A/N : Whoaah, lama tak jumpaa! Apakah masih ada yang menunggu cerita reporter stress nan lebay satu ini? :') #pukpukTheNEWS Maaf jadinya lama banget! QAQ Saya merasa bersalah karena meninggalkan para reporter kunyuk ini begitu saja dan membiarkan mereka merantau tak tentu arah dengan masa depan yang terancam #hoek Akhirnya saya memutuskan nge-sparta selama semingguan dan menyelesaikan benda epik satu ini. Yeaay! XD Sekedar kabar, beberapa info gaje mengenai maksud dari Arkansas yang sudah dikumandangkan di beberapa chapter lalu akan diceritakan di sini! Yeaay! Jadi isi ceritanya sesuai sama judul, deh! Yeaay! Cuma sedikit, sih, tapi tetap aja—yeaay! #plak

Disclaimer : Hetalia Axis Powers milik Papah Himaruya Hidekaz :') Saya nggak bisa mengambil keuntungan dari pekerjaan The NEWS maupun dari cerita lebay mereka.

Warn : Human name. Reporter!AU. Male!Indonesia. Reporter mabok (ini nggak termasuk Warn, woi!) Kurang pemeriksaan, maafkan jika ada typo tidak elit yang berseliweran :')

Soundtrack : 'Ellie Goulding – Burn', 'Cash Cash ft Bebe Rexha – Take Me Home', dan 'Eminem ft Rihanna - The Monster'. Terimakasih, gays! Karena lagu-lagu kalian sudah menginspirasi akan kehadiran chapter ini!

Ah, saya nggak mau curcol gaje berkepanjangan, nanti yang baca pusing :') Semoga chapter kali ini bisa menghibur kalian, yaa. Yeaay! :D


Summary : Seseorang di Arkansas sedang menunggu kehadiran The NEWS untuk tujuan yang sangat penting. Namun belum selesai sebuah masalah, kehadiran berita sensasional lain baru saja berhembus di Jerman dan membawa para reporter itu pada tuduhan tindak kriminalitas—yang bahkan tidak pernah mereka lakukan sama sekali di dalam hidup mereka.


.

"Arr-Kansas"

by RapuTopu

.

Hetalia: Axis Powers

Disclaimer: Himaruya Hidekaz

.


Brussel, Belgium

Jantung Airlangga nyaris berhenti begitu menyadari seseorang membekap mulutnya dari belakang. Bahkan di rumahnya sendiri. Di toilet, pula! Jeritan tertahan sia-sia. Tangan besar milik orang yang diperkirakan memiliki tinggi melampaui dirinya itu menarik paksa tubuhnya ke tembok. Tangan Airlangga yang bebas berusaha meraih sesuatu yang kini menutup mulutnya. Namun sesuatu dari balik punggungnya bergerak lebih cepat dan menyambar tangannya, lalu menekuknya di belakang.

Secara naluri, Airlangga mendorong punggungnya sekuat tenaga, menghimpit dada orang itu di belakangnya. Namun belakangan Airlangga baru saja menyadari bahwa itu adalah tindakan yang bodoh. Karena setelah terdengar erangan kesakitan samar milik orang itu di sebelah telinganya, otot-otot tangan yang mencengkram wajah, bahu dan tangannya langsung berkontraksi semakin kuat untuk menahan pergerakkannya. Kian menjerat tubuh mungilnya agar tak bisa bergerak sama sekali. Kelihatannya dia sedang marah.

"Ssst. Jangan bergerak."

Itu suara laki-laki. Dan Airlangga sama sekali tak pernah mendengar suara itu seumur hidupnya. Pasti ini gara-gara amnesia yang dideritanya, Airlangga mengutuk dalam hati. Dan dia mengutuki proporsi tubuhnya tidak begitu ideal untuk remaja seumurannya karena hal tersebut hanya membuatnya kian terpojok dan sulit melepaskan diri. Sial. Airlangga berharap andai saja dia bisa berbalik dan melihat wajahnya.

Namun orang ini belum memberikan serangan pada dirinya, seperti yang dikhawatirkan Airlangga sebelumnya. Tapi cepat atau lembat, Airlangga yakin benar jika orang ini akan melakukan sesuatu yang jahat pada dirinya. Minimal membuatnya tak sadarkan diri atau menyakitinya. Lagipula untuk apa dia sampai rela-rela bersembunyi di toilet orang demi menunggu mangasanya datang selain untuk mencelakakannya?

Tangan Airlangga berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman yang mengancam keselamatan hidupnya itu. Erangan frustasi berhembus sia-sia. Kepalanya bergerak liar, berusaha melepaskan diri dengan kondisi tangan yang terkunci. Seluruh organ tubuhnya bergerak brutal tak terorganisir, berusaha keras mencari celah untuk kabur.

Airlangga tidak mau tahu. Pokoknya dia harus menyelamatkan diri. Dia harus melawan. Dia harus…

"Tenang." bisik orang itu parau, " Aku Ned." suaranya melemah, "Aku Ned.".


.

"Arr-Kansas" the sequel of fanfiction "The NEWS"

Chapter III

Natalia Arlovskaya : Reporter

Gilbert Beilschmidt : Leader

Antonio Fernandez Carriedo : Camera-man

Francis Bonnefoy : Driver

Airlangga Putra Brawijaya : Observer

.


Berlin, Germany

Gilbert yakin saat ini dia pasti sedang memberikan ekspresi paling idiot seumur hidupnya. Melihat corak artistik hasil dari jajaran lubang bekas peluru di badan mobil institusinya yang mencetak tulisan 'ARKANSAS' sudah membuatnya cukup stress berat, dan kini ditambah lagi dengan mendengar kabar mengejutkan dari Francis bahwa ternyata...

"Ya, aku mengenalnya!" pekik Francis bersemangat sambil menunjuk foto buram hitam putih di dalam koran yang tergantung. Sementara di sebelahnya, Natalia dan Antonio juga memasang ekspresi dungu yang sama seperti Gilbert, membiarkan Francis berteriak sendirian. "Aku tahu siapa orang ini!" dia menjerit kesenangan, seolah-olah baru saja melahirkan suatu penemuan baru yang bisa membuat manusia hidup abadi.

"Hei, hei, tunggu sebentar." Gilbert mencoba menyela dengan sopan. "Bagaimana kau yakin jika yang ada di foto itu bukan Airlangga?" ungkap Gilbert sangsi, suaranya merendah, walau pada dasarnya dia juga tidak yakin, sih. Tetapi dari foto, berita, serta perilaku Airlangga selama beberapa bulan terakhir juga membuatnya curiga. Mungkin berita itu benar, mungkin juga tidak. Namun, tetap saja Gilbert tak bisa mencurigai anak buahnya yang baru seumur jagung di The NEWS itu sebagai pembunuh.

"Kalian kenal asisten Alfred, kan? Si pembawa mic di The HEROES itu?" tanya Francis. Untuk beberapa saat pemuda Perancis itu terlihat tak sudi menyebut nama jiplakan itu, namun dia tetap melanjutkan kalimatnya dengan mata biru samudera yang berbinar penuh semangat, "Yao. Wang Yao." katanya mengklarifikasi.

Hening.

Francis memecahkan kesenyapan canggung yang mendesing lewat sorotan suram mata ketiga temannya. "Dia mirip sekali dengan Airlangga!" Masih tidak ada respon positif yang berarti. "Oh, ayolah!" desak Francis. "Oke. Hanya warna rambutnya, sih."

"It makes no sense." Gilbert menggeleng percuma.

"Argh!" Francis serasa ingin membakar rambutnya sekarang juga. Juga rambut teman-temannya. Sorot keragu-raguan dan pandangan mata yang tak yakin dari ketiga temannya membuat Francis lelah. Dia merasa percuma sudah menemukan rahasia hebat di balik semua ini. "Tidakkah kalian lihat? Orang yang di dalam foto itu bukan Airlangga! Kalian menyebut The NEWS sebagai kesatuan tapi kalian tidak mengenali anggotanya dengan baik?"

"…mungkin ini karena kau yang menerima Airlangga masuk ke dalam The NEWS, Francis." Gilbert berusaha membenarkan.

"…atau yang sering mengintip Airlangga mandi." tambah Antonio polos.

"Ha-ha! Benar!" Natalia mengangkat tangannya gembira dan memberi highfive penuh semangat pada Antonio.

"B-bukan seperti itu!" Francis mulai stres. "Apakah kalian tidak curiga jika ini semua kemungkinan besar adalah ulah si hero gila dan teman-temannya itu?"

"Sepertinya kau benar, sih." Gilbert mengangguk-angguk. "Tapi kenapa kau bisa yakin demikian?" tanya Gilbert berusaha menginterogasi, tangannya dilipat di depan dada. "Pada dasarnya aku juga mencurigai orang-orang itu ketimbang mata-mata FBI," Antonio dan Natalia mengangguk-angguk mengiyakan.

Mereka curiga, namun tak bisa membuktikan.

"Oke, baiklah," kata Francis, "sekarang kita buang segala logika dan bermain dengan fakta. Siapa yang berkali-kali berusaha merebut berita kita dan menjadi alasan mengapa kita sulit menerbitkan sebuah berita karena ada mereka di tempat kejadia—"

"Ehem!" Suara deheman berat seketika mendominasi suasana. Francis langsung membungkam mulutnya diam.

"Maaf mengganggu konverensi kalian. Cobalah untuk tidak melawan dan letakkan kedua tangan di belakang kepala!"

Gilbert sang leader mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakan.

Meraka dapat merasakan seseorang sedang berdiri tepat di masing-masing balik punggung dengan aura negatif dan tiba-tiba menginterupsi pembicaraan genting ini dengan hardikan yang tak dapat dibantah. Gilbert berpikir orang ini tidak sopan sekali karena memotong pembicaraan mereka. Namun, mendengar tutur kata tegas serta kalimat perintah yang meluncur dingin ke tengah-tengah mereka sekarang, Gilbert dapat memastikan kedatangan orang ini membawa masalah besar.

Belum lagi yang menginterupsi mereka bukan cuma satu orang.

Gilbert berbalik perlahan dan langsung menganga begitu melihat enam pria berseragam hitam dan bertubuh gempal dan besar sedang berdiri tersebar di sekelilingnya dan ketiga temannya yang lain. Mereka semua berkacamata hitam dan berkumis tipis dengan jidat tertekuk. Ada dua mobil polisi dengan sirine yang dimatikan dan terparkir di dekat van mereka yang menjadi bulan-bulanan Sadiq dan Heracles tadi. Sehingga wajar saja jika mereka tak dapat mendengar apapun kita para polisi ini tiba-tiba datang dan menyergap mereka secara diam-diam seperti sekarang.

Untuk apa polisi tiba-tiba datang dan menginterupsi mereka bahkan sampai menyuruh meletakkan kedua tangan di belakang kepala segala?

Seperti tahanan.

Gilbert dapat melihat raut-raut aneh dari ketiga temannya. Sama seperti dengan ekspresi dirinya sekarang.

"Maaf," kata Gilbert, berusaha agar terdengar sopan. "Ada apa gerangan dengan kehadiran para polisi-polisi sekalian yang menemui hamba di hari yang cerah seperti ini?"

"Hei!" Natalia langsung cepat-cepat menyikut lengan Gilbert dan memberinya tatapan peringatan.

"Apa?" Gilbert memerotes dengan suara pelan. "Aku mempelajari kata-kata itu dari Airlangga."

Salah satu dari keenam polisi itu berdehem, membuat Gilbert dan Natalia langsung terdiam.

Polisi itu kemudian merogoh saku celananya untuk mencari sesuatu dan membuat keempat reporter di depannya seketingga langsung menunggu dengan perasaan was-was. Dari dalam kantung celananya, dia mengeluarkan sebuah kartu pengenal dan memperlihatkan kartu itu kepada para reporter The NEWS yang masih kebingungan. "Kami dari kepolisian. Atas berita pembunuhan dari salah satu kru The NEWS yang menghilangkan nyawa seorang penduduk di Jerman, kalian semua akan dibawa ke pengadilan untuk memberi keterangan."

Gilbert langsung merasa ia baru saja menelan landak hidup-hidup. "Apa?"

Apa yang polisi itu katakan? Kepolisian? Pembunuhan? Pengadilan?

"Dan ada juga laporan dari beberapa saksi mata yang mengatakan," polisi itu menaikkan suaranya, "jika kalian ada di tempat kejadian selama pembunuhan itu berlangsung dan membantu si pelaku dalam melakukan aksinya."

"A-apa?" Antonio bagai tersambar petir. Mata hijaunya membulat horor. "Ini pasti ada kesalahpahaman," Dia dan tiga sahabatnya ini sama sekali tak pernah bermain bunuh-bunuhan, apalagi pembunuhan sungguhan! Dan bagaimana bisa ada kabar yang mengutarakan jika mereka juga berada di tempat kejadian?

Natalia langsung maju selangkah ke depan begitu mendengar kata-kata itu. Geram luar biasa! Dia tak terima dikatai seperti ini. Baginya fitnah lebih menjijikkan daripada banci. Belum lagi yang mengatakan hal ini adalah seorang polisi. "Hei, jangan sembarangan menuduh, muka tua!" Dia bertatap muka dengan si polisi yang menunjukkan kartu pengenalnya. Telunjuknya langsung menunjuk hidung si polisi dengan berani. "Kami tak pernah berada di tempat itu dan kami tak pernah membunuh orang! Pasti ada kesalahan! Jika anda mau mencari masalah dengan kami, selesaikan secara jantan!"

Polisi itu menyeringai. "Berani juga nyalimu, gadis cilik. Sebaiknya kau simpan pembelaanmu itu di pengadilan." kata polisi itu tetap tenang.

"Berani-beraninya kau!" Natalia terbakar emosi dan refleks mengangkat lututnya tinggi-tinggi lalu menendangkannya dengan begitu keras ke selangkangan si polisi.

"Ow!" jeritnya nyaring, langsung menutupi daerah vitalnya dan meringkuk kesakitan.

"Nat! Kau gila!" pekik Gilbert, langsung menarik tangan Natalia untuk mundur.

Gilbert baru saja hendak meminta maaf karena merasa sangat bersalah, namun sedetik kemudian kalimatnya tersendat begitu dilihatnya wajah para polisi-polisi itu mulai memerah karena menahan amarah setelah dilecehkan seperti tadi. Salah seorang dari mereka mulai mengeluarkan pistol dan menudingnya ke arah wajah Gilbert dan ketiga temannya.

"O-ow." Gilbert langsung menelan ludah begitu melihat tindakan itu kemudian langsung diikuti keempat polisi lainnya.

"Jangan main-main dengan kami, Nak!"

Gilbert berusaha menengahi para polisi ini namun seseorang dari mereka keburu menarik pelatuk dan memuntahkan satu tembakan. Gilbert dapat merasakan selongsong peluru panas melesat di sebelah pipinya dan nyaris membakar beberapa helai rambut di sebelah mata. Timah panas itu melesat dan melubangi kaca etalase di balik punggungnya dan membuat Antonio dan Francis yang berada di dekat area tembakan berjengit kaget dibuatnya.

Gilbert menatapnya horor. Begitu pula ketika ia melihat melirik ke arah Francis dan Antonio yang sedang menatapnya dan seolah-olah berbicara panik lewat sorot matanya, 'Gil! Ini masalah besar!'.

Albino Jerman itu menelan ludah. Polisi ini tidak main-main!

"Serahkan diri kalian!" serang polisi itu.

Gilbert tak ingin berurusan dengan hukum atau kepolisian atau apapun!

Yang harus ia lakukan sekarang adalah—

"LARII!"

Gilbert mengkomandoi teman-temannya. Dia langsung berlari menuju sebuah gang selebar satu meter yang berada sepuluh kaki di sebelah kirinya. Kontan ketiga temannya mengikuti dan ikut menghilang di balik lorong gelap di sela-sela dua bangunan itu.

Menyadari para tersangkanya berusaha melarikan diri, keempat polisi itu langsung mengejar dan berteriak-teriak mengancam. "HOI, BERHENTI!" Sementara yang satunya langsung berusaha menolong yang sedang kesakitan.

"Tenanglah. Alat vitalmu baik-baik saja! Kita akan cari yang baru. Oke?"

"Gil. Kenapa kita lari dari polisi?" tanya Natalia polos, berlari di balik punggung Gilbert, mengekori albino itu. Sementara di belakang mereka keempat polisi mengejar, tak ingin kehilangan subjek kriminalitasnya.

"Karena mereka berusaha menangkap kita!" sergah Gilbert.

"Aku ingin melemparkan pisauku ke kakinya tapi—"

"Jangan katakan itu nyaring-nyaring!" bantah Gilbert.

Mereka kemudian muncul di sebuah jalan besar di mana mobil-mobil terparkir di depan sebuah Restoran China. Gilbert langsung berbelok menuju perumahan Jerman yang berderet-deret dengan konstruksi bangunan Eropa yang serupa. Di depan mereka ada persimpangan lampu merah dan Gilbert langsung melesat menuju area penyebrangan. Namun tepat pada saat itu pula lampu hijau menyala. Bunyi klakson berkumandang di udara, mengusir Gilbert dan ketiga temannya yang membuat macet jalan raya. Gilbert langsung menyelinap di sela-sela mobil-mobil yang berlalu-lalang. Nyaris tertabrak berkali-kali. Motor-motor berseliweran seperti balapan liar. Baru selangkah maju, sebuah mobil Ford melesat di depan wajahnya dan membuat Gilbert terpaksa mundur selangkah lagi.

"HEI, KALIAN! BERHENTI!"

Gilbert berbalik. Terkejut ketika melihat empat polisi yang sedang mengejar mereka kini sudah muncul dari mulut gang dan mendapati mereka sedang menjadi bulan-bulanan di lampu merah.

"Ayo, cepat!" desak Gilbert, sambil mengiring teman-temannya menuju trotoar.

Mereka cepat-cepat berlari menuju tikungan di Spandaeur Street dan menikung menuju daerah pertokoan elit yang terletak di sepanjang blok Rathaus. Jalan di wilayah Jerman Timur itu sangat ramai dan dipenuhi mobil-mobil mewah yang berjejer di sepanjang pelataran jalan raya. Bergerak sangat lambat karena macet luar biasa.

"Kenapa Jerman bisa sepadat ini, sial!" maki Gilbert, mencari-cari celah yang kiranya bisa dilewati.

Bunyi tembakan pertama terdengar di udara. Beberapa pengemudi kendaraan langsung terkejut begitu mendengar tembakan itu. Sebagian besar dari mereka bahkan sampai menurunkan kaca mobil agar bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Kepala-kepala mulai keluar perlahan-lahan dari dalam mobil dengan sorot mata penasaran.

"Suara apa itu?" Seorang pengemudi mobil Ford merah tua menurunkan kaca mobilnya dan melihat-lihat keluar.

"Ada apa tadi?"

"Suara apa barusan?"

Dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.

Bunyi tembakan kedua terdengar. Kali ini terdengar amat dekat dengan mereka, membuat Gilbert langsung mengasumsikan bila tembakan itu tengah diarahkan pada dirinya dan ketiga teman-temannya.

"Polisi-polisi ini sakit jiwa!" umpat Gilbert, sembari menutupi kepalanya dan berlari menunduk, berusaha menghindari jalur tembakan.

"Hemat napasmu!" sergah Francis.

Gilbert kebingungan mencari jalan yang aman agar bisa terbebas dari kejaran polisi-polisi gila itu. Jalanan sangat padat oleh mobil-mobil yang berjejer lurus dan tidak ada sela-sela di antaranya. Sementara di belakang mereka kini, keempat polisi itu kian dekat dan kelihatannya akan menyiapkan tembakan ketiga.

Gilbert kian berpikir keras.

"Naiki mobil ini! Cepat!" sahut Gilbert.

Dia membiarkan Antonio dan Francis yang memanjat kap mobil pertama kali. Pengemudi di dalam mobil sedan merah itu tercengang ketika melihat beberapa orang berseragam reporter menaiki badan mobilnya. Dia bahkan bisa mendengar bunyi langkah kaki yang berat sedang berlari di atas mobilnya, kemudian menghilang.

"Cepat, Nat!" seru Gilbert, membantu wanita itu untuk memanjati badan mobil dan berlari menaiki kaca depan hingga berada di atas mobil malang tersebut.

Gilbert berlari sembari menarik lengan Natalia lalu melompat ke puncak mobil truk tua di sebelahnya. Kemudian berlari lagi lalu melompat di puncak mobil lain di depannya. Beberapa hardikan bernada protes mulai terdengar dari dalam mobil-mobil yang ia pijaki, tetapi Gilbert tetap fokus untuk terus berlari dan mencari pijakan lain. Karena tinggi masing-masing mobil tidak sama, Gilbert harus berusaha untuk menyeimbangkan dirinya agar tidak terjatuh sia-sia.

Antonio dan Francis yang mengikuti cara Gilbert dengan melompati mobil-mobil yang sedang berjalan pelan, kini sudah berada dua meter di dekat pinggir pembatas jalan. Tinggal beberapa mobil lagi yang harus dilewati agar mereka akan tiba di trotoar lebar untuk pejalan kaki.

Keduanya berbalik dan memberi kode agar Gilbert dan Natalia cepat-cepat mengikuti mereka.

Gilbert tak usah diberitahu dua kali, karena dia adalah yang paling gugup di saat dikejar-kejar oleh polisi seperti ini.

Namun, baru saja dia bersiap-siap untuk melompati mobil Bugatti merah tua di sebelah kanannya, sebuah mobil Peugeot hitam tiba-tiba menyelinap dan seolah-olah menawarkan diri untuk menjadi tempat pijakan. Gilbert dan Natalia yang melihat sebuah mobil berada lebih dekat dengan mereka ketimbang mobil Ford tadi langsung melompat ke arahnya. Namun tiba-tiba mobil berplat dariTurki itu bergerak mundur.

Gilbert dan Natalia langsung terjatuh dan cepat-cepat berpegangan pada apapun yang bisa disentuh agar tidak terguling jatuh ke jalanan.

"What the—" desis Gilbert tertahan.

Mobil digas gila-gilaan dan membuat kepulan asap tebal di knalpotnya.

"Ada apa dengan mobil ini?" umpat Gilbert.

Beberapa pengemudi lain lagi-lagi disuguhkan dengan pemandangan mengganggu ketika mobil buatan Turki itu mundur dengan kecepatan 70 km/jam dan menabrak mobil di belakangnya. Terdengar bunyi rengsekan dua badan mobil yang sedang bertabrakan.

"Gil, apakah orang ini marah karena kita menginjak-injak mobilnya?" tanya Natalia, langsung siap siaga mengambil pisaunya dan bersiap-siap untuk menusuk siapa saja yang mencurigakan.

"Entahlah, kurasa dia—Woaah!" Belum sempat Gilbert menyelesaikan kalimatnya, perkataannya lagi-lagi terpotong ketika mobil itu melesat maju sebanyak dua meter, kembali menabrak bamper mobil di depannya. Lagi-lagi terdengar bunyi tabrakan dua badan aluminium di udara.

"Maunya mobil ini apa, sih?" jerit Natalia frustasi. Jika mobil gila ini terus-terusan bergerak liar seperti tadi, mereka akan kesulitan untuk melompat ke mobil lain yang berada di sebelahnya dan menyusul Antonio.

Sementara itu keempat polisi yang berusaha mengejar mereka kini kian dekat. Mereka berusaha berlari di sela-sela mobil, berteriak-teriak memanggil para reporter itu, dan berusaha menyelip mobil-mobil yang berjalan pelan sambil mencari sela-sela besar yang kiranya dapat dilewati.

"Tidak ada waktu lagi, Nat! Kita harus—" Lagi-lagi belum sempat Gilbert menuntaskan kalimatnya, mobil di bawah mereka kembali bergerak. Jalanan sudah lumayan lengang sekarang karena kemacetan perlahan-lahan dapat teratasi. Mobil-mobil lain mulai bergerak beriringan dengan kecepatan yang berangsur-angsur normal.

Namun lain halnya dengan mobil di bawah mereka. Pengemudi mobil ini, memundurkan mobilnya, melawan arus dengan mobil-mobil lain, lalu dia mundur lurus dengan kecepatan tinggi. Gilbert dan Natalia nyaris terjungkal dibuatnya. Si pengemudi menyelipkan mobilnya di antara dua truk pengangkut material yang beriringan menuju dermaga, sebelum melakukan manuver liar dan membuat drift menukik, menimbulkan bunyi decitan ban, kemudian melaju dengan bunyi mesin yang nyaring menuju trotoar, tempat di mana Antonio dan Francis sudah berdiri di sebelah pohon Akasia.

"Kelihatannya mobil itu sedang berjalan ke arah kita ya, Francis?" kata Antonio takut-takut.

Francis menjawab dengan suara bergetar, "Aku rasa juga demikian, Antonio."

Menyadari ada sebuah mobil yang datang dengan kecepatan gila-gilaan ke arah mereka, Antonio dan Francis langsung cepat-cepat mengambil ancang-ancang untuk berlari.

Namun tepat satu jengkal sebelum ujung mobil menabrak tubuh Antonio dan Francis, mobil tersebut kembali menukik tajam untuk menghindari tabrakan, kemudian membuka pintu tengah.

Sepasang tangan dari dalam sana langsung menarik seragam Antonio dan Francis untuk masuk ke dalam mobil dengan paksa.

"Antonio!" pekik Gilbert panik.

Sebenarnya siapa pengemudi mobil ini? jerit Gilbert frustasi dalam hati.

Melihat dengan mata kepalanya sendiri dua sahabatnya diseret paksa ke dalam mobil, Gilbert langsung berusaha turun untuk menolong, begitu pula dengan Natalia. Namun seseorang menarik kakinya dan menariknya ke dalam jendela mobil. Natalia juga mengalami kejadian yang sama.

Kedua reporter itu jatuh menubruk tubuh-tubuh manusia di dalamnya.

Gilbert baru saja bersiap-siap melakukan aksi bela dirinya ketika melihat siapa orang yang menarik kakinya barusan. Matanya tercengang dan dia tak bisa membiarkan mulutnya untuk tidak menganga.

Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut cokelat ikal yang lesu. Mata datar dan mengantuk. Serta dengan penampilan tuksedo mewahnya yang nampak begitu mahal langsung menyambutnya setelah ia diseret paksa ke dalam mobil ini.

Gilbert tak lagi melawan. Tunggu dulu, rasanya Gilbert mengenal orang ini.

Baru saja dia hendak berkata, Natalia keburu memotong kalimatnya karena menyadari sosok familiar itu duluan.

"Hei, kau kan—" Natalia menunjuk wajah orang itu. "orang yang menculik Airlangga!"

Dia mendesah sambil memutar bola mata. "Jika kalian mengenalku dengan sosok seperti itu, silahkan." ujarnya pelan.

Ketika keempat polisi yang sedang sibuk mengejar mereka tadi akhirnya tiba di dekat mobil ini dan langsung melakukan ancang-ancang untuk melakukan aksi penembakan, si pengemudi langsung cepat-cepat memasukkan kopling dan meng-gas mobilnya untuk kembali melesat menjauhi area tersebut, membuat seluruh manusia yang berada di dalam mobilnya langsung tersentak ke belakang. Mobil terus dipaju menuju jalur lurus yang panjang di Jalan Mehringdamm dan berangsur-angsur menaikkan kecepatannya.

Seseorang yang sedari tadi duduk diam di jok kemudi dan menolong mereka dari kejaran polisi, melirik tajam dari kaca spion.

Francis mengenali orang itu. "Hei, bukannya kau adalah—"

"Kenapa kalian bisa dikejar-kejar polisi seperti tadi? Kami, sih, sudah biasa mengalami kejadian seperti itu. Tetapi Ned sepertinya akan kesulitan untuk menerima kriminal seperti kalian." Suara tawa yang terkekeh terdengar dari mulut pria berjanggut itu.

Gilbert terperangah melihat siapa yang berada di depannya.

Sadiq Adnan tersenyum manis setelah melontarkan gurauan itu.


Barletta, Italy

Suasana tengah hari yang mendung dan dingin di puncak kantor kepolisian Italia kala itu membuat hati Lovino sangat caruk maruk dibuatnya. Dia tak lagi bisa berpikir jernih. Kantornya rusak parah, mendekati kondisi hancur lebur, malah. Bom yang ditinggalkan si bungsu Kirkland memang bukan bom berkekuatan dahsyat, namun potensinya mampu meremukkan dinding-dinding kantor petugas menjadi puing-puing kecil dan meleburkannya ke udara.

Belum lagi fakta bahwa tahanan berharganya yang sudah melakukan penculikan pada seorang anak pemilik tambang emas di Mesir itu kini telah kabur tanpa halangan, membuatnya langsung stress berat dan serasa ingin menjedotkan jidatnya ke tembok batu-bata. Parahnya lagi, seolah belum cukup berhasil mempermainkan polisi dan kabur dari kantor penegak hukum dengan mulus dan tanpa hambatan sama sekali, mereka masih sempat-sempatnya meninggalkan hadiah kenang-kenangan berupa kerusakan gedung dan menyebabkan kematian mengenaskan seorang opsir tahanan yang tak bersalah.

Seragam kepolisian yang pas dengan porsi tubuhnya masih dipenuh debu-debu hasil kepulan serbuk-serbuk puing yang tebal. Wajahnya tak bisa terlihat tenang. Seluruh aparat kepolisian dikerahkan ke seluruh penjuru kota untuk mencari keberadaan para Kirkland yang kabur itu. Sementara dirinya sendiri berjaga di markas dan mengkomandoi para deputi yang sedang menganggur untuk membantunya membereskan kantor bekas target tembakan tadi.

Sekarang masalahnya, setiap orang yang berusaha kabur dari penjara, siapapun mereka, dan entah bagaimanapun dan seekstrim-pun caranya, pasti sedang memiliki tujuan di luar sana dan harus diselesaikan. Dan begitu pula dengan tahanan mereka yang satu ini. Entah urusan itu penting atau tidak, itu masalah lain.

Namun khusus untuk para putra Kirkland itu… oh, mungkin masalah yang ditimbulkan akan sangat besar.

Lovino mendesah berat, membiarkan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya meluncur begitu saja hingga ke rahang.

Dipencet-pencetnya telepon di ruang kerjanya untuk menghubungi nomor ponsel seseorang. Lovino menunggu dengan sabar—sebenarnya sangat gelisah—ketika mulai mendengar bunyi nada sambung.

Di saat-saat seperti ini hanya orang itu yang bisa diandalkan.

Tiga detik berlalu sia-sia.

Pemuda Italia berambut cokelat gelap itu mendesis frustasi dan mengacak rambut lebatnya.

"Ayolah, Antonio. Cepat angkat,"


Monte Carlo, Monaco

Wanita berambut cokelat ikal yang tergerai hingga pinggang itu berjalan angkuh menuju pintu keluar kediaman Edelstein. Bunyi ketukan haknya stilletto-nya yang beradu dengan lantai keramik seketika mendominasi ruangan berwarna emas cerah tersebut. Elizaveta yang sedang berjalan angkuh dengan rasa percaya diri itu langsung menghampiri Roderich yang berdiri termangu di depan pintu masuk dari kayu jati setinggi dua meter. Mata kekasihnya yang dibingkai kacamata tipis tersebut terlihat menerawang ke luar sana.

Melihat lelaki yang memiliki kepribadian menarik di matanya ini tengah dilanda kegundahan, secara naluriah Elizaveta langsung menghampirinya dengan pelukan hangat.

"Kau terlihat lain hari ini, Roderich." sapa Elizaveta ramah.

Pria berkebangsaan Austria itu menatap halaman rumahnya tercengang. Sama sekali mengabaikan keberadaan wanita Hungaria di sebelahnya. Justru apa yang dibawa oleh wanita itu sendiri malah membuatnya terpukau.

Belum pernah dia melihat barisan orang berseragam hitam sebanyak ini di halaman rumahnya. Apalagi dengan baretta dan puluhan shot-gun yang tersampir di setiap punggung itu.

Elizaveta tersenyum, mengetahui keresahan apa yang mengganjal pikiran kekasihnya ini. "Lihatlah, Roderich, ini armada kita," katanya lembut, menerawang ke arah barisan rapi ratusan orang yang memenuhi halaman taman rumahnya.

Roderich sama sekali tak menyangka wanita bertitel mantan pacarnya di sekolah ini memiliki anak buah yang begitu banyaknya dengan tampang-tampang pembunuh seperti ini. Sejenak dia merasa agak menyesal. Menyesal karena menuruti kemauan Elizaveta agar dirinya mau membantu wanita itu. Roderich merasa keputusan yang ia ambil kali ini akan membawanya pada langkah pertama menuju kriminalitas. Tetapi… tetap saja dia tak bisa membiarkan wanita yang sudah lama mengejar-ejarnya cintanya ini untuk menghadapi masalahnya sendirian.

Mendapati sang pria Austria tak menanggapi perkataannya, Elizaveta merubah intonasinya berangsur pelan dan merendah.

Dia berbisik, "dan mereka akan membawaku merebut kejayaanku kembali. Dan itu bagus untuk masa depan kita—" sebuah ciuman hangat mendarat di pipi yang dingin.

"—terima kasih karena sudah membantuku sampai sejauh ini, Roderich."


Berlin, Germany

"Heh! Kau lagi! Kau juga! Kenapa kalian ada di sini!" Gilbert menunjuk kedua pria bertuksedo di depannya dengan tatapan horor. Sama sekali tak menduga akan bertemu dengan mereka lagi setelah sekian lama. Oh, mungkin tadi siang mereka sempat bertemu, dan menyapa hangat dengan tembakan peluru di mobil.

"Kami juga bingung kenapa kalian berada di sini." ujar Heracles yang duduk serjajar bersama mereka dengan suaranya yang halus.

"Kami memang bekerja di sini! Yang aneh itu kalian, kenapa tiba-tiba berada di Jerman dan menghancurkan mobil kami!" dengus Natalia.

"Kenapa kalian membawa kami ke sini? Kalian ingin menculik kami juga seperti kalian menculik Airlangga?" Antonio menuding panik. Melihat dua pria pelaku utama penculikan seorang kru The NEWS beberapa bulan lalu kini berada tak kurang sejengkal dari tempatnya duduk. Mungkin saja dia dan ketiga temannya yang lain menjadi korban kedua.

"Kalian sudah melihat pesan yang kami sampaikan di mobil kalian?" tanya Sadiq, sambil menyetir dan menaruh fokus pada jalanan padat di depannya.

"Ya, sangat jelas." gerutu Francis.

"Kenapa kalian memberi kode itu pada kami?" tanya Natalia penasaran.

"Ah." Sadiq dengan seringai senang. "Pertanyaan inilah yang kutunggu-tunggu,"

Heracles kemudian menoleh pada Gilbert, "Sebenarnya, setelah sukses memberikan pesan itu, kami memutuskan untuk segera kembali ke Arkansas dan menunggu kehadiran kalian di sana. Namun baru ditinggal beberapa menit, kami sudah melihat kalian berlari-larian di jalan raya dan dikejar-kejar polisi,"

Gilbert langsung mengerutkan alis. "He-hei, tunggu dulu. Tadi kalian bilang, kalian menunggu kehadiran kami di Arkansas? Apa maksudnya?"

"Ya," sahut Sadiq. "Ned ingin bertemu dengan kalian. Dia ingin agar kalian membantunya. Ned sedang berada di Arkansas sekarang, dan dia sangat membutuhkan bantuan kalian."

"He? Untuk apa kami membantu orang yang sudah membawa kami pada dunia kriminalitas?" tuding Natalia.

"Benar. Dan kenapa bukan dia sendiri yang datang meminta bantuan," sahut Francis, "dengan cara baik-baik?" desisnya.

Mobil berbelok menuju pertigaan antara Jalan Inner Ring Road dan Invalidenstraße yang ramai, melewati sebuah lapangan sepak bola yang luas lalu berbelok sekali lagi hingga memasuki kawasan Taman Great Tiergarten.

Sadiq menjawab, "Dia sedang menjaga sesuatu di sana. Dan dia tak bisa meninggalkannya begitu saja. Dan kami memang sudah sepakat, cuma dia yang mampu diandalkan dan memiliki komitmen dibandingkan kami berdua."

"Lalu, sebenarnnya hal apa yang harus kami lakukan?" tanya Gilbert.

"Itu… rahasia." katanya sambil tersenyum."Ah, tapi pada dasarnya kami juga tidak tahu, sih," Sadiq buru-buru menggeleng. "Hei, ngomong-ngomong, kenapa kalian cuma berempat?"

Gilbert mendesah berat, "Justru itulah tujuan kami sekarang. Airlangga diberitakan melakukan pembunuhan tidak awesome di daerahnya. Kami benar-benar tidak percaya dengan berita tidak keren itu. Namun Airlangga tak memberikan kabar selama beberapa bulan terakhir dan membuat kami khawatir. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi."

"Oh." Sadiq mengangguk penuh simpatik. "Ned pasti akan sangat kecewa sekali mendengarnya," ujarnya pelan.

"Dan entah mengapa polisi-polisi di Jerman juga mencurigai kami menjadi komplotannya di balik pembunuhan itu! Sial." Gerutu Gilbert.

"Oh, apakah kalian juga tidak tahu kenapa polisi-polisi itu mencurigai kalian demikian?" tanya Sadiq, memancing rasa penasaran dari Gilbert dan tiga orang lainnya.

"Maksudmu?"

Sadiq menjulurkan tangannya ke dasbor jok depan, membukanya, lalu mengeluarkan segulung koran yang kelihatannya masih baru dari dalam sana. Diberikannya koran tersebut pada Gilbert selaku pimpinan kru.

"Pagi tadi The NEWS dikabarkan sebagai komplotan penjahat yang membuat kekacauan di Jerman. Dan karena hal itu hak sebagai reporter kalian akan dicabut oleh pemerintah secepatnya. Dan jika kalian tidak menyerahkan diri, maka—"

Gilbert hanya bisa terdiam bagai tersambar petir berkekuatan tinggi begitu melihat halaman pertama di koran tersebut. Sebuah berita berisi tentang kejahatan sekelompok reporter bernama The NEWS yang sedang marak akhir-akhir ini sedang hangat-hangat merintai media pemberitaan. "Tidak mungkin..." Gilbert bahkan tak bisa membayangkan jika mereka melakukan semua kejahatan seperti itu. Di dalam koran, diceritakan bahwa The NEWS setidaknya melakukan lebih dari 14 aksi kejahatan di negara berbeda dan juga melancarkan berbagai aksi kriminalitas yang merugikan warga.

Mereka sama sekali tak pernah melakukan hal itu!

Dan sedetik kemudian, barulah Gilbert menyadari sesuatu yang krusial. Sepasang mata rubinya terbakar oleh bara amarah begitu melihat penerbit dari koran yang sudah memfintah mereka sampai separah ini. Dengan amukan tingkat tinggi, Gilbert langsung meraung dan merobek lusinan lembar koran itu dengan sekali sobek dan membuangnya ke jendela.

"AAARGH! THE HEROES SIALAAAANN!"


Arkansas, United States of America

Pria itu berdiri di balkon apartemen dan memandangi langit Arkansas yang tak seberapa baik. Awan-awan mendung selalu terlihat belakangan ini, dan begitu pula dengan kehadiran awan mendung lain di hatinya. Pria berperawakan tinggi menawan bak atletis itu bahkan mengurangi asupan rokok tembakau selama beberapa pekan terakhir. Rambut jabriknya tak semenarik dulu. Namun pandangan angkuhnya tetap sama. Tuksedonya juga masih yang lama. Tak ada perubahan signifikan dalam fisiknya.

Ned—nama pria itu—tahu tindakan bahwa keputusan yang ia ambil ini masalah besar baginya untuk beberapa waktu ke depan. Tetapi dia merasa tidak ada salahnya untuk mengambil jalan epik ini. Urusannya dengan beberapa komplotan di luar sana masih belum selesai.

Dengan ekspresi yang sangat tenang Ned merogoh saku tuksedonya, mencari-cari sesuatu.

Kemudian dikeluarkannya sebuah kartu nama kecil yang sudah lusuh dengan robekan di sepanjang pinggiran. Ned menghela napas. Kartu nama yang berada di tangannya kini terlihat sudah begitu lama karena tersimpan di dalam sakunya, sehingga bau yang dihasilkan pun membaur dengan pakaiannya. Lecek dan kusut. Namun masih terjaga dengan hati-hati.

Dipandangi foto wajah tegang di dalamnya lekat-lekat. Lucu dan mengesalkan di saat yang bersamaan.

Airlangga Putra Brawijaya.

Anak itu lupa mengambil ID Card-nya. Atau Ned yang belum mengembalikannya.

Ned mendesah. Mungkin saja anak itu sudah membuat ID Card baru. Namun Ned akan tetap menyimpan yang satu ini. Dan mungkin tak akan pernah mengembalikannya.

Pria Belanda berumur dua puluhan itu mendesah.

Yang perlu Ned lakukan sekarang adalah menunggu Sadiq dan Heracles, sahabatnya, untuk kembali dari Jerman dan membawa para reporter sakit jiwa itu kemari dengan selamat. Lalu meminta bantuan kelima-limanya untuk menyelesaikan perkara ini secepatnya.

Ned yakin kelima reporter berbakat itu pasti bisa membantunya dalam misinya kali ini. Dan sebaiknya mereka harus jauh lebih cepat tiba di Arkansas ketimbang oknum yang lain.

Ya, mereka semua harus ke Arkansas. Tanpa terkecuali.


Brussel, Belgium

Airlangga merasa tak asing mendengar nama itu.

Ned?

Seolah-olah ada lapisan kaca tebal yang menghalangi ingatannya akan nama itu. Mengurungnya serapat mungkin. Sekuat apapun Airlangga berusaha mengingat, nama itu hanya berdiri di sana dan memandangnya. Nama minimalis itu memang hanya sekedar nama, namun entah mengapa Airlangga merasa sangat familiar dengan nama itu. Bahkan merasa sangat mengenalnya. Namun—tetap saja Airlangga tak bisa mengingat lebih jauh.

Setelah anak berumur delapan belas tahun ini berangsur tenang, barulah orang itu perlahan-lahan mengendurkan jeratannya, membiarkan Airlangga agar dapat bergerak bebas. Namun yang didapatinya adalah tangan yang semula berusaha melepaskan cengkramannya itu kini meluncur jatuh begitu saja tanpa tenaga. Sama sekali tak berniat melawan.

Orang ini menarik napas dalam-dalam. Yang sekarang harus ia lakukan adalah membawa Airlangga pergi dari sini tanpa paksaan. Kabar yang berhembus jika anak itu terserang amnesia akibat kecelakaan misterius beberapa minggu lalu adalah keuntungan baginya. Dengan menyamar sebagai Ned, setidaknya dia bisa menggiring anak ini menuju markas dengan aman.

Elizaveta pasti akan sangat senang sekali dengan buruannya kali ini. Dia jadi tidak sabar.

Mathias Kohler tersenyum dan berkata lembut, "Sekarang kenakan bajumu kembali. Aku akan membawamu ke suatu tempat." katanya sambil mengusap rambut Airlangga lembut.

Airlangga merasa tak berguna, dia tak dapat mengingat apapun. Dia akhirnya menoleh perlahan dan mendapati seorang pria berambut spike pirang dengan sorot mata ekspresif yang ceria tengah berdiri di belakangnya. Senyumannya tak mencurigakan. Tidak ada kejahatan di sinar matanya. Dan Airlangga tak dapat menolak ajakan dari pria bernama Ned ini.


Rayan menaiki tangga menuju lantai dua. Sang kakak yang dulunya cerewet itu masih belum selesai mandi sejak satu jam lalu. Itu adalah hal tidak wajar untuk ukuran seorang lelaki. Dan hal itu membuat Rayan khawatir.

Dengan sangat hati-hati dan langkah kaki berjingkat, ia menghampiri pintu kamar mandi. Sejenak ia ragu-ragu karena akan menganggu privasi seseorang yang sedang membersihkan diri, tetapi naluri seorang saudara tak bisa ia abaikan begitu saja.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan keberanian, Rayan mengetuk pintu kayu itu.

Tidak ada jawaban.

Ragu, Rayan meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.

Pemuda berambut stylish itu mengintip perlahan dengan hati-hati. Dia mulai menyusun kata-kata jika Airlangga tiba-tiba memakinya karena Rayan sudah mengintipnya mandi. Rayan menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu itu lebar-lebar.

"Airlangga?"

Namun pemandangan yang ia terima selanjutnya sama sekali tak pernah terduga sebelumnya. Dia berdiri terpaku di depan pintu dengan tubuh sekaku es.

Dia tercekat dan napasnya terasa berhenti seketika.

Airlangga tidak ada di sana.


Berlin, Germany

"Sudah kuduga ini semua ulah si reporter sok jagoan dan teman-temannya yang tidak awesome-nya itu! Aah, sialaan!" Gilbert menjerit frustasi sambil menjambaki rambutnya. Menendang-nendang kursi jok Sadiq kesal dan membuat kepala pemuda Turki itu berkali-kali menabrak kemudi.

"Hei, selow saja!" sergah Sadiq.

"Sudah kubilang, kan? Mereka pasti dalang di balik semua ini! Tapi kalian tidak ada yang mau mendengarkan aku!" kali ini giliran Francis yang memprotes dan meninggikan suaranya.

"Jika mereka adalah pelaku di balik kasus pembunuhan Airlangga maka aku tak akan segan-segan memotong anu mereka!" seru Natalia berang sambil mengangkat pisaunya.

"Semoga mereka kembali ke jalan yang benar, Tuhan…" lirih Antonio.

"Kalian kelihatan kesal sekali, ya?" Sadiq terkekeh. Merasa lucu melihat tingkah hiperbolik para reporter kocak ini. "Aku memberi kalian nasihat positif. Jika kalian ingin membersihkan nama baik kalian dan memberi pelajaran yang setimpal pada para reporter itu, maka ikutlah dengan kami ke Arkansas dan membantu Ned untuk menyelesaikan misinya. Kami mempunyai sesuatu di luar sana untuk menjatuhkan reporter itu, dan membuat mereka mengalami kejadian yang sama seperti kalian. Kami berjanji akan membuat para reporter itu menyesal karena menjadi reporter seperti sekarang." Sadiq tersenyum penuh arti. "Bagaimana? Apakah kalian setuju?"

Gilbert tak usah ditanyai dua kali langsung menyetujui tawaran itu. Kepalanya sudah panas sekali dengan gonjang-ganjing berita tak bermutu yang menyerang nama baik mereka beberapa minggu terakhir ini. Dia tak mau memikirkan konsekuensi ke depannya. Yang ingin ia lakukan hanyalah memberi pelajaran pada reporter sok heroik dan teman-temannya yang sama sekali tidak awesome itu! Ingin sekali rasanya Gilbert meledakkan kantor reporter bernama The HEROES itu dengan bom nuklir dan radioaktif!Meratakan semuanya dengan tanah dan menghapus nama mereka dari daftar kehidupan umat manusia!

"Baiklah!" Gilbert menjabat tangan Sadiq begitu percaya diri dengan mata berapi-api penuh semangat lalu mengangguk mantap.

"DEAL!"

.

.

To be Continued


A/N : Gruaah! Saya nggak nyangka chapter kali ini beneran lahir, broh! I'M FREEEEEEEE! #mendadakElsa Saya sudah berusaha let it go~ let it go~ dengan chapter ini dan mengeluarkan kemampuan saya demi terciptanya chapter nan lebay satu ! Dan saya seneng banget karena Sadiq-Heracles akhirnya konco-an sama The NEWS, yeaaay! XD #plak Dan saya juga merasa agak bersalah script Romano dikit banget #pukpukItalia :') Tapi masih mending dibanding Kirkland yang nggak kebagian script sama sekali di chapter ini. Mruahahaha! (ada saatnya, kok) #plak Trus Mathias yang lama nggak keliatan tau-tau nongol dan ngaku-ngaku sebagai Ned. Kasian kamu APB, kamu diboongin terus sama orang-orang. Sini mama buang kamu ke sumur #plak

Balasan review anon! Cekidot!

someone : Waah, kok bisa kebetulan gitu, ya? Mungkin kita berjodoh #hei Hahahaha! Jadi APB baru boleh dibunuh kalo diraep dulu? Aih, ide yang bagus! XD #plak Aih, ngakak berat soal foto itu! Hahaha! XD Hati-hati dengan, Rayan, yaa. Hohoho. PS: Sama, ya? Woah, jangan-jangan temenmu juga pembunuh bayaran dari Meksiko QAQ #bukaan Makasih reviewnya, yaa!

Hadoh, kalo lama nggak ketemu saya emang doyan curcol panjang, hhhh.

Terima kasih atas dukungan teman-teman yang mengajak saya untuk kembali menulis The NEWS :') Saya cinta kalian. Eh, nggak, deng. SAYA OVER-SAYANG KALIAAAANN! AAAAAAAHH! X'D #kecupinsatusatu

PS : Untuk yang bertanya-tanya kenapa Ned ada di Arkansas dan mengapa Mathias ngaku-ngaku sebagai Ned, dan kenapa si Meksiko yang kemarin sempat diceritain belum nongol di chapter ini, maka akan diceritakan di chapter depan! Pokoknya pantengin Arr-Kansas terus, yaaa! XD (dan doakan agar The NEWS secepatnya menjadi waras, yeaay!)

Sign, Rapuh