Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

I just borrowed his characters. None other purpose except for entertainment—and a light daily dose sabotage from reality. Enjoy.

AU. Kuroko x Aomine.


Celah

by

Rachel Cherry Giusette


.

.

.

Kuroko Tetsuya duduk di kursi kulit usang di dekat jendela, menatap hujan lembut yang jatuh di kaca. Ruangan itu sunyi, kecuali bunyi ketukan jam kakek tua di sudut. Usianya kini 70 tahun, meskipun tubuhnya yang ringkih membuatnya tampak semakin tua. Matanya yang biru tajam kini tertutup kabut demensia, dan pikirannya sering kali tidak jernih.

Hari ini adalah salah satu hari langka ketika kenangan itu membanjiri kembali, jelas dan tajam, seolah-olah baru terjadi kemarin. Ia bisa merasakannya—pikirannya melayang, detail hidupnya terurai seperti benang yang baru saja dipintal kembali, tetapi ada satu kenangan yang ia pegang erat-erat. Kenangan yang belum bisa direnggut darinya oleh waktu, penyakit, dan usia.

"Aomine…" Kuroko membisikkan nama itu, suaranya bergetar karena beban tahun-tahun dan kehilangan. Ia sudah lama tidak menyebut nama itu, tetapi sekarang nama itu bergema di ruangan yang sunyi itu, memenuhi ruangan dengan kehadiran yang menenangkan sekaligus menghantui.

Aomine Daiki. Sahabatnya. Saudara kandungnya. Mereka pernah tak terpisahkan, saat dunia masih sederhana, dan kekhawatiran terbesar mereka adalah bagaimana mengalahkan tim berikutnya di lapangan basket. Kuroko masih bisa melihat senyum lebar Aomine, kulitnya yang gelap berkilau karena keringat di bawah sinar matahari, tawanya menggema di seluruh gedung olahraga. Mereka masih anak-anak saat itu, penuh mimpi dan energi yang tak ada habisnya, percaya bahwa tak ada yang bisa memisahkan mereka.

Namun hidup punya rencana lain.

Tangan Kuroko gemetar saat meraih foto lama di meja samping. Foto itu usang dan pudar, tepinya melengkung karena bertahun-tahun disimpan, tetapi dia tidak perlu melihatnya dengan jelas untuk mengenali wajah-wajah itu. Di sanalah mereka, dua anak laki-laki muda, menyeringai lebar, lengan mereka saling melingkari bahu, seolah-olah tak ada apa pun di dunia ini yang bisa menyentuh mereka.

"Kita akan menaklukkan dunia, Aomine dan aku," lanjut Kuroko, suaranya bergetar karena emosi. "Kami pikir… kami pikir kami punya banyak waktu di dunia ini."

Namun, waktu selalu berlalu begitu saja. Setelah SMA, dunia berubah. Mereka bukan lagi sekadar anak laki-laki yang sedang bermain. Dunia itu keras, penuh dengan tantangan yang tidak dipersiapkan oleh siapa pun. Kuroko melanjutkan kuliah, sementara Aomine… Aomine telah memilih jalan yang berbeda. Perang telah tiba, menyapu bersih para pemuda seperti Aomine dalam gelombang yang tak kenal ampun.

Mata Kuroko berkaca-kaca, kenangan itu semakin tajam, semakin menyakitkan. "Dia sangat kuat, kau tahu? Dia yang terbaik di antara kami. Kupikir… Kupikir jika ada yang bisa bertahan hidup, itu adalah dia."

Namun, Aomine tidak selamat. Dia pergi berperang dalam perang yang tidak sepenuhnya dipahami Kuroko, dan dia tidak pernah kembali. Surat itu datang pada suatu hari musim dingin, memberi tahu Kuroko bahwa sahabatnya telah tewas dalam pertempuran. Rasanya seperti sebagian dari dirinya juga telah tewas hari itu.

"Dia hanya seorang anak laki-laki…" bisik Kuroko, suaranya nyaris tak terdengar. "Hanya seorang anak laki-laki, yang berjuang dalam perang seorang pria. Dia tidak pantas mendapatkannya… tidak seorang pun yang pantas."

Tahun-tahun berikutnya berlalu begitu cepat. Kuroko telah mencoba untuk melanjutkan hidup, mencoba menjalani kehidupan yang akan membuat Aomine bangga, tetapi kekosongan yang ditinggalkan oleh ketidakhadirannya adalah sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya diisi oleh Kuroko. Perang telah merenggut lebih dari sekadar nyawa Aomine; perang telah merenggut tujuan hidup Kuroko, keinginannya untuk berjuang untuk apa pun lagi.

"Dia adalah sahabatku…" Suara Kuroko terputus, dan setetes air mata mengalir di pipinya. "Dia adalah saudaraku, dan aku kehilangan dia."

Pikiran Kuroko mengembara lagi, kenangan-kenangan menjadi terputus-putus, menjauh darinya secepat datangnya. Dia berkedip, bingung, mencoba untuk berpegang pada benang-benang masa lalu, tetapi benang-benang itu terlepas, terlepas…

Dia menatap foto itu lagi, wajah-wajah itu sekarang tidak dikenalinya lagi. Siapa mereka? Apa perasaan sedih, kehilangan ini? Dia tidak bisa mengingatnya. Yang dia tahu hanyalah ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang penting, sesuatu yang tidak bisa dia pahami.

Kuroko mendesah, tangannya gemetar saat dia meletakkan kembali foto itu di atas meja. Hujan terus berderai di jendela, dan jam terus berdetak dengan mantap. Dia tahu ada sesuatu yang seharusnya dia ingat, sesuatu tentang seorang anak laki-laki bernama Aomine, tetapi itu telah hilang sekarang, hilang dalam kabut yang mengaburkan pikirannya.

Dia memejamkan mata, bersandar di kursi, kenangan memudar ke latar belakang. Yang tersisa hanyalah kesedihan yang dalam dan menyakitkan, rasa kehilangan yang tidak bisa dia jelaskan.

Tetapi untuk sesaat, hanya sesaat, Kuroko merasa seolah-olah Aomine ada di sana bersamanya, duduk di kursi di seberangnya, tertawa, menggodanya seperti dulu. Dan pada saat itu, semuanya terasa seperti seharusnya.

Dan kemudian itu hilang, begitu saja. Ruangan itu kembali sunyi, kenangan itu memudar di relung pikiran Kuroko, hilang ditelan waktu dan usia.

Namun cinta, ikatan yang telah mereka jalin—masih ada di sana, terkubur dalam hati Kuroko, secercah cahaya di tengah kegelapan, meskipun ia tidak dapat mengingatnya…

.

.

.

/end/