Chapter 2


Perang telah berakhir, tetapi bekas-bekasnya masih membekas di tanah dan di hati mereka yang selamat. Dunia mulai membangun kembali dirinya sendiri, tetapi bagi Thomas Wilkins, ada satu bagian hidupnya yang belum selesai—janji yang telah ia buat untuk dirinya sendiri di hutan beku Prancis selama hari-hari tergelap Perang Dunia II. Ia harus menemukan Hans Müller, tentara Jerman yang telah menyelamatkan hidupnya.

Foto yang diberikan Hans kepadanya—foto istri dan putrinya—telah menjadi semacam jimat, pengingat terus-menerus tentang hubungan singkat namun mendalam yang telah mereka jalin. Thomas tahu bahwa peluang untuk menemukan Hans sangat tipis, mengingat kekacauan Eropa pascaperang, tetapi ia bertekad. Ia tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa jalan mereka memang ditakdirkan untuk bersimpangan sekali lagi, bahwa mereka memiliki urusan yang belum selesai dalam bentuk persahabatan yang belum memiliki kesempatan untuk berkembang.

Pencarian dimulai pada awal tahun 1946, ketika Thomas, yang sekarang menjadi warga sipil, meninggalkan Inggris menuju Jerman. Negara itu hanya bayangan masa lalunya, dengan kota-kota yang hancur menjadi puing-puing dan orang-orang yang berjuang untuk bertahan hidup setelah kekalahan. Pemandangannya keras dan tak kenal ampun, tetapi Thomas tidak gentar. Dia berjalan melewati kota-kota yang dibom dan kamp-kamp pengungsi, mengajukan pertanyaan, menunjukkan foto itu kepada siapa saja yang mungkin mengenal Hans atau keluarganya.

Selama berbulan-bulan, Thomas mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti rumor dan cerita yang setengah diingat. Dia bertemu orang-orang yang telah menderita tak terkira selama perang—orang-orang yang telah kehilangan segalanya, tetapi masih memberikan sedikit yang mereka miliki kepada orang asing yang membutuhkan. Meskipun ada kendala bahasa, ada pemahaman yang sama di mata orang-orang yang ditemuinya, kesedihan bersama yang melampaui kata-kata. Tetapi tidak seorang pun pernah mendengar tentang Hans Müller, atau setidaknya, bukan Hans Müller yang sedang dicarinya.

Tepat ketika Thomas mulai kehilangan harapan, dia tiba di sebuah kota kecil di Jerman selatan, yang terletak di kaki Pegunungan Alpen Bavaria. Saat itu akhir musim gugur, dan kota itu, meskipun babak belur, perlahan-lahan mulai hidup kembali. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti biasa, sambil menunjukkan foto itu kepada siapa saja yang mau melihat. Kebanyakan dari mereka menggelengkan kepala, memberikan jawaban yang simpatik tetapi tidak membantu.

Namun kemudian, seorang lelaki tua—salah satu dari sedikit penduduk kota yang tersisa sebelum perang—berhenti sejenak ketika melihat foto itu. Wajahnya yang sudah lapuk melembut saat ia mengamati gambar itu, dan ia mengangguk perlahan.

"Saya ingat lelaki ini," kata lelaki tua itu dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, sambil menunjuk Hans. "Ia dulu tinggal di sini, sebelum perang."

Thomas merasakan jantungnya berdebar kencang di dadanya. "Apakah kau tahu di mana dia sekarang? Apakah ia masih hidup?"

Lelaki tua itu ragu-ragu, seolah mencari ingatannya. "Ia pergi setelah perang… bersama keluarganya. Kudengar mereka pergi ke sebuah pertanian di dekat Garmisch-Partenkirchen. Tetapi saya tidak tahu apakah mereka masih di sana."

Itu adalah petunjuk kuat pertama yang diperoleh Thomas dalam beberapa bulan. Ia mengucapkan terima kasih kepada lelaki tua itu dengan sangat, harapannya kembali menyala, dan berangkat menuju Garmisch-Partenkirchen, sebuah kota yang terletak jauh di pegunungan.

Perjalanan itu memakan waktu beberapa hari, dan selama perjalanan, Thomas tidak dapat menahan diri untuk tidak memikirkan apa yang akan dikatakannya saat ia akhirnya bertemu Hans. Apakah Hans akan mengingatnya? Apakah ia bahkan ingin menemuinya? Bagaimanapun, mereka telah berada di pihak yang berseberangan dalam perang yang brutal. Namun Thomas menyingkirkan keraguan ini, sebaliknya berfokus pada momen yang telah mereka lalui bersama, pada hubungan yang telah menentang kebencian dan kekerasan di sekitar mereka.

Saat ia tiba di Garmisch-Partenkirchen, kota itu diselimuti salju awal musim dingin, seperti hutan tempat mereka pertama kali bertemu. Thomas merasakan perasaan déjà vu yang aneh saat ia berjalan melalui jalan-jalan, bertanya tentang Hans Müller. Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti selamanya, ia menemukan seseorang yang tahu persis di mana Hans tinggal—sebuah pertanian kecil di luar kota, di tepi hutan lebat.

Jantung Thomas berdebar kencang saat ia berjalan menuju pertanian. Jalan setapak itu berkelok-kelok di antara pepohonan, dan udaranya segar dan dingin. Saat ia mendekat, ia melihat rumah pertanian itu—sebuah bangunan sederhana dan kokoh dengan asap mengepul dari cerobong asap. Ia ragu-ragu di gerbang, tiba-tiba merasa tidak yakin. Bagaimana jika Hans telah berubah? Bagaimana jika perang telah membuatnya terlalu hancur untuk mengingat, terlalu sakit hati untuk peduli?

Namun kemudian, seolah merasakan kehadirannya, pintu rumah pertanian itu terbuka, dan seorang pria melangkah keluar. Thomas membeku, napasnya tercekat di tenggorokannya. Itu adalah Hans—lebih tua, sedikit lebih beruban, tetapi jelas-jelas pria yang sama yang telah menyelamatkan hidupnya bertahun-tahun yang lalu.

Hans menatap Thomas sejenak, ekspresinya tidak terbaca. Kemudian, perlahan, pengenalan muncul di matanya. Ia melangkah maju dengan ragu-ragu, suaranya memecah kesunyian.

"Thomas?"

Suara namanya, diucapkan dengan suara yang familier, sudah cukup untuk menghancurkan keraguan yang tersisa. Thomas melintasi jarak di antara mereka dengan beberapa langkah cepat, dan tanpa sepatah kata pun, kedua pria itu berpelukan, beban tahun-tahun dan kenangan lenyap dalam momen yang kuat itu.

Mereka berdiri di sana cukup lama, berpelukan erat seolah-olah ingin memastikan bahwa ini nyata, bahwa mereka berdua selamat dan menemukan satu sama lain lagi. Ketika mereka akhirnya mundur, ada air mata di kedua mata mereka, tetapi tidak ada yang malu.

Hans menuntun Thomas masuk, di mana mereka disambut oleh istrinya, Elsa, dan putri mereka, Anna—wajah-wajah yang sama dari foto yang dibawa Thomas bersamanya begitu lama. Elsa menyambut Thomas dengan hangat, matanya penuh pengertian saat Hans memperkenalkan mereka. Jelas bahwa dia tahu siapa Thomas, bahwa Hans pernah membicarakannya sebelumnya.

Mereka duduk di dekat api unggun, berbagi cerita tentang kehidupan mereka sejak perang, mengisi kekosongan yang telah tercipta selama bertahun-tahun. Thomas mengetahui bahwa Hans telah kembali ke keluarganya tak lama setelah perang, bertekad untuk membangun kembali kehidupan mereka. Pertanian itu awalnya sulit, tetapi dengan kerja keras dan ketekunan, mereka berhasil membangun kehidupan yang damai.

Hans mendengarkan dengan saksama saat Thomas berbicara tentang hidupnya sendiri, tentang kepulangannya ke Inggris, dan pencarian tanpa henti yang membawanya ke sini. Ikatan yang telah terjalin di tengah perang masih ada, lebih kuat dari sebelumnya, dan saat mereka berbincang, mereka menyadari bahwa persahabatan mereka tidak hanya bertahan dari perang tetapi juga tumbuh tanpa perang.

Saat malam terus berlanjut, percakapan beralih ke hari yang menentukan di hutan, saat dua musuh menemukan titik temu. Mereka berbicara tentang rasa takut, rasa sakit, dan keputusan yang tidak dapat dijelaskan untuk menyelamatkan nyawa satu sama lain. Itu adalah kisah yang menghantui mereka berdua, tetapi sekarang, saat duduk bersama dalam kehangatan rumah pertanian, rasanya seperti bab terakhir akhirnya telah ditulis.

Sebelum Thomas pergi keesokan paginya, Hans mengajaknya keluar, ke sebuah hutan kecil di dekat pertanian. Di sana, dalam keheningan pagi, Hans mengeluarkan foto yang diberikan Thomas kepadanya—foto keluarganya. Foto itu usang karena dibawa-bawa selama bertahun-tahun, tetapi jelas bahwa Hans menyimpannya dekat-dekat, sama seperti Thomas menyimpan foto keluarga Hans.

"Ini... yang membuatku terus bertahan," kata Hans, suaranya penuh dengan emosi. "Kenangan hari itu, dan harapan bahwa kita akan bertemu lagi."

Thomas mengangguk, tidak dapat menemukan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan dan meraih tangan Hans, menggenggamnya erat-erat. Dalam jabat tangan itu, mereka mengukuhkan persahabatan yang telah dimulai di masa-masa tergelap dan kini, akhirnya, menemukan cahayanya.

Saat Thomas berjalan meninggalkan peternakan, matahari terbit di belakangnya, ia merasakan kedamaian yang belum pernah dirasakannya sejak sebelum perang. Ia tahu bahwa, apa pun yang terjadi di masa depan, ia dan Hans akan tetap terhubung, terikat oleh keadaan luar biasa yang telah mempertemukan mereka.

Dan dalam hubungan itu, mereka tidak hanya menemukan kekuatan untuk bertahan hidup tetapi juga keberanian untuk sembuh.

-end-