Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't own the characters. I just borrowed our beloved characters here. No profit gained from this fanwork.
o0o
Setelah perang, Rin datang ke mimpi Kakashi lagi. Kali ini tidak ada darah dan Chidori. Hanya ada langit biru luas, hamparan rumput hijau, dan awan-awan. Rasanya tempat ini terlalu indah dan damai hingga Kakashi hampir mengira ini suatu tempat di luar batas dunia. Tapi kemudian Rin duduk di situ. Dan Kakashi tidak perlu mempertanyakan apa atau bagaimana mereka bertemu. Tapi ia mengenali Rin dengan tampilannya yang masih berusia tiga belas dulu. Tidak ada yang berubah. Bahkan senyumannya juga masih sama.
"Rin…"
"Kakashi."
Mereka berpelukan erat dan Kakashi hampir merasakan kehangatan pelukan Rin andai ia tidak menyadari bahwa tidak ada detak jantung di tubuhnya. Tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Apakah ini berarti aku mati?"
"Tidak. Kamu belum waktunya." Rin menjawab.
"Oh, kalian selalu begitu ya. Meninggalkanku di sini. Seolah kalian punya hak menetapkan bahwa aku harus tetap hidup entah untuk alasan apa."
"Maafkan aku, Kakashi. Tapi aku sudah bertemu Obito."
"Itu bagus."
"Aku bilang padanya bahwa aku ingin bertemu denganmu, hanya berdua." Rin menggaruk pipinya. "Yah, membahas beberapa hal di antara kita yang belum terselesaikan."
Kakashi tertawa parau. Lalu air matanya menitik. Ia bahkan tidak bermaksud menyembunyikan tangisannya.
"Tidak apa-apa, Kakashi. Kau tidak bersalah. Ini pesan Obito padamu."
Lalu Rin juga menceritakan tentang segel di jantungnya dan pelaku di balik semuanya: Madara. Kakashi tidak begitu tercengang. Lagipula itu semua sudah selesai.
"Kenapa Obito? Mengapa ia tidak mengatakannya sendiri padaku?"
"Ya, mungkin dia nanti akan melakukannya. Dia ingin agar aku yang menyampaikan pertama kali supaya kau benar-benar terbebas, Kakashi."
"Lalu apa yang ingin kau sampaikan?"
Rin diam sejenak, kemudian berkata: "Selama aku mengawasimu. Aku selalu berpikir, oh, lihat. Kau sudah banyak berubah. Aku melihat caramu memperlakukan teman-temanmu sekarang. Dan membandingkan dengan apa yang kuterima dahulu. Lalu aku merasa iri. Kau sangat baik pada semua orang. Kau adalah sumber motivasi mereka. Aku iri melihat orang-orang yang menerima kebaikan dirimu versi sekarang."
Kakashi mendengarkan. Meski Rin terjebak dalam tubuh anak berusia tigabelas. Tapi sepertinya tidak dengan pikirannya.
"Tapi kemudian aku bertanya lagi," kata Rin. "Tapi untuk apa? Bukankah kita manusia memang seperti itu? Kita dulu bertemu saat kita masih muda dan terlalu polos untuk mengenal dunia. Kita melakukan kesalahan dan menyakiti satu sama lain . Kita tidak tahu jawaban dari "bagaimana"? Lalu kamu (yang masih hidup) dapat belajar dan berkembang. Menjadi versi dirimu yang lebih baik dari sebelumnya. Bukankah itu intinya hidup?"
Jeda yang berat sebelum Rin melanjutkan, "Tapi rasa menyesal itu masih ada, sebab aku yang memutuskan untuk meninggalkanmu. Jadi ya, mungkin itu sepadan."
"Rin … Mengapa justru kau yang menyesal?" Mungkin Kakashi akhirnya menemukan jawabannya.
"Tapi aku senang kau mengatakannya. Sudut pandangmu yang tidak pernah kuketahui. Dan, apa lagi yang bisa kulakukan, Rin? Aku hanya berusaha untuk melanjutkan hidup. Berjuang melupakan kesedihanku dan belajar memperbaiki kesalahan masa lalu."
"Ya, Kakashi. Memang begitulah inti kehidupan. Sudah kubilang kan? Kau tidak salah."
"Maafkan aku, Rin."
"Oh, sudahlah. Aku sudah mendengar kata-kata itu darimu lebih dari seribu kali. Sudah kubilang, tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Bisakah kau mengatakan bahwa kau masih mencintaiku?"
o0o
"Tunggu!" Suara di seberang telepon menginterupsi. "Rin, ini apa? Kamu sungguhan menulis cerita tentang kita seperti ini?"
Rin tak dapat menahan gelak tawa. Ponselnya dalam mode volume keras. "Benar, Darling. Ini adalah naskah tentang kita berdua."
"Serius? Kamu tidak akan menyamarkan namanya?"
"Tenanglah, Kakashi. Kau tahu aku tidak akan melakukan yang seperti itu."
"Satu lagi. Ada alasan khusus mengapa kamu bahkan membuatku membunuhmu, Rin?"
Rin terkikik lagi. "Itu dia yang ingin kudengar darimu."
"Lalu? Jawabannya?" Ada nada kesal yang tidak disembunyikan dalam suara Kakashi. "Lihat. Ceritamu ini terlalu kejam untuk disebut romansa. Kenapa yang laki-laki harus membunuh kekasih perempuannya? Dan kenapa si perempuan yang berkorban dengan cara tragis? Nih, aku beritahu. Ada cara lain selain membuat mereka saling menyakiti. Komunikasi, misalnya."
"Oh, Darling. Kau tahu opsi itu tidak diperlukan di sini; dalam hal ini mereka ada untuk plot."
Terdengar suara decakan lidah. "Kalau begitu kamu akan membuat pembaca menangis dan membencimu."
Evil dalam jiwa Rin tertawa keras membayangkan pembacanya yang kelak meraung-raung. "Memang itu tujuannya. Mereka memang akan menangis tujuh hari tujuh malam, tapi membenciku? Tentu tidak. Kujamin, mereka bakal jatuh cinta dengan karakter dalam ceritaku."
"Kamu yakin, Rin?"
"Positif seratus persen."
"Huh? Ternyata pacarku termasuk dalam golongan penulis yang senang menyiksa pembaca."
Rin tergelak halus untuk terakhir kalinya sebelum ia menutup panggilan. Ia mengatakan bahwa Kakashi hanya akan mengetahui detail cerita lain setelah bukunya naik cetak. Kakashi mengakhiri panggilan dengan ungkapan harapan agar bukunya nanti sukses besar dan menjadi best seller . Rin mengulum senyum mendengarnya. Ia senang, sebab meski pendapat mereka berlawanan dalam beberapa hal terkait isinya, Kakashi selalu menjadi satu-satunya supporter utama bagi impian dan dunia Rin yang luas dan tak terhingga.
