"Selamat pagi~"

Yaya terperanjat mendengar suara yang muncul di belakangnya. Saat menoleh, ternyata pelakunya adalah Taufan yang sedang duduk santai di kursi meja makan, meja itu dipenuhi oleh tumpukan sayur hingga permukaannya tidak terlihat lagi.

Pemuda itu tersenyum lebar dengan tangan yang sibuk menukas kacang panjang.

Air muka Yaya seketika berubah jengkel, ia membatalkan niatnya untuk menuangkan segelas susu dari dalam kulkas setelah menyadari keberadaan Taufan.

"Eh, jangan kabur terus!"

Pemuda itu segera menahan lengannya sebelum Yaya bisa melarikan diri. Sudah cukup satu minggu ini dia diabaikan, Taufan ingin mendengarkan alasannya.

"Kamu ngapain sih pagi-pagi udah ada di rumah orang? Gak ada kerjaan banget"

"Kata siapa? Aku izin lho latihan hari ini–"

"..gak nanya. Lepasin, Taufan!"

"Gak, gak akan aku lepas sebelum kamu–"

"Yaya? Taufan? Kalian sedang apa?"

Keduanya menoleh ke arah pintu dapur. Di sana ada Nyonya Yah yang berdiri memandang mereka dengan tatapan heran–karena posisi keduanya bak aktor yang sedang memainkan peran di film drama.

Taufan menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan bonus cengiran, "Anu bunda.."

.

.

.

Boboiboy Monsta StudiosStory by Drazilla

WARNING(s) : Rate T / Romance TauYa, Alternate Universe (AU), banyak typo, bahasa gado-gado a.k.a campur, dan sederet kekurangan lainnya yang mohon untuk dimaklumi.

.

.

.

Yaya sadar kalau kedekatannya dengan Taufan selama ini memang tidak bisa dianggap sebagai kedekatan antara teman biasa, apalagi setelah beberapa tahun belakangan pemuda itu semakin berubah, banyak tingkah laku Taufan yang membuatnya jadi bingung sendiri.

Waktu yang telah mereka lewati bersama sejak kecil membuat mereka tidak terpisahkan. Bahkan ada yang sampai memberikan mereka julukan sebagai lem dan kertas, pensil dan penghapus, atau sebutan lainnya yang mendefinisikan bahwa 'dimana ada Yaya, pasti ada Taufan'. Atau sebaliknya.

Meski Taufan sudah beberapa kali 'dekat' dengan perempuan lain, semua hubungannya tidak berlangsung lama. Para perempuan itu akan berakhir dengan tangis dan patah hati karena cintanya ditolak.

Hanya ada satu gadis yang sempat menjadi pacarnya, meskipun hubungan mereka hanya bertahan selama dua minggu.

DUA MINGGU.

Yaya tak mengerti. Sahabatnya ini alergi dengan komitmen atau bagaimana sih?

Alasan itu juga yang membuat teman-temannya sering mengira kalau dirinya dan Taufan pacaran, karena mereka berdua tidak terlihat dekat dengan lawan jenis lain se-dekat itu.

Tidak tuh! Yaya akan langsung mengelak. Sedangkan Taufan hanya meresponnya dengan senyum dan cengiran yang menyebalkan.

Tapi jika ia ditanya soal perasaanya terhadap Taufan?

Entah lah.

Belakangan ini Yaya memang sedang kesal pada Taufan. Dan yang lebih menjengkelkannya lagi, pemuda itu sama sekali tidak sadar akan hal apa yang membuatnya marah.

"Makasih bunda" Taufan tersenyum lebar saat ibu dari sahabatnya itu menyimpan sepiring kentang goreng dan jus jeruk di atas meja.

"Sama-sama. Tadi kan udah bantuin bunda potongin sayuran" ujarnya sembari tersenyum.

"Bunda turun ke bawah dulu ya. Jangan marah terus sama Taufan dong, Yaya." ia membelai kepala anak gadisnya dengan lembut sebelum berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.

"Waah~ enak banget masih hangat. Bunda Yah terbaik pokoknya" puji Taufan, ia mencicipi kentang goreng yang tersaji lengkap dengan saus sambal, melupakan Yaya yang terlihat semakin menekuk wajahnya.

Kenapa juga ibunya harus meninggalkan mereka berdua di rooftop dan memintanya untuk berbaikan dengan anak laki-laki ini?

"Habiskan, terus cepet pulang."

"Padahal ini musim panas, tapi kok dingin ya?"

Gadis itu tidak menggubris candaan Taufan, ia menatap lurus ke depan sembari melipat tangannya. Mencoba mengalihkan pikirannya pada pemandangan jalan dan orang-orang yang sibuk beraktifitas.

"Sayang banget gak bawa gitar" Taufan mengunyah potongan kentang dengan tenang, "..kan enak bisa sambil nyanyi-nyanyi-"

"Gak ada nyanyi-nyanyi. Cepetan pulang."

"–ayo makan, enak lho kentangnya"

"Kamu dengerin aku gak sih?" Yaya terlihat jengkel

"Enggak. Tapi aku dengerin bunda, dia bilang kita harus baikan–"

"Gak mau"

"Terus maunya apa? Jadi pacar aku?"

Yaya mendelik ke arah Taufan, tatapannya tajam menusuk jantung dan rasanya lebih mematikan daripada Halilintar. Tapi tentu saja Taufan sudah kebal.

"Kenapa sih dari dulu kayak gitu terus? Tapi omongannya kosong—"

Yaya membeku saat menyadari kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya, kalimat yang mengundang seukir senyum di wajah Taufan.

"Ya udah kalau gitu, mau pacaran aja sekarang?"

"Jangan ngomong aneh-aneh. Cepet abisin terus pulang"

"Biar Bunda bisa besanan sama Mama-"

"Taufan!"

"Aku serius"

"Aku juga serius. Kamu harus cepet pulang" Yaya mendelik.

Entah apa yang dipikirkan si pemuda berkaos putih, tapi ia menatap mata Yaya tanpa mengalihkannya selama beberapa saat.

Tatapannya itu membuat Yaya jadi salah tingkah.

"A–apa sih Fan, ayo cepet habisin."

"Kamu gak kangen ya sama aku? Udah seminggu loh kita gak ngomong tatap-tatapan gini—"

"—gak." potong Yaya cepat.

Taufan menghela nafas, kemudian meneguk sisa es jeruk yang ada di meja dan bangun dari tempat duduknya.

"Oke, ayo ikut"

"Ke mana? Kok tiba-tiba? Gak mau–" protes Yaya

"Sekali ini aja deh. Besok aku gak akan ganggu kamu lagi kalau ikut aku hari ini." Taufan mengulurkan tangannya dengan tatap mata yang serius.

Sebenarnya hati Yaya sedikit mencelos mendengar ucapannya. Dia memang marah, tapi dia juga tidak ingin Taufan mengabaikannya, apalagi sampai hilang dari hidupnya. Perasaanya jadi campur aduk.

Ia memilih untuk berdiri dan berjalan lebih dulu menuju tangga, tidak menerima uluran tangan Taufan.

"Ya udah. Aku mau mandi"

"Eh? Yes! Oke Yayaa ini kentangnya aku abisin ya~"

.

.

.

"Aku pakai mobil sebentar!" seru Taufan pada kedua kembarannya yang entah sedang berada di bagian rumah mana, dan merebut kunci mobil dari gantungan.

"Kenapa pakai mobil?" Yaya heran saat melihat laki-laki itu membuka garasi, mulai menstater mobil dan menunggu mesinnya menghangat.

"Biar kamu gak kepanasan" bisa gawat jika terik matahari menyorotnya siang ini, Taufan yakin mood-nya akan semakin jelek.

Yaya tidak berkomentar apa-apa dan menunggu Taufan memarkir mundur kendaraan berwarna putih itu.

Setelah terparkir setengah keluar, ia turun dan membantu Yaya membuka pintu.

"Silahkan naik tuan put-"

Tapi tidak. Yaya tidak segera masuk ke dalam mobil. Ia memilih untuk menutup pintu yang sudah dibuka lebar oleh Taufan.

Setelah menutupnya Yaya membukanya kembali menggunakan tangannya sendiri, dan setelah itu barulah ia bersedia masuk ke dalam mobil dan menutupnya kembali tanpa berkata apa-apa.

Sepertinya Yaya sedang sangat alergi dengan Taufan.

Laki-laki itu menggaruk belakang lehernya, tidak mengerti pola pikir perempuan.

Tapi daripada Yaya semakin marah, Taufan bergegas masuk tanpa berkomentar.

"Dasar cewek"

..atau

"Dasar Yaya"

.

.

.

Sepanjang jalan, Yaya tidak bersuara sama sekali. Ia hanya fokus memperhatikan keramaian di luar lewat kaca mobil penumpang sembari menyandarkan kepalanya dengan wajah yang kusut.

Taufan bersenandung, mencoba mengabaikan hawa negatif yang sedari tadi mengelilingi mereka berdua, yang tentu saja bersumber dari gadis itu.

"Kamu mau beli es krim?"

"Gak"

"Main arcade?"

"Gak"

"Ke salon—"

"Gak."

Pemuda itu menggaruk pipinya, benar-benar tidak mendapat petunjuk. Petunjuk tentang apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan hingga Yaya begitu marah padanya dan memilih untuk mengabaikannya selama seminggu ini.

Perempuan memang tahan untuk marah lama ya.

"Oke deh, kalau gitu kamu mau ke mana biar gak marah lagi sama aku?" tanyanya dengan nada membujuk.

"Jadi kamu ngajak aku pergi, belum tahu mau ke mana?" Yaya mendelik ke arah Taufan yang sedang cengengesan.

"Ya... itu sih—"

"Aku mau turun."

"Hah? Ya—"

"Turunin!"

Taufan terlihat panik, "Gak boleh. Kamu mau pulang naik apa?"

"Gampang. Bukan urusan kamu kok. Cepet, aku mau turun"

"Nanti kalau kamu diculik emangnya bunda gak akan sedih? Kalau aku dikutuk sama bunda gara-gara gak bisa jagain kamu gimana?" bujuk Taufan bak membohongi anak kecil.

"Aku mau minta Sai jemput."

"Ohh pacar kamu itu"

"Bukan pacarku."

"Kalian kan sering pulang bareng waktu masih marah sama aku—"

Yaya tidak menggubris ucapan Taufan, wajahnya semakin menekuk. Ia jadi kelabakan sendiri.

"Oke, oke, jangan (tambah) marah Yaya." Pemuda itu sedikit terkekeh untuk mencairkan suasana.

"Sebentar lagi sampai kok"

Yaya mendengus, awas saja kalau Taufan hanya membuang-buang waktunya di hari sabtu ini.

.

.

.

"Selamat datang!"

Yaya tertegun sesaat ketika melihat apa yang ada di depan matanya.

"Pet.. shop?" Gadis itu mengernyitkan dahi. Dari semua kemungkinan tempat yang ada di dunia ini, kenapa Taufan membawanya kemari?

"Tunggu sebentar ya!" Taufan segera meninggalkannya di barisan kandang dan berjalan menuju kasir. Di sana ada kucing, landak, burung, hingga hewan pengerat jinak seperti hamster.

Perhatiannya tertuju pada seekor anak kucing berwarna putih yang sedang bermain bersama saudaranya di dalam kandang. Yaya menghampirinya dan menyentuh kepala anak kucing itu lewat sela-sela besinya.

"Kamu lucu banget" bisiknya pelan.

Ia terkekeh ketika anak kucing itu menyambut tangannya dengan malu-malu, mengendusnya, lalu mengelus jari Yaya menggunakan kepalanya setelah merasa aman.

Wajah Yaya kembali berseri, jujur saja mood-nya membaik karena berinteraksi dengan anak kucing ini. Andai saja bundanya tidak alergi dengan bulu kucing, mungkin ia bisa memiliki satu atau dua ekor kucing yang lucu untuk menemaninya di rumah.

"Yaya aku udah–"

Langkahnya terhenti tepat di belakang Yaya yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Taufan terkekeh pelan melihat Yaya tersenyum karena sedang bermain dengan anak berbulu itu.

Sudah satu minggu Taufan tidak melihat senyumnya, jujur saja dia merindukannya.

"Yaya~ yuk pergi" ujar Taufan dengan nada suara yang lebih tinggi agar Yaya bisa menyadari kehadirannya.

Gadis itu tersentak, ia segera mengubah mimik wajahnya ke pengaturan awal. Tapi Taufan bisa melihat bahwa ekspresinya tidak seseram tadi.

Saat berjalan keluar, Yaya masih menengok ke belakang sesekali–merasa tidak rela meninggalkan kedua kucing itu di sana tanpa induk mereka. Tapi apa boleh buat?

Gadis itu menghela napas, Taufan bisa melihat wajahnya yang sedikit kusut karena sedih.

.

.

.

I would want myself

Baby, please believe me

I'll put you through hell

Just to know me, yeah, yeah

Taufan bersenandung mengikuti irama musik sembari sibuk memutar setir, membawa mobilnya ke arah sebuah perumahan.

So sure of yourself

Baby, don't get greedy

That sh*t won't end well

No, it won't end well

(Greedy - Tate McRae)

Yaya menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara dan bertanya, sebenarnya ke mana dia akan membawanya pergi?

Taufan mengobservasi jalan di depannya, lihat kanan lalu kiri, seperti sedang mencari sesuatu.

"Kamu nyari apa sih, Fan—"

"Nah ketemu"

Taufan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Setelah selesai, ia turun sembari menenteng sebuah kantung plastik dan membuka pintu mobil sebelah kiri untuk Yaya. Tidak ada penolakan kali ini, hanya saja raut wajahnya terlihat kebingungan.

"Sini" Taufan menarik tangan Yaya dengan lembut, menuntunnya menuju pohon besar yang ada di dekat taman. Ia senang karena gadis itu tidak memberontak atau pun menolak sentuhannya.

Mata Yaya berbinar saat melihat ada beberapa anak kucing dan juga kucing dewasa yang sedang berkumpul, memenuhi sebuah kayu berbentuk rumah-rumah kecil.

"Nih" Taufan menyerahkan sebuah mangkuk berbahan aluminium yang sudah terisi dengan makanan kucing kering.

Yaya sempat memandangnya dengan ragu, namun pemuda itu tersenyum dan mengangguk, meyakinkan Yaya agar mau maju dan mendekati mereka,

"Mereka baik kok. Gak galak"

Setelah membalas tatapan Taufan, Yaya lantas menerimanya dan mendekat ke arah mereka.

Beberapa anak kucing yang sedang asik bermain langsung berhamburan ke sana kemari karena masih asing dengan kehadirannya. Jadi Yaya memilih untuk duduk di dekat Ibu kucing yang tengah tidur agar mereka tidak kabur.

Ia mengusapnya pelan, membuat kucing itu sedikit tersentak dan bangun, lalu menguap dan meregangkan kaki-kakinya.

"Meong~"

"Pusss.. bangun tidur pasti lapar kan? Makan ini ya" ujar Yaya dengan lembut sembari membelai kepalanya. Kucing itu membalas uluran tangan Yaya dengan manja menggunakan kepalanya.

Taufan tersenyum puas melihat Yaya yang akhirnya kembali tertawa, wajahnya berseri-seri. Sebuah pemandangan yang paling ia suka, apalagi setelah satu minggu ini gadis itu selalu menekuk wajahnya di depan Taufan.

"Kamu mau pegang?" Yaya menoleh ke arah sahabatnya yang masih berdiri, bersandar di pohon.

"Pusss.. bangun tidur pasti lapar kan? Makan ini ya" ujar Yaya dengan lembut sembari membelai kepalanya. Kucing itu membalas uluran tangan Yaya dengan manja menggunakan kepalanya.

"Aku masih marah, tahu" cibir Yaya.

Taufan tertawa mendengarnya, "Iya aku tahu kok. Tapi udah berkurang kan?" tanyanya dengan nada membujuk.

Yaya terlihat berpikir, "Um, segini" ia membawa sebiji makanan kucing dan menunjukkannya pada Taufan.

"Ih sedikit amat. Aku kira kamu gak akan marah lagi kalau aku sogok pake kucing"

"Ohh jadi ini sogokan?"

Taufan terkekeh, "Yaa, enggak sih. Aku pengen liat kamu senyum lagi aja. Udah satu minggu gak lihat"

Yaya memutar matanya, tapi ada seulas senyum tipis yang ia tahan agar tidak terlihat.

"Kebiasaan. Mulutnya tolong dijaga ya putranya bapak Amato" ia berusaha untuk tidak terjerat gombal murahan pemuda itu.

"Kenapa? Manis ya? Kayak senyum kamu. Makanya aku pengen liat terus-"

"Apa sih!" Yaya menyikut lengan Taufan sembari menahan senyum geli.

"Tuh, akhirnya mau senyum kan? Aku heran apa mulut kamu gak pegel gak senyum sama sekali selama satu minggu" ejek Taufan.

Yaya tidak menggubrisnya, tapi Taufan merasa senang karena moodnya sudah membaik. Gadis itu asik bermain dengan anak-anak kucing yang semakin nyaman berada di dekatnya.

"Kamu kok tahu tempat ini?" Yaya mengobservasi keadaan di sana. Taman ini seperti dibuat khusus untuk kucing, kebersihannya juga terjaga, bahkan sampai disediakan rumah kayu untuk mereka berteduh.

"Waktu kamu ngambek seminggu kemarin aku sering keliling sendiri. Terus aku liat ada komunitas pecinta kucing lagi kumpul di sini. Dan mereka yang urus tempat ini. Katanya siapa aja boleh beri makan"

Taufan tahu betul meski Yaya menyukai kucing, ia tidak akan pernah bisa mengadopsi mereka karena terhalang alergi bundanya. Makanya ia sengaja membawanya kemari.

Yaya merasa takjub, ternyata banyak orang yang sangat peduli pada binatang. Bahkan sampai menyediakan dan mengurus kucing-kucing jalanan ini tanpa pamrih.

Taufan melirik jam tangannya, sudah pukul dua belas siang. "Kita cari makan yuk. Laper nih" Ia membantu Yaya berdiri setelah gadis itu selesai mengelus mereka.

"Kalau kamu mau, kita bisa sering-sering ke sini" ujarnya, gadis itu mengangguk pelan. Taufan terkekeh, Yaya terlihat begitu manis.

"Jadi kamu udah gak marah sama aku kan?"

"Enak aja"

Dan Taufan harus rela dirinya ditinggal di belakang karena gadis itu sudah bergegas kembali ke mobil sembari mendelik ke arahnya.

.

.

.

Taufan tidak pernah mengerti bagaimana cara kerja otak perempuan. Jangankan Taufan, ia yakin semua laki-laki juga berpikiran hal yang sama dengannya. Apalagi ia memiliki saudara yang semuanya adalah laki-laki, perempuan yang intens berinteraksi dan memiliki ikatan emosional dengannya sejak kecil adalah ibunya, dan juga Yaya.

Tapi Ibunya selalu sibuk, kedua orang tuanya jarang berada di rumah karena waktu mereka habis tersita untuk bekerja. Jadi ia tumbuh dengan kedua kembarannya, Gempa dan Halilintar yang adalah laki-laki.

Selama yang ia tahu juga Ibunya tidak pernah menunjukkan sikap seperti itu pada anak-anaknya, hanya Ayahnya yang biasa menjadi korban saat ibunya sedang rewel.

Sedangkan Yaya.. jujur saja sejak dulu ia tidak pernah mengerti jalan pikirannya, atau bagaimana cara dia berpikir. Diluar, dia memang terlihat seperti gadis mandiri dan dewasa. Tapi jika sudah berhadapan dengan Taufan, dia seringkali berubah bak anak kecil yang tantrum.

Yaya hanya menunjukkan sisinya yang seperti ini di depan Taufan saja, karena jika ia perhatikan, Yaya tidak akan berperilaku demikian di depan orang lain.

Tapi anehnya selama seminggu ini Taufan tidak mendapatkan petunjuk tentang kenapa Yaya bersikap berbeda. Dia benar-benar bingung dan agak kewalahan untuk menjawab pertanyaan dari orang-orang di sekitar mereka karena sikap Yaya yang selalu menghindarinya hingga menarik perhatian.

Setelah puas bermain dengan kucing, Taufan membawanya ke sebuah kafe dan memesan beberapa makanan. Kebetulan itu adalah kafe tempat Gopal bekerja dan tempat favorit Yaya untuk membeli kudapan manis.

"Wah kalian udah balikan ya?" celetuk Gopal saat mengantarkan makanannya ke meja Taufan.

Alis Yaya mengkerut mendengar ucapan pemuda keturunan India itu, mempertanyakannya lewat tatapan mata.

Taufan segera menginjak kaki teman gempalnya ketika melihat ekspresi Yaya. "Waah makasih makanannya, Gopal. Ada yang manggil tuh" Taufan menyisipkan kode di tiap kata yang ia tekan dengan ekspresi yang terlihat aneh agar Gopal peka situasi dan segera angkat kaki.

Untung saja ia mau mengerti, "Oke deh, akur-akur ya suami istri" goda Gopal sembari menahan sakit.

Perempatan imajiner muncul di pelipisnya, rasanya ingin sekali Taufan menyumpal mulutnya dengan es batu. Sudah susah payah ia memperbaiki mood Yaya hari ini, bagaimana jika mood-nya rusak lagi?

Tapi untuk sebutan suami-istri, jujur saja perutnya terasa sedikit geli.

Boleh juga.

Yaya juga tidak protes—atau tidak mendengar, ia langsung mencicipi makanan yang sudah tersedia di meja dengan ekspresi yang tidak terbaca.

Duh dasar Gopal! Awas saja jika Yaya sampai marah, ia akan minta tebusan mie ayam kantin selama seminggu!

Tapi semua kekhawatirannya melayang saat melihat mata Yaya yang berbinar. Ia tersenyum senang saat mencicipi strawberry cake pesanannya.

Taufan terkekeh melihat kebahagiaan Yaya yang terasa menular. Gadis ini terlihat seperti kelinci yang sedang makan wortel, sangat menggemaskan.

"Enak?" tanya Taufan, Yaya mengangguk.

"Dessert di sini memang terbaik" sahutnya sembari lanjut menyuap.

Melihat situasi yang sudah "aman", Taufan mulai mendapatkan nafsu makannya dan menyantap makanan miliknya dengan perasaan senang.

Hingga tak lama kemudian, wajah Yaya berubah pucat.

Taufan menghentikan aktifitasnya saat menyadari Yaya yang tiba-tiba diam tak berkutik. Gadis itu masih membeku, seperti sedang menahan sesuatu.

"..Yaya? Kenapa? Sakit?"

"Taufan, aku mau ke toilet"

Ia mengangguk, netranya tak terlepas dari Yaya yang berlalu menuju toilet, dan setelah gadis itu menghilang dari pandangannya Taufan kembali melanjutkan makan.

5 menit

10 menit

15 menit

Taufan mengecek jam yang ada di tangan kanannya beberapa kali. Sudah beberapa belas menit berlalu tapi Yaya belum juga keluar dari toilet. Apa dia diare?

Makanan bagiannya bahkan sudah habis. Hanya tersisa cake milik Yaya yang baru dimakan setengah.

"Yaya, kamu gak apa-apa kan?"

Ia putuskan untuk menanyakan kabarnya lewat pesan singkat. Hingga beberapa saat kemudian Yaya membalas,

"Anu, Taufan, boleh minta tolong ?"

Pemuda itu mengernyitkan alisnya, ada apa dengan Yaya? Apa dia sakit?

"Tentu. Kenapa Yaya?"

Tanda baca telah berubah menjadi biru, tapi ia belum juga menerima balasan. Notifikasi keterangan sedang mengetik beberapa kali berhenti, lalu kembali muncul. Apa Yaya sedang mengetik naskah pidato?

"..ternyata haid. Aku lupa bawa pad.."

Taufan mengerjapkan matanya, lalu membuka aplikasi kalender.

..tanggal 18

Wah, tumben? Padahal Yaya baru kedatangan tamu dua minggu lalu. Apakah hormonnya sedang terganggu?

Pesan selanjutnya kembali ia buka, "Maaf, boleh tolong belikan?"

Taufan yakin seratus persen, wajah Yaya sekarang tidak bisa dibedakan dengan tomat.

Lama mengetik ternyata dia malu. Apa jangan-jangan dia berdiam diri di toilet karena bingung?

Pemuda itu terkekeh, dasar Yaya.

.

.

.

Untung saja ada mini market yang terletak tidak jauh dari tempat mereka makan siang.

Tapi masalahnya sekarang adalah..

"Buset banyak banget"

Taufan mengamati satu per satu pad yang rapi berjejer di rak. Banyak sekali jenisnya, mulai dari merek, ukuran, hingga tipe.

"Hah? Cooling fresh?" Ia mengambil acak salah satu produk yang menarik perhatiannya dari rak.

"Ini maksudnya biar seger gitu kali ya?" Ia menggaruk kepalanya, bingung.

"Mbak, ini bikin seger kan?" Taufan dengan muka temboknya bertanya pada salah seorang pegawai yang sedang lewat.

Perempuan itu menggangguk, tapi ada sekelebat senyum yang ia tahan. "Iya benar"

"Oh, oke makasih" Ia menyungingkan senyumnya, dan kemudian pegawai perempuan itu berlalu.

.

.

.

"Yaya, kamu mau yang ini aja? Katanya bikin seger" Taufan mengirim serta gambar pembalut yang ada di tangannya.

Yaya menahan diri untuk tidak melempar ponselnya ke toilet. Sudah malu setengah mati minta tolong pada teman laki-lakinya, sekarang ia di suguhkan pertanyaan seperti itu.

"Beli yang aku request aja, Taufan" Sudah jelas Yaya mengirimkan gambar pembalut apa yang harus dia beli, pemuda itu malah bertanya tentang hal lain.

"Hari ini kan lagi panas, biar kamu ga kegerahan"

Perempatan imajiner muncul di pelipisnya, "Enggak, beli yang ada di foto aja"

"Yakin? Ini kayaknya enak gitu lho"

Yaya rasanya ingin sekali menjitak jidat kawan kesayangannya itu. Andai saja Taufan ada di hadapannya.

"Kamu aja yang pake!"

Dasar Taufan si keras kepala.

Tak lama kemudian, balasan kembali masuk.

"Emang bisa ya?"

.

.

.

"Makasih." Yaya tersenyum kecut saat mereka kembali ke dalam mobil. Selain membelikan pembalut, Taufan juga memberikannya coklat dan es krim. Jadi setidaknya ia harus menghadiahinya sedikit senyum.

"Sama-sama" Taufan tersenyum cerah, berharap mood Yaya akan kembali membaik. "Kamu mau pulang aja?" Pemuda itu khawatir melihat wajah Yaya yang pucat.

Jujur saja Yaya ingin segera kembali ke rumah, berbaring di tempat tidur untuk meringankan rasa kram di perutnya sembari menonton film favoritnya. Tapi ia mengurungkan niat saat melihat Taufan yang masih bersemangat. Lagipula kram perutnya belum terlalu sakit.

"Gak apa-apa, aku masih kuat" ujarnya.

"Kamu yakin?" tanyanya memastikan. "Kalau sakit banget bilang ya, biar kita pulang"

Yaya mengangguk, "Oke"

"Sekarang mau ke mana?"

Taufan terlihat berpikir, "Sebenernya aku mau beli pelindung lutut, yang lama udah rusak" ujarnya, "Tapi kamu haid kan? Mending kita pulang aja"

Yaya menggeleng, "Gak apa-apa, Taufan. Cuma sebentar kan? Aku masih sanggup" Katanya dengan yakin.

.

.

.

"Aku gak yakin"

Mereka baru saja tiba di mall, dan Taufan sedang memilih knee protector saat melihat wajah Yaya semakin pucat. "Pulang aja yuk? Nanti bisa aku cari sendiri barangnya" Ia menatap Yaya dengan khawatir.

Lagi-lagi gadis itu menggeleng, "Gak apa-apa, kamu lanjut aja. Aku duduk ya." untung saja ada beberapa kursi besi yang tersedia untuk duduk.

Taufan ingin protes, tapi akhirnya mengangguk, "Oke, sebentar ya. Aku gak akan lama" setelah itu ia berbincang-bincang dengan seorang karyawan.

Yaya meremas perutnya, haid hari pertama memang tidak sesakit hari ke dua dan ke tiga, tapi tetap saja perutnya terasa tidak nyaman.

Matanya tertaut pada dua orang yang tengah berinteraksi tak jauh di depannya, ia memperhatikan Taufan yang sedang berbicara. Gestur tubuh, mimik wajah, dan cara bicaranya terlihat dewasa, tidak seperti saat ia sedang bercanda atau ketika jahilnya kumat.

Dan karena itu juga ia jadi terlihat.. uhuk.. tampan..?

"Yaya, sebentar ya aku pergi ke kasir dulu. Kamu di sini aja"

Gadis itu mengangguk, ia memandang belakang punggung Taufan yang menjauh.

Jujur saja, ia sudah tidak marah. Apalagi setelah melihatnya yang berusaha keras untuk membuatnya senang seharian ini, Yaya tidak sampai hati terus-terusan menghindarinya.

Meski awalnya tebangun tembok pertahanan yang tinggi di hatinya, tapi Taufan bisa meruntuhkannya begitu saja.

Dan seiring berjalannya waktu, Yaya membuka hati pada perasaan yang sebelumnya terkunci rapat dan sulit dijangkau oleh orang lain, karena sosok Taufan tidak ia temukan pada siapa pun.

"Yaya aku sudah selesai. Ayo pulang" tanpa Yaya sadar Taufan ternyata sudah berada di depannya, menenteng sebuah kantung belanja.

"Eh?" Pupil matanya membesar ketika melihat sebuah barang yang diulurkan padanya. Taufan memberikan sebuah heating pad berwarna putih dengan gambar kartun kucing lucu.

"Aku cari tahu katanya ini bisa bikin kram atau sakit perut mendingan" Ia membaca deskripsi yang tertera di belakang box itu. "Ini bisa di cas atau pakai baterai, nanti kamu pakai di mobil ya. Aku udah beli batrainya sih, jadi tinggal dipakai aja"

Ia ingin tersenyum, tapi tertahan oleh rasa sakit di perutnya semakin memberontak.

"Makasih Taufan"

Setelah itu Yaya refleks meraih lengan Taufan dan menggenggamnya dengan sekuat tenaga, menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan lewat kepalan tangannya. Sedangkan Taufan berusaha semampunya untuk tidak menunjukkan raut wajah tersiksa.

..semoga saja tidak remuk.

"..kayaknya kita harus pulang sekarang," ujar Taufan dengan khawatir. Gadis itu mengangguk lemas sebagai tanda setuju.

Mereka akhirnya keluar dari toko dan segera masuk ke dalam lift yang keberadaannya tidak jauh dari sana. Tapi karena mall sedang ramai, mereka tidak berhasil mendapat parkiran yang dekat dengan pintu masuk. Alhasil mereka harus berjalan cukup jauh untuk menuju mobil.

Yaya sungguh tidak mengerti, kenapa siklus haidnya belakangan ini jadi begitu kacau. Bahkan ia kedatangan tamu dua kali di bulan yang sama. Semuanya sangat mendadak. Jangan lupa soal rasa kram yang tiba-tiba menjadi parah di hari pertama, padahal biasanya Yaya merasakan sakit karena haid di hari ke dua atau ke tiga.

"Yaya, sini" Taufan sudah jongkok dan membelakanginya, menawarkan punggung untuk Yaya. "Jalannya masih jauh"

Gadis itu mengerjap, ingin sekali menolak tapi berlawanan dengan keadaan perutnya yang terasa seperti sedang dipukul oleh ratusan orang. Dengan terpaksa Yaya akhirnya setuju.

Taufan melepas topi dan menyerahkannya pada Yaya yang menenteng tas belanja di punggungnya.

Yaya mengerang menahan sakit, berusaha untuk tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang menatap mereka dengan heran. Wangi rambut dan tubuh Taufan tercium seperti wangi semilir angin segar yang menenangkan. Jika terus begini bisa-bisa Yaya tertidur di punggungnya.

"..maaf kamu jadi repot" ujarnya pelan.

Taufan tersenyum, "Kalau direpotin sama kamu sih aku seneng" ia menutupnya dengan kekehan.

Jawaban Taufan mengundang seukir senyum di wajah Yaya, sayang sekali ia tidak bisa melihatnya. Tapi senyumannya itu tak berlangsung lama karena perasaan mengganjal masih ada di dalam hatinya.

Sebuah perasaan yang membuatnya menghindari Taufan selama seminggu ini. Perasaan yang membuatnya kesal dan marah, perasaan yang sebenarnya sudah mengendap lama di dalam hatinya.

..perasaan bingung.

Sikap Taufan, bagaimana cara dia memperlakukannya dengan sangat baik, atau bagaimana Taufan memberikan perhatiannya kepada Yaya selama ini sebenarnya sudah berhasil meluluhkan hatinya.

Sudah menjadi sebuah rahasia umum kalau mereka saling menyukai satu sama lain. Siapa pun bisa melihatnya. Kedekatan mereka tidak bisa dikatakan sebagai kedekatan teman biasa. Yaya juga mengakui itu. Semuanya sudah jelas.

Bahkan Yaya bisa melihat semua itu dari tatapannya—perasaan Taufan untuknya terpampang nyata tanpa perlu ia beri penjelasan panjang lebar.

Tapi jika memang benar ada sebuah perasaan yang Taufan miliki untuk Yaya, lantas kenapa dia hanya diam? Dia terus berperilaku manis dan tidak pernah absen dari kehidupan Yaya, bahkan jika ia sedang dekat dengan perempuan lain.

Jujur saja Yaya ingin mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Tapi setiap kali ia mendengar ada kabar burung kalau Taufan sedang dekat dengan perempuan lain, atau ketika ia melihatnya bercanda ria dengan perempuan lain, hatinya jadi tidak karuan.

Dia merasa kesal, cemburu, dan marah. Tapi memangnya dia punya hak apa untuk merasakan itu?

Taufan bukanlah miliknya, dia tidak punya hak apa-apa.

Tapi perilakunya itu membantuk pertanyaan besar yang bersarang di kepalanya, semua tingkah lakunya membingungkan. Sebenarnya apa maunya, sih?

Karena memikirkan hal itu, moodnya kembali buruk.

Mereka akhirnya sampai di depan mobil, Taufan menurunkan Yaya dengan hati-hati dan mengambil alih barang-barang yang tadi dibawanya.

"Silahkan~" Ia membuka pintu penumpang depan, mempersilahkan Yaya untuk duduk.

Setelah mereka berada di dalam mobil, Taufan segera menyalakan heating pad yang baru saja dibelinya. Ia juga mengatur suhunya agar tidak terlalu panas dan melukai Yaya, kemudian memberikannya.

"Eh kemana ya? Harusnya ada bantal leher di belakang" Taufan mencari-cari sesuatu di kursi penumpang, "Kerjaan Hali nih pasti" omelnya.

"Kamu mau tiduran di belakang aja? Pakai jaket aku untuk ganjal kepala—"

"Gak mau." Yaya memotong kata-kata Taufan dengan ketus dan menekuk wajahnya—terlihat sangat kesal.

"Err.. oke" Taufan paham mood Yaya memang sedang tidak baik, apalagi sekarang ia juga sedang haid. Emosinya sangat tidak stabil, naik turun seperti rollercoaster.

Saat ia baru saja menstarter mesin mobil, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.

"Hai Taufan"

Suara perempuan.

Karena bluetooth ponselnya menyala, panggilan itu terhubung ke speaker mobil.

Yaya menahan diri untuk tidak bereaksi, ia memeluk heating pad dengan posisi menyamping ke jendela, mencoba untuk tidak beperilaku aneh.

"Oh hai Mimi, ada apa nih?" Taufan mulai mengeluarkan mobilnya dari baris parkiran.

"Anu.. makasih banyak ya kemarin udah antar aku pulang ke rumah. Maaf aku baru bilang sekarang"

Taufan tersenyum, "Santai Mi, gimana? Udah sembuh?"

"Iya.. udah kok. Makasih ya.. kalau gak ada kamu aku bingung harus gimana"

"Haha iya, masa aku tinggalin"

"Anu.." keheningan menyerang mereka selama beberapa detik. "kamu lagi apa? Besok.. kalau ada waktu, kamu bisa antar aku beli buku..?" tambahnya, nada bicaranya terdengar ragu.

Taufan menoleh ke arah Yaya, gadis itu enggan menunjukkan wajahnya, entah sibuk memperhatikan apa di luar kaca mobil—tapi yang pasti mereka masih berada di basement, menunggu giliran untuk keluar karena antrean parkir yang padat.

"Aku lagi di mobil, baru pulang dari mall bareng Yaya, nih-"

"Oh.." Taufan bisa mendengar suara tercekat dari tenggorokan gadis itu "G..gitu ya. Um, oke Taufan. Kayaknya besok aku pergi sendiri aja." nada suaranya seketika berubah.

"Sekali lagi makasih ya"

"Oke sama-sam"

Dan sebelum Taufan selesai menjawab, sambungan telepon itu segera terputus.

Ia tidak sengaja melihat air wajah Yaya yang terlihat sangat jengkel, menatap lurus ke depan sembari menekuk kakinya dan memeluk heat pad. Auranya terasa hitam pekat.

"Anu.. dia kemarin aku antar pulang karena sakit"

Taufan menggaruk belakang lehernya, mencoba memberi penjelasan "Dia pucet banget sih, kalau nunggu temennya yang lain lama soalnya. Kayak hampir pingsan gitu—"

"Gak nanya" Jawab Yaya ketus.

Melihat respon gadis itu, Taufan terkekeh. "Jangan cemburu, aku gak akan pergi sama dia kok besok"

Tidak heran jika Mimi bersikap seperti itu, tentu saja karena para perempuan yang mendekati Taufan akan langsung mundur jika mengetahui keberadaan Yaya disekitarnya. Itu karena mereka tidak ingin mendapatkan "sanksi sosial" karena telah menggangu "pasangan" favorit SMA pulau rintis.

Lucunya, mereka bahkan pernah mendapatkan penghargaan sebagai "best couple" di acara tahunan sekolah. Padahal, pacaran saja tidak.

"Kenapa juga aku harus cemburu? Aneh" deliknya.

Taufan hanya tertawa pelan mendengar jawaban Yaya.

.

.

.

Di sepanjang jalan, Yaya kembali diam. Ia asik memperhatikan situasi diluar jendela mobil.

Taufan beberapa kali menoleh ke arahnya. Dan sialnya Yaya terlihat kesal dua puluh kali lipat dibanding sebelumnya.

Kenapa ya?

"Masih sakit?"

Yaya menggeleng.

"Kepanasan gak?"

"Enggak."

Oke.. dia semakin ketus.

..ini gawat.

Taufan ingin sekali memecahkan teka-teki ini. Rasanya ia terjebak di labirin tak berujung bernama emosi perempuan. Mungkin karena Yaya masih marah padanya, atau mungkin juga karena ia sedang datang bulan, atau mungkin karena keduanya?

Pikirannya berisik, terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi penyebab Yaya seperti itu. Tapi ia tidak menemukan jawabannya.

..atau jangan-jangan dia cemburu?

Ah, tapi Yaya sudah terbiasa kok melihatnya didekati banyak perempuan lain, dan selama ini tidak ada hal aneh yang mempengaruhi sikapnya.

Kecuali tentu saja belakangan ini.

Taufan sibuk berkelahi dengan pikirannya hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Yaya, gadis itu turun lebih dulu, membawa serta heating pad yang diberikan Taufan.

"Makasih ya, kamu pulang aja" ujar Yaya dengan wajah kusut.

Tentu saja Taufan tidak mengindahkannya. Ia segera turun setelah memarkir mobilnya dan menyusul Yaya apalagi saat melihat wajah Yaya yang memerah dan mata yang berkaca-kaca.

"Yaya,"

Taufan hendak meraih tangannya, tapi gadis itu menghindar, mempercepat langkahnya.

"Ayo bicara, kamu kenapa?" Taufan masih mengikutinya dari belakang, "Aku salah apa—"

"Eh Yaya!"

Pemuda itu terperangah kala Yaya tersandung dan jatuh di depan matanya. Ia segera menghampirinya dan terkejut mendapatinya sedang menangis.

"Ada yang luka?" Taufan terlihat sangat khawatir.

Yaya tidak menggubrisnya, ia mencoba berdiri sendiri tapi sepertinya kakinya keseleo, ia nyaris kembali jatuh jika saja Taufan tidak menahan tubuhnya.

"Ayo aku bantu" suaranya terdengar rendah dan sedikit memaksa.

Yaya yang sadar kalau kakinya terluka akhirnya tidak bisa menolak.

.

.

.

Sudah sejak kecil mereka saling mengenal satu sama lain. Banyak hal yang sudah mereka lewati bersama, bahagia, sedih, susah, senang, semuanya.

Diantara ketiga kembar Boboiboy, Yaya memang paling dekat dengan Taufan karena sikapnya yang mudah berbaur dan santai. Tidak seperti kedua saudaranya yang cenderung pendiam, apalagi Halilintar.

Mereka masuk ke sekolah dasar hingga sekolah menengah atas yang sama, bahkan di kelas yang sama. Kadang Yaya heran kenapa laki-laki ini tidak pernah absen dari hidupnya.

Yaya tahu kalau Taufan memang memiliki banyak penggemar, banyak juga perempuan yang diam-diam atau terang-terangan menyukainya dan ia senang menggubris mereka, seperti contohnya gadis yang meneleponnya tadi. Meski tentu saja ia menanggapinya dengan niat bercanda.

Sikapnya memang manis dan hangat. Kadang perhatiannya disalahartikan oleh teman-teman perempuannya yang lain, dan berakhir dengan pernyataan suka yang ditolak oleh Taufan.

"Aku cuma bercanda", "Aku cuma ingin bantu dia, kok", atau "Aku gak bermaksud gitu, dia cuma temen baik aku aja" dan sederet jawaban lainnya setiap kali Yaya penasaran.

Hal itu membuat Yaya tidak yakin. Jangan-jangan dia juga hanyalah salah satu dari sekian banyak korban dari kebaikan hati—ralat keisengan Taufan?

Jangan-jangan ia hanya menganggapnya sebagai teman biasa, tidak lebih? Apalagi pemuda itu juga tidak pernah mengungkapkan perasaanya dengan serius, semua kata-katanya berlandaskan candaan saja, seperti saat di rooftop tadi.

Mata Yaya masih sembab, memperhatikan Taufan yang tengah mengoleskan minyak untuk kakinya. Dengan sabar dan telaten pemuda itu mengoleskannya ke kaki Yaya pelan-pelan agar tidak membuatnya kesakitan.

"Kalau masih sakit nanti aku antar ke dokter" ujar Taufan, masih fokus pada kakinya.

"..Taufan"

"Hm..?"

"Kita udahan aja"

Seketika itu juga Taufan menghentikan kegiatannya dan menatap Yaya dengan bingung.

"Udahan apa?" ulangnya lagi.

Semakin jelas kalau Yaya sedang menahan tangis, "Udahan. Aku gak mau lagi sama kamu"

Taufan benar-benar bingung sekarang, apa maksudnya?

"Yaya, udahan apa? Putus? Kita kan gak pac-"

Kata-katanya terhenti karena Yaya terlihat sangat terluka ketika ia berucap demikian.

Oke.. sepertinya ia mulai mendapatkan secercah jawaban.

"Aku gak mau lagi sama kamu, Taufan." Air matanya mulai mengalir membasahi pipi.

"Kamu buat aku bingung"

Taufan kehilangan kata, ia mematung di kursi sebelah ranjang, tempatnya duduk dan mengurut kaki Yaya.

"Kamu selalu bikin aku bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih mau kamu, Fan? Aku capek" air matanya semakin deras mengalir, tapi Yaya mencoba menghalaunya dengan jari-jarinya yang lentik.

"Aku butuh kejelasan. Aku bingung. Sebenarnya kamu ingin aku atau enggak?" tambahnya.

Dada Yaya berdebar kencang dan udara di Sekitarnya bak menghilang. Ia mencoba berkata dengan lugas, mengeluarkan semua sesak yang terasa menyangkut di dadanya.

"Aku selalu ingin bilang kalau aku suka kamu!"

Taufan mengerjapkan matanya beberapa kali, telinga hingga pipinya terhiaskan warna merah.

"Tapi aku takut .. karena kamu selalu nolak semua perempuan yang ungkapin perasaanya" kedua tangannya basah oleh air mata.

"Aku kesal, Taufan. Aku capek, aku ingin cemburu tapi gak bisa"

Lagi-lagi Taufan dibuat membeku, pernyataan Yaya barusan membuatnya sadar bahwa ia begitu bodoh dan tidak peka.

Ternyata.. jawaban soal kenapa Yaya menghindarinya adalah ini?

"Mana boleh aku cemburu, memang aku siapa nya kamu?" Ia terlihat kesal dengan air mata yang belum berhenti turun.

"Aku benci kamu."

Mendengar penuturan Yaya, Taufan tersenyum, wajahnya terlihat tampan. Karena sekarang ia bukan memamerkan cengiran jahil atau senyum menggoda, tapi sebuah senyum manis yang hangat.

"Yaya" Ia meraih tangan Yaya dan membiarkan basah bekas air mata menular ke tangannya.

"Teman-teman sering tanya, kenapa aku belum juga jujur soal perasaanku ke kamu" ujarnya, "Apalagi Gopal, dia heran banget. Kok bisa kita belum jadian padahal jelas kalau kita saling suka"

Yaya mendengarkannya dengan seksama, menatap balik Taufan dengan dada yang berdebar dan perasaan campur aduk.

"Terus kenapa?" tanya Yaya dengan tatapan kecewa. "Udah jelas kan kalau kamu tau soal itu" tambahnya.

"Kamu juga seneng ladenin cewek-cewek yang deketin kamu" Air muka Yaya berubah kesal meski matanya masih sembab.

"Udah kayak kost putri" cibirnya.

Pemuda itu terkekeh, "Kan kamu Ibu kostnya" timpal Taufan bercanda, tapi sepertinya Yaya tidak menganggapnya demikian.

"Tuh, kan. Aku cuma mainan kamu—"

"..makanya, kamu mau kan jadi pacar aku?"

Wajah gadis itu merona seketika.

Mungkin karena senyum Taufan, mungkin juga karena nada suaranya yang rendah-tak seperti biasanya saat ia sedang bercanda, atau mungkin karena tatapan serius Taufan, dadanya jadi berdetak heboh sehingga mengubah wajahnya menjadi merah.

Jika biasanya Yaya tidak akan menggubris kata-katanya, untuk kali ini ia dibuat tidak bisa berkata apa-apa karena mempercayai apa yang baru saja dia dengar.

"..kenapa baru sekarang?" Yaya terlihat kecewa.

Sudah sejak kecil mereka saling mengenal, dekat, dan memiliki perasaan lebih satu sama lain. Tapi kenapa baru sekarang Taufan menyatakan perasaanya?

Pemuda itu menatap Yaya, lalu tersenyum, "Kamu tahu Lily?"

Yaya tidak mengerti kenapa Taufan membahas orang lain ditengah percakapan mereka, tapi ia putuskan untuk mendengarkannya lebih lanjut.

"Mantan pacar Fang?"

Taufan mengangguk, "Dulu mereka sahabat baik, tapi sejak putus, Fang bahkan gak tahu gimana kabar dia sekarang." ujarnya.

Yaya pernah dengar cerita itu, katanya Lily juga sudah pindah sekolah saat kelas tiga SMP. Sekarang mereka duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas, artinya Fang sudah kehilangan kabarnya selama tiga tahun lebih.

"Aku gak mau kejadian kayak gitu, Yaya. Aku gak mau kalau misalnya dulu kita pacaran, lalu putus dan jadi orang asing kayak mereka" Taufan menatapnya dengan serius.

"Jadi aku pikir, lebih baik aku terus jadi teman baik kamu aja, daripada aku harus kehilangan kamu nantinya. Belum lagi kita kan sama-sama belum dewasa, aku takut karena emosi kita yang masih labil, kita saling nyakitin dan akhirnya ninggalin satu sama lain"

Yaya terperangah mendengarkan penuturan Taufan, tidak pernah terpikir oleh Yaya sebelumnya bahwa ternyata Taufan memiliki banyak pertimbangan seperti itu.

"Terus kenapa kamu masih ladeni mereka?" Taufan tahu kalau konteks "mereka" disini adalah perempuan-perempuan yang mendekatinya.

Ia terkekeh, "Kalau itu iseng aja sih..—aduh!" Taufan harus rela lengannya dibogem Yaya.

"Aku kan sukanya kamu, bukan mereka" ia tertawa pelan.

"Buaya" cibirnya. "Kalau dulu aku pacaran sama orang lain saat kamu masih gak jelas gini gimana?" Yaya masih merasa kesal karena selama ini Taufan seperti menggantung perasaannya. Mana dia tahu kalau Taufan akan berpikir seperti itu?

"Siapa? Sai, ya?"

"Bukan!"

Taufan terkekeh, "Hehe gak akan sih, kan kamu udah suka sama aku. Iya kan?"

Yaya mengecutkan bibirnya, ingin protes tapi tidak bisa karena itu memang benar. Apalagi sikap Taufan yang sangat manis dan memperlakukannya dengan begitu spesial hingga membuatnya sulit untuk menyukai orang lain.

"Jadi..?" Taufan memiringkan kepalanya dengan senyum di wajah, "Tawaran tadi belum expire, lho"

Yaya mencoba untuk menyembunyikan senyumnya, tapi tidak bisa.

"..masa aku tolak pertanyaan yang aku tunggu-tunggu dari dulu?" sebuah senyuman akhirnya mengembang di wajahnya.

Taufan terkekeh, mengacak puncak kepala Yaya. "Oke, terima kasih sayangkuu"

Wajah Yaya memerah, "Ih Taufan!"

"Kamu sih gak sabaran, masa aku nembak kamu kayak gini. Kaki kamu keseleo, aku bau matahari pula. Gak romantis banget" ujar Taufan dengan canda.

Yaya memutar matanya, "Iya ya, gak sabar banget aku nunggu kamu tiga tahun" sindirnya, mengundang kekehan di bibir Taufan.

"Maaf ya" ujarnya tulus. "Aku cuma takut kehilangan kamu. Itu aja"

Yaya tersenyum, "Permintaan maaf diterima."

Akhirnya Taufan mengerti maksud dibalik kemarahan Yaya satu minggu kemarin, sejak pertama kali Taufan terkena lemparan bantal dan terusir dari rumahnya.

"Yaya, gimana kakinya?" Suara Bunda Yah terdengar dari anak tangga, ia melangkahkan kakinya menuju kamar putri sulungnya. "Tuh kan, lagi-lagi ngerepotin Taufan" Ia tersenyum melihat pemuda yang tengah duduk di kursi.

Ia terkekeh, "Gak apa-apa Bunda, udah biasa kok direpotin tuan putri"

"Ohh, jadi kamu gak ikhlas ya?"

Wanita paruh baya itu tertawa pelan melihat interaksi mereka berdua, kemudian berjalan keluar kamar.

"Ayo kita makan, bunda udah masak. Gak baik nih orang pacaran berduaan di kamar" ujarnya sembari berlalu.

Yaya dan Taufan saling melempar tatap, wajah keduanya memerah bak bunga mawar.

"..kayaknya tadi bunda menguping, ya?"

Yaya tidak menjawab, ia segera menyembunyikan wajahnya menggunakan bed cover. Rasanya ia ingin mengubur dirinya sendiri sekarang juga.

"Kamu makan aja sama bunda!"

"Eh kenapa?"

Dasar Taufan, masih aja gak peka.

Duh, malunya.

Tapi Yaya senang, ternyata selama ini prasangkanya tidak salah. Taufan juga memang menyimpan perasaan untuknya, perasaanya selama ini bukanlah perasaan yang bertepuk sebelah tangan.

Hal yang memperumit semua ini hanyalah keterbatasan komunikasi saja, Yaya memendam, dan Taufan tidak jujur.

Yah.. Yaya harap kisah cinta Fang dan Lily tidak terjadi pada mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bonus

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi warga pulau rintis, saya Gopal A.R Kumar melaporkan secara langsung dari TKP mengenai hari patah hati nasional para siswi SMA pulau rintis" Gopal memegang ponselnya bak seorang reporter yang tengah melaporkan huru-hara di lapangan.

"Di sini ada kawan baik saya, Taufan sebagai tersangka dibalik banyaknya siswi yang akan berduka pada hari ini karena— aduh!"

"Berisik, Gopal" Ying menyikut perut Gopal karena teman gempalnya ini tidak berhenti bicara. "Belum ada yang tahu mereka pacaran kecuali kita. Jangan sampai bocor!" protesnya sembari berbisik.

"Wey, aku cuma mau beri ucapan belasungkawa ke anak-anak perempuan di sini. Sebentar lagi juga mereka akan tahu dan histeris" ujarnya sembari merenguh kesakitan, sayang sekali Gopal tidak membeli popcorn.

Yaya terkekeh, merasa terhibur dengan tingkah mereka.

"Ya wajar, sih. Di kelas aku saja ada empat cewek yang naksir berat dia" komentar Fang. Tidak sulit membayangkan bagaimana nanti pecahnya gosip mengenai hubungan antara Yaya dan Taufan yang akhirnya resmi berpacaran.

Mereka mengamati Taufan yang sedang bertanding sepak bola dari bangku penonton, hari senin ini hampir semua siswa berkumpul di lapangan untuk menikmati acara olahraga tahunan sekolah, sekaligus menjadi acara terakhir bagi kelas dua belas sebelum akhirnya mereka melaksanakan ujian kelulusan.

Yaya menatap kagum Taufan yang dengan gesitnya menghadang lawan, ia dengan apik mengoper bola ke sana kemari dan mengocek lawan. Sedangkan di gawang belakang ada Gempa yang bertugas sebagai penjaga. Dan Halilintar ada di bangku penonton, tidak berminat untuk ikut bertanding.

"Ya ya ya dari tim biru kita bisa melihat Iwan menggiring bola dengan apik, ia mengopernya ke pemain nomor 19—Taufan langsung diterimanya dengan baik dan mereka segera bergegas menuju gawang dannn GOOOOLLLLL!"

Para supporter gabungan dari tim jurusan sosial bersorak gembira, mereka lantas menyanyikan yel-yel kebanggaan mereka, merayakan kemenangan atas tim mereka yang menang melawan tim jurusan sains dengan skor 3-2.

Taufan melakukan selebrasi di lapangan bersama teman-temannya, diiringi suara teriakan dan pujian dari banyak siswa, terutama siswa perempuan.

Pemuda yang terguyur keringat itu menoleh ke arah Yaya dan terkekeh, Yaya membalasnya dengan senyum bangga.

Tak lama kemudian ia segera menghampiri Yaya yang duduk di bangku penonton paling depan, berada satu baris dengan Fang, Gopal, Ying, dan Halilintar.

Yaya menyodorkan botol air minum dan selembar handuk kepada Taufan, tapi pemuda itu hanya menerima botol minum.

"Pengen di lap sama kamu" godanya, membuat wajah Yaya memerah.

"Ih, banyak yang liat!"

"Gak apa-apa, biar mereka tahu kalau aku punya kamu sekarang" ujarnya sembari tersenyum.

Yaya terkekeh, lalu mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Orang-orang yang awalnya sibuk dengan euforia masing-masing seketika memfokuskan atensinya ke arah mereka berdua.

Setelah minum air pemberian Yaya, Taufan mencubit pipinya pelan. "Makasih sayang"

"Cieeee" sebagian dari mereka bersorak gembira, dan sebagian siswi yang menaruh rasa suka pada Taufan seketika histeris karena patah hati.

Gosipnya sudah pecah!

"Lah, sejak kapan mereka jadian?" tanya Gempa heran.

"Kemaren" celetuk Halilintar.

"..kan, udah ku bilang ini hari patah hati nasional" Ujar Gopal dengan bangga, "Tapi tenang aja nih dua lagi belum sold out" ia melirik ke arah Halilintar dan Gempa yang sedang beristirahat.

"Apaan, tinggal satu kok—" Ying seketika membungkam mulutnya. Sial, dia terlalu terbawa suasana hingga akhirnya membocorkan sesuatu. Padahal dia sendiri yang bersikeras untuk menyembunyikan hubungannya dengan Halilintar!

Fang, Gopal, Gempa, Taufan, dan Yaya seretak menoleh ke arah mereka.

"..anu, maksudnya.."

"Ying pacarku"

Kelima orang sahabat itu menganga, tidak bisa mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut Halilintar.

Seorang Halilintar pacaran? dengan Ying?

"SEJAK KAPAN?!" Mereka serentak menodong pertanyaan kepada Ying yang gelagapan.

"Itu.. aku.. anu.. ihh Hali!"

Pemuda yang biasa berekspresi datar itu tersenyum melihat Ying yang mengomel dengan wajah merah bak tomat, kontras dengan kulitnya yang putih. Menuntut pertanggungjawaban dari Halilintar karena sudah memperjelas keteledorannya.

"Sejak kapan?!" Gopal lagi-lagi menjadi yang paling histeris. "Gak apa-apa lah, biar aku, Fang dan Gempa jadi hot single se-SMA Pulau Rintis"

"Sorry, pacarku ada di kota Hilir" celetuk Fang sembari memainkan ponselnya. Oh ternyata pejuang LDR.

"Oke lah, gak masalah. Masih ada Gempa—"

"Kak Gempa!" Seorang perempuan berambut sebahu berlari ke arahnya dengan napas yang terengah, ia membawa serta sebuah kotak berisi makanan dan air minum

"Hanna kenapa lari-lari? Nanti kamu jatuh, sini duduk" Gempa menerima kantung yang diberikan gadis itu, lalu memberikan tempat duduknya untuk Hanna.

"Maaf aku terlambat, jadi tidak sempat menonton pertandingannya.." Ia terlihat sedih.

Gempa tersenyum lembut. "Yang penting kamu sehat, udah mendingan pusingnya?" Pemuda itu khawatir karena Hanna tidur di UKS seharian ini.

Gadis yang setahun lebih muda darinya itu mengangguk, "Iya!"

Setetes air mata jatuh melewati pipi tembam sang pria bertubuh gempal yang sekarang sedang duduk di kursi penonton dengan ekspresi mengenaskan.

"Oke lah. Its oke, aku rapopo"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

End.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N

Oke.. ending macam apa itu?/plak

..dan cerita apaan ini?! /geplak

Demi apa pun aku mau minta maaf yang sebesar, besar, besar, besarnya untuk semua reader yang udah komen, like, dan follow cerita (gak jelas) ini, terutama untuk kalian yang udah nunggu cerita ini update karena udah aku tinggal lama banget astaga :"")))) sumpah aku baru ngeh ada cerita yang belum aku up selama itu, pas aku cek tahunnya.. buset... 2019?! Sungguh maafkan hamba /dilempar ke laut

Aku bener-bener minta maaf. Harusnya cerita ini one shot sih ya, tapi malah aku jadiin two shot (?) karena entahlah, waktu itu mungkin aku upload pas lagi ngelindur kali ya ._.

Aku ingin ucapin terima kasih banyak, terkhusus Slsblaaz, strawberry cheesecakee, kak Fanlady, dan pejuang php yang sudah lama komen dan semangatin aku buat lanjutin cerita ini... tapi aku lupaaa TwT Juga kepada para followers serta likers(?) cerita ini yang udah ku gantung selama bertahun-tahun/sungkem /dilemparlaptoprog

Dosaku udah banyak banget astagaaaaa T-T

Terima kasih untuk yang masih mau baca, komen, atau like cerita ini, kalian luar biasa. Luvvv

Sekian .. semoga kalian suka ceritanya.../gak

Salam hangatt,

Draz(g)illa