Shinobi of Tempest
Bab 03 : Masakan Shion.
Keesokan harinya.
Naruto sudah ada di ruangan Rimuru dan duduk berdua, keduanya sedang berdiskusi mengenai yang mana yang akan jadi bawahan dari Naruto.
"Jadi Naruto, kau tertarik dengan yang mana?" tanya Rimuru yang saat ini dalam wujud Jelly(Slime).
Naruto hanya diam, ia nampaknya tidak terbiasa dengan wujud asli dari Rimuru. "Soal yang mana, menurutku yang mana saja asalkan mereka memang mau aku tidak masalah, karena jika mereka menjadi bawahanku secara terpaksa itu hanya akan membuat rasa canggung dan tidak nyaman."
"Kau benar, tapi bagaimana jika ternyata tidak ada yang mau jadi bawahanmu?" tanya Rimuru.
"Jika itu terjadi, maka ya sudahlahlah," jawab Naruto dengan pasrah.
Beberapa menit kemudian.
Tirai masuk terbuka, terlihatlah Ogre berambut merah datang dan berlutut di hadapan Rimuru."Soal diskusi kita malam itu, kami sepakat untuk menerima penawaran anda. Namun, dengan satu kondisi," ucap sang Ogre.
"Kondisi?" tanya Rimuru.
"Ya, saya bersedia menjadi bawahan anda. Akan tetapi, itu hanya sampai dendam kami terbalaskan, ketika kita mengalahkan Orc Lord, maka saat itulah–"
Sebelum Ogre berambut merah itu menyelesaikan perkataannya, Rimuru langsung mengatakan, "Kalian bebas melakukan apapun setelahnya."
Ogre berambut merah itu sedikit terkejut dan mengangguk, "Ya," ungkapnya.
"Baiklah. Namun, sebelum menjadi bawahanku, temanku tertarik dengan kalian, jadi ia berharap salah satu dari kalian mau jadi bawahannya. Tenang saja itu juga hanya sementara saja, sampai dendam kalian selesai. Iyakan Naruto?" ucap Rimuru sambil menatap Naruto.
Naruto yang mendengar pernyataan Rimuru Tempest, hanya tersenyum dan mengangguk sambil mengajukan jempolnya. Ogre berambut merah itu langsung memperhatikan Naruto dengan dalam, ia kemudian ingat kalau ia, kakek guru dan adiknya dikalahkan dengan mudah oleh sosok berambut pirang itu.
"Aku mengerti, tapi sebelum itu, bolehkah aku tahu siapakah anda sebenarnya? Apakah anda seorang Saint dan kenapa anda bisa tinggal di sini?" tanya Ogre berambut merah itu dengan penuh penasaran.
Naruto yang mendengar pertanyaan itu, ia hanya menatap si Ogre merah itu lalu menjawab, "Aku adalah seorang Pertapa dari gunung Myoboku, dan aku, tinggal di sini karena aku tidak punya rumah di luar gunung; lalu, saya merasa mungkin hanya tempat ini yang menerimaku dengan baik," ungkap lembut Naruto.
Rimuru yang mendengar asal-usul dar Naruto langsung bertanya dengan Pertapa agung mengenai lokasi pasti dari Gunung Myoboku. Namun, sayangnya, karena gunung itu, tidak berasal dari dunia Kardinal. Pertapa agung pun menjawab.
" Jawab! Meskipun saya maha tahu, saya tidak pernah mendengar tempat itu sama sekali. Jadi kemungkinan dia sedang menyembunyikan identitas aslinya," jawab Pertapa Agung.
Rimuru hanya diam dan melirik Naruto setelah mendengar perkataan dari Prtapa Agung. Sementara Ogre berambut merah itu, ia terlihat menatap mata dari Naruto dan bertanya.
"Memangnya kau ingin dilayani oleh siapa?" tanya Ogre berambut merah itu.
"Soal itu, kau diskusikan saja dengan teman-temanmu, biar mereka yang memutuskan siapa yang mau menjadi bawahanku, walaupun hanya sementara, aku hanya ingin dilayani oleh orang yang memang mau melayaniku," jawab Naruto sambil tersenyum ke arah Ogre itu.
"Baiklah, aku akan mencoba berdiskusi dengan keluargaku," ucap Ogre merah itu sambil berbalik pergi untuk berdiskusi dengan Ogre lainnya.
"Kenapa, kau tidak mempermudahnya saja? Kau membuatnya kebingungan untuk menentukan siapa yang akan ia izinkan untuk menjadi bawahanmu," tanya Rimuru dengan tatapan datar dan saat ini ia kembali menggunakan wujud humanoidnya.
Naruto, ia nampak menatap langit-langit tenda dari Rimuru. Tatapan kesepian terlihat jelas dari wajah Uzumaki Naruto yang katanya adalah seorang Sage.
"Aku sebenarnya hanya ingin punya teman, hal yang paling menakutkan adalah rasa kesepian yang aku rasakan saat ini," ungkap Naruto dengan nada rendah dan dari kata-kata itu terpancar perasan takut akan kesendirian.
"Ah, tapi kau tak usah khawatir, selama kau tinggal di sini, kau tak akan pernah sendirian lagi," ungkap Rimuru sambil menepuk punggung dari Naruto.
"Ahh.. terima kasih." Ucap Naruto.
Walau beda ras, setidaknya dia bisa berteman dengan ras lain selain manusia. Sebab dia pernah berteman dengan siluman seperti Kyuubi.
Tak lama kemudian, keluarga Ogre memasuki tenda, mulai dari Ogre merah yang berbadan kekar dengan armor samurai berwarna merah pula, lalu kakek tua pendek berjenggot, ia juga membawa katana dan mengenakan kimono putih, lalu Ogre muda berambut biru dengan satu tanduk di dahi. Lalu ada pria kekar besar berambut hitam dengan dua tanduk pendek. Ogre wanita berambut ungu dengan satu tanduk besar di dahi, terakhir Ogre berambut merah muda dengan dua tanduk di dahi.
Mereka berenam berlutut di hadapan Rimuru dan Naruto. "Kami telah tiba, kami berenam sudah bersedia menjadi bawahan anda Rimuru-dono. Selain itu, adik saya mengatakan kalau ia tertarik menjadi bawahan teman anda," ucap pelan Ogre berambut merah.
"Kalau begitu baiklah, aku menerima kalian. Bagaimana denganmu, Naruto?" tanya Rimuru.
"Aku menerima adik dari Ogre merah," ucap Naruto sambil menatap datar barisan Ogre yang ada.
"Kalau begitu, sekarang aku akan memberikan kalian nama sebagai tanda kalau kalian adalah bawahanku," ucap Rimuru dengan nada ceria.
"Nama?!" kaget para Ogre, karena memberikan nama pada mereka itu merupakan pertaruhan besar, karena akan menguras banyak energi sihir. Bahkan dikatakan manusia yang sudah menjadi petualang Rank A sekalipun hanya sanggup memberikan nama pada satu Ogre saja.
Naruto yang tahu soal pentingnya pemberian nama pada monster dari ingatan Ogre merah, jadi sedikit terdiam beberapa detik. Hal ini dikarenakan energi yang ada ditubuhnya berbeda dengan energi makhluk dari dunia baru. Nauto khawatr chakra yang ia miliki tidak cocok dalam ritual penamaan, dan kalaupun bisa digunakan, ia tidak tahu akan makan berapa banyak energi, karena perbedaan jenis energi juga mungkin mempengaruhi jumlah konsumsi chakra, karena ada kemungkinan ketidak cocokan energi.
"Kenapa? Apakah kalian meragukan kemampuanku? Aku sudah memberinama banyak monster sekaligus, jika hanya 5 orang, aku rasa bukan masalah," ungkap Rimuru.
"Tapi bagaimana dengan teman tuan? Aku tidak mau diberinama jika ada satu yang tidak mendapatkan nama," tanggap Ogre berambut merah.
Naruto langsung menatap mereka. "Bagaimana jika aku, mencobanya terlebih dahulu, jika berhasil maka Rimuru akan melakukan sisanya; jika gagal maka aku akan mengurungkan niatku untuk menjadikan adikmu sebagai bawahanku, karena aku merasa tidak pantas menjadi atasan, jika aku tidak bisa memberikan nama berharga pada bawahanku."
"Kalau begitu cobalah," pinta Ogre berambut merah.
Naruto pun berjalan mendekati gadis Ogre berambut pink itu dan berkata, "Rambut merah muda, tatapan tegas dan berwibawa, wajah yang cantik dan manis. Maka namamu adalah Hakurei Reika," uca lembut Naruto.
Seketika itu juga, chakra dari tubuh Naruto keluar hingga setengahnya dan memasuki tubuh tubuh Ogre pink itu. Dan terlihat gadis Ogre yang diberi nama oleh Naruto langsung bersinar tubuhnya. seketika gadis itu mengerang kesakitan, karena proses evolusi paksa terjadi karena kekuatan chakra Ashura yang besar yang berhubungan dengan kehidupan dan energi elemen Yin dan Yang, yang sangat kuat. Ogre wanita itu tubuhnya mulai berevolusi.
"Hime!" seru para Ogre.
"Aaaaaarrrrrg!!!" erangan gadis Ogre berambut merah muda itu kulitnya muli berubah warna, tinggi badannya juga berubah, ukuran tanduk yang mengecil dan terlihat gadis itu semakin mirip manusia dan akhirnya evolusi menjadi Kijin selesai hanya dalam satu hari. gadis Ogre itu jatuh pingsan.
"Adik kecil, tak aku sangka dia langsung berevolusi ketika diberi nama. Hei, siapa kau sebenarnya, kenapa adikku langsung seperti ini ketika menerima nama darimu?" tanya Ogre berambut merah itu, karena seingatnya, proses evolusi tidak akan seccepat ini dan semenyakitkan itu.
Naruto hanya diam, karena ia juga bigung mau menjelaskan apa, ia hanya mengaktifkan Rinnegan dan melihat kondisi fisik Reika, "Sepertinya pancaran energinya sudah mulai stabil, aku rasa ia akan bangun dalam 5 menit lagi. Soal kenapa dia seperti itu, aku juga tidak tahu kenapa, karena ini pertama kalinya untukku menamai monster."
Penjelasan dari Naruto tentu membuat kaget semua monster yang hadir di sana. Namun, Rimuru dengan cepat mengambil alih. "Ah, aku rasa sudah saatnya aku memberikan nama pada sisanya!" seru Rimuru.
Dan akhirnya Ogre berambut merah diberinama Benimaru, rambut biru diberinama Souei, Kakek tua diberinama Hakuro dan terakhir, gadis berambut ungu diberinama Shion.
Mereka mendapatkan energi tambahan. Akan tetapi, tidak ada yang langsung berevolusi, karena memang pada dasarnya Evolusi hanya akan terjadi ketika si penerima nama sedang tertidur agar tidak menyakitkan.
"Ugh, aku jadi sedikit merasa lelah," gumam pelan Rimuru, hal ini karena ia kehilangan banyak energi hingga hanya tersisa seperempat energinya saja.
Naruto yang melihat itu langsung menepuk bahu Rimuru dan mentransfer sedikit chakra yang ia miliki untuk memulihkan tenaga Rimuru. Rimuru hanya tersenyum dan kembali ke bentuk Slimenya untuk menghemat energi.
"Terima kasih Naruto, ah iya aku serahkan Reika sebagai tanggung jawabmu, kau harus melatih dan membuatnya bekerja untuk kemajuan desa," ucap Rimuru.
"Selama tak ada pertentangan dari pihak keluarga yang bersangkutan, aku tidak masalah," ungkap Naruto.
"Benimaru, bagaimana? Apa kau setuju kalau adikmu tinggal dan dilatih oleh temanku?" tanya Rimuru.
"Jika hanya sekedar pelatihan dan perintah kerja, aku tidak masalah. Namun, aku agak ragu untuk membiarkan adikku tinggal bersama seorang pria yang belum aku kenal," ucap Benimaru.
"Itulah katanya," ucap Rimuru.
"Jika begitu aku pamit dan katakan pada Reika-san ketika ia bangun nanti. Aku menunggunya di perkebunan," ucap pelan Naruto,
"Dimengerti," ucap Benimaru, "Rimuru-sama, aku, Souei, Shion, dan, kakek Hakurou beserta Kurobe, kami izin pamit membawa adik saya Reika untuk beristirahat.
"Diterima," ucap Rimuru, sambil memelarkan bagian tubuhnya dan membentuknya seperti tangan kecil dan melambaikannya.
Setelahnya Lima Ogre pergi membawa satu Kijin kembali ke perkemahan mereka. Sementara itu Rimuru merenung mengenai energi asing yang Naruto berikan padanya.
"Pertapa Agung. Energi yang Naruto berikan terasa berbeda daripada yang kita punya. Apa kau tahu energi apa ini?" tanya Rimuru.
"Untuk saat ini saya belum menemukan sesuatu yang mirip dengan yang Naruto punya. Namun, jika anda berkenan, saya akan menyimpan sisa-sisa energi yang belum dikonversi ke bentuk Masouku(Jika saya salah menulisnya tolong dikoreksi) untuk dianalisa." ucap sang Skill Pertapa.
"Tentu, tolong analisa, siapa tahu energi itu sangat berguna!" tanggap Rimuru melalui pikiran atau batinnya.
Singkat cerita.
Benimaru, Souei, Hakurou dan Kurobe beserta Shion, akhirnya menyusul Reika dan mereka sudah berevolusi menjadi Kijin yang sempurna, tubuh mereka menyusut dan lebih mirip manusia. Namun, energi Masokule mereka meningkat tajam.
Naruto terlihat membantu para Goblin dalam pertanian dengan menggunakan energi alam atau Senjutsu milik Hashirama, ia mempercepat pertumbuhan tanaman yang di tanam dan meningkatkan kualitas dari tanaman, mulai dari jumlah buah, kesuburan tanah, kekuatan akar, nutrisi dan rasa yang terkandung di dalamnya menjad puluhan kali lebih besar dari pada saat ditanam dengan cara normal.
Naruto yang menyadari kalau Reika mewarisi chakra dari nama yang ia berikan, Naruto dengan seringai tipis langsung mengajak Reika untuk berlatih beramanya, ia dengan semangat mengajari tentang chakra dan apapun yang ia tahu dari ingatannya dan orang-orang yang ada di dalam dirinya.
Mulai dari : Ninjutsu, Genjutsu, Taijutsu, Fuinjutsu, semua diajarkan oleh Naruto dari dasarnya dan hanya Reika yang ia ajari karena memang hanya Reika yang bisa melakukannya.
Naruto kemudian mengajari Reika mengenai jutsu Katon karena menurutnya Reika memiliki chakra tipe api yang kuat. Naruto meminta Itachi Uchiha mengambil alih tubuhnya agar bisa mengajari Reika dengan baik.
" Katon, Goukakyu no jutsu!" seru Itachi yang mengendalikan tubuh Naruto sambil memainkan segel tangannya dan menarik nafas, lalu mengubah chakranya menjadi api dan satu hembusan nafas keluarlah, bola api super panas yang membakar apapun di hadapannya dan, saat bola api dengan diameter 5 meter itu menabrak tebing ledakan api melubangi tebing itu dan meninggalkan jejak panas yang membuat tanah dan bebatuan di sekitarnya berwarna merah. "Hem, perasaan jutsu apiku tidak sekuat itu... apa mungkin ini karena menggunakan chakra dari Naruto?" batin Itachi yang kaget.
"Hem, memang benar teknik ini terlihat unik, tapi apa bedanya dengan sihir? Dan juga menurutku sihir lebih praktis karena tidak memerlukan gerakan tangan yang rumit," ucap Reika yang penasaran kenapa ia harus mempelajari ninjutsu jika ia masih punya sihir.
Itachi yang mendengar itu langsung memejamkan mata, dan dalam alam bawah sadarnya ia melihat: Naruto, Minato, Kushina, Zabuza, Haku, Nagato, Konan dan Ashura ada di sana.
"Jadi itu yang dia tanyakan, apa yang harus kita jawab?" tanya Itachi.
"Itachi... bukankah kau lebih cerdas dariku, jadi kenapa kau menanyakan itu?" tanya Naruto dan Ashura.
"Di sini bukan hanya ada kalian berdua," tanggap Itachi sambil menyentil dahi Naruto seperti saat ia menyentil dahi Sasuke.
Di realita.
"Naruto-sama?" gumam pelan Reika yang melihat Naruto memejamkan mata dalam waktu lama dan seketika itu Naruto membuka mata. Namun, kali ini bukan Itachi lagi melainkan Zabuza yang mengambil alih.
"Heh, jika kau memang berpikir sihir lebih baik. Kenapa tidak kita lihat dan buktikan saja?" tanya Zabuza(Naruto) sambil menatap Reika(Kijin berambut merah muda adik dari Benimaru).
Reika menatap Naruto (atau lebih tepatnya, Zabuza yang mengendalikan tubuh Naruto) dengan penuh kebingungan dan sedikit ketegangan. Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang sangat kuat dan berpengalaman, meski dalam tubuh Naruto. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk menguji dirinya sendiri mengalahkan rasa ragu tersebut.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan menunjukkan padamu apa yang bisa dilakukan sihirku, tapi, kenapa aku merasa kalau anda terlihat sangat berbeda Naruto-sama?" ucap Reika, sambil bertanya mengenai perubahan cara bicara Naruto.
Zabuza(Naruto), dengan ekspresi dingin yang sudah menjadi ciri khasnya, tersenyum samar. "Tunjukkan saja, apa yang kau bisa, Reika. Tapi ingat, ini bukan sekadar pertarungan kekuatan. Ini tentang pemahaman dan kontrol."
Reika menarik napas dalam-dalam dan mulai memusatkan energinya. Ia mengangkat tangannya ke depan, dan dengan gerakan halus, ia mulai merapalkan mantra. Dalam sekejap, udara di sekitarnya mulai bergetar, dan percikan api hitam mulai muncul di udara, semakin membesar hingga membentuk lingkaran api yang mengelilinginya. Dengan satu gerakan tangan, Reika mengarahkan lingkaran api itu ke arah Zabuza dengan kecepatan tinggi.
Zabuza (dalam tubuh Naruto) hanya berdiri di tempatnya, mengamati serangan itu dengan mata tajam. Tepat sebelum lingkaran api itu mencapai dirinya, dia membentuk segel tangan dengan cepat dan mengucapkan, "Suiton: Suijinheki! " (Teknik Dinding Air).
Tiba-tiba, sebuah dinding air yang tinggi dan kokoh muncul di depannya, menahan serangan api Reika. Ketika api bertemu dengan air, suara desisan keras terdengar saat keduanya bertarung untuk mendominasi. Asap tebal membubung ke udara, menutupi pandangan Reika untuk sesaat.
Namun, sebelum Reika sempat bereaksi, Zabuza sudah berada di belakangnya, dengan Kubikiribōchō—pedang besar yang sering ia gunakan di masa hidupnya—di tangan. "Jangan terlalu fokus pada satu hal, itu akan menjadi kelemahanmu," bisik Zabuza di telinga Reika sebelum menghilang kembali ke posisi semula, seolah memberi peringatan.
Reika tersentak dan segera menyadari bahwa dalam dunia shinobi, serangan langsung bukanlah satu-satunya cara untuk menang. Ada banyak strategi dan taktik yang bisa digunakan, dan Zabuza baru saja menunjukkan salah satu kelemahannya. "Bagaimana bisa? Bukankah harusnya apiku bisa mengeringkan aliran sungai dalam satu kali hantam!"
Zabuza(Naruto), dengan nada suara yang lebih lembut dari sebelumnya, berkata, "Reika, kekuatan sihir yang kau tunjukan memang hebat, aku bahkan berpikir ketika kau bisa menggunakan sihir maka kau tak perlu lagi belajar ninjutsu dikarenakan penggunaan Ninjutsu lebih rumit. Alasan kau kalah bukan karena aku user ninjutsu atau sihir, tapi karena kau kurang pengalaman. Dengan ini aku mengakui, sihir lebih baik."
Reika terdiam, lalu setelah beberapa detik kemudian, ia menatap ke arah Naruto yang masih mengenakan kepribadian Zabuza dan mengatakan. "Tapi inti pertanyaanku bukan itu tahu."
Naruto mengambil alih kembali tubuhnya, wajahnya terlihat lebih hangat dan ramah dibandingkan Zabuza. Setelahnya ia menjelaskan apa yang ingin Reika ketahui, "Apimu memang berhasil menembus pertahanan air milikku, tapi yang kau hancurkan tadi hanyalah bunshin atau bayangan air, sementara aku yang asli bersembunyi di balik kabut yang tercipta dari benturan sihirmu dan jutsu airku."
Reika, ia nampak sedikit terkejut mendengar penjelasan detail dari Naruto, "Tunggu, bayangan air? Kalian terliat begitu mirip, bagaimana bisa itu disebut bayangan air?" tanya Reika, karena seingatnya sihir air tidak bisa digunakan untuk kloning.
"Apa maksudmu, semua bunshin tingkat tinggi itu akan selalu mirip dengan penggunanya mau dari unsur apapun dia diciptakan. Itulah ninjutsu," ucap Naruto menunjukkan variasi lain bunshin lain yang bisa ia lakukan, yaitu Mokuton bunshin (Klon kayu) . terlihat kayu keluar dari tubuh Naruto memisahkan diri dan membentuk dirinya menjadi seperti Naruto dan warnanya dan tekstur tubuhnya yang awalnya seperti kayu perlahan menjadi seperti manusia.
"Apa lagi yang bisa dilakukan Ninjutsu?' tanya Reika mulai tertarik, karena alasan dia sebelumnya tidak tertarik dengan ninjutsu, dikarenakan Naruto meminta Itachi menunjukkan jutsu katon, terlebih dahulu yang mana dalam pengendalian elemen, sihir jauh lebih unggul. Namun, ketika Naruto yang diambil kendali oleh Zabuza menunjukkan trik yang belum bisa digunakan dengan sihir membuat Reika sedikit tertarik.
Naruto tersenyum dan menepuk kepala Reika dengan lembut. "Itulah semangat yang baik. Masih ada kawarimi dan Hengge, selain itu kau bisa berjalan diatas air dan bidang vertikal. Dan teknik pemanggilan untuk memanggil monster yang bisa membantu dalam pertarungan, lalu penyegelan menggunakan fuinjutsu dan lain sebagainya. Terlalu banyak yang ingin aku ajarkan padamu, sampai-sampai aku tidak tahu memulainya dari mana," ungkap Naruto sambil tersenyum hangat ke arah Reika.
Rimuru, yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, merasa lega melihat interaksi antara Naruto dan Reika. Ia menyadari bahwa Naruto, meskipun masih dibayangi oleh masa lalunya, mulai menemukan tempat dan perannya di dunia baru ini.
"Sepertinya kalian mulai saling memahami," kata Rimuru sambil melompat mendekati mereka.
Naruto mengangguk. "Ya, aku merasa bahwa dunia ini mungkin memang memberi kita kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan kita di masa lalu."
Reika, yang sekarang lebih bersemangat, mengucapkan terima kasih kepada Naruto dan Rimuru, sebelum kembali ke kelompok Ogrenya untuk melaporkan apa yang telah terjadi.
Rimuru tersenyum melihat hal itu dan berkata, "Kau berhasil dengan baik, Naruto. Aku yakin, bersama-sama, kita bisa membawa perubahan besar di dunia ini."
Naruto hanya mengangguk dan menatap langit, merasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Meski masih ada banyak hal yang harus ia hadapi, setidaknya untuk saat ini, ia mulai merasa bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan ini. Dunia ini, meski berbeda, memberikan harapan baru bagi Naruto untuk terus berjuang dan menemukan kembali dirinya yang telah hilang.
"Ah, Naruto-sama, Rimuru-sama saya pergi dulu, ada pekerjaan yang harus saya lakukan!" seru Reika sambil membungkuk dan pergi.
"Sepertinya tuan putri kami sangat menyukaimu," ucap Shion, sambil menggendong Rimuru yang dalam bentuk Slime birunya.
Naruto yang mendengar itu langsung bertanya pada Shion, "Apakah itu buruk?"
"Tidak, hanya saja mungkin Benimaru akan sulit menerima kalau Reika jatuh cinta pada anda, Naruto-dono," tanggap Shion lagi.
"Apa benar begitu?" tanya Naruto lagi.
"Aku rasa kau tak usah memikirkan apa yang Shion katakan, dan sebaiknya kita makan bersama, Shion akan memasak untuk kita," ajak Rimuru.
Naruto hanya mengangguk mendengarnya dan pergi membuntuti Rimuru dan Shion dari belakang, ia juga nampak melamun sesekali karena kadang-kadang ia berbicara dengan kesadaran lain dari dirinya.
Sesampainya di ruang makan, terlihat ada Benimaru dan Hakuro beserta Shouei yang duduk di kursi menghadap meja makan yang berukuran panjang. Rimuru pun duduk di ujung dan diiringi oleh Naruto yang duduk di dekat Rimuru.
"Wah-wah, ternyata, Rimuru- sama dan Naruto- dono," sapa Benimaru dibarengi Souei yang menundukkan kepala beberapa detik menyambut kedatangan Naruto dan Rimuru.
"Apa, kalian ingin makan?" tanya Hakurou sambil tersenyum.
"Ya, katanya Shion sudah memasak sesuatu," tanggap Rimuru.
Mendengar kalau masakan yang ada merupakan masakan dari Shion, Benimaru, Souei dan Hakurou langsung pucat, mereka bertiga nampaknya tidak ingin makan makanan buatan Shion.
Naruto yang peka akan emosi negatif orang di sekitarnya dapat merasakan kalau ketiga Kijin itu memancarkan perasaan takut akan sesuatu.
"Bagaimana kalau kalian ikut makan?" tanya Rimuru.
Seketika itu juga Benimaru dan Hakuro berdalih sebisa mungkin memasang wajah tersenyum ke arah Rimuru dan Naruto, "Ahahaha... aku rasa aku cukup dengan tehku saja," ucap pelan Hakuro
"U-untuk saat ini, aku masih kenyang," tambah Benimaru sambil menggaruk kepala belakangnya.
Naruto tahu mereka berbohong hanya dari pancaran emosi dan ekspresi wajah mereka yang dibuat-buat, hanya saja Naruto tetap diam. Sementara itu Souei langsung berdiri, "Saya... akan berkeliling desa!" seru Souei membuat bayangan dirinya dalam jumlah banyak dan berpencar.
"?????" Naruto kaget melihat Shouei bisa menggunakan bunshin, "Bukannya Reika bilang kalau sihir tidak bisa digunakan untuk membuat bunshin? Apa mungkin aku dihibur olehnya karena kasihan akan teknikku yang tidak sepraktis sihir?" batin Naruto yang baru saja melihat kemampuan Souei.
"Hemm..." Rimuru nampak kaget dan bingung dan menatap ke arah Benimaru yang terus mengalihkan pandangan.
"Kalau begitu, aku akan menghidangkannya," ucap Shion sambil membungkuk dan pamit.
Rimuru mulai berpikir kalau ada yang aneh dengan reaksi Benimaru, Hakurou dan Souei ketika mendengar masakannya berasal dari Shion.
Tak lama setelah makanannya tiba. Nampak Rimuru langsung kaget dan panik melihat makanan yang diberikan ternyata mempunyai tampilan yang tak enak dipandang, bahkan ia sampai menatap ke arah Benimaru yang berkeringat dingin.
"Oi jangan alihkan pandanganmu sialan!" batin Rimuru, "Bahkan kakek itu, juga menyembunyikan keberadaannya?" batin Rimuru yang tak percaya para Kijin itu membiarkannya memakan sesuatu yang tidak layak.
"Mau bagaimana lagi, bertahanlah Rimuru- sama, anggap saja ini latihan," batin Hakurou.
RImuru kemudian menatap Naruto yang hanya menatap makanannya. Naruto nampak sedang berdiskusi dengan kesadaran lain yang ia miliki terutama ayah dan ibunya.
"Naruto. Oi, Naruto!" panggil Rimuru, ia berharap kalau Naruto akan menyelamatkannya kali ini.
Setelah berdiskusi panjang lebar dengan kesadaran lainnya, Naruto kembali membuka mata dan menatap Shion. "Apa kau benar-benar berpikir kalau aku dan Rimuru akan memakan sampah ini?!"
Rimuru langsung membiru mendengarnya. "Woi Naruto!" seru Rimuru yang kaget dengan komentar pedas Naruto. Bahkan, Benimaru dan Hakurou nampak syok mendengar komentar jujur dari Naruto.
"Apa katamu?!" seru Shion yang amarahnya mulai naik karena masakannya dibilang sampah oleh Naruto.
"Sesuatu yang kau hidangkan ini bukanlah makanan manusia ataupun makhluk normal, yang tampilannya semenjijikan ini biasanya hanya disajikan untuk PAKAN BABI!" balas Naruto dengan nada tinggi.
Wuuuuusssss
Seketik Atmospere di sekitar dapur menjadi sangat dingin dan mencekam, bahkan Gobuta yang baru masuk untuk istirahat dan makan juga kaget dan mematung dipintu masuk karena aura kematian dan tatapan membunuh Shion.
"Na-Naruto cepat minta maaf sebelum semuanya menjadi lebih buruk!" tegur Rimuru yang khawatir akan keselamatan Naruto dan juga tentunya nasib barang-barang berharga di ruang makan juga, karena jika Shion mengamuk, maka mungkin semuanya akan habis.
"Minta maaf? Aku tidak salah sama sekali jadi untuk apa aku meminta maaf. Dan Shion, sebagai Asistent kau harusnya belajar dengan lebih baik, jika makanan yang kau hidangkan seperti ini, jangankan Rimuru. Babi liar pun tidak sudi memakannya," tambah Naruto.
Rimuru makin panik, "Huaaaa, habis sudah," batin Rimuru yang melihat Shion memancarkan hawa membunuh yang semakin kuat.
"Oleh karena itu, aku akan mengajarimu memasak agar kau tidak mempermalukan Rimuru- sama, di depan umum!" tegas Naruto yang berdiri dan nampak aura yang Naruto pancarkan berubah, tatapannya penuh dengan percaya diri dan yah kali ini Kushina sang ibu yang mengambil alih.
Bersambung
