Shinobi of Tempest
Bab 02 : Bawahan baru.
"Aku juga tidak tahu, makannya aku berusaha untuk berbicara dengan mereka karena mungkin saja ada kesalahpahaman antara aku dan mereka berenam," ungkap Rimuru, "Ah iya mereka itu adalah Ogre."
"Kalau begitu baiklah,"tanggap Naruto yang akhirnya menyadarkan tiga Ogre itu, dengan satu gerakan tangan dan seruan "Kai" kakek tua, pemuda berambut merah dan gadis berambut merah muda tersadar dari ilusi yang diberikan sebelumnya.
"Ugh, apa yang terjadi?" tanya mereka berta yang kaget karena tubuh mereka terikat oleh rantai emas yang sangat kuat dan rantai itu uga menyerap energi mereka untuk memperkuat diri sendiri.
"Nah sekarang ayo bicarakan masalah kalian baik-baik kepadaku," pinta Rimuru pada mereka bertiga.
Sementara Narut ia hanya diam dan tenang, toh selama ini, tak ada satupun manusia yang bisa melepaskan dii dari jeratan rantai chakra Uzumaki, yah itulah yang dikatakan ibunya dari dalam alam bawah sadarnya.
"Keh, mana mungkin kami mau bicara pada Majin jahat sepertimu! Bunuh saja kami!" seru Ogre berambut merah.
"Sudahku bilang kalian itu salah paham, aku ini bukan Majin. Dan juga apa hubungannya Majin dengan topeng yang aku pakai?" ucap Rimuru yang mencoba bersabar menangani kesalah pahaman.
"Ini hanya akan membuang-buang waktu, biar aku saja yang mengatasinya," ucap Naruto, yang mengubah bentuk matanya menjadi pola riak air. Ya, ini adalah Rinnegan milik Nagato.
"Apa yang ingin kau lakukan?' tanya Ogre berambut merah dan Rimuru.
"Mereka sepertinya tidak punya niat bicara secara fisik, jadiaku rasa sebaiknya aku melihat ingatannya secara langsung, dengan begitu aku bisa tahu semua masalahnya," jawab Naruto, sambil menyentuh kepala Ogre berambut merah. "Ningendo."
Hanya butuh waktu 4 detik bagi Naruto, ia pun akhirnya melepaskan tangannya dari kepala Ogre berambut merah itu, "Sepertinya dendam sudah membutakan kalian."
"Apa maksudmu?" tanya Ogre berambut merah itu.
"Tuan muda tenanglah," tegur si Kakek tua.
"Benar kakak, sebaiknya kita dengarkan mereka," ucap Ogre berambut merah muda.
"Tapi!" Ogre berambut merah itu masih menatap tajam Naruto dan Rimuru.
"Coba lihatlah dengan teliti, apakah topeng orang itu seratus persen mirip dengan yang dipakai Rimuru. Dari yang aku lihat, bentuk topeng yang ada di ingatanmu, memiliki ekspresi marah, sedangkan yang Rimuru gunakan tidak menampakan ekspesi apapun, dan juga orang yang kau lihat waktu itu, bertubuh gemuk, sementara dia ... yah kau bisa lihat sendiri. Terakhir menurut para Goblin, Rimuru tak pernah meninggalkan desa mereka selain ke Dwarf Kingdom untuk meminta ahl jahit, bangunan dan senjata untuk datang dan membantu para Goblin membangun desa mereka," jelas Naruto panjang lebar.
Ogre berambut merah itu mulai memperhatikan baik-aik topeng dari Rimuru."Bolehkah kami melihat topeng itu secara langsung?" tanya Ogre berambut merah muda.
"Ah tentu," tanggap Rimuru sambil melepaskan topengnya dan seketika itu juga auranya memancar. Kakek tua, gadis berambut pink dan tuan muda Ogre berambut merah kaget dengan kuatnya aura dari Rimuru. Sementara Naruto langsung reflek melepaskan rantai chakranya dan melompat menjauh karena merasakan hawa mengerikan dari tubuh Rimuru.
"Ano, kenapa kau menjauh?" tanya Rimuru yang kaget dengan reaksi Naruto.
Sementara Naruto, sebagai ninja sensor, ia mulai gemetar dan panik, dengan keringat dingin yang bercucuran, ia merasakan aura gelap yang sangat mengerikan keluar dari tubuh Rimuru. Tatapan Naruto tajam matanya berubah menjadi Mangekyo Sharingan milik Itachi, lalu dengan chakra besar milik ibunya Kushina Uzumaki, Hokage pertama Hashirama Senju, lalu dirinya sendiri, disertai chakra Itachi, ia memunculkan Sosanoo merah setengah badan dengan armor, perisai dan pedang Totsuka.
"A-Ano..." Rimuru, yang melihat itu, langsung bingung mau bagaimana karena reaksi dari Naruto yang tidak terduga.
"Oi! Apa maksudmu?!" seru serigala yang merupakan bawahan Rimuru.
"Menjawab, orang itu nampaknya merasa terancam dengan aura yang keluar dari tubuh anda," ucap suara pertapa Agung yang ada di dalam kepala Rimuru yah meskipun hanya Rimuru yang bisa mendengarnya.
"Ano, kamu tenang dulu, auraku memang besar, tapi justru itu aku membutuhkan topeng ini untuk menyembunyikannya, aku bukan orang jahat!" seru Rimuru.
Naruto sedikit terdiam, ia mulai menenangkan diri ketika menerima teguran dari Rimuru.Naruto kemudian berkata, "Yang membuatku takut bukan dirimu, tapi dua sosok mengerikan yang tersegel di dalam tubuhmu, aku bisa merasakan kalau mereka punya kekuatan yang sangat besar."
"Dua sosok?" Rimuru mulai kebingungan.
"Menjawab, mungkin yang dimaksud adalah Veldora dan Ifrit," ucap Daikenja(Pertapa Agung), melalui pikiran Rimuru.
"Ah, soal itu tenang saja, aku dan sosok itu berteman kok, jadi mereka tidak akan mengambil alih tubuhku," ucap Rimuru, yang paham akan kekhawatiran dari Naruto.
Naruto yang mendengar itu akhirnya menghela nafas panjang, bisa dibilang ia cukup tenang sekarang. Setelahnya Gadis Ogre memeriksa topeng milik Rimuru dan mendapati kalau memang topeng itu berbeda. Bukan hanya beda dari bentuk, tapi juga kegunaan. Karena waktu itu mereka menyadari, kalau Majin bertopeng yang mereka lihat sebelumnya auranya sangat besar, sementara fungsi dari topeng yang Rimuru gunakan adalah untuk menyembunyikan aura pemakainya.
Mendapati fakta itu, Ogre berambut merah beserta 5 Ogre bawahannya langsung berlutut meminta maaf karena kesalah pahaman mereka.
"Em tak masalah, lagi pula tidak ada korban jiwa sama sekali, jadi bagaimana kalau kalian ikut ke desaku, kita akan mengadakan pesta!" seru Rimuru.
Para Ogre itu setju dan ikut bersama Rimuru, lalu saat Rimuru menatap ke arah Naruto, ia tersenyum dan berkata. "Jadi kau sudah sadar... aku tidak menyangka kau datang membantuku, jadi siapakah namamu?" tanya Rimuru.
"Uzumaki Naruto, terima kasih sudah menolongku dan membawaku, lalu mengizinkanku tinggal di desamu saat kau menemukanku pingsan di hutan," ungkap Naruto sambil membungkuk hormat.
"Ya... aku rasa itu adalah bentuk tanggung jawabku sebagai penguasa di desa Goblin, selain itu pingsan di hutan adalah hal yang sangat berbahaya, karena ada banyak makhluk buas di sini," ungkap Rimuru.
Setelahnya mereka sampai di desa Goblin dan berpesta dimalam hari, terlihat semua orang menikmati pesta, termasuk Rimuru yang menikmati hidangan yang diberikan para goblin. Naruto juga melihat Gadis Ogre Berambut ungu pastel dengan satu tanduk besar di dahinya menari bersama para Goblin.
Lalu gadis Ogre yang berambut merah muda sedang berdiskusi mengenai penggunaan rempah-rempah dan lainnya, sedangkan para pria dari ras Ogre sedang berdiskusi dengan Dwarf dan beberapa Goblin mengenai apa masalah mereka sebenarnya.
Naruto yang sudah melihat detail perkara secara langsung dari ingatan Ogre merah, lebih memilih mengasingkan diri dan ia juga punya masalahnya sendiri. Naruto merasa tidak pantas untuk berpesta, karena ia telah gagal menghentikan Madara, mati dan bereinkarnasi kembali ke dunia baru. Meskipun raganya hidup. Namun, sebagian semangatnya mati.
'Sakura-chan, Sasuke, aku harap kalian baik-baik saja,' batin Naruto sambil duduk di pojokan desa dan meminum teh. Hingga Goblin wanita berparas cantik menghampiri Naruto dari belakang.
"Tuan, kenapa anda menyendiri? Ayo kita bersenang-senang," ajak Goblina itu.
"Haruna kah, maaf aku tidak bisa ikut... ada beberapa alasan kenapa aku merasa tidak nyaman jika aku bergabung dengan pesta ini. Salah satunya, karena kepekaanku, aku tidak pernah bisa tenang jika didekat Rimuru-dono. Auranya yang terlalu besar kadang membuatku secara otomatis mencoba menyerangnya," ucap Naruto dengan nada rendah sambil menatap langit malam yang penuh bintang.
Naruto tetap duduk di pojok desa, memandangi langit malam yang penuh bintang sambil merasakan kesepian yang merayap di hatinya. Pikirannya terus melayang ke dunia lamanya, memikirkan teman-teman yang ia tinggalkan, dan merasa terasing di dunia baru yang penuh makhluk dan tantangan yang belum ia kenal sepenuhnya.
Haruna, goblina yang ramah tadi, duduk di sampingnya, mencoba memahami apa yang membebani pikiran Naruto. "Tuan Naruto, aku mungkin tidak mengerti sepenuhnya apa yang kau alami, tapi aku tahu satu hal: berada di sini, bersama kami, sudah cukup menunjukkan bahwa kau adalah bagian dari desa ini. Kami semua mengandalkan satu sama lain untuk bertahan hidup di dunia ini."
Naruto tersenyum tipis mendengar kata-kata Haruna, namun senyuman itu tidak mencapai matanya. "Kau benar, Haruna. Tapi ada hal-hal yang terjadi di masa lalu yang membuatku sulit merasa benar-benar bahagia di sini. Kadang aku merasa seolah-olah aku seharusnya tidak ada di sini, seharusnya aku sudah mati bersama teman-temanku..."
Haruna, dengan lembut, menyentuh lengan Naruto. "Kehidupan itu aneh, Tuan Naruto. Terkadang kita tidak mengerti mengapa kita diberi kesempatan kedua, tetapi mungkin ada alasan mengapa kau hidup kembali. Mungkin takdirmu belum selesai."
Naruto terdiam, memikirkan kata-kata Haruna. Mungkin dia memang diberikan kesempatan kedua untuk suatu tujuan yang lebih besar, untuk melakukan sesuatu yang belum sempat ia lakukan di dunia sebelumnya. Namun, perasaan bersalah dan kehilangan itu masih terlalu kuat untuk diabaikan.
Sementara itu, di tengah keramaian pesta, Rimuru memperhatikan Naruto dari kejauhan. Dia bisa merasakan bahwa Naruto masih dibebani oleh masa lalunya, dan meskipun tidak sepenuhnya memahami apa yang dialami Naruto, dia tahu betapa pentingnya memberikan ruang dan waktu bagi seseorang untuk sembuh dari luka mereka sendiri. Dan terlihat saat Rimuru mencoba menghampiri Naruto. Sosok pemuda berambut pirang jabrik itu langsung menoleh di jarak 5 meter tanda kalau ia benar-benar punya indra yang sangat peka akan aura.
Melihat Naruto menoleh ke arahnya, Rimuru pun menyapanya. "Naruto," sapa Rimuru sambil berjalan dan melambaikan tangan, diikuti oleh beberapa Goblin yang membawa lebih banyak makanan dan minuman. "Aku tahu ini bukan hal yang mudah bagimu, tapi aku ingin kau tahu bahwa di sini, di desa ini, kami akan selalu ada untukmu. Jika kau butuh waktu untuk sendiri, kami mengerti. Namun, jika kau membutuhkan teman, kami juga akan selalu ada."
Naruto memandang Rimuru dan kemudian melihat sekeliling, melihat para Goblin, dan para Dwarf di desa ini. Hatinya sedikit melunak, dan dia mengangguk pelan. "Terima kasih, Rimuru. Mungkin aku memang perlu waktu, tapi... aku akan mencoba untuk menemukan tempatku di sini."
Rimuru tersenyum hangat. "Itu yang kami harapkan, Naruto. Kami di sini bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk menemukan makna dalam hidup baru ini. Dan mungkin, bersama-sama, kita bisa menemukan jalan kita."
Naruto menghela napas panjang, mencoba mengusir sebagian dari beban emosional yang ia rasakan. "Aku akan mencobanya," ujarnya dengan lebih tegas.
Pesta malam itu terus berlanjut, dan meskipun Naruto masih merasa sedikit terasing, ia mulai merasa bahwa ada harapan untuk menemukan tempatnya di dunia baru ini. Haruna tetap di sampingnya, berbicara dengan ceria tentang hal-hal kecil yang terjadi di desa, mencoba mengalihkan perhatian Naruto dari kesedihannya. Naruto, perlahan, mulai membuka diri, meski hanya sedikit, untuk menerima kenyataan bahwa dia tidak lagi sendiri.
Di sisi lain, Rimuru merasa lega bahwa Naruto mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Meskipun banyak tantangan yang masih menghadang di depan mereka, setidaknya malam ini, mereka bisa merasakan sedikit kebersamaan dan kedamaian di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
Dengan bintang-bintang yang bersinar terang di langit, malam itu menjadi saksi bahwa meskipun luka masa lalu tidak bisa hilang begitu saja, selalu ada harapan untuk penyembuhan, terutama dengan dukungan dari teman-teman yang peduli.
"Jadi Rimuru, apa rencanamu kedepannya?" tanya Naruto pada Rimuru.
"Rencana? Mengenai apa?" tanya Rimuru.
"Permasalah para Ogre, dari yang aku lihat dari ingatan si merah itu. Mereka dibantai oleh Orc dengan armor lengkap, jumlah para Orc kisaran 2000 pasukan lebih, selain itu para Orc itu dibantu oleh Majin yang lumayan kuat?" tanya Naruto lagi.
"Aku sudah menanyakan itu pada Ogre merah, aku menyarankan mereka untuk jadi bawahanku untuk mengatasi ancaman Orc yang akan datang," jelas Rimuru.
"Begitu ... aku harap mereka menerima penawaran itu," ucap pelan Naruto.
"Aku juga begitu... aku sangat ingin punya orang-orang kuat yang bisa membantu mengatasi masalah," ungkap Rimuru.
Naruto hanya tersenyum dan berbalik ingin pergi, "Tapi Naruto, bagaimana denganmu sendiri?' tanya Rimuru.
"Jika kau memberikan satu Ogre saja untuk jadi bawahanku, maka aku akan tinggal di sini untuk membantu anda," tanggap Naruto sedikit bercanda dan meneruskan langkah kakinya.
"Kalau begitu kita sepakat!" seru Rimuru dan itu sukses membuat Naruto menoleh ke arah Rimuru. "Besok, datanglah ke tendaku dan aku akan memberikan satu diantara para Ogre itu untuk jadi bawahanmu," tambah Rimuru.
Naruto hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia akhirnya melanjutkan langkahnya menjauh dari Rimuru dan berdiskusi dengan jiwa orang-orang yang menggantikan Kurama di dalam dirinya.
Keesokan harinya.
Naruto sudah ada di ruangan Rimuru dan duduk berdua, keduanya sedang berdiskusi mengenai yang mana yang akan jadi bawahan dari Naruto.
"Jadi Naruto, kau tertarik dengan yang mana?" tanya Rimuru yang saat ini dalam wujud Jelly(Slime).
Naruto hanya diam, ia nampaknya tidak terbiasa dengan wujud asli dari Rimuru. "Soal yang mana, menurutku yang mana saja asalkan mereka memang mau aku tidak masalah, karena jika mereka menjadi bawahanku secara terpaksa itu hanya akan membuat rasa canggung dan tidak nyaman."
"Kau benar, tapi bagaimana jika ternyata tidak ada yang mau jadi bawahanmu?" tanya Rimuru.
"Jika itu terjadi, maka ya sudahlahlah," jawab Naruto dengan pasrah.
Bersambung
