This one writes about an alternative ending for Sous la neige, enjoy!

Hetalia Axis Powers owned by Hidekaz Himaruya-sensei.


Snow Meadow

by

Rachel Cherry Giusette


Setelah perang berakhir, dunia memulai proses pembangunan kembali yang lambat dan menyakitkan. Bagi banyak orang, ada kegembiraan saat kembali ke rumah, saat bersatu kembali dengan orang-orang terkasih. Namun bagi Thomas Wilkins, berakhirnya perang meninggalkannya dengan perasaan bahwa urusannya belum selesai. Kenangan tentang Hans Müller, tentara Jerman yang telah menyelamatkan hidupnya di hutan-hutan Prancis yang dingin, menghantuinya. Dia tidak dapat melupakan kebaikan yang telah mereka bagikan dalam momen perdamaian yang singkat dan rapuh di tengah kekacauan perang. Foto yang diberikan Hans kepadanya—foto istri dan putrinya yang masih kecil—merupakan pengingat terus-menerus tentang ikatan yang telah mereka bentuk, dan janji yang telah dibuat Thomas untuk dirinya sendiri: untuk menemukan Hans lagi, untuk melihat apakah dia selamat dari perang dan kembali ke keluarganya.

Pada tahun 1946, Thomas berangkat ke Jerman. Negara itu merupakan pemandangan yang hancur, dengan kota-kota yang hancur menjadi puing-puing dan orang-orang berjuang untuk menemukan jalan mereka di dunia yang hancur. Thomas berpindah-pindah dari kamp pengungsian, kota-kota yang dibom, dan permukiman sementara, selalu menunjukkan foto, selalu menanyakan informasi apa pun tentang Hans Müller.

Minggu berganti bulan, dan jejaknya semakin dingin. Nama Hans Müller sudah umum, dan Thomas bertemu banyak orang yang memiliki nama yang sama, tetapi tidak ada yang merupakan orang yang dicarinya. Harapannya mulai memudar saat ia menghadapi kenyataan pahit Eropa pascaperang: keluarga-keluarga terpisah, catatan-catatan hilang, kuburan-kuburan tidak bertanda. Namun, ia terus maju, didorong oleh kenangan akan orang yang telah menyelamatkan hidupnya.

Akhirnya, Thomas menemukan dirinya di Jerman selatan, di kota kecil Garmisch-Partenkirchen. Saat itu akhir musim gugur, dan kota itu, meskipun terluka oleh perang, perlahan-lahan mulai hidup kembali. Ia telah diarahkan ke sana oleh seorang wanita tua di desa terdekat yang ingat bahwa seorang pria bernama Hans Müller pernah tinggal di sana sebelum perang, tetapi ia tidak tahu apakah pria itu selamat.

Putus asa, Thomas mengikuti petunjuk terakhir yang lemah ini. Ia tiba di kota itu tepat saat salju pertama musim dingin mulai turun, pemandangannya mengingatkan pada hutan tempat ia dan Hans pertama kali bertemu. Saat ia berjalan di kota itu, menanyakan Hans Müller, ia hanya disambut dengan tatapan kosong dan mengangkat bahu penuh simpati. Sepertinya tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi padanya.

Namun, saat ia menunjukkan foto itu kepada seorang penjaga toko, pria itu berhenti, ekspresinya melembut.

"Saya tidak kenal Hans Müller," kata penjaga toko itu, "tetapi saya kenal wanita ini. Ia tinggal di dekat sini, di sebuah pertanian kecil di pinggir kota. Suaminya tidak pernah kembali dari perang."

Hati Thomas mencelos mendengar kata-kata itu. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa peluang Hans untuk hidup selalu tipis, tetapi mendengarnya diucapkan dengan lantang membuatnya terasa sangat nyata. Namun, ia harus melihatnya sendiri. Ia harus bertemu dengan wanita di foto itu, untuk mengetahui apa yang telah terjadi pada pria yang telah menyelamatkan hidupnya.

Ladang pertanian itu sederhana, terletak di kaki hutan lebat, asap dari cerobong asap mengepul ke langit yang dingin dan kelabu. Thomas mendekati rumah itu dengan berat hati, tidak yakin apa yang akan dikatakannya, bagaimana ia akan menjelaskan kehadirannya. Namun, ia tahu ia harus mencoba.

Ia mengetuk pintu, dan setelah beberapa saat, pintu dibuka oleh seorang wanita yang jelas-jelas orang yang sama seperti di foto, meskipun lebih tua dan lebih lelah. Matanya, yang dulu cerah, kini menahan beban kehilangan. Ia menatap Thomas dengan campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan, seolah-olah ia telah lama mengharapkan kabar buruk.

"Guten Tag," sapanya lembut. "Ada yang bisa saya bantu?"

Thomas ragu-ragu, lalu mengeluarkan foto itu, mengulurkannya padanya. "Nama saya Thomas Wilkins," ia memulai, suaranya bergetar. "Saya adalah seorang tentara Inggris selama perang. Saya bertemu suami Anda, Hans, di Prancis, pada tahun 1944. Ia menyelamatkan hidup saya."

Napas wanita itu tercekat di tenggorokannya saat dia mengambil foto itu darinya, matanya berkaca-kaca. Dia mencengkeramnya erat di dadanya, suaranya bergetar saat dia berbicara. "Saya Elsa Müller... istri Hans. Dia... dia tidak pernah pulang. Kami tidak pernah mendengar apa yang terjadi padanya." Thomas merasa tercekat di tenggorokannya saat mendengarkan kata-katanya. Dia takut akan hal ini, tetapi kenyataan itu hampir tak tertahankan. Dia telah menempuh perjalanan sejauh ini, berpegang teguh pada harapan bahwa Hans selamat, bahwa mereka akan bertemu lagi. Sekarang, berdiri di hadapan Elsa, dia menyadari bahwa pria yang telah menyelamatkannya telah hilang dalam perang, nasibnya tidak diketahui, makamnya tidak diberi tanda. "Saya sangat menyesal," kata Thomas, suaranya nyaris berbisik. "Saya telah mencarinya selama berbulan-bulan. Saya harus mencari tahu apakah dia berhasil pulang." Elsa mengangguk, air matanya mengalir deras sekarang. "Dia berbicara tentangmu, Thomas. Dalam surat-surat yang dia kirim sebelum dia menghilang, dia menyebutkan pertemuannya dengan seorang tentara Inggris. Dia bilang kamu orang baik…bahwa kamu memberinya harapan."

Thomas diliputi emosi. Pikiran bahwa Hans mengingatnya, bahwa ia telah menemukan sedikit harapan dalam pertemuan singkat mereka, terasa menenangkan sekaligus menyayat hati.

Elsa mengajak Thomas masuk, dan mereka duduk bersama dalam kehangatan rumah pertanian. Ia bercerita tentang sosok Hans sebelum perang, sosok yang baik dan lembut yang sangat mencintai keluarganya. Ia menunjukkan surat-surat yang ditulis Hans dari medan perang kepada Thomas, yang dipenuhi kerinduan akan kampung halaman dan ketakutan akan masa depan. Setiap kata terasa seperti sepotong jiwa Hans, pecahan dari sosok pria yang pernah menyelamatkan nyawa Thomas.

Saat mereka berbincang, putri Elsa, Anna, yang kini berusia sekitar delapan tahun, bergabung dengan mereka. Ia duduk dengan tenang di samping ibunya, menatap Thomas dengan mata lebar dan penuh rasa ingin tahu. Thomas tersenyum padanya, merasakan sedikit kesedihan atas kepergian ayahnya, ayah yang tidak akan pernah benar-benar dikenalnya.

"Maafkan aku," kata Thomas lagi, merasakan kata-katanya tidak tepat. "Kuharap… Kuharap aku bisa melakukan sesuatu."

Elsa menggelengkan kepalanya, lalu meletakkan tangannya di lengan Thomas. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Kau datang sejauh ini untuk menemukannya. Itu lebih berarti bagiku daripada yang kau tahu. Hans akan berterima kasih padamu."

Sebelum Thomas pergi, Elsa menyerahkan salah satu surat Hans, surat terakhir yang diterimanya sebelum Thomas menghilang. Surat itu bertanggal beberapa minggu setelah pertemuan mereka di hutan. Di dalamnya, Hans menulis tentang harapannya untuk masa depan, tentang kemungkinan bertemu keluarganya lagi. Tidak ada kepahitan dalam kata-katanya, hanya tekad yang kuat untuk bertahan hidup, untuk kembali kepada orang-orang yang dicintainya.

Thomas memegang surat itu saat ia berjalan meninggalkan pertanian, salju turun dengan lembut di sekelilingnya. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah melupakan Hans Müller, pria yang telah menunjukkan kepadanya bahwa bahkan di masa tergelap sekalipun, manusia masih bisa menang. Ia berharap dapat bertemu kembali dengan sahabatnya, tetapi sebaliknya, ia menemukan akhir dengan cara yang berbeda—dengan bertemu keluarga yang sangat dicintai Hans, dengan berbagi kesedihan mereka, dan dengan mengetahui bahwa ia juga merupakan bagian dari warisan Hans.

Saat kembali ke Inggris, Thomas tidak hanya membawa serta kenangan tentang sahabatnya tetapi juga pengetahuan bahwa persahabatan singkat mereka tidak sia-sia. Hans telah memberinya anugerah kehidupan, dan sekarang, Thomas akan meneruskan kenangan tentang pria yang telah menyelamatkannya, menghormati pengorbanannya dengan menjalani kehidupan yang dipenuhi dengan belas kasih dan kemanusiaan yang telah ditunjukkan Hans kepadanya pada hari yang menentukan itu.

Dan meskipun makam Hans tetap tidak bertanda, nama dan jiwanya tetap hidup di hati orang-orang yang mengenangnya—istrinya, putrinya, dan tentara Inggris yang telah diselamatkan oleh kebaikan hati musuh.

.

.

.


Author's Note:

Hans, entah kenapa pengen nulis alternate story di mana dia ga selamat. I do write a bunch sad ended story, and always want to make one everytime i write. But i decide to ended it happily in Sous la neige. Thanks for reading!