Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't own the characters. Kalau Naruto punya saya, sudah pasti Kakashi dan Rin dibuat endgame bersama -,- I'm not gained any profit from this fanwork.

.

.

o0o

Augustrope 2024 Prompt: 5 Times this + 1 Time That

o0o

.

.


I

Kali pertama Kakashi terlihat menjauh, ialah tepat setelah anak itu naik kelas menjadi Chunin.

Waktu itu Kakashi masih tampak bangga terhadap dirinya. Anak Hatake itu berjalan bersama ayahnya, memamerkan pada dunia bahwa inilah tempat yang pantas menjadi miliknya. Rin melihat saat Sakumo-san menggandeng tangan Kakashi yang tersenyum lebar. Dia mulai merasa Kakashi tengah menaruh jarak darinya dan Obito. Seakan anak laki-laki itu menyiratkan tanpa kata, bahwa mereka berdua masih belum sejajar dengannya—Rin dan Obito harus mengakui kehebatannya.

Rin melihat Obito menyadarinya juga. Tapi tidak menjadi masalah sebab Obito justru semakin termotivasi. Terhadap apa yang disebut sebagai rival, Obito menjadikan sikap Kakashi sebagai pembakar semangat supaya dia terus maju dan berlatih lebih keras.

Rin menyukai cara Kakashi menggerakkan Obito dengan cara seperti itu.

Lalu Rin melihat pada dirinya. Dibanding Obito yang lebih banyak "dilihat" oleh Kakashi, Rin masih tertinggal jauh.

Rin pernah berpikir ia menyukai Kakashi setelah suatu kejadian tak terduga satu tahun silam. Namun, itu hanya menambah keraguan pada perasaannya. Ia masih terlalu muda untuk menyadari hal ini sebagai cinta yang romantis. Jadi, Rin berpikir ia hanya mengagumi Kakashi seperti halnya Obito yang meneladaninya.

Saat itu jam istirahat makan siang di Akademi, Obito berkata bahwa dia belum lapar kemudian pergi entah ke mana. Rin melihat Kakashi duduk sendirian di kantin. Ia memantapkan diri untuk duduk di sebelah Kakashi. Tidak merasa perlu meminta izin sebab biasanya meja itu memang ditempati oleh mereka bertiga.

"Obito kemana?" Kakashi bertanya tanpa mengangkat pandangan dari kotak bento di depannya.

"Tidak tahu." Rin menjawab. "Tadi dia bilang mau keluar."

"Huh? Sudah pasti dia latihan kan?"

Rin tidak tahu fakta itu. "Eh, benarkah?"

"Jelaslah, dia agak terobsesi dengan latihan akhir-akhir ini."

Terkadang Rin merasa iri melihat bagaimana Kakashi dan Obito saling bersinkronisasi memahami satu sama lain meski saat berhadapan langsung, mereka berdua tak lebih dari kucing dan tikus.

"Kamu seharusnya latihan juga, Rin."

Rin termenung. Ia berhenti mengunyah, menatap lurus pada nasi kepal lain yang masih utuh di kotak bentonya. Itu benar. Rin menyadarinya. Tapi cara Kakashi mengucapkannya, entah bagaimana … terdengar sinis. Oh, ia memang sudah biasa dengan sikap macam itu. Namun, entah mengapa rasanya Kakashi seperti ingin mengusirnya dari tempat mereka duduk bersama.

Padahal ini kesempatannya berduaan dengan Kakashi. Namun, ia merasa sedang ditolak.

"Tentu." Rin meringis. "Aku akan melakukan latihan tambahan setelah ini."

"Aku lihat nilaimu saat ujian farmasi kemarin. Kamu itu punya potensi, Rin. Jangan disia-siakan."

Rin tidak seperti Obito yang pasti akan lekas menjawab dengan komentar yang tak kalah pedasnya, dan membuat mereka berdua beradu argumen. Namun, ia tidak ingin dipandang sebelah mata. Ia ingin agar pandangan Kakashi terhadap dirinya berubah. Jadi ia berusaha memberikan jawaban terbaik.

"Seandainya saja ada buku tentang tumbuhan langka. Aku akan mencarinya di perpustakaan. Mungkin aku bisa tahu lebih banyak."

Rin masih berharap Kakashi dapat mengerti, bahwa ia juga tengah berjuang. Tetapi ketika anak laki-laki itu justru beranjak dari kursi seraya menyahut "ganba" dengan nada datar yang jelas, Rin mengambil kesimpulan; Kakashi tidak terlalu menaruh minat padanya.

o0o


II

Kali kedua saat Rin menunggu di depan rumah Kakashi setelah pemakaman ayahnya yang tidak dihadiri seorang pun.

Tetes-tetes hujan mulai menitik. Payung merah terbuka di tangan. Rin berdiri di luar pintu pagar. Berkali-kali melongok ke ujung jalan. Menunggu dan harap-harap cemas.

Dia kemari setelah melihat Kakashi di pemakaman.

Jadi, berita itu benar. Ayah Kakashi bunuh diri … meninggalkan Kakashi, meninggalkan anak laki-laki itu, yang sebetulnya sudah rapuh menjadi tanpa pegangan. Rin sangat khawatir.

Rintik hujan mulai deras. Rin bisa merasakan kecipak air yang jatuh mencumbu tanah, mengotori ujung sepatunya.

Tapi Kakashi masih belum nampak.

Rin mengkhawatirkan Kakashi terlalu banyak dan jantungnya berdegup kencang. Ia memikirkan berbagai hal, apa-apa saja yang mungkin terjadi dan yang tidak.

Oh tidak! Bagaimana mungkin? Kakashi sekarang sendirian. Anak laki-laki itu pasti sangat terpukul. Rin ingin ada di sisinya untuk menguatkannya.

Apa yang harus dia lakukan?

"Hei, Rin!"

Rin terlonjak kaget. Tiba-tiba Kakashi sudah memegangi pintu pagar, megayunkan daun pintu ke dalam.

Anak laki-laki itu tanpa payung. Air hujan mengguyur rambut silver, membuatnya tampak semakin kecil dan rapuh.

Raut di mata hitam Kakashi, campuran kosong dan bertanya-tanya.

"Kenapa kamu di sini?" Kakashi melantangkan suaranya.

"Kakashi!" Rin melangkah mengikuti Kakashi masuk ke balik pagar kayu. Ia masih memikirkan jawaban ketika tiba-tiba Kakashi berhenti tepat di depan pintu rumah.

"Jawab, Rin!"

Cengkeraman tangan Rin mengerat di gagang payung. "Aku mengkhawatirkanmu, Kakashi. Aku kesini untuk melihatmu!"

Rin merasa suaranya serak dan ia tak dapat membendung emosi.

"Tidak perlu." Pintu dibuka. Kakashi melangkah ke dalam rumahnya. Yang di mata Rin tampak seperti kegelapan gua.

Rin melangkah lebih cepat. Mengulurkan kantong plastik berisi handuk.

Pintu ditutup.

"Tolong, Kakashi! Katakan sesuatu!"

Ada celah di pintu yang sedikit terbuka. "Apa yang harus kukatakan? Merepotkan!"

"Katakan apapun jika kau butuh bantuan!"

"Tidak. Aku tidak butuh bantuan."

Pintu ditutup. Rin ditinggalkan mematung.

Sebelum tiba-tiba, dalam sekejap mata, pintu itu dibuka kembali bersamaan dengan sebuah tangan yang terulur dari dalam kegelapan, dengan satu tarikan kasar menarik bungkus plastik dari tangan Rin.

"Pergi," kata suara anak laki-laki itu, timbul tenggelam di sela bunyi hentakan hujan dan angin.

Air hujan tercurah seirama tamparan angin yang mengguncang-guncang payung merah Rin. Rasa dingin membasuh pergelangan kakinya. Rin menggigil menatap pintu yang ditutup.

o0o


III

Kali itu mereka tengah beristirahat selepas misi bertiga. Anehnya tidak banyak pertengkaran antara Kakashi dengan Obito. Kedua rekan lelakinya itu entah bagaimana dapat bekerjasama—yang mana jarang terjadi. Rin mensyukurinya dan menganggap itu sebagai kemajuan positif bagi mereka.

Tiba-tiba Kakashi berujar bahwa botol minumnya tertinggal di rumah dan dia lupa membawanya.

Rin menawarkan miliknya tanpa pikir panjang.

Kakashi menolak. "Aku tidak jadi haus," ujarnya.

"Mengapa? Ini botolku, kau dapat meminumnya dulu, Kakashi."

"Sudah kubilang, tidak perlu!" Kakashi meninggikan suaranya.

Yang membuat Rin agak terguncang.

Obito, yang sejak tadi duduk menekuri bekalnya, langsung beranjak bangkit dan menyela dengan suara yang tak kalah kerasnya.

"Apa-apaan sikapmu itu, Bakashi!"

"Apa?"

"Kau memang bodoh. Tapi tak kukira kau sebodoh itu berani membentak seorang gadis!"

"Ini tak ada hubungannya denganmu!"

"Kalau begitu terima botol minum Rin dan minta maaflah."

"Kenapa kamu yang mengatur-ngatur?"

Rin menciut begitu menyadari perseteruan mereka berdua baru saja dimulai. Dan itu disebabkan oleh dirinya. Pada akhirnya, Rin tidak juga berhasil menengahi mereka. Ini hanya tentang botol. Masalahnya di mana? Mungkinkah Kakashi tidak merasa nyaman minum dari botol Rin? Namun, ketika dia bertanya apakah mungkin Kakashi lebih senang bila minum dari botol Obito? Yang dijawab Obito sendiri dengan tepisan keras.

"Mana mungkin aku meminjamkan botolku padamu, bodoh!"

"Siapa pula yang mau minum dari botolmu, Ahobito! Aku tidak haus!"

Ada rasa sedih ketika Rin menghitung, ini tepat kali ketiga Kakashi menolaknya.

o0o


IV

Rin menggerakkan tangan dengan cekatan menguleni adonan dalam baskom. Tak jauh di sisinya, Kakashi berdiri menunggui kompor yang menyala.

Mereka berdua berada di dapur Kakashi. Menyiapkan makan malam.

Ini hari keberuntungan Rin. Ia sengaja datang seraya membawa bahan-bahan, tahu hal ini dapat sedikit meluluhkan Kakashi. Sejak kejadian beberapa tahun silam, yang melibatkan Obito dan dirinya menguntit Kakashi. Rin dan Obito jadi sering mampir, dan Kakashi tampak sengaja membiarkan mereka berdua mengisi kekosongan dalam rumahnya.

Mereka bersinkronisasi dalam kegiatan memasak. Ketika kemudian semua hidangan telah siap saji, mereka berdua duduk di atas tatami dengan semeja penuh hidangan. Rin melihat antusiasme di mata Kakashi saat melahap makanannya satu-persatu.

Terkadang, Kakashi seperti buku yang terbuka; dapat dibaca. Lebih sering, dia seperti buku yang tertutup; misterius dan menerbitkan keingintahuan.

Saat ini, Kakashi adalah yang pertama. Rin dapat melihat sebagian emosi yang terbit melalui sepasang matanya. Kakashi sedang dalam mood yang bagus.

Mereka menyantap makanan dalam ketenangan. Ini momen yang Rin inginkan supaya berlangsung selamanya. Meski sama mustahil seperti sejumlah momen mereka sebelumnya, melintas lalu dilupakan, atau hanya akan diingat sebagai memori yang memudar perlahan.

Tetapi, di antara momen-momen yang diingat itu, saat Kakashi terlibat melindungi Rin dari perundungan.

Kejadiannya sebelum Kakashi menjadi Chunin. Ada seorang anak laki-laki yang tampak terobsesi pada Rin. Anak itu melakukan hal-hal semacam olok-olok pada berbagai kesempatan saat Rin tengah sendirian. Tidak ada siapapun yang tahu, bahkan Obito. Sebab Rin tidak ingin temannya itu mengetahuinya. Dia waspada akan sikap anak laki-laki itu (sudah pasti bocah Uchiha itu tidak akan tinggal diam), dan Rin tidak ingin masalahnya jadi lebih rumit lagi.

Namun, sepertinya Kakashi mengetahui masalah ini entah dari mana. Mungkin, Kakashi pernah menyaksikan tempat kejadian perkara, tanpa disadarinya. Tepat ketika si perundung tengah beraksi, kali ini dia mencoba merebut spons cuci piring saat Rin berada di wastafel. Tiba-tiba Kakashi datang, mengejutkan Rin dengan langsung melempar jotosan maut. Si perundung berbadan gendut itu terpental jatuh. Kakashi mengancam akan mengadukan perbuatannya pada guru jika dia tidak berhenti. Setelah itu, Rin tidak pernah diganggu lagi.

"Mengapa kamu diam saja?" Kakashi bertanya setelah dia menarik anak itu memaksanya meminta maaf di hadapan Rin.

"Aku tidak tahu harus bagaimana." Rin menjawab. Fakta bahwa dia tidak hendak terlibat masalah, meski sebetulnya dia sudah tercebur ke dalamnya.

"Jadilah kuat," Kakashi berujar seraya membalik punggung.

Di momen itulah, Rin menyadari ia menyukai anak laki-laki yang telah menyelamatkannya.

Tapi itu sudah sangat lama, sebelum segala malapetaka itu terjadi.

Rin tersadar kembali ke masa kini. Memandangi piring kosong milik mereka berdua. Hampir semua nampan dan baskom hidangan di meja itu tandas isinya.

Rin meneguk gelas minumnya ketika Kakashi berkata. "Kau bisa meninggalkan itu," Kakashi menunjuk piring milik Rin. "Biar aku saja yang membereskan semua."

Rin bisa saja membantah, atau bersikeras bahwa dia ingin membantu. Namun, ini bukan kali pertama Kakashi bersikap demikian. Itu adalah isyarat supaya Rin segera pulang. Dengan begitu Kakashi akan ditinggalkan sendirian lagi. Rin memikirkan betapa ia menyukai momen ini; kesempatan langka di mana mereka dapat menghabiskan waktu; memasak lalu menyantap hidangan hanya berdua.

Bukankah ini sudah cukup? Rin tidak berhak untuk menjawab dengan sebaliknya.

"Terima kasih untuk hidangannya, Kakashi."

Apakah Kakashi sudah merasa cukup ditemani di rumahnya yang sepi itu, selama sisa waktu sore yang sebentar? Rin memikirkan hal itu. Perasaannya kosong ketika meninggalkan rumah Kakashi.

o0o


V

Rin masih ingat perasaan tangan Kakashi yang dingin dan licin oleh keringat. Pada tiga detik yang sangat berharga ketika dirinya ditarik keluar dari bawah gua. Longsoran batu berhamburan di bawah kakinya, menimbun tubuh milik teman mereka yang tidak akan dilihat lagi untuk selamanya.

Tanah bergetar di bawah pijakan kaki mereka. Rin memijakkan kakinya di atas akar pohon yang berbonggol.

Kunai hiraishin berkilat di tangan Kakashi. "Pergilah sekarang!" Anak laki-laki itu tampak sudah bertekad.

"Tapi …" Rin memikirkan kekhawatirannya pada Kakashi. Terbayang olehnya raut wajah terakhir Obito yang separuhnya tertimbun batu.

"Aku sudah berjanji pada Obito, aku pasti akan melindungimu."

"Kakashi!"

Rin merasa muak. Ia muak selama ini dialah yang selalu berada pada posisi dilindungi. Rin yang selalu memandang ke arah punggung anak laki-laki itu, dan tidak sebaliknya. Ia muak sebab sejauh apapun ia berusaha, Kakashi tetap tidak pernah memandang ke arah dirinya.

"Rin," ujar Kakashi. Percikan cahaya biru Chidori mulai menghambur dari tangan kanannya. "Obito selalu mencintaimu, satu-satunya. Dia telah menyerahkan nyawanya demi melindungimu."

Rin terenyak. Oh, ia tahu. Namun, apakah di sepanjang jalan mereka bersama, hanya sebatas itukah nilai dirinya di mata Kakashi?

"Kakashi …" Haruskah Rin mengungkapkannya sekarang? Ia tahu ini bukan saat yang tepat. Namun, adakah di sana suatu cara untuk menghentikan Kakashi?

Rin dapat melihat, dan merasakan, dan betul-betul tahu, betapa terguncangnya Kakashi atas kecelakaan Obito. Dan dari cara anak laki-laki itu menerjang musuh seolah dia juga sudah bersiap menyerahkan nyawanya. Rin tidak akan membiarkan dirinya kehilangan Kakashi juga.

Hanya ini yang terpikirkan olehnya.

"Kalau begitu, Kakashi, kau harus tahu bagaimana perasaanku terhadapmu…."**

Oh, sial …

Sial …

Sial …

Rin sungguh menyesalinya. Itu bukanlah kalimat yang pantas diucapkan setelah dia baru saja menyaksikan temannya sekarat dan tewas tepat di depan mata mereka berdua.

Namun, Rin tak dapat menarik ucapan kembali.

"Aku tidak pantas untukmu," adalah jawaban Kakashi. "Aku bukan apa-apa dan hanya sampah."

Rin merasa tidak berguna. Ia sudah merusak segalanya. "Obito juga melindungimu. Baginya kaulah yang lebih berharga."

Tidak ada cara lain untuk menghentikan Kakashi.

Percikan petir dari tangan Kakashi menyebar, seiring langkah tegap anak laki-laki itu menerjang ke depan, meringsak formasi kepungan musuh.

o0o


VI

Kakashi masih menunduk memandangi kedua tangannya yang terjalin.

Rin memejamkan mata, menghela napas. Ia mendengarkan dersik rumput dan dedaunan yang tertiup angin lembut. Ini adalah lapangan arena latihan. Tempat mereka sering berlatih bersama Minato-sensei dan Obito. Entah mengapa kali ini terasa lebih sepi dan dingin.

"Rin …" Kakashi hendak memulai percakapan.

Rin selalu menyukai cara Kakashi melafalkan namanya. Suara R di depan konsonan, lalu saat suaranya terhenti di huruf N. Selalu ada, entah bagaimana, hal-hal tak terucap dari dalam diri Kakashi. Tapi Rin selalu menyukainya; nadanya, suaranya. Bahkan, seperti kemarin. Saat Kakashi memanggil namanya dalam keadaan marah, sedih, dan frustrasi. Tapi tidak apa. Bahkan seandainya Kakashi ingin memanggil namanya hanya sebagai pelampiasan.

Rin sudah tahu, keterlambatan penyelamatan Kakashi dan Obito … dan pertikaian mereka berdua. Sayangnya, dia tidak ada di sana saat perdebatan mereka terjadi. Tapi, meski itu karena kecerobohannya, Rin juga menyesal. Ia menyesal telah membuat tim dalam kondisi sulit, dan dialah penyebab bagi permasalahan mereka semua.

"Kakashi …" Rin balik memanggil saat jeda Kakashi, yang sepertinya masih dihinggapi keraguan tentang bagaimana memulai percakapan.

Ada langkah lebar yang diambil ketika Rin bergeser tepat di hadapan Kakashi.

Rin menyadari ketika tangan mungilnya bergerak melayang, lalu mendaratkan tamparan (sedikit agak) keras di pipi pemuda itu, tepat mengenai masker yang menutupi wajahnya.

Kakashi terperenyak dan mengaduh pelan.

"Aku tahu," Rin mengepalkan tangan. Dia yang menampar, tapi dia yang merasakan sakit. "Aku tahu permasalahan kalian berdua dan keputusan yang hendak kau ambil. Aku tahu itu pilihan sulit, Kakashi. Melanjutkan misi atau menyelamatkanku. Tapi, aku sekarang membayangkan, seandainya Obito yang datang sendirian waktu itu, dan kau tidak menyusulnya. Apakah yang akan terjadi padaku?"

Ada jeda yang diiringi helaan nafas berat. Emosinya tak terbendung. Air mata mulai menitik. Dirinya sungguh cengeng.

"Tapi tidak, Kakashi. Aku tidak mau memikirkannya. Dari segala macam kemungkinan yang terlintas di benakku. Mungkin, ada baiknya aku yang mengorbankan diri—"

"Jangan, Rin!" Kakashi tak tahan untuk tidak menyela.

"Diamlah dulu!" Rin berujar lebih keras. Bulir-bulir bening luruh melintasi pipi putihnya.

"Mungkin lebih baik aku tetap ditawan musuh, dan binasa di tangan mereka. Supaya kau dan Obito dapat melanjutkan misi tanpa halangan apapun. Supaya tidak ada di antara kalian berdua yang terpisah. Sebab aku iri padanya, Kakashi. Obito-lah yang selama ini kau pandangi, dan bukan aku."

"Tidak." Kakashi bersimpuh lemas di atas lututnya. Satu tangan memegangi pipinya yang tadi tertampar. Ia menutupi satu matanya dengan lengan lain. Ia pantas memperoleh tamparan itu. "Tidak," kata Kakashi. "Aku tidak pernah tahu akhirnya akan jadi begini. Tidak ada yang pernah tahu. Aku hanya berpikir untuk memilih apa yang menurutku benar."

"Oh benar, Kakashi. Bagimu misi adalah segalanya."

"Setelah apa yang terjadi sekarang. Setelah kita kehilangan Obito. Itu tidak lagi. Aku menanggung beban kesalahanku dan akan membawa penyesalan ini seumur hidupku. Rin. Maafkan aku."

Rin merasakan cubitan di hatinya lagi. Maaf, dari Kakashi? Yang selama ini begitu kuat—kalau tidak bisa dibilang arogan. Rin mendongak dari posisinya yang berdiri dengan punggung membungkuk. Matanya melebar menyaksikan Kakashi. Pemuda itu tampak rapuh dan kecil—dia tidak sekuat itu, seolah akan pudar jika tertiup angin.

Rin turut menjatuhkan diri, duduk bersimpuh.

"Bagiku Obito adalah temanku yang berharga." Kakashi melanjutkan. "Tapi aku baru menyadarinya sekarang. Bukan berarti aku tidak memandang padamu, Rin. Aku selalu memandang pada kalian berdua."

Sepertinya Kakashi sudah menumpahkan segenap uneg-unegnya. Sebab kemudian anak itu terdiam.

Rin mengulurkan tangan. Mengambil satu tangan Kakashi dari pipinya, dan menempelkan telapaknya di atas wajah tertutup masker. Cahaya hijau berpendar lembut dari sela jemari.

Kakashi masih memejamkan mata, menghayati rasa penyembuhan dari tangan Rin. Rasanya begitu menenangkan. Seolah Kakashi bisa terus memegangnya, menghisap seluruh energi penyembuhan itu. Lebih banyak. Untuk luka-luka di hatinya; luka-luka yang tidak terlihat oleh mata. Bagaimana mungkin, Kakashi mengabaikannya selama ini.

Untuk sesaat, tidak ada di antara mereka berdua yang bicara.

Kakashi membuka mata. Menatap lurus pada wajah Rin yang berkonsentrasi dengan mata masih sembab. Dan ada jejak bulir air mata.

Sudah berapa kali Kakashi membuat Rin menangis?

Sudah berapa kali air mata suci itu jatuh oleh sebab dirinya?

"Rin …"

"Diamlah, Kakashi, tolong."

Pendar hijau di pipi Kakashi meredup secara perlahan. Rasanya seperti Kakashi melihat lorong di hatinya tiba-tiba menjadi gelap lagi. Namun, Kakashi sedikit tenang saat kedua tangan Rin berpindah meraih tangannya. Kakashi membiarkan jari-jemari mereka bersatu. Rasanya begitu pas seolah memang untuk saling melengkapi.

"Tolong, Kakashi." Rin menyatukan dahi mereka saling menempel. "Bukalah hatimu untukku dan mendekatlah."

Kakashi merasa perlu membuang hitai-ate yang menjadi penghalang bagi dahi mereka bersentuhan. "Maafkan aku."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kakashi. Datanglah padaku kapanpun kau butuh bantuan. Jangan menanggung segalanya sendirian."

Kakashi balas meremas jari-jemari Rin secara lembut. Membayangkan pendar-pendar hijau penyembuh yang masih tersimpan di balik tangan kecilnya. "Ya, biarkan aku mendekat padamu. Tolong, Rin. Bantu aku memulai penyembuhanku."

.

.

.

o0o


AN:

** Mulanya saya ingin 'memperbaiki' salah satu worst confession scene by Kishi, yang mana (menurut saya) Rin tidak seharusnya confess di waktu itu (dia baru saja melihat temannya tewas dan juga mereka berdua sedang terdesak. Agak tidak etis rasanya). Tapi saya bingung bagaimana. Akhirnya tetap dibuat seperti canonnya, sambil memikirkan sebetulnya apa sih yang mendorong pengakuan Rin itu?

Saya menambahkan dialog yang tidak ada. Juga ingin mencoba membuat Rin 'badass' dikit saat di hadapan Kakashi :")