motor apalagi malam-malam. Andai saja Itsuki punya satu jaket tambahan mungkin Akechi akan merasa nyaman.
"Kau tidak apa-apa 'kan, Akechi-san?" Ia bertanya suaranya agak khawatir.
"Kepalaku pusing sekali. Mungkin aku akan minta libur..."
"Wah, mungkin kau masuk angin. Semoga saja hanya masuk angin. Nanti kupesankan minuman hangat, deh. Jangan kopi!"
Beberapa menit kemudian Akechi melihat pemukiman dan juga trotoar itu tandanya mereka sudah keluar dari desa aneh itu. Akechi merasa lega meskipun sakit di kepalanya tidak kunjung sembuh juga. Sekarang semakin yakin kalau dirinya masuk angin atau semacamnya, Akechi bahkan tak ingat kapan terakhir kali makan.
Motor itu berhenti, Itsuki lekas-lekas melepas helm lalu menunjuk banner dari kedai itu. Ada senyum di wajahnya dan nada suaranya masih ceria seperti barusan. Akechi selalu menilai jika pria ini agak kasar dan sembarangan. Tapi ternyata penilaiannya salah.
"Nah, kita sudah sampai," Itsuki tertawa mengambil helm dari tangan Akechi lalu melanjutkan. "Kalau mau makan makanan hangat berarti ramen, ayo masuk!"
Akechi mengekori dan itu membuatnya terlihat seperti anjing yang patuh pada sang majikan. Itsuki tidak berkomentar tapi entah kenapa dia lumayan menyukai sisi pendiam Akechi.
Ketika masuk, pemilik kedai langsung menyambut mereka dengan gembira, beberapa orang di dalam kedai juga menyapa, bahkan ada yang memanggil-manggil Itsuki seolah mereka sudah berteman sangat lama.
Mereka langsung bercakap-cakap saling bertukar salam dan tertawa dengan suara keras. Tempat ini sangat ramai saat malam hari, pengap dan hanya ada sedikit ventilasi, ia bisa melihat kipas butut di beberapa tempat dan lampu jingga yang agak gelap di beberapa sudut. Akechi sendiri belum pernah ke tempat seperti ini buatnya ini adalah suatu pengalaman.
Salah satu dari orang-orang ini mulai memperhatikan, mereka mengangguk ramah pada Akechi dan bertanya. "Siapa orang ini, Itsuki? Jangan bilang kalau dia orang pajak! Kami tidak suka orang pajak!"
"Eh, bukan kok!" Itsuki tertawa, ia menepuk pundak Akechi. "Ini temanku. Dia polisi, lho!"
Pria yang agak botak berkomentar sinis. "Tumben kok ada polisi ganteng berkeliaran. Sudah malam pula. Biasanya mereka itu menyebalkan! Tukang ngatur dan juga gendut macam ban karet!"
Orang di sebelah si botak langsung tertawa. "Wah, kebetulan pak Polisi Ganteng. Ayo tangkap si boncel ini. Dia ini sering maling rokok punyaku!"
Kemudian di balas dengan suara yang lumayan keras. "Ah, tidak! Dia saja yang ditangkap karena hobi ngutang sama selingkuh!"
Kemudian semua orang tertawa.
Rasanya sangat menyenangkan berkumpul dengan mereka, sakit kepala Akechi langsung hilang ketika ia memesan beer. Setidaknya bagi seorang Akechi Kengo ini pengalaman yang menakjubkan.
