BoBoiBoy © Monsta
Keping Kisah Asmaradana © Roux Marlet
The author gained no material profit from this work of fiction.
Alternate Universe, Historical, Family
#Octoberabble Day 11: Starving
Bab 11: Katalis Cendekia
.
.
.
.
.
Yogyakarta, Agustus 1915.
.
"Turunan dari persamaan x pangkat tiga harus dijabarkan sebagai berikut …."
Raden Mas Jaiz Tirta Kalijaga itu biasanya cemerlang dalam pelajaran, pengecualiannya hanya untuk aljabar. Namun, siang ini, bukan hanya karena aljabar maka kepalanya rebah di atas meja. Matanya terpejam, tangan kanannya di depan baju, mencengkeram. Kembarannya, Raden Mas Baiduri Jenggala Bawana, sudah hapal gelagat itu, dan baru menyadari bahwa sesuatu telah melebihi jadwal yang seharusnya.
"M-mbah Liam!" panggil sang raden mas yang lebih muda. Guru sepuh mereka balik badan, dari balik mata yang rabun beliau menatap heran.
"Ada apa, Raden Mas Baiduri?"
"K-kami perlu k-ke dapur!" sahut Duri sambil berdiri dari kursi. Ditariknya lengan Ais sekuat tenaga. Kembarannya ikut berdiri setengah limbung.
"Raden Mas Jaiz sakit?" seloroh sang guru yang cukup jeli mendapati Ais tidak segera berdiri mantap. Namun, Ais sendiri menggeleng.
"Kami perlu ke dapur dulu, Mbah."
"Ada apa ke dapur?"
"Itu, abdi dalem sepertinya lupa mengantar kudapan."
Papiliam, sang guru aljabar, hanya melongo menyaksikan dua cucu Sultan Balakung berusia dua puluh tiga tahun itu balik badan dan meninggalkan pendopo kelasnya.
"Aneh," gumam Ais, rasa laparnya sama kuatnya dengan keingintahuannya yang terusik. "Masa Koh Qua Li bisa terlambat?"
Duri mengangguk setuju, bahwa adalah suatu keanehan saat juru masak kesayangan mereka itu terlambat mengantar kudapan siang, padahal mereka sama-sama tahu hari Kamis adalah jadwal pelajaran aljabar yang sangat menguras bahan bakar untuk berpikir—sebetulnya apa fungsinya belajar ilmu hitung serumit itu kalau ilmu pemerintahan agaknya tidak memerlukannya, keduanya sama-sama belum tahu, tapi mereka patuh belajar, dengan Duri lebih mudah paham daripada Ais. "A-apa ada m-masalah di d-dapur?"
"Seingatku, hari ini Simbah ada tamu rombongan besar dari Batavia. Mungkin mereka sibuk menyiapkan jamuan. Lihat itu, Duri."
Dari kejauhan, gedung berbentuk segilima itu memang tampak ramai. Orang berkeliaran keluar-masuk. Ais menggandeng lengan Duri dan mempercepat langkah mereka.
"Koh Qua Li pingsan?!"
Informasi dari salah satu abdi dalem membuat si kembar tercengang di pintu dapur.
"Tamu-tamunya sudah datang, Tuanku." Abdi dalem itu pamit dan kembali pada kesibukannya.
"A-ais." Duri menarik-narik lengan baju kembarannya. "K-kita bisa b-bantu apa?"
Ais mengedarkan pandangan ke dapur yang setengah kacau-balau. Tungku berapi baru menyala dua buah di pojok; artinya, hidangan utama bahkan belum siap, padahal matahari sudah tinggi. Sebagian orang masih mencacah daging atau mencuci sayuran. Tampaknya mereka kehilangan komando setelah Qua Li tumbang karena kelelahan, menurut cerita salah satu bawahan. Dalam minggu ini, Keraton Yogyakarta memang banyak didatangi tamu-tamu kenegaraan. Tapi yang dari Batavia hari ini kabarnya adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda sendiri. Maka tentu jamuannya harus istimewa.
Duri menatap abangnya lekat-lekat. "M-mbah Liam m-menunggu k-kita."
"Sebentar, Duri." Ais tiba-tiba meraih sebuah kue apem di sebelah kanannya dan melahapnya dalam hitungan detik. Dia mengambil satu lagi dan menghabiskannya bahkan sebelum Duri sempat bicara lagi.
"A-ais, itu 'kan, hidangan—"
"Sebaiknya kita panggil Ayah," ucap Ais dengan mantap dan mengambil sebuah lagi kue dari tepung beras itu.
"Eh?"
"Ayo, Duri. Temukan Ayah, ada di mana dia."
Duri mengerjap bingung. Bagaimana caranya?
Ais melahap kuenya satu lagi. "Minta khodam kita temukan Ayah!" serunya dengan mata berbinar.
Beberapa detik berlalu sebelum Duri akhirnya mengangguk sementara Ais terkekeh. "Duri, kamu juga kelaparan karena aljabar, ya?"
Duri tersenyum malu-malu dan ikut mengambil sebuah kue lalu memakannya. Matanya bergerak-gerak, mengamati sesuatu yang tak kasat di mata Ais, lalu bicara setelah kuenya habis,
"A-ayah di p-pendopo utama."
Ais tersenyum, menggandeng kembarannya, lalu berjalan cepat menuju lokasi yang dimaksud. "Ayo, Duri. Saatnya Koki Mawais beraksi!"
Raden Mas Jaiz Tirta Kalijaga itu memang biasanya cemerlang bahkan di luar pelajaran, dengan catatan: kalau dia tidak sedang dilanda kelaparan.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
Kalau temanya soal makan, tentu saja tokohnya harus Ais XD
Ada teman Roux yang pernah bilang, logika nggak akan jalan tanpa logistik (makanan). Sama halnya dengan ide si Ais yang sempat macet, jadi cepat reaksinya kalau sudah makan XD
Terima kasih sudah membaca!
Dan … selamat hari kemerdekaan Indonesia!
[17 Agustus 2024]
