Hetalia – Axis Powers/World Stars © Himaruya Hidekazu.
I gain no material profit by writing and publishing this fanfiction.
.
[Alternate version of "Anjangsana Indonesia".]
"FRAGMEN 79 + X"
.
Rating: R-17. Genre: Poetry, Nationalism. Language: Indonesian.
See the note at the end of the fanfiction for further explanation.
.
Who am I?
Greetings, fellow diction seekers. I am a mere glimmer of hope, a deep feeling of tragedy, and a remark of someone's existence and wish to be fragmented into the black hole.
But most importantly:
"I am me, I am my kitsch."
.
— Indonesia, 17 Agustus 2024 —
READER DISCRETION IS ADVISED
to all living creatures equally.
and those who have lost their journey:
"May you find your way back;
as your hope, shall guide you."
…
...
...
Kisah-kisah yang ada, membentuk imaji dalam mata. Sedang sepasang mata yang tak lagi terpejam, mulai melihat harapan setelah suram, menelisik di antara hitungan malam nan kelam. Ia tersadar, dengan memori yang lama lalu mulai memudar. Ini ruang mimpi, atau memang eksistensinya tak pasti? Ia tak mengerti.
Pikiran asal menggelayut dalam benaknya, sebelum matanya membelalak lebar …
Kau telah kembali?
"...!"
Suara yang tidak asing, dan tidak salah lagi, ini adalah suara-Nya yang terdengar seolah lebih dalam dari relung jiwa, kini terdengar sedekat nadi. Atau kau hendak pergi?
Dua pertanyaan yang tak terjawab. Ia—yang barusan sadar—sekonyong membisu, mencipta jeda lama, antara enggan dan tak tahu untuk apa dia memberi jawab. Di tengah medan asing ini, yang dipenuhi mesin-mesin waktu ilahi, lidahnya menjadi kelu dan semua kata-katanya menjadi sekadar menumpang lalu.
Panggung akan segera dibuka, anakku. Begitu pula berpasang-pasang mata di sana, mereka menanti dalam harap yang sama denganmu.
Sedang untuk beberapa waktu, keduanya terdiam. Mencipta hening cukup lama, membiarkan waktu mengalir. Keraguan menyelimuti salah satunya yang tidak yakin, pun, tak mengenali latar tempat ia berdiri.
Mereka menantikanmu bersama para tokoh lainnya di balik tirai itu.
Tidakkah engkau ingin menyapa mereka?
Terlebih, dengan jarak sedekat bintang tertua semesta dan sejauh nadi yang memisahkan keduanya.
Meski akhirnya, ia, sang personifikasi, membuka mulutnya untuk pertama kali, "Kisah dan tokoh seperti apa yang akan hamba lakoni …" Kepala terangkat untuk saling bertemu tatap, setelah niat hati mengisi batinnya.
"... Tuan Dalang Agung?"
Sang Dalang Agung tersenyum, lantas cahaya lembut terpancar dari-Nya, menenangkan jiwa tokoh utama yang penuh kelabu rasa ragu, penuh masam kekhawatiran yang suram. Namun, takkan Ia tinggalkan tokoh utama pilihannya larut dalam ragu.
Anakku.
Marilah, dan akan Aku tunjukkan kepadamu.
Kisah seperti apa yang akan engkau jalani, dari awal hingga akhir; dari beranjaknya engkau hingga sekembalimu ke tempat ini …
…
…
…
"Dulce pax est quides,
—quam solo vitas.
Dulce pax est quides — oratio, quies."
…
hei, dengar, dengarlah babad berpendar dalam senyap,
terpeluk seribu purnama, hadir di tengah gemintang.
sampaikan sejuta nama, bersama asa gemilang—hingga,
tabir cerita kembali terbuka:
"Bawakan kisah epik lainnya!"
"Kisah petarung sejati yang tak kenal gentar,
… yang bikin musuhnya terkencing dan gemetar!"
—demikian katanya, seraya membalik halaman,
demi halaman, dan demi halaman, dan demi halaman, kisah epik tersajikan.
mereka merona subur bagaikan dedaunan di pohon ara, sebelum layu dan binasa oleh karena lancangnya waktu.
Sama seperti ini, itu tak abadi. Sebab tak pernah ia menuju akhir; hingga nyawanya yang duluan uzur, usang, lantas terlupakan oleh zaman. Ia pergi, jiwannya takkan pernah kembali, atau menunggu giliran reinkarnasi.
.
Ini hanyalah Latar Pertama: Nama Tanpa Raga, fragmen dan debu ingatan dari mereka yang dulunya ada. Kita, engkau dan Aku, masih jauh sekali dari lakon yang sesungguhnya.
Mari kita beranjak, menuju linimasa di masa depan.
…
…
...
Pendar hijau yang gemilang, bersaing dengan emas yang bercahaya terang. Mewarnai tampak buwana dari angkasa, memadu imajinasi akan ekspektasi dan ragam cerita. Bagai serpih kristal anugerah, tersebar di atas suatu bumi pertiwi, berdirinya tanah air nan megah.
Ia temukan dirinya berdiri di atas tebing, dengan hutan rimbun di belakangnya, dan hutan gelap penyimpan misteri jauh lagi di belakangnya. Sepoi-sepoi menyapa, lembut membelai puncak kepala. Cahaya mentari hangat pula menyapa.
Pluk!
Sepucuk surat tiba di tangan si personifikasi, diantar oleh angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Entah dari mana, tetapi ia tak mempermasalahkannya. Hei, kertasnya telah menguning, akan tetapi tidak lusuh, tidak pula rapuh ataupun tipis. Aroma bunga samar-samar tercium dari dalamnya; itu aroma segar dan menenangkan.
Surat itu, dari luar, juga diikat oleh pita dwiwarna, merah dan putih. Tersimpul rapi.
Si personifikasi mengernyit, ada banyak sekali hal asing yang terasa familiar. Banyak sekali imaji yang maknanya perlu ia mengerti. Sebab semua ini pasti memiliki arti, sebagaimana eksistensi yang dia miliki.
Bukalah.
Si personifikasi menurut, dilepasnya simpul pita dwiwarna itu, lantas diletakkannya ke atas pangkuannya, agar jangan sampai tinggal menyentuh tanah. Tangannya membuka sepucuk surat yang terlipat segiempat dengan hati-hati—sungguh, takkan tega hati ia jika sampai tak sengaja merobek kertas, apapun namanya, ini.
Aroma harum yang tadinya samar, tercium semakin kuat, hingga sampailah ia pada lipatan terakhir dari sepucuk surat itu.
Bunga. Bunga putih kecil, dengan lima kelopak memanjang. Dasar tangkainya yang pendek berwarna hijau. Titik-titik air, seperti embun pagi, membasahi bagian-bagian bunganya, membuatnya tampak berkilauan diterpa cahaya
.
.
pergilah ke timur,
temukan kemilau zamrud yang tak berkesudahan,
berpayungkan langit biru dan mentari panjang umur,
dengan hulu dan hilir serta bumi pun langitnya,
—dan coba masuklah ke dalam kehidupan,
akan kau temukan setitik surga di atas buwana.
secercah nirwana yang akan dielu-elukan seluruh penjuru dunia.
"Selamat datang, semuanya. Dengan hormat: di XXXXXXXXX."
.
Indah, bukan?
Inilah yang akan menjadi kekayaanmu. Inilah wajah yang akan engkau tunjukkan kepada mereka semua di panggung dunia.
Akan tetapi, sebagaimana kehangatan yang nyaman akan berlawanan dengan rasa dingin menusuk tulang, ada kalanya harapan akan bersambut dengan asa yang putus. Kedamaian akan menemui kegelisahan, kerukunan akan menemui perselisihan.
Pun juga: kehidupan akan menemui kematian.
.
"Seluruh dunia memiliki medan sengketanya sendiri."
… dan milikmu adalah medan Baratayuda penuh agni angkara.
…
…
...
darah tumpah hias candrasa
gambarlah hina pada duka!
Selamatkan cercah cahaya asa tersisa
lalu. aku. — jadikan aku ganti harganya.
hingga dari raga tiada tersisa,
sampai hidup tinggallah nama.
Bahkan jika secercah berkat itu tinggallah puing,
jiwa-jiwa tak tenang itu takkan berhak menyentuhnya!
Jiwa-jiwa tak berdosa, jiwa-jiwa nan malang,
—binasa di dalam api penyiksa.
Hanya pemangsa di atas rantai kekuasaan,
hanya pemangsa bermata nyalang itu,
hanya para penelan harapan dan para pencipta sengketa itu …
mereka …
tak tampak maslahatnya …
bahkan doa-doa itu takkan pernah bisa menyelamatkan mereka.
(mereka selamat dari binasa, selamat dari malapetaka dunia, karena adil telah dibungkamnya dengan curah-curah dusta yang lainnya dari dunia.)
.
.
.
tetapi kamu, sahabatku di linimasa lainnya:
"Bagaimana damaimu, di sana, wahai?"
Atau, tanpa damaikah di masa depan; huru-hara, penuh hina, penuh luka, dan medan perselisihan lainnya yang engkau semua hadapi setiap harinya?
Oh, bawalah aku—lenyapkan lara
tuk lalui mimpi buruk ini tanpa rasa takut
lepas dari belenggu raga
luruh dari laknatnya kelam yang tertaut untuk ikut.
…
"Dulce pax est quides,
—quam solo vitas.
Dulce pax est quides — oratio, quies."
…
…
…
Itu.
Barusan sekali.
Tidak semua, tetapi cukup untuk menenggelamkannya dalam gejolak rasa yang tidak ia pahami, yang kelak ia ketahui bahwa inilah kali pertama Sang Dalang Agung mengizinkan perasaan manusia masuk ke dalam hatinya—agar ia dapat memahami betapa rapuhnya hati manusia, dan ketabahan serta kelapangan hati yang menggenggam harapan ketika asa berkali-kali dipatahkan.
"Dari apakah semua fragmen ini?"
Aku, engkau, mereka.
Itu berarti, semua dalam fragmen itu. "Jika saya tak bersedia mengemban lakon dari Tuan Dalang, apakah Tuan Dalang tetap berkenan?" Lalu jeda. Seakan mengerti, hitungan waktu ikut berhenti, tepat ketika kabut ragu menyusup ke dalam hati.
Maka, masih ada engkau, bagian dari dirimu lagi yang berada di latar ini. Bagian darimu, meski berselimut ragu dan kelu, akan dengan mantap memilih linimasa ini. Akan dengan gagah memimpin golak-gejolak Baratayuda, pun hingga menitik darah dari kedua mata cokelatmu karena luka yang begitu mendalam.
Ini tidak meyakinkannya, hanya bisa mengulur waktu, menunda apa yang seharusnya terjadi lebih cepat. Bukankah percuma baginya terus mundur?
Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu, anakmu.
Seperti mantra, sekonyong membuka gerbang tak kasat mata yang menghubungkan antara dimensi ini dengan lainnya, pun dengan gelembung-gelembung dunia yang tak terhingga jumlahnya. Itulah yang di masa depan nanti, akan disebut oleh manusia sebagai kumpulan dunia paralel, dalam gelembung-gelembung semesta, dengan jarak tak terhitung oleh cahaya jauhnya.
Tetapi, intinya bukanlah itu.
Sang Dalang Agung mengangguk takzim, menatap dari balik tirai, dan dari puncak bangku audiens.
Kau akan lupa caranya kembali, sebagaimana tak ada jalanmu untuk kembali. Jadilah tokoh utama di sana, dan lalui suka, duka, luka, dan rasa, bersama wajah-wajah baru yang berlainan warna.
Lantas, Tuan Dalang Agung hapuskan segalanya dari memori, jadikan tokoh utama-Nya sebagai jiwa baru nan suci, hadir membawa arti. Ia bukan lagi sekadar ciptaan, melainkan pemeran yang Tuan Dalang Agung pilih sendiri, untuk meniti hidup di atas tanah air, yang kelak akan disebut "bumi pertiwi".
Si personifikasi yang sesaat lalu masih sulit menelan ragu, kini tampil di atas panggung sandiwara seni duniawi yang telah Dia siapkan, dengan arc pertama yang penuh dengan kelabu nasib.
Wahai, Personifikasi Republik Indonesia.
Sang Personifikasi pun, menjadi hidup di antara tokoh manusia yang hidup dan mati, nama-nama yang hilang-lenyap bersama era, dan masa-masa yang silih berganti …
…
…
…
roda hikayat berputar kembali,
dan terbukalah tirai pentas seni.
dimulailah pertunjukan melawan arti,
seraya mempertarungkan sisi logika dan maknawi.
…
"Tiada lagi jalan untukmu kembali, sebelum kisahmu tuntas dengan pasti."
Seluruh mata akan terpana dan mereka akan menemukan makna; kecuali yang hatinya penuh durjana dan para pemicu sengketa atas buwana: matanya menjadi buta, hatinya tumpul menuju binasa.
…
…
…
…
…
Selamat Hari Ulang Tahun ke-79, Republik Indonesia.
…
Lekaslah sembuh, lekaslah pulih.
Semoga hati yang penuh dusta dan para pencipta sengketa lekas ditahirkan dari butanya.
Semoga hati batu yang mencipta sengsara, lekas melunak dan lebur untuk dapat saling mengasihi.
Semoga suara dan tangis yang memohon dalam doa, lekas bersambut dengan sukacita.
Semoga luka yang negeri ini rasakan, perlahan pulih dan terhapus pula duka lara.
…
Seluruh doa demi kesembuhan negeri ini, meski tidak sempurna, semoga sampai ke hadirat Sang Maha.
