His Royal Highness

BY : ewfzy

.

.

.

CHANBAEK STORY

Genre :Romance, Drama, Angst?


Dua hari berlalu sejak insiden di hutan tempo hari, bersyukur mereka berdua berhasil ditemukan meski sedikit terlambat. Sepulang dari hutan Eden terserang demam tinggi hingga tak bisa bangkit dari tempat tidur.

Patricia yang tengah mengupas apel tak mau mengalihkan pandangan dari Eden, sorot matanya begitu tajam seolah hendak menguliti kepala anak itu.

"Berhenti menatapku!" protes Eden yang merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan kakaknya.

Wanita berambut keemasan itu lantas meletakkan kasar pisau ditangannya ke atas meja. "Ada yang terjadi antara kau dan pangeran kan?" tanyanya penuh selidik.

"Tidak! sudah berapa kali kukatakan tidak ada yang terjadi."

"Kau pasti berbohong. Ayolah, ceritakan saja padaku, aku berjanji akan menjaga rahasia."

"Tidak ada Patriceee..."

Wanita cantik itu bangkit dari tempat duduknya, berpindah untuk menempeli adik bungsunya. "Kalau begitu tunjukkan saja surat yang pangeran tulis untukmu!" bujuknya sambil mengedipkan mata main-main.

"Aku sudah membakarnya" jawab Eden santai, seolah apa yang ia lakukan bukanlah hal besar.

"Yah!" Patricia refleks berteriak sambil kembali menegakkan duduknya. "Yang benar saja! kenapa kau membakarnya?"

Eden berubah kebingungan. "Pangeran yang meminta."

Patricia berdecak kesal, "Tapi tetap saja! Kenapa kau benar-benar membakarnya!"

"Itu bukan surat yang penting, dia hanya berpamitan. Dan, meminta maaf ..." ujar Eden semakin memelan.

"Ah, sudahlah! Lebih baik kau kembali ke kamarmu Patrice!" Eden mendorong kakaknya, meminta agar wanita itu segera pergi meninggalkannya sendirian.

"Jika itu bukan sesuatu yang penting, kenapa hanya kau yang dapat?" Teriak Patricia masih mencoba meminta penjelasan.

"Karena itu tidak penting." ujar Eden masih berusaha memberikan alasan.

Kakaknya masih di sana tak ada tanda-tanda ingin beranjak sedikitpun membuat Eden tidak nyaman.

"Pergilah Patrice! Aku mau tidur." Sekali lagi Eden mencoba mengusir kakaknya.

Patricia menghela napas, "Baiklah, kalau kau memang tak mau beri tahu maka aku akan mencari jawabannya sendiri." ujarnya sebelum pergi dari kamar Eden.

...

Charles menatap datar pelayan-pelayan yang sibuk menyiapkan segala keperluannya. Mereka terus berlarian kesana-kemari mengganggu pandangan. Ia baru saja tiba di istana setelah menempuh perjalanan dua hari satu malam dari Sandringham.

Charles menghela napas sebelum menjatuhkan pandangan pada tubuh kekarnya yang tengah dipakaikan kemeja sutra oleh dua orang pelayan pribadinya. Rasanya ingin sekali ia melewatkan sarapan pagi ini, ia terlalu malas untuk menjawab pertanyaan macam-macam dari anggota kerajaan lainnya.

Ketukan sepatu kulit mahal itu terdengar tegas membelah koridor istana yang sunyi. Charles berjalan dengan penuh percaya diri menuju ruang makan dengan pengawal dan pelayan pribadi yang mengekor di belakangnya. Namun di tengah koridor sepi itu langkahnya tiba-tiba terhenti, ia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mangayuhkan kakinya kembali.

Para pengawal dan pelayan mengernyitkan dahi ketika Sang Pangeran malah berbelok menuju ke bangunan sayap kiri. Mereka saling bersitatap tanpa bisa memprotes atau sekedar bertanya kemana sang junjungan hendak pergi.

Pria itu mengubah rencana, memutuskan absen dari sarapan dan berbelok menuju taman di halaman belakang kerajaan.

Pagi ini matahari cukup terik hingga membuatnya jengkel. Charles tak pernah suka benda langit itu. Ia tak pernah suka jika matahari itu muncul, ia tak suka karena semua beban dan penderitaannya terasa lebih berat ketika dia terbit. Ia tak bisa lari maupun bersembunyi, kemanapun Charles pergi matahari sialan itu seolah mengikutinya lewat bayang-bayang.

"Kau bisa buta jika menatap matahari seperti itu." Charles menoleh, menemukan pria tinggi dengan kulit pucat yang tengah memperhatikannya dari belakang.

"Sejak kapan kau berdiri di sana Edmund?"

"Sejak kau melakukan kebiasaan konyolmu itu."

Pria yang Charles panggil Edmund itu lantas datang menghampirinya. "Perjalananmu menyenangkan?"

"Tidak ada yang menyenangkan, " jawab Charles tanpa minat.

Charles melirik sekilas kepada adiknya.

"Kau ... kenapa melewatkan sarapan?"

"Kau sendiri?" Bukannya menjawab Edmund malah balik bertanya.

"Malas."

"Aku juga."

Jawaban Edmund tak lagi mendapat sahutan. Pria dengan rambut hitam legam itu menoleh ke arah kakaknya yang sibuk memendarkan matanya ke arah danau yang berada di belakang istana. "Apa tidak berhasil? tidak berjalanan sesuai keinginanmu?"

Charles menggeleng tanpa menoleh kepada Edmund. "Semua hancur berantakan. Aku tidak hanya gagal membawanya, tapi aku juga dicampakkan."

"Kau dicampakkan?" ujar Edmund memastikan jika ia tak salah dengar.

"Isabella akan menikah dengan pria lain."

Edmund berdecih, "Berani sekali dia mencampakkan seorang Putra Mahkota kebanggaan Inggris. Kau yang lebih pantas membuangnya, lagipula tidak ada yang istimewa darinya. Ada jutaan orang yang jauh lebih baik dari wanita itu, dan mereka siap mengantri untuk menjadi istrimu."

"Kau benar."

Edmund agak terkejut ketika Charles mengiyakan pernyataannya, bahkan ekspresinya terlalu tenang saat ini. Pria itu biasanya akan langsung marah jika ada seseorang yang mengata-ngatai tentang kekasihnya itu.

"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Tidak ada."

"Kau pasrah?"

"Memang apalagi yang bisa kulakukan?"

"Ayolah, kau tidak seperti Charles Mountbatten yang ku kenal. Mau kukenalkan dengan seseorang? Aku punya banyak kandidat jika kau mau."

"Tidak terimakasih."

...

Hari-hari berjalan seperti semula. Tak ada keributan yang berarti, tapi hubungannya dengan sang ayah juga tidak membaik. Charles terlalu gengsi untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

Hari-hari pria itu hanya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Seperti sekarang, Charles sedang duduk di meja kerjanya, sibuk sekali memeriksa pembukuan tentang pabrik-pabrik yang menjadi tanggung jawabnya. Matanya tak berhenti bergerak dengan pena bulu yang menggores lembaran-lembaran ditangannya.

Charles masih duduk di belakang meja ketika mendengar suara ketukan pada pintu. Ia mempersilakan masuk pada entah siapapun itu tanpa mengalihkan pandangan.

"Crown Prince Charles, My Love." Charles menjatuhkan pena bulunya dan segera mendongak begitu mendengar panggilan itu.

"Nenek!" Charles cepat-cepat berdiri, terkejut dengan kedatangan neneknya yang tiba-tiba. Langkah lebarnya segera menjangkau wanita tua itu. Lengannya lantas dengan cepat melingkar merangkul wanita dengan rambut putihnya rindu.

"Kapan nenek datang? Kenapa tidak mengirimkan surat dulu?"

"Apakah itu penting?"

"Duduklah Nek, biarkan aku menjamumu."

Wanita dengan usia 80 an itu masih nampak cantik dan terlihat bugar meski usianya sudah tak lagi muda. Queen Mary, Ibu dari ayah sekaligus nenek Charles yang masih diberkahi umur panjang.

"Nenek serius?" ujar Charles memastikan. Matanya berbinar-binar setelah mendengar jika neneknya akan tinggal di London. "Kupikir kau telah melupakan London dan akan menetap di Skotlandia untuk selamanya."

"Aku harus tetap berada di London untuk memgawasimu." Secangkir teh di tangan tua itu diletakkan kembali.

"Mengawasiku?" ulang Charles.

"Aku akan mengawasimu, sampai kau menikah. Aku sendiri yang akan menyeleksi calon istrimu, aku tidak ingin desas-desus tentangmu semakin memanas."

Kerutan di dahi Charles muncul sebagai tanda ia kebingungan. "Apa maksud nenek? Ada desas-desus yang menyebar tentang aku?"

"Apa kau pikir tindakanmu beberapa bulan lalu tidak menimbulkan gosip? Charles, kau sudah menjadi buah bibir akibat ditolak wanita itu. Orang-orang berpikir jika kau sangat mencintainya dan nekat akan menggagalkan pernikahannya."

"Omong kosong!" Charles tanpa sadar meninggikan suaranya. "Itu tidak benar!" Charles mengusap wajahnya kasar. "Nenek kau tahu aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu."

"Tentu saja aku tahu anakku, tapi tidak dengan rakyatmu. Mereka hanya melihatmu memohon-mohon di depan rumahnya kemudian berspekulasi macam-macam."

"Bagaimana bisa mereka berpikir sejauh itu? Tidak bisa kupercaya!"

Sebuah usapan lembut mendarat di lengan Charles. "Tidak perlu memikirkannya terlalu serius, rumor itu akan segera hilang jika kau menikah sayang."

"Tapi aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat."

Mendengar itu raut tidak senang segera tercermin dari wajah Mary. Usapan yang ia berikan pada cucunya pun seketika terhenti.

"Kau tidak bisa menunda lagi Charles, kami sudah cukup bersabar selama ini. Kau terlalu banyak membuang-buang waktu karena wanita itu. Jika kau tak menemukan seseorang dalam 3 bulan maka aku yang akan memilih sendiri calon ratuku."

"Tapi nenek-"

"Aku tak mau dengar penolakan."

Charles bungkam, ia tak bisa melawan jika itu neneknya. Lagipula ia juga sudah kehabisan ide untuk menghindar.

...

Edmund hampir terjungkal begitu melihat bayangan kakaknya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya. "Kau mengejutkanku!" teriaknya merasa kesal.

Charles tak bersuara, tak berminat pula membalas teriakan adiknya. Pria itu tanpa dosa masuk ke dalam kamar Edmund, duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Edmund..." Charles menatapnya dengan alis berkerut.

Edmund balas menatap Charles penuh waspada, kakaknya itu entah mengapa sering bertingkah aneh akhir-akhir ini. "Y-ya?"

"Menurutmu siapa orang yang cocok untuk aku nikahi?"

Ingatkan Edmund untuk tidak memukul kepala kakaknya sendiri karena mengajukan pertanyaan tidak bermutu itu di tengah malam begini. "Kau datang ke sini hanya untuk bertanya soal itu?"

Charles mengangguk, wajahnya terlihat serius, tangannya bersedekap di dada, membuat Edmund batal mengomel.

"Bukankah kau pernah berkencan dengan banyak orang? Kau bisa pilih salah satu dari mereka, " ujar Edmund. "Putri Sophia terdengar cukup baik, atau kau bisa menikahi Lady Alexandra," tambahnya.

"Sebagai pernikahan politik?"

Edmund mengedikkan bahu.

"Tidak, aku harus menikahi seseorang yang setidaknya membuatku nyaman. Aku tidak ingin bertambah stress jika menikahi salah satu dari mereka."

"Aku bisa mengerti jika kau menolak Lady Alexandra tapi untuk Princess Sophie? Bukankah kalian pernah berpacaran lama? Lalu apa masalahnya?"

"Aku berpisah secara tidak baik dengannya. Dan, aku tidak bisa menoleransi sikapnya yang terlalu mudah cemburu itu."

Edmund menganggukkan kepala mengerti. "Kalau begitu... Bagaimana dengan Anne? Kalian berteman baik bukan?"

"Edmund, kau serius merekomendasikanya?"

"Iya, memang kenapa? Kalian sudah berteman cukup lama, kalian pasti sudah saling mengerti satu sama lain bukan begitu?"

"Tidak. Akan terasa aneh jika aku menikah dengannya."

Pembicaraan mengenai siapa yang akan Charles nikahi itu berlangsung lama dan tak kunjung menemui titik terang. Charles masih pada posisinya duduk di sofa, sementara Edmund sudah hampir tertidur di kasurnya.

Edmund yang sudah hampir menutup matanya kembali terjaga, terkejut karena Charles yang tiba-tiba berdecak kesal. "Jika kau terlalu buntu untuk memikirkannya sekarang, lebih baik kau tidur. Ini sudah lewat tengah malam dan aku harus istirahat karena besok pagi harus ke Menchaster." bujuk Edmund yang sudah jengkel dengan kelakuan kakaknya.

Charles menegakkan tubuhnya "Kau mau ke Menchaster?"

Edmund mengangguk mengiyakan.

Seulas senyum muncul dari bibir Charles. "Kau tidak perlu pergi, biar aku yang menggantikanmu."

"Tapi- bukankah kau memiliki pekerjaan lain? Aku bisa mengatasinya."

"Tidak, biar aku yang pergi." Charles bangkit dari sofa, senyumnya masih bertengger manis membuat Edmund bingung. "Kau bisa tidur sekarang. Selamat malam." ucapnya sebelum melenggang pergi dari kamar adiknya.

...

Charles meninggalkan istana dengan membawa sebagian pengawal pribadinya. Perjalanan menuju Manchester bukanlah perjalanan singkat. Ia butuh setidaknya 5 hari perjalanan dengan menunggang kuda.

Charles sengaja mengambil alih tugas adiknya berkunjung ke Shaw Road di Oldham dan juga Kirkohlt di Rochdale. Daerah-daerah itu adalah daerah yang paling terdampak akibat krisis ekonomi yang beberapa bulan terakhir menimpa Inggris. Sebenarnya Charles datang hanya sebagai perwakilan kerajaan untuk memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan, juga memastikan ketersediaan air bersih. Sama sekali bukan tugas penting, tapi ia sengaja datang karena harus kabur dari neneknya. Setidaknya Charles butuh mengulur waktu, karena ia sama sekali belum memiki nama seseorang yang harus ia setorkan sebagai calon istrinya.

Setelah menempuh perjalanan 5 hari 5 malam Charles tiba di Shaw Road. Ia mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Charles senang tapi di sisi lain juga prihatin karena kondisi di sana rupanya benar-benar memprihatinkan.

Bahan-bahan pokok yang Charles bawa segera didistribusikan kepada masyarakat.

Beberapa hari di sana ia mendengar kabar jika keadaan di Kirkohlt semakin memburuk. Tanpa menunda lagi Charles segera berpindah ke sana, ia tiba tengah malam. Charles merasa heran begitu tiba, karena di sana layaknya desa mati. "Kau yakin ini tempatnya?" tanya Charles kepada Karl yang setia ada di sampingnya.

"Benar Pangeran."

Charles bingung karena dia benar-benar tak menemukan tanda-tanda kehidupan. Namun ketika ia masuk lebih jauh ke dalam desa, Charles bisa bernapas lega. Sebuah tenda besar bediri kokoh dengan perapian di sekelilingnya. Sepertinya semua orang ada di sana.

"Yang Mulia?" Charles menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.

"Oh!" ia terkesiap, tidak menyangka akan bertemu Eden di sini. "Kau? "

Eden nampak sama terkejutnya. "Anda datang? Apakah anda baru saja tiba?"

"Ya, aku baru datang. Bagaimana kau bisa ada di sini?" pertanyaan Charles menggantung, bola matanya ia gulirkan ke arah baskom yang ada di tangan Eden. "Dan... Apa itu?"

"Ah, ini air hangat untuk kompres Yang Mulia. Saya di sini untuk memberikan bantuan dan perawatan pada anak-anak. Satu bulan terakhir ini banyak anak-anak di Manchester yang terkena penyakit aneh, penyebarannya semakin marak hingga sepertinya sudah mewabah. Kirkohlt adalah daerah yang terdampak paling parah, banyak anak-anak yang sedang dalam perawatan."

"Separah itu?"

Eden menganggukkan kepala, rautnya nampak menyesal.

Charles terus mengekori Eden, melihat bagaimana pria itu dengan telaten merawat anak-anak yang sakit. Ia juga mendapat banyak informasi terkait keadaan Kirkohlt akhir-akhir ini.

"Yang Mulia sepertinya semua sudah tertidur, Anda juga harus beristirahat sekarang."

Charles mengangguk tapi pandangan matanya masih betah mengikuti setiap pergerakan yang Eden lakukan. "Kau tidak tidur?"

"Aku akan tidur setelah menyelesaikan ini. Anda istirahatlah lebih dulu, pasti melelahkan setelah menempuh perjalanan jauh."

Pagi dengan cepat menjemput, rasanya Charles masih ingin tidur lebih lama tapi tidak bisa. Banyak orang menunggunya. Kedaan di Kirkohlt jauh lebih buruk dari yang Charles bayangkan.

Hampir 50% penduduk Kirkohlt adalah anak berusia di bawah 17 tahun jadi bisa dibayangkan jika hampir setengah penduduk saat ini sedang dalam perawatan. Minimnya akses membuat distribusi obat dan makanan jadi terhambat, belum lagi masalah air bersih.

Setelah lima hari, pengeboran sumur dihentikan.

"Bagaimana hasilnya Karl?"

"Maaf Yang Mulia, kami sudah mengusahakan yang terbaik tapi tidak ada sumber air yang ditemukan."

Eden tanpa sengaja ikut mendengarkan laporan Karl kepada tuannya. Raut wajahnya semakin sedih ketika tak mendapatkan kabar baik.

"My Lord," Eden menoleh, menemukan salah seorang pelayannya datang menghampiri untuk membisikkan sesuatu di telinganya. Raut Eden tak terbaca, namun detik setelahnya ia berlari secepat yang ia bisa. Hatinya hancur, satu lagi malaikat tak berdosa itu gugur. Tidak ada yang membaik, semakin menipisnya ketersediaan air bersih membuat semua lebih buruk. Ia tidak bisa diam saja.

...

Charles menatap penuh tanya kepada Eden yang datang menghampirinya. Wajah pria itu nampak kacau dengan mata bengkak dan pipi yang merah.

"Ada ap-" Charles belum sempat menyelesaikan kalimat ketika Eden tiba-tiba berlutut.

"Tolong lakukan sesuatu Yang Mulia." Suaranya bergetar menahan tangis, kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sementara kepalanya tertunduk dalam. "Anak-anak itu, tolong selamatkan mereka."

Punggungnya bergetar tak sanggup lagi menahan kesedihan. Hari ini satu lagi anak yang tak berdosa harus meregang nyawa, tak mampu lagi melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Eden sudah tidak sanggup lagi melihat bagaimana bocah-bocah itu berjuang atas hidupnya. Tak ada kepastian, tak ada obat yang benar-benar efektif menyembuhkan, bahkan penyebab utamanya pun masih belum teratasi.

Ketukan sepatu kulit yang menapak lantai kayu itu berhenti tepat di depan tubuh mungil yang larut dalam tangisan. Kedua pundak ringkihnya Charles usap meminta agar pria itu berdiri. Charles menunduk mencari-cari wajah mungil yang tersedan. Ketika pria itu tak kunjung menemukan, tangan besarnya menangkup kedua rahang si mungil membuatnya mendongak.

Untuk sepersekian detik Charles seolah tersihir oleh tatapan polos itu. Mata bulan sabit yang memerah basah, hidung kecil yang juga sama merahnya, linangan air mata yang turun membuat aliran sungai di sepanjang pipi gembilnya. Charles tidak tega.

Ibu jarinya yang besar spontan bergerak mengusap kedua belah pipinya. Menghilangkan jejak-jejak basah di sana.

"Aku sudah mengutus seseorang untuk memanggil tabib istana, dan mereka akan tiba besok pagi. Selain itu mereka juga membawa obat-obatan serta seluruh keperluan yang dibutuhkan."

Charles menatapnya lamat. Tak lupa

mencuri kesempatan untuk menyingkirkan helaian rambut emas Eden agar tak menghalangi pandangan matanya. "Aku sudah mengusahakan sebisaku."

Charles mengulas senyum, berusaha memberikan sedikit ketenangan lalu menarik Eden ke dalam

dekapannya. "Jangan terlalu cemas, semua akan baik-baik saja."

...

Bibir tipisnya tak bisa berhenti melengkung. Eden tidak bisa menjelaskan betapa senangnya ia saat ini. Rombongan dari kerajaan datang membawa bantuan. Bahkan tabib-tabib kerajaan juga ikut, mereka semua mengambil alih merawat anak-anak yang sakit.

Sebelumnya mereka juga menjelaskan penyakit apa yang menyerang desa itu kepada Eden. Bersyukur mereka punya obatnya dan menjanjikan akan merawat anak-anak sebaik mungkin.

Charles yang berdiri di samping pria mungil itu tertular senyum. Ikut bahagia melihat Eden bahagia. "Kau tenang sekarang?"

Eden menganggukkan kepala penuh semangat, "Terima kasih Yang Mulia."

Masalah air bersih teratasi. Kini Kirkohlt memiliki sumber airnya sendiri yang berasal dari pegunungan di sana. Charles telah membuka akses jalan dan pengairan di sana.

Charles menetap lebih lama dari rencana awalnya di Kirkohlt. Setelah dua minggu berlalu dan keadaan semakin membaik ia memutuskan untuk kembali ke istana.

"Eden kau bisa ikut aku pulang bersama."

"Tapi bukankah arah tujuan kita berbeda? "

"Aku akan mengantarmu sampai Nottingham."

"Tidak perlu Yang Mulia, aku bisa pulang sendiri. Pasti akan sangat meropatkan untukmu jika harus bolak balik untuk mengantarku."

"Tapi aku memaksa." tukas Charles dengan tegas. Dengan itu akhirnya Eden bungkam dan menerima saja apa yang Charles katakan.

...

Untuk pertama kalinya Eden menaiki kereta dengan diiringi oleh pengawal kerajaan di belakangnya. Ia duduk sendirian di dalam kereta, tidak tahu harus melakukan apa selain melihat pemandangan dari balik jendela.

Eden merasa bosan duduk sendirian di dalam kereta tanpa seseorang pun untuk ia ajak bicara. Ia juga tak tahu sudah berapa lama mereka berjalan, hingga tanpa sadar tertidur.

Si mungil itu terbangun ketika merasa jika keretanya berhenti, ia mengerjapkan matanya. Hari telah berubah gelap, di tengah kebingungan ia mengintip ke luar jendela. Pengawal-pengwal itu masih di sana tapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya.

Setelah satu menit, Eden mendengar suara Charles dan tak lama pintu keretanya dibuka. Charles muncul dan langsung naik untuk mendudukkan diri di hadapannya.

Eden terlalu tegang untuk bersikap sopan saat Charles berada di dekatnya.

"Kau belum tidur?" tanya Charles yang mendapati si mungil itu masih terjaga.

"Aku terbangun."

"Apakah aku mengganggumu?"

"Tidak! Sama sekali tidak Pangeran."

"Kau bisa tidur lagi."

Eden terlalu kaku, ia tidak bisa bahkan hanya untuk sekadar bernapas seperti biasanya. Ia merasa pasokan oksigen di dalam kereta itu benar-benar menipis. Jarinya ia mainkan, wajahnya tertunduk.

"Apa aku membuatmu tidak nyaman?"

"Huh?!" Eden terhantak," T-tidak Yang Mulia."

Charles tersenyum, mengerti ketegangan yang tengah melanda si mungil itu. "Aku akan tidur. Buat dirimu nyaman Ed, karena kita mungkin akan berbagi kereta sedikit lebih lama."

Kereta kembali bergerak, tak ada ucapan apapun lagi setelahnya. Suasana berubah hening kembali. Eden memberanikan diri mengangkat kepala, mendapati Charles yang telah memejamkan matanya.

Sepertinya pria itu kelelahan setelah menunggang kuda seharian. Kereta kuda itu terlalu kecil untuk Charles bisa mengistirahatkan dirinya dengan nyaman. Beberapa kali bahkan ia tampak hampir jatuh karena tidak bisa menahan gerak tubuhnya sendiri.

Eden yang memperhatikannya merasa was-was. Mata Charles seolah terpejam begitu mudah dan tubuhnya terlalu lelah untuk tidak ia istirahatkan. Dan ketika hal itu terjadi untuk ketiga kalinya, saat tubuh Charles oleng ke samping Eden dengan cepat berpindah posisi. Duduk di sampingnya dan menangkap kepala pria itu sebelum terjatuh.

Perlahan-lahan Eden meletakkan kepala Charles di atas pangkuannya. Se pelan mungkin agar Sang Pangeran tidak sampai terbangun.

Eden menghela napas lega ketika berhasil menidurkan Charles di atas pahanya. Eden memperhatikan, mengamati bagaimana pahatan tampan itu dari jarak dekat.

Jantungnya berdebar untuk alasan yang tak ia ketahui. Terlalu lama ia mengamati hingga muncul hasrat untuk melakukan lebih. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga muncul dorongan untuk mendaratkan jari-jari lentik itu di kepala Charles.

Ia mengusap pelan helai rambut Sang Junjungan. Menyisir rambut yang tak lagi sesuai tatanan hingga kembali rapi. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Charles agar tak mengganggunya.

Namun, detik setelah itu Eden menegang. Charles menangkap tangannya, menggenggam jari lentik itu lantas meletakkannya di dada seolah tengah memeluknya. Pria itu tak berkata apapun membuat Eden semakin berdebar, entah akan rasa takut karena telah berbuat lancang atau yang lain.

Eden membeku, sementara Charles kembali tertidur.

...

..

.

TBC

Sampe berdebu ini cerita

Maapin ya ges buat yang masih nungguin lanjutannya