BoBoiBoy © Monsta

Keping Kisah Asmaradana © Roux Marlet

The author gained no material profit from this work of fiction.

Alternate Universe, Historical, Family, Angst

#Octoberabble Day 10: Burden

Bab 10: Taklif

.

.

.

.

.

Surakarta, 1890.

.

Gempa Bumiasri tahu dan paham, dirinya adalah beban bagi keluarga.

Gelar Gusti Raden Mas yang tersemat di depan nama Gempa seharusnya jadi milik Beliung seorang; Beliung Bayu Widjaja, adik lelaki Gempa yang sudah menikah dan kini istrinya tengah mengandung seorang putra. Masa depan Kadipaten Mangkunegara jelas akan lebih cerah di tangan sang adik, Beliung. Namun, ayahanda mereka tak setuju. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Hang Kasa Djaja mau menganugerahkan gelar yang sama pada kedua putranya, Gempa dan Beliung. Apalagi karena Gempa yang lebih tua.

"Tapi, Ayah, aku tak berputra—"

"Ayah tak minta putra darimu."

"Umurku mungkin tak panjang—"

"Siapa yang tahu siapa di antara kita yang akan pulang lebih dahulu nantinya? Jangan bicara seperti itu, Gempa. Kau adalah pewaris utamaku dan Beliung di urutan kedua."

Gempa tunduk, takluk pada perintah penguasa Mangkunegara yang bertakhta. Dirinya sebagai putra mahkota sangat tahu dan paham, tak pernah ada yang sia-sia dari seluruh ilmu yang dipelajarinya bersama Beliung. Bukan masalah Gempa tidak kompeten menjadi pemimpin, namun ada penyakit yang menghalanginya untuk berkeluarga dan untuk hidup lama sebagai raja Mangkunegara.

Selang berapa waktu, putra Beliung lahir. Bayi lelaki sehat yang tangisnya kencang itu diberi nama Taufan. Nama tengahnya menunjukkan ia lahir pada bulan suci, Ramadhan. Nama belakangnya mirip nama sang kakek, Angkasadjaja. Gempa separuh lega dan separuh kasihan pada si jabang bayi. Lega karena telah lahir ahli waris takhta yang baru, seorang lelaki untuk meneruskan garis keturunan Hang Kasa; kasihan karena di bahu Raden Mas mungil itu kelak ada beban yang sama besarnya yang harus disandang.

Hidup manusia hanya sekejap mata di hadapan Sang Pencipta. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Kemudian menjadi remaja yang aktif dan kreatif; kala itu, Tuhan mereka memanggil Beliung untuk berpulang lebih dahulu. Lalu, seolah tiba-tiba saja, Taufan sudah lelaki dewasa.

"Taufan akan jadi pemimpin yang hebat, Ayah."

Gempa membicarakan masa depan saat Taufan hampir berusia dua puluh dua. Hang Kasa belum mangkat, Gempa masih putra mahkota dan pewaris utama, tapi mereka sudah sepakat. Sekembalinya Taufan dari pendidikannya di Belanda dalam tahun itu, dia akan diangkat menjadi Gusti Raden Mas. Gelar yang sama dengan Gempa, yang juga tahu beban sebesar apa yang telah menanti di penghujung usia sang adipati.

"Aku hanya mohon satu hal dari Ayah: beri Taufan sedikit kebebasan."

Hang Kasa menimbang-nimbang maksud perkataan Gempa. "Dia hanya keponakanmu. Kenapa memohon seperti itu?"

"Dia sudah tak punya ayah."

"Maka dia harus menuruti simbahnya."

"Justru itu. Ayah dan Beliung, semasa hidupnya dulu, kalian selalu mengikat anak itu, melarangnya ini-itu. Dia bukan anjing yang dilatih untuk menurut."

"Tentu bukan. Anjing tidak belajar politik dan pemerintahan."

Gempa tertawa kecil, lalu malah terbatuk parah sampai semenit penuh.

"Gempa …." Paras Hang Kasa yang keriput tampak khawatir.

"Aku tak apa, Ayah." Gempa kembali pada nada seriusnya, meski wajahnya jadi agak memucat dan kerut menahan nyeri muncul di dahi. "Sepanjang hidupku, aku hanya minta satu itu dari Ayah. Apa Ayah tak berkenan memberikannya padaku?"

Hang Kasa berpikir sampai lama. Gempa tidak mungkin minta sesuatu sampai sebegininya kalau bukan hal yang sangat penting, tapi mustahil juga mengorek-ngorek dari sang putra yang pemikirannya kelewat cerdas dan bicaranya pandai berkelit.

"Supaya Taufan bisa mengerti bahwa pada akhirnya ada yang harus dikorbankan untuk sebuah kebebasan," Gempa meneruskan.

"Baiklah." Hang Kasa memutuskan. "Memangnya apa rencananya?"

Gempa adalah seorang yang menepati janji. Dia berjanji pada Taufan bahwa anak itu boleh melakukan apa yang dia mau setelah menempuh pendidikan di Belanda selama sepuluh tahun. Meski saat itu Gempa pun belum tahu akan pergi ke mana Taufan sepulangnya dari Belanda, setidaknya dia sudah meluluskan izin dari penguasa Mangkunegara.

"Aku tak tahu." Gempa tidak berbohong. Dia tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu, bahkan Taufan juga tidak bercerita dengan lengkap pada pamannya, ke mana akhirnya dia menghilang dari Mangkunegara selama tiga tahun setelahnya. Dari potongan-potongan cerita dalam surat, stempel kantor pos yang tidak utuh, dan nomor seri uang kertas yang dikirim keponakannya sebulan sekali, Gempa bisa menyimpulkan sendiri.

Setidaknya, menjelang akhir hayatnya, Gempa bisa meringankan beban Hang Kasa yang sama sekali tak punya petunjuk di mana rimbanya sang cucu bandel.

.

.

.

.

.

Catatan Penulis:

Taufan, ketahuilah, ada Pakdhe yang sungguh sangat menyayangimu :")

.

taklif/tak·lif/ Ar n penyerahan beban (pekerjaan, tugas, dan sebagainya) yang berat (kepada seseorang).

.

Terima kasih sudah membaca!

[27 Juli 2024]