BoBoiBoy © Monsta

Keping Kisah Asmaradana © Roux Marlet

The author gained no material profit from this work of fiction.

Alternate Universe, Historical, Family

#Octoberabble Day 9: Weightless

#IFA2024 #rubrikIFA2024: Ekspedisi

Jumlah Kata: 545

Bab 9: Pangeran Berkuda Putih

.

.

.

.

.

Yogyakarta, 1908.

.

Pernah dengar istilah pangeran berkuda putih? Pangeran idaman yang dengan gagahnya datang diiringi derap kuda yang gagah.

Dua cucu laki-laki Sultan Balakung tentunya juga perlu berlatih untuk menjadi pangeran seperti itu. Kuda identik dengan kecepatan, kegagahan, dan kebangsawanan. Meskipun Ais yang berumur enam belas tahun tidak tahu apa sesungguhnya tujuan orang belajar naik kuda jika tinggal di tengah pemukiman padat penduduk, dia tetap patuh mengikuti pelajaran berkuda bersama Duri. Seolah-olah mereka berdua adalah sepasang pangeran kembar dalam ekspedisi menjelajah negeri.

Ya! Tentu saja, ini adalah salah satu kelas yang bisa dijalani Ais bersama dengan adik kembarnya, dan mereka bisa sekalian menjelajah daerah-daerah hutan yang ada dalam wilayah Kesultanan Yogyakarta. Duri tampak gugup ketika dibantu oleh pelatih menaiki kuda putihnya, sementara Ais sudah siap di atas kudanya sendiri.

"Ayo, Duri! Jangan takut! Bukankah ini sudah pelajaran kita yang kelima?"

Duri mengangguk dan mulai menghela kekangnya pelan-pelan. Kuda yang ditungganginya berjalan perlahan mendekati kuda putih Ais. Bunyi sepatu kuda yang beradu dengan tanah tanpa tergesa membuat Duri tenang. Dia mendongak sedikit ke dahan pohon di atas Ais dan tersenyum. Ada sosok primata besar yang mungkin tak kasat mata bagi orang kebanyakan, tapi Duri bisa melihatnya dengan jelas.

Ais menghela kekangnya sendiri dan membuat kudanya memimpin jalan di lajur setapak. Duri mengikuti di belakangnya, menatap kagum punggung abang kembarnya yang di matanya seolah memancarkan aura sejati seorang pangeran. Perlahan tapi pasti, Ais menambah kecepatan. Duri pun mengikuti, mengentakkan kekangnya untuk memacu sang kuda.

Sayangnya, entakan Duri barusan rupanya terlalu kencang karena fokusnya teralih sedikit. Kuda putih itu mendadak berlari karena merasa dipecut, bahkan melewati kuda putih di depannya dan terus berlari. Duri tak sempat berteriak kaget.

"Duri!" seru Ais panik.

Di belakang mereka, si pelatih juga berseru-seru, "Tarik kekangnya kuat-kuat!"

Sepertinya Duri juga panik dan kebingungan karena kuda itu terus saja berlari, berlari, berlari ….

Sampai pada satu detik yang krusial, seolah Duri baru saja tersadar dari sesuatu, dia menarik tali kekangnya kuat-kuat. Sentakan kuat yang mendadak membuat sang kuda meringkik dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Pegangan Duri terlepas dari kekang, untuk sepersekian detik tubuhnya terasa seperti melayang ….

"DURIIII!" Ais menjerit.

BRAKKK!

Duri jatuh ke sebelah kiri, lengannya menghantam tanah terlebih dahulu.

"A-akhh," erang Duri kesakitan.

Kuda putihnya meringkik gusar di dekatnya, seolah terganggu sesuatu. Ais beserta kudanya, serta si pelatih, telah tiba di situ. Si pelatih menenangkan kuda Duri dan Ais melompat turun.

"Duri!"

.

Pelajaran berkuda hari itu diakhiri lebih cepat karena sang Raden Mas yang lebih muda cedera.

"Duri, tadi ada apa?" Ais bertanya malam harinya, sambil mengganti kain bebat di lengan kiri si adik. Untungnya Duri hanya terluka gores, tidak ada cedera serius. "Mengapa khodam kita tidak menjagamu?"

"A-ada t-tawon." Duri menjawab sambil meringis menahan sakit, saat lukanya diolesi obat oleh Ais.

"Tawon?" Ais terbelalak. "Duri kena sengat?!"

Duri menggeleng-geleng. Dia menunjuk Ais. "T-tawonnya di d-dekat Ais."

"Hah?"

"M-mas Mawas s-sibuk dengan t-tawon di d-dekatmu."

Sosok penjaga spiritual berwujud kera besar itu memang mereka juluki Mas Mawas. Ais sudah keheranan, bagaimana mungkin khodam lincah itu bisa sampai membiarkan Duri terjatuh?

"Yang p-penting Ais t-tidak bentol-bentol d-disengat t-tawon," kekeh Duri.

"Astaga, Duri …." Ais mengacak-acak rambut adiknya. Niat hati ingin memeluk, tapi lengan Duri pasti baru sakit. "Besok-besok, kalau kita ekspedisi lagi, kau harus bilang padaku kalau ada tawon atau apa pun itu!"

.

.

.

.

.

Catatan Penulis:

Duo pangeran berkuda putih kita XD

Terima kasih sudah membaca!

[Dipublikasikan di Twitter 16 Juli 2024]

[21 Juli 2024]