The Bloodbound Journey
Disclaimer :
Bukan milik Saya...!
Prologue
Dragonstone
Istana House Targaryen yang berdiri kokoh di atas pulau berbatu, adalah tempat penuh sejarah dan kebesaran. Di sini, Aegon sang Penakluk dan kedua saudarinya, Visenya dan Rhaenys, telah merencanakan penaklukan Westeros. Istana itu, dengan dinding-dinding kelam dan menara yang menjulang, dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu, dan tidak cocok untuk serigala betina dari Utara. Namun, Lyanna Stark tetap berdiri di sana, menatap ombak yang keras menabrak bebatuan Dragonstone. Pikirannya masih kusut, dihantui oleh ingatan dua tahun lalu.
Dia sadar dari lamunannya saat merasakan tarikan kecil di bawah kakinya. Senyum muncul di bibirnya ketika melihat anak-anaknya. "Aemon, Visenya! Kemarilah, bayi serigalaku."
Lyanna meraih mereka berdua dalam pelukan yang erat. Visenya tersenyum lebar merasakan kehangatan ibunya, sementara Aemon memeluk erat seolah tidak ingin melepaskannya. "Aemon?" panggil Lyanna lembut.
Aemon menatapnya dengan mata ungu gelap yang tajam, mata yang mengingatkan Lyanna pada Rhaegar. "Papa?"
Lyanna terkejut mendengar kata itu. Aemon tumbuh begitu cepat, dan meskipun usianya baru dua tahun, kecerdasannya sudah jauh melampaui anak-anak seusianya. Lyanna tersenyum lembut. "Ayahmu adalah seorang raja, dan harus berada di King's Landing agar tidak ada kekacauan. Mengerti?" jelas Lyanna, meskipun ia tahu penjelasan itu mungkin terlalu rumit untuk dipahami oleh anak seumur Aemon.
Namun, wajah Aemon menunjukkan pemahaman yang tak terduga. "Muna!" teriak Visenya meminta di gendong. Lyanna tertawa kecil dan menggendong Visenya yang tertawa bahagia.
Lyanna melirik Aemon yang berdiri di dekatnya. Tidak ada rasa iri atau cemburu di wajahnya, seolah ia tahu bahwa adiknya memang selalu manja padanya. "Mau digendong, Aemon?" tanya Lyanna.
Aemon menggeleng pelan, tetap tersenyum dan memeluk kaki ibunya dengan erat. Hati Lyanna tersentuh, merasakan kebahagiaan yang mendalam. Ia sangat bahagia memiliki bayi kembar yang begitu menyayanginya.
Seorang pelayan tiba-tiba datang. "My lady, yang mulia sedang dalam perjalanan dari King's Landing."
Lyanna terkejut, tapi wajahnya segera cerah dengan kebahagiaan. "Terima kasih. Apakah Ibu Suri sudah tahu?"
"Yes, my lady."
"Kalau begitu, buat persiapan untuk menjamu yang mulia."
"Yes, my lady." Pelayan itu membungkuk dan pergi, meninggalkan Lyanna yang kini penuh dengan antisipasi. Mengetahui bahwa Rhaegar, cintanya, akan datang setelah dua tahun yang panjang, membuat hatinya berdebar-debar. Dia yakin Rhaegar akan sangat senang bertemu dengan anak-anak mereka.
"Kalian mendengarnya, ayah kalian akan datang," kata Lyanna dengan suara bergetar penuh kegembiraan.
Aemon melonjak kegirangan, sementara Visenya hanya tersenyum lebar, ikut senang meskipun mungkin belum sepenuhnya mengerti. Lyanna dengan lembut menaruh Visenya di samping Aemon. "Sekarang, Aemon, bawa adikmu ke nenekmu. Pergilah bermain dengan Dany, oke."
Aemon mengangguk dengan tegas, menunjukkan kedewasaan yang tidak biasa untuk anak seusianya, dan menggendong adiknya dengan hati-hati. Visenya tertawa kecil, mengikuti kakaknya dengan gembira, tangannya yang mungil menggenggam erat pakaian Aemon.
Lyanna tersenyum melihat keduanya tampak begitu bahagia. Dia tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, dia akan sibuk mempersiapkan kedatangan Rhaegar. Rhaegar akan sangat senang melihat bagaimana anak-anak mereka telah tumbuh. Aemon dengan kecerdasan dan ketegasan yang mengingatkan pada ayahnya, dan Visenya dengan kelembutan dan keceriaannya yang mengisi setiap ruangan dengan cahaya.
Ketika anak-anak menghilang di balik pintu, Lyanna memandang keluar jendela ke arah laut yang berombak. Pikirannya kembali ke masa-masa sulit yang telah mereka lewati, namun hatinya sekarang penuh harapan. Rhaegar akan segera kembali, dan mereka bisa memulai babak baru bersama.
Di istana yang penuh dengan sejarah dan bayangan masa lalu, Lyanna merasakan angin segar membawa harapan. Di sini, di Dragonstone, di tengah kegelapan batu dan laut yang ganas, ada cinta yang mengikat mereka semua. Dan cinta itu, pikir Lyanna, lebih kuat dari apapun yang telah mereka lalui.
Dua Hari Kemudian
Angin laut yang kencang menerpa Dragonstone, membawa aroma garam dan ancaman badai yang tak berkesudahan. Di halaman istana, Lyanna berdiri bersama Rhaella dan anak-anak, menanti kedatangan Raja Rhaegar. Mereka telah menghabiskan hari-hari terakhir dalam persiapan yang penuh ketegangan, memastikan setiap sudut istana bersih dan setiap hidangan siap.
Akhirnya, rombongan kerajaan tiba dengan megah. Para ksatria dengan baju zirah berkilauan, bannermen yang mengibarkan bendera merah Targaryen, dan di tengah semuanya, Raja Rhaegar di atas kudanya yang gagah. Lyanna tersenyum melihatnya, tampan dan menawan seperti dulu, dengan mata yang penuh tekad dan kecintaan.
Namun, senyumnya memudar saat melihat sang ratu turun dari kereta. Elia Martell, dengan segala kemegahannya, berjalan anggun dengan anak-anaknya di sisinya. Prince Aegon dengan rambut perak dan mata ungu, serta kulit cokelat dari ibunya, dan Princess Rhaenys yang mewarisi rambut hitam ibunya, mata ungu, dan kecantikan Valyria dari ayahnya.
Lyanna dan yang lainnya menunduk menyambut sang raja beserta rombongannya. "Dragonstone milikmu, Yang Mulia."
"Berdirilah," suara Rhaegar terdengar jelas dan tegas.
Lyanna bangkit dan menatap Rhaegar yang juga memandangnya dengan cinta. Dia mengambil tangannya tanpa mengalihkan pandangannya. "Lady Lyanna, serigalaku," katanya sambil mencium tangannya, membuatnya merona dengan pipi yang memerah.
Rhaegar memberi anggukan kecil, lalu bergerak ke samping melihat ibunya, mencium tangannya dan memeluknya erat. "Ibu, aku merindukanmu," katanya dengan suara bergetar, penuh kerinduan.
"Kau telah berjuang, nak," jawab Rhaella, melepas pelukannya dengan mata berair.
"Ibu..." mata Rhaegar memancarkan kerinduan dan rasa bersalah yang mendalam.
"Kita akan bicara nanti," potong Rhaella, melirik ke samping. "Sapalah adik dan anak-anakmu."
Rhaegar berjalan ke samping, melihat Daenerys yang menatapnya dengan rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan. "Halo, adik kecil," sapa Rhaegar dengan senyum yang hangat.
Dany tampak takut dan bersembunyi di balik Aemon. Rhaegar hanya tertawa kecil. "Dany!" Rhaella memanggilnya dengan suara lembut tapi tegas.
"Tidak apa-apa, Bu." Rhaegar lalu menatap Aemon yang menatapnya dengan kagum. "Papa?" ucap Aemon dengan suara kecil tapi jelas.
Rhaegar terkejut mendengarnya. Bayi berusia dua tahun berbicara seolah mengenalnya sebagai ayahnya. Rhaegar tersenyum dan mengacak-acak rambutnya. "Kamu pasti Aemon, kan?"
Rhaegar lalu melihat kembarannya yang hanya menatapnya dengan bingung. "Muna?"
Aemon menarik Visenya menunjuk ke arah Rhaegar. "Papa!" teriak Aemon, seolah-olah menjelaskan bahwa Rhaegar adalah ayah mereka. Hal itu mengejutkan Rhaegar.
Visenya dengan mata melebar. "Waaa!" dengan tangan ke arahnya.
Rhaegar tertawa kecil dan mengangkatnya menggendongnya. "Kemarilah, bayi nagaku."
Visenya yang berada di gendongannya memeluknya. "Waaa! Waaa!" dia tertawa kecil.
Rhaegar tersenyum bahagia melihat antusiasme anak-anaknya. Lyanna hanya bisa ikut senang melihat Rhaegar tampak bahagia bersama anak-anaknya. Namun, senyumnya langsung lenyap saat sang ratu berdiri di depannya. Lyanna langsung mengambil tangan ratu dan menciumya dengan hormat. "My Queen."
Elia tampak datar. "Keliatannya kau sangat senang," ucap Elia dengan dingin sambil berjalan menuju Rhaella.
Lyanna hanya diam. Prince Aegon menghampirinya menatapnya sebentar, lalu tersenyum dan mengacak-acak rambut Aegon. "Selamat datang di Dragonstone, My Prince."
Aegon tersenyum lalu berjalan menuju neneknya. Sedangkan Rhaenys yang berusia enam tahun menatapnya dengan senyum lebar dan berlari memeluknya. "Kamu pasti serigala Ayah."
Lyanna sedikit terkejut, dan membalas pelukannya. "Senang bertemu denganmu, Princess."
"Begitu juga aku, hehe," kata Rhaenys dengan riang.
Hati Lyanna sedikit tersentuh karena merasa diterima. Setidaknya anak-anak ratu tidak membencinya. "Kau tahu, kau punya adik-adik yang menggemaskan. Sapalah."
"Adik baru?" matanya melebar senang.
Rhaenys berjalan langsung ke adik-adiknya, melewati Rhaella yang hanya menghela napas melihat kelakuan Rhaenys. "Rhaenys, sapa nenekmu," perintah Elia dengan tegas.
"Tidak apa-apa, biarkan saja," kata Rhaella dengan lembut.
"Tapi, Ibu..."
"Dia hanya semangat melihat adik barunya."
Elia hanya mengalah, mengangguk pelan.
Rhaenys lalu berdiri di hadapan Aemon dan Daenerys. Rhaegar yang menyadari Rhaenys berkata, "Rhaenys, sapalah bibi dan adikmu."
Dany tampak waspada melihat Rhaenys yang tersenyum kepadanya, Aemon hanya menatapnya mencoba mengenalinya, sementara Visenya yang ada di gendongan Rhaegar hanya tersenyum senang.
"Kemarilah adik-adik, peluk kakak kalian, hehe," Rhaenys merentangkan tangannya dengan antusias.
Namun, tidak ada yang bergerak, hal itu membuat Rhaenys cemberut. Ia lalu menarik Dany dan Aemon ke dalam pelukannya. "Adik baru, hehe," Rhaenys tampak sangat senang.
Dany tampak mencoba melepas diri, namun Rhaenys yang jauh lebih tua lebih kuat. Aemon hanya diam dan membalas pelukannya. "Kakak!" seru Aemon dengan suara lembut.
Rhaenys terkejut dan melepas pelukannya dengan mata berbinar. "Benar, aku kakakmu!"
Rhaegar hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya. Ia lalu menatap ibunya. "Ibu, mari kita masuk."
Rhaella tersenyum lembut, wajahnya menunjukkan campuran antara kebanggaan dan kelegaan. "Baiklah, anak-anak mari masuk ke dalam."
Saat mereka mulai bergerak menuju pintu istana, Lyanna merasa sedikit lega namun tetap waspada. Dia mengikuti di belakang, diikuti oleh para pelayan yang membawa barang-barang. Matahari sore mulai terbenam, melemparkan bayangan panjang di atas halaman istana.
Elia Martell, dengan keanggunan yang tak pernah pudar, berjalan dengan langkah-langkah lambat seolah menunggu seseorang. Saat Lyanna mencapainya, Elia langsung mengaitkan tangannya, gerakannya cepat namun anggun. "Kemarilah, kita perlu bicara," katanya dengan suara yang datar namun tegas.
Lyanna merasakan ketakutan dalam hatinya, seperti es yang merayap di sepanjang tulang belakangnya. Dia mengangguk pelan, merasa tak berdaya di hadapan ratu yang kini berdiri begitu dekat dengannya.
Throne Room
Rhaegar memandang kursi kosong yang terbuat dari obsidian, atau dragon glass. Kursi tersebut adalah milik leluhurnya, yang selalu digunakan oleh Pangeran Dragonstone sebelum menjadi Raja dari Tujuh Kerajaan. Cahaya lilin yang redup memantulkan kilauan hitam di permukaan kursi itu, menambah kesan dingin dan misterius.
Langkah ringan terdengar di belakangnya. Lyanna datang, menatap punggung Rhaegar dengan kerinduan yang terpancar dari matanya. Ketika Rhaegar berbalik, wajahnya menyiratkan keletihan dan kasih sayang yang dalam. Tanpa berkata-kata, dia menarik Lyanna ke dalam pelukannya. "Oh, serigalaku. Aku merindukanmu," bisiknya dengan suara serak.
"Aku juga, sangat merindukanmu," jawab Lyanna, membalas pelukan Rhaegar dengan erat.
Rhaegar melepas pelukan itu dan mencium Lyanna dengan lembut namun penuh cinta. Mereka berdua tersenyum, merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Rhaegar lalu menuntunnya ke tangga di depan takhta, dan mereka duduk bersebelahan, saling memandang dalam diam.
Tangan mereka tergenggam kuat, seolah mencari kekuatan dalam kebersamaan. "Lyanna, maafkan aku. Aku baru menemuimu setelah dua tahun. Maafkan aku!" Rhaegar memohon dengan suara penuh penyesalan.
Lyanna tersenyum kecil, memahami keadaan yang dihadapi Rhaegar. "Rhaegar, aku mengerti. Namun, perbuatan kita membuat Westeros terbakar." Suaranya sedih, memikirkan berapa banyak orang yang telah meninggal, termasuk ayah dan saudaranya, Brandon.
Rhaegar mengenggam tangan Lyanna lebih erat, menariknya ke dalam pelukan. "Aku tahu, dosa kita besar. Hanya saja..." Rhaegar menggantungkan perkataannya, matanya berkabut dengan emosi yang tak terungkapkan.
Dalam pelukan Rhaegar, Lyanna memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang telah lama dirindukan. Ruang takhta yang dingin dan suram terasa sedikit lebih hangat dengan kehadiran mereka, seolah-olah cinta mereka bisa mengusir kegelapan yang melingkupi. Di luar, angin laut Dragonstone berdesir, membawa kabar dari dunia yang sedang bergolak, tetapi di dalam ruangan itu, sejenak, waktu terasa berhenti.
"Rhaegar, kau di sana?" Suara Elia tiba-tiba muncul, memecah keheningan.
Rhaegar dan Lyanna dengan cepat duduk dengan tenang, mencoba menyembunyikan kegugupan mereka. Elia memandang mereka dengan datar, wajahnya tidak menunjukkan emosi. "Elia!" Rhaegar segera bangkit, suaranya berusaha tetap tenang.
Lyanna juga ikut bangkit menyambut sang ratu. Elia menatap Lyanna dengan dingin sebelum mengalihkan pandangannya ke Rhaegar, tatapannya menghangat sedikit. "Ibumu mencarimu, dia menunggumu di kamarnya," ucap Elia dengan suara lembut namun tegas.
Rhaegar, yang memahami maksud Elia, melirik Lyanna yang mengangguk pelan sebagai tanda setuju. "Baiklah, kalau begitu permisi, Elia, Lyanna," katanya, sebelum bergegas meninggalkan ruangan.
Begitu Rhaegar pergi, suasana menjadi tegang. Elia dan Lyanna berdiri berhadapan di ruang takhta yang suram, dikelilingi oleh bayangan lilin yang berkedip-kedip. Elia mendekati Lyanna, tatapannya tajam, penuh dengan emosi yang terpendam.
"Sekali lagi kukatakan, Rhaegar mungkin mencintaimu, namun Westeros membencimu," ungkap Elia dengan nada tajam, matanya berkilat-kilat penuh amarah.
Lyanna meringis mendengarnya, namun tetap tenang, meski hatinya bergemuruh. "Aku tidak peduli jika seluruh Westeros membenciku," jawabnya, suaranya penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
Elia tetap menatapnya dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. "Aku dengar kau gadis pemberani dan bodoh, sepertinya itu benar." Elia menambahkan dengan nada mengejek, "Apa kalian para Stark sangat bodoh, hm? Seorang gadis berusia 16 tahun lari dengan seorang pria yang sudah menikah, apakah itu terhormat? Bukankah House Stark terkenal akan kehormatannya?"
Lyanna merasakan sakit di hatinya mendengar kata-kata Elia. Namun, ia tetap teguh, menatap langsung ke mata Elia. "Aku mungkin muda dan bodoh," katanya pelan namun tegas, "tetapi aku mengikuti hatiku. Aku tidak menyesali cintaku pada Rhaegar, meskipun dunia membenciku."
Elia menghela napas panjang, tatapannya masih penuh kebencian. "Kau tidak mengerti apa yang telah kau lakukan," katanya dengan nada getir. "Kau telah membakar Westeros dalam api perang, membunuh banyak orang yang tidak bersalah. Cintamu mungkin tulus, tetapi akibatnya sangat mengerikan."
Lyanna terdiam, mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Elia. Ia ingin menjawab, tetapi Elia mendahuluinya, suaranya semakin tajam dan penuh kemarahan. "Apakah kamu tidak tahu, di luar sana kau dianggap penyebab perang dan meninggalnya ribuan orang? Mereka memanggilmu pelacur yang menggoda suami orang, bahkan anak-anakmu dipanggil bastards!" Elia menekankan kata "pelacur" dan "bastards" dengan penuh kebencian, membuat Lyanna merasakan setiap tusukan dari kata-kata tersebut.
Lyanna merasakan hatinya hancur mendengar kata-kata Elia. Ia tahu bahwa tindakannya telah menyebabkan banyak penderitaan, namun mendengarnya secara langsung begitu menyakitkan. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia menolak untuk menangis di hadapan Elia.
"Aku tahu," jawabnya pelan, suaranya hampir berbisik. "Aku tahu apa yang telah kulakukan, dan aku menyesalinya setiap hari. Namun, cintaku pada Rhaegar adalah sesuatu yang tidak bisa kuhindari."
Elia mendengus, matanya menyala dengan api kemarahan yang tak tertahankan. "Cinta? Apa kau pikir cinta cukup untuk menebus semua darah yang telah tertumpah? Semua nyawa yang hilang? Westeros terbakar karena 'cinta' kalian!"
Lyanna menundukkan kepalanya, merasa tak mampu membela diri lagi. Ia tahu bahwa kata-kata Elia benar adanya, dan tak ada yang bisa ia katakan untuk menghapus semua kesalahan yang telah ia buat.
"Sebaiknya kau tidak berpikir untuk pergi dan tinggal di King's Landing, kau tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di sana, terutama anak-anakmu," ujar Elia dengan nada tegas. "Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu dan anak-anakmu."
Elia berbalik, berjalan menjauh beberapa langkah sebelum tiba-tiba berhenti dan berbalik kembali. "Sekedar saran, lebih baik kau dan anak-anakmu pergi dan tinggal di gurun utara yang dingin, atau tetap di sini, jauh dari intrik politik selatan."
Dengan kata-kata terakhir itu, Elia meninggalkan Lyanna sendirian di ruangan yang penuh dengan bayang-bayang kenangan dan penyesalan. Lyanna tetap berdiri di tempatnya, memandangi punggung Elia yang semakin menjauh. Kata-kata Elia berputar-putar dalam pikirannya, menambah beban yang sudah ia rasakan di hatinya.
Ruang tahta yang megah dan suram terasa semakin sunyi dan mencekam. Lyanna memeluk dirinya sendiri, merasakan dingin yang merayap ke dalam tulangnya. Ia tahu bahwa jalan di depannya akan sulit dan penuh rintangan, tetapi demi anak-anaknya, ia akan bertahan. Ia akan menemukan cara untuk melindungi mereka, meskipun itu berarti menjauh dari pria yang dicintainya.
Di dalam hatinya, Lyanna berdoa agar suatu hari nanti, anak-anaknya bisa tumbuh dengan aman dan bahagia, jauh dari bayang-bayang perang dan kebencian. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan apa saja untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi Aemon dan Visenya, meskipun itu berarti harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Lyanna pun segera pergi meninggalkan tahta yang hening. Langkahnya terasa berat, seolah setiap langkah adalah pengingat akan beban yang harus ia pikul. Pintu besar dari batu hitam itu tertutup di belakangnya dengan suara berat, menggemakan keheningan yang memekakan telinga.
Tanpa siapapun sadari, langkah kecil memecah keheningan dari balik tahta. Mata ungu gelap terlihat dari bayangan yang diterangi cahaya lilin. Aemon, dengan tatapan kosong, memandang ke arah pintu tempat ibunya baru saja pergi. Anak kecil itu berdiri di sana, tak bersuara, menyaksikan percakapan yang berat dan penuh dengan emosi yang ia belum sepenuhnya pahami.
Aemon mungkin masih terlalu muda untuk mengerti sepenuhnya, tetapi tatapannya menunjukkan sesuatu yang tak lazim untuk anak seusianya. Dia tahu ada sesuatu yang salah, sesuatu yang membuat ibunya bersedih dan membuat dunia di sekitarnya tampak lebih gelap. Tanpa disadari oleh orang dewasa di sekitarnya, Aemon telah mendengar kata-kata yang akan meninggalkan jejak dalam dirinya, kata-kata yang akan membentuk pandangannya tentang dunia yang keras dan penuh dengan intrik ini.
Dalam diamnya, Aemon berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melindungi ibunya dan adiknya, apapun yang terjadi. Meskipun masih sangat muda, dia merasa panggilan darah Targaryen di dalam dirinya, panggilan untuk menjadi kuat seperti para leluhurnya. Dengan hati kecil yang dipenuhi dengan tekad, Aemon perlahan mundur kembali ke dalam bayangan, mata ungunya tetap terjaga, mengamati dan belajar dari setiap peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.
Rhaella Room
Rhaella duduk menikmati gelapnya malam, ditemani oleh Ser Barristan yang berdiri tegak di belakangnya. Malam di Dragonstone terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya desiran angin yang terdengar, membawa aroma asin laut yang menghantam bebatuan hitam di bawah.
Rhaegar tiba, langkahnya mantap namun penuh beban. Ia langsung menuju ibunya, mengabaikan keheningan yang menyelimuti ruangan. Ser Barristan segera keluar dari ruangan, memberi ruang bagi mereka untuk berbicara.
"Ibu, aku merindukanmu." Rhaegar memeluk ibunya dengan erat, seolah ingin menyampaikan semua perasaannya melalui pelukan itu.
"Oh, anakku." Rhaella membalas pelukannya dengan lembut, sejenak merasakan kehangatan yang telah lama hilang.
Rhaegar melepaskan pelukannya, kemudian duduk bersama ibunya. Mata mereka bertemu, dan dalam tatapan itu terdapat campuran kerinduan dan kepedihan yang mendalam.
"Mari kita kembali ke King's Landing, hidup bersama seperti dulu," ucap Rhaegar dengan nada penuh harap.
Rhaella menatap anaknya dengan lembut. "Nak, aku tahu kau kemari untuk menjemput kami, tapi..." Rhaella menggantungkan kalimatnya, menatap Rhaegar dengan pandangan penuh makna.
Rhaegar meringis, sudah memahami maksud ibunya. "Berilah beberapa tahun lagi, tunggu situasi tenang kembali, aku yakin kau mengerti, nak," lanjut Rhaella dengan suara lembut namun tegas.
"Aku sudah bekerja keras selama dua tahun ini, hanya untuk menyatukan keluarga kita, Bu. Aku tidak bisa lagi menunggu beberapa tahun," Rhaegar terdengar putus asa, suaranya bergetar dengan emosi yang tertahan.
"Nak, seperti inilah keadaan kita sekarang," Rhaella berkata dengan nada penuh penyesalan. "House kita sudah melemah sejak ayahmu menjadi gila, ditambah dengan kau dan Lyanna—"
Rhaegar dengan cepat menarik diri, bersandar pada kursi. "Ibu, aku tahu itu salahku..." gumamnya dengan suara yang hampir tak terdengar, kepalanya tertunduk dalam penyesalan.
Rhaella mendekatkan dirinya pada Rhaegar, menempatkan tangannya dengan lembut di bahu anaknya. "Rhaegar, kita semua membuat kesalahan, tapi kita harus kuat. Kau memiliki tanggung jawab besar sekarang, untuk mengembalikan kehormatan keluarga kita. Itu bukan hal yang mudah, dan tidak akan terjadi dalam semalam," kata Rhaella, suaranya penuh dengan kebijaksanaan seorang ibu yang telah melihat banyak hal.
Rhaegar memandang ombak yang memecah di bebatuan hitam Dragonstone, suaranya menjadi latar belakang yang mengiringi percakapan mereka. "Ibu, aku selalu bermimpi, mimpi yang sama," katanya dengan suara lembut namun penuh ketegangan.
Rhaella menatap putranya dengan horor yang terpendam dalam. Tatapan itu mengingatkannya pada saudara sekaligus suaminya, Aerys, yang perlahan-lahan kehilangan kewarasan. "Apa yang kau katakan, Rhaegar?" tanyanya dengan nada hati-hati, berusaha menyembunyikan kecemasannya.
Rhaegar menatap ibunya dengan serius, matanya yang gelap memancarkan intensitas yang menakutkan, seperti tatapan Aerys di masa-masa tergelapnya. "Apa Ibu pernah bertanya kenapa Aegon dan saudara-saudarinya menaklukkan Westeros?" tanyanya, nada suaranya mengandung misteri yang menakutkan.
Rhaella terdiam, mencoba memahami maksud dari pertanyaan putranya. Ingatannya berputar pada kisah-kisah lama tentang Aegon Targaryen, Penakluk, yang bersama kedua saudara perempuannya, Visenya dan Rhaenys, membawa Westeros ke bawah satu bendera, dengan kekuatan naga dan takdir yang mereka yakini.
"Mereka menaklukkan Westeros untuk menyatukan tujuh kerajaan, untuk menghentikan pertumpahan darah dan perseteruan antar bangsawan," jawab Rhaella akhirnya, mencoba menenangkan pikirannya sendiri dengan jawaban yang rasional.
Rhaegar menggelengkan kepalanya perlahan, matanya tetap terkunci pada ombak yang terus menerjang pantai. "Tidak, Ibu. Itu bukan satu-satunya alasan," katanya dengan nada yang lebih tenang namun penuh keyakinan. "Aegon memiliki mimpi, sebuah penglihatan tentang ancaman yang akan datang dari Utara, ancaman yang bisa menghancurkan seluruh dunia kita."
Rhaella merasa jantungnya berdebar lebih cepat, ketakutan dan kecemasan bercampur dalam pikirannya. "Ancaman dari Utara?" gumamnya, hampir tak terdengar. Pikiran tentang White Walkers, cerita yang sering dianggap dongeng belaka, tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Rhaegar mengangguk, ekspresinya semakin serius. "Ya, Ibu. Aku telah melihatnya dalam mimpiku. Pasukan es dan kegelapan yang akan datang untuk menghancurkan kita semua. Aegon tahu ini, dan dia tahu hanya dengan menyatukan Westeros di bawah satu bendera, kita bisa berharap untuk bertahan."
Rhaella merasa dingin menjalar di tulang punggungnya. "Apakah itu sebabnya kau menculik Lyanna? Karena mimpi itu?" tanyanya, mulai mengerti alasan di balik tindakan putranya yang tampaknya gila.
Rhaegar mengangguk sekali lagi, matanya penuh dengan kesungguhan. "Ya, Ibu. Aku percaya bahwa anak-anak yang lahir dari darah Stark dan Targaryen akan memiliki peran penting dalam perang yang akan datang. Mereka akan menjadi harapan terakhir kita."
Rhaella menatap putranya dengan mata yang tajam, seolah mencoba menilai kewarasannya. "Apakah kau benar-benar mencintainya? Apakah ia tahu tentang mimpimu?"
Rhaegar menggelengkan kepala, ekspresinya serius. "Tentu saja aku mencintainya, Ibu. Tapi soal mimpi, Lyanna tidak tahu." Ia terdiam, menatap jauh ke dalam mata ibunya.
Rhaella menghela napas dalam, mencoba meredakan kecemasan yang semakin membuncah dalam hatinya. "Nak, aku takut itu bukan cinta sejati, melainkan obsesi terhadap mimpi dan penglihatanmu."
Rhaegar menarik napas dalam, berusaha memahami kekhawatiran ibunya. "Ibu, aku tahu ini sulit dipahami. Tapi aku merasakan cinta yang mendalam untuk Lyanna. Ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah takdir."
Rhaella memandang putranya dengan tatapan penuh kasih sayang namun juga kecemasan. "Rhaegar, kadang kita bisa tersesat dalam mimpi dan penglihatan kita. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak mengorbankan terlalu banyak untuk sesuatu yang mungkin tidak nyata."
Rhaegar tersenyum lembut, mencoba menenangkan ibunya. "Aku mengerti, Ibu. Tapi percayalah, aku melakukan ini bukan hanya untuk diriku sendiri. Ini adalah demi masa depan Westeros."
Rhaegar melanjutkan, matanya bersinar dengan kegigihan dan sedikit kilatan kegilaan yang diwarisi dari ayahnya. "Aku bahkan melihat Aegon, Rhaenys, dan Visenya berperang melawan kegelapan di utara. Aku melihat mereka menaiki naga, Bu, seekor naga besar! Dan bukan hanya satu, naga itu berkepala tiga."
Rhaella merasa khawatir, hatinya bergetar melihat putranya begitu dalam terjebak dalam mimpinya. Ia teringat pada Aerys yang juga pernah terjebak dalam delusinya sendiri. "Bagaimana dengan Aemon?" tanyanya, suaranya penuh kecemasan.
Rhaegar terdiam sejenak, tampak ragu-ragu. "Aku tidak mengharapkannya terlibat dalam semua ini, Ibu. Namun, aku akan tetap menyayanginya seperti anak-anak yang lain," jawabnya akhirnya, dengan nada yang lebih lembut.
Rhaella memandang putranya dengan campuran kasih sayang dan ketakutan. Ia tahu bahwa mimpi-mimpi ini telah menguasai Rhaegar, membuatnya terjebak dalam visinya tentang masa depan. "Rhaegar, mimpi-mimpi ini... apakah kau yakin ini adalah takdir? Atau hanya bayangan yang menghantuimu?" tanyanya dengan suara yang lembut, mencoba mencapai hati putranya.
Rhaegar menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Aku tidak bisa mengabaikan mimpi-mimpi ini, Ibu. Mereka begitu nyata, begitu kuat. Aku harus mempercayainya. Aku harus mempersiapkan diri dan anak-anak untuk apa yang akan datang," jawabnya dengan tegas.
Rhaella menghela napas, merasakan beban di hatinya semakin berat. "Baiklah, Rhaegar. Aku akan mendukungmu, seperti yang selalu kulakukan. Tapi ingatlah, kita harus tetap berpegang pada kenyataan. Jangan biarkan mimpi-mimpi ini menghancurkan kita," katanya dengan suara penuh kasih sayang.
Rhaegar mengangguk, wajahnya yang tampan tampak serius. "Aku mengerti, Ibu. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keseimbangan antara mimpi dan kenyataan. Demi keluarga kita, demi Westeros," katanya dengan keyakinan yang mendalam.
Malam semakin larut, dan bayangan gelap semakin menyelimuti Dragonstone. Dalam keheningan malam, Rhaella dan Rhaegar duduk bersama, merenungkan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Mereka tahu bahwa apa pun yang akan datang, mereka harus menghadapi bersama, dengan kekuatan dan kasih sayang yang tak tergoyahkan.
TBC
Yoo Guys…
Ini cerita perdanaku, aku ingin mendengar tanngapan kalian…
Jangan lupa kritik dan saran, sampai jumpa di chapter selanjutnya…
