Hello, its been a while...
DISCLAIMER: I don't own the series. Everything belongs to Bandai Namco and Sunrise.
Paluderei: 2. Takoyaki
Athrun hanya melihat makanan yang ditunjukkan Cagalli dihadapannya dengan tatapan bingung. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Athrun bisa lihat jelas di wadah yang terbuat dari kertas tersebut, terdapat sekitar delapan buah makanan berbentuk bola dengan saus tebal berwarna coklat diatasnya serta serbuk berwarna hijau dan serpihan yang menari-nari? Athrun tidak yakin apakah benda tersebut makanan atau bukan.
"Ini!" seru Cagalli sambil mengambil satu bola berbentuk bulat tersebut dengan tusuk gigi yang digunakan sebagai pengganti garpu atau sendok. Athrun dapat melihat kepulan asap dari bola tersebut. Tentu saja, mereka baru membelinya beberapa waktu lalu di daerah suburb ORB Union yang dekat dengan area Little Japan.
Athrun mendapatkan waktu kosong dari tugasnya di Terminal dan waktu kosong tersebut selalu disamakan dengan jadwal untuk bertemu dengan Cagalli. Waktu kosong tapi sayangnya mereka gunakan juga untuk membicarakan pekerjaan. Namun Athrun dan Cagalli tidak masalah, karena mereka jadi memiliki waktu untuk 'bertualang' disela waktu kosong itu. Seperti hari ini, duduk di kursi taman sambil menikmati snack, itu yang Cagalli ucapkan padahal sebetulnya belum waktunya untuk kudapan sore ataupun makan malam. Makanan yang Athrun lihat dengan penuh curiga itu berada di antara mereka berdua.
Melihat reaksi Athrun yang kurang memuaskan Cagalli sedikit merengut, "Jangan bilang, ini pertama kali kau melihatnya?"
"Huh?"
"Takoyaki ini, ini pertama kalinya kau melihatnya bukan?" Cagalli mendekatkan makanan tersebut ke arah Athrun.
"Tako…yaki?"
"Haaaah…~" Cagalli menghela napas, "Kau ini benar-benar tidak tertolong ya Ath."
"Ini Namanya takoyaki, tako yang berarti gurita dan yaki yang berarti panggang. Salah satu street food yang sangat populer di Jepang dan kau harus mencobanya Ath!" jelas Cagalli singkat padat jelas.
"Gurita…panggang?" Athrun merasa aneh karena merasa makanan tersebut tidak sesuai dengan namanya. Alasannya sederhana, cara masaknya yang menurut Athrun tidak seperti dipanggang dan tidak terlihat ada gurita saja disitu. Athrun melihat proses memasaknya yang entah mengapa membuat Cagalli terkagum-kagum. Namun, dia lihat bahan yang paling dominan adalah tepung dan bumbu lainnya. Gurita memang dimasukkan, namun ketika melihat menu yang ditawarkan, penjualnya tidak hanya menjual gurita namun yang lainnya juga. Jadi, apakah masih bisa disebut takoyaki?
Namun, daripada berdebat dengan Cagalli yang sedari tadi menawarkan makanan tersebut dan sudah mengangkat salah satu bola takoyaki tersebut, Athrun menelan ludahnya, "Apa bisa dimakan?" tanyanya. Dia lebih khawatir dengan apa yang disajikan setelahnya dengan saus, mayonnaise, serta bahan lainnya.
Cagalli mengangkat salah satu alisnya dan melihat tatapan Athrun yang fokus ke bonito yang ada di takoyaki tersebut. Cagalli tertawa kecil. "Kau ini, tentu saja bisa dimakan! Ini hanya serpihan bonito, kau pernah memakannya walau dalam bentuk sup. Bonito juga digunakan untuk membuat kaldu sup ikan. Ingat sup ikan yang Myrna buat dengan menggunakan dashi?"
Athrun mengangguk pelan namun itu hanya membuat pemuda berambut segelap langit biru malam itu terlihat sedikit lega. Dia belum tertarik untuk memakannya. Cagalli pun menjadi agak sebal. "Kau ini! Sini biar kuperlihatkan cara makannya! HAP!" Cagalli segera memasukkan takoyaki tersebut ke dalam mulutnya tanpa memotongnya dan Athrun yang terkejut bisa langsung melihat kalau ukuran takoyaki tersebut terlalu besar untuk mulut Cagalli. Athrun yakin akan susah untuk mengunyahnya dengan baik apalagi takoyaki tersebut masih….panas.
"Auch..ah…," seru Cagalli yang sesuai dugaan Athrun. Cagalli menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, mencoba mengunyahnya sambil melawan hawa panas dari makanan tersebut. Dia menoleh ke arah Athrun dan menunjukkan ekspersi penuh kemenangan dan senang. "Khau…harus..menchobanya..Athe," ucap Cagalli yang terdengar tidak jelas mengucapkan apa tapi Athrun tahu dia menyuruh Athrun untuk mencobanya.
"Kunyah dahulu Cagalli, baru berbicara," pinta Athrun. Dia menunggu Cagalli menyelesaikan makanannya karena dia tidak mau mereka berada disituasi yang sama dan terjadi hal yang tidak menyenangkan setelahnya. "Cagalli, bagaimana kalau-" Athrun mencoba untuk menolongnya dengan hendak menyuruhnya memuntahkannya tapi Cagalli mencegahnya.
Athrun pun lalu memberikan sebotol air ke Cagalli setelah dia berhasil menghabis satu bulatan penuh Takoyaki. Cagalli segera mengambil botol air tersebut dan menenggaknya, "Phuaah…ayo Ath! Kau harus mencobanya! Takoyaki itu enak selagi panas!"
Athrun masih agak ragu dengan makanan yang Cagalli taruh diantara mereka berdua. Dan apa esensinya memakan makanan yang masih panas. Bukankah berakhir menyebabkan iritasi dan kerusakan gigi? Tentunya Athrun sadar, sekarang bukan untuk berdebat tentang hal itu juga. Apalagi Cagalli yang terlihat tersiksa karena panasnya namun berakhir...senang? "Ayolah Ath! Bukankah kau bilang ingin menemaniku untuk petualangan kuliner ini?" ucap Cagalli mengingatkan janji Athrun. "Tenang, sama seperti monjayaki dan okonomiyaki, mereka juga memakai bahan kesukaanmu disini, kol."
"Huh?" Athrun kembali bingung. Dia tidak melihat ada kol di takoyaki tersebut bahkan tidak melihat sayuran tersebut saat pedagangnya membuat pesanan mereka.
Cagalli menunjuk serbuk hijau yang ada di atas takoyaki tersebut. Athrun bisa lihat ada serbuk hijau yang sudah mulai bercampur dengan bonito, mayonnaise, dan saus coklat yang katanya saus takoyaki itu. "Aonori, atau rumput laut hijau. Aku dengar di Cina mereka menyebutnya sea cabbage atau hutia," ucap Cagalli.
"Rumput laut dan kol itu berbeda Cags," Athrun mencoba mengoreksi wawasan biologi Cagalli. Namun Athrun tahu, apa yang Cagalli lakukan lebih ke arah meyakinkan dirinya kalau makanan tersebut aman.
"Baik tuan jenius! Jadi, kau mau coba atau tidak?" timpal Cagalli sambil menusukkan dan mengarahkan satu buah bola takoyaki ke arah Athrun lagi. "Ayolah, tidak ada salahnya. Ini enak loh!"
Athrun menghela napas, dia akan mencobanya namun tentunya dengan caranya. Dia meraih tangan Cagalli dan mengambil tusuk gigi dengan takoyaki tersebut. Dia lalu menaruhnya di wadah makanan dan memotongnya jadi dua. Cagalli terkejut "Hei, bukan begitu-"
"Setidaknya biarkan aku mencoba dengan caraku dahulu Cags," potong Athrun yang berhasil memotong bola takoyaki tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Aouch…", sensai panas tetap menyerang mulutnya. Athrun mencoba mengurangi sensasi panas dengan memotongnya jadi dua tapi kelihatannya agak percuma. Namun, setidaknya dia tidak mengalami kesulitan mengunyah. Setelah beberapa saat mencoba mengunyah dengan benar, Athrun pun berhasil menelan potongan pertama takoyaki-nya.
"Bagaimana?" tanya Cagalli yang sedari tadi sebenarnya tatapannya tidak lepas dari Athrun. Dia melihat Athrun dari awal pemuda tersebut memasukkan takoyaki ke mulutnya.
"Uhuk..," Athrun terbatuk pelan karena tidak biasa dengan potongan gurita yang cukup besar. Dia mengambil botol air minum miliknya dan meminumnya. "Yah, bisa dimakan," jawabnya.
Cagalli tertawa, karena reaksi Athrun mirip sekali dengan saat dia pertama kali mengajaknya makan monjayaki dan okonomiyaki. Cagalli memukul pelan bahu Athrun. "Akan kuajak kau terus dalam petualangan kuliner ini sehingga kau bisa memberikan komentar yang lebih daripada itu!" seru Cagalli seakan-akan dia berdeterminasi dan menjadikan kegiatan ini seperti kewajiban untuknya. Dia lalu mengambil satu bola takoyaki dan memasukkan langsung ke dalam mulutnya dan menunjukkan reaksi yang sama seperti saat pertama kali memakannya.
Please leave a review if you want to. It might be lighten up my mind and feeling.
F.A
