Story set back to World War II events, rest in peace for the soldiers who died on the battlefield.

Hetalia Axis Powers always owned by Hidekaz Himaruya-sensei.


Sous la neige

/Di Bawah Lindungan Salju/

by

Rachel Cherry Giusette


Di tengah Perang Dunia II, pedesaan Prancis yang porak-poranda terkapar sunyi di bawah selimut salju musim dingin, pemandangan yang dulunya semarak kini terluka oleh kebrutalan perang yang tiada henti. Saat itu akhir Desember 1944, selama Pertempuran Bulge, di mana pertempuran sengit telah mengubah seluruh hutan menjadi serpihan korek api dan langit menjadi abu-abu redup. Udara terasa berat dengan aroma mesiu dan gema artileri di kejauhan, tetapi di sini, di hamparan hutan kecil ini, ada keheningan yang mencekam, seolah-olah daratan itu sendiri menahan napas.

Thomas Wilkins, seorang prajurit Inggris berusia pertengahan dua puluhan, terhuyung-huyung di tengah salju, napasnya tersengal-sengal. Unitnya telah disergap malam sebelumnya, dan dalam kekacauan itu, ia telah terpisah dari rekan-rekannya. Sebuah peluru telah menyerempet kakinya, meninggalkan jejak darah di salju di belakangnya. Dia menekan lukanya dengan tangan yang gemetar, mencoba menghentikan pendarahan saat dia maju, setiap langkah merupakan pertarungan melawan rasa sakit yang membakar yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dia tahu dia tidak bisa melangkah lebih jauh. Penglihatannya kabur, dan kekuatannya memudar. Keputusasaan mencengkeramnya saat dia menyadari bahwa dia tersesat tanpa harapan, jauh di wilayah musuh. Dia berlutut, salju dingin menempel di kulitnya, dan memejamkan mata, keinginan untuk bertahan hidup perlahan memudar.

Namun takdir punya rencana lain. Tepat saat dia akan menyerah pada kegelapan, dia mendengar suara langkah kaki di salju. Matanya terbuka, dan dia meraba-raba senapannya, ketakutan dan adrenalin mengalir dalam dirinya. Namun saat dia mendongak, yang dia lihat bukanlah seorang prajurit musuh dengan senjata yang diarahkan ke dadanya, tetapi seorang prajurit Jerman muda, yang tidak lebih tua darinya, berdiri beberapa kaki jauhnya.

Prajurit Jerman itu—Hans Müller—kurus, dengan wajah dan mata cekung yang menunjukkan terlalu banyak kengerian yang terlihat dalam hidup yang terlalu singkat. Seragamnya compang-camping, dan lengan kirinya dibalut perban berdarah, bukti luka yang baru saja dideritanya. Ia tampak sama putus asa dan putus asanya seperti Thomas. Untuk sesaat, kedua pria itu saling menatap, beban perang menekan mereka seperti kekuatan yang nyata. Tak satu pun bergerak, napas mereka terlihat di udara dingin, mata mereka terkunci dalam percakapan yang hening dan menegangkan.

Tangan Thomas mencengkeram senapannya erat-erat, pikirannya berpacu. Ia tahu ia harus menembak. Pria ini adalah musuh, seorang prajurit yang kemungkinan telah membunuh prajurit Inggris, bahkan mungkin rekan-rekannya sendiri. Namun saat menatap mata Hans, ia tidak melihat monster, melainkan seorang pria—sama seperti dirinya. Seorang pria yang lelah, terluka, dan takut. Seorang pria yang, terlepas dari segalanya, masih berpegang teguh pada benang kemanusiaan yang rapuh.

Hans melihat hal yang sama pada Thomas. Ia juga telah kehilangan rekan-rekannya, telah melihat kehancuran yang ditimbulkan oleh perang ini. Tangannya sendiri berada di dekat senjatanya, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Mungkin karena kelelahan yang luar biasa, atau mungkin karena pengetahuan bahwa mereka berdua, pada saat ini, lebih mirip daripada berbeda. Apa pun itu, hal itu menyebabkannya menurunkan lengannya perlahan, senapannya jatuh lemas di sisinya.

Pada saat itu, kesepakatan tak terucapkan telah dibuat. Mereka bukan musuh—tidak di sini, tidak sekarang. Mereka hanya dua pria yang mencoba bertahan hidup di dunia yang sudah gila.

Dengan anggukan hati-hati, Hans melangkah maju, matanya tidak pernah lepas dari Thomas. Dia menunjuk luka di kaki Thomas, lalu menunjuk lengannya yang diperban, mencoba menyampaikan bahwa dia tidak bermaksud menyakiti. Thomas ragu-ragu, tetapi rasa sakit di kakinya tak tertahankan, dan dia tahu dia tidak punya banyak pilihan. Perlahan, dia menurunkan senjatanya juga.

Hans berlutut di samping Thomas, mengeluarkan kotak P3K kecil yang lusuh dari jaketnya. Tangannya mantap saat dia membersihkan dan membalut luka, bekerja dengan efisiensi yang terlatih dari seseorang yang telah melakukan ini berkali-kali sebelumnya. Thomas memperhatikannya, pikirannya berpacu dengan emosi yang saling bertentangan. Pria ini, orang Jerman ini, menolongnya—menyelamatkannya. Itu adalah kenyataan yang sulit untuk didamaikan dengan kebencian yang telah diajarkan kepadanya.

Ketika Hans selesai, dia duduk bersandar dan menatap Thomas sekali lagi. Ada keheningan di antara mereka, tetapi itu bukanlah keheningan yang tidak nyaman. Itu adalah keheningan karena saling pengertian, dari dua orang yang telah melihat terlalu banyak, yang telah kehilangan terlalu banyak, dan yang sekarang, di saat yang tenang ini, menemukan penghiburan singkat dalam kehadiran satu sama lain.

Mereka tinggal di sana selama berjam-jam, meringkuk bersama untuk mendapatkan kehangatan, berbagi sedikit makanan dan air yang tersisa. Mereka tidak berbicara dalam bahasa yang sama, tetapi tak ada kata diperlukan. Mereka berkomunikasi melalui gerakan, melalui tatapan, melalui rasa sakit bersama yang melampaui kebangsaan dan seragam. Mereka bukan lagi orang Inggris dan Jerman; mereka hanyalah Thomas dan Hans, dua tentara yang telah menemukan kedamaian yang rapuh di tengah kekacauan.

Saat malam tiba, suara perang semakin dekat. Mereka tahu bahwa waktu mereka bersama hanya sebentar, bahwa mereka harus segera berpisah dan kembali ke pihak masing-masing, ke pertempuran yang tidak diinginkan oleh keduanya tetapi tidak punya pilihan selain melanjutkannya. Namun pada saat ini, mereka menemukan sesuatu yang mereka pikir telah hilang—harapan. Harapan bahwa, bahkan di masa yang paling gelap sekalipun, kemanusiaan masih bisa bersinar.

Sebelum mereka berpisah, Hans merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah foto kecil—foto istri dan putrinya yang masih kecil, tersenyum di depan rumah sederhana mereka di Jerman. Ia menyerahkannya kepada Thomas, yang melihatnya dengan campuran kesedihan dan pengertian. Sebagai balasan, Thomas mengeluarkan foto serupa dari sakunya sendiri—foto orang tuanya dan adik perempuannya, yang diambil sebelum ia berangkat berperang. Mereka bertukar foto-foto itu, sebuah janji diam-diam untuk saling mengingat, untuk mengingat bahwa mereka bukanlah musuh, tetapi pria dengan keluarga, dengan kehidupan yang sangat ingin mereka jalani.

Dengan satu pandangan terakhir, mereka berpisah, masing-masing menghilang dalam kegelapan malam, kembali ke pihak masing-masing dalam perang. Bertahun-tahun kemudian, lama setelah perang berakhir dan dunia mulai pulih, Thomas sering kali mendapati dirinya memikirkan hutan bersalju itu dan tentara Jerman yang telah menyelamatkan hidupnya. Ia masih menyimpan foto itu, tersimpan di dalam laci, sebagai pengingat akan persahabatan singkat yang menyayat hati yang lahir dari keadaan terburuk. Ia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Hans—apakah ia selamat dari perang, apakah ia berhasil kembali ke keluarganya. Namun, ia berharap, dengan sepenuh hati, bahwa ia berhasil. Karena pada saat yang singkat itu, mereka berdua telah menemukan sesuatu yang layak untuk dipegang: pengetahuan bahwa bahkan di tengah kengerian yang tak terbayangkan, mereka masih manusia, masih mampu bersikap baik, masih mampu melihat satu sama lain bukan sebagai musuh, tetapi sebagai manusia…


Author's note:

Not so heart-wrenching but enough for me, haha. Hope you guys enjoy! Thanks for reading!

xoxo,

Rachel.