Naruto by Masashi Kishimoto
Warning: Typo, Lemon, Smut, NC, and etc.
Pairing: Naruto x Kurenai.
•••
••
Mirai's New Dad
Naruto berdiam diri di hadapan nisan ayah dan ibunya, kerinduan yang mendalam terhadap mereka membawa dirinya untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Ia hanya merenung dan sesekali bergumam tak jelas disana, mulutnya tak berhenti berbicara seakan mengajak orang tuanya untuk ikut berbincang dengannya.
Tanpa Naruto sadari, ada sepasang mata berwarna merah darah yang mengawasinya dari belakang. Pemilik mata itu adalah Kurenai Yuuhi, janda beranak satu yang ditinggal mati oleh suaminya, Asuma di medan perang. Dia juga merupakan guru dari team 8, yang membuatnya cukup mengenal Naruto.
Kurenai mendekati Naruto, hendak mengajaknya pulang karena hari sudah mulai gelap. Ia juga telah memperhatikan bahwa pemuda itu telah berada disana sebelum dirinya, keadaan Naruto yang diam saja membuatnya sedikit khawatir sebagai seorang guru.
Langkah kaki yang terdengar membuat Naruto tersadar bahwa ada seseorang yang mendekatinya, ia segera menoleh ke belakang dan tersenyum ketika melihat siapa yang menghampirinya.
"Kurenai-sensei, kau masih disini?" Tanya Naruto sembari bangkit dari posisi duduknya, tangannya bergerak merapihkan sedikit pakaiannya.
Kurenai mengangguk, "Begitulah, Naruto. Aku memperhatikanmu sedari tadi, apa yang membawamu kemari? Ini bukan dirimu yang biasanya."
Naruto menunduk, "Entahlah sensei, tiba-tiba aku teringat kedua orang tuaku. Mereka datang ke mimpiku begitu saja tadi malam, membuatku merindukan mereka."
Ungkapan perasaan Naruto membuat Kurenai merasa iba pada pemuda itu, dia bukanlah satu-satunya orang yang tahu penderitaan Naruto sedari kecil, ia bahkan ikut melihat bagaimana usaha keras Naruto untuk membuat penduduk desa mengakuinya. Kurenai akui, Naruto sangat gigih dalam mencapai tujuannya, ada sedikit perasaan senang dan bangga di dalam diri Kurenai melihat Naruto dan seluruh murid yang berada di angkatan yang sama semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Kurenai menyampirkan tangannya di punggung kekar Naruto, berusaha merangkul pundak pemuda itu walau membuatnya jadi sedikit berjinjit untuk melakukannya dikarenakan perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh.
"Tak apa, Naruto. Kau sudah melakukan yang terbaik, aku yakin Hokage keempat dan nona Kushina bangga padamu diatas sana." Ujar Kurenai seraya tersenyum lembut pada Naruto.
Naruto mengangguk seraya menahan tawanya, melihat Kurenai yang begitu sulit menyamai tinggi tubuhnya. "Baiklah, terima kasih sensei. Perkataanmu membuatku menjadi lebih baik."
"Aku tahu kau ingin tertawa, Naruto. Ini pasti karena aku tak bisa menggapai bahumu." Kurenai berkata seraya memanyunkan bibirnya, Naruto membalasnya dengan tawa kecil.
"Maafkan aku, sensei. Aku tak bisa menahannya, kau lucu sekali bertingkah seperti itu." Kurenai hanya menggumam sebal, "Baiklah, baiklah, hentikan Naruto. Hari sudah malam, ayo kita pulang."
Naruto dan Kurenai berjalan berdampingan, obrolan kecil menemani langkah kaki keduanya selagi mereka berjalan keluar dari area pemakaman.
"Sudah tiga tahun yang lalu ya, sejak terakhir aku bertemu denganmu. Kau sudah bertambah besar, aku ingat pernah menjalani misi denganmu dan tinggi badanmu hanya sedadaku, dan kau menjadi bahan olok-olokan oleh Kiba." Kurenai kembali mengingat masa dimana murid-muridnya baru saja lulus dari akademi, menjadi Genin kecil yang lugu membuatnya gemas ketika pertama kali melihat mereka.
Naruto menunduk malu, "Hentikan itu, Kurenai-sensei. Kenapa kau masih saja membahas itu?" Naruto masih ingat, pertama kali ikut misi dengan team 8, ia menjadi yang paling kecil dan pendek disana, bahkan kalah tinggi dengan Hinata. Kiba yang terus mengolok-oloknya karena wajahnya yang sejajar dengan dada Kurenai. Ia juga ingat menjadi yang paling berisik di tim itu, hingga membuatnya beberapa kali adu mulut dengan Kiba, kelakuan masa kecil Naruto memang membuat semua orang disekitarnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Kurenai dan Naruto saling tertawa mengingat masa lalu mereka, sehingga tibalah keduanya di persimpangan jalan yang menjadi pemisah arah kedua rumah mereka.
"Well, kurasa saatnya kita berpisah disini Naruto. Senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama." Kurenai pamit seraya hendak berjalan menjauh dari Naruto, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan sesuatu yang mengenggam pergelangan tangannya.
"Ini sudah larut, sensei. Biar aku mengantarmu pulang." Kurenai mengangkat alisnya, "Ini baru jam setengah 8 malam, Naruto. Ini belum selarut itu."
Naruto menggeleng, "Tetap saja, kau seorang wanita. Wanita tak boleh berjalan sendirian malam-malam, sensei." Kurenai tertawa kecil, "Kau lupa ya, Naruto? Aku juga seorang Shinobi sepertimu, walau aku sudah pensiun, tapi aku tak lupa cara untuk membela diri."
"Aku tahu itu, sensei. Tapi tetap saja aku mengkhawatirkanmu, setidaknya biarkan aku mengantarmu sampai ke depan apartemenmu." Ujar Naruto bersikeras. Melihat itu, membuat Kurenai tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti Naruto, ia juga tak ingin berdebat dengan anak ini.
"Baiklah, baiklah, kau boleh mengantarku pulang. Tapi apa kau tak masalah? Arah rumahmu berlawanan dengan rumahku, Naruto." Kurenai bertanya sekali lagi, yang langsung dijawab dengan anggukan mantap oleh Naruto.
"Tak masalah, sensei. Lagipula aku butuh jalan-jalan malam setelah seminggu dikurung di rumah sakit Konoha." Balas Naruto. "Ugh, Baiklah. Ayo kita jalan, Naruto."
Kurenai dan Naruto melanjutkan perjalanan mereka menuju apartemen Kurenai, Naruto kembali menghibur Kurenai dengan banyak bercerita tentang pengalaman latihannya dengan Jiraiya. Membuat Kurenai sesekali menanggapi cerita Naruto dengan tawanya.
Tak terasa, keduanya telah sampai di depan apartemen Kurenai. Naruto akan bersiap pergi setelah memastikan Kurenai masuk ke dalam apartemennya dengan aman.
"Baiklah sensei, aku akan pulang sekarang. Jaga dirimu, ya!" Naruto melambaikan tangannya, hendak berbalik pergi namun ditahan oleh Kurenai.
"Apa kau mau masuk dulu? Biar aku buatkan sesuatu untukmu, aku tak enak padamu karena sudah mengantarku jauh-jauh." Tawar Kurenai, Naruto terlihat bingung.
"Tak apa, sensei. Lagipula, aku ingin cepat pulang ke rumah untuk memakan ramen instan edisi spesial yang baru saja kubeli kemarin." Naruto menolak dengan halus, namun penolakan itu rupanya malah mendapat balasan tajam dari Kurenai.
"Naruto, kau makan ramen instan terus. Kau akan jatuh sakit nanti." Naruto tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya, "Mau bagaimana lagi, kulihat Ichiraku tutup lebih awal hari ini, sedangkan aku belum makan malam."
Kurenai segera menarik tangan Naruto dan mengajaknya masuk ke dalam apartemennya. Naruto yang terkejut, berusaha menolak dengan sopan, namun Kurenai malah tidak menggubrisnya sama sekali, ia tak punya pilihan lain selain mengikuti Kurenai ke lantai atas.
• •
•
Naruto menatap takjub makanan yang tersaji di meja makan, ada Sukiyaki dan Tonkatsu yang terlihat menggugah selera telah siap untuk disantap olehnya. Kurenai tersenyum, "Makanlah, Naruto. Maaf kalau kau tak begitu menyukainya, hanya ini yang kupunya saat ini."
Naruto menggeleng cepat, "Kau bercanda? Ini terlihat lezat, aku akan segera memakannya. Terima kasih atas makanannya, Kurenai-sensei!" Naruto pun mengambil sumpit yang tersedia di ujung meja dan segera menyantap makanan yang tersedia di hadapannya.
"Aku senang kalau kau menyukainya, Naruto. Makan yang banyak, ya. Jangan sering-sering makan ramen instan, tak baik untuk perutmu." Ujar Kurenai lembut, seraya menatap Naruto yang tengah makan dengan lahap di seberang meja.
"Aku tak tahu kau bisa memasak sensei, ini sangat enak. Aku selalu suka masakan rumah, aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku merasakannya." Curah Naruto begitu saja, Kurenai yang mendengarnya merasa kasihan pada Naruto.
"Kau tahu, Naruto? Kau bisa datang ke tempatku kapan saja, aku akan memasakkanmu makanan agar kau tak selalu memakan ramen instan itu." Ucapan Kurenai mengejutkan Naruto, bahkan dirinya dan Kurenai tak sedekat itu, namun entah kenapa gurunya ini berlaku begitu baik padanya.
"Tak perlu–" Ucapan Naruto dipotong begitu saja saat Kurenai mengarahkan jari telunjuk ke mulutnya, seakan memberi isyarat agar Naruto diam.
"Diamlah, Naruto. Jangan banyak bicara saat sedang makan." Tegur Kurenai, Naruto hanya mengangguk kecil.
"Tapi omong-omong, Mirai ada dimana sensei? Aku tak melihatnya sedari tadi." Tanya Naruto lagi, Kurenai hanya menepuk dahinya.
Mulut Naruto memang tak bisa diam, ya. Batin Kurenai.
"Kau banyak tanya, Naruto. Mirai sedang kutitipkan bersama kakak iparku, dia berada di rumah Konohamaru. Mereka ingin mengajak Mirai berpergian tiga hari ini. Siang tadi, aku baru saja mengantarnya kesana." Jawab Kurenai sebal, karena pertanyaan dari Naruto tak kunjung habis.
"Kenapa kau tidak ikut dengan mereka, sensei?" Tanya Naruto bingung. "Aku sedang ingin bersantai dari Mirai, Naruto. Menjadi Ibu membuatku cepat lelah, apalagi Mirai adalah anak yang aktif, aku harus ekstra dalam menjaganya. Menitipkannya pada keluarga Konohamaru bukanlah ide yang buruk." Balas Kurenai.
Tiba saat Naruto ingin berbicara lagi, Kurenai menutup mulutnya. "Cepat selesaikan makananmu, Naruto. Aku akan mandi sebentar, dan lebih baik kau sudah selesai makan di saat aku selesai mandi."
Naruto mengangguk, Kurenai kemudian berjalan meninggalkan Naruto untuk pergi ke kamar mandi. Naruto mengamati sekeliling ruangan apartemen Kurenai. Apartemennya memang tidak besar, bahkan Naruto bisa melihat ke segala arah dari posisinya berada sekarang.
Pandangannya kemudian menemukan dua pintu kayu yang terletak berdekatan, Naruto menganggap bahwa salah satunya adalah kamar mandi, tempat Kurenai tengah membersihkan tubuhnya.
Suatu pikiran mesum terlintas di benak Naruto, karena kalau dipikir-pikir, sudah lama ia memperhatikan Kurenai. Ia selalu berpikir sedari ia masih menjadi Genin yang baru saja lulus bahwa Kurenai adalah salah satu Jounin wanita yang sangat menarik di matanya.
Naruto juga ingat bahwa dirinya pernah merasa sebal karena Kakashi yang menjadi gurunya, bukan Kurenai. Namun setelah semua itu, ketika ia melihat Kurenai yang sekarang, yang bahkan sudah memiliki anak, wanita itu tetap terlihat indah di matanya.
Alasan dia rela memutar jauh dari rute perjalanan pulangnya ini hanyalah untuk menghabiskan waktu yang lebih lama dengan Kurenai, yang ternyata berhasil, bahkan sampai diundang masuk ke apartemennya.
Naruto kembali melamun, namun tak lama ia kembali dikejutkan dengan penampilan Kurenai yang hanya memakai handuk, baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak berjalan menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar mandi.
Nafas Naruto memburu, celananya tiba-tiba saja terasa sesak. Ia benar-benar menahan diri untuk tidak memperkosa Kurenai di rumahnya.
"Sialan, kenapa jadi begini?"
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Kurenai yang keluar hanya memakai gaun tidur berwarna ungu pekat berbahan satin. Naruto bisa melihat bahwa gaun tersebut tak menutupi seluruh bagian tubuh Kurenai, ia dapat melihat kaki jenjang, bahu mulus serta sedikit belahan dada wanita itu terekspos begitu saja di hadapannya.
"Kau sudah selesai, ya? Tinggalkan saja, Naruto. Nanti biar aku yang merapihkannya." Ujar Kurenai yang membuat Naruto tersadar dan mengangguk cepat. "Aku akan membantu, sensei!"
Alhasil, Kurenai membiarkan Jinchuriki Kyuubi itu mencuci segala peralatan masak dan piring yang dipakainya. Kurenai tak bisa berbuat apa-apa karena Naruto memaksa untuk merapihkannya.
"Aku sudah selesai, sensei." Ujar Naruto sembari melepas apron milik Kurenai yang tadi dipakai olehnya.
Kurenai menoleh ke arah Naruto, "Baiklah, Naruto. Terima kasih telah mengantarku tadi, datanglah lagi jika kau menginginkan masakan rumah, ya!" Kurenai berpikir akan membiarkan Naruto keluar sendiri dari apartemen tanpa mengantarnya, jadi ia melanjutkan aktivitasnya yang tengah menonton televisi.
Kurenai yang tengah fokus menonton serial kesukaannya tiba-tiba teralihkan dengan keberadaan ikat kepala Naruto yang masih ada di meja. "Ah, Kau ceroboh sekali meninggalkan ikat kepalamu disini Naruto."
Tidak ada suara lagi, Kurenai pikir Naruto sudah meninggalkan apartemennya, jadi ia berlagak tak peduli. Namun tanpa disadari oleh Kurenai, Naruto masih diam berdiri di dapur Kurenai. Tangan Naruto terlihat sedang memegang kejantanannya yang sudah sangat keras, Naruto berjalan perlahan ke arah Kurenai yang tengah duduk di sofa.
"Sensei.." Naruto memanggil Kurenai dengan lesu, Kurenai terkejut. "Jadi kau masih disini, Naruto? Kenapa–" Kurenai benar-benar shock dengan apa yang ia lihat sekarang, penis Naruto yang sudah mengeras berada di samping wajahnya.
Wajah Kurenai tiba-tiba memerah, "Kau bodoh, apa yang kau lakukan?! Pakai kembali celanamu, Naruto!"
Naruto tak menanggapi ucapan Kurenai, ia kemudian berjalan ke sisi lain sofa untuk menghadap Kurenai seraya melepaskan seluruh celana yang mengekang penisnya.
"Kumohon, hisap ini untukku, Kurenai-sensei." Pinta Naruto, Kurenai menatap Naruto dengan perasaan campur aduk, masih berusaha mencerna apa yang terjadi di hadapannya.
Melihat Kurenai tak bergeming, Naruto menarik tangan Kurenai untuk menyentuh penisnya. Sontak saja membuat Kurenai marah. "Kau gila, Naruto! Apa yang kau lakukan?! Aku ini gurumu!"
Naruto tampak tak peduli, ia kembali menarik tangan Kurenai untuk ditaruh di penisnya. "Tolong, sensei. Ini semua karenamu, aku takkan bisa pulang dalam keadaan seperti ini."
"Naruto.." Kurenai menatap Naruto lekat, dirinya benar-benar dilanda kebingungan. Namun disisi lain, ia dibuat takjub dengan ukuran penis tegang Naruto yang fantastis. Sudah lama sejak dirinya terakhir melihat benda menakjubkan itu. Bahkan miliknya lebih besar daripada Asuma. Pikir Kurenai.
Tanpa aba-aba, Naruto mendorong kepala Kurenai yang tadi sejajar dengan penisnya, sehingga membuat penis keras itu masuk begitu saja ke dalam mulut Kurenai.
"Mmph, Nar‐Naruto! Hentikan.." Kurenai berucap susah payah karena di dalam mulutnya terdapat penis besar Naruto yang siap muncrat kapan saja.
Keterkejutan Kurenai tak berhenti disitu, karena tangan Naruto dengan cepat bergerak menurunkan tali gaun tidurnya. Kurenai yang tidak memakai bra pada saat itu, hanya bisa pasrah saat payudaranya mulai terlihat.
Naruto menghentikan blowjobnya, ia kemudian turun dan membelai payudara ranum Kurenai dengan mesra. Kurenai menggigit bibir bawahnya, tubuhnya terasa sangat sensitif sekarang, terbukti dengan putingnya yang tiba-tiba menegang.
Naruto mengambil kesempatan itu untuk meluluhkan Kurenai, ia segera melahap payudara janda beranak satu itu dengan rakus. Suara jilatan dan kecapan mesum mengalun merdu di telinga Kurenai, membuatnya tak bisa menahan desahannya.
"Sial, Ahh.. Naruto!" Naruto merasa Kurenai mulai melemahkan pertahanannya, dengan cepat ia pun melucuti pakaian yang tersisa di tubuh Kurenai. Sekarang ia dapat melihat tubuh putih sempurna yang mulus bak porselen di matanya, Naruto tersenyum kecil.
Sedangkan Kurenai yang kini sudah telanjang bulat hanya bisa memalingkan wajahnya agar tak menghadap Naruto, ia benar-benar terlihat tak berdaya di bawah Naruto saat ini.
Kemudian Naruto pun melepas sisa pakaian yang menempel di tubuhnya, membuat keduanya sama sama telanjang tanpa penutup apapun di tubuh mereka. Kepala Naruto bergerak menuju vagina Kurenai yang diapit oleh kedua kakinya, dengan pelan Naruto membuka kedua kaki gurunya itu sembari menatap lekat Kurenai.
"Aku akan memuaskanmu, sensei. Nikmati saja." Ujar Naruto yang tiba-tiba langsung melancarkan aksinya pada vagina Kurenai, membuat wanita itu terlonjak ketika merasakan jemari Naruto berada di dalam vaginanya.
"Hahh.. Naruto." Kurenai mendesah kegelian, ia kembali dikagetkan dengan benda lain yang memasuki vaginanya. Ia bisa merasakan lidah Naruto menggeliat sambil menjilati vaginanya.
"He-hentikan, Naruto! I-itu kotor!" Seusai Kurenai berbicara seperti itu, Naruto sontak menghentikan kegiatannya yang membuat Kurenai mendesah kecewa.
"Kau terlihat kecewa, sensei. Kupikir kau menyuruhku berhenti?" Tanya Naruto dengan wajah ceria tanpa dosanya, seakan mau menantang Kurenai.
Naruto sialan. Batin Kurenai berkecamuk, ia benar-benar teransang sekarang. Ia ingin dipuaskan, Ia ingin Naruto memuaskannya.
Lalu Naruto kembali melakukan hal yang tak terduga lagi, Ia menggesek kejantanannya yang mengeras itu di bibir vagina Kurenai. Membuat Kurenai mendesah lagi karena perlakuan bejat Naruto pada dirinya.
"Naruto.." Panggil Kurenai, mata merah itu menatap Naruto sayu, seakan menginginkan apa yang ada di pikiran Naruto sekarang.
Naruto memang sudah memikirkan keinginannya untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina Kurenai, ia bisa saja memasukkannya dalam sekali hentak, namun terbersit pikiran jahil di benaknya.
Ia ingin Kurenai memohon padanya, memohon untuk dimasuki oleh penisnya.
"Ada apa, sensei? Maafkan aku, kurasa aku akan pulang setelah menyelesaikan ini." Ujar Naruto dengan maksud menggoda Kurenai lebih jauh lagi, ia ingin tahu batas Kurenai.
Naruto mengocok kejantanannya di hadapan Kurenai, ia bahkan dengan sengaja mengarahkan ke wajah wanita itu. "Tahan sebentar sensei, aku akan segera keluar." Kurenai menatap nanar penis yang mengacung di hadapan wajahnya, tubuhnya sangat menginginkan penis Naruto walau hatinya masih ragu.
Tiba-tiba tangan Kurenai mengenggam begitu saja penis Naruto, ia menatap lekat manik biru Naruto. "Kumohon, Naruto. Lakukan sekarang, masukkan penismu dalam diriku!" Pinta Kurenai dengan suara lemah, Naruto tersenyum nakal karenanya.
"Baiklah, Kurenai-sensei. Aku akan memasukkannya, tahan sebentar." Ujar Naruto seraya mengarahkan penisnya ke dalam liang senggama Kurenai.
Kurenai menggigit bibir bawahnya ketika merasakan penis Naruto merangsek ke dalam dirinya, ia kembali terkejut ketika mengetahui ujung penis Naruto menyentuh rahimnya.
Anak ini.. Penisnya masuk dalam sekali. Batin Kurenai, ia belum pernah merasakan ada penis selain Naruto yang berhasil mencapainya sedalam ini. Bahkan suaminya, Asuma pun tak pernah mencapai dirinya sedalam ini.
"Aku akan mulai bergerak, sensei." Ujar Naruto yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Kurenai. Naruto pun memaju-mundurkan pinggulnya secara perlahan, tempo yang dihasilkan berawal dengan pelan, dan meningkat seiring dengan intensitas gerakan pinggul Naruto.
Kurenai kembali menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahannya. Naruto yang melihatnya, spontan mencium dan melumat bibir merah Kurenai.
"Mmph, Naruto.." Kurenai mendesah dalam ciumannya, Naruto kemudian melepas ciumannya. "Jangan menahan desahanmu, sensei. Aku ingin mendengarnya."
Suara Naruto yang ceria tiba-tiba berubah menjadi dewasa disana, Kurenai benar-benar dibuat terpukau dengan Jinchuriki Kyuubi ini.
"Ugh, sialan kau Naruto! Penismu enak sekali!" Kurenai mendesah, sembari mengacak-acak rambut kuning Naruto. Ia bisa merasakan penis besar Naruto berkedut di dalam vaginanya.
"Aku mau keluar, sensei." Ujar Naruto, hendak menarik dirinya. Namun tubuh Naruto tertahan dengan kaki jenjang Kurenai yang mengalungi pinggulnya. "Keluarkan di dalam Naruto, aku ingin merasakan spermamu di dalamku."
Naruto mengangguk, ia pun mempercepat gerakannya sampai akhirnya keduanya pun mencapai klimaks mereka. Naruto pun ambruk di atas tubuh mungil Kurenai.
"Sejak kapan kau tumbuh begitu dewasa, Naruto? Ini tidak seperti dirimu." Naruto hanya tersenyum tipis, "Entahlah, sensei. Ini berjalan secara alami, aku pun tidak menyadarinya."
"Kau tumbuh dewasa sangat cepat, dulu kau hanyalah seorang anak kecil yang menyebalkan, dan sekarang kau malah berani menyetubuhiku, Naruto." Ujar Kurenai sembari tertawa kecil.
Naruto menatap manik Kurenai lekat, "Apa kau marah padaku, sensei?" Kurenai terkejut dengan pertanyaan Naruto, kemudian tangannya beralih mengelus surai pirang Naruto. "Menurutmu bagaimana, Naruto? Kau baru saja memperkosa seorang wanita."
Balasan Kurenai membuat Naruto diam tak berkutik, Kurenai kembali berbicara. "Namun, aku tidak marah padamu Naruto. Karena apa yang terjadi hari ini, kau membuatku melupakan Asuma begitu saja malam ini. Sudah tiga tahun aku berusaha melupakan dirinya, tapi tak pernah berhasil. Itu membuatku selalu bersedih, tapi kau datang hari ini padaku Naruto."
Naruto menyimak perkataan Kurenai dengan diam, kemudian Kurenai melanjutkannya lagi. "Caramu memperkosaku memang keterlaluan, namun aku berterima kasih padamu, Naruto. Akhirnya ada seseorang yang bisa membuatku melupakan Asuma."
Naruto menangkup pipi mulus Kurenai, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kurenai. "Kau tahu, sensei. Aku selalu mengagumimu, bahkan sejak aku kecil. Kau selalu terlihat indah di mataku. Ketika melihat kesempatan ini, kupikir aku akan mundur, namun melihat yang terjadi sekarang, aku bahkan bisa sampai di titik ini dan aku senang sekali."
"A-aku mencintaimu, sensei." Ungkapan Naruto membuat Kurenai membulatkan matanya karena terkejut, kemudian Naruto melanjutkan kalimatnya. "Maaf aku mengungkapkannya disaat seperti ini, tapi aku tak ingin pergi sebelum menyatakannya padamu, aku tak ingin menyesal pergi tanpa memberitahumu apa-apa. Jadi maafkan aku sensei, aku memang bodoh hahaha."
Naruto hendak bangkit dari posisinya yang menindih tubuh Kurenai, ia ingin segera memakai pakaiannya dan pergi dari apartemen Kurenai. Mungkin ia juga akan menghindari Kurenai untuk sementara waktu ini.
Namun lagi-lagi, Kurenai menahannya. Kali ini Kurenai mengalungi kedua tangannya di leher Naruto, wanita itu menarik Naruto ke dalam pelukannya. Bahkan Kurenai langsung melumat bibir Naruto yang berada di atas tubuhnya, membuat Naruto kaget.
Setelah beberapa saat saling melumat, keduanya melepaskan ciuman mereka. Tibalah giliran Kurenai untuk berbicara. "Mau pergi kemana dirimu, Naruto? Setelah membuatku jatuh cinta padamu dan penismu, kau akan meninggalkanku?"
Naruto mengangkat alisnya bingung, tak percaya dengan kata kata yang keluar dari mulut gurunya itu. "Se-sensei? Apa maksudmu?"
"Kau bahkan keluar di dalamku, aku bisa hamil karenamu, Naruto. Kau bersungguh-sungguh akan pergi tanpa mengetahui perasaanku padamu?" Naruto masih bingung mencerna omongan Kurenai, Kurenai hanya tersenyum kecil.
"Aku juga mencintaimu, Naruto. Aku menyukai dirimu sejak pertama kali melihat kegigihanmu di ujian Chuunin. Andai kau adalah muridku, Naruto.." Kurenai kembali menarik Naruto dan mencium bibirnya.
Naruto tersenyum lebar, ia tak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini. "Se-sensei.." Kurenai menutup mulut Naruto, "Jangan panggil aku sensei lagi, panggil aku dengan namaku Naruto."
"Kurenai-chan.." Naruto memeluk Kurenai, Kurenai pun membalas pelukan erat Naruto. "Kurasa ini saatnya aku memiliki kekasih lagi, bukankah begitu Naruto?"
Naruto tersenyum kikuk, "Apa maksudmu?" Kurenai tersenyum nakal, "Tentu saja dirimu, Naruto. Mirai pasti akan senang jika ia memiliki ayah baru."
"Terlebih aku tak bisa lepas darimu sekarang, Naruto. Penismu milikku, aku takkan melepaskannya pada orang lain." Kurenai tersenyum nakal, yang tiba-tiba saja membuat penis Naruto kembali ereksi.
"Oh, kau mengeras lagi Naruto. Kita masih memiliki tiga hari sampai Mirai kembali."
"Kurenai-chan.." Keduanya pun melanjutkan pergumulan mereka di kamar Kurenai.
••
•
End!
•
••
Halo, ini cerita pertama yang aku post di fanfiction. Feel free untuk menulis review apapun agar menjadi perbaikan buat author. Terima kasih buat yang sudah mengunjungi laman ceritaku!
