"Fade into you" what a deeply romance words. Dan aku lagi pengen bikin Jill x Leon, haha! Ain't sure what to write, I just move with the flow. I made this loooooong enough to makes my eyes teary when I try to supervise it. Jadi aku bagi beberapa part agar nyaman dibaca. Enjoy!
Resident Evil belongs to Shinji Mikami & Tokuro Fujiwara under license of Capcom and Westwood Studios. I just borrowed their characters. Cheers.
Fade Into You
By
Rachel Cherry Giusette
Kota New York adalah tempat orang-orang datang untuk menghilang. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan jalan-jalan berliku-liku menawarkan anonimitas, cara untuk berbaur dengan kekacauan yang ramai dan menjadi wajah lain di tengah keramaian. Itu sempurna untuk seseorang seperti Jill Valentine, yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menyempurnakan seni menghilang. Bagi dunia, dia hanyalah wanita biasa dengan jas panjang abu-abu, menyeruput kopinya di dekat jendela kafe yang tidak mencolok di sudut 43rd Street. Namun, di balik penampilan luar yang tenang itu, ada pikiran yang terus bekerja, menganalisis setiap detail, setiap gerakan di sekitarnya.
Kafe itu adalah tempat kecil dengan lampu redup, bilik-bilik kulitnya yang usang dan lantai kayu yang berderit memberikan kesan keakraban yang tenang. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan aroma kue kering yang manis, memberikan latar belakang yang menenangkan bagi bisikan percakapan yang memenuhi udara. Jill memilih meja di dekat jendela, punggungnya menempel ke dinding—kebiasaan lama yang sulit dihilangkan—di mana dia bisa mengamati jalan di luar dan pengunjung di dalam.
Ia tengah menunggu kontak, seorang informan yang memiliki hubungan dengan dunia kriminal bawah tanah. Pekerjaan itu seharusnya sederhana, pertukaran informasi rutin, tetapi Jill tahu lebih baik daripada lengah. Dalam bidang pekerjaannya, bahkan misi yang paling mudah pun bisa berubah mematikan dalam sekejap.
Hujan di luar telah mengubah jalanan menjadi cermin aspal gelap yang licin, memantulkan lampu neon kota. Tetesan air jatuh di kaca dengan irama yang berirama, mengaburkan sosok-sosok yang bergegas lewat di bawah payung. Mata Jill melirik ke arah pejalan kaki yang lewat, selalu waspada, selalu mencari sesuatu yang janggal.
Saat itulah ia memperhatikannya—seorang pria jangkung, berjalan dengan tujuan di trotoar yang ramai, posturnya percaya diri, tetapi agak berhati-hati. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar yang lembap dan kelabu, dan topi bisbol usang yang menutupi sebagian besar wajahnya. Namun, bukan penampilannya yang menarik perhatian Jill; melainkan cara ia membawa diri. Ada intensitas dalam langkahnya, keyakinan diam-diam yang menandainya sebagai seseorang yang telah melihat lebih dari sekadar bagian yang wajar dari konflik.
Pria itu melangkah masuk ke kafe, menyingkirkan hujan saat ia melepas topinya, memperlihatkan rambutnya yang pirang kecokelatan dan acak-acakan. Matanya, dengan warna biru mencolok, menyapu ruangan dengan mudah, mengamati setiap detail dalam sepersekian detik. Jill langsung mengenali tatapan itu—pemindaian naluriah seseorang yang terlatih untuk menilai situasi, untuk menemukan jalan keluar dan ancaman tanpa menarik perhatian pada diri mereka sendiri.
Dia bukan warga sipil biasa.
Saat dia mendekati konter, Jill mengalihkan pandangannya kembali ke jendela, meskipun indranya tetap selaras dengan setiap gerakannya. Informannya terlambat, dan dia mulai merasakan gatal yang sudah dikenalnya karena ketidaksabaran. Dia menyesap kopinya perlahan, membiarkan kehangatan itu menenangkan sarafnya, tetapi pikirannya tetap terfokus pada pria yang sekarang memesan di konter.
Ia berbicara dengan nada rendah dan terukur, kata-katanya tidak terdengar dari tempat Jill duduk, tetapi ada sesuatu dalam suaranya yang membuat bulu kuduknya merinding. Suaranya menenangkan sekaligus berwibawa, kombinasi langka yang menunjukkan pria yang terbiasa memberi perintah, tetapi mampu berempati.
Pikiran Jill terganggu oleh kedatangan kontaknya—seorang pria kurus berjas murah, energi gugupnya terasa saat ia duduk di kursi di seberangnya. Ia nyaris tak menatap matanya saat menyerahkan flash drive kecil, jari-jarinya sedikit gemetar.
"Ini," gumamnya, melihat sekeliling seolah-olah menduga bahaya akan muncul dari balik bayangan kapan saja. "Hanya itu yang kumiliki. Sekarang, di mana pembayaranku?"
Jill menjaga ekspresinya tetap netral, menggeser sebuah amplop di atas meja. "Semuanya ada di sana," jawabnya dengan dingin, matanya melirik sebentar ke pria di meja kasir, yang sekarang sedang mengambil kopinya.
Percakapan itu berlangsung kurang dari satu menit, tetapi bagi Jill, itu terasa lebih lama. Nalurinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh, bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang terlihat. Saat kontaknya mengantongi amplop dan bergegas keluar dari kafe, Jill mendapati dirinya sejenak teralihkan oleh pria bermata biru, yang telah berbalik untuk pergi.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu—tatapannya tajam dan intens, seolah-olah dia bisa melihat menembusnya. Jill merasakan sentakan aneh karena mengenalinya, meskipun dia tahu mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ada sesuatu tentang pria itu, sesuatu dalam cara dia memandangnya, yang membuatnya merasa seolah-olah mereka terhubung entah bagaimana, seolah-olah jalan mereka ditakdirkan untuk bertemu lagi.
Momen itu berlalu secepat datangnya. Pria itu memutuskan kontak mata, sedikit memiringkan topinya saat dia berbalik dan berjalan keluar di tengah hujan. Jill memperhatikannya pergi, pikirannya berpacu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sempat dia jawab.
Dia menepis perasaan itu, kembali fokus pada tugas yang ada. Tidak ada ruang untuk gangguan di dunianya, tidak ada waktu untuk rasa ingin tahu yang sia-sia. Dia di sini untuk melakukan suatu pekerjaan, dan itu saja yang penting. Namun saat dia mengemasi barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kafe, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik jalan di luar, tempat pria itu menghilang di antara kerumunan.
Jill Valentine terbiasa hidup dalam kegelapan, tetapi ada sesuatu tentang pertemuan ini yang membekas dalam dirinya, perasaan yang mengganggu bahwa ini bukanlah terakhir kalinya dia akan melihat pria bermata biru itu. Dan saat dia melangkah keluar di tengah hujan, menyatu sekali lagi dengan anonimitas kota, dia tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa hidupnya akan berubah secara tak terduga.
…
