"Awww…"
Takius jarang terluka. Saat bertarung, biasanya Yufa secara teratur akan mengirimkan heal yang mengembalikan kekuatan sihir sekaligus menyembuhkan luka fisik. Jadi dia cukup kaget dengan rasa perih yang menyerang ketika Robin membersihkan lukanya menggunakan alkohol.
"Perih? Tahan sebentar…" Robin diam diam tertawa dalam hati. Rasanya seperti sedang mengobati bocah kecil yang terluka saat bermain.
Gadis mage itu hanya bisa mengangguk, merasa agak malu karena kelepasan meringis tadi. Dia duduk dengan tegang menahan rasa perih alkohol sambil bersandar di kursi kayu yang ada di kamar Robin sementara si pemilik kamar duduk di kursi lain berhadapan dengannya. Di samping mereka, kotak kecil berisi perlengkapan medis dari Chopper terbuka di atas meja.
Robin membuka tempat krim obat racikan Chopper dan mengambilnya sedikit dengan jari tangan kanan untuk mengoleskan krim obat ke luka kecil di dekat tulang pipi kiri Takius.
Bebas dari suasana chaos dan indera yang kembali menjadi tajam membuat Takius menghirup lagi aroma bunga segar saat tangan Robin bergerak mendekat. Meskipun sudah sengaja tidak menarik nafas terlalu dalam untuk menghalau aroma yang memabukkan itu, dia tetap merasakan tingkat kegugupan yang naik drastis saat jemari arkeolog itu mengoleskan obat di wajahnya.
"Krim obat racikan Chopper ini sangat ampuh, luka akan kering dalam beberapa hari saja. Lukamu hanya sedikit, seharusnya akan hilang tidak berbekas. Kami sangat sering menggunakannya sampai Chopper marah marah karena harus terus meraciknya untuk persediaan"
"Apa kau sering terluka, Nee-san?" Takius bertanya untuk menghalau rasa gugupnya.
"Fufufu… Aku bahkan sudah tidak bisa menghitung lagi berapa tulang yang patah dan luka yang kualami selama aku ikut berpetualang dengan mereka"
"Kalian yang tinggal di Grand Line memang orang orang kuat, berbeda dengan kami di Midgard yang terbiasa dengan heal"
"Hmm? Apa maksudmu?"
"Hampir semua petualang di Midgard rentan dengan luka fisik karena terbiasa langsung disembuhkan oleh acolyte dan priest setiap kali terluka. Kau tadi bilang kalau sering terluka, aku yakin luka dan tulang patahmu akan sembuh dalam hitungan minggu atau bulan. Tapi jika orang Midgard yang terluka dan tidak segera menerima bantuan heal, akan sulit untuk sembuh sendiri. Bahkan tingkat kematiannya cukup tinggi"
"Wow, dulu aku berpikir kalian yang di Midgard sangat beruntung bisa langsung disembuhkan dengan heal. Setelah mendengar penjelasanmu tadi, aku baru tahu ternyata kalian mengalami penurunan dalam kemampuan menyembuhkan diri sendiri" Robin cukup terkejut mengetahui fakta tersebut.
Mengingat kembali semua luka fisik yang pernah dialami oleh dirinya dan Straw Hat Pirates membuat arkeolog itu jadi bertanya tanya sendiri dalam hati, apakah memang benar orang Grand Line itu kuat seperti kata Takius barusan ataukah karena kelompok Straw Hat Pirates terdiri dari orang orang dengan kekuatan yang nyaris setara dengan monster.
"Oke, sudah selesai. Minta tolong ke temanmu beberapa hari lagi untuk mengecek apakah lukamu sudah sembuh atau belum. Kalau belum sembuh juga, sebaiknya kau mencari bantuan heal" Robin menempelkan plester ke wajah Takius.
Sebenarnya Robin cukup yakin dengan keampuhan krim dari Chopper, tapi mendengar cerita gadis itu tentang penurunan kemampuan penyembuhan diri orang Midgard membuatnya merasa agak was was.
Takius menggaruk pelan plester di wajah kirinya itu, merasa agak aneh ada sesuatu yang menempel di wajah. Tiba tiba dia teringat sesuatu.
"Nee-san, kau rugi seratus ribu"
"Eh?" Robin menghentikan kegiatannya merapikan kotak obat Chopper.
"Uang taruhan tadi"
"Kau masih ingat? Fufufufu… Aku bahkan sudah lupa. Nami pasti menertawakanku saat aku menceritakannya besok. Biarkan saja uang itu untuk bandar tadi. Itu juga kalau dia masih hidup, belum tewas diinjak centaurus atau dililit lamia" Robin kumat lagi dengan kebiasaannya bicara hal menyeramkan dengan nada santai.
Takius hanya bisa membatin dalam hati "Selera humornya ternyata gelap"
"Oh ya, karena aku kalah taruhan dan tidak bisa mentraktirmu makan, bagaimana kalau minum alkohol saja denganku nanti malam? Sanji, koki kapalku, memberikan sebotol alkohol. Katanya ini alkohol ringan yang cocok untuk minum santai di malam hari. Apa kau bisa minum alkohol?" Robin baru teringat dengan botol alkohol itu saat membuka ransel mencari kotak obat tadi.
"Ah, boleh. Aku jarang minum alkohol tapi tidak masalah untuk sekedar minum minum santai" Takius merasa tidak perlu memberitahu kalau orang Midgard hampir tiap malam merayakan kemenangan membasmi monster dengan minuman keras. Meskipun jarang menenggak minuman keras, dia cukup yakin dengan tingkat ketahanan alkoholnya.
"Datanglah ke kamarku lagi nanti setelah makan malam. Sekarang pergilah ke kamarmu untuk mandi, banyak debu yang menempel di rambutmu" Robin berdiri untuk memasukkan kembali kotak obat Chopper ke dalam ranselnya yang ada di pojok ruangan.
Sambil berjalan, sekilas tangannya bergerak naik mengacak rambut Takius yang memang terlihat agak kotor karena banyaknya debu beterbangan di aula tadi.
Gerakan yang sederhana dan hanya dua detik saja tapi langsung membuat mage muda itu terkesiap menahan nafas. Jantungnya serasa melewatkan satu kali degupan saat merasakan tangan wanita arkeolog itu di atas kepalanya.
"Baik, Nee-san. Aku pulang ke kamarku dulu untuk mandi. Aku akan kembali lagi nanti malam. Terima kasih untuk obatnya" cepat dia berdiri sambil menyambar tongkatnya yang tersandar di samping kursi dan langsung berjalan menuju pintu kamar untuk segera kabur dari situasi yang membuat jantung tidak aman.
"Ya, kembalilah lagi nanti malam" Robin hanya menoleh sekilas sambil tangannya masih sibuk berkutat dengan ransel.
Saat menutup pintu kamar Robin dari luar, Takius baru merasakan kalau tangannya bergetar dan telinganya serasa bisa mendengar suara jantungnya sendiri. Masih dengan tangan bergetar itu, dia membuka pintu kamarnya sendiri yang berada di seberang lorong.
Begitu masuk ke dalam kamar, dia langsung mengunci pintu kamar dan menyandarkan tongkatnya di samping pintu. Cepat kedua kakinya melangkah untuk menghempaskan diri ke atas ranjang dan menghirup dalam dalam aroma sabun pembersih yang menempel di seprai, berharap aroma itu bisa segera menggantikan aroma bunga segar memabukkan yang tertinggal dalam paru paru.
Menghirup aroma seprai bersih itu berkali kali membantu akal sehatnya perlahan lahan kembali, meredam suara jantung yang bertalu talu di telinga.
"Apa apaan tadi itu. Guru Zephyr sudah ratusan kali mengusap kepalaku tapi tidak pernah aku bereaksi seperti tadi" batin gadis penyihir itu dalam hati.
Saat Takius kecil, sesekali gurunya akan memberikan pujian sambil mengusap kepalanya. Tapi seiring berlalunya waktu dan tinggi mereka sudah nyaris sama, lelaki tua itu tak pernah lagi melakukannya.
Mengejutkan sekali bagaimana dua detik rambutnya diacak oleh wanita yang baru dikenal selama beberapa jam saja bisa memberikan reaksi seperti itu.
