A/N: *lirik-lirik * Eeh? Benda ini berapa minggu ditelantarin, ya? Maaaf! Maaaf banget jadinya telat! QAQ Dan s-siapa yang bilang Arr-Kansas discontinue? Siapa bilaaangg? QAQ Demi TUU-HAAAN, saya masih ngetik fic iniiihh QAQ Ini buktinya saya update, walaupun gila-bujubuneng itu telatnya berapa minggu woiiii.

Dan sebelumnya maaf sekali ya kalo chapter kali ini keliatan nyampah banget :'D Saya sudah berusaha semampu saya #gulingguling Dan maaf ini kalo ini pendek, nulisnya juga buru-buru QAQ

Dislaimer : Hetalia punya Hidekaz Himaruya. Dan walaupun saya butuh duit buat beli Kopiko 78 Degrees di kantin kampus, uang dari pembuatan fic ini juga gak bakal datang. Dan mirisnya saya membuat ini tanpa didasari keuntungan materiil.

Warn : Arkansas. Bunny-plot. Adegan buka-bukaan (serius!). Ledakan. New Chara! Hati-hati. Dia... dia... diaaaaa.

PS : FHI suram? Ah, cuma gosip :3


Arr-Kansas

Chapter II

by:

Raputopu

.

Hetalia Axis Powers

Disclaimer: Hidekaz Himaruya


Berlin, Germany

Mesin mobil meraung nyaring. Tembakan-tembakan sporadis sudah tak terdengar tetapi dua mobil itu masih mengejar.

Gilbert memutar kepalanya, melihat ke arah dua mobil yang ngebut beriringan untuk memburu mereka.

"Tunggu. Ada yang aneh..." desis Gilbert. Mata dengan iris merahnya mengerut curiga. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sangat tidak beres.

Tapi dia masih belum yakin.

"Francis, hentikan mobilnya." kata Gilbert. Sepasang mata dengan lautan rubi itu masih memandang tajam ke belakang dengan mimik serius. Dia tengah memikirkan sesuatu sekarang. Dan hal itu terus mengusiknya sejak tadi. Namun, dia masih belum yakin dengan kepastiannya. Di satu sisi dia, sangat yakin dengan argumennya yang di luar nalar ini. Dan jika itu memang benar, Gilbert harus menghentikan mobil ini sekarang ketimbang buang-buang bensin seperti ini.

"Apa kau gila?!" jerit Francis. Sepasang manik biru itu membeliak besar.

Jeritan Antonio dan Natalia di jok belakang juga cukup mengusik.

"Menghentikan mobil ini?! Gilbert, seumur-umur aku sudah berusaha kebal dengan rencana sintingmu, tapi untuk yang kali ini aku menolak!" tandas Natalia. Wanita berambut perak dengan pita berwarna putih manis di kepalanya itu melipat tangan dengan wajah kesal.

"Gilbert. Kalau mau mati jangan ngajak-ngajak. Aku belum siap." lirih Antonio. Pemuda berdarah Spanyo itu mengintip dari balik kamera dengan wajah was-was.

Gilbert mengerang frustasi. Mereka ini...

"Kubilang hentikan mobilnya sekarang!" perintah Gilbert—sang leader.

"Tidak!" bantah Francis mentah-mentah. Dia mengibaskan kepalanya kuat-kuat hingga helaian rambut blonde ikal itu bergoyang. "Untuk yang kali ini tak bisa!"

"Hentikan mobil ini!" bentak Gilbert dengan wajah tak sabaran.

"Gilbert! Sadar! Di belakang sana mereka sedang memburu kita!" Natalia menjerit frustasi. Dan suaranya bisa terdengar mengerikan jika sedang marah. Jujur, dia sangat gemas dengan kelakuan Gilbert yang nyeleneh dalam situasi genting seperti ini.

Tapi, Gilbert tetap tak peduli. "Aku bilang berhenti!"

Tiba-tiba Natalia langsung berbicara pada kamera Antonio yang tengah menyala di sebelahnya dengan mimik wajah serius; seperti pembawa acara infoteiment.

Lensa bening kamera Antonio memantulkan bayangan Natalia yang mulai mengadakan liputan mendadak. Padahal Antonio hanya sedang menyalakan kameranya untuk mengetes bermain dengan fokus.

"Pemirsa, bisa dilihat leader kami sepertinya habis dicuci otaknya. Dia terus-terusan memaksa untuk menghentikan mobil ini sementara kami diburu oleh penjahat di belakang. Apakah ini ada hubungannya dengan konspirasi yang sedang marak akhir-akhir ini? Ataukah ini hanya sebatas cari sensasi belaka? Mari kita tanyakan pada dua mobil yang sedang mengejar kita." Natalia kemudian menuntun kamera Antonio untuk menyorot kaca belakang, dimana mobil-mobil itu belum menurunkan kecepatan mereka sedikitpun.

"Hoi, orang belakang. Bisakah kalian diam dulu?" gerutu Francis yang melotot lewat kaca spion.

"KUBILANG BERHENTI!" teriak Gilbert. Jengah karena terus-terusan diabaikan.

"TIDAK!" Francis balas berteriak.

Kesal karena terus-terusan ditolak Francis, Gilbert akhirnya turun tangan. Diterjangnya kursi jok Francis dan langsung menyambar stir kemudi. Diputarnya benda itu sembilan puluh derajat ke pinggir jalan.

Kaget karena mobil bergerak tak sesuai kendali, Francis langsung menginjak rem.

Mobil itu berhenti berdecit di depan sebuah toko sepatu yang masih belum buka, sementara di sepanjang teras tercetak jelas jejak ban yang direm mendadak.

"Gilbert, apa yang—"

Kalimat Francis tercekat kala melihat mobil-mobil hitam yang awalnya mengejar mereka itu melintas begitu saja di jalanan. Sama sekali tak menurunkan kecepatan mereka ketika van berwarna maroon ini merubah arah haluan. Seolah-olah tak saling kenal dan melupakan serbuan peluru beberapa menit yang lalu. Wajahnya kebingungan dan mulutnya melongo begitu dua mobil mahal itu meninggalkan mereka begitu saja.

"M-mereka—" Francis tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena terlampau bingung. Jadi sejak tadi mobil-mobil tersebut sama sekali tak mengejar mereka? Tapi itu tidak mungkin! Kalau begitu apa maksud dari serangan peluru yang menghancurkan mobil mereka tadi?

Gilbert membalik tubuhnya yang berbalut seragam The NEWS agar bisa melihat Antonio dan Natalia yang duduk melongo di kursi belakang. Iris rubinya tersorot begitu tajam dan amat serius sehingga para sahabatnya juga diam tanpa suara. "Teman-teman—" Gilbert berbisik amat dalam. "—itu hanya jebakan."

Sebelum Antonio sempat memotong perkataan Gilbert yang membingungkan itu, Gilbert keburu bicara duluan.

"Kalian tahu darimana aku menyadari bahwa ini hanya jebakan?"

Ketiga temannya menggeleng berbarengan.

"Karena aku mengenal siapa saja pengemudi mobil-mobil itu." sahut Gilbert penuh kebanggaan.

Gilbert tersenyum sambil menaikkan alisnya. Membuat ketiga temannya makin bingung dibuatnya.

"Siapa?" tanya Antonio keheranan.

Gilbert tertawa setengah mendengus. "Kawan-kawan, mereka adalah mantan anak buah Elizaveta. Heracles Karpussi dan Sadiq Adnan."


'The NEWS'

Natalia Arlovskaya : Reporter of 'The NEWS'

Gilbert Beilschmidt : leader of 'The NEWS'

Antonio Fernandez Carriedo : Camera-man of 'The NEWS'

Francis Bonnefoy : Driver of 'The NEWS'

Airlangga Putra Brawijaya : Observator of 'The NEWS'


Brussel, Belgium

"Si Belanda itu belum mengunjungimu sejak kemarin." Rayan mencibir setelah menegak air putih sebelumnya. Ditatapnya Airlangga yang masih terduduk lesu di meja makan tanpa ekspresi yang berarti. Rayan tahu Airlangga masih bingung dengan jati dirinya. Masih tak mengenali sekelilingnya seperti dulu kala. Seperti bayi yang baru terlahir ke dunia, dia masih membutuhkan bimbingan. "Kurasa dia sudah lupa denganmu…"

Rayan membisikkan kalimat terakhir dengan nada berbahaya. Matanya berkilat penuh arti. Apapun yang terjadi, dia harus menghasut kakaknya agar tidak berdekat-dekatan dengan pemuda Eropa brengsek itu lagi. Kakaknya hanya boleh berada di sini. Dengannya.

"Si… Belanda?" Airlangga mengerutkan alisnya. Merasa asing dengan nama itu. "Belanda siapa?

Rayan menaikkan alisnya. Betapa puasnya hati Rayan ketika sang kakak justru sama sekali tak mengingat sosok si rambut kesetrum itu. Rayan berusaha menyembunyikan seringainya dengan merubah posisi tempat duduk.

Rayan tertawa renyah sambil mengibaskan tangannya di udara. "Ah, tidak, tidak. Dia bukan orang yang penting, kok. Dia cuma... kenalan."

Dan di sanalah senyum Rayan mulai mengembang.

Airlangga terpaku.

Sementara di satu sisi Airlangga masih sangat penasaran dengan sosok Belanda-Belanda yang Rayan ulas sejak kemarin. Belanda si brengsek. Belanda si kurang ajar. Belanda si tak tahu malu. Dan ungkapan-ungkapan jahat lainnya yang ia tujukan pada subyek yang tak Airlangga tahu identitasnya itu.

Rayan meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke puncak lemari kecil di bawah jendela. Ia berjalan menghampiri kakaknya kemudian menepuk-nepuk pelan pundak sang kakak penuh kelembutan.

"Sudahlah. Kau pasti kelelahan. Kau menghilang di tengah malam dan baru pulang pagi-pagi buta. Sebaiknya kau tidur sekarang."

"Aku—"

"Tidurlah."

Didukung dengan lelah fisik yang dialami Airlangga, akhirnya pemuda itu menyerah. Ia kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan lesu menuju kamar. Lagipula ini masih siang dan tidak ada pekerjaan berarti yang bisa dikerjakan

"Setelah kau bangun nanti aku akan mengembalikan ingatanmu lagi." teriak Rayan tepat setelah Airlangga menghilang di ujung tangga.

"Terserahmu saja—"

Barulah setelah Airlangga benar-benar menghilang dari pandangan, seulas seringai dari wajah tampan Rayan mengembang disusul tatapan tajamnya yang memandangi sisa-sisa kepergian Airlangga. Dia kemudian berkata pelan dengan nada dingin yang mencekam. "Ya, Airlangga. Aku akan mengembalikan ingatanmu. Dengan ingatan baru yang tak pernah kau alami sebelumnya."


Monte Carlo, Monaco

Roderich Edelstein adalah satu dari sekian pria terkaya di Monte-Carlo.

Dia adalah komposer handal yang sudah mengaransemen puluhan lagu klasik dengan versinya; yang menurut dia, jauh lebih sempurna. Dan hasilnya juga sesuai ekspetasi yang diidam-idamkannya selama ini. Karyanya diterima oleh seluruh dunia dengan sambutan meriah. Namanya terpampang mewah di deretan komposer ciamik Eropa. Kecintaannya pada musik membawanya pada kesuksesan besar yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya.

Roderich telah menjadi orang yang sukses di masanya.

Tetapi, sehebat-hebatnya sosok pria di mata dunia, makhluk penuh logika itu selalu kalah dengan wanita.

Untuk kasus ini, Roderich terjerat pada Elizaveta Hedervary.

Siang yang kala itu amat hening dan sunyi di teras belakang rumahnya, pelayannya datang membawa seorang wanita berambut cokelat dengan postur tegap.

Mata Roderich membulat dan seakan tak percaya dengan yang dilihatnya.

"Elizaveta?"

Elizaveta memberikan senyuman terbaiknya pada kekasihnya itu, disusul dengan sebuah pelukan hangat.

Roderich tergagap. Belum sempat berkata-kata.

"Kau... baru saja—"

Awalnya dia ingin bertanya mengenai kepulangan Elizaveta dari penjara yang jauh lebih cepat dari batas yang ditentukan, tetapi wanita itu lebih cepat memotong perkataannya yang belum selesai.

Elizaveta berkata dengan suara pelan dengan bunyi yang teredam.

"Roderich, bisakah kau ikut membantu dalam misi baruku?"


Barletta, Italy

Gedung kepolisian pagi itu menjadi ingar-bingar akibat kaburnya beberapa tahanan penjara yang paling ditakuti, disusul kematian seorang sipir dengan luka peluru di jidatnya. Beberapa polisi dikerahkan untuk turun langsung ke tempat kejadian untuk memburu si pelaku yang kemungkinan belum meninggalkan gedung. Bunyi derap kaki yang bergema di sepanjang koridor diiringi seru-seruan peringatan yang berkumandang, menjadi pemandangan mencekam pagi itu.

"Di ruang tahanan Kirkland!" seruan seorang polisi menggiring polisi lainnya untuk mengekori dia menuju sebuah ruangan tahanan.

Senjata-senjata berlaras panjang yang dibekali pada masing-masing anggota kepolisian juga sudah dikokang dan siap membidik target. Mereka berbelok dan berlarian menerobos pintu ruang tahanan Kirkland dengan cepat. Lovino Vargas menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika memasuki ruangan si sipir yang terbunuh, disusul dengan fakta bahwa tahanan Kirkland telah kabur dengan mulus.

"Mereka kabur." geram Lovino, marah.

Dia berlari menghampiri si wanita gemuk yang kini terkapar tanpa nyawa dengan mata membelalak dan tubuh yang mulai kaku. Dia memeriksa kalau-kalau para Kirkland itu meninggalkan barang atau bukti jejak yang bisa menjadi bahan penyelidikan. Dia memeriksa tangan, kaki, perut, bahkan wajah si korban untuk mengidentifikasi bagaimana para Kirkland ini membunuhnya.

Tidak ada luka fisik yang berarti.

Namun, tangannya berhenti mengutak-atik kepala korban ketika menyadari sesuatu; benda kecil hitam yang menyala-nyala di leher korban.

"I-ini kan—"

Mata hijau Lovino Vargas membelalak lebar ketika menyadari jenis benda berbahaya itu.

Bom waktu!

"TINGGALKAN RUANGAN INI!" raungnya pada seisi polisi di ruangan.

Dalam iris hijau Lovino, terpantul bayangan lampu merah kecil pada bom yang berhenti berkedip, disusul sebuah percikan api yang mulai merambat bagai petasan. Semuanya seolah-olah bergerak dalam gerakan lambat.

Sebelum Lovino sempat melarikan diri, ia melihat cahaya yang amat terang dari tubuh si wanita.

DUUUAARR!

Sedetik kemudian tubuh penuh lemak itu meledak, begitu dahsyatnya sampai-sampai seluruh benda di dalam ruangan terlempar ke dinding diiringi bunyi dinding yang retak dan guncangan besar pada lantai. Hingga tubuh Lovino terlempar ke dinding dengan sangat keras.

Selanjutnya, terdengar bunyi-bunyian ledakan keras yang ramai bersahut-sahutan dari sisi gedung kepolisian yang lain. Kedengarannya seperti ledakan bom berkekuatan tinggi. Dan dari asal bunyinya bisa ditebak jika bom itu tersebar di seluruh penjuru gedung. Kirkland telah meninggalkan gedung kepolisian dengan puluhan bom yang tersemat di setiap ruangan. Mereka berlarian keluar gedung menuju sebuah mobil hitam yang sudah menunggu di pinggir jalan dengan kaca yang sepenuhnya tertutup rapat.

Connor Kirkland sudah duduk di dalamnya dengan senyuman angkuh, yang biasa ia perlihatkan pada semua orang.

"Kemana tujuan setelah ini?" tanyanya pada seluruh saudara-saudaranya.

Arthur menurunkan topi fedora-nya dan berkata dengan suara yakin dan mata penuh semangat membara.

"Arkansas, gentleman. Arkansas—jika kau mengerti maskudku."


Berlin, Germany

"Itu tidak masuk akal! Heracles dan Sadiq itu adalah musuh kita dan dia berkali-kali berusaha membunuh kita! Apa kau lupa siapa yang menculik Airlangga pertama kali?" Natalia membantah. Suaranya terdengar keras ketika sedang protes seperti ini.

Ya. Natalia ingat betul kejadian epik beberapa tahun lalu. Satu hal yang membawa mereka pada sebuah perjalanan panjang penuh intrik di Monte Carlo. Semua itu bermula semata-mata karena Airlangga diculik oleh kedua orang itu; dengan alasan, Airlangga menjadi saksi mata aksi pembunuhan mereka di hotel Tautermann, Austria. Dan berkali-kali pula kedua orang itu kedapatan tengah memburu The NEWS dengan masing-masing pistol dan puluhan anak buah berpakaian hitam. Beruntung para kru The NEWS bisa menghindar dan malah menjadikan aksi pengejaran itu sebagai bahan berita mereka. Bisa dibilang, kedua orang itu adalah kaki-tangan Elizaveta Hedervary, sang pemimpin organisasi penjualan senjata illegal di Eropa, dan mereka selalu diberikan kepercayaan menjadi pemimpin sub-kelompok untuk memburu musuh.

"Nat. Jika dia memang berniat membunuh kita sejak tadi, mereka pasti mengarahkan pistol-pistol itu ke kursi jok kita, bukan malah ke arah spion tengah. Apa kalian tidak sadar jika sejak tadi yang menjadi sasaran adalah ruang di antara aku dan Francis? Mereka berusaha agar peluru-peluru itu tidak mengenai kita."

"Itu alasan paling bodoh yang pernah kudengar…" gerutu Natalia sambil menyisir rambut panjangnya dengan jari.

"Aku tetap tidak mengerti, Gil..." desah Antonio. Menyerah dengan thesis Gilbert.

"Sama. Aku juga." Francis menyusul beberapa saat kemudian. Tangannya mengacak rambut ikal pirang sebahu itu, frustasi. "Yang kutahu, mereka sudah menembakan timah panas itu ke kanan dan kiri mobil ketika di persimpangan lampu merah. Intinya tidak alasan bagi mereka untuk melakukan penyerangan itu selain untuk membunuh kita." kata Francis, masih bersikeras dengan raut wajah tak senang.

"Aku yakin mereka tidak sedang dalam misi membunuh kita. Kalaupun memang sedang menjalankan misi seperti itu, memangnya atas dasar apa?" Gilbert masih berusaha meyakinkan teman-temannya. Dia sangat yakin penyerangan ini tidak didasari apa-apa. "Ketua mereka sudah tidak ada."

Jelas yang dimaksud 'ketua' di sini adalah Elizaveta Hedervary. Mantan reporter The NEWS yang kini justru menjadi pemimpin gembong penjualan senjata ilegal di Eropa.

"Karena kita sudah memenjarakan ketua mereka dan menghancurkan organisasi itu. Sudah jelas, kan?" Francis tetap ngotot.

"Sudahlah, aku lelah dengan omong-kosong ini," Natalia mengibaskan tangannya. Wanita itu kemudian membuka pintu mobil dan keluar untuk mencari udara segar.

Diperlakukan seperti itu jelas membuat Gilbert tersinggung.

"Terserahmu saja," desis Gilbert sinis. Dilihatnya wanita itu keluar dari mobil lalu menutup pintunya, kemudian melakukan peregangan kecil.

"Natalia benar, Gil. Ini terdengar tidak masuk akal. Dan bagaimana caranya kau mengetahui bahwa mereka tidak sedang memburu kita?" Antonio bertanya pelan.

"Karena mereka sudah terlepas dari organisasi milik Elizaveta. Aku tahu itu. Begitu pula Ned, dan yang lainnya. Mereka menerima hukuman penjara yang agak ringan dari Elizaveta, karena mereka cuma korban." kata Gilbert. Wajahnya sangat serius dan kata-katanya menjadi berat.

Gilbert kembali mendesah sebelum melanjutkan. "Sebelumnya mereka tidak tahu jika akan terjerumus ke organisasi itu. Tetapi Elizaveta menawarkan dengan iming-iming besar dan menghasut mereka. Mereka sudah dicap menjadi anggota sebelum mereka mengetahuinya. Dan hasilnya sudah jelas, mereka tak bisa kabur lagi."

"Darimana kau tahu hal itu?" Francis bertanya curiga. Rasanya aneh jika Gilbert bisa mengetahui sampai sejauh ini. Bahkan sampai ke sejarah gelap organisasi itu sekalipun.

"Yaa..." Gilbert menggantungkan kalimatnya. Merasa ragu-ragu untuk melanjutkan. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Karena aku sering menjenguk Elizaveta di bui." akunya kemudian dengan wajah malu. "Dan kami bercerita banyak."

Barulah setelah itu Antonio dan Francis tersenyum berbarengan sambil mengangguk-angguk mengerti.

"Hooo~ Masih ada yang dilanda cinta rupanya." Francis bersenandung dengan nada menggoda.

"Tak kusangka-sangka sahabat kita ini ternyata normal…"

Sebaliknya dengan Antonio dan Francis, albino itu langsung memasang tampang masam.

"Bukan cinta. Kami sahabat. Dan apa maksudmu dengan 'normal'? Apa sebelumnya aku abnormal? Yang abnormal itu Natalia." protes Gilbert. Tidak terima jika dikatakan demikian. Tentu masih dalam konteks bercandaan.

Ketegangan di antara mereka bertiga perlahan-lahan mereda dengan tawa dan ledekan. Seperti biasanya.

Sebelum Gilbert sempat bercerita lagi, terdengar suara Natalia dari luar mobil.

"Oi, kalian bertiga. Coba ke sini sebentar."

"Ada apa?" sahut Gilbert dari dalam mobil.

"Lihatlah ini." Natalia balas menyahut. Wajah wanita itu mendadak sangat serius. Matanya memandangi badan mobil di depannya dengan raut kebingungan.

Ketiga orang itu berpandangan curiga. Walaupun ogah-ogahan, orang-orang itu akhirnya keluar dari mobil dan menghampiri Natalia yang berkacak pinggang di sisi kanan mobil.

"Ada apa, sih?" tanya Gilbert. Meminta pertanggungjawaban Natalia yang sudah memanggil mereka keluar mobil.

"Coba lihat ini." Natalia menunjuk takut-takut pada badan mobil yang dipenuhi lubang bekas tembakan peluru. Dia terlihat ragu dan sangat kebingungan.

Didasari rasa bingung, Gilbert akhirnya mengikuti arah telunjuk Natalia yang menuju badan mobil.

Sedetik kemudian bola matanya melebar terkejut.

"I-ini—" Saking terpananya dia, Gilbert bahkan tak mampu berkata-kata.

Antonio dan Francis juga sama terperangahnya juga begitu melihat kondisi badan mobil yang dipenuhi bekas terjangan peluru itu. Itu bukan sekedar serangan peluru. Mereka bagai melihat suatu mahakarya yang berasal dari dunia luar. Mata mereka terbelalak dan mulut kedua orang itu melongo. "Ini luar biasa."

Bukan hasil terjangan pelurunya yang membuat mereka terpana, tetapi pada pola yang terlihat akibat lubang-lubang bekas peluru itu.

Di sepanjang badan mobil di sebelah kanan itu, masing-masing lubang hasil tembakan peluru tersusun sejajar menyerupai garis panjang yang lurus, membentuk suatu huruf-huruf besar yang tersusun rapi, membentuk suatu kata.

"Jadi, alasan mereka menembak tadi adalah untuk membuat tulisan ini di mobil kita?" Francis bertanya, antara sadar dan tidak sadar, masih terperangah dengan karya seni di hadapannya yang luar biasa mewah dan kreatif ini. "—dengan peluru?"

Mata Gilbert tak henti-hentinya terpaku pada pemandangan yang tak biasa ini dengan pandangan takjub.

"Ya." Antonio mengangguk, antara sadar dan tidak sadar juga. Matanya masih terpana dengan mulut melongo. "Lihatlah huruf-huruf itu. Ada 'A', 'R', 'K', 'S'—".

Barulah setelah itu Gilbert menyadari sesuatu yang aneh. "Hah?! ARKANSAS? Apa maksudnya?!" cibir Gilbert.


Brussel, Belgium

Airlangga tidak langsung berjalan menuju kamarnya yang nyaman dan tenteram itu. Ia lebih memilih untuk berbelok ke kiri, menuju sebuah toilet yang terletak di ujung koridor.

Perjalanan menuju toilet tidak setenang biasanya. Kata-kata Rayan masih mengiang-ngiang di kepalanya. Bertalu-talu bagai palu godam yang memukul otaknya. Dia jadi sulit merasa tenang. Kalimat-kalimat itu entah mengapa terasa begitu familiar dan amat ia kenal. Dalam beberapa bulan setelah insiden 'hilang ingatan' ini, entah mengapa Airlangga menjadi kesal sekali karena amnesia.

Si Belanda. Si Belanda. Belanda...

"Entah kau itu pemberani atau justru bodoh."

"Kau memanggilku apa tadi? APB? Apa artinya?"

"Airlangga Putra Brawijaya. Namamu terlalu panjang."

Lalu, APB itu siapa?

Antara setengah sadar dan tidak sadar, Airlangga membuka kenop pintu dan masuk ke dalamnya.

Mungkin mandi akan membuat segalanya menjadi lebih jernih. Jernih dari segi pikirannya yang kini carut-marut karena ingatan yang hilang. Maupun jernih dari segi jasmaninya sendiri. Dan hebatnya Airlangga baru ingat jika dirinya belum mandi sejak kemarin sore.

Pemuda Melayu itu mulai membuka pakaiannya satu persatu. Dimulai dari t-shirt biru tuanya yang baru-baru ini mengeluarkan bau aneh ketika ditanggalkan dari tubuhnya yang lembab karena keringat. Lalu selanjutnya ikat pinggang kulitnya, hadiah dari adik bungsunya di Indonesia, Bruni, si bungsu yang suka bermain minyak.

Dibiarkannya ikat pinggang itu meluncur jatuh ke lantai yang basah.

Dan yang terakhir adalah—

Airlangga terdiam sejenak. 'Kenapa resletingnya macet?' gerutu Airlangga dalam hati. Tangannya susah payah menggerakan posisi resleting abu-abu itu.

Dirinya mulai kesal karena benda itu belum bergerak sejak tadi.

"Boleh kubantu?"

"Tentu saja."

Airlangga tersentak sesaat.

Ada orang di belakangnya!

"Apa yang…"

Belum sempat Airlangga melanjutkan kalimatnya, mata hitam itu membelalak ketika melihat dua tangan tiba-tiba menjalar dari balik punggungnya bagai monster yang akan menyerang. Dan sebelum Airlangga sempat menjerit, dua tangan misterius itu langsung membekap mulutnya dengan gerakan cepat dan menyentakkan tubuhnya ke belakang dalam satu tarikan yang sangat kasar; memaksanya untuk diam.


Berlin, Germany

"Arkansas. ARKANSAS? Maksudnya apa?" jerit Gilbert frustasi. Diacak-acaknya rambut putihnya dengan gemas. Dia masih tidak mengerti dengan maksud dari semua ini. "Ada apa dengan Arkansas? Bukankah Arkansas adalah kota di Amerika Serikat? Dan kenapa harus tulisan ini yang tercetak di mobil kita? Sekali lagi, kenapa harus Arkansas?"

"Diam lah, Gil! Kau membuat segalanya kian runyam!" kata Natalia mulai lelah. Dia berkacak pinggang dan bersiap-siap akan memukul wajah Gilbert kapan saja agar diam.

"Hei, kawan-kawan, coba lihat ini." Francis terpaku pada deretan koran yang menghiasi etalase sebuah toko beberapa meter dari mobil mereka.

Francis mulai menghampiri toko itu dan mendekat pada sebuah koran yang masih tergantung rapi di dalamnya. Diabaikannya keributan antara Gilbert dan Natalia di belakang sana. Iris birunya memandang lekat pada gambar pertama di koran itu dengan tatapan serius. Driver The NEWS tersebut tiba-tiba teringat dengan sosok wajah seseorang ketika melihat bayangan yang tercetak di sana. Bukan Airlangga. Alisnya mengerut dalam-dalam, seperti sedang berusah mengingat sesuatu.

"Itu kan, koran mengenai berita Airlangga." kata Antonio, sambil menurunkan kameranya setelah sebelumnya mengabadikan pemandangan unik di mobil mereka yang kini terlihat seperti sarang lebah untuk kenang-kenangan.

"Ya." Mata Francis mengerut yakin. "Tapi yang di dalam gambar itu bukan Airlangga. Sepertinya aku tahu siapa orang di dalam gambar itu."

.

.

To be Continued


A/N : Hyaaah. Yang bagian terakhir-terakhir itu nulisnya buru-buru. Maaaf! QAQ Nah, loh, lama kagak keliatan Sadiq dan Heracles nongol lagi. Rayan punya akal jahat lagi. Kirkland mulai nyerang kepolisian. Elizaveta punya misi sama Roderich! Tulisan Arkansas di mobil The NEWS! Airlangga disergap seseorang! Dan Ned yang belum nongol-nongol. NEED, DI MANA KAMUUU? QAQ

Siapa yang udah liat strip comic papa Hide yang baru? IYAAA, YANG 'DAVIE' ITUU! QAQ Kancrut! Ya, ampun, papaaaaa! CURSE YOU! Itu nyesek bangeet, woiii! Pliss, chibi!America itu masih keciiil! Jangan disiksa batin kayak gituu, doong! Aiihh! Papa jahat! Papa jahaaat! #pelukchibiAmerica #sodorinbunga

Wahai Alfred, berterimakasih-lah pada penciptamu, karena dia, saya ampe nggak sanggup bikin kamu jadi antagonis di fic ini, walaupun kehadiranmu malah bikin The NEWS kalang-kabut gara-gara berita boonganmu. Saya mesti berpikir dua kali mau masukin kamu jadi antagonis atau pihak yang tertindas #plak

[Tips Menulis : Tulislah apa yang kalian tahu (yeah, ini menohok saya banget).]

someone : Yeeee! The NEWS season 2! Airlangga ngebunuh orang? Minum alkohol? Nah, kayaknya emang salah, sih. Saya aja kaget begitu dapet kabar itu. Iyaaa. Airlangga yang mukanya uke dan doyan marah-marah itu! QAQ Kembalikan anak saya yang unyuu-unyuu ituuu. Yah, salahkan saja Airlangga yang selalu membuat keempat temannya terjebak di situasi sulit. The HEROES itu sekelompok reporter yang diketuai leader rapuh yaitu Alfred F. Jones #plak Nahloh, kamu belum review dua chapter The NEWS terakhir, berarti kamu harus review chapter kali ini! XD Hahaha #dibunuh Makasih ya reviewnya!

BTT Indonesia : Halo kalian bertigaa~ Dan saya bingung jawabnya gimana… Yep. Arthur masih hidup! :D Hohoho. Ayo masukin dia ke daftar '7 Orang yang Selamat dari Maut'! XD Hahahaha. Makasih yaaa review awesomenya! #peluksatu-satu

Naida Michaelis : Saya juga syok waktu Airlangga diberitain ngebunuh oraangg QAQ Ayo salahin The HEROES! Mereka yang bikin berita fitnah ituu! #bakarkamera Wohooo! Iya, bener banget! Nggak ada Trio Sedeng itu The NEWS nggak bakal rame! Hohoho. Yep. Arthur belom mati. Penjahat makin bejibun! Hahahaha! #plak Eniwei, makasih reviewnyaa!

Unknownwers : Wut? Review di sekolah! XD Makasih looh ampe dibela-belain ngereview cerita ini :'D #peluk Baru liat kamuu :'D Iya, The NEWS mendadak angst kayak pemiliknya. Muahahaha. Makasih ya reviewnya! Ayo, review lagi dong~ Saya udah siapin satu paket The NEWS lengkap ama Kirkland sekalian. Haha.

Nyan-nyan : Yeeee! Sekueel! Iya nih, Arthur masih segar bugar. Muahahaha. Akhirnya ada yang nyadar juga dengan keanehan bom bunuh diri Arthur :'D Kalo kembarannya Ireland, si Ardan, memang udah mati :') #pukpukArdandisurga Ayoo dong review lagi biar ramee~ :D Makasih ya untuk reviewnyaa!

Codename C.A.P : Waah, makasih :D Iyah, Airlangga amnesia QAQ Huhuhu. Dan Ned entah di mana. Huhuhu. Tuh kan, Airlangga jadi lupa sama semenyaa! QAQ Hayoo, Arkansas selalu disebut-sebut loh di sini :) Nanti selengkapnya ada di chapter depan, yaa~ Tebak-tebak dulu deh maknanya apa. Hohoho. Makasih reviewnya, ya!

Sign, Rapuh


"Coba hubungi dia." kata Connor, menyerahkan ponselnya pada Scott, yang duduk di sebelahnya.

Tanpa bertanya, Scott langsung memencet sederet kombinasi angka pada layar ponsel. Tidak ada lagi yang bisa dihubungi dan diharapkan pada saat-saat genting seperti ini selain orang itu.

Ya. Orang itu.

Beberapa saat kemudian, Scott tersambung pada nada tunggu yang cukup panjang.

"Halo?"

"Ini aku."

"Scott? Hoo. Lama sekali kita tak bertemu, senorito. Bagaimana kabarmu?"

"Aku tak bisa berbasa-basi sekarang, nak. Bagaimana otot-ototmu? Masih terjaga?"

"Tentu saja! Sekarang aku bisa menarik dua mobil sekaligus dengan satu tangan."

"Itu bagus. Karena sekarang aku punya misi baru untukmu."

"Misi baru? Hm. Kedengarannya menarik. Misi seperti apa ini?"

"Menangkap orang. Bukan hanya seorang. Tapi ada lima, dan satu yang harus mati."

"Hahaha. Menangkap orang. Itu bagaikan membunuh semut bagiku. Karena akulah ketua pembunuh bayaran dari Meksiko yang tersohor, Juan Carlos Fernández Carriedo."

"Aku sudah lelah dengan tingkahmu yang suka membangga-banggakan diri itu, Juan. Bisakah kita serius sekarang? Aku tidak punya banyak waktu."

"Oke. Oke. Sekarang, kembali ke misimu tadi. Siapa yang akan kutangkap dan kubunuh kali ini?"

"Hmm. Dari luar, orang-orang ini memang kelihatan bodoh dan tolol, tapi jangan remehkan hal itu. Karena sebenarnya mereka sangat kuat dan sulit dikalahkan. Mereka adalah sekelompok reporter, bernama The NEWS. Aku ingin kau memburu mereka sampai dapat. Hidup-hidup."

"Oke. Sekelompok reporter. Bodoh dan tolol. Tapi cukup berbahaya. Oke, oke. Nah, lalu, siapa orang yang harus kubunuh ini? Apakah salah satu dari mereka?"

"Ya. Satu orang. Seorang pemuda Indonesia dengan rambut berantakan dan suka marah-marah. Untuk mempermudah, akan kuberitahukan namanya. Dia bernama Airlangga dan sangat dekat dengan seorang pembunuh bayaran lain bernama Van der Decken. Dan aku akan menggandakan bayaran jika kau membunuh orang bernama Van der Decken itu juga."

To Be Continued