BoBoiBoy © Monsta
Keping Kisah Asmaradana © Roux Marlet
The author gained no material profit from this work of fiction.
Alternate Universe, Historical, Slight Angst & Tragedy
#Octoberabble Day 12: Dressing
Bab 12: Raga sang Peniaga
.
.
.
.
.
Semarang, 1897.
.
Sejak masa kecilnya, Suryo Langen Arto alias Solar memang sudah pandai berjualan.
"Hio-nya Cik, Koh, paling wangi se-Hindia Belanda! Campuran gaharu dan cendana, doa dijamin sampai nirwana!"
Suryo kecil tak malu-malu menjadi pusat perhatian. Meski badannya mungil dan kulitnya gelap, dia gesit dan sigap. Meski omongannya berlebihan, uang segera berpindah dari saku orang-orang yang mau berdoa di kuil ke tangan si mungil.
Setelah matahari terbenam, Solar akan duduk di sudut kuil yang telah selesai disapu dan menghitung uang bersama sesosok pria Cina yang sudah seperti ayahnya sendiri.
"Haiyaa, anak pintar … lama-lama bisa sekaya Ratu Belanda, kau!" Pria itu tertawa ketika mendapati hasil hitungannya.
Senyum itu cerah di wajah yang warnanya sawo matang. "Koh Yim, 'kan, yang berjasa mengajarku … tapi, kamsia untuk pujiannya."
"Pandai betul cakapmu, sudah macam orang Hokkien pun," ucap si lelaki bernama Yim sambil mengacak-acak rambut sang anak. Solar ikut tertawa, kepalanya jadi agak gatal dan digaruknya sedikit.
"Hei, apa ini?" Tangan Yim dengan cekatan mencekal tangan Solar yang terlambat berkelit. Cengiran itu berubah menjadi tampak bersalah.
"Tadi aku berburu bumbu tambahan di kuil sebelah, Koh." Solar mengernyit sedikit ketika Yim menyentuhnya di dekat goresan yang menggelap itu. Sebagian darahnya hampir kering.
"Haiyaa, seharian ini kau biarkan terbuka begini?!" Yim segera repot lagi mengambil peralatan, padahal mereka baru selesai membersihkan kuil. Pria itu menyeka dan mengobati luka gores memanjang di lengan Solar sambil mengomelinya panjang lebar.
"Kena infeksi baru tahu rasa!"
Malam itu, Solar pergi tidur dengan sensasi dingin disertai apa yang seperti cubitan-cubitan kecil nan perih di lengannya. Setidaknya kini lukanya tidak lagi terbuka, melainkan ditutup kain yang kelihatannya bersih oleh Yim, setelah dibubuhi potongan-potongan daun yang konon berkhasiat menyembuhkan.
Menurut cerita Yim, Solar dulu ditemukannya teronggok di emperan kuil waktu masih bayi. Jatuh kasihan tentunya si penjaga kuil. Yim menyembah seorang dewi yang maha welas asih*, maka dia pun harus berbelas kasih pada yang lemah. Maka, dipungutnya si jabang bayi dan dibesarkannya dalam kuil itu, salah satu kuil Buddha di Semarang, sampai Solar berusia dua belas tahun sekarang.
Selain gaya hidup yang tidak makan daging, Solar pun diajarinya tata cara menyembah sang dewi, yang konon menurut legenda juga seorang tabib. Solar suka menjelajah sekitar kuil dengan keingintahuan yang tinggi, sering terluka gores dalam perjalanan mengamati banyak tumbuh-tumbuhan, dan diomeli Koh Yim karena mereka tak punya banyak uang untuk beli perban. Seringnya, luka Solar ditutup kain yang dianggap cukup bersih saja dan rumput obat, karena tentara Belanda berjaga di mana-mana, mau belanja apa saja sulit sekali (dan mendapat uang juga sama sulitnya). Beruntung Solar mahir menerapkan ilmu-ilmu dagang dari Yim sehingga mereka bisa agak berkecukupan dari penghasilan tambahan berjualan dupa pada orang-orang yang mau beribadah di situ. Pemilik kuil menggaji Yim sangat sedikit untuk menjaga dan membersihkan gedung yang luasnya juga tak seberapa itu.
Suatu hari, kuil yang tak seberapa besar itu dilalap api mendadak. Beberapa waktu setelah kejadian itu, tersiar isu bahwa ada sekelompok orang yang menyiramkan minyak tanah ke sekeliling kuil dan dengan sengaja membakarnya—di saat ada segelintir orang yang datang untuk beribadah seperti biasa.
Para pengunjung kuil punya cukup waktu dan akses yang mudah untuk melarikan diri, tapi penghuni kuil itu—si penjaga kuil dan anak pungutnya—dikabarkan tewas terbakar. Jasad mereka sulit dibedakan di antara reruntuhan kuil yang hangus.
.
.
.
.
.
Suryo Langen Arto terbangun sekitar seminggu kemudian dengan sekujur badannya terasa tebal. Tenggorokannya terasa sangat kering. Dia mendapati perban putih meliliti tangan dan kakinya; perban itu juga menutup perut dan dadanya di balik baju. Rupanya juga ada perban di wajahnya. Belum pernah seluruh badannya ditutup perban sebanyak ini, bahkan waktu dia pernah jatuh terseret babi hutan saat diajak Koh Yim memetik perdu liar. Di kemudian hari nanti, setelah dia lancar membaca dan cukup berpendidikan, Solar bisa menggambarkan dirinya waktu itu merasa jadi seperti mumi Mesir yang dibacanya di buku-buku pelajaran.
Apa yang terjadi dengan tubuhnya yang sempat terbakar?
Rupanya orang-orang Belanda telah menolongnya. Tentunya itu tidak cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayarnya seumur hidup, padahal aslinya dia juga tidak minta ditolong mereka. Adakah lebih baik dia mati hangus bersama Koh Yim hari itu?
"Cangkok kulit …?"
Sebuah tindakan medis yang masih dalam penelitian di masa itu. Solar kecil yang berusia dua belas dan kebetulan menderita luka bakar yang sangat luas adalah kelinci percobaan mereka. Sejak hari dia ditolong, Solar menjadi orang berkulit putih; secara metafora dan harfiah sekaligus. Meski butuh waktu bertahun-tahun—dengan beberapa kali operasi ulang dan pemulihan kulit barunya—sebelum Solar sanggup melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.
"Tuan … Van Goens …."
Solar tahu cara mengucapkan nama pria Belanda yang paling sering mondar-mandir di dekat selnya itu karena begitulah orang-orang memanggilnya, tapi Solar kesulitan menyebutnya dengan bahasa Belandanya yang patah-patah.
"Maafkan saya kalau salah bicara, Tuan."
"Mm-hmm? Kau bisa bicara Belanda, rupanya?"
Remaja laki-laki itu mengulas senyum terbaiknya, tapi entah rupanya tampak seperti apa dengan semua perban dan luka jahit itu di mana-mana. "Saya bisa sedikit bahasa Belanda, selain Cina, Melayu, dan Jawa." Terima kasih pada Koh Yim yang sesekali mengajarinya bahasa lisan lantaran kuil mereka selalu dikunjungi orang-orang dari mana saja.
"Panggil aku Vargoba saja. Kalau itu pun cukup sulit, panggil aku 'Tuan'. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
"Kelihatannya kau cukup terpelajar. Kau bisa membaca?"
"Sedikit, Tuan."
"Pernah sekolah?"
"Tidak, Tuan. Saya tinggal di kuil Cina bersama penjaga kuil." Solar meremas tangannya di bawah selimut kalau teringat Koh Yim telah tiada.
"Dia bisa membantu di rumahku," ucap Vargoba pada orang-orang sekitar. "Daripada dia hanya tidur dan makan saja di sini kalau kalian tidak memerlukannya, buat apa?"
Sejak hari itu, Solar menghuni rumah seorang Belanda kaya-raya, berpakaian seperti orang Eropa, dididik di sekolah terbaik kolonial—dia terikat dengan rasa sakit dan dalam pengawasan tim peneliti dari waktu ke waktu, tapi selebihnya dia bebas melakukan apa pun—itu harga yang setimpal daripada berakhir dikurung di sel penelitian dan tak berbuat apa-apa sampai dia bertemu Koh Yim lagi.
Solar memang pandai dalam hal menawarkan apa saja.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
*Dewi yang dimaksud di sini adalah Dewi Kwan Im.
Double update dalam rangka hari merdeka /heh
Jadi, di sinilah Roux menuangkan imajinasi liar tentang latar belakang simbah jamu. Kisah hidup Solar nggak berhenti di sini, masih ada beberapa prompt yang cocok dengan cerita beliau, hehehe (dan tidak mungkin tidak ada angst-nya) X"D
Oh, iya. Kalau di tahun 1897 ini Solar umur 12, di latar cerita Asmaradana adalah tahun 1915 saat Solar si alumnus STOVIA bertemu tokoh kita yang lain.
Terima kasih sudah membaca!
[17 Agustus 2024]
