BoBoiBoy © Monsta

Keping Kisah Asmaradana © Roux Marlet

The author gained no material profit from this work of fiction.

Alternate Universe, Historical, Family

#Octoberabble Day 8: House

Bab 8: Griya

.

.

.

.

.

Surakarta, 1915.

.

Istana Mangkunegara sebetulnya hanya sebuah rumah yang terlampau besar untuk dihuni terlalu sedikit orang. Masa hanya ada dua anggota keluarga adipati yang tinggal di gedung utama berdinding dan berlantai batu nan dingin itu? Hanya sang adipati sendiri dan putra sulungnya yang tak berkeluarga?

Ratusan, bahkan mungkin ribuan, rumah telah dikunjungi oleh Suryo Langen Arto alias Solar sepanjang hidupnya; namun, belum pernah ditemuinya yang serupa Istana Mangkunegara. Kerap kali dia menemui keluarga-keluarga bertengkar yang pura-pura harmonis di depan tamu. Dia sendiri pun selalu mengulas senyum palsu, kalau tak begitu, jamunya mana laku.

Siapa pula dirinya berhak menilai urusan suatu rumah tangga?

Namun, tak ada kepura-puraan apa pun yang ditemuinya dalam diri sang adipati maupun putra sulungnya. Kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang berat, dukacita yang murung. Ahli waris sang adipati, Gempa namanya, menderita sakit berkepanjangan. Terlihat jelas Hang Kasa sang adipati sudah lama tak bisa tersenyum. Apalagi Gempa yang jelas-jelas gagal memenuhi ekspektasi sang ayah akibat penyakit.

Rumah besar yang dingin dan lapang itu rasanya sesak. Solar bisa merasakan dirinya seperti terhimpit oleh entah apa. Air matanya sendiri nyaris jatuh sewaktu memeriksa kondisi Gempa.

Hidupnya tak lama lagi … tapi Solar tak sanggup bicara apa-apa soal itu.

"Hamba punya alat dari karet, namanya kateter. Alat ini bisa membantu buang air hampir tanpa rasa nyeri."

Paling tidak, hanya ini yang sanggup dilakukan Solar untuk mengurangi penderitaan Gempa menjelang akhir hayatnya. Kateter dan juga ramuan pereda nyeri. Ada tanya yang tak berani diutarakan dan rupanya Solar mendapatkan jawaban ketika hendak menerima pembayaran di ruang kerja Hang Kasa.

Di sepanjang lorong ada lukisan dengan nama-nama beserta gelar. Putra Hang Kasa rupanya ada satu lagi, dan pria yang sudah tiada itu memiliki seorang anak lelaki.

Anak remaja dalam lukisan itu tidak tampak ceria maupun murung, hanya menatap jauh ke depan, berekspresi penuh determinasi yang dengan lihainya dituangkan oleh si pelukis. Solar membayangkan beban berat yang harus diemban anak itu, menilik kondisi pamannya yang sekarat—tapi, di mana dia sekarang? Kalau anak ini belum ada di antara lukisan-lukisan orang yang sudah meninggal dan juga tidak ada di rumah ini … lalu di mana?

"Kudengar dari Ayah tadi, kau sedang mengumpulkan dana dengan berjualan ramuan obat?" Gempa bertanya kepadanya saat Solar akan berpamitan. Suaranya terdengar lebih bertenaga dan Solar bersyukur karenanya. "Setelah ini, kau mau ke mana?"

"Hamba berencana pergi ke Yogyakarta dan Klaten," jawab Solar penuh hormat.

"Klaten," seloroh Gempa tiba-tiba, "kalau kau ke Klaten, mampirlah di kawasan pertanian terbesar di daerah Delanggu."

Nada suara Gempa membuat Solar tertarik. "Ada apa di Delanggu, Tuanku?"

"Barangkali kau akan bertemu seseorang yang unik."

Solar mengerjap beberapa kali, tapi Gempa tidak berbicara lagi. Dia akhirnya mengangguk. "Hamba pasti akan mampir ke Delanggu, Tuanku."

Siang itu, beberapa hari sejak Solar bertandang ke Mangkunegara, hujan turun rintik-rintik di luar sebuah kedai jamu di Delanggu, yang adalah hunian milik keluarga Cina langganan jamunya. Dua sosok pemuda buruh tani masuk, tampaknya sedikit kena hujan. Yang berbaju rompi biru tampak lunglai, kawannya berompi cokelat menghiburnya.

Solar menghirup kopinya perlahan sambil mengawasi kedua pemuda itu dari kursinya di pojok kedai. Tampaknya si biru sedang patah hati dan dia berdebat dengan kawannya soal minuman. Keduanya tidak sadar ada dirinya di sebelah sini.

"Istigfar, Taufan! Masa kau mau mabuk karena ini?!"

Taufan, namanya Taufan? Mata Solar menyipit di balik lensa monocle.

Raden Mas Taufan Ramadhan Angkasadjaja … usianya dua belas tahun di dalam lukisan yang dilihat Solar di Istana Mangkunegara yang megah dan sunyi, yang digambar sekitar dua belas tahun yang lalu juga. Bentuk wajah anak dalam lukisan serupa dengan pemuda berompi biru yang sedang galau hati itu.

"Kau mencari ramuan cinta?" Solar berdiri dan berjalan mendekat. Kedua pemuda itu mendongak kaget, Solar fokus kepada pemuda yang berompi biru. Dengan penerangan yang cukup dan jarak yang lebih dekat, dengan mengandalkan ingatannya yang tak pernah salah, Solar yakin seyakin-yakinnya bahwa Gempa memang ingin dirinya bertemu orang ini.

Senyum diulas dan Solar berujar, "Kau bertemu orang yang tepat!"

.

.

.

.

.

Catatan Penulis:

Mbah Kasa angst terus nih genre-nya, jadi Roux pindah PoV ke Mbah Jamu aja /plak

Keping berikutnya akan pindah lokasi ke Yogyakarta!

Terima kasih sudah membaca!

[21 Januari 2024]